Piece of Memory – Part 3

Piece of Memory [Piece 3]

Author             : ZaKey

Main Cast        : Choi Minho, Lee Taemin

Support Cast    : Choi Jinri (Sulli), Kim Kibum (Key)

Minor Cast      : Kim Jonghyun, Lee Jinki (Onew)

Length             : On Going

Genre              : Life, Shounen-Ai

Rating              : Teen

Disclaimer       : I do not own the character – they belong to God and themselves. The plot and the story are mine; it also published at my own wp

~~~~~~~

Kau diberi satu lagi kesempatan untuk hidup.
Cari Kim Jonghyun – ketahui apa yang harus kau ketahui dan ungkapkan apa yang harus kau ungkapkan.
Waktumu hanya empat hari terhitung dari sekarang.

“Aku ke sekolah sekarang.”

Minho mengintip dari atas lipatan koran. Alisnya bertaut khawatir. “Kau yakin? Wajahmu masih tampak pucat.”

Taemin mengangguk cepat. Wajahnya pucat? Alasan yang paling masuk akal adalah karena dirinya tegang tiap kali melihat paras rupawan Minho. Ia sengaja menunduk saat melewati meja makan tempat Minho duduk dan bergegas meraih sepatu ketsnya dari rak di samping pintu depan. Ia menghempaskan pantatnya di lantai, menjulurkan kaki ke bawah undakan pendek untuk memasang sepatu.

“Masih terlalu pagi. Kenapa kau buru-buru?” Taemin berjengit mendengar pertanyaan Minho. Gerakan tangannya yang tinggal mengikatkan tali sepatu terhenti kala merasakan lelaki itu mendekat. Hanya berjarak dua langkah dari punggungnya.

“Oh… tak apa. Aku ingin menikmati suasana pagi.” Taemin merutuki alasan payahnya. Ia melirik lewat helai poninya dan melihat Minho melipat lengan di dada.

“Perlu kuantar?”

“Tidak usah!” tolak Taemin, agak terlalu cepat. Ia kembali membungkuk untuk membenahi tali sepatunya lantas berdiri. Akibat tidak memperhitungkan keberadaan Minho, puncak kepalanya nyaris membentur dagu Minho – beruntung laki-laki yang lebih tua itu menghindar dan segera menyentuh sikunya.

“Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Minho. Sebelum tangannya sempat merambat naik, Taemin sudah menyentak siku dan memutar kenop pintu.

Menyadari Minho masih memperhatikannya, Taemin menoleh sedikit. “Aku baik-baik saja. Aku berangkat dulu.”

~~~

Sulli tak hentinya merecoki Taemin tentang segala hal tidak penting sepanjang pelajaran. Mulai dari menanyakan kondisi lelaki itu sampai menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi kemarin, tidak ada yang luput mengalir dari bibir mungilnya – Taemin bertanya-tanya apakah Sulli hanya sekadar bosan atau memang menganggap semua hal tersebut harus disampaikan.

Bahkan sampai waktu makan siang datang dan mereka duduk di salah satu meja kantin yang penuh sesak, Sulli terus berceloteh tentang sesuatu yang tidak bisa dipahami Taemin. Ia diam-diam memutar bola mata dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menatap keseluruhan kantin yang luas dan berlangit-langit tinggi.

“… dan mungkin memang itu yang dipikirkan Key oppa.”

Perhatian Taemin tersedot kembali pada Sulli. “Apa katamu tadi?”

Sulli mengendikkan bahu seraya memasukkan satu lagi potongan sandwich ke dalam mulutnya. “Key oppa. Kadang-kadang dia datang ke rumahku dan membantu mengerjakan PR sekaligus menceritakan kehidupan kampusnya yang sangat sempurna,” jelasnya lantas menangkupkan kedua tangan di samping pipi, memasang ekspresi berbunga-bunga.

“Darimana kau kenal Key?” selidik Taemin.

“Oh, jangan konyol, Taemin-ah. Kau yang dulu mengenalkan kami, bukan? Saat kita berdua berjalan-jalan ke taman bermain dan bertemu Key oppa serta Choi Minho. Oh, omong-omong saat itu kau memutuskan meninggalkan aku dan Key oppa sementara kau pergi bersama Minho. Memangnya ada apa di antara kalian?”

Taemin tidak bisa menahan semburat kemerahan yang mulai berlarian di wilayah pipinya. Tangannya mencengkram karton susu yang sudah kosong sampai remuk. Ada apa? Harusnya ia yang bertanya apa yang terjadi. Oh, sial. Apa yang ia lakukan bersama Minho di masa lalu?

“Taemin-ah? Kau tidak apa?”

“Oh – ya, tentu saja. Apa saja yang diceritakan Key padamu?” Taemin berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya hal lain. Di luar dugaan wajah Sulli memerah dan bibirnya membentuk senyum aneh.

Ouch, kuharap ini bukan tanda bahwa kau cemburu dengan Key oppa,” kata Sulli lantas terkikik. Taemin harus bertanya dua kali lagi untuk mencapai jawaban yang ia inginkan.

“Tidak banyak, kuakui. Dia lebih sering mendengar ceritaku,” ungkap Sulli seraya merentangkan kedua tangan ke depan, memeriksa kuku-kukunya yang dipoles natural pink. “Dia berbicara tentang kuliahnya – tentu saja, keluarganya, part-time job sebagai pelatih tari, sahabat lamanya yang bernama Kim Jonghyun….”

Alis Taemin berkedut mendengar nama itu disebut. “Apa yang dibicarakan Key tentang Kim Jonghyun?” sambarnya cepat. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.

“Oh, well….” Sulli menyembunyikan tangan di pangkuan, memalingkan muka dengan gelisah. “Uh… tidak banyak.”

“Aku yang menceritakan Kim Jonghyun pada Key,” ujar Taemin, mengutip pembicarannya dengan Key kemarin. “Apa maksudmu mereka adalah ‘sahabat lama’?”

Sulli kembali menatapnya, kini dengan kedua alis terangkat tinggi. “Kau tidak tahu? Mereka berdua saudara seayah, tapi hubungan mereka cukup baik hingga Key oppa menganggap Jonghyun sebagai sahabat sendiri.”

Taemin termenung beberapa saat, kemudian, nyaris tanpa berpikir, menghapus noda mustard di sudut bibir Sulli menggunakan ibu jarinya. Ia kembali tenggelam dalam lamunannya hingga tak memperhatikan wajah Sulli yang berubah merah padam.

~~~

“Oh, dia belum sadar? Mungkin kau lebih baik kau membawanya ke Jepang.”

Hening sejenak.

“Ya, aku tahu. Semoga kau diberi kekuatan untuk menjaganya sampai sadar. Ya. Tentu saja, aku selalu berdoa agar dia cepat sembuh. Ya. Sampai nanti, Jonghyun hyung.”

Key menatap ponselnya yang kini menyisakan nada panjang monoton. Setelah dua tarikan napas berat yang begitu lama, ia menjejalkan ponsel ke dalam celana dan membalikkan badan. Ia nyaris memekik melihat Taemin berdiri di ambang pintu, menatapnya tajam tapi juga penuh keraguan.

“Hai, Taemin-ah. Sejak kapan kau berdiri disana?” tanyanya heran seraya mendekati lelaki yang masih menyandang ransel di satu bahu itu.

Taemin tidak menjawab. Otaknya masih sibuk memutar rekaman pembicaraan Key barusan, terlebih karena yang bercakap-cakap dengan pria bermata sipit itu ternyata adalah Kim Jonghyun. Ketika Key hendak menyentuh pundaknya, Taemin menghindar dan berkata, “Selamat siang, Key ssi. Keberatan jika aku masuk kesini?”

Key mengerjapkan mata, lalu tertawa keras. “Demi Tuhan, apa yang membuatmu begitu sopan? Kepalamu terbentur di jalan tadi?” Ia mengacak rambut coklat Taemin. “Ini rumah kedua, begitu dulu kau katakan. Apa aku harus mempersilakanmu masuk?”

Taemin membiarkan Key menarik tangannya memasuki practice room. Tempo hari ia pingsan disini akibat mendapat sekeping ingatan, tapi kali ini ruangan luas tersebut tampak ramah dan hangat dengan sinar matahari yang menyorot lembut.

“Apa yang membuatmu begitu tegang?” tanya Key geli.

“Ah, tidak. Uh… aku….” Taemin menarik napas panjang, lantas bertanya dengan nada yang diharapkannya biasa saja. “Tentang Kim Jonghyun… bisakah kau tunjukkan dimana letaknya sekarang?”

Key mengalihkan pandangan ke jendela, membelakangi Taemin. “Aku takut aku tidak bisa melakukannya,” lirihnya.

“Eh? Wae?”

“Jangan berpikir aku tidak ada di pihakmu, Taemin-ah.” Key kembali menatapnya, tersenyum redup. “Aku sudah berjanji padanya untuk tidak mengatakan apa pun, terutama kepadamu. Maaf.”

Taemin merasa sudut hatinya terluka oleh ucapan Key. Apakah ini berarti Jonghyun membencinya? Memangnya apa yang sudah ia perbuat? Seberat apakah kesalahannya hingga menyebabkan Jonghyun menghindarinya seperti virus?

Selama satu menit penuh tidak ada yang berbicara di anta mereka. Key berdiri canggung sembari terus memainkan tali jaket merah gelap yang dikenakannya sementara Taemin terpekur memperhatikan lantai kayu yang terpoles sempurna, berusaha keras menggali lipatan otaknya untuk mencari citra seorang bernama Kim Jonghyun.

Ya, dia dapat membayangkan secara samar, seperti melihat seseorang dari balik kaca tebal yang beruap, seraut wajah bergaris tegas dan rambut hitam jabrik hitam. Selain itu? Taemin menyisir poni yang mencapai mata ke belakang dengan frustasi. Tidak ada. Nihil.

“Key ssi, boleh aku bertanya satu hal lagi?”

Key, yang sedang melakukan pemanasan ringan, mengangguk. “Tentu saja.”

“Sebenarnya… apa yang membuat Jonghyun tidak mau menemuiku lagi?”

Tanpa terduga Key merangsek maju dan mendaratkan kepalan tangan di pipi Taemin sampai lelaki itu terhuyung mundur. Taemin mengusap sudut bibir, tak percaya dengan setitik darah yang ada di punggung tangannya. Ia mendongak, menatap Key yang balas menatapnya tajam dan dingin.

“Kau masih perlu bertanya?!” seru Key marah. “HAL ITU SUDAH JELAS GARA-GARA KAU, IDIOT!!”

Taemin terpengarah dengan semburan kemarahan Key. Key sudah pasti akan kembali memukulnya jika saja ringtone berupa musik beraliran urban-electronica berdentum di ruangan. Key mengumpat pelan, mencabut ponselnya dari dalam saku celana training-nya.

“Oh, Jonghyun hyung.” Key berdeham sekali dan melirik Taemin sebelum berbalik menuju pintu. Sejenak ia mendengarkan apa yang dikatakan Jonghyun saat menggenggam kenop pintu dan membalas, “Perancis? Ya, semua bisa diatur.”

Taemin mematung dalam ruangan. Apa sebenarnya yang sudah terjadi?

~~~

Taemin mengintip ke dalam apartemen, memastikan Minho tidak ada sebelum menguak pintu lebih lebar dan masuk dengan hembusan napas lega. Baru saja ia membungkuk untuk melepas sepatu, suara baritone menyambutnya dari dapur.

“Darimana sampai sesore ini?”

Taemin meringis, namun memutuskan menyelesaikan melepas sepatu sebelum menjawab, “Sekolah. Memangnya aku bisa pergi kemana lagi?” gumamnya tak acuh dan menaiki undakan. Tapi baru saja ia mengambil langkah pertama, tangan lebar dan hangat merenggut dagunya dan memaksanya menatap dua mata coklat gelap.

“Pipimu lebam. Kau berkelahi?” tanya Minho datar.

“Lepaskan aku dulu!” pekik Taemin. Percuma, tenaga Minho jauh lebih besar daripada miliknya yang sudah kelelahan. Akhirnya ia menyerah, tapi membuang pandangan ke sakelar lampu yang ada di dekatnya.

“Kau berkelahi?”

“Tentu saja tidak,” bantah Taemin cepat. Ia meringis ngeri saat melihat wajah Minho semakin mendekat tapi Minho menyalahkan-artikan ekspresi itu; cepat-cepat ia menarik tangannya dari dagu Taemin.

“Maaf. Apakah sakit?”

“Apa? Tidak.” Taemin memaksa tawa yang akhirnya terdengar sebagai dengusan menyedihkan. “Ini kesalahanku sendiri. Jangan khawatir.”

“Siapa yang memukulmu?” tanya Minho sambil mengikuti Taemin masuk ke ruang tengah yang hangat. Dilihat dari kertas yang bertebaran disana-sini, Taemin menebak Minho sudah ada di rumah sejak beberapa jam yang lalu.

“Tidak ada. Sudah kubilang ini kesalahanku sendiri. Aku terja – “

“Lee Taemin, jangan berbohong.” Minho melangkah mendahului Taemin dan menghalangi akses ke dalam kamar dengan tubuhnya sendiri. “Kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa? Bicara sejujurnya!”

Taemin meneguk ludah. Saat ini, tidak ada yang bisa lebih mengintimidasi ketimbang kehadiran Minho sendiri. Lebih baik ia mengaku atau dirinya sendiri menjadi tawarannya.

“Oh, baiklah. Ini perbuatan Key.” Melihat sorot mata Minho yang mengeras membuat Taemin cepat-cepat menambahkan, “Tapi soal kesalahanku sendiri, itu benar. Ini salahku tidak dapat membaca situasi. Jadi jangan – “

“Memangnya kau pikir apa yang akan kulakukan?” Minho tersenyum, tapi Taemin tak yakin senyum itu dapat menenangkannya. Tangan Minho mendarat di puncak kepalanya dan mengacaknya pelan. “Istirahatlah dulu. Aku akan keluar sebentar.”

Kelegaan yang baru beberapa detik dinikmati Taemin menguap tak berbekas. Ia mengejar Minho yang berjalan dengan langkah lebar menuju pintu; dalam perjalanannya menyambar jaket dan kunci mobil.

“Tunggu, Minho ssi. Kau akan pergi kemana?” tanya Taemin panik. Ia berusaha ikut keluar tapi Minho mendorong dadanya kembali masuk.

“Membuat perhitungan. Tidak akan lama.”

~~~

Jarum jam menunjuk pukul sebelas malam kala Taemin membuka kelopak mata. Tampaknya ia jatuh tertidur di sofa dalam menunggu Minho pulang. Perlahan ia meregangkan lengannya yang kesemutan karena digunakan sebagai bantal kemudian bergerak duduk. Semua lampu sudah dinyalakan dan selembar selimut membungkus tubuhnya. Mungkinkah ini berarti Minho sudah pulang?

Taemin menarik dan melipat selimut itu seadanya sebelum berdiri. Kamar mandi kosong. Tidak ada orang di dapur. Tanda-tanda keberadaan Minho tidak ada dimana pun. Taemin melipat lengannya di dada dan menggigil. Ia tidak menyangka malam ini begitu dingin. Mungkin ia bisa berganti dengan sweater yang tebal alih-alih selembar kemeja tipis seperti yang ia gunakan sekarang.

Taemin menjentikkan sakelar lampu begitu mendapati kamar gelap gulita. Berganti pakaian dan membersihkan diri seadanya kemudian kembali tidur, pikir Taemin mengantuk. Ia membuka pintu lemari dan segera berhenti kala mendengar erangan pelan dari arah tempat tidur. Berdoa dalam hati agar tidak seperti yang ia pikirkan, ia membalikkan badan.

Dan ya – Minho memang berbaring di tempat tidur, terbenam di balik bed cover yang tebal. Satu tangannya terangkat mengucek-ucek matanya yang setengah terbuka.

Uh-oh, saatnya pergi. Taemin menarik salah satu sweater dengan asal dan segera keluar dari kamar, tapi panggilan serak dari tempat tidur menghentikan langkahnya.

“Hei, Taemin-ah. Key hanya salah paham. Ia tidak tahu jika kau hilang ingatan,” gumam Minho dengan nada mengigau. Ia mengubah posisinya menjadi menyamping dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas sebelum kembali terlelap.

“O – oh, terima kasih banyak, Minho ssi,” bisik Taemin sebelum mematikan lampu dan keluar dari kamar.

Tidak. Walaupun tidak tahu, reaksi Key tadi siang cukup menjelaskan bahwa Taemin telah melakukan sesuatu yang sangat salah. Pada Kim Jonghyun. Sesuatu yang sangat salah macam apa? Taemin menghempaskan sweaternya ke sofa dan berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Kira-kira kesalahan seperti apa yang sampai membuat seseorang menghindar?

Mungkin ada hubungannya dengan kakaknya.

Pikiran itu melintas begitu saja di benak Taemin. Kakaknya? Taemin duduk di lengan sofa, menjepit batang hidung dengan telunjuk dan ibu jari, mencoba menghubungkan informasi-informasi yang sudah didapatnya beberapa hari terakhir ini. Minho adalah tunangan kakaknya. Jonghyun adalah kekasih kakaknya.

“Ssh… lalu apa hubungannya denganku?” bisik Taemin frustasi seraya menumpukan kedua tangan di paha dan menunduk dalam. Jikalau memang ini hanyalah cinta segitiga, kenapa justru dirinya yang menanggung semua?

Taemin kembali berdiri dan berjalan ke arah deretan pigura, sekali lagi mencermati wajah Minho yang rupawan tercetak disana. Matanya berhenti pada sepasang suami-istri yang juga ada di beberapa pigura. Tak perlu pengamatan seorang ahli untuk tahu bahwa ini adalah keluarga kecil bahagia yang berkecukupan. Jika dilihat dari pakaiannya, kemungkinan besar ayah Minho adalah seorang tentara sementara ibunya wanita karir.

Lalu bagaimana dengan keluarganya sendiri? Taemin menunduk putus asa. Selain informasi bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan, tak ada lagi yang tersisa dari ingatan tentang keluarganya. Oh, benar juga. Ia juga anak seorang pemilik Lee Corporation.

Lee Corporation? Taemin mengerjapkan mata sekali. Dalam kepalanya, ia kembali pada saat pertama membuka mata, saat pertama bercakap-cakap dengan Minho. Laki-laki itu berkata sesuatu yang aneh… sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang seharusnya terjadi.

PRAKK

A – aigoo!” desis Taemin kesal. Kelihatannya tanpa sadar sikunya menyenggol map besi tempat meletakkan surat-surat sampai terjatuh dan memuntahkan semua amplop ke lantai. Cepat-cepat ia berjongkok untuk mengumpulkan amplop maupun kertas yang tersebar ke keempat penunjuk arah.

Tangannya meraih amplop terakhir yang terselip di bawah meja tempat pigura yang tidak cukup ditempel di dinding diletakkan. Ia bersin sekali, merutuki dirinya sendiri yang tidak segera mengenakan sweater, lantas menjejalkan amplop kekuningan itu ke dalam map besi bersama teman-temannya.

Apa itu? Taemin mencabut kembali amplop yang baru saja ia masukkan dan segera membaca nama sang pengirim.

Lee Yeseul

153 boulevard St Germain 75006 PARIS

Lee Yeseul. Taemin menjatuhkan amplop itu ke lantai dan memegangi kepala dengan kedua tangan. Nama familier itu berputar di otaknyanya, menggelitik ujung-ujung syaraf dan membangkitkan perasaan campur aduk yang mustahil diidentifikasi. Rasa sakit mencengkram kepalanya, begitu keras hingga ia menyangka tengkoraknya bakal pecah saat ini juga.

Taemin melihat sebuah ruangan dengan dominasi warna merah marun dan interior klasik yang mewah. Seorang perempuan duduk di atas kursi berlengan yang menghadap meja. Tangan kanannya menggoreskan tulisan rapi dan kecil menggunakan pena. Matanya yang terhalang oleh rambut tampak berkaca-kaca, sedetik kemudian bulir kristal jatuh menuruni pipinya dan mendarat di atas amplop yang berada di atas meja.

Aku lelah. Aku ingin pulang,” ungkap perempuan itu lirih. Ia membubuhkan tanda tangan di bagian bawah kertas lalu melipatnya hingga cukup dimasukkan ke dalam amplop. Ia membalik amplop tersebut dan menuliskan lokasi dirinya berada.

Seperti film yang diambil oleh kameramen amatir, citra tersebut timbul-tenggelam. Terang-redup kala perempuan berambut panjang itu meninggalkan amplop di atas meja. Perlahan segalanya mengabur dan menjadi gelap.

Taemin memaksa membuka mata, menyambut pemandangan apartemen Minho yang sudah sangat akrab di retinanya. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya begitu lemas. Tanpa disadarinya air mata sudah membasahi pipinya.

Segala yang dirasakannya tadi lenyap tak berbekas, kecuali satu perasaan kecewa yang luar biasa. Apa yang sanggup begitu kecewa sampai menitikkan air mata seperti ini? Taemin menarik napas panjang, berpegangan pada pinggiran meja pajangan untuk berdiri. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin dan air mata.

“Kau kenapa?”

Taemin terperanjat melihat Minho berdiri menyandar pada ambang pintu. Mata lebarnya menyorot Taemin tajam selama berjalan mendekat kemudian menyentuh salah satu pundak lelaki itu.

“Wajahmu pucat. Kau menangis. Dan,” tangan Minho turun ke telapak tangan Taemin, “tanganmu sedingin es. Untuk kali ini aku tidak akan menerima jawaban ‘tidak ada apa-apa’.”

“Kau kenapa?” Minho mengulang pertanyaan kala Taemin tak juga menjawab.

“Entahlah, aku sendiri tidak tahu,” aku Taemin. Posisi mereka kini memungkinkan Taemin untuk jatuh ke pelukan Minho kapan pun, tapi hal itu tidak akan terjadi meski kakinya gemetar hebat dan seluruh tenaganya terkuras habis – seperti yang ia rasakan sekarang.

“Kau terlalu memaksakan diri dalam mengingat sesuatu. Santai saja,” gumam Minho lembut seraya menggenggam tangan Taemin lebih erat.

Taemin membuang muka saat Minho berusaha membelai pipinya. “Aku tidak ingin membicarakan ini lagi.”

“Tak masalah. Duduklah dulu.” Minho membimbing Taemin ke sofa ruang tengah dan berjalan ke dapur untuk membuatkan lelaki itu secangkir susu hangat.

“Apa yang kau lakukan pada Key?” tanya Taemin ketika Minho sudah kembali dengan dua cangkir berisi susu hangat dan kopi – untuk dirinya sendiri.

“Astaga, kau takut sekali aku akan balik menghajarnya ya?” Minho menyeruput kopinya sebelum menjawab, “Tenanglah, kami hanya berbicara sedikit – hal semacam ini sudah sering terjadi dan dapat kupastikan tidak ada pihak yang terluka.”

“Ah, itu bagus,” gumam Taemin pelan. Bahunya menegang karena Minho kini duduk tepat di sebelahnya, hanya berjarak beberapa senti sebelum lengan mereka bersentuhan.

Sebenarnya jika mau mengenyahkan catatan harian yang dibacanya kemarin dari pikirannya, ia tidak akan secanggung ini duduk bersebelahan dengan Minho… pikirkan seandainya seseorang yang sejenis denganmu tinggal seatap dan ternyata “menyukai”mu. Mungkin bagi orang berpikiran terbuka akan terkesan biasa saja, tapi tidak bagi Taemin. Semua orang punya hak untuk merasa khawatir dan berprasangka negatif, bukan?

“Kuberitahu satu hal, Taemin-ah: kau tidak perlu khawatir akan apa pun selama ada aku di sebelahmu.” Seakan mendengar pikiran buruknya, Minho menambahkan, “Itu gunanya teman, bukan?”

Untuk pertama kali di hari ini, Taemin bisa mengulas senyum tulus – meski hanya sedikit – pada Minho. “Terima kasih banyak, Minho ssi. Kau benar-benar baik.”

Minho tersenyum cerah. Ia menepuk pundak Taemin pelan dan beranjak berdiri. “Baiklah, saatnya mengerjakan tugas akhir yang hampir selesai!”

Taemin mengikuti punggung Minho hingga menghilang di balik pintu kamar mandi dan kembali menatap cangkir susunya.

Mungkin ia seharusnya mempercayai Minho sedikit – lelaki itu satu-satunya orang yang tulus membantunya. Lagipula meski menyukainya, selama tidak ada yang terjadi, tidak masalah, bukan?

Taemin mengangguk-angguk tanpa sadar. Mungkin ia harus jujur pada Minho soal pencarian Kim Jonghyun.

~~~

Minho memandangi punggung Taemin yang masih duduk di sofa ruang tengah dari celah pintu kamar mandi setelah selesai membasuh wajah. Ia akan memindah laptop dan buku-bukunya ke ruang tengah dan menyuruh Taemin tidur. Anak malang, dia tampak sangat pucat dan terlalu lemah bahkan sekadar untuk berjalan melintasi ruang tengah ke kamar tidur.

Minho mengeringkan wajahnya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi. Sudut matanya menangkap benda putih segi empat di lantai bawah meja pajangan. Ia menoleh, terkejut melihat bahwa selembar amplop jatuh dari tempatnya.

Lebih buruk lagi, surat dari perempuan itu. Minho menggertakkan rahang, tanpa sepengetahuan Taemin memungut amplop itu dan merobeknya menjadi dua sebelum melemparnya ke tempat sampah di dalam kamar mandi.

Hubungan mereka sudah berakhir, itu berarti Taemin juga tidak boleh berhubungan lagi dengan perempuan itu.

..::To be Continued::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

7 thoughts on “Piece of Memory – Part 3”

  1. Aahh,,
    makin penasarannn…
    Lee Yeseul itu kakaknya Taemin? Trs suka sm Minho, tp tnyt si Minho lebih tertarik sm Taemin yg pasti wajahnya lebih unyu kan*wkwkk,bangga sm bias sendiri*

    lanjuttt..

  2. Huaaa!!Authour ini hobi banget bikin orang mati penasaran?? ><
    aku sih masih bingung kayak apa hubungan Taemin dengan kakaknya itu hingga kecewa "berat" ??terus Jonghyun,apa juga hubungan dengan Taemin??
    pokoknya harus cepet di post part slanjutnya *maksa* biar tidurku bisa lebih tenang u,u,gara gara FF ini aku aja smpe gk bisa tidur karna penasaran -,-

    Next,,next,, 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s