A Ghost Inside Me – Part 15

Title :           A Ghost Inside Me  Part 15

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Kim Jonghyun,  Lee Taemin, Choi Siwon,   dan    masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

PRAAAANNNGGGG!!!!!! Suara yang sangat keras itu pun menghentikan semuanya. Su Ji tak bisa lagi melihat ataupun mendengar apapun. Kedua matanya terpejam dengan tetesan air mata di pipinya. Bibirnya yang pucat kini telah terkunci rapat. Badannya yang dulu kuat menahan cercaan dan kepahitan kini tergolek lemas tak berdaya. Su Ji memang tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Namun jauh di dalam sana, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih menyimpan sepenggal perasaan tulusnya untuk namja itu…

“Su Ji? Hei, kenapa kau tidak menjawab? Su Ji?” Key mengulangi kata-kata yang sama namun tetap tak ada tanggapan. Beberapa detik kemudian telponnya terputus. Key langsung merasa khawatir dan kacau. Apa yang terjadi pada Su Ji? Kenapa seperti ada suara kaca pecah?

“Ajhussi, bolehkah aku keluar? Hanya sebentar, aku ingin memastikan sesuatu,” pinta Key pada seorang Polisi.

“Tidak nak. Sebelum Pengacaramu datang,” jawab si Polisi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer.

Key memukul batang jeruji besi dengan keras. Hatinya belum tenang sebelum ia mengetahui apa yang sebenarnya. Apa yang terjadi pada Su Ji? Baik-baikkah yeoja itu?

“AAARRRGGKKKHHH!!!” seru Key sambil menjambak rambutnya kasar. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Bagaimana caranya agar ia bisa keluar dan menemui Su ji?

“DIAM!” balas Polisi tak mau kalah.

Key langsung menatap tajam ke arah Polisi. Lalu tanpa pikir panjang lagi ia langsung menghampiri Polisi itu dan mencengkeram kerahnya. “BERANINYA KAU BERBICARA SEPERTI ITU PADAKU, HUH? KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU?!”

Beberapa Polisi lain berdatangan dan melerainya. “Hentikan tuan Kim Ki Bum. Saya mohon hentikan,” bujuk salah satu Polisi bertubuh tinggi.

“Ya! Aku akan menuntutmu kalau aku bebas nanti, arasseo?!” cerca Key tapi tetap saja tak ada yang memedulikannya. Key terus berteriak saat Polisi-Polisi itu membawanya ke dalam ruangan tersendiri. Ia merasa hidupnya benar-benar hancur. Semuanya berubah dalam sedetik. Ia tak lagi di takuti, di dengar apalagi di kagumi. Kini ia tak lebih dari seorang tersangka yang hina. Dan meski ia mengucap beribu kata maaf pun, takkan ada yang mau mendengarnya. Ya, mungkin memang harus seperti ini jalan hidupnya. Walau ia belum sepenuhnya bisa menerima.

Suasana jalanan kala itu mendadak berubah ramai dan mencekam. Beberapa mobil terhenti tanpa arah yang jelas. Sebuah truk besar berhenti di tengah jalan dan di depannya terdapat sebuah taksi yang sudah terbalik. Semua orang membicarakan apa yang terpampang di depan mata mereka. Ada yang menatap ngeri sampai diam karena takut. Bahkan ada pula yang mengambil gambar.

Tangan seorang yeoja tiba-tiba tergerak pelan. Tak lama kemudian yeoja itu mulai menggerakkan kelopak matanya. Ia merasa begitu pusing seolah ditimpa benda yang amat berat. Yeoja itu pun akhirnya dapat melihat keadaan di depannya meski masih berkunang-kunang. Ia merasa semua nyawanya terkumpul satu persatu. Bahkan ia dapat merasakan jantungnya yang mulai berdetak, darahnya mulai mengalir dan paru-parunya yang kembali bekerja.

Yeoja itu mengerutkan keningnya samar. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia pun mencoba untuk bangkit. “Aaah,” rintihnya pelan saat ia terjatuh. Ia merasa badannya begitu lemas dan sakit.

“Hwang Su Ji!” teriak sebuah suara memanggil si yeoja.

Yeoja itu menyipitkan matanya karena penglihatannya belum sepenuhnya sempurna. Setelah ia berhasil terduduk, barulah ia menyadari siapa sesosok laki-laki tinggi yang berlari ke arahnya. “Minho-ya…” panggilnya lemah.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Minho cemas. Ia melihat kening Su Ji mengeluarkan banyak darah. “Su Ji, kepalamu berdarah,” beritahu Minho.

Su Ji mengangguk sekilas sambil memegang kepalanya. “Aku tahu…” jawabnya singkat. Kemudian ia mulai memikirkan sesuatu. “Minho-ya, aku tidak mati kan?”

“Tentu saja tidak. Buktinya, kau masih disini,” jawab Minho yakin.

Seulas senyum lebar perlahan terlukis di wajah pucat Su Ji. Bahkan kini ia bisa tertawa. “Minho-ya, aku berhasil! Aku berhasil lolos dari kematian itu! Haha…” serunya senang.

Minho yang baru menyadari hal itu pun juga ikut tertawa bahagia. “Su Ji-ya, kau memang hebat! Kau berhasil! Sekarang tak ada lagi kan yang kau takutkan?”

Su Ji mengangguk mantap. Lalu ia melihat ke arah orang-orang yang sedang mengerubungi taksinya. Su Ji pun menghampiri mereka. “Ajhussi, aku selamat! Aku tidak mati! Ajhussi!” teriaknya namun tak ada satu pun yang menoleh. Su Ji termenung sejenak. Tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya dan memanggil orang-orang itu lagi. “Ajhussi, aku disini! Tidak ada yeoja di dalam taksi itu. Aku selamat!” serunya lebih keras dan tetap tak ada yang peduli padanya.

Su Ji pun menoleh pada Minho dan menghampirinya. “Kenapa mereka tidak mendengarku? Apa mereka pikir, taksi itu tidak membawa penumpang?”

Minho mengernyitkan dahi. “Seharusnya tidak seperti ini. Kau terlempar keluar dan mereka pasti tahu.”

Su Ji mengangkat bahu dan kedua tangannya. Ia pun kembali berjalan ke arah taksinya. Su Ji terus memanggil-manggil orang-orang itu. Dan keadaannya tak berubah.

Minho berusaha mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. Sampai ia menemukan sebuah jawaban pasti. “Su Ji-ya!” panggilnya dan yeoja itu langsung berjalan mendekatinya.

“Mwo?” tanyanya bingung.

Minho menghirup nafas terlebih dahulu seolah mengambil ancang-ancang. Kemudian ia menggerakkan tangannya mendekati bahu Su Ji dan…

“Minho-ya?” ucap Su Ji menatap Minho khawatir.

Minho membelalakkan kedua matanya. Tangannya bergemetar ketika ia benar-benar mengetahui bagaimana keadaannya. “Ta… tanganku bisa menyentuhmu?” gumamnya sambil melihat telapak tangannya sendiri. Sesaat kemudian ia langsung menatap Su Ji. “Su… Su Ji, kau?”

Su Ji menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. “Tidak mungkin,” katanya singkat dan berlari ke arah taksinya lagi.

“Ajhussi! Ajhussi! Ini aku! Aku tidak mati. AJHUSSI!!!!” teriaknya sekencang mungkin. Namun tetap saja, tak ada yang menghiraukannya.

“Su Ji, tenanglah. Kau tidak boleh seperti ini,” ujar Minho menenangkan Su Ji dengan memegang bahunya.

Su Ji menepis kedua tangan Minho. “Tidak. Aku tidak mati!” balasnya berapi-api. Ia benar-benar tidak bisa menerima semua ini.

Tiba-tiba terdengar suara sirine ambulance. Su Ji maupun Minho pun menoleh ke belakang dan ambulance itu terparkir tepat di depan mereka. Beberapa petugas langsung turun dan dengan sigap menyelamatkan si supir taksi terlebih dahulu.

Su Ji menutup mulutnya karena tidak kuat melihat wajah si supir taksi yang dipenuhi darah. Ia mulai merasa mual namun ditahannya.

“Aghassi, masih ada seorang penumpang,” beritahu salah seorang laki-laki membuat Su Ji langsung menoleh padanya.

“Tidak, tidak ada siapa-siapa. Aku disini, aku disini ajhussi!” serunya tidak terima.

“Su Ji, tenanglah…” Minho masih berusaha menenangkan Su Ji tapi yeoja itu malah berlari mendekati taksinya.

Su Ji berusaha menyingkirkan orang-orang disana dan ia malah mendapati kenyataan kalau tangannya bahkan tak bisa menyentuh mereka. Su Ji menggelengkan kepala tidak percaya. Dan ketika itu juga, ia melihat sesosok tubuh berseragam sekolah sama seperti yang dipakainya.

“Su Ji?” panggil Minho lirih.

Air mata Su Ji pun menetes. Kini ia tak bisa mengelak lagi setelah melihat tubuhnya sendiri yang berlumuran darah dan tergolek tak berdaya. “Tidak mungkin…” gumamnya hampir tak terdengar. “Itu bukan aku…”

“Su Ji, tenanglah,” kata Minho sambil memegang pundak Su Ji. Ia juga melihat keadaan tubuh Su Ji dengan ngeri.

“Itu bukan aku, BUKAN AKUUU!!!!” teriak Su Ji kemudian ia menangis sejadi-jadinya. “AARRRGGKKKHHHH!!!!”

Minho langsung memegang kepala Su Ji dan membenamkan ke dada bidangnya. Ia berusaha menenangkan Su Ji yang sangat terpukul itu. “Sudahlah, kita bisa menyelesaikan semua ini…” hiburnya sambil mengelus puncak kepala Su Ji.

“Tidak mungkin… dia bukan aku.. aku belum mati…” gumam Su Ji sambil terisak.

Su Ji melihat tubuhnya sendiri yang tergeletak lemas di atas dipan rumah sakit. Kepalanya di perban dan ia diberi alat bantu pernafasan. Su Ji melemah, apakah keadaannya separah itu? Dan kini… apakah ia bisa mempercayai semua ini? Kalau ia telah berubah menjadi sesosok arwah. Yang bisa berjalan tanpa ada yang melihat, berbicara tanpa ada yang mendengar dan berdiri tanpa ada yang merasakan.

“Su Ji…” panggil Minho lirih sambil menyentuh bahu Su Ji dengan lembut. Ia melihat Su Ji menatapnya dengan kedua matanya yang sayu.

“Sekarang, tidak ada yang bisa melihat kita kan?” ujar Su Ji kemudian ia tersenyum tipis. “Bahkan, tidak ada yang bisa merasakan kita. Minho-ya, sekarang aku sama sepertimu. Sial, aku tidak bisa mengejekmu lagi,” celoteh Su Ji sampai meneteskan air mata tanpa disadarinya.

“Su Ji-ya, kau jangan menyerah…”

“Minho-ya, aku merindukan Appa dan Eommaku. Apa mereka akan datang? Apa mereka akan menangis?”

“Su Ji!” Minho langsung menarik bahu Su Ji dan membuat yeoja itu kini menghadapnya. “Kau tahu, kau belum selesai. Kau masih bisa berusaha untuk mengembalikan hidupmu. Percayalah, Hwang Su Ji…”

Su Ji terdiam. Ia berpikir sejenak. “Apa yang bisa kulakukan?”

“Masalahnya, mungkin ada beberapa keinginanku yang belum selesai dengan sempurna,” jelas Minho ketika ia dan Su Ji berjalan melintasi daerah Apgujong.

Su Ji mengerutkan keningnya lalu menatap namja di sampingnya itu. “Keinginan? Lalu apa keinginanmu Minho-ya?”

“Ah, mungkin keluargaku. Salah satu keinginanku saat aku memohon untuk diizinkan kembali ke dunia ini adalah karena keluargaku.”

“Kalau begitu, ayo kita ke rumahmu.”

“Ne, kkaja!”

Minho dan Su Ji sama-sama terdiam saat melihat keluarga Minho yang sedang berkumpul di depan tv. Eomma Minho yang sedang mengobrol dengan adiknya serta Taemin yang sedang asyik menonton acara di tv.

“Minho-ya, lalu apa keinginanmu? Keluargamu nampak seperti sebuah keluarga yang bahagia?” tanya Su Ji tak yakin.

“Aku juga bingung. Tunggu, apa Taemin tidak bisa melihat kita? Bukankah dia memiliki kemampuan semacam itu?”

Su Ji memperhatikan sosok tubuh kurus yang sedang menatap layar tv dengan seriusnya. Kalau mengingat namja itu ia menjadi kesal saja. “Ya, bukannya bagus kalau ia tidak bisa melihat kita? Lebih baik kita selesaikan masalahmu.”

“Ah, keurae. Appa, dimana Appaku?” ucap Minho sambil mencari-cari Appanya. “Su Ji-ya, ikuti aku,” suruh Minho lalu ia berjalan ke suatu tempat.

Su Ji pun mengangguk. Ia berjalan di belakang Minho sekaligus melihat-lihat bagian rumah Minho. Tiba-tiba saja Su Ji merasa merindukan keluarganya. Ia ingin sekali melihat dan memeluk Appa Eommanya. Ia ingin menangis dan menceritakan banyak hal ke mereka. Tapi, kenapa sekarang hal itu sangat jauh meski di bayangannya?

Su Ji hampir menabrak Minho karena tiba-tiba namja itu menghentikan langkahnya. Su Ji menatap punggung Minho lalu naik ke wajahnya. Tatapannya menanyakan sesuatu. Namun ia tak berani bersuara.

“Itu Appa,” ucap Minho lirih.

Su Ji mengerutkan kening. Lalu ia mengikuti pandangan Minho dan melihat seorang Pria renta yang sedang duduk di kursi roda. Spontan Su Ji menutup mulutnya. Ia tak pernah tahu kalau keadaan Appa Minho separah itu. Terduduk lemas di kursi roda dengan pandangan frustasi adalah sebuah keadaan paling menyedihkan bagi Su Ji. Su Ji mencengkeram kerahnya seragamnya, seolah hatinya bisa ikut merasakan apa yang menimpa Appa Minho. “Aku tahu bagaimana rasanya…”

Perlahan Minho menoleh ke arah Su Ji. “M..mwo?”

“Sakit, sakit sekali. Ketika kau terduduk sendirian, tak ada yang menemanimu, tak ada yang mengajakmu berbicara, dan… parahnya kau teringat akan masa lalumu yang indah. Kau sangat merindukannya namun kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kau ingin memeluk orang yang sangat kau cintai namun kau telah kehilangannya. Kau ingin mengulang masa-masa itu, kau terus berkhayal tanpa ada kenyataan…”

Tak terasa air mata Minho sudah mengalir membentuk dua aliran sungai kecil di pipinya. Tiba-tiba ia terjatuh berlutut di depan kaki Appanya. “Appa… Appa ini aku Appa. Ini anakmu Choi Minho. Aku di depanmu Appa, tidakkah kau merindukanku?” serunya sambil menangis tersedu-sedu.

Minho melihat Appa sedang membuka sebuah jurnal di pangkuannya. “C… Choi Minho, dasar anak nakal! Berani-beraninya kau meninggalkan Appa tanpa pamit. Kau kemana nak? Kenapa kau tidak pernah kembali? Apa kau tidak merindukan Appa?”

Minho semakin menangis. Pelan-pelan ia pun bangkit dan berjalan ke sisi Appanya. Ia pun berjongkok dan melihat apa isi jurnal itu. Tiba-tiba Minho tertegun. Isi jurnal itu adalah tulisan Appanya tentang kehidupannya sendiri. Dan nama yang paling banyak tertulis adalah nama Minho. Appa Minho menulis semua kehidupan Minho sejak Minho dilahirkan. Saat Minho menginjak usia setahun, saat pertama kalinya Minho bersekolah hingga saat Minho memenangkan olimpiade matematika. Minho tersenyum tipis. Ia memang tidak pernah tahu seberapa dalam kasih sayang Appanya terhadap dirinya.

Lalu Minho melihat Appanya membuka halaman lain lagi. Ia terkejut saat disana tertempel foto Jung Cheon Sa. Minho pun membaca tulisan Appanya. “Appa…” ucapnya terharu saat menyadari kalau bahkan Appanya tahu kapan pertama kalinya ia jatuh cinta. “Appa, kenapa kau begini? Kenapa kau membuatku sangat sulit untuk meninggalkanmu?” ungkapnya menyesal.

“M.. Minho?” panggil Appa Minho sambil mengedarkan pandangannya.

Minho terkejut saat Appanya menyebut namanya. Lalu Minho menatap Su Ji dan yeoja itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Appa, kau bisa mendengar suaraku?”

“Minho, kau dimana? Appa yakin kau disini nak…”

“Appa, kalau kau tidak bisa melihatku maka dengarkan saja suaraku Appa…” ucap Minho dan Appanya berhenti mencari-cari. Kini Appanya duduk terdiam di kursi roda dan mendengarkan dengan teliti.

“Appa, apa kau merindukanku? Apa kau selalu mengingatku bahkan ketika aku sudah tidak ada di dunia ini? Apa kau selalu melihat fotoku? Tersenyum saat mengingatku?” tanya Minho dan ia melihat Appanya tersenyum. “Aku juga sepertimu Appa. Aku selalu merindukanmu setiap hari. Aku selalu melihatmu walau aku tidak bisa menyentuhmu. Aku ingin berbicara denganmu namun aku tidak bisa. Aku ingin kita melakukan hal-hal yang dulu kita lakukan bersama. Aku ingin melakukan itu semua Appa..”

Minho melihat air mata Appanya menetes. Ia merasa tidak tega namun ia harus melanjutkannya sebelum suara tidak terdengar lagi. “Appa, kau tahu aku sangat terpukul saat melihat kau duduk di kursi roda. Ini semua salahku Appa. Seharusnya aku menuruti kata-katamu agar tidak pergi ke Busan waktu itu. Aku menyesal Appa, sangat menyesal. Appa… kau harus sehat. Kau tidak boleh sakit seperti ini. Kau harus makan yang banyak dan menikmati kebahagiaan dalam hidupmu. Kalau mengingatku membuatmu sakit, maka lupakanlah aku Appa. Aku tidak marah, justru aku akan merasa lega. Appa, kini aku tahu kau sangat menyayangiku, kau adalah malaikatku. Kau mengajariku banyak hal dan memberiku banyak pengalaman berharga yang mungkin tak pernah kudapatkan. Appa, aku tahu kalau kau dan Eomma mengadopsi Lee Taemin. Mianhae Appa karena pada awalnya aku memang marah,” Minho berhenti sejenak dan melihat Appanya mengerutkan kening dan hendak mengatakan sesuatu namun Minho melanjutkan kata-katanya lagi. “Tapi sekarang tidak. Aku mengerti Appa. Appa, Taemin adalah temanku. Ia adalah anak yang baik. Aku minta, jaga dia sebaik kau menjagaku Appa. Anggap kalau diriku berada dalam diri Taemin. Karena dengan begitu, maka kau akan bahagia. Appa, aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Appa kau menyayangiku kan? Lakukanlah untukku Appa…”

Su Ji mengepalkan tangannya erat-erat. Ia berusaha keras menahan diri agar tidak menangis.

Minho melihat senyum Appanya yang perlahan terlukis di wajah tuanya yang lelah. “Appa berjanji Minho-ya. Kau anak yang baik,” ucap Appa Minho pelan namun mampu membuat hati Minho terasa lega.

Minho tersenyum senang. Entah perasaan apa ini, namun ia tak pernah merasakan perasaan selega ini. “Gomawo Appa…”

“Minho-ya, kau yakin ini akan berhasil?” tanya Su Ji ketika ia dan Minho kembali berjalan di jalanan ramai. Diam-diam Su Ji memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Lalu ia menghembuskan nafas beratnya. Sepertinya ini belum akan selesai.

“Entahlah, sepertinya masih ada keinginanku yang lain,” jawab Minho sambil memikirkannya.

“Ya, kenapa keinginanmu banyak sekali? Aigoo… kau ini benar-benar!” gerutu Su Ji. “Ppali, lalu apalagi keinginanmu?”

“Eumm…. Ah, Cheon Sa noona!” seru Minho sambil menjentikkan jarinya.

“Noona, kau tidak harus melakukan ini kalau kau tidak mau. Noona, bisakah kau mendengarku?” kata Minho bertubi-tubi pada seorang yeoja bergaun pengantin putih di depannya. Minho menjambak rambutnya sendiri. Ia kesal atas keputusan Cheon Sa yang akhirnya mau menikah dengan Jonghyun.

Sementara Su Ji hanya menatap Minho dengan tatapan meremehkan. Entahlah, namun ia merasa kalau ia tidak suka dengan kekasih Minho itu. Jadi apapun yang Minho lakukan pada yeoja bernama Cheon Sa itu, ia lebih memilih diam dan tidak mau ikut campur.

“Noona…” Minho menoleh ke arah Su Ji. Ia bertambah kesal saat melihat Su Ji hanya duduk sambil menatapnya datar. “Su Ji, kenapa kau hanya diam saja? Bantu aku…”

Su Ji memalingkan wajahnya. “Sireo,” jawabnya singkat.

“Mwo? Aissh!” umpat Minho lalu menghampiri Su Ji. “Ya, kenapa kau seperti itu? Ini demi kau juga, Su Ji. Demi hidupmu. Ayolah… jebal…” bujuk Minho.

Su Ji melirik Minho dengan kesal. Ia masih tidak mengerti kenapa namja ini begitu mencintai Cheon Sa. Bukankah yeoja yang dianggapnya sebagai kekasih itu sudah mengkhianatinya? Kenapa ia tidak pergi dan melupakannya? “Ya, baru kali ini aku bertemu dengan namja bodoh sepertimu,” ucap Su Ji tanpa pikir panjang.

“Mwo?”

“Minho-ya, apa kau tidak bisa membuka matamu? Dia, dia telah mengkhianatimu. Dia tidak mencintaimu Minho. Lihat, dia bahkan akan menikah dengan namja lain. Lalu kenapa kau masih mencintainya?” terang Su Ji dengan lantang. Yang ia inginkan sekarang hanyalah agar Minho bisa melupakan Cheon Sa.

Minho terdiam dan menatap Su Ji dengan tatapan nanar. Baru kali ini ada orang yang berani mengatainya serendah itu. Ia tahu betapa kerasnya hati Su Ji. Namun ia sama sekali tak menyangka kalau Su Ji akan berkata seperti itu padanya. “Apa kau masih belum mengerti apa arti cinta?” tuturnya lirih.

Su Ji tertegun. Kedua matanya memandang lekat mata Minho yang berkilat-kilat. “Oh, jadi sekarang kau akan menjelaskan padaku tentang apa arti cintamu untuk kekasihmu itu? Keurae jelaskan Choi Minho!”

“Kau tidak tahu karena kau tidak pernah merasakannya kan?” balas Minho seolah menampar perasaan Su Ji. “Apa kau pernah merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika kau melihat seseorang? Dan apakah kau pernah merasakan sakit yang teramat menusuk jantungmu ketika kau melihat orang yang kau sayangi terjatuh menangis?”

Su Ji terdiam. Ia masih mencerna apa yang Minho katakan.

“Su Ji-ya, mungkin kau tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Arayo, ketika kau mencintai seseorang dengan tulus, maka saat itu juga kau telah berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak pernah melepaskannya. Keurae, aku memang terlihat bodoh karena aku mencintai seorang yeoja yang bahkan mungkin sudah tidak memikirkanku lagi. Tapi… “ Minho menghela nafas sejenak. “Karena ia begitu berharga, dan karena ia juga telah menjadi bagian hidupku yang paling berarti, aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Cheon Sa noona, adalah yeoja yang telah memperlihatkan padaku begitu banyak arti cinta dalam hidup. Cinta, bisa membuatmu hidup. Cinta adalah keajaiban Tuhan yang luar biasa.”

“Keurae? Lalu… kenapa aku tidak bisa mempercayainya? Apakah kau akan mengatakan kalau aku bodoh? Buta karena tidak bisa melihat? Atau angkuh karena tidak bisa merasakan?”

“Ani… Kau adalah seorang penunggu. Kau sedang menunggu di sebuah tempat yang sepi dan dingin. Kau melihat kekanan dan kekiri, mencari sebuah cinta yang menghampirimu, menemanimu dan menghangatkanmu. Percayalah Hwang Su Ji, suatu saat nanti kau akan menemukannya. Dia adalah seseorang yang sangat tulus, yang memberikan seluruh hidupnya untukmu. Dan kau akan merasakannya, jika kau tidak akan melepaskan orang itu sampai kapanpun..”

Su Ji tetap diam dan menatap Minho. Entah kenapa ia merasa tenang. Mungkin ia beruntung, karena ia bisa bertemu dengan orang yang sangat baik. Andai ia bisa memutar waktu, maka ia akan mencari Minho sejak dulu. “Kau…”

“Cheon Sa-ssi, ini sudah waktunya. Kau siap?” beritahu seorang wanita yang berdiri di ambang pintu.

Minho melihat Cheon Sa tersenyum lalu berdiri menghampiri wanita yang memanggilnya tadi. “Kkaja!” ajak Minho pada Su Ji.

“Pengantin pria, apakah kau berjanji akan menemani Istrimu walau…”

Su Ji dan Minho berdiri mengamati proses pernikahan Cheon Sa dan Jonghyun di sisi Pendeta. “Ya, apa yang bisa kita lakukan sekarang?” tanya Minho panik.

Su Ji tak menggubris pertanyaan Minho. Ia justru teringat akan kata-kata Minho yang membuat hatinya sedikit tergerak. “Ani… Kau adalah seorang penunggu. Kau sedang menunggu di sebuah tempat yang sepi dan dingin. Kau melihat kekanan dan kekiri, mencari sebuah cinta yang menghampirimu, menemanimu dan menghangatkanmu. Percayalah Hwang Su Ji, suatu saat nanti kau akan menemukannya. Dia adalah seseorang yang sangat tulus, yang memberikan seluruh hidupnya untukmu. Dan kau akan merasakannya, jika kau tidak akan melepaskan orang itu sampai kapanpun..”

Su Ji menghela nafas panjang. Apakah benar kata-kata itu? Benarkah ia adalah seorang penunggu? Lalu sudah berapa lama? Kenapa ia merasa lama sekali sampai ia menjadi buta? Sungguh, kalau boleh ia ingin berdoa sekarang juga. Ia ingin menemukan cinta itu. Ia sangat merindukannya.

“Su Ji…”

“YA, AGHASSI!” teriak Su Ji tiba-tiba. “Aghassi, apakah kau bodoh? Atau kau sedang berusaha tidak mendengarkan hatimu? Ya, kau telah menemukan cintamu. Kau sudah menemukannya hanya saja… hanya saja kau perlu menunggu satu kali lagi. Apakah kau pernah menjalani hidup sepertiku? Kau lebih beruntung karena cinta menghampirimu dengan cepat. Kau tidak harus menunggu selama itu. Lalu kenapa sekarang kau mau mengikuti cinta yang tidak benar-benar menghampirimu? Dia tidak tulus, bisakah kau membuka matamu?!” bentak Su Ji kesal dan anehnya Cheon Sa menjadi terdiam bingung.

“Su Ji…” ucap Minho tidak percaya.

“Aghassi, kenapa kau diam? Apakah aku harus mengulangnya sekali lagi?” tanya si Pendeta pada Cheon Sa.

“Oh…” jawab Cheon Sa ragu-ragu. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang memarahinya. Dan itu membuatnya cukup ketakutan.

“Chagiya, gwaenchana?” tanya Jonghyun memastikan. Ia melihat wajah calon pengantinnya itu mendadak pucat dan berpeluh.

Cheon Sa menatap Jonghyun sambil tersenyum lalu beralih ke Pendeta. “Ne, cheosunghamnida…” jawabnya meski ia masih berkonflik dengan hatinya sendiri.

Su Ji tertawa heran. Ia tidak percaya dengan yeoja di depannya yang menurutnya begitu bodoh. Ia melirik Minho sekilas. “YA! JUNG CHEON SA! KAU MEMANG YEOJA YANG BODOH!” teriak Su Ji lalu menendang sebuah rangkaian bunga di sampingnya hingga terjatuh.

Mendadak suasana gereja menjadi hening. Semua orang melihat ke arah rangkaian bunga yang tiba-tiba terjatuh tanpa sebab.

“Su Ji, apa yang kau lakukan?” tanya Minho.

Su Ji terkejut dan menutup mulutnya. “Minho-ya, ottohkae?”

Badan Cheon Sa bergemetar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Bukannya ia takut, namun jatuhnya bunga itu seperti memberikan sebuah jawaban akhir padanya. Tentang apa yang harus dilakukannya pada pernikahannya ini. “Pendeta, aku ingin mengatakan sesuatu,” ujar Cheon Sa membuat semua orang beralih menyorotnya, termasuk Minho dan Su Ji. “Aku ingin membuat sebuah pengakuan,” kata Cheon Sa lalu ditatapnya Jonghyun. “Jika aku, Jung Cheon Sa selama ini tidak pernah mencintai calon suamiku, Kim Jonghyun…”

Seisi gereja pun berubah kaget. Terutama kedua orang tua mempelai yang duduk di barisan depan.

“Cheon Sa, apa yang kau perbuat? Kau tidak ingin menghancurkan pernikahan kita kan?” cerca Jonghyun panik sambil memegang bahu yeoja di depannya.

“Mianhae, Jonghyun-ah… tapi aku tidak bisa,” jawab Cheon Sa. Kemudian ia membungkukkan badan dan pergi meninggalkan misbah pernikahannya begitu saja. ia bahkan tak peduli akan orang-orang yang memandangnya dengan berbagai anggapan.

Minho menolehkan kepalanya ke arah Su Ji dan tersenyum lebar. “Su Ji-ya, kau hebat! Su Ji kau membuat pernikahan ini batal!” seru Minho senang sambil mengguncang bahu Su Ji saking senangnya.

“Mwo? Sincha?” tanya Su Ji yang masih tidak percaya. Ia melihat Cheon Sa yang terus berlari hingga berhenti di ambang pintu. Su Ji mengerutkan kening, tiba-tiba Cheon Sa berbalik dan tersenyum padanya. Su Ji terkejut. Sungguh, namun ia benar-benar tidak bisa mempercayai semua ini. “Minho-ya..”

“Hm?”

“Lalu… apakah semua ini sudah berakhir?”

To be Continued…

J Karena part ini mendekati part-part terakhir, maka author tidak akan berkata apa-apa… hehehe…

J Speechless lah, keep reading readers! Gomawo… #bow

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 15”

  1. Yaaa! Kenapa udahaaan? Aku lagi asik2nya baca terus tbc ;;_;; ayo thooor lanjuut lanjuuut aku penasaraan, aduh jadi sedih udah mau end 😦 terus sekarang nasib suji gimana? Key? Minho? Cheon sa? :(((( di tunggu part selanjutnya thooor 😉

  2. kyaaa… makin penasaran iihh. ini salah satu ff yang aku tunggu-tunggu. next part jangan lama-lama ya thor, gomawo 🙂 🙂

  3. Aku nangis pas scene Minho dan Appanya 😥 banjir beneran inisih. Hadeh.
    Doh, suji pinter ngegagalin acaranya ya –” wks.
    Bagaimana akhirnya? Kurasa suji malah sm key. Minho balik ke surga (?), cheonsa gatau sm siapa. Ato mgkn cheonsa bunuh diri (?) ato kecelakaan trus mereka bersatu di surga #ngek #sembarangan.

    Haha, jgn dianggap tebakan. Itu cuma celetukan belaka. Ditunggu lagi ya ffnya eonni, klo bs next yg sedih banget :’3

  4. Yqkkk kok TBC sih?? Lagu asyik baca niihh,.suji.nya susah di tebak.. Suka banget ma alur ceritanya..
    Pnasaran bgt ma nasib suji selanjutnya..

    Next part..
    Fighting!!!

  5. apa nanti minho bakalan bereinkarnasi trus bertemu kembali dengan cheonsa ya???
    #ngawur deh….
    trus gimana nih nasib suji nantinya?? terus gimana juga hubungannya dengan key???
    ditunggu lanjutannya…

  6. Aaaa eotthokehhh
    Nasib mereka berdua gimana
    Minhoo
    Cheonsa
    Su ji
    Key
    Aaaaaa sumpah penasaran
    Bneran gak sbar nunggu lanjutannya
    Semangattttttttt

  7. hohiho…
    suji udah jadi arwah juga..
    buat teman sama minho…
    minho cepat selesaikan urusan mu…
    suji cepat jadian sama key ya..
    hahahahah

  8. aaaaah author hebaat.. :d
    Aku hampir nangis baca episode ini.. :’)
    Serasa beneran masuk ke cerita’a..
    Author hebaaat~~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s