Let Me Love Him – Part 2

Let Me Love Him – Part 2

Author                          :    himahimawari

Main Cast                     :    Lee Habin (OC), Kim Jonghyun, Choi Minho

Support Cast                :    Jung Jyorin (OC), Choi Sunhi (OC-just mentioned-)

Length                          :    Sequel

Genre                           :    Romance, Friendship

Rating                           :    PG-13

-Habin POV-

Kurasakan Minho mulai merenggangkan cubitannya. Ia tidak melepaskannya, tetapi justru memegang pipiku. Aku baru sadar wajahnya berada sejengkal di depanku.

Mataku menatap matanya, begitu pun Minho. Tiba-tiba dia mengelus pipiku dan memajukan kepalanya lebih dekat dengan wajahku , membuatku terbelalak kaget.

Tatapannya berubah. Keningnya agak berkerut. Matanya menyipit. Tangannya mengelus pelan pipiku kemudian bergerak perlahan ke daguku. Kurasakan pipiku mulai memanas.

Sekarang dia menjepit daguku dengan ibu jari dan telunjuknya yang ditekuk. Dia menutup matanya. Aku ingin melawan. Tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku seperti terhipnotis olehnya. Aku pun menutup mataku perlahan. Dan…

A/N                                :

Dasi annyeong yeoreobun! Akhirnya FF Let Me Love Him Part 2 ini di post juga. Dan part ini panjang sekali, mungkin karena terlalu banyak dialog-__- Semoga kalian terhibur dengan FF author. Gomawo buat Bibib Dubu eonni yang ngoreksi ff aku sebelum di post hehehe 😀

Sekali lagi author tekankan kalo ada kesamaan nama tokoh maupun jalan cerita, itu bukan unsur kesengajaan^^ Jangan menjadi pembaca yang pasif ya. Author pun ingin dikritik biar bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi 🙂 Nah, selamat membaca!

* * *

-Minho POV-

Aku merenggangkan cubitanku dan memegang pipinya yang halus. Kukerutkan keningku, kusipitkan mataku, dan kutatap matanya dengan sangat dalam.

‘Perasaan seperti ini… muncul lagi… ketika bersamanya…

Kudekatkan wajahku perlahan. Aku mengelus pipinya yang mulai memerah pelan dan kugerakkan tanganku ke arah dagunya. Kupegang dagunya dengan ibu jari dan telunjukku yang kutekuk. Perlahan kututup mataku. Aku tak merasa ada tolakkan darinya.

‘Apa ini… lampu hijau? Habin… kau tidak menolakku?’

Tiba-tiba seorang yeoja membuka pintu ruang kesehatan. Aku sontak membuka mata dan melihat kearah yeoja itu.

“Ah, mianhaeyo! Apa aku mengganggu?” tanya yeoja itu sambil  menutup pintu. Aku menggerakkan mataku melihat Habin yang berekspresi kaget juga. Tapi, dia berusaha menutupinya.

An.. aniyo.. ada apa?” Habin menanggapinya dengan sedikit terbata-bata.

“Aku mencari Lee Habin.” Habin? Dia mencari Habin? Ada urusan apa?

Kulihat Habin mengkerutkan keningnya. “Naneun? (aku?) Waeyo?” Dia mengarahkan jari telunjuknya ke dirinya sendiri.

“Kau dipanggil seonsaengnim,” jawab yeoja itu. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun di antara pembicaraan mereka. Mungkin memang sebaiknya aku tidak angkat suara. Tapi… tunggu, apa Habin ada masalah?

JinjjaArraseo, aku kesana sekarang.” Habin lekas berdiri dan berjalan keluar dengan langkah masih sedikit terpincang, pergi meninggalkanku di ruang kesehatan.

Aku menatap dingin, bukan pada yeoja itu ataupun Habin yang baru pergi. Tapi Jonghyun yang menghentikan langkahnya beberapa meter di depan ruang kesehatan dan menatapku heran. Dia menatap Habin yang sudah lumayan jauh di depannya dan kembali menatapku. Namun kali ini ia sedikit mengerutkan keningnya. Apa dia berpikir macam-macam? Haha biarkan saja. Lalu dia kembali melanjutkan jalannya.

-Jonghyun POV-

Sekolahku sudah memasuki waktu istirahat. Murid-murid di kelasku sudah berhamburan keluar kelas. Kini hanya tinggal aku sendiri. Ya, teman-teman yang meledekku tadi pagi berada di kelas yang berbeda denganku. Aku meregangkan otot-ototku yang terasa kaku karena sejak tadi hanya duduk dan mendengarkan materi demi materi yang disampaikan seonsaengnim. Aku meluruskan kakiku dan bersandar pada  kepala kursi. Tiba-tiba pintu kelasku terbuka. Kulihat beberapa yeoja aneh—yang bisa kubilang sangat mengidolakanku—berjalan menghampiriku lagi hari ini seperti biasanya. Tapi, aku tidak melihat yang satu lagi, mungkin dia sudah menyerah karena aku menolaknya kemarin, haha.

“Jonghyunnie, aku bawakan bekal untukmu hari ini. Ayo makan bersama!”

“Aku juga bawakan buah untukmu, Oppa.

“Jonghyunnie, aku sudah buatkan spaghetti spesial untukmu hari ini. Ayo kita makan siang bersama!” ajak mereka dengan gaya centil yang dibuat-buat, yang sukses membuatku kesal dan kehilangan selera makanku.

Sebenarnya, walaupun aku benci dinilai cool dan belum bisa beralih ke yeoja lain, tetap aku lebih menghargai orang yang biasa-biasa saja dari pada bersikap centil seperti itu. Seperti bukan diri mereka sendiri.

Aku melihat mereka bertiga berkelahi hanya karena ingin makan siang bersamaku. Aku mendengus kesal.

Mianhae, tapi aku tidak sedang bernafsu makan,” tanggapku dengan disertai dengan seulas senyum yang kupaksakan. Ya… demi menghargai mereka dan agar aku tidak dimarahi seonsaengnim lagi kalau-kalau beliau melihat mereka semua menangis karena aku yang terlalu kasar. Mereka langsung terdiam.

Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam di kelas sebelum diriku dibuat lebih kesal. Aku pergi keluar kelas dan hendak menyusul teman-temanku di kantin. Di koridor pun banyak yeoja yang memanggil dan menyapaku. Aku hanya meresponnya dengan seulas senyum paksaan yang sepertinya tetap bisa membuat mereka meleleh, terpuaskan mungkin?

Ketika jarakku semakin dekat dengan ruang kesehatan, aku melihat seorang yeoja keluar dari ruangan itu yang diikuti oleh seorang yeoja lainnya—yang kurasa pernah melihatnya sebelumnya, ia berjalan sedikit terpincang.

‘Dia… Lee Habin,kan? Yeoja yang kutabrak tadi pagi?’

Kuhentikan langkahku saat berada di depan ruang kesehatan. Kulihat Minho ada di dalam sana dengan kursi kosong di sebelahnya. Aku menatap Habin yang belum jauh dari tempat aku berdiri.

‘Minho? Apa yang dia lakukan dengan Habin? Apa mereka…’

Aku kembali menatap Minho. Aku baru sadar ternyata Minho pun melihat ke arahku sejak tadi dengan tatapan dinginnya. Aku mengurungkan niatku menuju kantin dan (mengubah arah langkahku menuju atap sekolah. Ya, aku ingin menenangkan diri sejenak.

* * *

“Hei, Jonghyun, ada apa dengan dirimu hari ini? Tertarik begitu mudah dan berujung kecewa, haha. Apa ini sebuah karma untukku?” Aku merutuki diri sendiri ketika  sampai di rooftop.

Aku mengambil jepitan Habin di saku celanaku kemudian memainkannya, kuputar-putar dengan ibu jari dan telunjukku.

“Tapi, apa mereka…”

“Apa kau akan membuatnya terulang lagi?” sela seorang namja tiba-tiba.

Aku menggenggam erat jepitan Habin lalu memasukkannya kembali kedalam saku celanaku. Segera kubalikkan badan dan kudapati Minho suda ada beberapa meter di depanku.

“Minho? Apa maksudmu?” Aku mengerutkan keningku.

“Kau bertanya apa maksudku? Haasshh, jinjja! Tidak kusangka kejadian satu tahun yang lalu dapat kau lupakan semudah itu. Pantas saja kau bisa menikmati ketenaranmu sekarang,” cibirnya sinis.

‘Akh, tidak lagi. Minho, ini cukup.’

“Aku sudah bilang kepadamu berkali-kali. Kau salah paham! Bukan aku yang melakukannya! Ketika aku sampai di sana saja semuanya sudah terjadi dan aku hanya mendapat kabar kalau dia sudah… Argh! Mengapa kau tidak bisa berhenti menyalahkanku?!”

“Berhenti?? Kalau saja kau… akh, sudahlah. Percuma saja. Orang sepertimu tidak akan mau mengakuinya.” Minho berbalik dan berjalan perlahan meninggalkanku.

“Sungguh, aku tidak tahu apa-apa, apalagi melakukannya. Mana mungkin aku melukai seseorang yang sangat aku sayangi?!“

Minho menghentikan langkahnya.

Mwo?? Sayang? Apa pantas mulutmu yang mengandung banyak dusta itu mengucapkannya?” Minho membalikkan badannya dan memandangku dengan tatapannya yang dingin.

“Kau saja masih bisa bersenang-senang sekarang ini. Menikmati ketenaranmu di sekolah ini sementara kau? Sedikitpun tidak bertanggung jawab atas adikku, kekasihmu sendiri! Kasihan sekali orang-orang bodoh itu. Mengidolakanmu padahal mereka tidak tahu apa yang telah kau perbuat setahun yang lalu. Cih, dasar penipu! Pembunuh!” Dia kembali berjalan ke arahku.

“Aku bukan penipu! Apalagi pembunuh! Berhenti menyebutku seperti itu!”Kukepalkan tanganku kuat-kuat karena emosi yang menumpuk di batinku. Kata-kata yang merupakan sebuah tuduhan keluar dari mulut sahabatku sendiri? Aku benci dinilai seperti ini. Semua ini hanya kesalahpahaman.

“Kau itu pembunuh!” sergah Minho. Tatapannya kian menajam.

“Kau hanya menilai berdasarkan pikiranmu saja, Choi Minho!” bentakku lagi. Emosiku benar-benar tersulut. Kugerakkan tangan kiriku memukul wajah Minho dengan kuat hingga ia terjatuh. Kulihat sudut kanan bibirnya berdarah.

“Sudah kubilang kau salah paham! Berhenti menuduhku!” geramku. Aku meninggalkannya yang masih tergeletak di lantai rooftop.

Tak ada hal lain yang terpikirkan olehku selain pergi ke toilet. Semoga dengan membasuh wajahku, semua emosi yang memuncak itu bisa segera redam perlahan. Sayang, aku tidak cukup tenang mengendalikan emosiku. Maka yang selanjutnya terjadi adalah bunyi berdebam pintu toilet yang kututup dengan kasar—membuat orang lain yang ingin masuk, kaget.

“Arrrrggh!! Kenapa Minho selalu menyalahkanku seperti ini? Dia saja yang tidak tahu bagaimana posisiku saat itu! Sadarkah ia bahwa dirinya hanya menilai dari apa yang dia lihat saja! Siaaall!!” Aku memukul tembok toilet dengan keras hingga kurasakan sakit di punggung jariku yang sepertinya memar. Tapi rasa sakit ini tidak sesakit dituduh membunuh yeojachingu-ku sendiri, terlebih oleh sahabatku yang berstatus Oppanya.

-Minho POV-

Jonghyun memukul wajahku hingga aku terjatuh. Rasa asin terasa di lidahku. Sepertinya bibirku berdarah.

“Sudah kubilang kau salah paham! Berhenti menuduhku!” bentak namja pembunuh itu lalu pergi meninggalkanku yang masih tergeletak di lantai. Aku menerawang langit siang ini yang lumayan cerah.

‘Sunhi… mianhae aku mengajakmu ke acara itu dan mengenalkanmu kepadanya, aku tidak menyangka kau akan mencintainya. Dan menjadikan nasibmu seperti ini. Mianhae… jeongmal mianhae…’

Aku merasa cairan bening keluar dari sudut mataku. Tapi aku lekas menyekanya, kemudian aku berdiri berjalan ke kelas sambil membersihkan darah di sudut bibirku dengan punggung tangan.

Aku duduk di kursiku dan menundukkan kepala. Aku teringat kejadian 1 tahun lalu. Yang membuat aku mendadak membenci sahabatku sendiri.

“Ack, siaal. Semua karena dia!!” Aku menggebrak meja.

“Mengapa aku begitu bodoh?  Minho pabo!” Aku membenamkan kepala di antara kedua tanganku di atas meja, dan cairan bening itu keluar lagi dari mataku. Untungnya kelasku sedang kosong saat itu, jadi tidak ada yang memperhatikanku.

‘Habin… aku… aku akan menjagamu… hal yang sama tidak bisa dibiarkan terjadi dua kali.’

-Habin POV-

Aku pergi menghampiri seonsaengnim di ruang guru. Rasa sakit di kakiku sudah lumayan berkurang. Tapi aku masih kurang bisa berjalan dengan benar.

Aku mengetuk pintu ruang guru yang berada di depanku saat ini. Hatiku tidak berhenti bertanya-tanya tentang alasan pemanggilanku secara mendadak.

Ne, masuklah,” sahut seseorang dari dalam.

Annyeonghaseyo,” ucapku sambil membuka pintu dan masuk ke dalam. Kulihat hanya ada seonsaengnim di ruangan itu. Beliau sedang duduk dikursi.

“Ah, Habin-ssi. Anjeuseyo (Silahkan duduk.” Bbeliau mempersilahkan aku duduk di kursi yang berada di depannya. Aku menurut, berjalan mendekat sambil berusaha menutupi jalanku yang pincang ini agar beliau tidak khawatir dan bertanya-tanya.

Negomapseumnida. Ada apa seonsaengnim?” tanyaku begitu duduk di depannya.

“Hmm Habin… begini, mulai dari semester baru setelah liburan ini sekolah ini tidak menerima beasiswa lagi. Jadi, semua murid yang bersekolah di sini harus membayar. Para di sini tahu kau itu sangat pintar. Kami berharap kau tetap bersekolah di sini. Keunde… (tapi…) apa kau bisa?”

“Ah, aku… akan kuusahakan seonsaengnim,” jawabku agak ragu.

“Tapi, aku harap kau tidak memaksakan diri. Baiklah, kamsahamnida Habin. Aku hanya ingin memberi tahu info ini. Kau boleh keluar sekarang.”

Necheonmaneyo seonsaengnim.” Aku lekas berdiri, membungkukkan badanku untuk memberi salam lalu berjalan keluar dari kantor guru menuju kelas.

Eotteokhae? Apa aku bisa membayar biaya sekolah ini? Keunde naneun… (tapi aku…)’

Ketika aku sampai di kelas. Aku melihat Minho membenamkan kepalanya. Aku teringat kejadian di ruang kesehatan tadi. Entah mengapa aku menjadi canggung dengannya.

Samar-samar kudengar isakan kecil. Kulihat ke sekeliling kelas tapi ada siapa-siapa. Sepertinya suara itu dari Minho. Sontak aku menjadi panik. Herannya, aku tetap berjalan kearah Minho. Sepertinya aku sudah mulai bisa berjalan seperti biasa lagi berkat Minho di ruang kesehatan tadi. Argh, jangan lagi Habin.

“Minho, gwenchanayoMuseun il-ieyo? (ada apa?)” tanyaku sambil mengusap bahunya.

Minho mengangkat kepalanya, membuatku melepaskan tanganku dari bahunya.

“Ah, ani… gwenchana,” jawabnya sambil menggeleng kecil lalu tersenyum yang sepertinya dipaksakan. Tunggu, bibirnya berdarah? Apa dia habis berkelahi? Tapi aku yakin dia bukan tipe namja yang seperti itu. Aku melihat matanya yang merah dan berkaca-kaca, seperti habis menangis.

Jinjja? Kalau kau ada masalah, kau bisa ceritakan kepadaku,” ucapku sedikit khawatir. Dia bukan orang yang mudah menangis seperti ini. Pasti telah terjadi sesuatu padanya tadi.

Gwenchana. Ada apa kau dipanggil seonsaengnim?” tanyanya langsung mengganti topik. Aku yakin telah terjadi sesuatu dengannya. Tapi aku tidak akan memaksanya untuk bercerita,  Aku tidak ingin membuatnya merasa tak nyaman.

Aku menghela napas kasar. “Aniyo, bukan apa-apa,” jawabku dengan lesu.

Jinjja? Kau tidak terlihat seperti tidak ada apa-apa. Malhaebwa (katakan saja).” Sepertinya dia penasaran.

“Hmm… mulai bulan depan sekolah tidak menerima beasiswa lagi. Semua beasiswa murid pun akan dicabut. Tapi guru-guru ingin aku tetap disini. Aku pun belum menemukan orang tua kandungku. Tapi kalau harus membayar, kau tau sendiri ‘kan?” ungkapku. Aku menundukkan kepalaku dan menghela napas pelan. Aku semakin lesu memikirkan apa yang harus kulakukan. Aku tidak mungkin meminjam uang ke Jyorin. Aku sudah sangat merepotkannya.

Mwo? Mengapa semua beasiswa dihapus?” Dia terlihat kaget. Tiba-tiba dia memegang bahuku, membuatku mendongakkan kepala. “Aku akan membantumu Habin, tenang saja,” lanjutnya.

Aku menggeleng. “Ah, gomawo Minho. Keundae, aku tidak ingin merepotkanmu,” ucapku sambil tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan.

Gwenchana Habin. Kau itu temanku, ‘kan?” Minho tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya.

‘Minho.. kau berhasil menghiburku.. sedangkan aku? Tidak sama sekali. Bahkan aku saja tidak tahu permasalahanmu. Kau memang sahabat yang baik’

Bel masuk pun berdering. Aku kembali duduk di tempat dudukku. Kami belajar seperti biasa lagi

* * *

Pelajaran pun telah usai. Seperti yang sudah dijanjikan, aku pergi menemani Minho mengambil kacamatanya. Aku memasukkan buku-buku yang kubawa ke dalam tas yang kupangku. Kulirik sedikit Minho yang sedang berdiri dan menyandang tasnya dengan sebelah tangan, setelahnya aku kembali meneruskan kegiatanku.

“Kau sudah selesai?” tanyanya yang ternyata sudah berada di sampingku tanpa aku sadari. Aku menghentikan aktivitasku dan melihat kearah matanya.

Deg

Aku teringat lagi saat Minho hampir menciumku di ruang kesehatan tadi. Kedua pipiku langsung memanas. Aku buru-buru membuang muka. Kudengar dehaman dari Minho yang membuatku tersigap.

A… Ani, a.. aku ingin ke toilet dulu,” jawabku tergagap karena perasaan grogi yang muncul di tubuhku.

Aku sambil memasukkan 2 buku terakhir ke dalam tas. Lalu menarik resletingnya agar menutup.

“Ka… kalau begitu kutunggu di gerbang saja ya,” ucap Minho lalu pergi meninggalkan kelas tanpa menunggu jawaban dariku.

‘Apa dia marah?’

Ne, aku akan menyusulmu!” Aku berteriak kepadanya setelah dia keluar dari pintu kelas. Kulihat Minho melambaikan tangannya tanpa melihatku ataupun sekedar berbalik badan. Sepertinya dia memang marah. Aku menarik napas dalam lalu menghembuskannya untuk menenangkan diriku. Lalu aku menyandang tas dan berjalan ke toilet.

-Minho POV-

Aku menyandang tasku lalu berjalan menghampiri Habin yang masih membereskan buku-bukunya.

“Kau sudah selesai?” tanyaku begitu berada tepat di sampingnya. Habin berhenti memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu memandangku. Kulihat semburat merah di kedua pipinya. Lalu dia membuang muka. Aku merasakan detakan jantungku yang sedang berpesta karena dia terlihat… err manis.

‘Ya Tuhan, apa aku… mulai menyukai gadis ini?’

Aku berdeham untuk mengurangi rasa grogiku yang tiba-tiba muncul.

A… Ani, a.. aku ingin ke toilet dulu.” Dia tergagap. Oh tidak Minho, kendalikan dirimu.

Habin kembali memasukkan bukunya kedalam tas lalu kudengar suara risleting yang ditarik. Sepertinya dia sudah selesai.

“Ka… kalau begitu ku tunggu di gerbang saja ya, (Harusnya titik)” Aku buru-buru pergi meninggalkannya di kelas. Kuharap Habin tidak menyadari kalau aku juga grogi.

Ne, aku akan menyusulmu!” teriaknya dari dalam kelas ketika aku keluar dari kelas. Aku belum bisa mengatasi rasa grogi ini jadi aku hanya sekedar melambaikan tangan tanpa menoleh ataupun membalikkan badan agar dia tahu bahwa aku mendengarnya. Detakan jantungku semakin terasa.

‘Minho, ayo kendalikan dirimu.’

Aku mempercepat langkahku menyusuri koridor lalu menuruni tangga dengan cepat.

-Jonghyun POV-

Aku berjalan menghampiri kelas Habin untuk mengembalikan jepitannya. Semoga saja dia belum pulang. Saat berada di dekat kelas Habin, aku melihat Minho berjalan keluar kelas. Sontak aku menghentikan langkahku.

Ne, aku akan menyusulmu!”

‘Suara itu… Habin? Jadi dia masih di sekolah? Syukurlah.’

Aku melihat Habin keluar kelas, dan berjalan di koridor. Saat aku berlari hendak menghampirinya, aku kembali menghentikan langkahku untuk melihat keadaan kelas Habin yang ternyata kosong.

’Kelas ini sudah kosong? Berarti tadi Minho hanya berdua saja dengan Habin? Apa mungkin benar mereka… err berpacaran?’

Aku baru sadar aku harus mengembalikan jepitannya. Aku kembali mengejarnya. Namun, dia sudah masuk ke toilet wanita lebih dulu dan aku tidak mungkin masuk juga, bukan?

“Sepertinya aku tunggu di dekat tangga saja.” Aku pun berjalan menuju tangga.

-Author POV-

Habin membenarkan tatakan rambutnya di depan cermin besar di dalam toilet lalu menepuk kedua pipinya keras.

“Habin, lupakan kejadian di ruang kesehatan tadi. Minho pun tidak canggung padamu, bukan? Ayo semangat! Jangan membuatnya marah.” Habin menyemangati diri sendiri sambil melihat bayangannya di cermin.

“Haah, untungnya hanya aku yang berada di toilet ini. Kalau tidak, mungkin orang yang melihatku sepertinya akan langsung mengirimku ke rumah sakit jiwa.” Dia berkacak pinggang dan memiringkan kepalanya. Tiba-tiba dia teringat jepitannya yang hilang, wajahnya kembali lesu.

“Sudahlah… ayo Habin, hwaiting!” Habin pun mengukir senyuman di wajahnya lalu berjalan keluar.

Saat berjalan menyusuri koridor, Habin melihat Jonghyun yang sedang bersandar pada tembok di dekat tangga, ia menghentikan langkahnya sejenak.

‘Walau aku bertabrakan dengannya tadi pagi, aku baru sadar sekarang kalau dia memang keren seperti yang kudengar diam-diam dari omongan yeoja-yeoja yang duduk di belakangku saat pelajaran terakhir tadi. Pantas saja dia populer seperti yang dikatakan Minho.’

Jonghyun yang sedang separuh melamun, kemudian mendengar suara langkah mendekat. Dia menoleh kearah ke arah langkah itu dengan sigap dan mendapati Habin sedang berdiri di sana.

“Lee Habin!” panggil Jonghyun sambil melambaikan tangannya dari jauh lalu berjalan menghampirinya.

A annyeonghaseyo, Sunbae.” Habin membungkukkan badan begitu Jonghyun mendekat .

Annyeong, ini… ini punyamu, ‘kan? Aku ingin mengembalikan ini.” Jonghyun mengeluarkan sebuah jepitan dari sakunya lalu menyodorkannya pada Habin. Yeoja itu terkejut. Lalu senyuman lebar menghiasi wajahnya.

“Ah, jepitanku!” Habin mengambil jepitan itu dari tangan Jonghyun dan menggenggamnya erat.

Kamsahamnida Sunbae, aku khawatir benda kesayanganku ini hilang.” Habin tersenyum senang.

Ne, pakai banmal saja. Dan panggil aku Jonghyun, karena kira seumuran. Jadi jangan panggil aku sunbae lagi, ne?” Jonghyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum dengan penuh pesona.

Habin agak menundukkan kepalanya dan menatap ke arah lain, pipinya kembali memanas melihat Jonghyun yang tersenyum kepadanya. Ia menjawab gugup, “ne, Jo.. Jonghyun.”

Tiba-tiba dia teringat Minho. (titik) “Ah iya! Mianhae Jonghyun, aku… aku harus pergi,”ujar Habin khawatir dan buru-buru pergi, tapi Jonghyun menahan tangannya. Habin menoleh-melihat wajah Jonghyun.

“Ingin pergi dengan namjachingumu ya?” tanya  Jonghyun dengan nada sedikit meledek.

MwoAn.. aniyo.” Habin menjadi semakin salah tingkah.

“Keke, tidak perlu berbohong. Aku juga ingin pulang. Ayo turun!” Jonghyun melepaskan tangannya. Lalu berjalan menuruni tangga diikuti oleh Habin yang berjalan di belakangnya. Ketika sampai di pintu masuk, Habin melihat Minho berdiri disana.

-Habin POV-

Jonghyun berjalan menuruni tangga dan aku berjalan di belakangnya. Ketika sampai di pintu masuk, aku melihat Minho berdiri disana. Sepertinya dia terlalu lama menunggu hingga ingin menyusulku ke dalam.

“Minho, mianhae membuatmu menunggu. Tadi…” aku belum menyelesaikan kalimatku, Minho langsung menarik tanganku kasar. Tanpa senyuman atau sapaan, kini di wajahnya hanya ada raut kesal. Ada apa dengannya?Apa dia masih marah?

-Minho POV-

Aku menunggu Habin di depan gerbang.

Mengapa dia lama sekali?’

Aku memutuskan untuk kembali ke dalam sekolah, tapi di depan pintu masuk aku melihat Habin turun dengan… Jonghyun?

’Jonghyun? Mengapa Habin bisa bertemu dengannya lagi?’

Aku menjadi kesal, bahkan sepertinya cemburu.

“Minho, mian membuatmu menunggu. Tadi…” aku langsung menarik tangan Habin kasar dan berjalan meninggalkan sekolah.

“Minho, waeyo? Apa kau marah padaku?” tanya Habin dengan raut muka khawatir sesudah kami berada di dalam bus.

Anigwenchana.” Aku menggeleng pelan. “Apa kakimu masih sakit?” Aku memperhatikan kakinya.

“Hanya sedikit, tapi tidak apa-apa.” Dia mengulum senyum lalu menatap jalan raya dari jendela bus yang kami naiki. Dan selanjutnya, kami kembali terdiam.

Aku teringat dengan kejadian di ruang kesehatan tadi. Sepertinya aku harus minta maaf.

“Ah iya. Habin, untuk yang tadi…” aku berhenti berbicara dan meyakinkan diriku untuk meminta maaf.

Ne?” tanya Habin yang ternyata menoleh ke arahku dengan tatapan bingung.

“Untuk kejadian tadi, maksudku di ruang kesehatan itu. Aku… minta maaf.” Aku merasa jantungku kembali berdebar. Kendalikan dirimu, Minho.

“Oh itu. Ne, gwenchana.” Kulihat dia tersenyum sebelum kembali melihat keluar jendela.

“Ah, sudah sampai. Ayo!” Aku menarik tangan Habin keluar dari bus lalu masuk ke dalam toko kacamata.

“Selamat datang! Ada yang bisa ku bantu?” tanya pemilik toko begitu kami berdiri di depan meja kaca yang berisi banyak jenis frame kacamata.

“Aku ingin mengambil kacamata yang kupesan minggu lalu,(titik)” Aku mengeluarkan selembar kertas bukti pesanan kacamataku lalu memberinya ke pemilik toko.

“Atas nama siapa?” tanya pemilik toko itu lalu mengambil kertas yang kuberi lalu membenarkan letak kacamatanya.

“Choi Minho.”

“Baiklah, tunggu sebentar. Silahkan duduk aku harus mencarinya dulu.” Dia mempersilahkan kami duduk.

Aku dan Habin duduk di kursi yang sudah disediakan. Habin melihat ke sekeliling kami yang penuh dengan contoh-contoh frame kacamata.

“Ada apa? Kau ingin membeli kacamata juga Habin?” tanyaku sambil terkekeh.

“Aniyo.” Dia menggelengkan kepalanya tanpa melihatku.

“Kalau kau mau, aku bisa membelikannya untukmu,” ucapku, iseng menawarkan padanya.

Mwo?? Ani, mataku ini masih bagus.” Dia mengerucutkan bibirnya.

Kami sama-sama tertawa. Tak lama terdengar suara derapan kaki mendekat, aku menoleh ternyata pemilik toko itu berjalan ke arah kami dengan memegang sebuah kotak kacamata yang terbuka beserta isinya.

“Apa ini kacamata yang kau pesan?” tanya pemilik toko itu. Aku menghampirinya lalu memeriksa kacamata itu dengan teliti.

Negomapseumnida.”Aku mengambil kacamata itu lalu memakainya. Kulihat Habin berjalan kearahku.

“Bagaimana menurutmu?” tanyaku pada Habin.

-Habin POV-

“Bagaimana menurutmu?” tanya Minho.

Kacamata dengan frame biru metalik sangat cocok dimatanya. Membuatnya terlihat… err cool.

“Keren, aku suka,” jawabku sambil tersenyum.

Minho menarik cermin di meja dan melihat bayangannya sendiri dengan senyuman lebar lalu melepas kacamata yang ia pakai dan meletakkannya kembali di kotak yang disediakan.

Gomapseumnida, Ahjussi.” Minho membungkukkan badannya kepada penjaga toko lalu melangkah keluar. Aku mengikutinya.

Aku melihat jam tangan yang jarum-jarumnya menunjukkan pukul 4 sore.

“Minho, mian sepertinya aku harus pergi ke café sekarang juga,” ucapku sambil tetap memandang lurus ke depan.

“Baiklah, aku ikut,” ucapnya santai. Aku memandangnya heran.

Seperti sudah mengerti, ia kembali melanjutkan kalimatnya, “aku ingin menikmati hidangan lezat dan melihatmu bekerja.”

“Haaah, baiklah terserah kau saja.” Aku kembali menatap ke depan dan mempercepat langkah.

Aku dan Minho pun sampai di café. Minho duduk di sudut kanan café yang terdapat jendela besar. Mungkin dia ingin menikmati pemandangan di sana. Aku bergegas pergi ke ruang staff untuk mengganti baju seragam yang aku pakai.

“Tunggu, kalau begini Minho pasti akan menertawakanku.” Aku menghembuskan napas kasar.

“Haah, sudahlah. Kuatkan hatimu saja Habin.” Aku mengambil nampan dan bergegas menuju meja Minho.

“Selamat datang, anda ingin memesan apa?” ucapku ketika sampai di meja Minho. Sebenarnya aku tidak suka berbicara dengan bahasa formal kepada teman-temanku. Tapi apa boleh buat, kalau sedang bekerja begini aku harus berbicara formal kepada semua tamu mau tak mau. Menyebalkan.

“Hhffftt, hahaha. Jeongmal kwiyeopda Habin! Hahaha.” Sudah kuduga, dia akan menertawakanku puas.

Negomawo,” jawabku ketus. “Cepat katakan kau ingin memesan apa. Aku harus melayani tamu yang lain juga!” Aku mendengus sebal karena ia tidak berhenti tertawa.

Andwe! Kau hanya boleh melayaniku sekarang,” balas Minho seenaknya. Aku menjadi semakin kesal.

Mwo?? Itu tidak mungkin!” tegasku. Dia menyebalkan sekali.

-Minho POV-

Andwae! kau hanya boleh melayaniku sekarang,” ucapku seenaknya. Aku senang membuat dia kesal karena akan terlihat lucu sekali.

Mwo?? Itu tidak mungkin!” katanya tegas.

Arraseo arraseo, bawakan aku tiramisu dan milkshake,” Aku menyerah, tidak ingin dia dipanggil atasannya karena bersikap kasar kepada pengunjung.

“Baiklah, mohon tunggu sebentar.” Dia pun mencatat pesananku dengan wajah cemberut lalu pergi ke meja yang lain dan pergi… err sepertinya ke arah dapur.

Tak lama dia keluar lagi dan menyapa… sepertinya teman kerjanya. Aku memperhatikan setiap yang ia lakukan. Tak lama teman kerja Habin itu datang membawa pesananku.

“Ini tiramisu dan milkshake-mu. Jeulgi juseyo! (silahkan menikmati!)” ucapnya ramah sambil meletakkan pesananku ke atas meja.

Negomawo,” balasku lalu mengambil peralatan makan yang disediakan lalu mulai menyantap tiramisu-ku sambil menatap Habin yang masih mencatat pesanan-pesanan para tamu. Aku berencana untuk pulang ketika café tutup.

“Minho, kau tidak pulang? Sebentar lagi café tutup.” Habin yang melangkah mendekat tapi tidak membawa nampan. Sepertinya dia sudah selesai bekerja.

“Kapan kau pulang?” Aku balik bertanya.

“Hmm, hari ini aku tidak kebagian merapikan cafe. Jadi saat café ini tutup tentu aku pulang. Waeyo?”Dia menyipitkan matanya heran.

“Ayo pulang bersama!” ajakku. Tidak mungkin aku membiarkannya pulang sendirian apalagi sudah malam begini.

Gwenchana, aku pulang dengan Jyorin. Kau pulang duluan saja.” Anak ini keras kepala sekali.

Eonni!” teriak seseorang tiba-tiba.

-Habin POV-

Gwenchana, aku pulang dengan Jyorin. Kau pulang duluan saja.” Aku benar-benar tidak ingin merepotkannya.

Eonni!” teriak seseorang yang sepertinya memanggilku. Aku pun menoleh ke arah sumber suara.

Eonni, aku dijemput dengan namjachinguku. Gwenchanayo?” ternyata Jyorin. Argh, bagaimana ini. aku tidak ingin merepotkan Minho.

Gwenchana, dia akan pulang denganku,” sahut Minho tiba-tiba. Aku melotot ke arahnya. Dia hanya membalasnya dengan seulas senyum kemenangan.

MwoEonni, ini namjachingumu? Keke. Mengapa kau tidak pernah cerita,” goda Jyorin. Lelucon apa lagi ini. Pipiku memanas lagi, aku menghela napas menenangkan diri.

An… Aniyo. Bukan, dia bukan…”

Jyorin memotong pembicaraanku, “(ah)Ah, tidak usah malu-malu eonni. Baiklah, aku pulang dulu. Annyeong!” Jyorin melangkah ke arah pintu keluar, kulihat seorang namja berdiri disana. Sepertinya dia namjachingu Jyorin.

“Hey, jaga dia baik-baik ya!” teriak Jyorin pada Minho sebelum dia benar-benar keluar dari café. Minho hanya terdiam. Kami tidak bisa menatap satu sama lain. Dan pipiku semakin memanas.

“A.. aku.. aku ganti baju dulu.” Aku buru-buru pergi ke ruang staff dan mengganti bajuku cepat lalu kembali ke depan. Kulihat Minho sudah menungguku di luar café. Aku menghampirinya lalu kami meninggalkan tempat itu.

Sepanjang jalan, kami tidak mengobrol sama sekali. Mungkin, karena ucapan Jyorin tadi.

Gomawo,” ucapku ketika sampai di depan apartemenku. Aku menundukkan kepala karena belum bisa menatap mukanya.

Cheonmaneyo,” balasnya singkat. Apa dia tersinggung?

Aku harus meminta maaf. “U… ucapan Jyorin tadi… mianhae.” Jyorin, kuharap kau tidak mengulanginya lagi.

Gwenchana. Tapi… bagaimana menurutmu?” tanyanya tiba-tiba. Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya heran.

Mwo? Maksudmu?” Tiba-tiba Minho menarik tanganku dan menatapku serius.

“Habin, saranghae,” ucapnya sambil menggenggam tanganku erat. Aku terkejut.

Mwo?” tanyaku masih tidak percaya.

Saranghaejeongmal saranghaeyo,” ucapnya lagi. Aku pun terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku membuang muka. Perasaanku tercampur aduk saat ini. Kebingungan melanda pikiranku.

“Haha, kau terlihat lucu jika berekspresi seperti itu.” Minho terkekeh. Aku menoleh dan mengerutkan dahiku.

Aniyo, hanya bercanda. Habis aku tidak ingin kau lesu seperti tadi.” Minho mencubit hidungku. Lagi-lagi dia mengerjaiku.

Aigoo Choi Minho! Kau ini!” Aku memukul kepala Minho keras. Dia mengerang sakit sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang kupukul. Aku membalikkan badan dan melangkah pergi.

“Maafkan aku! Aku benar-benar tidak ingin melihatmu lesu seperti itu, hey! Habin!” Aku tidak menghiraukannya dan tetap melangkah masuk ke dalam apartemen. Detakan jantungku yang sebenarnya sejak tadi menggebu belum bisa aku tenangkan.

Aku membuka pintu kamarku dan menutupnya kasar. Aku bersandar ke pintu dan meletakkan tangan diatas dadaku.

‘Minho… apa maksudnya tadi? Berkali-kali kaumembuatkumerasa seperti ini hari ini.’

Teringat tawa darinya tadi membuat perasaan kesalku timbul lagi. “Bercanda seperti tadi itu tidak lucu sama sekali!” Aku melempar tas dengan kasar lalu membanting tubuhku ke atas kasur.

-Minho POV-

“Maafkan aku! Aku benar-benar tidak ingin melihatmu lesu seperti itu, hey! Habin!” Dia tidak menggubrisku. Aku mendengus sebal. Sepertinya aku keterlaluan.

“Baiklah Habin, tidur yang nyenyak. Aku pulang dulu, annyeong!” gumamku lalu melangkah pergi.

‘Habin, apa kau tahu? Sebenarnya yang kuucapkan tadi itu 100% benar. Jeongmal saranghaeyo. Aku mulai menyukaimu, ah ani. Aku mencintaimu. Sekarang aku yakin aku mencintaimu. Dan aku tidak mau kejadian lampau itu terjadi padamu karena pembunuh itu. Jadi, aku akan menjagamu. Saranghae…’

~*To be Continued*~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

4 thoughts on “Let Me Love Him – Part 2”

  1. JongHyun pembunuh..?
    Bukan kan..?
    JongHyun bkn pmbnuh kan..?
    Cma slah pham..
    Iya kan..?!
    #author : apa.an sich..?! Lg sakit ea..?!
    Gmana tuch kjadian.a? Koc Minho bisa ngatain JongHyun pmbnuh,.?
    Aish.. Penasaran..
    Lanjuutt……

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s