Love Me – Part 9

LOVE ME 9

 

Author : *Azmi

Main cast :

  • Kim Jonghyun
  • Choi Yumi

Other cast :

  • Lee Taemin
  • Shin Sekyung
  • Shim Min Ah
  • Choi Siwon
  • Choi Minho
  • Choi Minhwan (FT island)

Length : Squel

Genre : Angst, romance, married life, Friendship

Rating : PG 15

 

STORY

 

Tiba-tiba ponsel Jonghyun yang tergeletak di atas daskboard bergetar. Jonghyun yang masih asyik dengan jalan dan musik jazz yang didengarnya tak sadar bahwa sebuah panggilan menyapa ponselnya. Hingga ponsel itu bergetar untuk kedua kalinya barulah Yumi merasa terganggu dan memanggil Jonghyun.

“Oppa ponselmu bergetar…” kata Yumi.

“Ne?” Jonghyun yang tak begitu jelas menoleh pada Yumi.

“Ada telepon!” jelas Yumi sekali lagi.

“Ahh~” Jonghyun tersenyum kemudian mengambil ponselnya dengan tangan kanan, “Ada telepon ternyata!”

“Yeobosseo?” sapa Jonghyun pada ponselnya, tiba-tiba saja tubuhnya menegang dan pedal rem itu terinjak dengan kuat begitu saja, membuat Yumi agak terpental ke depan.

“Apa?? Katakan yang jelas!!” bentak Jonghyun pada ponselnya-menghiraukan Yumi yang terpekik kecil. “Ya!! Lee Jin Ki!! Apa yang kau katakan?!”

Air muka Jonghyun tampak berubah dari raut bahagia yang tadi menghiasi wajahnya. Pandangan matanya tampak tak fokus, entah apa yang dikatakan orang melalui panggilan telepon beberapa detik lalu, yang jelas kini suasana hati Jonghyun berbalik 180 drajat.

Menyadari hal itu Yumi bertanya, “Ada apa Oppa?”

“Maafkan aku Mi-ya… k-kau turun dulu disini, aku… aku harus ke suatu tempat!”

“Kenapa Oppa? Ada sesuatu yang terjadi?” terdengar nada khawatir dari suara Yumi karena melihat wajah Jonghyun yang memucat.

“Tidak, kumohon turun dulu…”

****

Yumi terkesiap dari tidurnya begitu dering telepon rumah berbunyi begitu nyaring di tengah keheningan apartementnya. Yumi memutuskan untuk pulang ke apartementnya saat tadi pagi Jonghyun menurunkannya tanpa penjelasan apapun karena memang jarak ke apartementanya lebih dekat dibanding ia harus memutar arah kembali ke rumah.

Yumi bangkit dari sofa yang semula menjadi tempat berbaringnya, sedikit mengucek matanya kemudian mengangkat ganggang telepon yang terletak di atas meja samping sofa.

“Yeoboseo?” sapa Yumi, “Ahh~ Oppa kenapa belum pulang?” Yumi sedikit melirik jam dinding yang terletak di atas TV, jam 10.13 malam, “Oppa tak pulang? Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Nde… Arraseo…”

Yumi menghela nafas setelah meletakkan kembali ganggang telepon ke tempatnya. Ada perasaan khawatir yang menyelimuti hatinya, bukan perkara Jonghyun yang tak bisa pulang malam ini, namun ada perasaan lain yang mengusik pikirannya-entah apa itu yang membuatnya tak tenang. Hanya perasaannya saja ataukah memang hal buruk akan terjadi yang jelas Yumi tak ingin hal itu membuatnya kembali harus kehilangan Jonghyun. Dan entah dari mana tiba-tiba saja nama Sekyung terlintas di pikirannya, Yumi tak ingin berburuk sangka tapi ada kalanya dalam hati Yumi begitu terancam dengan nama itu.

Yumi beranjak dari sofa yang didudukinya dan berjalan ke dapur, membuka kulkas kemudian menegak air dingin yang diambilnya langsung dari botol. Tercetak sedikit aliran air di leher Yumi kemudian hilang dibalik coat coklat muda yang dipakainya.

Yumi mengelus perutnya yang memang masih datar, “Kau ada disana?” gumam Yumi pada perutnya, “Benarkah kau ada disana? Mengapa Oppa seyakin itu kau sudah tumbuh di dalam?”

Langkah kaki Yumi mengantarkannya hingga sampai di depan kamar ketika ketukan pintu apartementnya terdengar. Yumi berbalik arah dan membuka pintu, apa itu Jonghyun? Kenapa pulang secepat itu? Bukankah ia bilang tak bisa pulang malam ini?

“Mi-ya… aku membawa racikan masker baru, mau mencobanya denganku?”

Yumi masih belum sadar sepenuhnya ketika tanpa permisi Min Ah menyerobot masuk ke dalam apartementnya. Yumi kembali melirik jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.

“Min-ah? Kau gila ya?” Yumi mengikuti Min Ah yang sudah lebih dulu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah, ia memperhatikan sahabatnya yang kini tengah memejamkan mata dan bersandar di punggung sofa, “Dan kenapa rambutmu basah begitu? Apa diluar hujan?”

“Kau tak menyadari kalau di luar sedang gerimis? Ckckck~ apa saja yang kau lakukan di dalam hm?”

“Mengapa tak bawa payung?” bukannya menjawab pertanyaan Min Ah, Yumi justru berbalik bertanya. Yumi bisa merasakan ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya itu. Gadis itu memang tak pernah secara gamblang mengungkapkan masalah yang dimilikinya, tapi Yumi sudah terlalu hafal dengan kebiasaan gadis itu.

“Sedang tak ingin saja!” jawab Min Ah seadanya.

“Bodoh! Cepat katakan!”

“Apanya?”

“Tentu saja masalahmu!”

****

Jonghyun tak dapat berpikir apa pun, bahkan semilir angin musim semi yang kini menerpa tubuhnya tak sedikit pun mampu membuat suasana hatinya membaik. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, ia juga tak tahu sebenarnya permainan seperti apa yang tengah Tuhan jalankan padanya.

Darah di jaket coklat mudanya saja belum sepenuhnya mengering namun Jonghyun sudah tak mampu lagi menahan dirinya untuk tak berteriak. Berteriak sekuat yang ia mampu berharap akan sedikit mengurangi sesak di dadanya. Baru saja ia akan kembali memulai hidup yang baru, bersama Yumi, bersama gadis yang entah sejak kapan mulai mendapatkan tempat spesial dihatinya.

Jonghyun juga masih ingat bagaimana raut kesakitan yang beberapa menit lalu seakan menghujam jantungnya. Sekyung, gadis itu hampir saja meregang nyawa seandainya Jonghyun tak segera datang. Rintihan kesakitan bercampur dengan gumaman yang tampak samar tertutupi erangan, Sekyung menggumamkan namanya-nama Jonghyun-dengan begitu lirih dan dalam. Seakan meminta Jonghyun untuk memberikan kekuatan padanya, padahal Jonghyun sendiri saat itu serasa tak memiliki daya untuk sekedar meyakinkan dirinya bahwa masih ada gadis lain yang kini tengah menunggunya di rumah.

Hawa dingin taman balakang rumah sakit tak membuat Jonghyun terusik sedikitpun. Tanganya tetap mencengkram kuat papan kayu yang kini tengah didudukinya. Mengapa takdir memparmainkannya? Baru saja ia ingin membuka hati untuk gadis lain, tapi mengapa justru masa lalu membuatnya harus berbalik mundur. Seandainya saja Jonghyun memiliki kekuatan untuk menghilang dari dunia ini, ia pasti sudah membawa Yumi pergi ke tempat dimana tak akan ada seorang pun yang akan mengusik mereka.

Jonghyun mengangkat kepalanya ketika sebuah telapak tangan menyentuh pundaknya yang bergetar. Lee Jinki, Dokter yang menangani Sekyung tampak memberikan senyum tipis padanya.

“Tuan Shin ingin bicara padamu!” sedikitpun tak ada balasan senyum yang diberikan Jonghyun. Ia tahu cepat atau lambat Tuan Shin-ayah dari Sekyung akan memintanya untuk bertemu. Jonghyun bukannya takut bertemu dengan pria paruh baya itu, ia hanya takut dengan apa yang akan mereka bicarakan. Memang Jonghyun masih memiliki sedikit rasa pada Sekyung, tapi perasaan itu sekarang tak lebih dari hanya sekedar teman. Entah sejak kapan, tapi nama gadis itu perlahan telah pergi dari hatinya.

Tanpa mengatakan apapun Jonghyun bangkit meninggalkan taman dan juga Jinki, pergi ketempat dimana Tuan Shin tengah menunggunya.

****

“Kau belum mengganti bajumu?” Tuan Shin bertanya begitu menyadari kedatangan Jonghyun. Walau wajahnya sama sekali tak beralih dari obyek yang kini tengah ditatapnya, tetap saja langkah Jonghyun mampu ia sadari. Dari balik kaca itu, terlihat jelas bagaimana Sekyung dengan berbagai peralatan medis tampak tertidur tenang. Berbeda sekali dengan kedaannya yang beberapa menit lalu begitu menyedihkan, hampir membuat Jonghyun tak mampu hanya untuk sekedar menarik nafas. Bagaimana darah itu keluar dari mulut Sekyung bersamaan dengan batuk yang tak tak kunjung mereda mengotori jaket mahalnya.

“Aku tak membawa baju ganti…”

“Kalau begitu pulanglah, ganti bajumu dulu!”

“Tidak, nanti aku bisa beli di toko dekat sini!”

Suasana kembali hening, tak ada pembicaraan setelahnya. Suasana begitu canggung. Keakraban yang mereka perlihatkan dulu-sebelum perjodohan itu terjadi-bagai hilang ditelan bumi. Tak ada lagi bermain gitar bersama, tak ada lagi jepit jemuran yang menghiasi kedua wajah itu ketika kalah dalam bermain catur. Jonghyun akui ia begitu merindukan hal itu, sudah dua tahun lebih ia tak lagi datang kerumah itu. Kenyataan bahwa ia sudah tak memiliki ayah membuat Jonghyun sudah menganggap pria di depannya ini sebagai ayahnya sendiri.

“Mau minum teh sejenak?” wajah itu akhirnya menoleh, menatap Jonghyun dengan senyuman yang walau terlihat ramah namun tersirat kepedihan di dalamnya.

****

Yumi terkikik saat lagi-lagi Min Ah menjatuhkan pop corn-nya. Mereka kini tengah menikmati DVD yang baru saja di beli Yumi kemarin. Berkali-kali makanan yang terbuat dari jagung itu tak berhasil masuk ke dalam mulut Min Ah, peraturannya adalah mereka harus makan dari suapan yang lain dengan cara melemparkannya. Kedaan wajah mereka yang yang tertutup masker membuat mereka semakin sulit hanya untuk sekedar menangkap pop corn dengan mulut.

“Kau harus melemparnya dengan benar Mi-ya, kau ini bisa tidak sih?!” Min Ah kesal karena tak satupun makanan ringan itu berhasil ia kunyah.

“Bukan aku yang tak bisa melempar, kau saja yang bodoh tak bisa menangkapnya. Tadi saja aku bisa menghabiskan hampir separuh yang kau lempar. Dasar payah!”

“Aiss~ sudah sini biar aku makan sendiri!”

Yumi kembali terkikik begitu pop corn itu berhasil pindah ke tangan Min Ah. Lihatlah bagaimana gadis itu memakan jagungnya, apa ia tak tahu jika hal itu bisa membuat maskernya rusak.

Yumi memalingkan wajahnya kembali melihat layar TV yang semula ia abaikan. Yumi bahkan tak merasa bahwa Film itu kini hampir selesai karena ia asik bermain dengan Min Ah.

“Mi-ya…” panggil Min Ah lirih. Suara mulut yang tengah mengunyah itu entah sejak kapan sudah tak terdengar lagi.

“Hmm?” gumam Yumi masih fokus dengan apa yang ditontonnya.

“Ternyata cinta itu sangat rumit ya…”

Sontak Yumi mengalihkan wajahnya menghadap Min Ah. Gadis itu kini tengah menunduk membuat Yumi tak mampu melihat raut wajahnya dan menebak apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Yumi masih diam, menunggu Min Ah untuk melanjutkan perkataannya. Ia tahu gadis itu butuh teman bicara dan ia menyesali selama beberapa hari ini tak memparhatikan sahabatnya itu. Ya Tuhan~ bahkan Yumi lupa bahwa seminggu lagi adalah acara pertunangan Min Ah dengan Kim Kibum.

“Disaat kita benar-benar yakin dengan pilihan kita justru ia adalah orang yang paling tak pantas untuk dipilih. Menurutmu apakah usaha bisa mengubah realitas?” gadis itu akhirnya mendongak memperlihatkan wajahnya yang tampak biasa saja, tak ada air mata namun Yumi mampu merasakan kepedihannya.

“Apa yang terjadi?”

“Kibum selingkuh…”

“M-Mwo?”

“Sebenarnya aku tak tahu siapa yang menjadi selingkuhannya. Aku ataukah Jayoung, tapi yang jelas aku tak sanggup melepasnya!”

Kata-kata itu terdengar sangat datar. Yumi sampai tak bisa mengerti, seharusnya ia mendengar isakan mengingat pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya berselingkuh. Tapi gadis itu mampu menutupi semuanya, semua kepedihannya.

“Aku tak mengerti Min-a…”

“Aku juga tak mengerti, bagaimana bisa mereka berhubungan. Kenangan masa kecil, terpisahkan oleh takdir, kemudian bertemu setelah dewasa. Aku sama sekali tak mengerti andai saja aku tak menonton drama-drama picisan setiap malam. Bukankah aku korban dari takdir seperti yang ada di drama-drama itu… hahaha sungguh lucu…”

Yumi mencoba mencerna apa yang dikatakan Min Ah, namun nihil ia sama sekali tak mampu mengerti dan akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sampai Min Ah mau melanjutkan ceritanya.

“Mi-ya, seandainya aku berusaha dan berpura-pura tak melihat apapun, bisakah mengubah kenyataan bahwa mereka lebih dulu saling jatuh cinta dan menyingkirkan kenyataan bahwa aku hanyalah pelarian Kibum Oppa? Bisakah realitas bodoh itu berubah dengan kegigihanku?”

Pelukan itu menyadarkan Yumi bahwa gadis itu butuh menangis. Walau ia belum sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi namun lebih dari itu bahunya lebih dibutuhkan oleh Min Ah. Perlahan Yumi membalas pelukan Min Ah dan mengelus punggung yang bergetar itu.

“Menangislah…” ucap Yumi, “Aku tak tahu apakah kerja keras kita bisa mengubah relitas yang sudah ada atau tidak, tapi setidaknya kita sudah berusaha dan hal itu tak akan menjadi penyesalan di kemudian hari. Jadi tetap lah berusaha Min-ah!”

Berusaha bersamaku menggapai cinta kita…

“Aku tak bisa melepasnya Mi-ya… aku sangat mencintainya…”

“Aku tahu!”

****

Kopi itu hampir mendingin karena terabaikan. Kedua orang itu tampak tak berminat sedikitpun untuk menenggaknya, lebih tertarik dengan keramaian jalan yang mereka nikmati lewat kaca kafe yang mereka kunjungi kini. Tak ada yang memulai pembicaraan selama hampir sepuluh menit terakhir seolah membiarkan keheningan merajai.

“Sudah lama kita tak minum kopi bersama lagi…” Tuan Shin akhirnya membuka suara. Tatapannya yang ramah seolah menarik Jonghyun untuk mengangkat ujung bibirnya tersenyum.

“Nde… sudah hampir dua tahun lebih!”

“Selama itu kah?” Tuan Shin berkata, “Pantas aku sudah sangat merindukanmu!”

Jonghyun hanya tersenyum menanggapi, jauh di lubuk hatinya ia juga sangat merindukan pria di depannya ini. Mereka dulu sangat akrab, lebih dari yang bisa kita bayangkan. Dan sekarang saat keduanya akhirnya bertemu, justru harus dalam keadaan yang seperti ini. Jonghyun sempat menganggap pria ini sebagai ayahnya sendiri dan hal itu masih sama sampai sekarang. Ia sangat ingat bagaimana pria ini memperlakukannya dulu, bermain bersama, ketempat sauna bersama, menginap di rumahnya bahkan ketika tak ada Sekyung.

“Ahjussi… aku…” Jonghyun tak mampu melanjutkan kata-katanya. Airmatanya sudah meluncur lebih dulu membasahi wajahnya.

“Sekarang bahkan kau memanggilku Ahjussi… Jonghyun-a walaupun kau tak lagi bersama Sekyung, tetaplah panggil aku seperti dulu meskipun sampai suatu saat nanti Sekyung pergi, kau tetaplah putraku.”

“Tolong jangan berkata seperti itu, Sekyung nuna pasti sembuh, Abonim harus percaya…”

Pria paruh baya itu hanya tersenyum sekilas, kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil sapu tangan, “Usap dulu airmatamu, kau ini tak berubah, masih cengang seperti dulu!”

Jonghyun menerima sapu tangan itu, namun tak juga memakainya untuk mengeringkan pipinya yang basah. Ia menatap nanar sulaman huruf di pojok sapu tangan itu, ‘SK’. S untuk Shin dan K untuk Kim. Cita-cita mereka dulu, menyatukan dua keluarga yang memang sudah memiliki hubungan buruk dari mendiang kakek Jonghyun dan Sekyung, alasan yang sama yang membuat hubungan mereka di tentang oleh kedua keluarga. Hanya tuan Shin, hanya beliau yang tak peduli dengan masalah konyol itu. Hanya persaingan bisnis dan hal itu berujung pada permusuhan yang tak ada habisnya sampai sekarang.

“Jonghyun-a… jangan menangis lagi!”

“Aku tak bisa Abonim…”

“Tsk~ mengapa kau semakin manja setelah menikah!”

DEG~ menikah. Jonghyun kembali teringat pada Yumi, gadis itu pasti mencemaskannya karena ia tak pulang dengan tanpa kabar apapun. Gadis itu juga yang membuatnya takut untuk bertindak, siapa yang harus ia prioritaskan? Ia atau Sekyung? Keduanya sangat berarti untuk Jonghyun.

“Jonghyun-a, kau masih mencintai Sekyung?”

Jonghyun terpekur, tanganya yang semula hendak menghapus airmata itu mengambang di udara. Mencintai Sekyung? Jonghyun sendiri masih bingung dengan perasaannya. Disatu sisi ia mulai membuka hati untuk Yumi, tapi disisi lain ia juga tak bisa meninggalkan Sekyung, apa lagi dengan kondisinya sekarang.

“Aku…”

“Aku tahu!” potong tuan Shin, “Gadis itu memang gadis yang baik dan polos, ia begitu tulus dan gigih. Aku mengerti seandainya posisi Sekyung tak lagi sama. Tapi Jonghyun-a, bisakah kau mengabulkan permintaan terakhir Abonim…”

Jonghyun takut, entah apa yang ia takutkan. Bahkan ketika ia masih belum mengerti dengan perasaannya sendiri. Tapi, melihat raut wajah Tuan Shin yang seperti itu seolah tengah memintanya untuk masuk ke dalam keadaan yang ia yakini sangat menyulitkan, membuatnya takut untuk mendengarkan apapun permintaan itu.

“Kau tahu hidup Sekyung tak akan lama lagi. Keinginannya adalah menjadi pengantin yang cantik untuk orang yang dicintainya. Dan kau juga pasti tahu siapa orang itu…”

DEG~ seandainya bisa, Jonghyun ingin sekali menghentikan kata-kata tuan Shin.

“Jonghyun-a… untuk waktu yang bahkan tak sampai dua minggu sisa umur Sekyung, menikahlah dengannya!”

Menikah… lagi-lagi hal itu yang mambuatnya sesak. Dulu juga kata itu yang membuatnya berpisah dari orang yang sangat disayanginya dan sekarang setelah ia mendapatkan penggantinya justru ia harus berkhianat juga dengan hal itu.

Jonghyun bingung apa yang harus ia lakukan. Ia tak mungkin jadi seorang penghianat tapi ia juga tak sanggup membiarkan Sekyung berjuang sendirian. Lalu Apa? Apa yang harus Jonghyun lakukan.

Jonghyun tersentak ketika tubuh Tuan Shin tiba-tiba berlutut di bawah kursi yang ia duduki. Semua mata yang ada ki kafe itu kini memandang mereka.

“A-Abonim… apa yang kau lakukan?” susah payang Jonghyun mencoba membangunkan Tuan Shin tapi pria paruh baya ia tak beranjak sedikitpun. Akhirnya Jonghyun memutuskan untuk ikut berlutut di bawah.

“Kumohon Jonghyun… untuk kali ini saja. Selama ini aku belum bisa membahagiakan putriku satu-satunya. Aku ingin di penghujung hidupnya ia tersenyum. Kumohon bantulah aku…”

Tubuh Jonghyun melemas seketika. “Ba…baiklah”

****

Tak ada yang tahu kan takdir akan berjalan seperti apa? Seperti siang dan malam mereka bergulir sesuai waktu yang sudah Tuhan tentukan. Begitu juga dengan takdir, tak ada yang sanggup mengaturnya kecuali Tuhan. Namun pernahkan kalian dengar suatu pepatah bahwa ada satu hal yang bisa menolak kuasa takdir yaitu doa. Yumi juga tak mengarti mengapa pagi ini ia begitu ingin berdoa, berdoa untuk dirinya, Jonghyun dan yang lainnya.

Ia berdoa di depan makam Ayah dan juga Ibunya. Memberikan hormat dan melepas rindu. Walau tak bisa sepenuhnya tersalurkan, tapi dengan mengunjungi makam mereka, Yumi merasa beban hidupnya sedikit terangkat.

Ia ingin kembali ke masa kecilnya dulu, saat tak ada beban yang menghalanginya untuk tertawa, tak ada masalah yang menghambatnya untuk tersenyum. Melangkah walau terseok namun rengkuhan ayah dan ibunya selalu menjadi finish perjuangannya. Tapi sekarang, tak ada lagi dekapan lembut mereka. Kehidupan masa dewasa tak semudah saat ia belajar berjalan, tak semudah saat belajar mengenali huruf abjad untuk pertama kalinya. Kini semuanya terlalu rumit untuk dianggap sepele, namun juga terlalu ringan untuk dianggap serius. Semuanya terasa abu-abu.

Dan hari ini adalah hari kedua Jonghyun tak pulang. Entah apa yang tengah dikerjakan suaminya itu, Yumi juga sama sekali tak tahu. Jonghyun tak mengatakan apapun, hanya bilang bahwa ia masih belum bisa pulang. Yumi merasa dirinya dibawa Jonghyun melambung tinggi beberapa hari yang lalu, namun setelah itu ia dihempaskan dengan begitu keras ke tanah. Tulang-tulangnya terasa remuk, sangat menyakitkan.

Suara dering ponsel membangunkan Yumi dari lamunannya. Ia berhenti sejenak, merogoh tasnya dan menempelkan ponsel itu ke telinga kanannya.

“Yeobosseo? Ahh~ Taemin?? Kapan kau pulang??” Yumi sempat berharap bahwa yang menghubunginya adalah Jonghyun, tapi suara ceria di sebrang sana memupuskan harapannya.

Yumi kembali melanjutkan langkah menyusuri jalan setapak yang akan membawanya keluar dari area pemakaman setelah kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan ramai kota Seoul.

****

Jonghyun hanya terdiam melihat raut pucat wajah Sekyung di sampingnya. Gadis itu juga sama diamnya dengan Jonghyun, hanya saja Jonghyun terlihat lebih ekspresif dibanding dengan gadis itu yang cenderung datar dan tak bersemangat. Tangannya masih terlipat rapi diatas pahanya yang berselimut sejak setengah jam yang lalu, sama sekali belum berpindah tempat.

Jonghyun terdengar menghela nafas sesaat, “Nuna…”

Sekyung masih terdiam, tatapannya tampak kosong ke depan. Menerawang jauh padahal di depannya kini terhampar bunga-bunga yang bermekaran cantik.

Jonghyun menggeser kursi roda Sekyung agar bisa berhadapan dengannya yang duduk diatas bangku taman. Membuat gadis itu memandangnya, ia sungguh tak tahan melihat Sekyung yang tampak tak bersemangat sedikitpun. Terlihat memikirkan sesuatu yang tak bisa dijangkau oleh Jonghyun.

“Nuna, apa yang kau pikirkan?” tanya Jonghyun.

Sekyung akhirnya membalas tatapan khawatir Jonghyun. “Aku takut pergi terlalu cepat. Aku baru sadar ternyata banyak hal yang belum kulakukan selama hidup. Jonghyun-a… aku ingin hidup lebih lama lagi, bisakah?”

Jonghyun tak bisa menjawab. Ia yang sebelumnya selalu bisa mengungkapkan dengan jujur apa pun yang ada di pikirannya kini terlihat gamang.

“Arraseo!” potong Sekyung karena Jonghyun tak kunjung memberikan jawaban yang sebenarnya ia sendiri tahu apa itu. Sekyung menghela nafas sesaat, “Jonghyun-a, antar aku ke kamar…”

“Ayo jalan-jalan nuna!” potong Jonghyun cepat. Ia segera bangkit dan mendorong kursi roda Sekyung tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu.

****

Yumi tak henti-hentinya terbahak melihat bagaimana raut wajah Taemin saat ini. Sampai-sampai di sudut matanya kini mengalir setitik air. Yumi mengusapnya sesaat sebelum akhirnya kembali tertawa terbahak-bahak.

Taemin hanya bisa mendengus sebal. Ingin sekali Taemin menyumpal wajah Yumi dengan syal tebal yang kini melilit lehernya hingga menutupi sebagian wajahnya.

“Terus saja tertawa, tertawalah sepuasmu!” dengus Taemin.

Yumi susah payah meredam tawanya, tapi tetap saja ia tak bisa. Ia kembali terbahak tak terkendali.

“YA!!! CHOI YUMI BERHENTI TERTAWA!!!” bentak Taemin keras.

Akhirnya Yumi menghentikan tawanya sebelum mulutnya benar-benar disumpal oleh Taemin. Ia berdehem sebentar, “Maafkan aku Taem, tapi kau benar-benar lucu. Masa di musim semi yang cerah begini kau memakai syal? Seburuk apa sih wajahmu, coba perlihatkan padaku…”

“Tidak mau, aku tahu kau pasti akan semakin menertawakanku kalau tahu keadaan wajahku!” Taemin memalingkan wajahnya. Ia sudah hafal tabiat Yumi, ia akan sangat susah untuk berhenti kalau sudah tertawa. Dan Taemin tak mau jadi bahan tertawaan Yumi. Ia bukan pelawak, asal dia tahu saja!

“Aku janji tak akan tertawa!” Yumi meyakinkan. Ia juga penasaran setengah mati bagaimana keadaan wajah Taemin sampai pria itu mati-matian tak mau membuka syal dan sunglassnya padahal mereka kini tengah berada di dalam kafe.

Taemin menghela nafas keras sebelum akhirnya menyerah dan perlahan mulai membuka syal yang melilit lehernya. Ia kembali melirik Yumi dan dapat ia lihat gadis itu tengah menatapnya was-was, ekspresi seperti itu membuat gadis itu terlihat menggemaskan di mata Taemin. Sudah lama sekali semenjak gadis itu menikah dengan Jonghyun, keceriaan seperti pagi ini tak pernah ia lihat.

“Taemin-a, kenapa berhenti, ayo buka syalmu!” desak Yumi tak sabar.

“Ahh~ baiklah…” Taemin kembali menghela nafas.

Yumi tak habis fikir, mengapa membuka syal dan juga kaca mata hitam besar itu saia terasa begitu berat bagi Taemin. Bukankah Yumi sendiri sudah berjanji-walau Yumi sendiri tak yakin bisa menepatinya-tak akan menertawakannya.

Akhirnya Taemin berhasil membuka kedua atribut anehnya, tak aneh sih kalau dipakai di musim dingin. Sejenak suasanan hening. Taemin tak bisa menebak apa yang ada di pikiran gadis itu, yang terlihat masih ekspresi sama seperti saat ia baru akan mulai melepas syalnya kendati saat ini semua sudah terlepas dari wajah Taemin. Taemin pikir Yumi akan tertawa terbahak-bahak melihat penampakan wajahnya yang belang. Taemin sendiri tak menyangka bahwa wajahnya akan jadi seperti ini hanya dengan beberapa bulan di Afrika. Ia pernah dengar bahwa di sana memang cuacanya panas, tapi tak sampai bisa membakar kulitnya. Dan kenyataannya sekarang, ujung hidung hingga ke bawah wajah Taemin tampak biasa karena selama bertugas ia selalu memakai masker, tapi tidak begitu halnya dengan bagian atas wajahnya yang kini tampak lebih hitam, sangat kontras sekali perbedaan warnanya.

“Ya Tuhan Taemin-a… apa yang terjadi dengan wajahmu?! Mengapa bisa sampai seperti ini?!” respon Yumi berlebihan. Suaranya yang kelewat keras menimbulkan beberapa pengunjung kafe lainnya kini menetap mereka. Taemin buru-buru membekap mulut Yumi kalau tak ingin malu.

Yumi menyingkirkan tangan Taemin dari wajahnya dan kini gantian ia yang menangkupkan kedua tangannya di pipi Taemin. Mengamati wajah itu seolah mencari tahu bagaimana bisa ia jadi seperti itu. Pipi yang biasanya putih mulus kini sebagian telah barwarna lebih gelap dan merah. Yumi meringis, ia mengusap pipi itu hati-hati. Tampak sekali raut khawatir di wajahnya. Ia melupakan beberapa menit yang lalu saat ia tak bisa berhenti menertawakan Taemin.

“Bagaimana bisa seperti ini?” gumam Yumi khawatir. “Kalau tak bisa kembali seperti semula bagaimana? Ayo kuantar ke rumah Min Ah, ia sering membuat masker-masker aneh yang biasanya mampu membuat wajahku menjadi lebih baik, mungkin saja ia bisa membantumu…”

Pandangan mereka bertemu. Taemin menyadari wajah mereka kini terlalu dekat menimbulkan getaran-getaran aneh dalam dadanya. Ia bersumpah tak menyukai perasaannya yang seperti ini. Seakan ada sengatan-sengatan listrik kecil yang menyambar tubuhnya. Ia tahu ini tak boleh, gadis yang sudah lama ia cintai ini sudah bersuami. Taemin juga tahu gadis itu menyukai suaminya dan itu artinya cintanya memang bertepuk sebelah tangan dari awal. Tapi entah mengapa, untuk saat ini saja ia ingin bersikap egois. Ia tahu setelah ini pasti Yumi akan marah besar padanya dan yang paling parah bisa saja gadis itu tak mau lagi bertemu dengannya. Tapi Taemin ingin, ia ingin sekali walau hanya satu detik bisa memiliki gadis itu.

Perlahan ia semakin mendekatkan wajahnya pada Yumi hingga akhirnya bibirnya telah menempel sempurna di bibir gadis itu. Taemin bisa merasakan gadis itu terkesiap dan kedua tangan gadis itu yang semula masih menangkup wajahnya kini terlepas begitu saja. Taemin masih belum ingin mengakhirnya ketika kini tangannya justru menahan pundak gadis itu agar tak melepaskan apa yang ia lakukan.

Yumi diam, ia masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ada perasaan aneh menjalari dadanya hingga pikirannya berkelebat menampakkan wajah Jonghyun yang tersenyum padanya, Jonghyun yang tengah bernyanyi untuknya dan malam itu saat pertama kali Jonghyun menyentuhnya. Air mata Yumi menetes tanpa disadarinya. Hingga tautan bibir mereka terlepas karena Taemin menyadari Yumi yang menangis, gadis itu masih membeku di tempatnya.

“Mi-ya… maafkan aku!” ujar Taemin lirih. Kendati bibirnya mengucapkan maaf tapi tak ada penyesalan sedikitpun di hatinya. Sudah ia katakan bahwa ia ingin bersikap egois sekali saja.

Ia mengusap air mata Yumi. Gadis itu akhirnya merespon walau hanya berkedip.

“Me…mengapa kau lakukan itu?”

“Mi-ya maafkan aku,,, tapi aku menyukaimu-jauh sebelum Jonghyun hyung menikahimu. Maafkan aku, aku mencintaimu Choi Yumi!”

Gadis itu kembali terkesiap, ia benar-benar tak menyangka bahwa Taemin menyukainya. Selama ini ia mengira bahwa perhatian Taemin hanyalah karena ia menganggap dirinya sebagai saudaranya sendiri, mengingat bagaimana kedekatan mereka sejak kecil. Memang dirinya yang terlampau tak peka, atau karena Taemin yang terlalu mahir menyembunyikan perasaannya. Seandainya saja pria itu mengungkapakan perasaan jauh lebih cepat, mungkin keadaannya akan lain. Tapi kini gadis itu sudah bersuami dan Yumi sendiri sudah jatuh cinta pada suaminya, siapapun tak bisa menyangkal hal itu.

“Mi-ya, aku tak memintamu untuk membalas perasaanku. Tapi seandainya kau sudah menyerah dengan Jonghyun hyung kau bisa datang padaku kapan saja. Maaf aku sudah berbuat lancang…”

Yumi ingin mengatakan sesuatu ketika perutnya tiba-tiba saja terasa diaduk-aduk. Ia tak ingat ia telah memakan sesuatu yang salah, bahkan ia yakin ia belum makan apapun sampai saat Taemin mengajaknya ke kafe untuk minum coklat panas kesukaannya.

“Taemin maaf, tapi ak…” Yumi belum sampat menyelesaikan ucapannya ketika ia tak mampu lagi menahan perutnya yang terasa memberontak ingin memuntahkan apa saja isinya. Ia berlari ke kamar mandi.

“Mi-ya… kau kenapa?”

****

“Selamat Nyonya, anda hamil!”

TBC

Cuap-cuap: Aku selalu bertanya-tanya, mengapa menulis cerita yang mendayu-dayu itu jauh lebih mudah ya ketimbang harus membuat cerita yang sweet yang bisa bikin orang lain bisa ikut tersenyum. Aku tahu cerita ini jauh dari kata bagus tapi aku sudah berusaha, dari FF yang terbengkalai dan akhirnya memutuskan untuk meneruskan dan mengirimnya ke sini.

Dan sekarang aku GALAU, karena suasana cerita yang terlanjur mendayu-dayu kaya sinetron ber-season-season yang gak kelar-kelar. Aku jadi bingung Ending-nya harus aku buat gimana. Ayo kasih saraaaaan, atau aku endingin sama kaya apa yang muncul di otakku aja?? tapi ya gitu harus menyiksa Yumi lagi *digetok Yumi pake panci* Arrhhh~ bingung deh!

Kalo emang bisa, mungkin LM akan tamat di chapter depan. Terima kasih atas dukungannya selama ini, mulai dari komen-komen super membangunnya sampai yang bersedia menorehkan jempolnya, maaf gag bisa membalas apa-apa, Cuma bisa ngucapin terimakasih dan Chu~~~~ aku sayang kalian. Aku senang bisa jadi bagian dari Blog ini. *Eh, kenapa dari tadu cuap-cuapku kaya orang yang lagi pengen pergi gini ya….?? ahh~ abaikan!!*

Udah segitu aja cuap-cuap Azmi, terima kasih semuanya…. Pay Pay!! CLING~ *ngilang

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

29 thoughts on “Love Me – Part 9”

  1. Maaf thor br bisa komen skrng…
    Ff nya bagus bangettttt…
    Tp jngn bikin yumi nya sedih lagi dong…
    Kan yumi nya baru aja seneng….

  2. waaaaaaa tumben cepet *digetok azmi

    sekyung plis… ngapain dia mesti pengen nikah sebelum meninggal? aigo.

    JONGHYUN-A, JANGAN MAU NIKAH SAMA SEKYUUUUUUNG! *teriak depan dorm syaini*

    tbh emang sih cerita ini agak mendayu-dayu dan agak sinetron. Tapi ini bagus kok d^o^b

    ending ya? terserah aja deh hihi.

    seriusan chap depan udah ending? rasanya masih cukup banyak cerita yg diberesin deh. Atau cuma perasaan aku aja ya? haha maaf.

    1. huaaaaaaaaaaa……… sedikit bocoran yah,,, ternyata chap 10 belum bisa ending,,, bener kata kamu,, banyak yang belum diberesin… T.T
      makasih yah,,,

  3. kyl ff apa ya.. lupa.. di sini jg..
    sama kyk sekyung-jjong-yumi.. tp di ff itu key..
    eh tp tetep beda akar prmslhnnya…

    akhirnya yumi hmil..
    jgn dibikin nyesek dong yuminya.. jjong aj yg nyesek.. eh.. hahaha
    ditunggu lnjutannya

    1. eh? iya ta? aku gag tahu,,, coba kamu kasih link ff’a biar aku baca… maaf ya,,,

      tenang aja,,, habis ini Jjong yang tak bikin nyesek #evilsmirk

  4. hyaaah..bkalan miris lagi ne yumi…..
    bru ja ngalamin part bhgia…ckckck
    kasihan..kasihan..kasihan..

    klanjtannya dtggu y,,jgn lama2 yumi nyeseknya..kekeke

  5. yah.. baru aja yumi bahagia, kenapa sedih lagi sih??
    saya nyesek bacanya,sampe mata saya berkaca-kaca..
    ditunggu ya lanjutannya..

  6. yumi hamil?? WOW!!
    Jjong,, ayo jujur sma yumi soal sekyung..
    Taeminnie.. Jgn ganggu rumah tangga orang, ok? Ada noona di sini menantimu..#duagh.
    Next..

  7. thor pas bapaknya sekyung minta jjong nikahin sekyung sumpah nyesek,jangan biarkan yumi menangis thor . hidup yumi !! (?) dtunggu lanjutanya ^goodluck ya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s