Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 5

Naega Saranghae “Our Marriage” – Story 5


–    Author                                             :

Papillon Lynx, @fb: Saika Kurosaki

–    Casts                                                            :

  • Kim Shin You (Imaginary Cast) covered by Jung Eunji APink
  • Choi Minho SHINee
  • Kim Jonghyun SHINee
  • Aita Rinn (Imaginary Cast) covered by Kim So Eun
  • Kim Kibum aka Key SHINee
  • Lee Jinki SHINee
  • Han Nhaena (Imaginary Cast) covered by Son Naeun APink
  • Han Yurra (Imaginary Cast) covered by Kim Taeyeon SNSD

 –    Support Cast                                               :

  • Jinki and Minho’s Eomma
  • Lee Won Ssi
  • Shin You and Jonghyun’s Eomma
  • Kim Junsu
  • Lee Soo Man
  • Tuan Han
  • Nyonya Han
  • Nyonya Kim
  • Pengacara Hwang

–    Genre                                               :

  • Romance
  • Sad
  • Life
  • Friendship
  • Teen
  • Marriage Life

–    Length                                             :

Sequel

–    Rating                                              :

PG-13 until PG-16

 

Summary        :

Our marriage was a mistake. However, what if love begins to grow between us over time? We don’t know. But, if that happens, as much as possible I will continue to maintain our beautiful love.

NOTE :

KATA-KATA YANG BERCETAK miring ADALAH KATA-KATA YANG DIUCAPKAN OLEH KARAKTER DALAM HATI DAN BAHASA ASING (KOREA DAN INGGRIS) YANG DIGUNAKAN DEMI KEPERLUAN ALUR CERITA

 

Review Last Part

 

“Oh God, kumohon kuatkanlah aku malam ini. Jangan sampai aku melakukan sesuatu pada Yurra Noona yang akan melanggar kontrak pernikahan kami. Hajiman, aku akui dia begitu cantik. Aku.. Apakah tidak apa jika aku sedikit menyentuhnya ya??”

 

“Yurra Noona, bolehkah aku…?” Jinki terus bergerak membunuh jarak di antara mereka.

 

@@@

 

JINKI terjaga. Kedua matanya terbuka lebar dengan nafasnya yang masih memburu. Tampak setitik cairan bening menetes dari dahinya yang basah dan melewati pipinya. Jantungnya berdebar keras. Jinki mendesah. Baru saja, ia memimpikan sesuatu hal yang err.. bisa dibilang sedikit pervert. Ia bermimpi melakukan hal seperti itu dengan Yurra di malam pertama pernikahan mereka.

Jinki tak tahu kenapa ia bisa sampai mendapatkan mimpi itu. Mimpi itu terlihat nyata. Dan jujur, ia menikmatinya meskipun ia kecewa itu bukanlah kenyataan.

Seulas senyum tersungging di bibir Jinki ketika ia mencoba untuk mengingat kembali bagaimana mimpi indahnya itu. Ia terkekeh pelan ketika ia mengingat bagian paling menyenangkan dalam mimpinya itu.

DEGH!

Jinki buru-buru menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak boleh berpikiran mesum seperti itu. Sebelumnya ia adalah namja baik-baik tanpa pikiran-pikiran kotor dalam benaknya. Meskipun ia bersumpah ia tidak akan membiarkan siapapun tahu tentang mimpinya itu, tapi ia juga harus menahan diri dari hasratnya yang begitu bergejolak semenjak ia menikah dengan Yurra. Jujur ia akui, ia memang ingin melakukannya dengan Yurra kemarin malam. Tapi begitu ia sampai di apartement mereka dan masuk ke dalam kamar, ia melihat Yurra telah tertidur lelap dengan wajah yang sangat kelelahan karena resepsi pernikahan mereka di pagi harinya yang harus membiarkan mereka berdua berdiri sambil terus tersenyum menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Jinki saja sampai khawatir tidak jelas, takut-takut kalau ia akan mengalami kram mulut setelah itu.

Karena itu, Jinki mengurungkan niatnya dengan penuh kekecewaan, untuk tidak meminta Yurra melayaninya. Ia tahu, mungkin Yurra akan memberikannya. Jinki sedikit bangga, karena ia tahu Yurra mencintainya dan pasti akan memberikannya. Tapi, apakah ia tega melakukan hal seperti itu setelah ia pergi meninggalkan istrinya itu sendirian di apartement sampai malam?? Apakah ia tega bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan dengan tak tahu malunya menuntut Yurra melayaninya? Tidak. Selain dia tak ingin melanggar kontrak yang mengharuskan ia dan Yurra untuk tidak berhubungan badan bahkan sampai memiliki anak, ia juga merasa ia tak boleh memuaskan hasrat bercintanya begitu saja meskipun itu dengan Yurra, istrinya sendiri. Karena Jinki belum yakin, apakah ia mencintai Yurra sebagai yeoja yang sangat berarti untuknya dan hidupnya atau sekedar menghargai Yurra sebagai istri kontraknya.

Jinki mengelap keringatnya dengan punggung tangannya. Ia menoleh ke samping kirinya. Ia tersenyum melihat Yurra yang masih terlelap di sampingnya dengan rambutnya yang berantakan. Baru kali ini Jinki melihat wajah tertidur Yurra dan penampilannya yang begitu berantakan. Jinki bahkan tak menyangka sekarang kalau selama enam bulan ke depan akan ada seorang yeoja yang akan tidur sekamar bahkan seranjang dengannya. Tak hanya itu, ia akan menjalani hari-harinya layaknya seperti suami sungguhan yang akan menjaga dan memimpin rumah tangganya. Jinki terkekeh untuk ke sekian kalinya. Tapi ia merasa bingung dengan Yurra. Dengan wajah istrinya. Kenapa Yurra Noona masih memakai riasan di wajahnya?

“Eunghh..”

Jinki mengurungkan niatnya ketika tangan kirinya yang tanpa sadar hendak menyentuh wajah Yurra. Ia terlonjak pelan melihat Yurra menggeliat dalam tidurnya dengan sedikit mengerang.

DEGH DEGH!

Oh, no! Batin Jinki. Jantungnya kembali beraksi. Ia heran kenapa dengan melihat Yurra menggeliat saja, ia merasa tertantang. Hasratnya kembali muncul. Dan ia tidak tahu bagaimana jadinya ia jika selama enam bulan ke depan ia terus merasakan hasrat laki-lakinya. Ia berharap, ia tidak menerkam Yurra tiba-tiba ketika benteng pertahanan dirinya mulai runtuh.

“Euuungghh..” Yurra menggeliat lagi. Terlihat jelas wajahnya memerah. Dahinya basah. Sedetik kemudian, Yurra menyingkap selimutnya sampai setengah badan karena merasa kepanasan.

Jinki terperangah dibuatnya. Di hadapannya, sekarang ia bisa melihat dengan jelas tubuh Yurra polos, tanpa sehelai benangpun. OMO! Apa yang terjadi?!! Kenapa.. Kenapa.. Jinki tak kuat melanjutkan kata hatinya. Kedua matanya terbelalak lebar. Nafasnya yang sudah tenang kembali memburu. Tubuhnya bergetar hebat. Jinki mengalihkan pandangannya dan menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri dengan kedua tangannya. Ia merasa ia kembali bermimpi. Ia harap ia bisa segera terbangun. Benar-benar terbangun kali ini.

Tapi tak ada yang berubah. Kedua pipinya terasa sedikit perih karena kelakuannya sendiri. Dan hal yang paling ia takutkan terjadi. Ini nyata! Bukan mimpi! Sekarang, Jinki merasa jantungnya akan meledak. Debarannya semakin kuat.

Reflek, Jinki segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh wanita itu dengan kasar. Jinki meloncat dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di sudut kamar mereka. Jinki mengunci pintunya dan bersandar di balik pintu. Kedua tangannya menjambak rambut hitam pendeknya. Wajahnya sangat syok.

“Lee Jinki, apa yang telah kau lakukan? Apa yang kau impikan itu benar-benar menjadi sebuah kenyataan?” lirih Jinki pada dirinya sendiri. “Jangan-jangan.. Aish, neo paboya! Bagaimana jika Yurra Noona tahu kalau aku telah menyentuhnya semalam?” lanjutnya.

Jinki melangkahkan kakinya menuju washtafel dan mencucui mukanya dengan air dingin di sana. Ia menatap cermin besar di hadapannya. Menatap bayangan dirinya sendiri. Ia diam, ia tak yakin apakah ia telah melakukannya. Baginya, mimpinya itu seperti kenyataan dan kenyataan yang sekarang ia alami seperti mimpi. Sesaat kemudian, Jinki mendapatkan sebuah ide untuk memastikannya. Karena ia masih berpakaian lengkap, tapi kenapa Yurra tak mengenakan sehelai kain pun? Ia berpikir mungkin telah terrjadi kesalahpahaman.

Jinki segera keluar dari kamar mandi dan naik ke atas tempat tidurnya lagi. Yurra masih terlelap. Perlahan, ia mendekati Yurra dan menarik selimut yang membungkus tubuh polos wanita itu sampai sebatas di atas dadanya.

DEGH!

Kissmark! Batinnya. Jinki melihat tanda kemerahan itu di sekitar leher sampai ke bagian atas dada Yurra yang kini telah menjadi istrinya itu. Jinki mengumpat dalam hatinya dengan mata terpejam.

“Jinki-ah..” Jinki langsung membuka kedua matanya dan menatap Yurra yang kini tengah menatapnya.

Noona.. Mi-mianhae..” kata Jinki tergagap. Jinki mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kedua lututnya yang menekuk ke atas. Jinki menundukkan wajahnya dalam. Yurra bangun dari tidurnya sambil memegangi selimut, menutupi tubuhnya sampai ke atas dadanya. Yurra menyentuh bahu Jinki pelan tapi hal itu sukses membuat Jinki terlonjak pelan.

“Apa kau menyesal?” tanya Yurra lirih. “Semalam kau pulang dan kau memintanya secara sadar. Aku yakin kau tak mabuk. Kau lupa?”

Kedua mata Jinki membulat. “Mwo?! Aku memintanya?! Secara sadar??” Yurra mengangguk. Jinki memukul tempat tidur dengan tangan kanannya membuat Yurra tersentak dengan respon Jinki. Yurra menangis. Ia salah jika mengira Jinki tidak akan menyesali perbuatannya, bahkan jika namja itu sendiri yang memintanya untuk menyerahkan tubuhnya.  “Kenapa kau mau begitu saja memberikannya, Han Yurra?!” bentak Jinki. Yurra terlonjak keras. Ia tak dapat menahan tangisnya lagi. Selain rasa sakit yang ia rasakan di tubuh bagian bawahnya, kini bertambah lagi sakit di hatinya. Karena sikap Jinki. Seumur hidupnya, belum ada seorang pun yang meneriakinya dengan sekeras itu ataupun membentaknya. Tapi Jinki dengan gamblangnya melakukannya. Ia mulai tak mengerti dengan keadaan. Siapa sebenarnya yang salah?

“Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Aku memberikannya karena aku ingin membuktikan kalau perasaanku padamu ini serius. Itu saja..” gumam Yurra di sela-sela tangisannya. Mendengar hal itu, raut wajah kemarahan Jinki menghilang. Amarahnya menguap begitu saja. Dan ia menyesal telah berkata sekasar itu pada yeoja yang lebih tua beberapa tahun darinya.

Yurra menarik selimutnya lebih erat dan membalutkannya ke seluruh tubuhnya sambil menahan isakannya. Yurra mengeratkan pegangan tangannya di selimut yang membungkus tubuhnya agar ia yakin selimutnya itu tak merosot jatuh. Yurra bangkit perlahan dari tempat tidurnya. Jinki yang semula diam, mulai menoleh memperhatikan gerak-gerik Yurra.

Noona..” panggil Jinki dengan pandangan sayu. Yurra berhenti melangkah.

“Jinki-ah, jika nanti aku mengandung anakmu, aku tidak akan menuntutmu untuk bertanggungjawab ketika masa kontrak pernikahan kita telah habis. Aku akan merawatnya sendiri.” Jinki tersentak. Yurra kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi. Tapi ketika Yurra hendak menggapai kenop pintu kamar mandi, tangan seseorang menggenggam lengan tangannya dan menariknya cepat ke belakang. Yurra tercenung ketika ia sadar kedua tangan Jinki telah mendekap tubuhnya erat dari belakang. Tangisnya terhenti ketika ia merasakan hembusan nafas Jinki menyentuh bulu-bulu halus di sekitar lehernya.

Sirrheo! Sirrheo, Noona! Aku tidak akan membiarkan anak kita nanti hidup tanpa ayahnya. Kau pikir aku anak kecil yang tidak berani bertanggungjawab atas segala hal yang telah aku lakukan, huh?” protes Jinki. Sontak, Yurra tertawa. Jinki mengerutkan alisnya. Yurra mengangkat tangan kanannya dan mengacak-acak rambut Jinki.

“Melihatmu marah seperti ini benar-benar menggemaskan. Seperti anak kecil saja.” Kata Yurra lalu tertawa lagi. Jinki mengerucutkan bibirnya kesal. Sedetik kemudian, sebuah seringaian tersungging di bibir Jinki.

Jinccayo? Ah, arra. Hajiman, apakah anak kecil yang sesungguhnya bisa melakukan hal seperti ini pada seorang wanita dewasa?” Detik itu juga, Jinki meniup cuping telinga kanan Yurra membuat Yurra terperanjat. Jantungnya mendadak berdebar keras. Yurra diam. Tentu saja tawanya lenyap seketika diperlakukan seperti itu. “Dan.. Apakah bisa melakukan hal seperti ini juga?” tambah Jinki sambil mengecup beberapa kali bahu Yurra yang terekspos. Yurra menegang. Jinki tertawa keras melihat sikap Yurra. Jinki melepaskan dekapannya dan berguling-guling di kasur sambil memegangi perutnya yang mulai terasa sakit. Bahkan ia sudah menangis karena terus tertawa.”Bagaimanapun aku adalah seorang laki-laki dan kau wanita. Kita hanya berdua saja di dalam kamar ini, bukan?” goda Jinki.

Yurra mendengus sebal sambil memperhatikan Jinki yang terus menertawakannya.

Ya! Jangan menertawakanku! Aku ini lebih tua darimu, arra?!” omel Yurra sambil mendekati Jinki yang sudah terduduk di sisi tempat tidur. Seketika, Jinki bungkam. Namun, sedetik kemudian, ia tertawa lagi. Bahkan lebih keras dan kembali berguling-guling di tempat tidur. Wajah Yurra seperti kepiting rebus saking malunya.

Yurra menghentakkan kakinya kesal lalu ia berbalik hendak melangkah ke kamar mandi. Namun, dengan sigap, Jinki kembali menahan langkahnya dan menariknya cepat membuat Yurra memekik keras karena tubuhnya tertarik ke belakang tiba-tiba.

“KYAAAA!!!”

BRUK!

Yurra jatuh tepat di tempat tidur dengan posisi berada di bawah tubuh Jinki. Jinki menahan tubuh Yurra hingga tak dapat berkutik lagi.

Call! Noona, kalau begitu kita lakukan saja. Aku ingin lagi.” Jelas saja kedua mata Yurra langsung terbelalak lebar. Jinki menyeringai. “Persetan dengan isi dari surat kontrak itu. Siapa juga yang meminta kita menikah? Bagaimanapun, kita menikah sah di depan hukum dan Tuhan. Dalam agama kita, setiap umat yang sudah menikah tidak boleh bercerai kan? Dan kau ingat, kita telah berjanji kalau kita akan terus bersama sampai ajal menjemput. Haruskah kita mengingkarinya?” Yurra melongo dibuatnya.

Hajiman, bagaimana dengan karirmu?? Kau bisa dikeluarkan dari perusahaan. Dan bukankah kau tidak mencintai aku? Apakah kau hanya menjadikanku sebagai pemuas hasrat bercintamu? Jika seperti  itu, aku tak mau.” kata Yurra seraya memalingkan wajahnya.

“Untuk masalah karirku, kita bisa menyelesaikannya bersama. Tenang saja, kita bisa menghadapi semua yang akan terjadi nanti berdua. Percayalah.. Dan hatiku mengatakan kalau aku ingin menyentuhmu bukan karena sekedar aku ingin memilikimu, tapi err.. Yeah, aku ingin belajar mencintaimu. Aku ingin membalas perasaanmu. Dan aku tidak pernah berpikir untuk mencari wanita lain untuk menjadi penggantimu, Noona.” Jinki tersenyum, membuat Yurra menatapnya dengan tatapan tak percaya. Air mata haru menetes dari kedua mata Yurra. Jinki menghapusnya dengan lembut. “Aku ingin kau menungguku. Aku akan berusaha mencintaimu. Dan aku yakin, aku bisa mencintaimu. Apa kau mau, Noona?” Yurra diam dengan seulas senyum simpul menghiasi bibirnya. Namun hal itu sudah cukup menjadi jawaban untuk Jinki.

Jinki memeluk Yurra saat itu juga. Tak peduli dengan ketidaknyamanan mereka bertahan dalam posisi seperti itu, mereka tetap berpelukan erat, keduanya tetap merasa nyaman dan bahagia satu sama lain. Dan Yurra merasa, pelukan Jinki kali ini lebih hangat dibanding pelukan Jinki kemarin malam ketika Jinki mulai menyentuh tubuhnya.

Yeoboya..” Yurra terkekeh mendengar panggilan baru untuknya. Haruskah ia memanggil Jinki dengan sebutan ‘chagiya’?

Chachagi-“

“Ssst.. Just call me ‘Jinki Oppa’..” sela Jinki.

“Err.. Tapi aku lebih tua darimu, Jinki-ah..” kilah Yurra.

And then? Why?” Jinki melepaskan pelukannya, namun masih berada di atas tubuh Yurra. Jinki menatap lekat kedua mata Yurra membuat wajah Yurra kembali merona.

Arrasseo, arrasseo. Aku akan memanggilmu ‘Jinki Oppa’.” Yurra mengalah. Bagaimanapun ia tak bisa menahan pesona yang ditebarkan Jinki dari tatapannya itu, bukan?

“Aku ingin mendengarnya sekarang..” Jinki tersenyum penuh arti melihat Yurra yang mulai salah tingkah.

“Err.. Jin-Jinki Op-pa?” Jinki mengangguk dengan senyumnya yang masih terus mengembang di bibirnya.

Call! Dwaesseo, aku sudah tak bisa menunggu lagi, Noona.”

Jinki mulai menanggalkan pakaiannya yang masih utuh, satu per satu.

SRET!

Yurra mendelik ketika Jinki mulai menarik selimut yang membungkus tubuhnya ke bawah dan melepaskannya. Namun ketika bibirnya terbuka hendak protes, Jinki sudah menyatukan bibir mereka dan menciumnya dengan lembut. Jinki melumatnya perlahan dan hati-hati. Ia tak ingin tergesa-gesa. Ia ingin membuat Yurra merasa nyaman dengannya, bukan merasa takut dengan sikapnya. Yurra hanya bisa pasrah dan menikmati semua perlakuan Jinki padanya. Yurra pun mulai menikmati dan memejamkan matanya.

@@@

PLAK!

Jonghyun menyentuh pipi kirinya yang terasa panas dan perih. Baru saja ia mendapat tamparan keras dari seorang yeoja yang sejak tadi masih menangis karena perbuatan bodohnya.

“KENAPA KAU MELAKUKAN HAL SEBODOH ITU?! KENAPA KAU BERBOHONG PADA MEREKA, HUH?!” teriak yeoja itu di sela-sela tangisannya. Jonghyun hanya diam dengan air mata yang mengalir perlahan dari salah satu sudut matanya.

“Aita Noona, mianhae..” lirih Jonghyun.

“Maaf katamu? Dimana otakmu, huh? Sekarang kau telah melibatkanku ke dalam lingkaran besar kebohonganmu, Jonghyun-ah! Dan kau telah membuat semuanya salah paham tentang kita! Senangkah kau atas perbuatan konyolmu itu, huh?!”

Noona..”

“Kau lihat tadi? Kau membuat Shin You-ssi menangis. Kau membuat adikmu sendiri terluka! Bahkan kau menciumku di depannya!!”

Dwaesseo! Aku tidak ingin mengingat Younnie lagi, Noona. Jebal..” pinta Jonghyun dengan tatapan memelas. Aita menghapus pipinya yang basah karena tangis dengan asal.

“Aku tahu ini berat untukmu. Keundae, kau tak perlu berkata kalau aku adalah kekasihmu ketika kau masih kuliah di Perancis! Kau bahkan berkata padanya kalau kau telah tidur denganku dan aku tengah mengandung anakmu! KAU GILA, JONGHYUN-AH?!!

BRAK!!

“AITA NOONA!” Aita dan Jonghyun kaget melihat pintu apartement Aita terbuka lebar tiba-tiba. Kedua mata Aita semakin terbelalak lebar ketika ia melihat dengan jelas siapa seorang namja yang berdiri di ambang pintu. “Aita Noona, katakan padaku. Benarkah namja di belakangmu itu adalah namja yang berani menghamilimu?!” kata namja itu sambil menunjuk Jonghyun dengan tatapan garang.

“Taemin-ah..” gumam Aita. “Ini tidak seperti yang kau-“

“Katakan, Noona!!” pekik Taemin keras sambil melemparkan pandangan benci pada Jonghyun yang berdiri di belakang Aita. “Apakah benar dia lah namja yang telah dengan teganya menanam benihnya dalam rahimmu, huh?!”

Aniyo, Taemin-ah.. Dengarkan penjelasan Noona. Aniyo, aniyo! LEE TAEMIN ANDWAE!!”

BUGH! BUGH! BUGH!

Tiga pukulan keras berhasil membuat Jonghyun tersungkur. Sudut bibir Jonghyun lebam dan meneteskan darah segar dari sana. Jonghyun tergeletak di lantai apartement Aita dengan posisi Taemin duduk di atas tubuh namja itu. Jonghyun tak melawan. Pikirannya seperti kosong. Bertubi-tubi Taemin memukuli Jonghyun dan membuat Aita berteriak histeris, namun tak ada perlawanan.

“Kau..!!” geram Taemin setelah ia mendaratkan pukulannya yang entah ke berapa kalinya di wajah Jonghyun. Kini wajah Jonghyun penuh dengan lebam dan bibirnya pun sedikit sobek. “Kau harus bertanggungjawab!! Nikahilah kakakku! Arrasseo?! Jika tidak, aku akan membunuhmu!” Namun Jonghyun masih diam. Air matanya menetes. Hal itu membuat Taemin semakin marah dan mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi siap untuk melayangkan pukulannya lagi.

“Taemin-ah, andwae!” cegah Aita sambil sekuat tenaga memegangi tangan kiri Taemin. “Andwae! Andwae!” isak Aita. “Kau bisa membunuhnya! Jangan..”

“Tapi, Noona, aku tidak rela jika kesucian kakakku direnggut oleh namja seperti dia! Aku tidak ingin hidupmu hancur hanya karena namja seperti dia!!” marah Taemin. Wajahnya memerah padam.

“Tapi Noona tidak-“

“Berhenti membela dia! Aku sudah mendengar percakapan kalian. Aku tak mau tahu! Kalian harus menikah! Secepatnya!” putus Taemin. Taemin bangkit dan pergi dari apartement Aita begitu saja sambil membanting pintu.

Aita terduduk lemas di atas lantai apartementnya sambil menatap Jonghyun yang penuh luka. Aita menangis lagi. Jonghyun melirik sekilas dan tersenyum melihat Aita.

“Apakah dia adik angkatmu yang pernah kau ceritakan padaku dulu?” tanya Jonghyun seperti berbisik. “Uhuk! Uhuk!” Jonghyun terbatuk karena sakit di sekujur tubuhnya. Aita menjadi semakin cemas.

Ne.” jawab Aita sekenanya. Aita masih menangis. Kali ini karena merasa bersalah pada Jonghyun atas sikap Taemin.

“Kau berbohong padaku. Dulu kau bilang, Taemin adalah namja yang sangat lucu, manis dan pendiam. Tapi kenapa dia bisa memukuliku, ya?” Jonghyun terkekeh meskipun bibirnya terasa perih sekali untuk digerakkan. Jonghyun meringis menahan sakit setelahnya. Aita semakin menangis.

Sedetik kemudian, kedua mata Jonghyun mulai terpejam rapat. Pandangannya berubah gelap.

“Jonghyun-ah! Jonghyun-ah!!”

@@@

 

Seorang yeoja tengah duduk di depan sebuah meja rias dengan cermin yang cukup besar hingga berhasil menampakkan bayangan tubuhnya yang berbalut gaun pengantin berwarna kuning cerah yang begitu cantik bagi siapa saja yang melihatnya. Tampak dua orang wanita yang berada di samping kanan dan di belakangnya sibuk mendandani wajah dan rambut panjang lurusnya. Senyum lebar terus merekah dari bibir mungil yeoja itu.

CKLEK!

Terdengar bunyi suara pintu ruangan itu yang terbuka. Nhaena yang sedari tadi hanya sibuk memandangi bayangan dirinya di cermin yang begitu cantik, sontak menggerakkan kedua bola matanya sedikit hingga ia bisa melihat sesosok namja mengenakan setelan jas berwarna putih tulang, tengah berdiri di ambang pintu. Bayangannya dapat terlihat dengan jelas dari cermin.

Agasshi, kami sudah selesai.” Kata salah seorang perias. Nhaena menoleh ke arah perias itu dan mengangguk dengan senyumannya sebagai tanda ucapan terima kasihnya. Kedua perias itu pun pergi meninggalkan ruangan dan sempat membungkuk hormat ketika berpapasan dengan Key di ambang pintu. Beberapa detik kemudian, Key sudah berdiri di samping Nhaena. Nhaena sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah tampan Key. Nhaena merasa ia begitu beruntung bisa menikah dengan Key, namja yang selama ini diidam-idamkannya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Key dengan sedikit ketus. Nhaena memutar kedua bola matanya dan mendesah.

Ya! Kau dulu yang menatapku, kan?” balas Nhaena. Key diam. Salah tingkah. Ia memalingkan wajahnya dengan wajah yang bersemu kemerahan. Namun sesekali kedua matanya melirik ke arah gadis yang duduk di sampingnya. Ia tak menyangka akan melihat Nhaena secantik ini. Gaun kuning selutut yang dipilihnya asal-asalan saat berada di butik itu ternyata akan begitu cantik membalut tubuh seorang Han Nhaena. Nhaena tak dapat menahan senyumnya melihat sikap gugup Key di hadapannya. “Suamiku..” panggil Nhaena dengan nada manja membuat Key melototkan kedua matanya semakin salah tingkah. Key berdeham.

Ya! Ya! Jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu. Apalagi nada manjamu itu. Aigoo.. Kau akan membuatku malu di hadapan banyak tamu nanti.” Kilah Key dengan kedua matanya yang tidak berani menatap langsung ke kedua mata Nhaena. Nhaena merengut.

“Suamiku, tapi kita kan sudah menikah. Apa kau melupakan kejadian beberapa jam lalu ketika kita berdua sama-sama mengucap janji setia di depan altar di gereja? Huuuhh..” sungut Nhaena masih dengan bibir mungilnya yang merengut.

Aiish! Terserah kau sajalah. Kkaja, kau sudah selesai berdandan kan? Kita keluar sekarang.” Key reflek menggandeng tangan Nhaena dan menarik gadis itu untuk ikut bersamanya. Nhaena sedikit tergopoh mengikuti langkah Key, karena ia harus melindungi gaun cantiknya. Sesekali Nhaena menoleh ke belakang, memastikan bahwa bagian belakang gaunnya yang panjang dan menjuntai ke tanah tidak akan tersangkut sesuatu hingga sobek. Nhaena tak mau itu terjadi. Baginya, memiliki gaun pengantin dan mengenakannya adalah sekali dalam seumur hidupnya. Pernikahannya hanya dengan Key. Dan ia ingin menjaga apa yang berhubungan dengan Key semampu yang ia bisa.

Key sadar dengan kecemasan istrinya itu di belakangnya. Key menoleh dan mendapati Nhaena tengah menarik ujung gaunnya dengan tangan kanannya yang bebas. Key menghela nafas dan menghentikkan langkahnya hingga membuat Nhaena menatap Key dengan pandangan bertanya.

“Biar aku saja. Kau bisa kan membuka bibirmu untuk meminta bantuan padaku? Kau kira aku sekarang siapamu? Aku tak mau orang-orang menganggapku sebagai seorang suami yang tak perhatian pada istrinya sendiri.” kata Key ketus namun membuat Nhaena sukses tersenyum lebar ketika Key beranjak ke belakang tubuh gadis itu dan mulai mengangkat bagian belakang gaun Nhaena yang panjang dengan kedua tangannya. “Cepat jalan! Sebelum aku berubah pikiran.” Titah Key masih dengan nada ketus. Key memalingkan wajahnya, malu. Nhaena mengangguk cepat dan mulai melangkahkan kakinya. Mereka berdua meninggalkan kamar hotel menuju ke pantai, tempat dilaksanakannya pesta resepsi pernikahan mereka yang mereka rancang menjadi pesta pantai.

Tak butuh waktu lama, kedua kaki Nhaena dan Key sudah berada di atas karpet merah yang ditaburi bunga-bunga mawar berwarna putih. Banyak tamu undangan yang sudah hadir. Jantung Nhaena berdegup kencang. Ia merasa gugup.

Pantai di hadapannya sangat indah. Ia bisa melihat hamparan pasir putih di sekitarnya. Lautnya yang biru cerah terlihat sangat kontras dengan dekorasi tempat resepsi pernikahan mereka yang berwarna biru dan kuning. Apalagi ditambah dengan gaun kuning yang ia kenakan sekarang. Ia yakin ia dan Key akan menjadi pusat perhatian orang-orang. Dan sudah seharusnya dan sepantasnya seperti itu.

Cha, tugasku sudah selesai. Sekarang sudah seharusnya aku kembali pada posisiku yang sebenarnya. Di sampingmu.” Kata Key yang sudah berdiri di samping Nhaena dengan senyumannya. Sesaat itu, perasaan Nhaena berubah menjadi lebih lega dan nyaman. Ia yakin, kalau keberadaan Key di sampingnya akan membuat semua perasaan takut dan khawatirnya lenyap seketika. Dan ia baru saja membuktikannya tadi.

Key menekuk tangan kirinya. Nhaena yang tahu apa maksudnya, segera menggamit tangan Key itu dengan semangat. Mereka berjalan menyusuri karpet merah dengan wajah merona karena banyak pasang mata yang kini sedang melihat ke arah mereka. Kilatan lampu blitz yang mengabadikan kebersamaan mereka sesekali membuat kedua mata mereka silau. Namun bukanlah suatu masalah bagi mereka.

Tak lama, akhirnya mereka berdua sampai di depan sofa biru tua dan duduk berdampingan di sana. Tamu undangan yang sudah hadir segera saja menghampiri mereka dan tentunya berjabat tangan memberikan ucapan selamat bagi sepasang pengantin baru itu. Tamu-tamu undangan yang hadir tak jauh berbeda dari tamu-tamu undangan yang datang ketika di gereja. Semuanya adalah keluarga dan kerabat dekat dari Key dan Nhaena. Kecuali beberapa orang tertentu yang bisa Key dan Nhaena percaya untuk tidak membocorkan rahasia pernikahan mereka di sekolah. Tentu saja orang itu adalah Shin You dan Minho yang terlihat sedikit jauh di tempat mereka berada.

“Minho-ah.. Kkaja, kita ikut mengantre untuk memberikan ucapan selamat pada mereka.” Kata Shin You di atas kursi rodanya sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Minho. Shin You terlihat cantik dengan balutan gaun panjang sederhana berwarna krem. Rambut panjangnya hanya ia ikat satu ke atas. Wajahnya pun hanya memakai make up tipis. Namun terlihat sangat pas walaupun sederhana.

Minho diam seribu bahasa dengan kedua matanya yang terus menatap lurus ke arah Nhaena dan Key yang terlihat bahagia di depan sana. Tatapan Minho sendu. Hatinya teriris melihat pemandangan itu hingga ia seakan tak mendengar suara Shin You yang terus memanggil namanya berulang-ulang.

“Minho-ah.. Minho-ah..” panggil Shin You dengan nada cemas sambil mengguncang pelan tangan kanan Minho yang menggenggam erat di pegangan kursi roda Shin You. “Minho-ah, gwenchana? Minho-ah!”

DEGH!

Minho terlonjak. Kali ini ia benar-benar menyadari keberadaan Shin You di dekatnya. Minho menoleh cepat.

“Minho-ah, aku tahu ini sulit. Kau pasti tidak kuat melihatnya. Apa lebih baik kita pulang saja sekarang?” tawar Shin You yang meyadari kesedihan Minho. Minho menggeleng.

“Jangan. Key pasti akan marah pada kita jika ia tahu kita tidak datang dan memberikan mereka ucapan selamat. Nan gwenchana, Shin You-ah. Sebelum kita sampai di sini, aku sudah tahu akan begini. Tapi kita harus tetap datang demi persahabatan kita dengan Key.” Minho tersenyum miris. Shin You pun menatapnya tak tega.

“Baiklah, jika itu maumu. Nan neo midoyo (Aku percaya padamu). Kkaja..” Minho mengangguk dan mulai mendorong kursi roda Shin You menuju ke tempat Key dan Nhaena duduk.

“Bodoh! Sudah kubilang jangan memanggilku dengan panggilan ‘Suamiku’, ‘Yeobo’, ‘Chagiya’ atau apapun itu di depan para tamu yang bisa membuatku malu dan tidak nyaman.” Rutuk Key kesal sambil menoyor pelan dahi Nhaena. Nhaena mengaduh dan mengusap pelan dahinya.

Ya! Apa salahnya??” balas Nhaena sambil mengusap dahinya yang sedikit sakit.

Aish, aku ini suamimu. Turuti saja kataku. Ini perintah. Arrasseo?” kilah Key membuat Nhaena memanyunkan bibirnya untuk ke sekian kalinya.

“Key-ah..” sebuah suara  membuat Key dan Nhaena sadar dan bangkit dari duduk mereka.

“Shin You-ah.. Minho-ah..” sapa Key dengan senyum lebar. Key langsung menghambur ke pelukan Shin You dengan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mengimbangi tinggi tubuh Shin You. “Kalian datang. Gomawoyo..” lanjut Key dalam pelukan Shin You masih dengan tersenyum. Shin You membalas pelukan Key tak kalah erat. Minho yang melihat itu juga ikut tersenyum. Ia sudah biasa melihat keakraban dua sahabatnya itu. Jadi, hanya untuk sekedar berpelukan atau bergandengan tangan saja adalah hal lumrah yang biasa Key lakukan pada Shin You di mata Minho.

Tapi hal itu menjadi tak biasa bagi Nhaena. Ia tahu, Shin You dan Key memang hanya bersahabat. Tapi sifat posesifnya mulai muncul. Bahkan di saat ia sudah resmi menjadi istri dari seorang Kim Kibum.

Nhaena mulai sadar, selama ia dan Key dekat, Key tak pernah memperlakukannya semanis itu. Dan senyuman manis Key yang terlihat tanpa beban, hanya bisa Nhaena lihat jika Key sedang bersama dengan Shin You. Nhaena mulai merasa iri dan cemburu. Namun Nhaena hanya bisa diam saja melihat itu.

“Tentu saja. Kau ‘kan sahabat kami. Chukkaeyo, Key!” kata Shin You memberi selamat. Key melepaskan pelukannya dan kini memeluk Minho. “Nhaena-ssi, chukkaeyo! Akhirnya kau bisa menikah dengan Key. Aku tahu kau pasti sangat bahagia.” Tambah Shin You sambil mengulurkan tangannya hendak menyalami Nhaena. Namun karena merasa cemburu, Nhaena hanya melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya. Masih berpelukan dengan Key, Minho melihat kejadian itu dengan jelas. Key tidak. Karena Key memunggungi kedua yeoja itu. Minho melihat ekspresi kesedihan terlihat di wajah Shin You ketika yeoja itu menarik lagi tangannya dengan ragu karena tak mendapat sambutan apa-apa dari Nhaena.

Key melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya untuk melihat Nhaena dan Shin You. Namun kedua yeoja itu hanya diam saja. Key mengerutkan alisnya.

“Ah, Key-ah.. Aku dan Shin You pulang dulu. Kami harus menyiapkan pernikahan kita juga besok.” Sela Minho sebelum Key semakin menyadari suasana tegang dan canggung di antara Shin You dan Nhaena.

Wae? Kenapa terburu-buru sekali? Kalian pasti belum menyantap hidangannya, kan?” tanya Key cepat. Minho tak bisa menjawab karena memang jawabannya adalah ‘ya’. Tapi ia ingin segera membawa Shin You pergi dari tempat itu. Sampai sekarangpun ia masih melihat dengan jelas wajah muram Shin You. Minho tak menyangka kalau Nhaena akan bersikap seperti itu pada Shin You. Minho tak habis pikir.

“Emm.. Itu..” kata Minho tersendat sambil mengelus tengkuknya. “Kami-”

“Shin You-ah, kau mau makan apa? Kau pasti lapar, kan? Lagipula kau pasti bosan hanya makan sayur-sayuran saja waktu di rumah sakit. Kkaja, mumpung di sini banyak makanan enak.” Key langsung mendorong kursi roda Shin You tanpa aba-aba menuju ke meja panjang yang penuh dengan berbagai macam makanan. Minho melongo dibuatnya. Sedangkan Nhaena hanya berdecak sinis melihatnya.

“Sok perhatian sekali dengan gadis cacat itu!” gumam Nhaena namun masih cukup bisa didengar oleh Minho. Minho menoleh ke arah Nhaena. Minho merasa sakit hati mendengarnya.

“Oh, annyeong, Minho-ssi!” sapa Nhaena begitu menyadari masih ada Minho di sampingnya. Minho tersenyum tipis, namun lebih tepat dikatakan dengan tersenyum sinis.

“Bisakah kau mengulang perkataanmu tadi, Nhaena-ssi?” kata Minho dengan tatapan matanya yang berubah tajam pada Nhaena. Nhaena bingung. “Kau baru saja menggumam ‘Sok perhatian sekali dengan gadis cacat itu!’, bukan?” lanjut Minho sambil menirukan nada bicara Nhaena yang terdengar sinis tadi.

“Minho-ssi, apa maksudmu?” kilah Nhaena yang kini merasa tak berani membalas tatapan Minho.

“Seperti inikah kau menghargai seorang teman yang dalam keadaan masih sakit pun mau datang ke sini hanya untuk memberikan ucapan selamat? Kau bahkan tak menerima ucapan selamat darI Shin You dan tak mengacuhkannya tadi. Kau kira aku tidak tahu?” Nhaena tersentak dan reflek menatap Minho. “Ne, aku melihatnya dengan jelas.” Minho berdecak. “Apa sebenarnya yang kau pikirkan tentangnya, huh? Oh, arra.. Kau cemburu melihat keakraban mereka, bukan?” Minho mengedikkan dagunya ke arah Shin You dan Key yang sedang bersama. Terlihat Key sedang menyuapi Shin You sekarang. Lalu kedua manusia itu tertawa karena suapan yang diberikan Key mengotori bibir Shin You. Nhaena mendengus sebal melihatnya.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Nhaena yang tak mau lagi menutupi perasaan cemburunya. Minho memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis.

“Hmm.. Suatu kesalahan besar jika aku pernah memiliki perasaan suka padamu, Han Nhaena-ssi.” Nhaena tertegun.  “Aku baru tahu kalau kau adalah yeoja yang manja dan kekanak-kanakkan. Bahkan, aku menyesal karena beberapa saat yang lalu aku merasa sakit hati melihat yeoja yang aku suka telah resmi menjadi istri dari sahabatku sendiri. Hajiman, aku tidak sepertimu. Aku tidak akan menukar persahabatanku hanya dengan perasaan cemburu.” Minho meninggalkan Nhaena sendiri yang masih mematung memikirkan setiap kata yang terlontar dari bibir Minho. Air matanya menetes ketika ia melihat Shin You tertawa lebar bersama Key dan Minho. Alih-alih sadar akan sifat dan sikapnya yang buruk, Nhaena justru semakin dibakar cemburu. Apalagi setelah ia tahu Minho adalah seseorang yang pernah menyukainya. Namun kini namja itu juga akan menjadi milik Shin You.

Nhaena ingin sekali masuk ke dalam lingkaran persahabatan mereka bertiga. Ia juga ingin merasakan perlakuan manis yang selama ini selalu Shin You dapat dari Key ataupun Minho. Ia juga seorang yeoja yang rapuh, meskipun ia tak cacat seperti Shin You. Namun selama ini tak ada satupun orang yang menyadari hal itu. Bahkan Key sendiri. Ia tahu, Key menikahinya hanya karena sebatas merasakan perasaan bersalah. Tak lebih.

Kedua tangan Nhaena terkepal erat. Ia tak kuasa menahan perasaan cemburunya yang setiap detiknya terus saja bertambah melihat keakraban Shin You dengan Key dan Minho. Dan mulai detik ini Nhaena berjanji, apapun akan ia lakukan asalkan ia bisa mendapatkan perhatian Key seluruhnya hanya untuk dirinya. Ia akan melakukan apa saja asalkan Key mau melihat keberadaannya dan melupakan Shin You. Meskipun itu akan membuat hubungan baiknya dengan Shin You selama ini hancur begitu saja, ia tak peduli. Yang ia butuh hanyalah Key. Baginya, tentu saja setiap orang bisa berubah, bukan? Nhaena tersenyum licik setelah menghapus air matanya.

@@@

 

Keesokan harinya…

 

TOK TOK!

“Masuk saja..” seru sebuah suara dari dalam.

 

CKLEK!

Pintu kamar perlahan terbuka. Minho tersenyum lebar dan masuk ke dalam kamar Shin You. Kedua matanya menatap ke sekeliling ruangan kamar. Cat dinding, gorden, lemari, meja belajar, semuanya. Semuanya berwarna ungu. Minho berdecak kagum melihat barang-barang Shin You yang semuanya berwarna ungu. Minho memang sudah lama tahu, sahabatnya itu memang penggila warna ungu, bahkan untuk konsep pernikahan mereka pun, secara terang-terangan dan tanpa bisa digugat, Shin You memilih warna ungu. Dan benar saja, pesta pernikahan mereka tadi pagi pun sudah menjadi bukti terealisasikannya keinginan Shin You. Semuanya berwarna ungu.

“Kenapa? Kau mulai menyukai warna yang sama dengan warna kesukaanku?” tanya Shin You penuh percaya diri sambil menyisir rambut panjangnya di depan meja rias.

Aish, bukan seperti itu. Hajiman, seharusnya kau memadukan warna biru tua juga di dalam kamar ini. Ini kan kamar pengantin kita. Paboya! Kau kira aku hanya menumpang tinggal di sini?” kesal Minho sambil menjatuhkan tubuhnya asal di atas tempat tidur. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, menyangga kepalanya. “Kau yakin kau tidak ingin kita tinggal berdua saja di rumah yang baru?” tanya Minho setelah sekian lama mereka terdiam. Shin You menghentikan kegiatannya.

“Aku takut akan terjadi apa-apa pada kita jika kita hanya tinggal berdua di rumah yang baru. Lagipula, rumah ini menyimpan banyak kenangan tentang Eomma, Appa dan Jonghyun Oppa. Aku merindukan keluargaku yang utuh seperti dulu.” Jawab Shin You sedih.  Minho bangun dari posisi tidurnya dan mendekati Shin You dengan berdiri di belakang yeoja itu. Minho mengusap puncak kepala Shin You lembut.

“Baiklah. Sudah, jangan sedih lagi. Ada aku di sini.” Kata Minho mencoba menghibur.

“Sekarang tak ada lagi yang ku punya. Jonghyun Oppa sudah pergi meninggalkanku bersama wanita itu. Bahkan tak ada satupun barang miliknya yang tertinggal di rumah ini. Jonghyun Oppa sudah membawa semuanya pergi dan menghilang tanpa kabar. Tanpa berpamitan.” Gumam Shin You. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Apa kau yakin jika Jonghyun Hyung telah berpaling pada wanita itu? Key bercerita padaku kalau Jonghyun Hyung telah menghamili wanita itu. Tapi aku ragu.” Minho mengambil sebuah ikat rambut berwarna ungu yang tergeletak di atas meja rias dan mulai mengikat rambut panjang Shin You dengan telaten. Walaupun ia tahu Shin You bisa melakukannya sendiri, namun sekarang ia ingin melakukannya. Sambil mengikat rambut Shin You, Minho mulai berpikir. Apakah benar Aita Noona menjalin hubungan dengan Jonghyun Hyung? Apakah ia benar-benar hamil? Ini semua terasa janggal dan tak masuk akal. Sejak kapan mereka saling mengenal? Bukannya aku terlalu percaya diri, tapi mengetahui Aita Noona yang masih mencintaiku, apa mungkin Aita Noona bisa menjalin hubungan dengan Jonghyun bahkan sampai ia rela memberikan kesuciannya begitu saja? Batinnya.

“Sudahlah.. Aku tak ingin membahasnya. Apa kau tak merasa aneh membahas masa laluku dengan Jonghyun Oppa di saat kita sudah resmi menikah?” tanya Shin You sambil  berbalik setelah Minho telah selesai mengikat rambutnya. Minho tersenyum dengan kedua tangannya menyentuh kedua bahu Shin You dengan sedikit menundukkan badannya.

“Tidak. Oh ayolah, Shin You-ah. Walaupun kita sudah menikah, kita tetap akan bersahabat. Tak ada yang berubah. Namun perbedaannya sekarang, aku akan bertanggungjawab sepenuhnya atas dirimu karena aku adalah suamimu. Mungkin saja, perasaan kita bisa berubah terhadap satu sama lain suatu hari nanti. Tapi itu masalah nanti kan? Kita jalani saja apa yang ada sekarang.” Shin  You tersenyum. Ia tak  tahu Minho akan begitu dewasa sekarang di matanya. Minho benar-benar menghargai dan menghormatinya. Ia merasa senang karena ia dijodohkan oleh namja yang ia kenal. Sangat kenal. Sahabatnya sendiri. Shin You tidak tahu bagaimana jadinya jika ia menikah dengan namja yang sama sekali tak dikenalnya. Saat ini, satu-satunya orang yang benar-benar mengerti akan keadaannya hanyalah Minho seorang. Ia harus mensyukuri itu.

Gomawo, Minho-ah.. Jujur saja, aku bersyukur karena kau lah namja yang dijodohkan dan menikah denganku. Kita sudah saling mengenal dan dekat sejak lama. Jadi aku tak perlu khawatir ataupun takut dengan suamiku sendiri.” Minho tersenyum dan mengangguk.

Cha, kita tidur saja. Kau pasti lelah. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam.” Minho terkekeh membuat Shin You hendak memukul lengannya. Namun gerakan tangan Shin You terhenti ketika Minho sudah berhasil menggendongnya dan menidurkannya di atas tempat tidur. Shin You hanya diam saja. Ia tidak ingin memprotes karena memang ia benar-benar merasa lelah dan mulai mengantuk.

Minho menyelimuti tubuh Shin You dengan selimut tebal berwarna ungu dan mematikan lampu tidur yang terletak di atas nakas.

Good night. Have a nice dream..”

Lalu Minho beranjak menuju ke sofa ungu yang terletak di sudut kamar. Namun Shin You menahan tangannya cepat.

Waeyo? Aku akan tidur di sofa saja.” Kata Minho. Tapi Minho menangkap ekspresi ketakutan di wajah Shin You. Shit! Kenapa aku bisa lupa? Batinnya. “Mianhae, aku lupa kau kalau  kau phobia gelap.” Sesal Minho lalu tangannya terjulur hendak menyalakan lampu tidur. Namun Shin You mencegahnya.

“Tidak perlu. Kau ‘kan tidak bisa tidur jika lampunya terus menyala. Aku tidak mau membuatmu tidak bisa tidur semalaman. Biarkan saja lampunya mati. Keundae, kau temani aku tidur di sini ya?” Shin You menepuk permukaan tempat tidur di sampingnya. Kedua mata Minho membulat.

Mwo? Tidur bersamamu? Keundae, apa tak apa-apa?” tanya Minho ragu. Shin You menggelengkan kepalanya pelan.

Gwenchana. Hanya tidur bersama. Bukankah waktu kita masih kecil, kita dan Key sering melakukannya?”

“Tapi itu ‘kan karena kita masih-”

TING TONG!

Minho dan Shin You menatap pintu kamar mereka seketika seolah pintu kamar mereka adalah pintu depan rumah, setelah mendengar bunyi bel rumah berbunyi sedikit nyaring. Kedua alis mata mereka bertaut. Apakah itu tamu undangan yang tersasar dan baru sampai di rumah mereka semalam ini?

“Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?” tanya Shin You.

“Mungkinkah itu Jonghyun Hyung?” Minho balik bertanya. “Shin You-ah, kau di sini saja. Biar aku yang melihatnya.” Shin You mengangguk karena ia tak ingin merepotkan Minho dengan menggendongnya turun ke lantai bawah dan melihat siapa tamu yang datang. “Hati-hati. Labih baik kau membawa tongkat baseball untuk berjaga-jaga.” Saran Shin You disusul anggukan Minho. Minho langsung mengambil tongkat baseball pemberian Key pada Shin You yang terletak di sudut kamar.

Minho menuruni anak tangga dengan sedikit terburu-buru dengan tongkat baseball di tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Akhir-akhir ini memang banyak diberitakan di televisi kasus-kasus perampokan dan pembunuhan di malam hari dengan menyamar sebagai tamu. Dan satu-satunya namja di sini hanyalah ia. Jika itu terjadi, maka ia harus mempraktekkan jurus-jurus judo yang selama 3 tahun ini ia pelajari di sekolah untuk melindungi dirinya sendiri dan juga Shin You.

TING TONG!

“Siapa di sana? Kau kah Jonghyun Hyung?” seru Minho namun tak ada jawaban. Minho menghela nafas panjang dan menghitung mundur dalam hati ketika tangannya sudah berada di kenop pintu. Ia tak berani melihat siapa tamu yang datang dari interkom. Bahkan mungkin ia lupa dan tidak melihat kalau ada interkom yang terpasang di samping pintu.

CKLEK!

Minho menatap seseorang di hadapannya sekarang dengan tatapan lega namun juga kaget. Kedua tangannya yang memegang tongkat baseball tinggi-tinggi, langsung diturunkannya begitu ia dapat melihat dengan jelas siapa orang itu. Walaupun sudah lama sekali ia tak melihat orang itu, namun ia yakin siapa orang di hadapannya. Garis wajahnya sama sekali tak ada perubahan setelah beberapa tahun telah berlalu. Hanya penampilan dan rambutnya saja kini terlihat berbeda. Penampilannya menjadi lebih stylish dan model rambutnya yang dipotong lebih pendek.

Annyeong, Minho-ah! Eh, sedang apa kau malam-malam di sini?” sapa orang itu.

“Hyunseung Hyung.. Bukankah seharusnya aku yang bertanya hal itu?” Minho balik bertanya. “Mari Hyung, masuk dulu.” Kata Minho mempersilakan namja itu untuk masuk. Namja yang bernama Hyunseung itu pun masuk sambil menyeret dua koper besar  dengan kedua tangannnya dan langsung duduk di atas sofa coklat berbulu yang terletak di ruang tengah.

“Ah, nyamannya..” gumam Hyunseung sambil merentangkan tangannya di atas sandaran sofa. “Oh, iya. Sedang apa kau di sini? Dimana Paman dan Bibi Kim? Dimana Jonghyun dan Shin You? Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke Seoul. Aku terlalu lama menetap di Amrik.” Ucap Hyunseung panjang lebar.

“Tempatku memang seharusnya ada di sini, Hyung. Aku harus menjaga Shin You. Orangtua Shin You sudah meninggal sebulan yang  lalu. Dan Jonghyun Hyung tidak pulang ke rumah sejak 3 hari yang lalu. Mengenai Kim Aboenim dan Kim Eommonim, apa kau tidak tahu sama sekali? Mereka telah meninggal, Hyung.

DEGH!

Hyunseung terperanjat.

“Mereka.. meninggal?? Bagaimana bisa? Aku sama sekali tak mendapat kabar tentang itu. Aissh! Jonghyun dan Shin You pasti sangat berduka.” Wajah Hyunseung berubah sedih.

Aboenim dan Eommonim mengalami kecelakaan mobil ketika akan mengantar Shin You ke tempat perlombaan menari ballet. Karena hal itu juga, salah satu kaki Shin You mengalami kelumpuhan permanen.”

Mwo? Jadi sekarang Shin You…?” Minho mengangguk seolah tahu kelanjutan dari pertanyaan Hyunseung. “Tunggu, kenapa kau memanggil Paman dan Bibi dengan panggilan seperti itu? Kau sudah seperti menantu mereka saja.” Cibir Hyunseung. Minho memutar kedua bola matanya. Ia tak yakin kalau Hyunseung benar-benar adalah sepupu Shin You dan Jonghyun. Karena namja di hadapannya itu benar-benar tak tahu apa saja yang sudah terjadi dengan keluarga Kim.

Hyung, aku memang sudah menikah dengan Shin You. Tadi pagi, baru saja kita mengadakan pesta kebun pernikahan kami di kebun belakang rumah ini.” Minho berdecak.

Mwoya?! Kalian menikah??”

“Ya. Kami dijodohkan..”

“Tidak. Itu tidak mungkin.” Minho mengernyitkan dahinya. Merasa bingung dengan respon  Hyunseung yang menurutnya sangat berlebihan. “Tidak mungkin Shin You menikah denganmu. Choi Minho, aku tidak rela!!”

Hyung, wae geurae??”

@@@

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

33 thoughts on “Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 5”

  1. Akhirnyaaa di-publish jg ff ini ;)H

    walahhh,,
    apa kamsudnya(baca=maksudnya)
    pula si Hyunsung itu?
    Suka sm Shin Hyu?

    Padahal udh mulai suka Shin-Min couple,kirain bakal adem ayem,
    wah, muncul another conflict lg, ckckckck

    1. Iyaa.. Alhamdulillah yaah.. 😀
      Hyunseung? Eum~ Ada aja! Wkwk.. Makanya part depan jangan lupa buat baca yaa ^^
      Ya engga dong. Kalo adem ayem aja kan nanti jadi flat ceritanya. 😉
      Gomawo udah komen.. ^^

  2. kekeke…jinki ma yura…
    ku kira mreka akan sdkt renggang dg pgakuan yura…

    naenha jhat..dan..egois…aku jd tk suka.!

    next partnya dtggu..

    1. Penginnya si gitu. Tapi kasian Yurra sedih mulu ntar. Hehe.. @authorbaikhati 🙂
      Eitz.. Ngga dong. Nhaena itu punya perasaan cemburu yang wajar sebagai seorang cewe. Apalagi dia udah nikah sama Key. Jadi sifat posesif pasti ada. 😉
      Onkey dokey! ^^

  3. Huaaaaa..semakin seruu…Horeeeee…Chukaee Jinki..akhirnya *plak
    Part Jinki Hyura aku plg suka di part ini…iiihh,,nhaenanya koq jadi jahat gtuu,,,oyaaa saran mimin..ntr itu perempuan ² yang dinikahi karna kesalahan di buat hamil bareng ² ya *ini sih kemauan gue* hahahaa..(‾⌣‾)♉ next part cptan author…:D

    1. Halah.. Kenapa dikasih selamat? Selamat untuk yang mana nih? Wkwk.. 😀
      Nhaena nda jahat. Dia cuma jealous aja kok. Hehe..
      Hah? Hamil semua? #gubrak :O
      Sabar menunggu yaa ^^

  4. ya!
    Ada taemin.. N hyunseung! Aigoo.. Tambah lg dch krumitannya..
    Jinki-yurra,, ehmm.. So sweet..
    Key-nhaena,, ugh, ga nyangka nhaena jadi begitu..
    Minho-shinyou,, mudah2an cepat saling mencintai.. Minho bener2 sahabat yg baik..
    Jjong-aita,, aq ga tau mw komen apa bwt couple fav-ku ini.. Yg jelas, jjong miris bgt..
    Next.. Next

    1. Iya nih, aku juga mulai mengalami kebotakan #stress mikirin konflik ff ini 😀
      Jinki-Yurra hmmm.. 🙂 Padahal aku kira scene mereka mesum banget.. =.=”
      Nhaena jadi gitu gimana? Tenang2..
      Yap. Kayanya si mereka bisa saling mencintai. 😉
      Iya nih. Aku juga sebenernya mau ngilangin adegan Jjong dipukulin Taemin, tapi kayanya flat kalo ngga ada adegan itu. Hehe.. 😀 #dihajarBlingers
      Onkey. Gomawo udah ngikutin terus ff ini.

  5. gila ni ff makin hari tmbah bagus n memuaskan
    makin banyak ni konfliknya mkin bnyak juga penasarannya
    lanjutannya secepatnya ya min

    1. Jeongmalyo?? Huaaah.. !!! ^__^ Jincca gomawoyo, Nhovie-ya.. 🙂 🙂
      Lha kiye.. Makin banyak konflik, makin saya mubeng. Hehe..
      Tapi thanks yo udah baca n komen. Part selanjutnya sabar menunggu yaa.. ^^

  6. Kyaaa, akhirnya di publish part 5 nya, setelah menanti sekian lama *hft, abaikan*
    jinki-yurra WOW. Shin You beruntung bgt bisa dapetin Minho, *aku juga mau dong sm Minho* *plak hehe* Jonghyun miris bgt. Nhaenha gitu banget sih sama Shin You, juhut! Eh jahat mksudnya. Next part jgan lama2 ya author dan admin yang imut, gomawo :3

    1. Emang tiap part ffku ini nongolnya lama banget yaa?? O.oa #tampangcengo
      Jinki-Yurra saya no comment. Comment dari readers udah banyak.. 😀
      Iya, saya beruntung dapetin Minho #ehh?plak!!
      Jonghyun? Hmm.. Yakin aja dia bakal dapet jalan kebahagiaannya sendiri kelak. #bugh!apaan?? 😀
      Nhaena nda jahat kok? Kelihatannya aja. 😉
      Waduh, authornya berarti nda imut nih? Cuma adminnya doank? Yaaah… Hehe
      Onkey. Naddo gomawo.. ^^

    1. Hehe.. Bagian kegaluan Jinki itu memang sengaja aku puter-puter biar readersnya penasaran. Kamu kena ya? Wkwk.. 😀 😉
      Jadi apa yang dianggep Jinki sebagai kenyataan itu ternyata cuma mimpi. Tapi ternyata beneran kejadian tapi ngga sama persis kaya mimpinya. #mudeng? abaikan! 😀
      Tengkyu udah komen. ^^

  7. Aish Jinki amnesia dadakan dech.masa ampe gak bsa beda’n mana mimpi sma nyata???ckckck sidubu kbangetan.

    Aih aih itu bini’y Key knp jd mak lampir sich?jd gak suka aku.

    Huwah huwah Taemin manly ya??

    Shin-Min couple??nan noumu joha!!
    Tp bkl ada konflik bru nich dgn kdatangan new comer. . .
    Aish jinja??

    I Love this story. . .
    Keep writing wokey

    1. Hahaha.. Jinki tetep aku bikin sangtae di sini. 😉
      Nhaena? Ya namanya juga cemburu. Sebenernya perasaan semacam itu wajar kan? 🙂
      Yoyoy. Sengaja aku bikin si Baby di sini cowo abiiisss.. 😀
      Wah, makasih. Author sendiri juga suka sama Shin-Min couple #eh apa bagusnya Min-You ya?# ^^
      Iya, Ada cast baru yang mungkin agak sedikit berpengaruh. Hehe.. Jadi next partnya tetep tungguin yaa ^^
      Onkeydokey..

  8. kyaa!!! Akhirnya akhirnya ↖(^▽^)↗
    ni ff udah bikin aku tiap hr mantengin sf3si, akhirnya dipublish jg..
    Omo! Omo! Jinki-Yurra aaahhh aku suka aku suka Jinki lanjutkan!! kkkk~

    Aahh rupanya Taemin yg mmbuat Jjong-aita mnikh, hhaha good taeminnie. Ehh Taeminnya ga ada pasngn ya? Ntar taeminnya ma aku aja yaa *plakkk:D

    Aisshhh, Nhaena koq gt kyaknya dia bkln jht ma Shin you. aku mlai ga suka ma Nhaena ><

    & Hyunseung? nuguya? spupu? tp koq responnya gt pas denger minho-shinyou udh nikah?? jgn blg klo dia jg suka ma shinyou?!!

    Errghh lagi² TBC mengganggu, bner² hrus dibasmi(?) nih TBC *author: -_-
    NEXT PART THOR!! NEXT PARTT!!!!!! ._.v

    1. Waduh, jeongmal gomawo udah setia banget nungguin ffku ini! #pelukciumtaurusgirls 😀 :*
      Bagian NC malah pada demen ya? Jaan.. =.=”
      Yap, ada Taemin, adik angkatnya Aita yang imut tapi macho. 😀 haha
      Hayoo.. Posthink dong sama Nhaena. 😉
      Ho-oh. Dia kakak sepupunya Jjong sama Shin You. Suka? Emm.. Ditebak aja dulu yaa.
      Waduh, TBC itu biar bikin readersnya penasaran, biar mau baca lanjutanyya. ^^ haha
      Gomawo udah komen terus.

  9. ckckck…
    jinki, jinki, knp kamu jd pervert gitu?
    aigoo…aigoo…

    Nhaena, jangan cemburu sama shin you. key dan shin you cuma sahabat, ok?

  10. omo jinki :$ ngapain itu…kkkkk
    kok nhaena gitu sih? salah pahamnya berlebihan…
    duh minho sm shinyou :3
    eh, ada taemin sm hyunseung muncul? knp dia gk rela?

  11. Saya no comment tentang Jinki. 😀
    No comment juga tentang Nhaena. Hehe.. 😀
    Minho-Shin You waeyo? Sweet apa asem? Haha..
    He-eh. Eum~ Cari tau aja jawabannya di part depan yaa ^^
    Gomawo.

  12. yah yah… itu sapa lg yg nongol, eoh?? hyunseung!!! wah jd makin seru deh! tp kataku ff ini semuanya serba ‘kebetulan’ dan alurnua menurutku terkesan maksa dan cepat. yah ini sih menurutku

  13. Lha? Apa- apaan pake Dateng Hyunseung Oppa segala? Marah2 gk jelas lagi! Aq tunggu pernikahan JongAi lho author:-)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s