Piece of Memory – Part 2

Piece of Memory [Piece 2]

Author             : ZaKey

Main Cast        : Choi Minho, Lee Taemin

Support Cast    : Choi Jinri (Sulli), Kim Kibum (Key)

Minor Cast      : Kim Jonghyun, Lee Jinki (Onew)

Length             : On Going

Genre              : Life, Shounen-Ai

Rating              : Teen

Disclaimer       : I do not own the character – they belong to God and themselves. The plot and the story are mine; it also published at my own wp

~~~~~~~

Taemin tak berani menatap kedua manik mata Minho bahkan setelah mereka tiba di apartemen. Ia mengetahui Key cepat-cepat menghubungi Minho begitu dirinya pingsan di dalam practice room dari percakapan canggung mereka. Entah bagaimana dia dapat masuk ke dalam mobil, tapi sepanjang perjalanan ke apartemen Minho terus merangkul pundaknya. Jujur saja ia tidak merasa selemah itu tapi juga tidak yakin dapat berjalan tegak setelah sengatan kenangan siang tadi.

Bicara soal sengatan… Taemin melirik Minho yang membelakanginya di dapur. Taemin bisa memastikan dirinya sama sekali tidak menganggap Minho lebih dari sekadar penyelamat, tapi tiap kali Minho menatapnya dalam, ia merasa sengatan listrik dalam dadanya – mungkin dirinya dulu melihat Minho dari sudut pandang yang berbeda. Dulu.

Taemin menangkup cangkir susu dengan kedua tangan, menikmati kehangatan yang menyebar ke lengan dan seluruh tubuhnya. Ia terlalu sibuk memperhatikan permukaan tenang susu putih tersebut sampai tidak menyadari Minho sudah duduk di sampingnya. Mereka duduk di sofa ruang tengah selama beberapa menit tanpa ada yang berniat membuka percakapan.

“Aku akan menelepon wali kelasmu untuk mengizinkanmu tidak masuk besok,” ucap Minho seraya mengambil ponsel touch-screen dari atas meja rendah. Ia terdiam sejenak, lantas bertanya, “Kenapa kau tadi tidak membawa ponsel?”

“Aku tidak tahu dimana ponselku,” lirih Taemin. Ia bahkan melupakan teknologi praktis bernama ponsel. “Lagipula aku tidak membutuhkannya.”

“Tidak? Bagaimana kita bisa saling berkomunikasi jika kau tidak membawanya?” Minho mendesah pelan, menggumamkan “tunggu sebentar” sebelum berdiri dan menghilang di balik pintu kamar.

Taemin mendongak mendengar denting samar dari ponsel Minho di atas meja. Ada pesan masuk. Saat Taemin berniat melanjutkan lamunannya dengan memandangi susu, matanya menangkap kilas gambar pada layar ponsel Minho.

Sedikit gelap karena kuncinya belum dibuka, tapi ia bisa memastikan bahwa wallpaper ponsel tersebut adalah foto dua orang. Dirinya dan Minho.

Aneh, bukankah Sulli bilang Minho adalah tunangan kakaknya? Lalu mengapa Minho justru memasang foto mereka di ponsel? Tidakkah ini sedikit mencurigakan? Taemin menggeleng-gelengkan kepala dan mendesah lirih. Ia tidak ingin berpikir lagi, setidaknya untuk hari ini. Sudah cukup mengerikan ketika sekeping ingatan menghampirinya siang tadi.

Minho kembali dengan ponsel putih ber-case hijau terang. Ia duduk di samping Taemin. “Ini ponselmu. Kau meletakannya di karpet.”

“Oh?” Taemin menerima ponsel itu, memandangi layar sentuh yang gelap. Ia merasa pernah menggunakannya, tapi bukan sebagai miliknya sendiri – seperti meminjam? Ia juga tidak begitu yakin.

“Jangan bilang kau tidak tahu cara menggunakannya.”

“Tidak,” sahut Taemin. Semenit lagi penuh kecanggungan; mungkin ini saat baginya untuk menyingkir dari hadapan Minho. Ia menghabiskan susunya dan bergerak berdiri. “Terima kasih, Minho ssi. Aku akan tidur duluan.”

Taemin akan segera berlalu jika saja tangan hangat Minho tidak menyentuh pergelangan tangannya. Taemin mengerjapkan mata beberapa kali. Bingung. “Ada apa?”

“Apakah kau benar-benar lupa atau sekadar ingin menghindar?” Minho bertanya putus asa. Melihat Taemin hanya mematung, ia ikut berdiri. “Apakah kau berniat memulai segalanya dari awal? Apakah kau berencana menolak kenyataan? Kumohon ungkapkan apa rencanamu.”

Taemin merasa kepanikan melandanya. Apa maksud Minho sebenarnya? Menghindar? Memulai dari awal? Menolak kenyataan? Dia benar-benar….

“Aku tidak tahu apa maksudmu,” katanya mewakili segala pertanyaan yang berputar cepat di otaknya.

Minho tertawa getir; tangannya kini bergerak naik ke pundak, lalu merambat ke leher jenjang Taemin. “Kau tidak ingat apa pun? Kau tidak ingat kenapa kau berada disini?”

“Bukankah kau bilang karena orang tuaku masih ada di Perancis?” Taemin balik bertanya polos. Ia ingin segera pergi, tapi lagi-lagi sebagian kecil dirinya ingin menikmati sentuhan Minho di tengkuknya.

“Lupakan kata-kataku.” Minho menurunkan tangannya dan tersenyum simpul. “Selamat malam, Taemin-ah. Mimpi indah.”

~~~

Kau diberi satu lagi kesempatan untuk hidup.
Cari Kim Jonghyun – ketahui apa yang harus kau ketahui dan ungkapkan apa yang harus kau ungkapkan.
Waktumu hanya lima hari terhitung dari sekarang.

Ia harus segera menemukan Kim Jonghyun.

Pikiran itu melintas begitu saja di benak Taemin hanya sedetik setelah membuka mata keesokan harinya. Ia menatap sinar matahari yang menerobos kerai. Sepertinya ia bangun sedikit terlambat hari ini.

Baru saja ia hendak turun dari tempat tidur, benda persegi panjang tipis di atas meja belajar menarik perhatiannya. Benar juga, ia memiliki ponsel. Mungkin saja ia mengingat sesuatu dari sana.

Ada 113 pesan singkat dan 72 panggilan tak terjawab. Taemin bertanya-tanya seberapa populer dirinya ketika melihat sebagian besar pesan dikirim oleh nomor tak dikenal dan menggunakan ‘Oppa’ untuk memanggil dirinya. Kelihatannya mereka semua mengkhawatirkanku, pikir Taemin geli. Ia menggeser inbox terus ke bawah, berharap menemukan sebuah nama yang dikenalnya.

Key dan Sulli termasuk di dalamnya. Bukan mereka, batinnya putus asa. Dari keseluruhan pesan yang belum dibuka ini pasti ada yang menjadi petunjuk untuk meraih kembali ingatannya. Ia baru saja akan mengecek panggilan tak terjawab ketika satu nama menarik perhatiannya.

Yeseul nuna.

Seketika itu juga kepala Taemin seolah ditusuk dari belakang. Siapa orang ini? Apa hubungannya dengan dirinya? Entahlah, otaknya menolak memikirkan nama itu. Ia merasa sangat aneh – rindu, marah, sedih, kecewa, dan sayang bercampur menjadi satu.

Tidak, tidak. Taemin meletakkan ponsel ke meja. Ia hanya harus mencari Kim Jonghyun, bukan orang yang menyebabkannya menderita ini. Setelah cukup yakin dirinya tak apa, Taemin meraih kembali ponselnya dan memutuskan membuka kontak.

Melihat nama Kim Jonghyun terselip di antara beberapa ratus nama yang tidak dikenal membuat Taemin merasa dibanjiri kelegaan. Ia tidak tahu tujuan mencari Kim Jonghyun, tapi setidaknya dengan menghubungi nama ini dan bertanya beberapa hal, ia bisa mencari tahu apa yang membuat suara lembut bergaung di kepalanya sebelum bangun tidur.

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, Taemin sudah menempelkan ponsel di telinga, mendengarkan nada sambung panjang dan monoton yang seolah tiada akhir. Bagaimana jika Jonghyun tidak mengangkat teleponnya? Bagaimana jika….

“Yoboseyo?

Suara serak itu membuat Taemin nyaris melonjak senang. Ia dapat menghubungi Kim Jonghyun semudah ini!

Hei, jangan bercanda. Aku akan segera menutup telepon jika kau hanya bermaksud mengganggu tidurku.”

Taemin tergagap, “Maaf, benar ini Kim Jonghyun?”

Yap, siapa ini?” Hening sejenak. “Suara ini… kau Taemin?

“Eh? Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taemin cepat. Jika mereka memang sudah saling mengenal, maka ia tak harus berbasa-basi mencari topik pembicaraan yang tepat.

Untuk apa kau meneleponku? Tidak puas hanya dengan Minho, huh? Aku bertaruh kau menyesal dan ingin pulang. Tapi jangan harap, boy. Setelah apa yang telah kau lakukan, aku ragu kau bisa diterima di keluarga Lee lagi.

“Ba – hei, apa maksudmu? Tunggu, aku harus bicara denganmu. Hei, tunggu!”

Terlambat. Kini yang terdengar hanyalah nada panjang tanda hubungan telah berakhir. Taemin cepat-cepat menekan ‘Redial’, tapi tidak ada jawaban. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya suara operator mengumumkan bahwa ponsel Jonghyun sudah non-aktif.

“Oh, sial,” rutuk Taemin lirih. Ia memandangi layar sentuh ponselnya seolah dengan begitu orang bernama Kim Jonghyun itu akan balik meneleponnya. Lalu apa yang harus ia lakukan? Jika tidak dengan telepon, maka ia harus menghampiri Kim Jonghyun sendiri, bukankah begitu?

Minho sedang menelepon seseorang saat Taemin keluar dari kamar. Lelaki itu awalnya tidak menyadari kehadiran Taemin, tapi sedetik kemudian, saat membalikkan badan, ia melempar senyum manis padanya.

“Selamat pagi.” Minho menyapa tanpa suara karena pada saat itu ia juga mendengarkan lawannya berbicara. Mereka membahas sesuatu yang berkaitan dengan materi perkuliahan dan Taemin menyadari bahwa ia mengerti apa yang mereka bicarakan.

Taemin memperhatikan beberapa pigura yang ditempel di dinding. Foto Minho sejak kecil sampai dewasa, beriringan dengan foto sepasang suami-istri yang ditebak Taemin sebagai orang tua lelaki itu. Ini album keluarga, Taemin menyimpulkan. Tunggu, bukannya kemarin Sulli bercerita….

“Minho ssi,” panggilnya ketika Minho sudah mengucap selamat tinggal. Minho menoleh, menatapnya heran sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana.

“Ya?”

“Bagaimana kabar kakakku?” tanya Taemin ragu. Menyadari perubahan ekspresi Minho, ia melanjutkan, “Dia tunanganmu, bukan?”

“Taemin-ah, aku benar-benar tidak mengerti dirimu,” desah Minho seraya menjatuhkan diri di atas sofa. Lelaki itu tidak membalas tatapannya meski Taemin berjalan mendekat.

“Apa maksudmu?”

“Kau sendiri yang bilang tidak ingin membahasnya lagi. Bukannya kau mencoba bunuh diri karena berusaha melupakannya?” Minho menjepit batang hidung dengan telunjuk dan ibu jari lantas menggeleng pelan. “Bagaimana mungkin kau ingin tahu keadaan wanita yang sudah menyakitimu?” gumam Minho lebih pada dirinya sendiri.

Perlahan Taemin duduk di sebelahnya. “Kau lupa fakta bahwa aku hilang ingatan? Aku hanya ingin tahu, itu saja.”

“Berarti doamu dikabulkan Tuhan – ini pertama kalinya aku bersyukur karena kau tidak mengingat apa-apa,” kata Minho sembari mengacak pelan rambut Taemin. Saat mata mereka bertemu, Minho memberikan senyum samar. “Aku harus kuliah sekarang. Jika ada apa-apa hubungi aku, ara?”

Minho tidak menunggu jawabannya karena bergegas beranjak ke kamar mandi. Taemin sadar lelaki itu hanya ingin menghindar. Ia ikut berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang tengah sebelum berhenti di depan jendela yang menghadap ke jalan raya yang mulai dirambati mobil beraneka ragam. Taemin tersadar dirinya hari ini tidak masuk sekolah tatkala melihat serombongan murid berseragam berjalan menyusuri trotoar. Tapi tidak – ia tidak mungkin menghabiskan seharian ini hanya dengan berleha-leha. Ia harus melakukan sesuatu.

“Minho ssi,” panggil Taemin di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Suara kucuran air berhenti, lalu Minho membalas panggilannya dengan tak begitu jelas. Ia meneguk ludah sebelum berkata, “Aku akan keluar sebentar.”

~~~

Taemin menghentikan langkah di trotoar hanya untuk mengecek ponsel, berharap adanya pesan singkat atau telepon dari Kim Jonghyun. Nihil. Ia sudah menduganya.

Diperlukan adu mulut kecil dan beberapa argumen kuat untuk membuat Minho mengizinkannya keluar sendirian. Ucapan Sulli benar; Minho memang sangat posesif dan keras kepala, nyaris seperti dirinya sendiri.

Ia sudah berjalan beberapa jam memutari sudut-sudut kota yang ramai. Seperti yang sudah ia duga, ia tahu nama tempat-tempat yang baru saja dilewati dan apa saja yang ada di dalamnya, tapi tidak ingat apa pun mengenai dirinya. Perasaan membingungkan ini mirip saat ia mengerti pelajaran dengan mudah kemarin tanpa mengerti siapa saja anggota keluarganya.

“Hei, hati-hati!”

Taemin terkesiap saat ponselnya jatuh. Sepertinya ia berjalan dengan melamun barusan hingga menabrak seseorang. Ia menggumamkan maaf dengan asal dan membungkuk untuk mengambil ponselnya sebelum orang lain menginjaknya.

“Oh, Taemin-ah?”

Taemin mendongak, menyadari bahwa orang yang baru saja ditabraknya adalah Key; rambut pirang terang dan beberapa tindik di kedua telinganya membuat Taemin mudah mengenali pria itu. “Key ssi? Ah, maaf aku tidak melihatmu barusan.”

“Aku tidak menduga akan bertemu denganmu disini. Membolos sekolah, huh?” Key tertawa pelan seraya menarik pundak Taemin menjauh ke tempat yang sedikit lengang agar mereka dapat berbincang dengan leluasa.

“Tidak.” Taemin urung menjelaskan karena itu hanya membuatnya berkata hal yang tidak perlu. “Senang bertemu denganmu lagi.”

“Wow, benar kata Sulli – kau berubah setelah keluar dari rumah sakit!” kekeh Key. “Dari mana kau belajar tata krama? Lee Taemin yang kukenal bukanlah orang yang berbicara sopan pada orang selain keluarganya,” lanjutnya tanpa mengurangi kadar tawanya, seolah yang baru saja dikatakannya adalah hal paling lucu di dunia.

Jadi Lee Taemin adalah orang yang banyak bicara dan urakan, Taemin menarik kesimpulan dari perkataan Sulli dan Key. Bagaimana pun ia tetap bertanya, “Kau mengenal orang bernama Kim Jonghyun?”

Tawa Key lenyap. Raut wajahnya dengan segera berubah menjadi serius. “Kupikir kau tidak ingin membahas orang itu lagi.”

“Kau mengenalnya?”

“Apa yang coba kau bicarakan, Taemin-ah?” Key balik bertanya, nadanya pahit. “Kau dulu selalu mengeluh soal pacar kakakmu itu.”

“Bukankah Minho tunangan kakakku?”

“Aku tidak tahu apa maksudmu, Taemin-ah. Kalau pun kau ingin bercanda, itu sama sekali tidak lucu.”

Oh ya, kemarin Taemin mendengar dari Sulli bahwa perjodohan itu sudah direncanakan orang tua kedua pihak. Key kembali berbicara sesuatu yang tidak berkaitan dengan apa yang butuhkan tapi ia tidak mendengarkan. Matanya menerawang ke tempat yang jauh, berusaha membayangkan rupa kakaknya yang disebut ketiga orang yang dikenalnya saat ini.

Sulli yang tidak menyukai Minho. Minho yang menghindari pembicaraan tentang kakak Taemin. Key yang mengenal Kim Jonghyun. Segalanya saling silang di otak Taemin – beberapa keping puzzle sudah ditemukan, hanya letaknya kini yang harus ia pikirkan.

Ya, Taemin-ah!”

Taemin tersentak kembali ke kenyataan. Ia mengulas senyum minta maaf. “Maafkan aku. Apa katamu tadi?”

Key menaikkan letak kacamata berbingkai hitam yang melorot ke batang hidung. “Aku barusan berkata akan segera pergi. Aku ada kuliah pukul sebelas. Bye.”

Sepeninggal Key, Taemin masih termangu di tempat yang sama. Pikirannya buntu. Jauh, sangat jauh di dalam hatinya, ia merasakan ingatan yang harus ditemukan dalam kurun waktu tertentu ini akan membawanya ke momen penting dan tidak mungkin jika dibiarkan begitu saja. Tapi ia harus pergi kemana lagi?

Mata Taemin tertuju pada mobil-mobil yang melintas. Apakah ia bisa mengemudi mobil? Tiba-tiba ia bertanya-tanya dalam hati. Dimana rumah aslinya? Siapa nama orang tuanya? Siapa kakaknya yang dibicarakan?

“Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau mengecewakanku!”

“Aku….”

“Kumohon tinggalkan aku sendiri.”

“Aku minta maaf.”

“Pergi dari sini!”

Laki-laki dan perempuan. Dua perasaan yang berkebalikan. Lokasi dan waktu yang masih samar. Segalanya menyerang kepala Taemin. Ia seolah dihimpit oleh dua kutub yang berbeda; kuat tapi terlalu berlawanan sampai membuat pikirannya seakan dipaksa terpisah hanya untuk merasakan kedua perasaan tersebut. Taemin merasa seluruh udara dalam paru-parunya dipompa keluar. Pandangannya menggelap dan kedua tungkainya gemetaran.

“Dengar, aku tidak peduli apa alasanmu, tapi sekarang aku hanya mempercayai apa yang kulihat.”

“Tidak, ini suatu kesalahan!”

“Kesalahan? Beritahu aku bagian mana yang salah.”

“Aku – “

“Kau terlihat tersiksa.”

Taemin memaksa otaknya menembus badai kenangan untuk melihat orang yang berdiri di hadapannya. Segalanya tampak buram dan kabur, tapi Taemin bisa menangkap kesan bahwa lelaki ini tidak memandangnya iba.

“Kau hanya membuang waktu dengan seperti ini.” Lelaki itu menghela napas, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri – Taemin tak yakin kapan dirinya merosot ke tanah.

“Dengar, ini melanggar peraturan, tapi aku bisa sedikit membantumu.” Genggaman tangan lelaki itu menguat; hangat dan membuat Taemin perlahan dapat mengendalikan diri.

“Siapa kau?” tanya Taemin setelah menemukan kembali suaranya.

Terdengar tawa renyah. “Kau bisa menganggapku siapa saja.”

~~~

“Dari mana saja?”

Taemin berhasil mencapai apartemen Minho tepat saat jarum jam menunjuk pukul tiga sore. Sebenarnya ia tidak keluyuran terlalu jauh, tetapi dengan gempuran kilas memori, ia merasa dua puluh tahun lebih tua; tenaganya terkuras habis dan ia harus berkonsentrasi penuh untuk mengingat alamat apartemen.

“Hanya berjalan-jalan sedikit,” jawab Taemin sembari melepas jaket dan menggantungnya di gantungan dekat pintu depan. Di luar sedikit hujan, tapi ia cukup beruntung untuk tidak basah kuyup dan membuat Minho semakin khawatir.

Minho keluar dari dalam kamar dengan membawa laptop di tangan dan beberapa lembar kertas di antara bibirnya yang terkatup. Dengan matanya ia memberi isyarat bagi Taemin untuk duduk di ruang tengah bersamanya.

“Key tadi bercerita bertemu denganmu,” ungkapnya setelah meletakkan laptop berikut kertas-kertasnya di meja rendah depan sofa. Ia menunggu Taemin duduk di sampingnya sebelum mengatakan, “Kau bertanya soal Jonghyun, eh?”

“Hanya penasaran,” gumam Taemin. Ia sedang tidak ingin mengobrol dengan Minho.

“Kau mengingatnya? Kau melupakan semua orang – termasuk aku – kecuali Kim Jonghyun?” tanya Minho lagi dengan nada meninggi. Ia berusaha tampak biasa saja tapi gagal karena kertas di tangannya justru remuk saat ia berbicara.

Taemin terdiam dengan mulut mengerucut selama beberapa saat. “Entahlah, aku merasa harus mencarinya.” Ia memulai lambat-lambat. Saat Minho hanya diam, ia memutuskan menjelaskan tentang suara yang berbisik tentang Kim Jonghyun, minus hitungan mundur hari yang tersisa.

“Hanya sugesti,” tanggap Minho dingin. Taemin mencermati kertas malang yang ada di tangan Minho kini dijatuhkan begitu saja di karpet bawah mereka. “Mungkin kau melakukan hal yang salah padanya.”

“Bagaimana aku tahu jika ia tidak menjawab teleponku?” desah Taemin. Ia memperhatikan Minho menyalakan laptop, lalu cepat-cepat berpaling kala pria itu membalas tatapannya.

“Hei, jangan dianggap serius.” Minho mengacak rambut Taemin dan menahan tangannya di puncak kepala sedikit terlalu lama. “You know what? Kau dan Jonghyun tidak pernah bertemu.”

Jinjja?”

“Sejauh yang kutahu, iya. Tanya saja Key jika tidak percaya,” sahut Minho dan kembali menatap layar laptop. Jemari kedua tangannya saling menaut dan ia mendaratkan dagu di atasnya. Merenung.

“Omong-omong, kau dan Key satu kampus?” Taemin memecah keheningan.

“Sejak SD sampai sekarang kami tidak pernah terpisah. Kuakui aku tidak lagi sering keluar bersamanya,” Minho menoleh dan menatapnya lembut, “sejak aku bertemu denganmu.”

E-eeh?” Taemin merutuki jantungnya yang berdegup dua kali lebih cepat dan semburat merah yang mulai menjalari pipinya hanya karena kalimat pendek Minho. Ia menunduk, mengembalikan lagi semua logika yang sempat terpencar ke segala arah selama sepersekian detik. Setelah yakin perasaan aneh itu berlalu, ia membalas tatapan Minho.

Minho masih menatapnya, kini tanpa ragu menyingkirkan sehelai rambut dari dahinya dengan begitu lembut. Entah apa yang terjadi selanjutnya jika ponsel Minho tidak menjerit seketika. Minho menggumam tak jelas dan berdiri sebelum mengangkat telepon.

Taemin terbatuk pelan, tak percaya dirinya membiarkan Minho menyentuhnya. Tidak, tidak. Ia harus tetap sadar agar tidak berbuat sesuatu yang aneh dan tak wajar. Ia melangkah menuju jendela, memandangi jalan yang berkilat karena air hujan.

Tatapannya tertuju pada boks telepon yang berdiri di seberang jalan. Kosong, tapi ia nyaris dapat melihat seseorang berdiri disana. Seorang perempuan. Memegang gagang telepon dengan satu tangan dan secarik kertas kecil di tangan lain. Secara berkala matanya yang terhalang poni menatap ke atas, melewati kaca boks, menghindari kabel listrik, terus ke atas menuju jendela apartemen. Menatap langsung ke arah Taemin.

Taemin terhuyung mundur. Tidak, itu tadi hanya imajinasinya. Boks telepon itu kosong, baik tadi maupun sekarang. Ia menghela napas pelan, berusaha mengenyahkan sorot cemas bercampur marah milik perempuan itu dari otaknya. Ia pernah melihat perempuan itu, tapi entah dimana.

Merasa tidak ingin menatap jendela lagi, Taemin berbalik memandang ruang tengah tempat Minho sudah duduk manis berkutat dengan laptop. Kapan Minho selesai bertelepon? Apa dia memandangi jendela terlalu lama? Rasanya seperti waktu dihentikan saat ia melihat kilas bayangan perempuan itu.

Taemin memutuskan masuk ke kamar daripada berdiri seperti orang bodoh di ruangan yang sama dengan Minho. Ia mencermati rak buku mungil yang berdiri di samping tempat tidur. Kebanyakan buku berhubungan dengan Sastra dan beberapa komik Jepang, serta segelintir majalah olahraga tua. Jemari Taemin mendadak berhenti di punggung buku lusuh yang terselip di antara dua kamus tebal.

Taemin menariknya keluar, mengamati sampul kulit hitam polos tanpa tulisan apa pun. Ada sesuatu di dalam buku ini – seluruh tubuhnya mengatakan demikian. Dengan amat perlahan ia mengelus sampul, lalu meraih pinggirannya untuk segera membuka.

“Taemin-ah?”

Refleks Taemin menyembunyikan buku itu ke balik punggung saat mendengar suara Minho memanggilnya. Ia cepat-cepat berdiri, memposisikan agar buku tersebut tidak terlihat saat Minho mengintip melalui pintu yang belum menutup sempurna.

“Eh. Ada apa, Minho ssi?” tanya Taemin, berharap suaranya terdengar natural.

Minho mengendikkan bahu ke arah ruang tengah. “Aku hanya ingin bertanya apakah kau tidak keberatan jika menemaniku berbelanja.” Ia berhenti sejenak, mencermati Taemin sebelum melanjutkan, “Apa kau terlalu lelah untuk itu?”

Taemin menggeleng. “Tidak, aku akan menyusulmu setelah err… berganti baju. Tunggu di luar saja – hanya sebentar.”

Untuk alasan yang tidak diketahui, Taemin merasa seperti baru saja tertangkap basah mencuri sesuatu. Segera setelah Minho keluar, ia berjongkok dan membuka halaman buku yang ternyata sebuah diary tersebut, memindai tanggal berikut topik utama tiap lembarnya secepat yang ia bisa. Sejauh yang Taemin pantau, tidak ada yang aneh – hanya catatan biasa yang menggambarkan kehidupan anak SMA beberapa tahun lampau.

Gerakan tangan Taemin terhenti di halaman paling akhir. Sebuah catatan acak-acakan yang ditulis menggunakan pensil tipis dan berkerut-merut akibat pernah dibasahi air. Taemin memfokuskan pandangan untuk membaca catatan tersebut.

Aku melihatnya. Seorang laki-laki kecil yang menghadiri upacara kelulusan. Dia datang bersama kedua orangtuanya untuk melihat kakaknya. Siapa gerangan orang beruntung yang bisa menjadi kakak malaikat kecil itu? Ah, atau kusebut sangat sial karena hanya bisa menyayanginya sebatas kakak?

Berkat popularitasku, akhirnya aku tahu dia adik salah seorang siswi kelas 3-B. Seorang gadis pendiam yang ternyata merupakan anak sulung pemilik Lee Corporation (aku tak peduli dengan detail ini, sungguh!) dan malaikat kecil itu adalah adik angkatnya. Tidak ada yang tahu nama malaikat kecil itu. Tidak ada yang berani bertanya pada siswi kelas 3-B tersebut.

Salah satu anak kelas sebelah baru saja memberitahuku nama malaikat kecil itu.

Lee Taemin. Nama yang manis.

Buku itu jatuh dari tangan Taemin begitu saja. Seluruh tubuhnya digerayangi perasaan aneh antara tersanjung dan jijik yang sulit dijelaskan. Jadi sejak dulu Minho tidak menganggapnya sebagai teman biasa? Jadi itu arti tatapan lembut Minho?

“Taemin-ah, kau sudah selesai berganti baju?”

“A – aku….” Taemin meneguk ludah. “Maaf, mendadak aku merasa sangat lelah.”

Perasaan Taemin begitu teraduk kali ini; ia memutuskan tidak memikirkan apa pun sampai besok pagi.

..::To be Continued::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “Piece of Memory – Part 2”

  1. give me more oxygen reading this fanfiction!!

    author keren nulis nyaaa!!

    sumpaaah.. plot nya bikin dag-dig-dug serrr

  2. Ceritanya bagus.
    Tapi pas ditengah sampe udah mau akhir, itu jalan ceritanya malah bikin bingung.
    Tapi, keren. Ditunggu next part. 🙂

    1. Bingung ya? Mungkin karena kamu belum baca part sebelumnya. Tapi yaa, memang secara keseluruhan (mulai dari awal sampe akhir) bikin bingung sih, so beware. Hahaha 😀

      Thanks for commenting ^^

  3. Tambah penasaran
    Kayaknya kakaknya tetem mati deh gara” tetem makana dy disuruh minta maaf sama jonghyun yg notabene pacarkakaknya tetem

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s