Forward – Part 4

Title: Forward

Author: HeartLess & Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Heera
  • Kim Jonghyun

Length: Multi Chaptered

Genre: Romance, Life, Social Issue

Rating: PG-15

 

Note:

The story is written all based to Author’s POV

Disclaimer:

We don’t own all idols/artists. They are belongs to God, their family, and their agency. We put their names only for the purposes of this fanfiction.

 

***

Langkahnya terlihat diburu waktu, tak peduli siapa yang melaju di sekelilingnya. Setengah berlari, menyalip, lalu mendesak lewat. Kejadian hari ini membuatnya terjebak sehingga ia harus terlambat tiga belas menit. Dalam hatinya ia berharap wanita itu tidak marah, atau semuanya akan bertambah rumit.

“Ya! Anak muda, gaya berjalanmu begitu arogan. Aigooo, anak muda zaman sekarang memang tak menghargai yang lebih tua, tak punya sopan santun dan tak sadar umur,” cerca seorang kakek tua yang langkahnya didahului Jonghyun.

Jonghyun berhenti sebentar, membungkuk minta maaf pada kakek tadi, namun mulutnya tetap bungkam—pikirannya terlalu kusut untuk berucap—meskipun ia tahu sikapnya itu salah.

Kali ini larinya lebih dipercepat, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia paksakan muncul walaupun kepalanya terasa sangat berat. Tangannya menyempatkan diri merogoh saku celana, meraih ponsel dengan terburu-buru.

Yoboseo. Aku sudah di depan hotel. Di mana posisimu, Nyonya?”

Jonghyun mengangguk paham setelah mendapatkan jawaban. Ia melangkah menuju resepsionis untuk menanyakan posisi yang didengarnya di telepon tadi. Belum sempat ia membuka mulut untuk bertanya, ekor matanya menangkap sosok Minho yang tengah berjalan dengan raut wajah tak sedap. Begitu sadar, Jonghyun segera memalingkan wajahnya dari Minho, tak ingin sahabatnya itu melihat.

Seorang petugas hotel pada akhirnya mengantar Jonghyun hingga ruangan yang dimaksud. Mulutnya terasa begitu pahit, pikirannya sudah tidak tertata dengan baik—memikirkan hal apa yang mungkin terjadis sesaat lagi membuat Jonghyun gusar.

Pelan-pelan Jonghyun melangkah masuk. Di dalam ruangan tersebut ia melihat sosok menyebalkan itu, tengah duduk angkuh di sofa sembari mengelus bulu-bulu mantelnya dengan arah pandang yang tertahan pada layar televisi.

Mian, aku terlambat,” ucap Jonghyun penuh penyesalan.

“Kau membuang waktuku sekitar 17 menit. Kau harus menggantinya nanti. Baiklah, aku tahu kau lelah dan ingin segera pulang. Jadi, berapa yang kau minta?” tanya wanita itu setengah mengejek.

“Separuh dari yang disepakati, mengacu pada harga jam berlian yang kau janjikan itu,” jawab Jonghyun terus terang.

“Duduklah dulu, aku tuliskan cek untukmu,” titahnya pelan. Tangannya meraih tas ‘Louis Vuitton’ miliknya dan mengeluarkan cek kosong yang siap digoreskan tinta hitam di atasnya.

Bak kuda yang dipecuti kusir, Jonghyun hanya patuh mengangguk. Pikirannya ia alihkan pada tontonan yang ditayangkan di televisi, namun kemudian terusik untuk mengeluarkan beberapa opini.

“Ini lucu, Nyonya. Yang sedang kau saksikan adalah berita tentang perkembangan pesat jumlah pengidap AIDS di negara berkembang, tapi tidakkah kau takut akan bahaya virus HIV itu? Dengar, bahkan belum ada obat yang terbukti dapat menyembuhkannya.” Jonghyun tertawa miris.

Wanita itu tersenyum geli, lalu tertawa mengejek. “Kau takut? Kalau iya, maka aku tak perlu menuliskan nominal angka yang kau butuhkan. Jadi, bagaimana?”

Kehilangan kata, merasa bahwa malaikat yang menjaga di sisi kanannya berhasil terusir oleh setan kejam bernama uang. Ia begitu terpukul menyadari realita hidupnya yang mendadak terasa begitu layak untuk dicaci-maki.

“Tulislah. Besok malam aku akan memenuhi janjiku,” putus Jonghyun pada akhirnya. Ya, pilihan itu sedang tak ia miliki, sesungguhnya keterpaksaan adalah keniscayaan baginya kini.

***

Tak ada yang berubah sejak kemarin. Wajah itu masih terlihat lesu. Sorot matanya tak hidup, redup. Jinki tetap memaksakan pikirannya terfokus pada penjelasan dosen sekalipun tubuhnya sudah semakin berontak. Ia tak berani mengubah arah pandangnya ke samping karena ia sadar bahwa Heera sedang mengamatinya, seolah menunggu jawaban atas pertanyaan yang yeoja itu ajukan pada Jinki, ‘mengapa kau terlihat seperti orang sakit?’.

Apa yang harus dijawabnya? Jinki tak tahu. Ia bahkan tidak pernah berpikir untuk menjelaskannya pada satu orang pun. Ia tak berani bermain judi, menerka-nerka hal apa yang akan terjadi jika ia melakukannya. Bukan takut dikasihani, namun ada alasan lain. Kepastian adalah hal yang selama ini dipertahankannya. Ia tak ingin keluar dari zona amannya.

Rasa ingin menyerah itu ada, terkadang Jinki berpikir untuk mengambil cuti. Tapi pada akhirnya ia tahu, seberapa lama pun ia menunda—ada sesuatu yang tetap menggerogoti hidupnya. Rasanya memang lelah terus berjuang mengusir demam berkepanjangan. Ini baru dua hari namun rasanya tubuh itu tak lagi bertenaga, membuat Jinki harus mati-matian berakting seolah tidak terjadi apapun.

“Jinki-ya, kau aneh,” bisik Heera setelah lama mengamati. Yeoja itu menuliskan beberapa kalimat di notes-nya, menyobek pelan kertas itu agar suaranya tidak sampai mengusik kuliah dosen yang tengah berlangsung.

Jinki-ya. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi bukankah janggal, ini bulan Agustus di saat musim panas sedang menyerang, tapi kau justru menggunakan mantel tebal? Dan lagi, ada apa dengan tanganmu? Aku tahu sejak kemarin kau menyembunyikannya dariku. Perban itu, apa yang menyebabkannya?

Tak ada hasilnya, Jinki justru semakin menunjukkan ekspresi dinginnya. Tangannya yang tidak dibalut perban diam-diam mengepal kuat di dalam saku mantel. Rasa sakit menyerang tenggorokannya, menambah ketidakinginan Jinki untuk membuka mulut walau hanya untuk menjawab palsu, ‘aku tidak apa-apa’.

Rasa kesal makin memuncak di dalam pikiran Heera. Setelah pernyataan singkat Jonghyun di telepon kala itu, yeoja itu tidak pernah bisa meredam rasa cemasnya. Hati kecilnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Nada dingin yang terdengar kuat dari suara Jonghyun membuatnya semakin yakin bahwa namja itu tidak sedang baik-baik saja. Lalu sekarang, Jinki? Heera pun yakin bahwa namja di sebelahnya ini sedang bermasalah, dan ia bertekad untuk mendapatkan jawaban dari mulut Jinki. Ya, kalau hanya sakit biasa tidak mungkin namja itu begitu hati-hati menutup rapat mulutnya.

“Jinki-ya, kita harus bicara. Aku bukan lagi bertanya, tapi menodong. Kau, sakit apa?” tanya Heera ketika dosen telah meninggalkan kelas. Yeoja itu menhujamkan tatapan tajamnya, ia menarik paksa tangan Jinki yang tersembunyi di balik saku mantel. “Dan ini, kenapa?” Telapak tangan berbalut perban itu Heera acungkan tinggi-tinggi, sejajar dengan matanya.

“Tidak usah ikut campur urusan orang lain, bisa?” Jinki menyipitkan pupil matanya, terlihat sengit menatap Heera.

Dengan spontan Heera menyunggingkan bibirnya, ada suatu keajaiban baru saja tertangkap, Jinki baru saja menatap matanya. Ya, bisa dibilang ini adalah hal yang langka mengingat namja itu tak pernah mau bertemu pandang dengan lawan bicaranya. Sekalipun yang Heera tangkap barusan itu merupakan pandangan penuh rasa benci, tapi baginya itu bukan masalah.

“Tidak bisa. Aku bukan kau. Ya, aku bukan kau yang bisa tidak memperhatikan sekitar, tidak peduli apa kata orang lain, dan tidak peduli orang lain sebenarnya begitu ingin berteman denganmu. Sekalipun kau bukan temanku, aku tetap akan peduli jika melihat orang sakit di sekitarku,” ungkap Heera tegas, sedikit tersenyum simpul.

“Kalau kau memang temanku, jangan mengusik ketenangan duniaku. Jangan ikut campur,” timpal Jinki dingin, melepaskan paksa tangannya yang ada di dalam genggaman Heera sekalipun persendian dan otot-ototnya begitu linu untuk digerakkan.

“Justru karena aku temanmu, maka aku tidak akan meninggalkan teman yang sedang punya masalah. Aku bukan ingin mengusik ketenanganmu, lagipula aku tahu kau memang sedang tidak tenang. Aku jelas-jelas tahu bahwa rasa cemas sedang menggelayutimu. Jadi, apa bisa aku tidak peduli? Kita ke rumah sakit, ya?”

“Sekali lagi kau memaksaku, maka selamanya aku akan menganggapmu tak pernah ada dan kita tak usah bicara lagi.” Untuk yang kedua kalinya Jinki menatap tajam Heera, melesatkan ancaman nan mematikan yang membuat yeoja itu menarik oksigen dengan berat. Tidak lama bola mata Jinki lari ke arah kanan, tidak sanggup jika harus terfokus pada sosok indah itu untuk waktu yang lebih lama lagi.

Heera tersenyum, ia tahu ada yang salah dalam kalimat Jinki. “Tidak, kau sesungguhnya tak akan pernah melakukan itu. Kau hanya sedang lari, menyembunyikan diri dariku dan berlindung di balik ancaman. Kajja!” Heera menarik tubuh Jinki bangun.

Tubuh itu terjatuh, tulang-belulangnya seolah begitu lembek untuk menumpu. Heera yang tidak memprediksi bahwa Jinki akan selemah itu, terhenyak begitu mendapati tubuh itu sudah mendarat di lantai. “Ma, maaf. Aku tidak…”

“Sudah kubilang, jangan ikut campur!! Aku benci orang sepertimu, sok peduli padahal kau tak tahu apapun,” teriak Jinki, memotong ucapan Heera.

Sontak anak-anak yang masih ada di kelas terkesiap mendengar suara keras Jinki. Beberapa di antaranya tertawa geli melihat ekspresi wajah Heera. “Sudahlah, Heera-ya. Dia memang tak butuh orang lain dalam hidupnya. Untuk apa kita bersusah payah mendesak masuk ke dalam dunianya?” sindir salah satunya, berjalan mendekati Heera yang mematung tak berkutik.

“Seungho-ya, itulah yang membuat seseorang yang tertutup menjadi semakin terisolasi. Karena tak ada yang memaksa, tak ada yang mendesak, dan tak ada yang berjuang untuk meraihnya. Untuk apa aku terlibat dalam organisasi yang mengayomi anak-anak tuna grahita—berusaha meraih mereka dan membiasakan mereka agar bisa berbaur dengan orang lain—sementara temanku sendiri tak berhasil kuraih?” tanggap Heera getir. Hatinya bertambah sesak melihat Jinki yang masih terduduk lemah, yang bahkan tak mampu menegakkan tubuhnya sendiri.

“Jinki-ya, lihat, kau bahkan tak sanggup berdiri. Dalam kondisi seperti ini, tidak bisakah kau melunakkan hatimu sedikit saja?” Heera berjongkok, terdiam di hadapan Jinki. Ia bukannya tak mau mencoba untuk memapah Jinki lagi, tapi mendadak ia teringat bahwa namja itu pernah mengatakan bahwa dirinya tak suka orang lain membantunya bangun saat terjatuh. Heera tahu Jinki akan menepisnya jika ia berusaha membantu.

“Pergilah. Taemin akan datang,” pinta Jinki dengan nada menurun. Matanya memanas, ingin sekali menumpahkan cairan bening yang mulai mendesak keluar.

Sekali lagi ia merutuki dirinya, sekali lagi situasi memaksanya untuk bersandiwara, melukai hati yeoja yang begitu penting dalam hidupnya itu lagi.

***

Nuna, wajahmu jelek sekali. Ayolah, tersenyum, maka dunia akan terasa lebih indah dari pada kenyataannya,” goda Key yang lalu memetik senar gitarnya dan memainkan nada asal.

“Tanpa tersenyum pun aku tak pernah jelek,” jawab Heera asal. Tatapannya masih tak beralih dari layar laptopnya.

“Wow, terlalu percaya diri terkadang mengarah pada kesombongan, hati-hati. Nuna, tersenyum tak hanya membuat orang tampak lebih cantik atau tampan. Senyum, konon dapat meredakan rasa stress. Jadi, tersenyumlah saat kau merasa mood-mu kacau. Ah, bukan hanya itu. Nuna, senyum dapat menjadikanmu awet muda. Dan katanya lagi, senyum dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan menurunkan tekanan darah. Dan, dua hal yang menurutku paling penting. Dengan kau tersenyum, maka kau dapat membuat orang di sekelilingmu ikut merasa bahagia di samping kau sendiri merasakan manfaat, senyum dapat membuat seseorang bisa berpikir positif.” Key memulai ocehan panjang ala dirinya, membuat Heera terpaksa tersenyum malas.

“Harus ikhlas, Nuna!” Key meletakkan gitarnya ke balai bambu tempatnya duduk. “Ikhlas adalah kunci dari keindahan perilaku,” imbuhnya kemudian.

“Ya! Bagaimana aku bisa ikhlas tersenyum di saat seperti ini? Tugasku banyak tapi pikiranku kacau,” dengus Heera kesal.

“Huh, itulah sebabnya berpikir positif itu penting, kau sebenarnya tahu itu. Untuk masalah Jonghyun, aku tak berani memprediksi ke depannya akan seperti apa. Tapi, untuk masalah temanmu yang bernama Jinki itu, aku percaya bahwa dalam hal ini kau yang terlalu berpikir macam-macam tanpa dasar,” cibir Key yang kini mulai merasa gerah karena gelagat Heera beberapa hari belakangan ini.

“Woah, lucu. Kau yang menuduhku tanpa dasar. Aku tidak sembarang menilai. Nyatanya aku tahu Jinki sedang menyembunyikan sesuatu. Aku tahu dia sedang membohongiku!” Nada bicara Heera mulai meninggi. Ya, mengingat gerak bola mata Jinki membuatnya makin merasa dipermainkan.

“Bagaimana kau bisa tahu? Kau bukan peramal yang punya indera keenam hingga bisa menerka isi pikiran orang, ‘kan?” tukas Key santai, setengah menyindir.

“Mata tak pernah berbohong. Kau pernah tahu tidak salah satu ciri orang sedang berbohong? Lihat gerak bola matanya. Kalau ia melirik ke arah kanan atas maka ia sedang berbohong. Otak kiri adalah auditori memori, sementara otak kanan berkaitan dengan kreativitas. Jadi, kalau ia melirik ke arah kanan maka ia sedang memainkan kemampuannya untuk berkreasi dengan kata. Sementara jika bola matanya bergerak ke arah kiri maka ia sedang berusaha menggali apa yang tersimpan di otaknya, singkatnya ia sedang berusaha mengingat.” Heera menjelaskan dengan antusias, merasa puas melihat Key yang hanya mengangguk-angguk dengan mulut yang tak terkatup.

“Wah, aku baru tahu. Selama ini aku hanya tahu bahwa orang yang sedang berbohong biasanya akan salah tingkah, bicara tersendat-sendat, memasang wajah tak bersalah, intonasi suaranya akan mengecil, menghindari pandang dengan lawan bicara, dan kaki yang mengetuk tanah ataupun gerakan yang berulang-kali dilakukan,” tambah Key sembari menyentuhkan telunjuk ke hidungnya.

“Yang kau bilang tidak salah juga. Dan aku tahu, kau juga sedang tidak berterus terang padaku saat ini. Benar begitu?” Heera tersenyum penuh kemenangan.

“Bagaimana kau tahu?” Key terkekeh. Ya, ia mengakui bahwa sesuatu tengah ditahannya kini.

“Ciri lain orang yang berbohong, ia akan mengusapkan telunjuknya ke hidung, menelungkupkan kedua tangan ke mulut, ataupun menutupi mulut dengan telapak tangan yang tengah mengepal.”

“Woahhh, benar juga. Ah, kembali ke topik awal. Nuna, begini, asumsikan bahwa Jinki memang sedang berbohong. Tetap saja menurutku kau tak berhak mendesak ataupun mencampuri urusannya jika dia memang tidak suka.”

“Ya! Jangan mengaku sebagai sepupuku kalau kau tak mengenal seperti apa diriku!” Emosi Heera kembali tersulut, ia benci jika ada yang mengatakan hal yang bertentangan dengan prinsipnya tentang kepedulian.

Key mengangguk, memicingkan matanya miris. “Ckck, benar. Itulah yang sejak tadi belum kukatakan dan tak berani kuutarakan. Baik, aku tak suka memendam. Nuna, tiba-tiba aku merasa bahwa selama ini aku hanya berpura-pura mengenalmu dalam, padahal banyak sisi lainmu yang tak pernah kuketahui. Nuna, kau menyadari perubahan dirimu belakangan ini? Menyedihkan, hanya karena dua namja—maka semua sikap tenang yang selama ini menjadi ciri khasmu—perlahan terkikis, sampai habis tak bersisa pun bisa jadi.”

Tercekat mendengar penilaian jujur sepupu sekaligus sahabatnya itu, Heera bertanya, “Apa aku separah itu?”

***

Namja itu menumpukan dagunya pada telapak tangan yang sedari tadi terus berkeringat. Cuaca panas Kota Seoul bahkan terkalahkan oleh kobaran api yang tengah bergejolak di dalam jiwanya yang tak tenang. Bisu bukanlah hal yang harus ia pertahankan sampai akhir, realita sedang terhampar di hadapannya, menodong jawaban yang bahkan ia sendiri merasakan gundah ketika memikirkannya.

“Katakan Jjong, aku benci keheningan,” pinta yeoja yang ada di hadapannya dengan wajah yang masih dipenuhi peluh.

Jonghyun menghela napasnya sekali lagi, berusaha membuang jauh perdebatan yang tengah berkecamuk di dalam dirinya.

“Kau, terlalu percaya diri. Kau bukanlah terumbu karangku,” jawab Jonghyun dingin setelah berusaha mengumpulkan keyakinan.

Genangan air mata menyeruak dari mata Heera, buncah tak terbendung mengalahkan gengsi. “Kalau begitu, tidak bisakah aku hanya menjadi gelembung air kecil di samudra?” Heera masih tak menyerah.

“Jangan bermimpi. Gelembung air itu lebih besar artinya untuk kehidupan laut dibandingkan dengan terumbu karang. Air dan oksigen adalah sumber utama kehidupan laut. Kau, bukan keduanya,” tampik Jonghyun tegas.

Semua kata terhenti, berganti dengan isak tangis Heera yang kian ganas tak terkendali. Inilah pahitnya cinta, berselimut kegelapan di balik manisnya. Begitu muncul, akan menjelma menjadi samurai yang langsung menancap tepat di jantung. Menorehkan luka mendalam, memadukan darah dengan air mata kepedihan.

“Jadi, tak bisakah dipertahankan?” tanya Heera lemas, berusaha meraih tangan Jonghyun untuk merasakan getaran tangan namja itu—ingin mencari bukti kalau kekasihnya itu sedang tidak bersungguh-sungguh.

“Lepas,” pinta Jonghyun dingin. “Tangan ini bukan lagi milikmu. Ah, dari awal memang bukan milikmu. Bukankah selama ikatan suci itu belum terucap, maka aku masih berhak melabuhkan diriku ke dermaga yang manapun?”

“Beri aku alasan, penjelasan atau pengakuan apapun. Jangan buat semuanya samar dan terkaburkan kabut, aku selalu suka kejelasan,” ucap Heera cepat, menaklukkan nelangsa yang diam-diam makin mendesak dan menyerang titik kritis hati.

“Sederhana, cinta itu tengah menghilang. Boleh aku berdalih seperti itu?”

“Tengah menghilang? Kau tidak mau menunggu cinta itu kembali? Bukankah dalam hidup ini, sebuah rasa memang silih-berganti—timbul dan tenggelam?” Heera terus mendesak, tak ingin hubungan ini kandas tanpa adanya usaha untuk mempertahankan.

“Menunggu? Bukankah kau juga paling benci menunggu? Heera-ya, tidak bisakah kau menghargai keputusanku?” Satu ujung bibir Jonghyun naik, seolah mengejek uraian cairan bening yang keluar dari mata indah di hadapannya itu.

“Jjong, katakan ini hanya permainan kata kosong. Kau tidak sedang serius, bukan? Kau bahkan belum mengutarakan keputusanmu, ‘kan?” tanya Heera setengah memohon.

“Terlalu banyak berharap akan membuatmu terhanyut dalam belenggu perasaan rapuh. Aku serius. Dan, keputusanku bulat. Kita hentikan sampai di sini. Meskipun kata putus itu memilukan, tapi percayalah ini tidak akan menyeret kita dalam luka yang lebih menyakitkan. Sampai di sini saja, semoga kita tak akan pernah bersua lagi.” Jonghyun bangkit, meletakkan beberapa lembar uang untuk membayar minuman yang tadi dipesannya untuk formalitas.

“Ya!! Kim Jonghyun, kau manusia atau bukan?” bentak Heera marah. Dompet yang sedang dipegangnya pun menjadi sasaran empuk, harus rela melayang hingga mendarat di kursi yang tadi diduduki Jonghyun.

Dengan lemas Heera beringsut, meraih kembali benda kesayangannya yang berisikan kartu-kartu berharga miliknya. Sudut matanya memicing tatkala melihat sebuah benda berwarna hitam yang tergeletak di kolong meja.

“Ponsel? Ini punya Jjong,” gumam Heera seraya membungkukkan tubuh untuk meraih benda itu. Ia sedikit mengernyitkan dahi karena menyadari bahwa benda yang ada di genggamannya bukanlah ponsel yang biasa Jonghyun gunakan. Meskipun type dan mereknya sama, tapi tak ada torehan huruf ‘K-HJ’ di bagian belakangnya.

“Ah, apa dia telah mengganti casing-nya? Sejauh itukah dia ingin menghapus namaku? Dia bahkan tak lagi menggunakan ponsel pemberianku di hari ulang tahunnya—yang aku bungkus ke dalam kotak indah setelah aku menggoreskan beberapa garis yang membentuk huruf ‘K-HJ’ dengan menggunakan peniti—saking inginnya namaku melekat di benda itu. Eh, apa ponsel ini bukan miliknya?” bisik Heera pada dirinya sendiri.

Rasa penasaran mendorong Heera untuk melihat layar ponsel itu, yang beberapa saat kemudian berkedip lampunya setelah muncul getaran halus.

New Message: 1

From: Eunri-ssi

Jjong, jangan lupa janjimu. Besok, Shining Hotel at 8 p.m. Janji adalah hal mahal yang harus dibayar, mengalahkan emasnya cinta. Kau tahu maksudku, Honey?

 

Sederet prasangka menari riang di kepala Heera. Ah tidak, bukan lagi sekadar dugaan, ini sudah sampai pada tahap dakwaan. Kerongkongan Heera terasa begitu gersang, seolah tak ada ludah yang mampu melewatinya karena memang tak ada saliva yang bisa lagi ditelan. Habis, serupa dengan pertahanan dirinya yang kini merosot drastis—yang jika diibaratkan sebagai kurva, maka ia sudah mencapai titik puncaknya dan kini menukik tajam mendekati sumbu ‘y’ pada angka zero.

“Kau selingkuh, Jjong?” bisik Heera pilu, tersayat bahkan mirip dengan perasaan tercabik—meskipun ia memang belum tahu bagaimana rasanya tercabik benda tajam dalam arti yang sesungguhnya.

Ya, saat ini Heera begitu yakin bahwa inisial ‘K-HJ’ yang berarti ‘Kim Heera-Kim Jonghyun’, sebentar lagi tak akan bisa ia ukir kembali di kado ulang tahun Jonghyun selanjutnya. Kandas, menyisakan luka dalam balutan perasaan bernama ‘terkhianati’.

***

Kehinaan itu sungguh tak mampu lagi ditampiknya. Berkelit sejauh dan sekuat apapun, fakta menghadangnya dan kemudian perlahan menudingnya sadis dengan julukan, ‘gigolo’.

Sekuat apapun nasehat eomma-nya sejak kecil yang selalu berpesan agar Jonghyun menjadi pria ‘bersih’—tak menodai kesucian wanita manapun tanpa menikahinya—tak mampu membentengi diri Jonghyun semalam. Ia telah melanggar petuah eomma-nya dan mengkhianati Heera dalam waktu yang bersamaan. Yeoja itu… membayangkan tangisnya membuat Jonghyun makin ingin mengakhiri hidupnya kalau saja ia tak ingat alasannya melakukan semua ini.

Dunia di dalam pandangannya kini terlihat bagaikan satu lorong gelap yang semakin menyempit seiring waktu terus bergerak sesuai ritmenya. Masih dalam balutan selimut ungu, Jonghyun menitikkan air matanya seiring dengan tangan yang tak kuasa berhenti meremas helaian rambut hitamnya—yang bisa dipastikan sudah tak lagi tertata sejak beberapa jam lalu.

Dalam kesadarannya yang tidak seratus persen penuh, Jonghyun mau tak mau harus menggerakkan tangannya untuk meraih ponsel yang ditaruh di nakas sebelah ranjang. Benda itu sudah bergetar sejak tadi, beberapa kali.

New Message:3

From: Minho

Hyung, kau ke mana? Semalam aku ke rumahmu untuk bercerita, kata tetanggamu kau pergi. Apa sesuatu terjadi pada Bibi?

Tercekat. Pesan Minho menyeret memori Jonghyun tentang eomma-nya. Wanita luar biasa itu… ingin sekali Jonghyun mengabdikan seumur hidupnya untuk terus berada di sisi wanita yang telah mengandungnya itu. Tak ada wanita yang lebih berjasa darinya, yang telah memperjuangkan kehidupan Jonghyun dari sejak di dalam rahim hingga dewasa. Jonghyun ingat betul cerita eomma-nya, bagaimana wanita itu ingin memberi asupan ASI penuh untuk bayinya agar kelak sang buah hati menjadi anak yang cerdas dan memiliki sistem imun tubuh yang kuat. Demi memenuhi itu, eomma-nya rela berhenti bekerja dari kantor dan hidup di bawah kondisi kesederhanaan hidup dengan hanya mengandalkan nafkah dari suaminya. Pengorbanan itu semakin besar tatkala ayah Jonghyun pergi dari dunia fana ini. Bukanlah hal mudah membesarkan 3 orang anak di tengah kondisi perekonomian yang kian mencekik leher.

Perlahan jemari Jonghyun bergerak, menguatkan diri untuk membuka pesan selanjutnya.

From: Eunri-ssi

Ternyata kau sangat jantan. Tak salah aku membayarmu. Datanglah kembali ketika kau membutuhkanku.

Tak mampu lagi membendung emosi, Jonghyun berteriak kencang—merutuki apa yang telah dilakukannya demi sesuatu bernama ‘uang’. Bukan lagi tertekan, perasaan membunuh yang lebih dari itu tengah menyergap Jonghyun, menjadikan air mata itu bukan lagi hal yang tabu untuk dibiarkan mengalir.

Pesan terakhir harus dibukanya, ia khawatir itu pesan dari sanak-familinya yang berkepentingan untuk mengabarkan sesuatu. Secepat kilat Jonghyun ingin segera menuntaskan membaca pesan terakhir tanpa melihat siapa pengirimnya lebih dahulu.

From: Past Jewel

Jjong. Kutunggu kau!

 

“Arrrgggg… Heera-ya… kenapa kau begitu keras kepala?” erang Jonghyun kesal.

Dunia terasa makin menyudutkannya, tak mengizinkan Jonghyun—yang telah terhempas ke dasar jurang—untuk merangkak naik menghirup aroma tanah di dataran yang berisikan hunian manusia.

Pesan? Ponsel? Satu lagi ‘pisau pembunuh’ membentang di hadapannya. Jonghyun baru sadar ponselnya yang satu lagi sudah tidak berada di tangannya sejak hari pertemuannya dengan Heera. Jonghyun bahkan nyaris tak ingat ia memiliki ponsel tersebut, ia sama sekali tak berniat mengakui bahwa ponsel itu adalah miliknya. Benda laknat itu sama hinanya dengan orang yang memberi, wanita bernama Eunri. Ia bahkan tak pernah menggunakan ponsel tadi selain untuk membaca pesan dari wanita itu.

Jonghyun tak tahu apa alasan asli Nyonya Eunri menghadiahi dirinya sebuah ponsel. Wanita itu hanya mengatakan, ‘gunakan ponsel ini setiap kali kau akan menghubungiku’. Dan baru sekarang Jonghyun mencurigai alasannya. Apa mungkin nomor yang ada di ponsel tersebut telah dimodifikasi sehingga rekaman percakapannya dapat dipantau oleh seseorang di luar sana? Jika iya, maka kecurigaan selanjutnya muncul. Untuk apa?

Namja itu bertambah lemas saat menyadari kemungkinan lain. Apakah mungkin rekaman percakapan itu nantinya akan digunakan sebagai ancaman untuk eomma-nya? Isssh, ini adalah hal yang paling mengerikan bagi Jonghyun. Amarah eomma-nya adalah puncak kerumitan dari semua masalah yang membebani punggung Jonghyun.

Untuk yang kesekian kali Jonghyun mencabik kulit wajahnya hingga meninggalkan bekas merah. Ia baru menyadari mengapa Nyonya angkuh itu begitu ingin menghabiskan malam bersamanya, semua ini semata-mata untuk menyerang eomma-nya yang notabene adalah saingan berat di masa lalu. Tidak ada alasan lain yang mungkin. Kalau wanita itu hanya menginginkan kepuasan nafsu, ia bisa saja membayar pria lain untuk menemaninya. Tidak harus Jonghyun, ‘kan?

“Sial!! Ponsel itu… sekarang di mana?”

Belum sempat Jonghyun menerka keberadaannya, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

From: Past Jewel

Jjong, kau tidak ingin mengambil ponselmu? Oh ayolah… boleh aku menebak? Ini adalah benda berharga lainnya yang mungkin kau dapat dari… wanita barumu?Kau pasti tak rela kehilangan ini, Mr.Ponsel…

To Be Continued

Source:

Manfaat senyum:

Link 

Ciri orang yang sedang berbohong:

©2012 SF3SI, Heartless.

Officially written by Vero, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

27 thoughts on “Forward – Part 4

  1. Kenapa rumit gini?
    Sungguh aq gk percaya jonghyun akan ngelakuin kayak gitu TT
    Kenapa dibuat gitu? Huhuhu
    Eoni jahat ah
    Kenapa sampe berbuat dosa gitu jonghyun kalo butuh uang?
    Ini yg blum aq temukan jawabanya. Ayo lanjut eon

    1. haii icamystories (manggilnya gmn ya?) gomawo ud berkunjung nih hehe..
      jjong ya? pd dasarnya sih tdk ada mnusia yg melakukan sesuatu tanpa alasan (terlepas dr alasannya bener apa ga) #ciebahasague
      msh penasaran ya? hehe
      ayo ayo tunggu next partnya ya dan doain part berikutnya ga byk hambatan.. gomawo^^

  2. hwaAA.!akhrnya publish jg…

    cckckck..complicated..

    tp aku suka,bnyak pgtahuan yg dpt dr crta ne.

    next part jg lama2 y..

    1. dylanie^^ hehe iya akhirnya, maaf lama ini ckck..
      waw berpengetahuan? hehe gomawo loh.. kalo soal pengetahuan author bibib emang oke.. ini partner abal2nya aja sampe decak kagum *tunjuk diri sendiri* hehe
      gomawo^^ tunggu next partnya yahh

  3. Huaaaaaaa..
    Ga nyangka jjong bisa jadi,,,,,,,,,,. Ugh, nyebutnya aja ga tega.. Apa masalah dia sepelik itu.. Hwa.. Airmataku berderai membayangkannya..#lebay
    Itu jg jinki.. Makin bikin penasaran..
    Heera-ya.. Yg tabah..
    D.A.E.B.A.K!!
    Next ditunggu..

    1. bi..bi..bisa j..jadi apa hyora? *ikutan shock* kekeke~
      *ksh tisue* hai ud lama ga nyapa hyora~~ huehehe.. penasaran? jinki? hehe msh rahasia dong.. mknya jgn bosen2 menanti lanjutannya ya hehe #maksa
      gomawooo~

  4. Whatt!? Apa ini? Jess jess jess…
    Cuma baca part ini aja udah menguras emosi. Aish keren, keren. Berasa apa gitu bacanya.

    Heera yang berada di tengah pergumulan berat orang-orang. Dianya jadi keseret galau. Jonghyun tegaa.. *loh Tapi beneran gak bisa bayangin jonghyun yang begitu.
    err.

    Semoga tanpa baca part sebelumnya aku tetep ngerti ini ceritanya apa.. Kkk~ #maksa

    Err.. Itu.. Ternyata mau bohong aja susah ya? Bohong sangat berbahaya rupanya. Ck

    Baca siapa authornya, waaa! Pantes. Masterpiece!
    Wajib dibaca next partnya, soalnya banyak ilmu dan pesan moralnya. Hyaaah akhir kata saya ucapkan terimakasih. Aku akan baca next partnya.

    1. holla miss DJ… hehe😄
      lama tak bersua tiba2 muncul aja kekeke~ jjong? ga kebayang? tp jjong versi gw sih ..kynya pasti kebayang lah ya.. haha..

      yep slaen ntu bohong bisa berkelanjutan,sekali mulai bs jadi siklus yg tak berujung.. bisa meningkatkan tensi dan anxiety hoho..

      beneran loh kl kgk baca gw terror.. keke… #ngancem
      gomawo Miss DJ😄

  5. Kyaa!!! akhhirnyaaaa…
    udah lama bgt aku nunggu nihh ff..

    Omo Jjong, ya ampun sumpah aku nyesek banget bacanya😥
    aargghh ga tega ngebayangin Jjong yg jd… hweee Jjooonggg ㅠ_ㅠ . Isshh aku bnci eunri-ssi, tp aku mkin yakin niihh klo Si Eunri itu eommanya Minho.
    & Jinkii, aku makin penasaran ada apa dibalik sikap dinginnya itu. Apa yg trjdi di masa lalunya smpe dia kayak gt??
    Hhh.. makin belibet aja😐

    OnKey thor next part ditungguu..

  6. makin rumit aja, tapi aku suka kok ceritannya..
    Dpt pengetahuan jg ttg manfaat senyum sama ciri2 orang berbohong. Ditunggu lanjutannya..

    1. hai park min gi ^^ hoho
      kan sama seperti hidup manusia makin lama makin rumit #eh
      wahaha itu kalimat di atas jangan terlalu ditanggep ini aku error dan gaje aja :p
      nah ayo banyak2in senyum biar sehat😄
      gomawo min gi-ssi, semoga part berikutnya bisa lancar dan lebih cepat😀

  7. udah baca part 1-3 tapi baru komen sekarang .. mianhae ._.v
    yang paling lim suka di forward soalnya isinya nggak kacangan .. wiih,banyak ilmunya o.o
    padahal masukkin informasi yang istilahnya ilmiah banget di ff apalagi yang ‘diselipkan’ tuh susah sangat biar ceritanya tetap berkesan ngalir .. daebak buat bibib sama heartless eonni!!

    cuma yang lim agak penasaran,adegan heera ketemu sama jjong yang terakhir kok kayak ada kesan agak ooc ya?bingung ==a

    ditunggu lanjutannya, hwaiting!! ^^

    1. lilim~! lama tak berjumpa hehe.. gpp ini aja ud cukup terharu kok krna lim mau baca seriusan😀

      hehe gomawo lilim, ooc? ooc gmn O.o
      jangan ragu kasih masukan ayo, justru kalau ada masukan lebih ditunggu loh😀
      wah jd kangen ==”

      1. nggak,cuma sekilas aja eonni..kan heera selalu digambarinnya tipe orang yang kuat,mandiri, emang sih pasti ada sisi rapuhnya tapi kayak agak kejauhan..
        waa maap sok tau -,-

        kyaaa dikangenin jjong imitasi😄
        lim juga kangeen *apasih

  8. akhirnya setelah sekian lama menunggu….. part 4 udah keluarrrrr!!!
    tapi.. tapi.. kenapa jonghyun jadi seperti itu? kenapa?!? selama baca bagian itu cuman bisa melongo, nyesek, sedih, gak percaya.. pokoknya campur aduk lah😦 #okeinilebe

    sumpah. penasaran sama kelanjutannya!! kasian kan Heera dikhianati begitu😦

  9. asik juga baca ff yang rada berat gini, otak jadi kaga nganggur (y)

    ngomong-ngomong yang soal bohong itu.. sebanyak itu kah ciri-cirinya?waah.
    sekali waktu semua ciri bisa keluar kalau bohong?ckck hebat..

  10. akhirnya HeartLess-ssi nongol juga, selama ini taunya Bibib-ssi aja😉 antara part satu dan part selanjutnya lumayan lama ya.. tp baca ff ini sekalian tambah ilmu jg siy, jd nunggu part selanjutnya gk sia-sia🙂 Ok deh, lanjuuut…😀

  11. Well,berkali” liat org putus ato dr penglmn sndiri,I wonder if; perdebatan puitis menjelang putus it benar” ad d dunia nyata.
    Eh tp otakku mumet, jdny Jjong sm tante girang it d part ini ato yg k3 sih. Tdiny kupikir udh keduluan dr part ini.
    Mmm, trus mujiny mesti gimana ya. Soalny ini kerenny giles aj, part k blkg mkin seru. Mkin pnsrn Jinki sakit ap. Trus”an nebak, kanker tulngkh. Abisny d narasi blg tulng”ny linu. Ok next neeeext~

  12. sumpaah! rasanya saya mau cabik-cabik muka orang!!! #siapa yang mau aku cabik-cabik? #frustasi.
    eon, teganya dikau. jonghyun kok jadi seberani itu, sih? sebenarnya apa sih yang mendesak Jonghyun hingga begitu membutuhkan uang? apa eommanya sakit?
    terbang ke part selanjutnya.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s