Piece of Memory – Part 1

Piece of Memory [Piece 1]

Author             : ZaKey

Main Cast        : Choi Minho, Lee Taemin

Support Cast    : Choi Jinri (Sulli), Kim Kibum (Key)

Length             : On Going

Genre              : Life, Shounen-Ai

Rating              : Teen

Disclaimer       : I do not own the character – they belong to God and themselves. The plot and the story are mine; it also published at my own wp

A.N.                 : Walaupun genre-nya ‘Shounen-Ai’ aku jamin nggak bakal kelihatan, apalagi di part 1 ini. Aku tau sering kritik FF orang lain, makanya jangan sungkan buat kritik. Comment for the brighter future!  \(´▽`)/

~~~~~~~

Kau diberi satu lagi kesempatan untuk hidup.
Cari Kim Jonghyun – ketahui apa yang harus kau ketahui dan ungkapkan apa yang harus kau ungkapkan.
Waktumu hanya satu minggu terhitung dari sekarang.

Cahaya menyilaukan yang mampu menembus kelopak mata membangunkannya. Ia mengerang sedikit kala rasa sakit menyerang bagian belakang kepalanya dan bau-bauan tajam menusuk indera penciumannya. Dengan sangat perlahan ia membuka kedua mata.

Dirinya sedang berada di satu ruangan serba putih – mulai dari kertas pelapis dinding sampai gorden yang menutupi jendela di seberang tempat tidur dimana dirinya berbaring. Hanya ada satu kursi plastik putih, nakas kecil di dekat pintu, dan tempat tidur yang ada di ruangan ini. Pintu berayun ke dalam dan ia butuh sedikit usaha untuk memusatkan pandangan pada orang yang membuka pintu tersebut.

Seorang laki-laki. Jangkung dan atletis dalam balutan kemeja santai serta celana hitam. Rambutnya hitam legam membingkai wajah bergaris tegas tempat dua mata bulat, hidung mancung, dan bibir terpahat sempurna. Satu tangannya yang tidak menahan pintu membawa selembar kertas. Alis tebalnya bertaut cemas tapi secara keseluruhan tampak tenang.

Dan tepat saat si lelaki akan menutup pintu itulah mereka bertukar pandang. Hal pertama yang ia rasakan adalah sengatan listrik dalam dadanya yang membuat jantungnya berdegup kencang, sejurus kemudian hanya kebingungan atas kehampaan otaknya yang melanda.

“Hei.” Si lelaki berkata lembut. Setelah meletakkan kertas di atas nakas, lelaki itu menghampirinya. “Kau sudah sadar. Kau tidak apa-apa?”

“Apa yang terjadi padaku?” Ia sedikit terkejut menyadari suara yang lebih berat dari biasanya. Well, dia memang tidak mampu mengingat apa pun, tapi ia cukup mengenal dirinya sendiri. Menumpukan kedua tangan di sisi tubuh, ia berusaha bergerak duduk dan langsung dicegah oleh si lelaki.

“Kau masih terlalu lemah, jangan memaksakan diri.”

Ia mengabaikan nasihat si lelaki. “Apa yang terjadi padaku?”

Si lelaki menghela napas panjang, lantas menyeret kursi plastik mendekat dan duduk. Kedua mata bulat yang ternyata menyimpan lautan kehangatan itu menyorot wajahnya redup. “Kau ditemukan tergeletak di kamar.”

“Kenapa?”

“Bukankah itu seharusnya pertanyaanku?”

Sekali lagi ia merasa begitu panik karena tidak mengingat apa pun. “Apa maksudmu? Jelaskan padaku!”

“Percobaan bunuh diri. Kau sedang mencoba bunuh diri dengan menenggak obat penurun gula darah milik ayahmu, Taemin-ah.”

Nama yang baru saja meluncur dari bibir si lelaki lebih mengejutkan ketimbang informasi percobaan bunuh diri. Taemin. Ia merasa familier dengan nama itu tapi tak mampu mengingat – dan ya, ia seratus persen yakin itu bukan namanya sendiri.

“Namaku Taemin?”

Tangan lebar nan hangat milik si lelaki mendarat di keningnya. Begitu lembut dan penuh hati-hati mengusapnya. Terdengar tawa parau. “Kau baru saja sadar dan langsung bercanda. Kau tidak tahu aku sangat mengkhawatirkanmu seminggu terakhir ini?”

“Jawab dulu pertanyaanku: benar namaku Lee Taemin?” tanyanya panik. Ini jelas tidak bagus; ia yakin itu bukan namanya, tapi dari nada tajam si lelaki, tampaknya ia benar-benar seorang bernama Taemin. Dan, hei, dari mana ia tahu marga seorang Taemin adalah Lee? Tampaknya hal itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Melihat kepanikan di matanya, si lelaki begitu shock sampai membiarkan dirinya duduk bersandar pada kepala tempat tidur. “Kau benar-benar tidak ingat?”

“Tidak. Tidak. Itu bukan namaku – aku memang tidak mengingat apa pun tapi itu bukan namaku,” tegasnya sembari menyingkirkan tangan si lelaki yang turun ke pundaknya.

“Dengar. Kau adalah Lee Taemin, pewaris tunggal Lee Corporation milik ayahmu.” Si lelaki menyipitkan mata dan mengulang pertanyaan, “Kau benar-benar tidak ingat?”

“Aku bersumpah demi Pencipta langit dan bumi,” desahnya frustasi. Ia menekuk lutut dan memeluknya seolah hanya itu yang bisa ia lakukan. “Aku tidak tahu siapa aku atau dimana ini.”

Kecemasan tak mampu lagi ditahan oleh si lelaki; ia menjulurkan tangan ke atas kepala tempat tidur dan menekan bel merah disana. “Aku akan memanggil dokter. Kau benar-benar tidak ingat?”

~~~

Air hujan menampar-nampar kaca depan mobil, terus menjamah meski wiper berusaha menghalaunya. Perbedaan suhu luar yang dingin menggigit dengan bagian dalam mobil yang hangat menciptakan uap di jendela; menebal dan menipis seirama dengan hembusan napas orang yang di dalamnya.

Taemin menghela napas, memperhatikan uap putih yang menempel di kaca jendela. Ia tidak punya pilihan selain menerima nama itu untuk dirinya sendiri. Jujur saja ia tak yakin dirinya sudah baik-baik saja, tapi dokter paruh baya yang merawatnya menyarankan untuk segera pulang ke rumah dan mencoba mengingat sesuatu seiring berjalannya waktu.

Stres. Itu yang dikatakan sang dokter atas penyebab hilang ingatannya. Taemin tak benar-benar mempercayai hal itu, tapi lagi-lagi ia tak punya pilihan lain. Ditemani dengan Choi Minho, orang yang sekarang menyetir di sebelahnya, ia akan diantar ke rumah. Terdengar aneh – dirinya dapat mengingat tanggal dan tahun, serta tempat dengan akurat, tapi tidak dengan hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadinya.

“Kau baik-baik saja, kan, Taemin-ah?” Minho membuka percakapan. Sesekali Taemin memergoki lelaki itu meliriknya khawatir. Yah, ia bersyukur tidak sendirian saat menyadari dirinya tidak mampu mengingat apa pun, tapi keberadaan Minho di sampingnya sedikit mengganggu.

Dan lagi-lagi Taemin hanya bergumam sebagai jawaban. Pemandangan yang datang dan pergi membuatnya sedikit nyaman karena jauh di sudut otak ia mengenali semuanya. Perempatan, taman kanak-kanak, supermarket – ya, ia tahu nama berikut letak pasti tempat-tempat tersebut tapi tak tahu kapan atau bersama siapa pergi kesana.

“Teman-teman sekolahmu datang menjenguk kemarin. Gadis berambut panjang – namanya Sulli? – tampak nyaris pingsan melihatmu tergolek tak sadarkan diri.” Minho tertawa getir. “Mungkin jika jadi perempuan aku bisa mengekspresikan perasaanku sebaik dia.”

Taemin menoleh pada Minho, memperhatikan cara menyetir pria itu yang santai namun mantap. Tidak, ia tidak mengenal nama Sulli. Ia mendapati dirinya bertanya-tanya apakah hubungan dirinya dengan Minho sehingga pria itu mengenal seluk-beluk kehidupan sekolahnya.

Minho membalas tatapan Taemin sekilas dan tersenyum simpul. “Kau ingat pada Sulli, bukan? Gadis yang memberimu coklat Valentine tempo hari.”

“Apakah kau kakakku?” selidik Taemin hati-hati. Melihat perubahan ekspresi Minho, ia cepat-cepat menambahkan, “Maaf, aku tak bermaksud tidak sopan tapi aku benar-benar tidak mengingat apa pun.”

Gwaenchana. Aku memang bukan kakakmu, tapi kita sudah saling mengenal sejak lama.”

“Teman?”

“Kau bisa menyebutnya begitu.”

Taemin memutuskan tidak bertanya lagi mendengar nada dingin Minho. Ia kembali menatap malam kelam di luar, memperhatikan sebuah gedung gelap yang berdiri di persimpangan jalan.

“Kau lama sekali.”

“Maaf, ada sedikit masalah.”

“Yah, kuharap bukan masalah kontroversi itu.”

“….”

“Kau benar-benar tidak normal.”

Taemin mendapati setetes air mata bergulir turun. Ia menyentuh pipi, terkejut sekaligus bingung dengan adanya cairan bening disana. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah itu tadi bagian dari ingatannya yang hilang?

Mobil melambat ketika mencapai gedung batu bertingkat enam yang tampak bergaris-garis vertikal oleh cahaya lampu di setiap lantainya. Setelah memasuki basement dan berhenti di salah satu lahan parkir, Minho menoleh padanya.

“Kita sudah sampai.”

Taemin sedikit menunduk untuk dapat melihat keseluruhan basement yang remang-remang dari jendela. “Disini?” tanyanya ragu. Sekali lagi sekelebat memori tak jelas muncul, tapi ia sadar itu bukan kenangan indah.

Minho bergumam mengiyakan sembari memutar tubuh bagian atasnya untuk meraih ransel di jok belakang. Tubuhnya sedikit condong ke arah Taemin dan itu membuat dada Taemin berdesir menghirup aroma parfum lembut tersebut.

Minho tersenyum kecil ketika kembali menatapnya. “Ayo, kita sudah sampai di rumah.”

~~~

“Disini tempat kau akan tidur malam ini.”

Taemin memperhatikan Minho membuka salah satu pintu bergagang silver, menunjukkan kamar mungil yang hanya berisi tempat tidur single, lemari baju kecil, dan sebuah meja yang menghadap ke jendela berkerai. Apartemen Minho sendiri berada di lantai empat, berhadapan dengan balkon yang mengarah ke lapangan basket kecil tak terawat.

“Ya, terima kasih.” Taemin terdiam sejenak. “Kau sendiri tidur dimana?”

“Aku? Biasanya aku tidur di sofa depan televisi – tapi tenang saja, aku hanya tidur sebentar karena harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk,” jelas Minho cepat karena melihat raut cemas Taemin.

Sebuah pertanyaan mendesak kepala Taemin. “Apakah ini berarti aku biasanya tidak tinggal disini? – maksudku, jika dilihat sekilas kamar ini begitu menggambarkan dirimu.”

“Uh, memang benar.” Minho melepas pegangan pada gagang pintu dan menyandarkan punggung di daun pintu, mendesah panjang sebelum menjawab, “Kau hanya menginap disini beberapa hari sampai orangtuamu pulang dari Perancis.”

Taemin merasa sepercik harapan menghampirinya. Mungkin ia bisa mengingat sesuatu dengan bertemu dengan kedua orang tuanya. “Terima kasih banyak. Selamat malam, Minho ssi.”

“Selamat malam. Taemin-ah?”

Taemin mengurungkan niat untuk masuk ke kamar. “Ya?”

Minho maju selangkah mendekat dan mengangkat satu tangan seolah ingin membelai pipinya, tapi segera ia masukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan tersenyum. “Tidak ada apa-apa. Semoga besok kau bisa mengingat sesuatu.”

“Ya… semoga saja.”

~~~

Kau diberi satu lagi kesempatan untuk hidup.
Cari Kim Jonghyun – ketahui apa yang harus kau ketahui dan ungkapkan apa yang harus kau ungkapkan.
Waktumu tersisa enam hari dari sekarang.

Taemin bangun dengan perasaan tak menentu. Sebuah suara yang juga muncul kala pertama kali ia membuka mata kini kembali berbisik di telinganya. Siapa Kim Jonghyun? Apa maksudnya dengan ‘satu lagi kesempatan hidup’? Apa yang harus dia ketahui?

Merasa frustasi, Taemin menunduk menatap kakinya yang tergantung di tepi tempat tidur. Untuk pertama kali sejak membuka mata ia memperhatikan anggota tubuhnya – ya, hanya kaki berbalut skinny jeans yang ia lihat sekarang, dan dua tangan dengan jemari ramping panjang. Rasanya sudah lama sekali sejak dirinya melihat cermin.

Taemin turun dari tempat tidur dan menarik kerai di sebelahnya. Pagi masih berupa garis oranye tipis di ufuk timur, tapi tak ada yang menjamin hari akan cerah karena beberapa awan kelabu sudah menggantung di langit remang, siap menjatuhkan kandungan air sedingin es kapan saja. Taemin berjalan mengelilingi kamar dengan satu tangan sedikit terentang ke samping, menyentuh apa pun yang ada di jangkauannya, dan menemukan cermin persegi panjang tergantung di sebelah lemari pakaian. Ia menghampirinya.

Lalu terkesiap.

Orang yang balas menatapnya memiliki wajah lonjong yang tampak feminim, dibingkai dengan rambut coklat lembut yang dipotong nyaris sebahu. Kedua mata itu tidak sipit ataupun lebar tapi diukur dengan presisi menciptakan bentuk yang indah namun tetap tajam. Hidung dan bibirnya terletak dengan manis mengisi wajah berkulit putih porselen itu.

Jauh di sudut otaknya, Taemin tak yakin wajahnya terlihat seperti ini. Ia memang kehilangan ingatan, tapi bukan berarti tidak punya bayangan tentang wajahnya – ah, kepala Taemin kembali pening jika mengingat masa lalu.

Taemin keluar dari kamar dengan ragu. Matanya mereguk pemandangan ruang tengah yang bernuansa manly itu dengan rakus, menyimpannya dalam otak dan berusaha mencocokkan dengan kepingan ingatan yang tidak berbentuk. Nihil. Ia tak menemukan apapun.

Taemin mengambil langkah pertama, lalu dengan sedikit percaya diri berjalan menuju dapur yang hanya berupa pojokan ruangan dan diisi oleh kulkas dua pintu, dua konter, dan satu kompor listrik. Dilihat dari kebersihannya, mungkin Minho hampir tidak pernah menggunakannya.

“Kau sudah bangun.”

Taemin berbalik dan mendapati Minho sudah berdiri di belakangnya, menggaruk-garuk kepala layaknya orang baru bangun tidur. Taemin memaksa seulas senyum.

“Maaf sudah membangunkanmu.”

“Tidak, tidak. Jadi….” Minho memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana tidurnya. “Kau berniat masuk sekolah hari ini? Atau masih ingin beristirahat di rumah dan memulihkan ingatanmu?”

“Ah, kupikir… aku akan ke sekolah saja,” jawab Taemin. Ia sangsi tentang kenangannya akan sekolah, tapi bersama Minho seharian kelihatannya jauh lebih buruk.

Di luar dugaan Minho hanya tersenyum. “Aku sudah menduganya. Lekaslah bersiap.”

~~~

Orang pertama yang mengenali Taemin di sekolah internasional yang sangat asing itu adalah seorang gadis jangkung berambut panjang dan memiliki senyum ramah. Ia mengenakan rok pendek dan sweater longgar. Dilihat dari caranya bersandar pada gerbang depan, Taemin menyimpulkan gadis itu adalah Sulli.

“Taemin-ah, kau sudah sehat?” Sulli menghampirinya dan tanpa ragu meraih kedua tangannya. “Aku benar-benar cemas tentangmu. Apa berita bahwa kau menderita satu penyakit itu benar?”

“Uh, tidak… hanya penyakit biasa,” dusta Taemin. Ia membiarkan Sulli menariknya melewati lapangan luas menuju gedung luar biasa luas yang membentang memenuhi satu kompleks. Matanya lekat mengawasi tiap koridor, tikungan, serta tangga yang mereka lalui dan berharap tidak lupa jika ia harus keluar sewaktu-waktu sendirian.

“Seminggu tanpamu ini benar-benar suram.” Sulli mulai bercerita saat mereka berjalan di koridor lengang di lantai tiga. “Duduk sendirian sangat tidak menyenangkan, kau tahu? Aku sangat kelabakan saat tes Fisika dimulai – biasanya kau selalu siap sedia memberikan jawaban,” lanjutnya lantas terkekeh.

Mereka tiba di pintu berplang 3-5. Deretan bangku besi memenuhi kelas tersebut dan hanya ada lima anak yang ada di dalam kelas. Kelima anak itu memandangnya aneh bercampur heran ketika ia memasuki kelas dan mengikuti Sulli ke bangku nomor dua dari belakang.

“Disini biasanya kau duduk. Aku sudah memastikan tidak ada yang menyentuhnya selama kau tak ada,” kata Sulli lagi, dan Taemin merasa gadis yang kini duduk di depannya ini memiliki kekuasaan yang tak main-main.

“Oh, terima kasih.”

Sulli memutar kursi agar berhadapan lalu menatapnya lekat-lekat. “Kau sangat diam dan wajahmu sedikit pucat. Kau masih sakit? Lee Taemin yang kukenal begitu bersemangat, bukan selemas ranting basah seperti ini,” cerocosnya.

“Ya – maafkan aku. Sedikit sulit menyesuaikan diri setelah lama tidak ke sekolah,” kilah Taemin.

Beruntung bel tanda masuk berdentang tepat saat Sulli membuka mulut hendak menyangkal. Disertai gerutuan tak jelas gadis itu memutar kembali kursinya sementara anak-anak lain dengan pakaian beragam memasuki kelas. Sebagian kecil memperhatikan Taemin, tapi sisanya tampak tak peduli – dan Taemin mensyukuri hal ini.

Taemin mendapati dirinya dapat mengikuti semua materi pelajaran yang diberikan hari itu. Otaknya seolah dihubungkan dengan kabel tak kasat mata yang menyambungkannya dengan pelajaran-pelajaran yang dapat terbilang sulit dengan begitu mudah. Apakah dirinya tergolong murid cerdas di masa lalu? Taemin tidak bisa mengingatnya dan hal itu membuatnya jauh lebih frustasi ketimbang dua puluh butir soal Fisika yang diberikan sebagai kuis.

Jam istirahat datang dan pergi. Pelajaran selanjutnya mampir begitu saja tanpa kesan berarti dalam benak Taemin. Ia menyadari di sekolah ini – atau setidaknya kelas ini – semua materi pelajaran dijejalkan begitu saja ke kepala para murid tanpa peduli bagaimana cara si murid memprosesnya. Aneh, Taemin merasa sekelumit rasa bosan yang ia sendiri tak tahu mengapa.

“Akhirnya pelajaran berakhir!” seru Sulli lega setelah bel tanda pulang berdetang. Ia menoleh ke arah Taemin yang bergegas merapikan buku dan memasukkan ke dalam tas. “Hei, Taemin-ah. Ayo kita jalan-jalan,” cetusnya.

Taemin, yang berencana menggali ingatan lewat jalan dari sekolah ke apartemen Minho, otomatis menggeleng. “Maaf, aku sudah punya rencana lain,” gumamnya sembari mengintip ke bagian dalam tasnya. Sepertinya tidak ada yang tertinggal.

“Apa ini ada hubungannya dengan Choi Minho?”

Nada Sulli dalam mengucapkan nama Minho membuat Taemin terperangah. “Kau mengenalnya?”

“Maksudmu pria posesif yang selalu mengekangmu itu? Ya, tentu saja.”

“Posesif?”

“Kapan kau akan berhenti menyangkal? Choi Minho tidak pernah mengizinkanmu pulang terlambat lebih dari tiga puluh menit, Lee Taemin. Ingat saat kita jalan-jalan ke taman bermain bulan lalu? Aku bersumpah melihat api di mata pria itu saat menjemputmu. Oh, aku tidak percaya ada pria seperti itu di zaman sekarang – maksudku, kau bukanlah siapa-siapanya! Well, setidaknya belum.”

Taemin mendengarkan ocehan berapi-api Sulli dengan saksama dan terpancing oleh kata terakhirnya. Belum. “Apa maksudmu dengan belum?” tanyanya saat mereka berdua sudah menuruni tangga menuju lantai satu.

“Aku sungguh tidak tahu tujuanmu membuatku menceritakan ini lagi.” Sulli membenarkan letak tali tas di satu pundaknya seraya berkata, “Choi Minho adalah tunangan kakakmu. Perjodohan, katamu.”

Taemin merasa seolah otaknya adalah jigsaw puzzle yang belum menemukan kepingannya. Dari informasi Sulli, ia mendapatkan satu kepingan – itu pun bentuknya tidak jelas dan letak pastinya belum diketahui. Mereka sudah berada di luar gerbang ketika Taemin memutuskan untuk bertanya hal yang sedikit berisiko, “Dan kau pasti teman dekatku.”

Wajah Sulli sedikit bersemu. “Biasanya kau menganggapku pengganggu.”

Jalan yang mereka lalui cukup padat, dengan pertokoan yang berdesakan di pinggir trotoar. Etalase-etalase kaca yang memamerkan barang-barang menggiurkan tampak bercahaya. Aroma makanan manis bercampur dengan wangi bunga. Taemin menatap kanan-kiri, berharap menemukan kepingan ingatannya yang lain.

“Kau tidak kesini?”

Taemin menarik kembali pandangannya dari plang toko kue ke arah telunjuk Sulli. Kalau ia tidak salah, gedung berlantai dua suram itu yang kemarin dilihatnya di jalan pulang dari rumah sakit. Tempat yang membuatnya mengingat sepotong memori kelam yang dirinya bahkan tidak tahu apa itu.

“Haruskah aku kesana?” Sulli memutar bola mata mendengar pertanyaan ragu Taemin sembari menaiki undakan batu menuju pintu kaca gedung tersebut. Melihat Taemin masih termangu di bawah, ia berdecak. “Ayo, cepat!”

Taemin tidak punya pilihan selain mengikuti Sulli. Dadanya berdesir saat menginjakkan kaki di lantai marmer yang melapisi keseluruhan lantai satu gedung itu. Hanya ada beberapa pot tanaman dan sebuah bangku besi yang menyandar di bawah tangga.

“Partner-mu juga kesepian saat kau tidak ada,” kekeh Sulli seraya membuka salah satu pintu kayu dengan lubang kaca yang cukup lebar di atasnya. Mereka sudah ada di lantai dua saat ini.

“Partner apa?” gumam Taemin, terlalu lirih untuk didengar Sulli karena gadis itu sudah menghambur masuk. Taemin mengintip ke dalam, menyadari bahwa ini adalah ruangan luas berlantai kayu dengan cermin memenuhi satu sisi dinding yang dibanjiri sinar matahari dari jendela di sisi dinding yang berseberangan dengan pintu. Seorang lelaki berambut pirang tampak duduk menyandar di lantai membelakangi cermin.

“Key oppa!”

Lelaki yang dipanggil Key itu menoleh. Mata kucingnya bertemu dengan milik Sulli sebelum segera berdiri untuk menyambut high-five gadis itu. Ia tersenyum ramah. “Hei, apa yang membuatmu kesini?”

“Lihat siapa yang datang bersamaku.”

Key memandang ke balik bahu Sulli dan membelalak melihat Taemin berdiri mematung di depan pintu. “Taemin? Kau sudah sembuh?” tanyanya gembira seraya menariknya masuk.

Taemin merasakan terjangan rasa tidak tahu memenuhi dirinya. Ia tidak mengenal Key. Ia tidak mengenal tempat ini. Ia tidak tahu tempat macam apa ini.

Mendadak matanya tertumbuk pada bayangan dirinya sendiri di cermin. Bukan laki-laki berkemeja biru lengan panjang dan skinny jeans hitam, melainkan laki-laki dengan celana training dan T-shirt serta seorang lain lagi yang membelakanginya. Perempuan mungil berambut panjang.

“Inikah yang kau lakukan selama ini?”

“Aku… tidak melakukan apa pun.”

“Pembohong! Kau pikir berapa lama aku mencarimu? Kau bersembunyi dariku?”

“Tidak. Aku….”

“Dengar, aku sudah muak denganmu! Kau sumber masalah keluarga!”

Gelombang kepedihan dan kemarahan melanda pikiran Taemin. Ia kehilangan pijakan dan segalanya berubah gelap. Ia merasa marah dan bersalah di saat yang sama. Ia menyesal atas dua hal yang berlawanan tapi dia sendiri tidak tahu apa pastinya kedua hal tersebut.

Sayup-sayup ia mendengar suara saling bersahutan, timbul-tenggelam di antara memori yang terus berputar seperti kaset rusak.

“Taemin-ah, kau tidak apa-apa?” Itu suara Sulli, cemas dan panik.

“Bukan Taemin.”

Apakah itu suaranya sendiri? Taemin tak sempat memikirkan kepingan terbesar jigsaw puzzle karena kesadarannya semakin menipis sebelum hanya kehampaan yang menyambutnya.

..::To be Continued::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “Piece of Memory – Part 1”

  1. Mwooo?!serasa pendek, dan menyedihkannnn
    Jebal, ap maksud kata” trakhir chap in?jebaaaal, key jgn jadi jahat thoooor, pleaseeee,,

    1. Belum apa2 kok udah menyedihkan sih? :3

      Key jahat? Ahaha, nggak bakalan deh aku buat kayak gitu ^^

      Makasih udah baca+komen 😀

    1. Err… baca sampe part berapa aja nggak bakalan nyambung. Ciyus -_- bahkan aku yg buat sampe bingung sendiri ._.

      Anyway, thanks for commenting ^^

    1. Enggak kok, komen aja sudah bikin aku seneng banget, apalagi mau nunggu next part.nya 🙂

      Makasih sudah baca+komen, Hyora ssi 😀

  2. Aigo aigo ini bener2 bikin penasaran ._. Ayooo thooor lanjuuut lanjuuut aku penasaraaan 😀 sulli itu suka Taemin ya? Minho juga suka Taemin? Tapi minho kan tunangan kakanya Taem ._. Ayo ayo lanjut semoga ga lama 😀

    1. Ya. Bisa dibilang ini cinta segi-banyak, belum lagi nanti blablabla-nya yg muter2 ga jelas *jedotin kepala ke tembok*

      Tunggu yaa, thanks for commenting 😀

  3. waaah, dipublish di sini juga trnyataa…
    eheheheee…
    komennya nitip ke sebelah aja gmna zaky? #plak!

    yang pasti, ceritanya baguus!!! bahasanya apiik!!! nyentuuhh!!! dan ending part ini ngegemasin! penasaraaan~~~
    lanjuuut!!! 😀

    1. Sek, sek. Kamu kan udah baca dari pertama sampe part 6, kenapa masih penasaran? -_-

      Anyway, thanks a lot ya. Ga mau baca yg piece 7? #promosi. Haha 😀

  4. dari awal baca sampe akhir penasaran,itu kalo bukan taemin terus siapa? onyu kah? onyu mana..mana..mana..jadi apa? za… bagus FF nya. kudu ditamatin!! wajib!! jangan berhenti di tengah jalan yang sepi dan lamaaa ya!! *cium

    1. Waduh, rencananya mau di-stop beberapa saat dulu padahal, haha. Masih sibuk sama sekolah ini, lagian mood jarang mendukung ._.

      Tapi aku usahain deh, nyempetin nulis, hehe. Makasih ^^

  5. Penasaran banget apa hub.nya taemin ama minho? Trus ada jonghyunna bikin tambah bingung?
    Trus taem knapa bisa lupa ingatan?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s