Don’t Cry & Smile

Title     : Don’t Cry & Smile

Author : Christiana Ruyanti SWTH

Cast     : Kim Kibum ( Key SHINee )

Park Hyuna as You

Park Minyoung

Kel. Park & Kel. Kim

Genre  : Sad Story/ Romance

Rating  : PG 15

Length : One Shoot

Hey readers yang manis. ^^

Ini adalah fans fiction ketiga saya. Mencoba dengan oneshoot. Semoga alurnya gak bikin kalian pusing, soalnya oneshoot benar-benar bukan keahlian saya. (-_-‘) So, Jeongmal mianhae kalo cerita kurang dapet atau kurang bikin geregetan ya. ^^

Seperti biasa, saya mohon saran dan kritiknya. ^^

Happy Reading.

###

@Kediaman keluarga Park

Seorang yeoja manis turun dari mobil Hyundai putih dan berjalan melewati pagar rumah. “ Aku pulang.” Ucapnya dan langsung berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Saat akan menginjakkan kaki di anak tangga pertama dia dihadang oleh seorang pria paruh baya.

“ Ternyata kau masih ingat pulang. Kenapa tak keluar saja dari rumah ini HAH!” ucapan itu begitu membuat hati sang yeoja seperti ditusuk ribuan jarum.

“ Ah… ini dia. Park Hyuna. Kemana saja kau, saengiku yang cantik? Hah? Kulihat kau diantar oleh seorang namja kaya. Ajusshi mana lagi yang sukses kau goda?” ejekan itu semakin membuat yeoja bernama Hyuna itu ingin menangis. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.

“ PERGI SAJA KAU!!! DASAR ANAK TIDAK TAU DIUNTUNG!!! PERGI SAJA DENGAN SIAPAPUN ITU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI!!! AKU TAK SUDI PUNYA ANAK SEPERTIMU. MEMBUAT MALU KELUARGA SAJA!!!!!” teriakan itu terdengar sampai kedalam kamar.

Hyuna merosot kelantai mencoba untuk tak menangis. Namun sia-sia, bulir air matanya tetap mengalir bagaimanapun dia berusaha untuk menahannya. Hyuna bukannya ingin seperti ini, tapi dia benar-benar tidak mau membuat anggota keluarganya cemas. Siapa yang tau jika keadaanya akan memburuk seperti ini? Jika boleh memilih, dia ingin bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya. Nasi sudah menjadi bubur, dia harus melewati pertarungan ini. Walau Hyuna tau jika dia tak mungkin memenangkannya.

Hyuna berjalan menuju lemari pakaiannya, ia memasukkan semua pakaiannya kedalam koper besar miliknya. Setelah selesai, Hyuna berjalan mendekati meja belajarnya. Mengambil selembar kertas berwarna jingga, warna favoritnya dan mulai menulis.

Selesai menulis dikertas tersebut, Hyuna melipatnya dan memasukkan kertas tersebut kedalam amplop dengan warna senada. Hyuna mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat, diletakkan amplop besar itu di atas meja dan menaruh amplop jingga yang tadi diatasnya. Hyuna menatap kamarnya, kamar yang sudah 24 tahun ini menjadi temannya. Menemani kesehariannya, kamar dengan cat jingga yang selalu membuat hatinya tenang.

Hyuna mengambil kopernya dan menariknya keluar kamar, tak lupa mengunci kamarnya. Ia berjalan menuruni tangga. Appa, eomma dan eonninya sedang duduk di ruang keluarga. Hyuna pasti akan merindukan semua itu, tapi sudah tak ada waktu lagi baginya. Sudah cukup untuknya menyusahkan keluarganya ini.

“ Appa. Eomma. Eonni. Terima kasih dan maafkan aku karena selalu menyusahkan kalian. Setelah ini hiduplah dengan baik.” Ucap Hyuna dengan suara bergetar menahan tangis. Ia membungkukkan badan dan melangkah pergi.

“ Changi, kau yakin akan melakukan semua ini?” tanya namja yang saat ini sedang menyetir. Hyuna menatapnya sambil tersenyum manis.

“ Tenang saja oppa. Aku sudah meninggalkan sebuah pesan pada mereka, hanya tinggal menunggu waktu mereka menyadari semuanya.” Jawab Hyuna.

Namja itu mengemudikan mobilnya menuju apartermen mereka. Ia tau jika kekasihnya ini sedang menangis, namun apa yang bisa dilakukannya selain memeluk kekasihnya dan tetap menjaganya.

@ 6 bulan kemudian.

@ Kediaman Keluarga Park

“ Chagiya. Semalam aku bermimpi tentang Hyuna.” Ucap nyonya Park.

“ Kenapa tiba-tiba kau merusak mood ku, chagiya. Kau tau jika aku masih kesal dengan anak itu. Lihat, ini sudah 6 bulan dan anak itu tak pernah sekalipun memberi kabar. Sampai-sampai aku tak merasa jika dia adalah anakku.” Kata-kata tuan Park itu begitu menyakitkan hati.

“ Tapi mimpi ini berbeda, aku saja sampai menangis.” Ucap nyonya Park lagi. “ Memang kau mimpi apa? Anak seperti itu tak pantas untuk kau mimpikan.” Ucap tuan Park ketus.

“ Dia sangat cantik dengan gaun putihnya dan dia berkata … “ belum selesai nyonya Park bercerita, “ EOMMAAAA… APPAAAA… CEPAT KEMARI…” teriak seorang yeoja dari lantai atas. Tuan dan nyonya Park yang bingung, langsung berdiri dan berjalan menuju lantai ata.

“ Ada apa, Minyoung? Kenapa kau berteriak-teriak begitu?” tegur tuan Park. Mereka berdua masuk ke kamar yang sudah lama tak mereka masuki. Ya itu kamar Hyuna. Nyonya Park terkejut saat melihat putrinya itu menangis dengan memegang amplop.

“ I… ini… Hyuna.” Minyoung tak bisa melanjutkan kata-katanya, tuan Park mengambil amplop yang disodorkan oleh Minyoung dan mengeluarkan kertas di dalamnya dengan bingung. Tak berapa lama, kertas itu meluncur dengan indah ke lantai. Nyonya Park yang bingung dengan tingkah suaminya itu, segera mengambil kertas yang tadi terjatuh, ia membacanya

Teruntuk Eomma dan Appa juga nae eonni yang cantik.

Akhirnya kalian membacanya juga ^^. Bagaimana kabar kalian? Aku berharap kalian semua bahagia dan sehat selalu.

Eomma. Appa. Eonni. Mianhaeyo karena selama ini aku selalu membuat kalian marah dan merasa malu. Aku sendiri bingung bagaimana caranya untuk memberitahukan keadaanku yang sebenarnya pada kalian.

Aku tak ingin kalian khawatir. Tapi menurut Kibum, dia kekasihku eomma. Selama ini eomma selalu bertanya siapa kekasihku kan? Dia Kim Kibum. Jika Tuhan mengijinkan dalam waktu dekat ini kami akan menikah. Maaf karena memberitahukan kabar ini dengan cara yang kurang pantas. Aku hanya ingin kalian mendo’akanku dan Kibum.^^

Eomma. Appa. Eonni. Mungkin saat kalian menemukan surat ini dan lampirannya, yang aku yakin pasti sudah kalian lihat. Kita sudah tak dapat bertemu dan berkumpul. Aku pasti akan merindukkan kalian.Tetapi aku percaya, jika suatu saat nanti kita semua pasti akan berkumpul lagi. Aku akan pergi terlebih dahulu, menyiapkan rumah indah untuk kita disana.

Eomma. Appa. Eonni. Sekali lagi maafkan aku.

Aku benar-benar berharap sebelum kepergianku, aku bisa bertemu kalian. Melihat wajah kalian dan juga senyuman kalian.^^

Eomma. Appa. Eonni. Jagalah diri kalian dengan baik. Hiduplah dengan bahagia sampai saat kita berkumpul kembali.

Salam

Park Hyuna

 

“ A… andwae… chagiya. Ini hanya mimpikan?” seru nyonya Park yang kini sudah menangis di pelukan tuan Park. Berita ini sangat mengejutkan dan menyakitkan.

@ Kediaman keluarga Kim

“ Kibum. Kau mau kemana?” tanya seorang wanita paruh baya dengan ramah.

“ Aku harus pergi kerumah Hyuna. Ini sudah terlalu lama, kurasa keluarganya harus mengetahui yang sebenarnya, eomma.” Ucap Kibum.

“ Apa kau yakin? Bukankah Hyuna memintamu untuk tak memberitahukan tentang hal ini?” tanya nyonya Kim.

“ Tidak, eomma. Kurasa sudah cukup penderitaan Hyuna selama 6 bulan terakhir ini. Aku tak tega melihatnya terus menangis seperti itu, aku tak mau keluarganya menyesal karena tak mengetahui keadaan putrinya. Aku pergi dulu. Tolong temani Hyuna.” Setelah mengecup pipi sang eomma, Kibum segera pergi.

“ Annyeong Hyuna. Apa kabarmu, nak?” ucap nyonya Kim pada yeoja yang terbaring ditempat tidur. Setiap kali melihat Hyuna, nyonya Kim selalu menangis. Menantunya ini, sudah 1,5 bulan ini mengalami koma. Semakin lama, tubuhnya semakin kurus.

“ Hyuna. Apa kau tau, nak? Eomma sangat merindukan dirimu yang selalu tersenyum. Eomma ingin sekali lagi melihat senyumu itu. Eomma mohon sadarlah, Kibum selalu menantimu.” Ucap nyonya Kim lirih di dekat telinga menantunya.

@ Kediaman keluarga Park

Tuan dan nyonya Park juga Minyoung, terduduk diruang makan. Mereka masih terlalu terguncang dengan temuan mereka tadi. “ Kenapa? Kenapa dia tak pernah mengatakan pada kita? Kenapa dia menanggung semuanya sendiri? Kenapa?” isak nyonya Park.

“ Itu karena Hyuna terlalu menyayangi kalian.” Dengan serempak keluarga Park segera memutar tubuh kearah suara.

“ Siapa kau? Lancang sekali kau masuk kerumah kami tanpa permisi.” Seru tuan Park.

“ Maaf. Saya Kim Kibum. Saya adalah suami dari Park Hyuna, putri anda.” Ucap Kibum tenang.

“ Suami? Jangan bercanda… tau apa kau tentang Hyuna!” seru tuan Park. Kibum menghela napas, ia tau ini tak akan mudah.

“ Saya tau lebih dari yang kalian tau. Saya kemari, untuk meminta kalian ikut saya menemui Hyuna.” Sontak nyonya Park mendekati Kibum.

“ Kau Kim Kibum kekasih anakku. Kau tau dimana Hyuna? Kau tau? Antar aku, antarkan aku bertemu anakku. Kumohon.” Desaknya. Kibum hanya mengangguk.

@ 2 jam kemudian di kediaman keluarga Kim.

“ Hyuna disini?” tanya nyonya Park. Kibum mengangguk dan mempersilahkan ibu mertuanya itu masuk kedalam rumah.

“ Apa kau benar suaminya?” tanya Minyoung skeptis, Kibum hanya menunjuk sebuah foto dengan figura berwarna jingga. Tuan dan Nyonya Park menoleh untuk menatap foto itu.

“ Ya Tuhan… yeppo. Anakku… chagiya dia Hyuna.” Nyonya Park kembali menangis. Bukan karena melihat foto Hyuna yang duduk dikursi roda dan selang infus ditangannya. Tapi karena anak gadisnya itu terlihat sangat bahagia dan cantik dengan gaun pengantin putih sederhana itu.

Tiba-tiba nyonya Park terkejut, “ Ga…gaun ini… gaun inilah yang digunakan Hyuna dimimpiku semalam.” Ucap nyonya Park disela-sela isak tangisnya.

“ Apa maksud eomma?” tanya Minyoung bingung.

“ Semalam Hyuna datang kemimpiku mengenakan gaun ini. Dia sangat cantik. Dia berkata padaku, untuk selalu tersenyum dan… dan… dia berkata jika sekarang gilirannya menjaga kita.” Tangisan nyonya Park pecah seketika.

Kibum yang melihat hal itu hanya bisa diam “ Tenyata kau sudah mendahuluiku untuk memberitahu orang tuamu, changi.” Batinnya.

Disaat Kibum dan keluarga Park sedang menatap foto itu, nyonya Kim berlari sambil memanggil nama anaknya.

“ Kibuuumm… Kibum.. Hyuna.” Seru nyonya Kim sambil berlari mendekati anaknya.

“ Hyuna kenapa eomma? Katakan padaku?” tanya Kibum dengan wajah cemas, dia belum siap kehilangan kekasihnya itu.

“ Hyuna bangun, nak. Hyuna bangun. Cepat dia tadi mencarimu.” Nyonya Kim menggandeng tangan Kibum. Keluarga Park mengikuti mereka dari belakang. Mereka berhenti di depan pintu.

“ Aku masuk dulu. “ ucap Kibum dan dia melangkah masuk kedalam kamar.

“ Cha..ngi…ya.” ucap Hyuna lirih.

“ Hai, cantik. Ternyata kau sudah bangun. Bagaimana kabarmu?” tanya Kibum setenang mungkin, mencoba menghilangkan semua perasaan takut dan rasa khawatirnya.

“ Ba…ik. Kau?” tanya Hyuna sambil tersenyum.

“ Tentu saja aku baik dan tentu tetap tampankan.” Canda Kibum, “ Tuhan. Kenapa harus dia yang seperti ini?” ratap Kibum dalam hatinya.

Hyuna tersenyum lemah “ Kau selalu tampan, oppa.” Ucap Hyuna dengan suara yang sangat pelan, bahkan lebih seperti bisikan.

“ Changi. Aku membawa keluargamu. Kau mau bertemu?” tanya Kibum hati-hati. Hyuna mengangguk lemah. Kibum berjalan mendekati pintu dan membukanya. “ Masuklah.” Ucapnya. Mempersilahkan mertua dan kakak iparnya untuk masuk.

“ Hyunaaa… anakku.” Nyonya Park segera menghampiri anaknya dan memeluknya. Dia tak sanggup berkata apapun. Melihat putrinya terbaring ditempat tidur seperti ini, benar-benar membuatnya merasa gagal menjadi seorang ibu.

“ Eo…mma. Eo…n…ni.” Ucapnya.

“ Babo! Kenapa kau tak pernah bercerita? Kenapa kau membiarkan kami terus menerus salah paham?” seru Minyoung yang kini juga sudah terisak di sebelah ibunya, dia menyesali semua perlakuannya pada Hyuna. Selama ini Minyoung selalu saja memaki dan mengejeknya. Padahal dia sama sekali tak tahu apa-apa. Seharusnya dia bisa menjadi tempat Hyuna mencurahkan semua isi hatinya, tapi apa? Yang dia lakukan malah kebalikannya.

“ Mian… nak… maafkan eomma…” isak nyonya Park.

Kibum berdiri disamping tuan Park, lalu menepuk pundak sang ayah mertua. Menyadarkan tuan Park yang mematung. Ia benar-benar tak siap melihat putri yang sering dimarahinya dan di usirnya saat itu. Putrinya yang cantik, sekarang tergolek lemah dikasur dengan begitu banyak alat penopang kehidupan. Infus. Jarum. Monito Jantung.

“ Benarkah dia, Hyuna. Putriku menanggung semua ini?” tanya tuan Park lebih pada dirinya sendiri.

“ Bagaimana menurutmu, appa? Apakah itu terlihat seperti sandiwara?” Ucap Kibum, jujur saja. Selama ini Kibum merasa kesal dengan sikap keluarga Park, namun Hyuna selalu mengatakan “ Gwaenchanayo oppa. Semua ini memang salahku. Jangan salahkan mereka, karena mereka tak tahu apapun.”

Tuan Park berjalan mendekat. Hyuna langsung mengenali sosok itu, sosok yang selalu dirindukannya walau ayahnya itu sering sekali memarahinya. Hyuna tersenyum, dan senyum itu sukses membuat air mata tuan Park mengalir. Anak yang sudah ia sakiti, masih bisa tersenyum manis padanya. Tuan Park benar-benar merasa gagal. Gagal dalam semua hal. Ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi kenyataan yang saat ini sedang berlangsung.

“ Appa… apa ka…bar?” tanya Hyuna dengan sangat lirih dan tersenyum. Tuan Park berlutut dan menangis.

“ Ul…jim..ma.. jangan… menangis. Aku akan baik-baik saja, appa.” Ucap Hyuna. Kibum berjalan mendekat dan mengecup puncak kepala Hyuna dan duduk dikursi.

“ Gomawo… oppa.” Ucap Hyuna pada suaminya. Kibum tersenyum.

Hyuna bahagia. Karena seluruh orang yang dicintainya berkumpul disini bersamanya, bersama dirinya disaat-saat terakhirnya. Hyuna selalu memimpikan hal seperti ini. Saking bahagianya, tanpa terasa airmatanya mengalir.

“ Hyuna. Anakku. Kenapa?” tanya nyonya Park.

“ Karena aku tak ingin menyusahkan kalian.” Jawab Hyuna pelan.

“ Mianhaeyo eomma… appa… eonni.” Hyuna mengambil napas untuk memenuhi rongga paru-parunya yang kosong.

“ Karena selalu membuat kalian marah” sambungnya.

“ Sudah berapa lama?” tanya Minyoung.

“ 1 tahun dengan sekarang.” Kibum membantu Hyuna menjawab karena dilihatnya sang istri yang mulai susah bernapas. Nyonya dan Tuan Park terkejut mendengarnya.

“ Apakah karena ini kau selalu menghilang sampai berminggu-minggu? Dan sama sekali tak memberitahu kami? kau membiarkan kami salah paham dengan kelakuanmu selama ini?” Seru tuan Park. Jadi sikap Hyuna yang tidak biasa itu, dandanan yang tebal, dan selalu pergi begitu lama adalah untuk menutupi semua ini. Semua kenyataan itu membuat hati tuan Park sakit, sakit karena semua perlakuannya pada Hyuna. Ia kembali menangis.

“ Uljimma. Aku tak ingin melihat kalian menangis, tersenyumlah dan antar aku dengan senyuman.” Pinta Hyuna. Ucapan Hyuna membuat semua orang terisak.

“ Tidak! Kau tak boleh pergi lebih dulu… biar eomma dulu nak… kau tak boleh pergi… kami akan mengobatimu…” isak nyonya Park. Nyonya Kim mendekati besannya dan memeluknya.

“ Kumohon. Jangan menangis.” Ucap Hyuna.

“ Tersenyumlah. Aku rindu senyumanmu eomma.” Sambung Hyuna.

“ Babo! Kau harus sembuh.” Isak Minyoung.

“ Appa… appa minta maaf. Maafkan appamu ini, nak.” Ucap tuan Park.

“ Memangnya appa salah apa? Aku yang harus minta maaf. Tolong jaga eomma dan eonni, hiduplah dengan baik.” Ucap Hyuna yang sudah mulai kelelahan.

“ Eommonim.” Nyonya Kim mendekati Hyuna.

“ Aku sayang padamu. Terima kasih sudah merawatku selama ini.” Nyonya Kim hanya mengangguk dan membelai lembut wajah menantunya. Ia berusaha untuk tak menangis.

“ Oppa.” Hyuna menatap Kibum. Pria yang selalu menemaninya dan bersedia hidup dengannya walau tau keadaannya.

“ Ne, changiya?” ucap Kibum lembut.

“ Gomawo. Saranghaeyo oppa. Setelah aku pergi, menikahlah dengan eonni. Kalau dengan eonni, aku akan selalu bisa menjaga kalian.” Ucap Hyuna terbata-bata. Kibum dan Minyoung terkejut dengan ucapan Hyuna.

“ Eonni… Oppa… kabulkan  keinginanku ini. Kumohon.” Ucapnya lirih.

Kibum dan Minyoung hanya saling memandang, tak tau harus menjawab apa. Karena bagi Kibum, hanya Hyuna wanita yang dicintainya. Seakan bisa membaca pikiran sang suami “ Tak apa, oppa. Cinta itu bisa muncul dengan sendirinya.” Tiba-tiba Hyuna tersengal, seperti kehabisan udara.

Semua menjadi panik, Kibum segera menelpon dokter Kang. Ia memintanya datang segera. Hyuna terlihat begitu kesakitan, Kibum terus menemaninya.

“ Hyuna… changiya… changiya… bertahanlah… kumohon. Dokter Kang sedang dalam perjalanan kemari…” ucap Kibum.

“ O…pp…a.. berjan…ji…lah.” Ucap Hyuna di sisa tenaganya.

“ Aku berjanji.” Jawab Kibum dan Minyoung bersamaan.

Mendengar janji itu, Hyuna tersenyum dan “ Sam…pa…i ju..m..pa. Sarang…hae…yo.” Hyuna menutup matanya dengan senyum tersungging diwajahnya.

“ Yaaaaaa!!! Park Hyunaaaaaaaaaaaaaa… Jangan tinggalkan aku… kumohon bangunlah. YA! IREONA PARK HYUNA…” Kibum menangis histeris sambil memeluk tubuh sang istri yang sudah ditinggal pergi oleh sang pemiliknya, menuju dunia yang lebih indah.

“ Hyunaaaaa…” isak nyonya Kim dan nyonya Park.

Hari itu kediaman keluarga Kim dipenuhi dengan suara isak tangis yang menyayat hati.

Rasa bersalah, rasa menyesal, dan perasaan gagal terus menghantui hati keluarga Park.

@ 1 Tahun kemudian

“ Kibuuuuuummm… ppaliwa. Ini sudah pukul 8.” Teriak Minyoung.

“ Ne… Ne… Kau ini cerewet sekali sih.” Teriak Kibum tak kalah kencang. Dia segera menuruni tangga dan menghampiri Minyoung yang sudah berkacak pinggang.

“ Aigooo… changiya. Wajahmu cantik sekali jika cemberut begitu.” Goda Kibum sambil mengecup kening Minyoung.

Ya dua bulan setelah kepergian Hyuna, Kibum dan Minyoung melangsungkan pernikahan. Sebuah pernikahan sederhana yang mereka lakukan didepan foto Hyuna. Entah mengapa, disaat keduanya mengucap janji setia. Mereka melihat Hyuna dengan sayap putihnya, tersenyum dengan membawa seikat mawar putih.

“ Kajja. Para orang tua pasti sudah lelah menunggu kita dan aku tak mau dimarahi Hyuna karena telat.” Seru Minyoung.

“ Ne… ne… ayo kita pergi menemui changiku yang satu lagi.” Kibum menggandeng tangan Minyoung.

= END =

Huaaaaaaaaaa akhirnya selesai juga. Bagaimana menurut kalian? Baguskah? Mohon komennya ya. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Don’t Cry & Smile”

  1. chagiya/jagiya.. bukan changiya.. hehehe

    alurnya sedikit kecepetan.. tp… sadnya dpt nih.. qm sukses bkn aq mewek T.T

    keep writing..
    tulisannya diperbaiki lagi ya 🙂

  2. Aigoo aku sediih hyuna meninggal akhirnya 😦 ramee banget ceritanya sedihnya dapet! Ayo thor di tunggu ff lainnya yaa 😀

  3. Chagiya ching, bukan changiya ._. Ffnya keren thor ‎​​\(´▽`)/ tapi alurnya kecepatan. Keep writing ya 🙂

  4. Thor, bukanny chagi ato jagi?

    Uwaaaaaaa:'(feelny kerasa bgt!sampe nangis nih baca ff nyaaaaa!sequel dong thoooor!

  5. Bacanya aku hanya berucap, untung aja mertuanya hyuna baik. Wakaka

    Tapi agak sedikit terganggu. Yang bener chagiya atau changiya ya? Kalo aku sih terbiasa dengan chagiya. Awalnya aku pikir typo, tapo karena sampai bawah sama aja jadi agak sedikit menganggu.

    Tapi nice story kok ^^ keep writing.

  6. Feelingnya dapat bgt, bikin gue melting aja.. Hikss T.T..

    @Author: Thanks karyanya, keep moving forwards :))

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s