The Sweet Summer – Part 7

The Sweet Summer (Part 7)

Tittle                : The Sweet Summer (Part 7)

Author             : Ichaa Ichez Lockets

Main Cast        : Shin Hye Rin, Shin Eun Kyo, Lee Taemin, Kim Ki Bum (Key), Choi  Minho, Kim JongHyun (Jjong), Lee Jin Ki (Onew).

Genre              : Friendship, Romance, Family.

Length             : Series (Chaptered)

Rating             : PG

Desclaimer      : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

            “KYAAA! KEY!!!” Hye Rin melonjak kaget saat melihat Key tidur disampingnya. “Apa yang kau lakukan di kamarku???”

            Desh! Desh! Hye Rin memukul-mukul Key membabi buta dengan gulingnya. “Cepat pergi dari sini! Dasar namja mesum!”

            Key tak kalah terkejut mendengar teriakan Hye Rin. “Ya! Sudah jelas ini kamarku! Kau yang seharusnya pergi, Bawel!” teriak Key dengan keras. “Kenapa kau bisa tidur disini? Apa yang kau lakukan tadi malam? Omonna… Apa kau memang sengaja ingin tidur bersamaku?” omel Key panjang lebar.

            Hye Rin justru melongo memandang ke setiap sudut kamar tanpa memperdulikan omelan Key yang memekakan telinganya.

            Aigoo! Ini benar-benar kamar Key! Pasti karena tadi malam Hye Rin sangat mengantuk, ia jadi lupa kalau sebenarnya kamar ini disewakan kepada Key dan ia sendiri sudah pindah sekamar dengan Eun Kyo.

            Wajah Hye Rin sukses berubah warna menjadi merah tomat sekarang.         Karena malu, Hye Rin menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Dan dengan gerakan cepat ia berhasil meraih gagang pintu kemudian melesat keluar kamar. Sementara Key terus saja mengomel hingga Hye Rin menghilang dari balik pintu.

***

            “Taemin mana ya? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini.” Hye Rin mulai cemas karena sudah jam segini Taemin tidak juga muncul. Padahal kue keringnya sudah siap sejak tadi.

            “Sillyehamnida!” teriak Hye Rin didepan rumah Taemin. Mencoba mencari ‘namdongsaengnya’ kalau-kalau dia ada didalam.

            Sayangnya tak ada yang menyahut. Rumah kecil berdinding kayu itu tampak sepi.

            “Sillyehamnida! Taemin, apa kau didalam?”

            Setelah Hye Rin berteriak lebih keras, perlahan terdengar langkah seseorang yang berjalan mendekat, kemudian sosok paruh baya itu muncul dibalik pintu.

            “Annyeong ahjussi… apa Taemin ada dirumah?” tanya Hye Rin ramah.

            “Oh Hye Rin…” ahjussi itu tersenyum saat melihat sosok Hye Rin yang dikenalnya. “Taemin sudah pergi sejak tadi. Tapi dia tidak bilang pergi kemana. Apa kau ingin meninggalkan pesan?”

            “Oh…” Hye Rin tampak kecewa.  “Aniyo ahjussi. Gamsahamnida…” ucapnya setengah menunduk.

            “Ne~ cheonmaneyo.”

            Hye Rin meninggalkan rumah Taemin penuh dengan tanda tanya. Ini benar-benar aneh. Sebelumnya Taemin tidak pernah tiba-tiba menghilang seperti ini. Dan bahkan kemarin Taemin juga sama sekali tidak menampakkan batang tubuhnya di sanggojae Hye Rin.

            Hye Rin jadi bingung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Ia sama sekali tidak menyadari betapa dalam kekecewaan yang sedang dirasakan Taemin sekarang.

            Semua ini tentang kejadian saat Taemin ingin mengungkapkan perasaannya terhadap Hye Rin waktu lalu, namun disaat yang bersamaan Hye Rin justru mengeluhkan orang lain. Sejak saat itu, sosok Taemin seakan hilang ditelan bumi (?).

            Terlepas dari semua itu, Hye Rin sadar kue-kue pesanan dari pelanggan tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia terpaku menatap puluhan bungkus kue kering itu dalam beberapa saat, sampai akhirnya sebuah helaan panjang mengiringi keputusan berat yang ia ambil.

Ia tak mungkin mengantarkan kue menggunakan sepeda sendirian. Harus ada orang lain yang memboncengkannya didepan sementara ia membawa keranjang besar penuh berisi kue kering.

            Mungkin ini adalah hal tergila yang pernah Hye Rin minta. Dan bahkan Hye Rin berani bertaruh bahwa ia tidak akan pernah mau melakukannya jika tidak dalam keadaan yang benar-benar terdesak. Dengan berat hati, ia terpaksa meminta tolong kepada orang yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Dan orang itu adalah… Key!

            Kenapa harus Key?

            Karena pagi ini Minho masih tertidur pulas akibat begadang nonton bola tadi malam, sedangkan JongHyun Oppa sedang tak ada dirumah.

            Sepertinya kali ini Hye Rin benar-benar tak diberi pilihan lain.

            Meski terjadi perdebatan sengit antara Key dan Hye Rin – karena Key mengaku malu jika harus menggunakan sepeda –, akhirnya Key benar-benar membantu Hye Rin mengantarkan kue-kue pesanan itu dengan satu syarat. Yaitu Key harus diperbolehkan menggunakan dapur sesuka hatinya.

            Lagi-lagi dengan sangat terpaksa, Hye Rin mau tidak mau harus menyetujuinya.

            “Hehe… ternyata asik juga ya berjalan-jalan menggunakan sepeda ini.” Ucap Key saat mereka tengah melaju melintasi jalan desa dengan sepeda.

            Hye Rin tak menyahut. Bibirnya justru terlihat mengerucut mengingat persyaratan yang diajukan Key tadi. Uh… setelah ini, pasti Key akan leluasa memasak di dapur kesayangannya itu.

“Oh iya, kue-kue yang harus diantar sudah habis bukan?” tanya Key sambil mengayuh pelan sepedanya.

            “Ne~” jawab Hye Rin singkat.

            “Hehe…” tawa tengil Key kembali terdengar. Saat itu juga Hye Rin merasa aneh. Sebuah firasat buruk tiba-tiba hadir di otaknya.

            “Eh? Ini bukan jalan menuju rumah, Key.”

            “Siapa bilang kita mau kerumah?” jawab Key cuek.

            “Loh… Kenapa kau malah membawaku kemari?” Hye Rin justru bingung saat sepeda yang ditumpangi mereka berhenti di tepi danau.

            “Saat berangkat tadi aku melihat danau ini dari jauh.” Ucap Key dengan nada rendah. “Pemandangannya sangat indah. Karena penasaran, makannya aku ingin kemari.” Ucapan Key berakhir saat ia memejamkan mata sambil menghirup udara segar yang dengan bebas berhembus menerpanya.

Hye Rin mengerutkan dahi sambil menatap Key heran. Baru kali ini ia mendengar namja itu bicara dengan pelan tanpa menggebu-nggebu seperti biasanya. Dan bahkan ia terlihat begitu tenang saat kedua matanya tertutup merasakan sejuknya angin tepi danau.

            “Apa aku tidak boleh mampir kesini? Ha?” omelan Key terdengar lagi. “Jika kau ingin pulang, ya sudah pulang sendiri sana!”

            Huh, Belum sempat Hye Rin memikirkan perubahan singkat nada bicara Key, dengan cepat semuanya buyar sekarang. Hye Rin jadi mendadak kesal dan bibirnya mengerucut sekali lagi. Sedangkan Key dengan cuek terlihat berjalan menuju ujung dermaga di danau itu.

            Melihat kepergian Key, Hye Rin tak tampak mengikutinya. Ia justru berjongkok di tepi danau sambil mengukir-ukir tanah menggunakan ranting kecil.

            Hye Rin tak tahu pasti kenapa sosok Taemin tiba-tiba saja menyelusup dipikirannya saat ini.  Di tempat Hye Rin berjongkok inilah, Taemin pernah memberinya nafas buatan hingga ia marah besar. Namun dua cone ice cream dengan cepat meleburkan amarah itu dan ia bisa dengan mudah memaafkan kesalahan Taemin.

            Entahlah… hanya saja Hye Rin benar-benar merindukan sosok itu sekarang.

            Tanpa Hye Rin sadari, tangannya masih saja mencoret-coret tanah di tepi danau itu hingga sebuah nama terukir melalui ranting kecilnya

Nama itulah yang memenuhi isi otaknya saat ini… Nama itu juga yang membuat ia mendadak resah… Nama yang tadinya jelas namun perlahan memudar karena tersapu air tepi danau… Nama itu adalah … TAEMIN.

***

            Sudah hampir setengah jam lamanya dua cangkir kopi diatas meja sama sekali tak berkurang sedikitpun. Hanya saja sesekali pemiliknya mengaduk-aduk kopi itu tanpa berniat untuk meminumnya.

            Mereka adalah Onew dan Eun Kyo. Masing-masing dari mereka tak ada yang mampu memecahkan kecanggungan ini. Tampaknya waktu 3 tahun itu telah dengan mudah menenggelamkan keakraban yang dulu pernah terjalin.

            Ragu-ragu Onew memandang ke arah Eun Kyo yang duduk di seberang meja. Sedangkan Eun Kyo justru tertawa melihat tatapan polos itu.

            “Haha.. sebenarnya apa maksudmu mengajakku kemari Oppa?”

            Mendengar pertanyaan Eun Kyo, Onew justru menggaruk tengkuknya sambil tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang rapi. Senyumnya terlihat begitu khas dengan mata yang tertutup dan ekspresi wajah yang seperti anak kecil. Bahkan pipinya yang chubby itu juga tampak menggelembung. Benar-benar membuat gemas orang yang melihatnya.

            Termasuk Eun Kyo yang diam-diam merindukan senyum manis itu.

            “Sebenarnya aku tidak tahu juga kenapa ingin membawamu kemari, Eun Kyo.” Jawab Onew dengan seulas senyum yang masih tersungging di wajahnya. “Tadinya banyak sekali yang ingin kubicarakan. Tapi setelah bertemu denganmu entah kenapa semuanya tiba-tiba buyar begitu saja. hehehe” Papar Onew polos. Eun Kyo jadi geli mendengarnya.

“Ya sudah, kita mulai dari awal lagi saja.” Ucap Eun Kyo menahan tawa. “Bagaimana kabarmu Oppa?”

            “Hehe… baik. kau sendiri?”

            “Ne~ aku juga baik.”

            Setelah kalimat itu Eun Kyo ucapkan, tiba-tiba kecanggungan menyerang lagi. Keduanya kembali diam sambil mengaduk kopinya masing-masing.

            “Sepertinya hari sudah mulai malam.” Ucap Eun Kyo menyadari keadaan disekitarnya yang berubah gelap. “Aku harus segera pulang, Oppa.” Ucap Eun Kyo kemudian beranjak dari tempat duduknya.

            “Tunggu sebentar Eun Kyo!” sergah Onew menahan tangan Eun Kyo yang berdiri didepannya.

            Sepintas Eun Kyo melihat genggaman tangan itu kemudian menoleh kearah Onew. Ekspresi wajah Onew berubah serius.

            “Jeongmal mianhe Eun Kyo.”

            Deg! Mendengar kalimat itu, entah kenapa jantung Eun Kyo tiba-tiba berdetak kencang tanpa dapat ia kendalikan. Ia hanya mampu terduduk lemas sambil menunduk sementara tangan Onew masih menggenggam erat tangannya.

            “Jeongmal mianhe karena aku meninggalkanmu begitu saja.”

            Eun Kyo menatap Onew sedih, “Bisakah kita tidak membicarakan hal ini lagi Oppa? Lagipula aku telah melupakannya.”

            “Tapi aku tidak bisa Eun Kyo-ah…” timpal Onew  pelan. “Selama tiga tahun aku menghilang darimu dan terus memikirkan kesalahanku hingga aku benar-benar frustasi.”

            Eun Kyo terkejut mendengar pertanyaan itu muncul dari bibir Onew. Sebelumnya ia menduga bahwa Onew telah melupakan semua kejadian antara mereka berdua, tapi ternyata justru sebaliknya. Onew bahkan sampai frustasi memikirkan kesalahan yang ia perbuat, yaitu pergi tanpa pamit dan membiarkan hubungan mereka menggantung begitu saja tanpa kepastian.

            “Aku harus pergi karena orang tuaku ingin aku kuliah di Seoul.” Terang Onew dengan suara beratnya yang bernada rendah. “Mereka ingin aku menjadi seorang broadcaster music yang handal, dan aku tak mampu menolaknya. Bahkan aku tak memiliki cukup waktu untuk berpamitan denganmu, Eun Kyo…”

            Eun Kyo tak mampu lagi menanggapi paparan Onew. Otaknya dipenuhi oleh kebimbangan.  Ia tak tahu harus memaafkan kesalahan Onew  atau justru mengungkit masalah ini sampai ke akar-akarnya. Sekali lagi ia hanya bisa diam.

            Suasana canggung ini benar-benar terasa berbeda dengan keadaan mereka tiga tahun lalu. Dulu mereka memang dekat. Sangat dekat malah. Eun Kyo selalu suka sifat Onew yang polos dan gemar bercanda. Membuatnya sering tertawa dan senang berteman dengan Onew.

Tapi sayangnya hanya sebatas itu. Sebatas teman saja.

            Sikap Onew yang menganggap Eun Kyo adik perempuannya, tidak menunjukkan tanda-tanda kalau Onew menginginkan hubungan mereka lebih jauh. Eun Kyopun tak berani berharap lebih. Ia hanya mampu memendam harapan itu sampai akhirnya Onew pergi, kemudian kembali muncul dan mengingatkan semua yang pernah terjadi.

            “Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kalinya.” Ucap Onew sambil menatap lekat kearah Eun Kyo. “Seperti yang kau bilang tadi, kita akan memulai semuanya dari awal lagi. Maukah kau memulai semuanya dari awal lagi bersamaku, Eun Kyo?” Tanya Onew kemudian. Entah kenapa ucapan tulus itu justru membuat dada Eun Kyo mendadak sakit sekarang.

            Sejujurnya Eun Kyo juga ingin mengulang semuanya dari awal lagi. Tapi 3 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mempertahankan perasaannya.

Dan kini Eun Kyo tahu benar, bahwa sekarang ‘sayangnya’ perasaan itu telah jauh berubah.

-To Be Continue-

            Wah Onew Oppa beneran serius nih kayaknya. Terus gimana dengan Eun Kyo? Apa dia akan menerima tawaran Onew, yaitu mengulang semuanya dari awal lagi? Atau sudah ada ‘nama lain’ yang mengisi hatinya?

            Gimana juga ya nasib Taemin yang tiba-tiba menghilang karena patah hati? Apa Hye Rin ngga akan pernah tahu perasaan Taemin sebenarnya?

            Gomawo buat yang udah baca. Dan jangan lupa komen ya… gamsahamnida!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “The Sweet Summer – Part 7”

  1. yaampun thor ini tuh penasaran >.< tapi kok pendek banget sih T_T panjangin dikit napa thor, kasian iniiih penasaran #plakk 😀 next!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s