God Must Be Hate Me [2.3]

Title : God Must Be Hate Me ( 2.3 )

Subtitle : [Before Story] ‘Cause We’re Together #Jinki Vers.

Author: Boram.Onyu

Cast: Lee Jinki, Lee Eunmi

Support Cast : Lee Yun Seong ( Jinki’s Father ), Lee Hyun Ah ( Jinki’s Mother )

Length: Trilogy

Genre: Romance, Family, Angst, School Life

Rate : G

Recommended Song : SHINee-Life, SM artist-Dear My Family ( OST.I AM )

Disclaimer: Jinki milik saya, TITIK!

Summary :

Ataukah ia harus mengeluh pada takdir Tuhan yang membuatnya terlahir dari pasangan yang terjalin dalam pernikahan tanpa didasari cinta?

Jinki meniup lilin berangka tujuh belas yang tertancap di atas kue tart berlapis coklat di sekelilingnya. Senyumnya menghiasi wajahnya saat melihat kedua orang tuanya tersenyum sangat manis padanya. Sebuah pisau kecil dipakainya mengiris kue itu, dan sinar blitz yang mengenainya membuatnya kembali tersenyum lebar.

“ Saengil chukkae, sayang. “

Sebuah ciuman hangat mendarat di kedua pipi Jinki. Sebelah kanan oleh eummanya, sedang pipi kirinya oleh abojinya. Sinar blitz kembali mengenai mereka. Sepotong kue yang baru saja teriris dipotong dua oleh Jinki. Secara bersamaan kedua potongan itu dimasukkan ke dalam mulut aboji eummanya.

“ Ah, sepertinya aku harus segera mandi. Eomma, aboji, gomawo untuk pestanya. “

Jinki menundukkan badannya, lalu segera menapaki tiap jenjang tangga dengan langkah tergesa. Ekor matanya melirik aboji dan eummanya yang sibuk membersihkan hasil pesta kejutan kecil yang dirayakan khusus untuk ulang tahunnya yang ke-17.

“ Setidaknya mereka masih merayakan ulang tahunku. “

Senyuman lebar dari pria-wanita itu tentu patut mendapat jempol dari Jinki. Akting mereka hampir sama hebatnya dengan Go Hyun Jung ataupun Kim Young Ae. Mereka memang paling hebat dalam menyembunyikan permasalahan yang mendera rumah tangga mereka, tapi itu justru membuat Jinki harus mengulas senyum pahit di wajahnya. Tepat setelah pintu kamarnya tertutup, punggungnya merosot ke bawah sedang kepalanya terangkat ke atas. Kembali menahan tangisannya, meski itu berarti dadanya harus merasa sesak sebagai reaksi dari perilakunya itu.

****

Eunmi berusaha memfokuskan perhatiannya pada kalimat demi kalimat yang tercetak di lembaran buku itu. Sayangnya matanya tak merespon perintah otaknya, sebaliknya. Indera penglihatannya itu terus mencuri pandangan ke arah lelaki yang menumpu dagunya menatap ke arah jendela.

“ Sampai kapan kau mau melirikku? “

Spontan mulut Eunmi mangap. Ia kemudian mengedarkan pandangannya, setelahnya ia bernapas lega karena di ruangan kelasnya itu hanya ada mereka berdua.  Baiklah, kali ini ia akan serius mengerjakan soal-soal sains yang sudah tertunda itu. Tangannya baru menyentuh pensilnya, tapi tiba-tiba tangannya ditarik paksa mengikuti langkah Jinki.

“ Kau mau apa Jinki? “

Jinki mengabaikan pertanyaan Eunmi. Juga mengacuhkan tatapan beberapa siswa sekelasnya yang takjub, melihat keduanya terlihat begitu akrab karena tangan Eunmi yang tergenggam erat olehnya. Harus diakui, selama mereka sekelas dengan Eunmi dan Jinki, keduanya selalu terlibat pertengkaran yang selalu didasari karena masalah sepele.

Dan juga sudah menjadi rahasia umum di kalangan angkatan kelas satu, bagaimana ketidakcocokan antara Eunmi dan Jinki, yang selalu diwarnai dengan pertengkaran heboh. Terakhir kali, tas Eunmi disembunyikan di atas AC ruang laboratorium sains oleh Jinki dikarenakan Eunmi menyebarkan foto SMP milik Jinki yang saat itu masih gemuk.

Telapak tangan Eunmi dielusnya ketika Jinki sudah melepaskan genggamannya. Mereka kini berada di bawah pohon besar, tepatnya di taman belakang gedung sekolah berlantai tiga itu.

“ Kau ini kenapa?! “

Bukannya menjawab pertanyaan Eunmi, Jinki malah duduk bersandar di pohon itu. Dan tak disangka Eunmi sama sekali, tangannya kembali ditarik hingga ia terjatuh tepat di samping Jinki. Ia bahkan belum sempat mengelus pantatnya yang sakit karena bertubrukan dengan tanah keras, karena kepala Jinki sudah menyandar di bahunya.

“ Pinjamkan bahumu, sepuluh menit saja. “

Speechless. Itu yang Eunmi rasakan sekarang. Ia terlalu sibuk mengatur degup jantungnya yang semakin lama semakin cepat.

“ Apa kau begitu menyukaiku? Aku bisa mendengar debaran jantungmu. “

Tangan Eunmi mendorong kepala Jinki. Namun kali ini tubuhnya tertarik jatuh ke dalam pelukan Jinki, membuat debaran jantungnya semakin menggila.

“ Jinki! “

Tubuh Eunmi menegang saat kedua tangan Jinki semakin mengerat di punggungnya.

“ Ck. Kau sudah tujuh belas tahun, tapi masih juga rata begini. “

Tubuh Jinki terdorong ke belakang. Ia berusaha menahan tawa gelinya saat dilihatnya Eunmi sudah berdiri, kedua matanya melotot sambil mengacungkan telunjuknya di depan wajah Jinki.

“ Kau! Mesum yang menyebalkan! “

****

Jinki menghela napasnya berat ketika tangannya membuka pengait pagar, terlebih ketika kakinya sudah menginjak lantai terasnya.  Tangannya masih enggan untuk memutar kunci cadangan miliknya di dalam lubang kecil itu. Pantulan mobil city coklat dan BMW hijau di kaca jendelanya menjadi alasan utama mengapa ia tak juga beranjak dari depan pintu utama rumah.

Setelah meneguhkan hatinya, mengisi pikirannya dengan hal-hal positif, meskipun ia tahu pemilik kedua mobil yang terparkir di halaman rumahnya yang luas itu adalah pengacara pribadi eomma dan abojinya, akhirnya ia bisa membuka pintu itu.

“ Jadi sudah diputuskan, sidang perceraian pertama akan dilaksanakan besok siang pukul satu. “

Kedua tangan Jinki mengepal. Ia sudah menduga ucapan salah satu pengacara itu akan didengarnya suatu saat nanti. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk menerima apapun yang terjadi, tapi demi mendengar kata ‘perceraian’, semua keyakinan yang telah dibangunnya runtuh seketika demi serangkaian kata itu.

“ Sayang, ada yang perlu kami bicarakan denganmu. “

Mata Jinki menutup rapat-rapat. Bibirnya ikut terkatup rapat, tapi ia masih bisa mengikuti langkah eommanya menuju ruang keluarga sementara abojinya mengantar kedua pengacara itu hingga ke teras rumah.

“ Maafkan kami, Jinki. Kami sudah berusaha mempertahankan keluarga ini. Tapi kami sudah tak bisa menemukan kesamaan visi dan juga… “

“Aku mengerti aboji. “

Jinki tak lagi ingin melanjutkan percakapan keluarga itu. Ia lebih memilih naik ke atas kamarnya, segera mandi lalu memakai piyamanya. Pekerjaan rumah dari sekolahnya diambilnya, kemudian dikerjakannya di meja belajarnya. Kami sudah berusaha mempertahankan keluarga ini. Kalimat itu terus terputar di benaknya.

“ Keluarga? “

Jinki mendesis pada dirinya sendiri. Pensil yang ada di tangannya dilemparnya ke dinding, mematahkannya menjadi dua bagian. Kedua tangannya menutup matanya yang sudah berair, terus menetes membasahi buku tulisnya.

Tapi ia bisa meluapkan kemarahannya pada siapa? Pada eummanya yang selalu sibuk mengurus yayasan pribadi keluarganya? Atau pada abojinya yang menjadikan rumah ini sebagai tempat persinggahannya saja, yang selalu menomorsatukan kunjungan bisnisnya? Ataukah ia harus mengeluh pada takdir Tuhan yang membuatnya terlahir dari pasangan yang terjalin dalam pernikahan tanpa didasari cinta?

Ia sudah terlalu tahu akar utama kerenggangan di antara eumma abojinya. Ia terbiasa memandang segala hal dari sudut pandang kedewasaannya sejak ia melihat pertengkaran pertama antara orang tuanya saat umurnya masih delapan tahun saat itu. Di masa ia harusnya gencar memainkan Airstrike seperti anak seumuran dengannya, hari-harinya diwarnai dengan lontaran makian antara pasangan orang tuanya yang didengarnya dari balik pintu yang tertutup rapat.

Tapi, tidak bisakah mereka tetap berpura-pura memerankan karakter pasangan orang tua bahagia, bukan memilih jalan perceraian seperti yang telah mereka bicarakan beberapa menit lalu? Tidak bisakah mereka tetap menjadikan Jinki sebagai alasan untuk mempertahankan rumah tangga yang telah mereka jalin selama delapan belas tahun lebih itu?

“ Jinki ah, eomma ingin bicara. “

Suara ketukan pintu tak dihiraukan Jinki. Suara eommanya yang terus memohon diacuhkannya. Ia memilih menenggelamkan dirinya di atas bantalnya, berusaha memejamkan matanya agar alam mimpi bisa menjemputnya ke tempat lain yang lebih baik.

****

Jinki menyelesaikan sarapannya lebih cepat dari biasanya.

“ Aku pergi. “

Buru-buru ia melesat pergi sebelum eomma ataupun abojinya akan menegurnya. Kakinya menelusuri trotoar, membawanya ke halte bis. Diliriknya jam tangannya, masih menunjukkan pukul 6.30. Masih tersisa empat puluh lima menit lagi sebelum jam masuk. Ia pasti tidak akan terlambat jika ia menempuh jarak satu kilometer dari sini ke sekolahnya.

Selama ia menapaki trotoar itu, matanya mengikuti langkah kakinya. Ia hampir setengah jalan, saat tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang gadis yang kebetulan memakai seragam yang sama dengannya.

“ Jewsongnida. ”

Jinki mendengus saat gadis itu mengangkat wajahnya. Lee Eunmi.

“ Kau lagi. “

Jinki melanjutkan langkahnya, tapi kerah bajunya tertarik sehingga ia kembali menghadap Eunmi. Ternyata gelang gadis itu tersangkut dengan kancing bawah kerah Jinki yang kembali mendengus saat Eunmi meminta maaf tanpa suara. Di sela kesibukannya membuka gelang itu, mata Jinki tak sengaja melirik Eunmi yang menundukkan dalam kepalanya.

“ Mulai sekarang, kau adalah kekasihku. “

“ Mwo? “

“ Kubilang, kau adalah kekasihku. “

“ Ya! Bagaimana bisa kau mengatakan itu seenaknya? Kenapa kau begitu yakin jika aku mau jadi kekasihmu? “

“ Menciumku saat mengira aku sudah tidur. Apa alasan itu masih kurang? “

Eunmi kehilangan kata-kata. Kalimat Jinki tadi seolah menohok jantungnya. Memang benar yang dikatakan Jinki, ia sudah mencium lelaki itu. Tapi itu di luar kendalinya. Ia bahkan masih sering mempertanyakan pada dirinya, namun jika jawabannya adalah ia menyukai Jinki, tentu itu adalah kesalahan. Menyukai lelaki paling dibencinya di dunia ini, sama saja jika ia harus menjilat ludahnya sendiri.

“ Ayo. Kita ke sekolah sama-sama, yeobo. “

Jinki tak bisa menahan tawanya saat kulit wajah Eunmi memerah. Ia tidak tahu, jika mengucapkan kata ‘yeobo’ bisa memberikan reaksi seperti itu pada Eunmi. Sedang Eunmi yang masih juga tak bisa memahami detakan jantungnya yang semakin tak terkontrol cepatnya, Jinki sudah melingkarkan tangannya di bahu Eunmi.

****

Beberapa kursi yang semula kosong sudah terisi penuh, bahkan ada beberapa yang harus berdiri karena kehabisan tempat. Mereka tak peduli pada kaki mereka yang keram sewaktu-waktu, lebih ingin tahu kelanjutan dari sidang yang kelima kalinya untuk hari ini. Mereka kebanyakan dari rekan kerja, juga beberapa sanak famili yang kebetulan memiliki waktu luang dari pria-wanita yang duduk di tengah-tengah ruang sidang itu.

Tak ada di antara mereka yang menyangka, jika pasangan suami istri yang selalu terlihat damai itu akan berakhir di ruangan ini. Di hadapan seorang hakim yang diapit oleh beberapa jaksa.

Salah satu di antara mereka, yang duduk di kursi paling depan, tak bergeming saat tatapan pria-wanita yang menjadi pusat perhatian di ruangan sebesar itu mengarah padanya. Ia tahu, arti sidang hari ini adalah mengenai hak asuh atas dirinya. Jika saja ia punya hak untuk berbicara, maka ia tak akan memilih salah satupun dari mereka. Keduanya sibuk dengan dunianya masing-masing. Jika telah diputuskan ia akan dirawat oleh siapa, hasilnya akan sama saja, ia akan tetap sendirian.

Tatkala hakim itu memukul palunya sebagai tanda dari awal sidang, Jinki bangkit dari kursinya, membuat semua yang ada disana memalingkan perhatian mereka padanya. Semua tatapan yang memiliki arti yang sama, kasihan. Tentu saja, siapa yang tidak iba melihat merosotnya bahu Jinki ketika ia meninggalkan ruangan itu, siapa yang tidak bisa mengelus dadanya ketika kepala Jinki tertunduk dalam. Tapi, apa juga yang bisa dilakukan mereka. Bahkan nasihat pun tak mampu meruntuhkan kekeraskepalaan kedua pasangan yang akhirnya memutuskan untuk berpisah itu.

Jinki mengangkat kepalanya, menahan agar air mata yang menggenang di pelupuk matanya tak tumpah karena hal itu akan membuatnya lebih terlihat seperti lelaki yang lemah. Langkah kakinya yang tak menentu tak dipusingkannya akan membawanya kemana. Setidaknya sesak di dadanya itu harus segera hilang.

Ia telah kehilangan arah, tak memperoleh panutan moral lebih baik lagi sejak tiga kali ketukan palu di sidang terakhir saat itu mengesahkan perpisahan Lee Yon Seong dan Lee Hyun Ah selaku eomma dan abojinya. Menjadikan minuman keras sebagai pelarian? Oh, Jinki masih cukup waras untuk tidak menyentuh minuman yang berisi ratusan zat berbahaya itu. Jika batinnya sudah terluka, untuk apa lagi ia menghancurkan fisiknya.

“ Jinki! Jinki! “

Jinki menoleh pada gadis yang tengah mengatur napas di sampingnya.

“ Kau menyelamatkanku! Ayo ikut denganku! “

“ Mwo? “

Tangan Jinki tertarik begitu saja, membuatnya harus berlari mengikuti Eunmi. Alisnya terangkat saat langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah kecil, dimana halamannya dipenuhi beberapa anak kecil yang berlari ke sana kemari.

“ Eomoni, aku sudah dapat orang yang bisa membantu kita! “

Seorang wanita yang ditaksir Jinki berada di usia sekitar lima puluhan itu menghampirinya dan Eunmi.

“ Dia adalah teman sekolahku. Jinki, ini eomoni, pemilik panti asuhan ini. “

Jinki menundukkan tubuhnya, kemudian tatapan tanya ditujukannya pada Eunmi yang lagi-lagi menarik tangannya. Tapi Jinki segera melepaskan genggaman Eunmi, menghempaskan tangan Eunmi yang membuat gadis itu harus mundur beberapa langkah untuk menyeimbangkan dirinya.

“ Kau harus membantuku! Eomoni harus ke rumah sakit hari ini, jadi kita harus menjaga anak-anak ini sampai dia pulang. “

“ Mwo? Bagaimana bisa kau memutuskan… “

Tubuh Jinki terdorong ke depan. Seorang anak laki-laki yang masih berumur tiga tahun dengan bola tanah di tangannya tertawa mengejeknya. Dirasakannya sesuatu yang lembap menempel di betisnya, kelopak matanya mengerjap, tanah yang basah itu ikut mengotori celana denim kesayangannya.

“ Kau bisa mempercayakan mereka pada kami. “

Jinki menatap kesal pada bocah yang sudah kembali bermain dengan anak-anak seusianya, sesekali ia menjulurkan lidahnya pada Jinki. Kemudian beralih pada Eunmi yang terus melambaikan tangannya pada wanita tua yang sudah berada di atas taxi.

“ Kau harus membayarku untuk ini, Lee Eunmi! “

****

Jinki menepuk celananya, membersihkannya dari noda tanah yang sudah mengering. Tak kunjung bersih, ia menjatuhkan dirinya di atas bangku taman. Tangannya terlipat di depan dada, sedang matanya tak lepas dari Eunmi yang setengah berlari ke arahnya. Secangkir kopi hangat diraihnya ketika Eunmi menyodorkannya.

“ Gomawo untuk hari ini, Jinki. “

Eunmi segera duduk di samping Jinki, ikut meminum kopinya sendiri.

“ Apa kau begitu menyukai mereka? “

“ Hm? “

“ Anak-anak itu. Kau terlihat sangat senang saat bermain bersama mereka. “

“ Jadi, kau memperhatikanku? “ Jinki melirik sebentar pada Eunmi menyeringai padanya.

“ Coba lihat ini. “

Layar ponsel Eunmi menunjukkan foto Jinki yang tengah mendorong ayunan bersama seorang anak kecil.

“ Kau tahu? Itu untuk pertama kalinya aku melihatmu tersenyum selebar itu. “

“ Sekarang mencuri gambarku. Masih belum puas sudah mencuri ciuman dariku? “

Eunmi mengerucutkan bibirnya. Haruskah Jinki selalu mengulangi kata ciuman itu? Ia bahkan belum memperoleh alasan yang jelas mengapa ia bisa bertindak sebodoh itu.

“ Jinki, soal kekasih yang pernah kau katakan waktu itu… “

“ Kekasih? Kekasih apa? “

Jinki menggaruk keningnya, sedang matanya menangkap perubahan pada air muka Eunmi. Sebenarnya ia sangat mengingat tiap kata yang dilontarkannya pagi itu, tapi ia berpura-pura lupa sekedar ingin tahu reaksi Eunmi.

“ Tidak, itu bukan apa-apa. “

Sedang Eunmi menundukkan wajahnya. Seharusnya ia sudah lega, karena Jinki tentu saja bercanda. Tapi hatinya berkata lain, ia merasakan kekecewaan yang ia sendiri tak mengerti.

“ Ya. Aku ingat. Jadi maksudmu mengatakan itu, adalah ingin tahu jika aku bercanda atau tidak bukan? “

“ Sudah kubilang, itu bukan apa-apa. “

“ Aigo, sudah sangat jelas kau menyukaiku. Pertama kau mencuri ciumanku, lalu mencuri fotoku, setelah itu, apa kau berniat mencuri hatiku juga? “

“ … “

“ Eunmi ya, kau tahu? Ada saatnya kau harus melepas egomu, jadi kau hanya perlu mengakui jika kau menyukaiku. “

Eunmi mendesah. Ia memang tak pernah bisa mengelak bila Jinki kembali mengungkit hal yang sangat memalukan baginya itu, tapi kalimat pertama Jinki tadi. Ia juga tidak bisa mengelak itu. Ia baru sadar jika akhir-akhir ini pikirannya hanya dipenuhi Jinki seorang, sementara debaran di dadanya yang selalu bergemuruh saat ia berada di dekat Jinki. Benar, ia memang harus mengakui bahwa ia menyukai Jinki.

“  Kalau kau memang menginginkannya, aku bisa menjadi kekasihmu. “

“ Ini tidak adil. Kau boleh saja mempermalukanku, bahkan mempermainkanku. Tapi, kau harus tahu semua itu juga ada batasnya, Jinki. “

Eunmi membulatkan matanya tak percaya saat ia bersandar di dada Jinki. Telinganya mendengar detakan jantung yang tak kalah cepatnya dari jantung miliknya. Kepalanya terangkat cepat, menilik wajah Jinki yang sudah memerah.

“ Sekarang, kau masih menganggap aku mempermainkanmu? “ Eunmi masih terpana.

“ Jadi, sudah kubilang kan, kau harus membayarku untuk hari ini? “

Belum sempat Eunmi menjawab pertanyaan Jinki, sebuah kecupan hangat mendarat di pipinya. Menimbulkan rona merah di kedua tulang pipinya.

“ Kenapa diam saja? Atau, kau ingin kucium di tempat lain? “

Eunmi mendorong dada Jinki saat lelaki itu tinggal berjarak beberapa senti lagi darinya. Membuat Jinki harus terjatuh ke tanah, sedang Eunmi sudah berlalu meninggalkannya.

“ Ya! Tunggu aku! “

“ Sudah kubilang namaku Eunmi! Jangan memanggilku, ‘ya’! “

“ Shireo! “

Jinki menjulurkan lidahnya, lalu segera berlari sebelum tas jinjing Eunmi akan melayang padanya.

****

“ Jinki ah, kau tidak sarapan? “

Jinki tak menghiraukan panggilan eummanya. Ia menyibukkan dirinya dengan ikatan tali sepatunya.

“ Jadi, aku akan tinggal bersama siapa? “

“ Jinki ah… “

Mata Jinki menangkap sosok pria yang bekerja sebagai supir abojinya mengangkat dua buah koper besar di tangannya. Belum sempat abojinya meraih puncak kepala Jinki, putra tunggalnya itu sudah menundukkan kepalanya.

“ Jinki ah. Aboji akan mengunjungimu. “

“ Tidak apa-apa aboji. Aku mengerti. “

Sekali lagi Jinki menunduk. Kemudian ia berbalik, meraih gagang pintu dan membukanya. Setelahnya kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Kepalanya terangkat ke atas, memandangi gelapnya langit.

Ia hampir sampai di halte bus ketika bulir air hujan mulai berjatuhan perlahan, membasahi trotoar juga jalan berlapiskan beton itu. Bodohnya, ia tak membawa payung. Dan lebih bodohnya lagi, ia tak beranjak dari tempatnya mencari tempat berlindung.

Kembali ia mengangkat kepalanya, menatapi langit gelap yang seakan ikut merasakan kesedihannya. Namun tiba-tiba, langit yang semula dilihatnya itu berganti menjadi sebuah benda berbentuk bundar berwarna bening, membuat air yang dibiarkannya membasahi wajahnya harus terhenti.

“ Jangan menangis. “

Jinki menatap gadis yang ada di depannya, yang kini menyapukan sapu tangannya di wajah Jinki. Ia tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi tangannya langsung melingkari leher gadis itu, membenamkan wajahnya di rambut Eunmi yang terurai.

“ Kau membuatku basah Jinki. “

Gadis ini, apakah Kau mengirimkan dia untuk menghiburku, Tuhan? Jika memang benar, sudah seharusnya aku berterima kasih padaMu. Setidaknya Kau masih berpihak padaku, setidaknya aku masih punya satu orang ini untuk menjadi sandaranku. Meski sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu, tapi sekali lagi. Maafkan aku jika menjadikanmu pelampiasanku. Mianhe, Lee Eunmi.

TBC

               

Leave your comment, PLEASE!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

34 thoughts on “God Must Be Hate Me [2.3]

  1. Sedih klo tntang perceraian gni.huks huks
    psti terpukul bgt jinki,untg ada eunmi yg bsa jd sandaran jinki…
    Aku ska smua scene jinki eunmi… Huaaaa daebak
    lanjuuuttt

  2. Duh kasian bener ya nasibnya Jinki u,u
    Untungnya ada Eunmi yang selalu datang pas Jinki butuh seseorang untuk bersandar. Nice story Boram. Keep writing, Boram jjang!

  3. Begini toh awal cerita.y OnPpa.
    Miris yah,ternyata dia brokenhome.Jadi ortu.y nikah krn perjodohan,ato knapa nih?Masih penasaran.
    Aku suka tiap adegan couple jinmi,trus ga asik banget tuh tiba2 tbc muncul
    aduh aduh,romantis.y pas ujan gitu Eunmi datang dn ngash payung,tp kok Jinki mau jadiin Eunmi pelampiasan sih.
    Next part jangan lama2 plis

  4. Broken home nih ceritanya si Jinki.
    Untung ketemunya si Eunmi yg anak baik2, jd si jinki gag bakalan ngelampiasin ke hal2 yg ga bener, iya kan Thor?

    Konflik utamanya blm muncul ya Thor?
    Ditunggu next part ^.~

  5. Kasihan bgt jinki ortunya hrz cerai
    Ŧǻρί kan msih Ά̲̣̥​ϑǎ̜̣̍​ eunmi Ɣªήğ akan mewarnai hari2mu
    ªkŮ suka gmn jinki bikin eunmi nyatain perasaannya

  6. Asal nggak bercerai, Jinki lebih senang melihat orang tuanya berpura-pura baik di depannya. Jinki benar-benar terpukul.

    Jadi statusnya Jinki pacaran sama Eunmi nih. Musuh jadi demen.

    Nice story.

  7. duh, satu sisi JinMi bahgia…. makin romantis….
    Tp terasa bgt kalo Jinki trsiksa dg prceraian abeoji dan eommanya…
    Spt quote diakhir cerita
    mgkn Eunmi mmg pngganti kehilangan JInki akibat prceraian itu…
    Eunmi, jaga jinki untukku, yah…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s