Binocular

BINOCULAR

Author: Ariesy Perdana

Main Casts:

• (SHINee) Lee Taemin

• Chiaki Hatori

Supported Casts:

• (EXO) Kai/Kim Jongin

• (A-Pink) Yoon Bomi

Length: One Shot

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-13

“Turunlah, Chiaki! Mau sampai kapan kau di atas sana?” seru Bomi pada seorang gadis yang saat ini tengah bertengger di salah satu dahan pohon besar yang tumbuh di belakang sekolahnya. Gadis berambut hitam panjang itu masih berkutat dengan binocular-nya yang diarahkan ke bagian gedung belakang sekolah, tepatnya ke arah kisi-kisi jendela lantai dua.

Dahan pohon yang sedang ia tempati itu ternyata merupakan spot yang paling bagus untuk mengintai para penghuni di dalam kelas tersebut.

“Sshh! Diam dulu, Bomi!” gadis bernama Chiaki itu mendesis, menyuruh temannya itu agar diam saja. Kemudian ia memutar lensa binocular-nya untuk memperbesar bayangan objek.

Serta merta bibirnya membulat, membentuk huruf O.

“Itu dia” ujarnya bersemangat. Bomi mendesah sebal tapi penasaran.

“Apa yang kau lihat?” tanyanya.

“Pacar gelapnya pamanku” sahut Chiaki ringan. Bomi membelalakkan matanya dan ia ikut memanjat pohon tempat Chiaki mengintai. Kedua gadis itu berdebat sebentar tentang Bomi yang akan segera mencelakakan mereka berdua jika ia ikut memanjat juga karena tidak ada lagi tempat untuknya.

Bomi sebenarnya tidak sengaja mengekor Chiaki ke halaman belakang sekolah. Bel tanda kegiatan belajar-mengajar di sekolah berakhir, dan Chiaki langsung melesat ke halaman belakang sekolah bak anak panah terlepas dari busurnya. Dan Bomi, yang sebenarnya hendak mengembalikan penggarisnya yang dipinjam saat pelajaran menggambar tadi, memutuskan untuk menyusul Chiaki. Bomi bukan orang yang suka berlama-lama menyimpan barang milik orang lain.

Chiaki baru tiga minggu pindah ke Seoul. Ia orang Jepang, dengan hanya seperempat darah Korea yang didapatnya dari neneknya. Ayah dan ibunya menetap di Jepang, bersama kedua saudara Chiaki yang lain, si kembar Akira dan Kaito. Sementara Chiaki tinggal bersama paman dan bibi dari pihak ibu dari ayahnya, yang asli orang Korea, di Seoul. Saudara jauh, memang.

Tapi Chiaki bukan anak yang sulit beradaptasi. Baru tiga minggu tinggal di Korea, ia sudah menguasai banyak sekali kalimat-kalimat berbahasa Korea.

“Pamanmu pacaran diam-diam dengan anak SMU? Kau bercanda” desis Bomi tidak percaya. Chiaki menghentikan kegiatan pengintaiannya, menoleh ke bawah dan menyeringai pada Bomi.

“Itu baru rumor. Kecemburuan bibiku saja, kurasa. Pamanku orang baik, kok. Tapi ya itu tadi, lebih baik kuselesaikan semua masalah selingkuh-menyelingkuh yang kekanak- kanakan ini daripada aku harus menyaksikan drama keluarga di rumah pamanku. Kau tahu siapa tersangkanya, Bomi?” Chiaki menyibakkan rambut hitamnya ke belakang punggung. Bomi menyahut dengan penasaran.

“Guru Matematika yang cantik jelita” sahut Chiaki, masih dengan senyum nakalnya. Bomi kembali membelalakkan matanya.

“Choi songsenim? Waaahhh…! Kau serius?” Bomi menggeleng-gelengkan kepalanya.

Chiaki mengangkat bahunya.

“Kubilang kan, ini cuma dugaan bibiku saja. Belakangan ini pamanku suka berkunjung ke sekolah ini kalau sore hari. Entah apa yang dilakukannya. Kemudian bibiku memergokinya sedang makan cake dan minum kopi berdua dengan Choi songsenim. Waktu itu rumah jadi ramai. Berhubung di rumah hanya ada aku dan Kai, anak paman dan bibi, jadi kau tahu sendiri bagaimana hebohnya” jelas Chiaki lagi, kembali sibuk mengintai. Kali ini didapatinya Choi songsenim sedang duduk mengawasi para muridnya yang ikut kelas remedial. Itu kelasnya Kai.

“Kai?” tanya Bomi dengan wajah memerah. Ia sudah lama naksir Kai. Tapi si pangeran berkuda putih impiannya itu malah sibuk dengan tim sepakbolanya. Terlepas dari Bomi mengejar Kai atau tidak, gadis itu berteman dengan Chiaki karena menurutnya Chiaki anak yang supel dan mudah berteman. Ia juga penyimpan rahasia yang baik. Dan Chiaki berjanji untuk merahasiakan perasaan Bomi pada sepupunya itu, kecuali kalau Bomi sendiri yang mengatakan langsung.

“Yeah. Dia mulai pusing dengan tingkah kedua orangtuanya. Dan sebagai sepupu yang baik, aku akan…” Chiaki menggantung kalimatnya begitu lensa binokularnya menangkap seorang pemuda yang tampak mengacungkan tangannya, hendak menjawab.

“Akan…?” Bomi menuntut. Tapi Chiaki memberi isyarat agar ia diam.

“Kau lihat siapa lagi, sih?” tanya Bomi lagi, tidak bisa membendung rasa penasarannya. Ia juga ingin memanjat ke sana dan meminjam binokular Chiaki, agar bisa melihat Kai dari jauh. Pemuda itu kebetulan ikut remedial Matematika juga.

Dari lensanya, Chiaki melihat pemuda tadi menoleh ke luar jendela, tepat ke arah pohon yang sedang dinaikinya. Seketika Chiaki tersentak kaget. Lensanya yang bisa menangkap bayangan objek menjadi lebih besar itu kini berisi dengan senyuman si pemuda, yang kemudian menggerakkan jemarinya, menyapa. Tampaknya ia menyadari apa yang sedang Chiaki lakukan.

“Chi…AAAA!” Bomi menjerit seiring dengan olengnya posisi Chiaki di dahan pohon dan dalam hitungan detik saja gadis itu sudah terjatuh.

Chiaki meringis pelan. Kaki dan tangannya terasa ngilu dan perih. Ia menyempatkan diri berbaring sebentar di tumpukan dedaunan di bawah pohon, untuk meredakan rasa sakitnya.

“Ya Tuhan…! Kau tidak apa-apa, Chiaki?” Bomi berusaha membantu Chiaki bangkit.

Gadis itu mencoba duduk di tempatnya.

“Kurasa aku amnesia. Coba tanya siapa namaku, Bomi”

“Ck, dasar berlebihan! Oh, Tuhan! Lihat siapa yang datang!” Bomi menunjuk dengan dagunya, seseorang yang tengah berlari ke arah mereka. Wajah anak itu tampak khawatir, dan Chiaki mengalami masa kaget dua kali begitu bertatapan dengannya. Itu anak yang melambai padanya dari dalam kelas tadi.

“Lee Taemin…” ujar Bomi pelan dan tidak percaya. Pemuda bernama Lee Taemin itu tersenyum dan menyapa Bomi. Wajahnya memang tampan sekali kalau dilihat dari dekat. Ia bertumpu pada sebelah lututnya dan memperhatikan Chiaki.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, tampak cemas dan merasa bersalah. Chiaki berhasil mengumpulkan kembali konsentrasinya yang terpecah gara-gara ketampanan Lee Taemin dan ia menyahut, “Kalau merasa sakit dan perih di kaki dan tanganku itu berarti tidak apa-apa, aku sangat, sangat tidak apa-apa”.

Taemin tersenyum manis. Lalu tanpa banyak bicara ia mengangkat tubuh Chiaki dengan kedua tangannya, dan membiarkan gadis tersebut shock dengan perlakuan manis yang tiba-tiba ini.

“Apa-apaan ini?! Turunkan aku!” Chiaki meronta. Taemin sedikit sulit menjaga keseimbangan mereka.

“Kau jatuh gara-gara aku. Jadi mari kerjasama. Biarkan aku membawamu ke klinik sekolah kemudian kuantarkan kau pulang” ujar Taemin, mengisyaratkan agar Chiaki menurut.

Gadis itu diam. Kemudian ia teringat sesuatu.

“Binokularku!” serunya, masih di dalam dekapan Lee Taemin.

“Lupakan saja. Kuganti yang baru” sahut Taemin. Chiaki memandangnya dengan tatapan meremehkan.

“Wow! Jadi kau ini semacam Tuan Muda? Kurasa aku perlu istirahat di pulau agar kakiku cepat sembuh. Jadi bisakah kau membelikanku pulau pribadi?” sindir gadis itu. Bomi menelan ludah dan merasa tidak enak. Ia berusaha melotot dan mendesis-desis, memberi isyarat pada Chiaki agar tidak kurang ajar. Bagaimana pun Lee Taemin itu salah satu dari beberapa cowok populer di sekolah mereka. Tampan, jago poppin’ dance pula. Dan Taemin juga sering menjuarai berbagai macam lomba yang ada hubungannya dengan dance. Perawakannya manis dan ia tahu cara memperlakukan cewek, teman-teman, dan orang yang lebih tua.

“Bagaimana kalau pulau pribadimu kutukar dengan setangkai mawar tiap hari di lokermu, dan jasa antar-jemput ke mana saja kau mau, selama kakimu belum sembuh? Aku tidak menyediakan jasa seperti itu di pulau pribadi” ujar Taemin dengan wajah serius. Chiaki tidak menemukan kata-kata balasan yang lebih pedas untuknya, tanpa ia sadari bahwa Taemin sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab atas kejadian tadi.

$$$

Binokular Chiaki ternyata baik-baik saja. Lensanya masih bekerja dengan semestinya dan Bomi membawakannya besoknya di sekolah. Chiaki mengucapkan terima kasih padanya sembari mengecup binokular itu.

“Kemarin aku gagal mengintai Choi songsenim sampai pamanku datang. Tapi kali ini…eh?” Chiaki menghentikan ucapannya ketika melihat setangkai mawar sudah bertengger manis di dalam lokernya. Chiaki menarik secarik kartu kecil dari ikatan pita biru.

Cepat sembuh, Chiaki…

-Lee Taemin-

“Oh, Ya Tuhan! Lee Taemin benar-benar mengirimu setangkai mawar? Ada tulisannya pula! Kau sungguh beruntung, Chiaki!” Bomi meninju lengan Chiaki perlahan. Andai saja Kai melakukan hal yang sama padanya, ia mungkin sudah mimpi indah tiap malam.

“Pemuda sakit jiwa mana yang benar-benar akan mengirimiku mawar tiap hari seperti yang ia katakan kemarin?” Chiaki mengernyitkan dahinya. Bomi kali ini benar-benar memukul lengan gadis itu.

“Di planet Bumi itu namanya romantis, Bodoh! Haaahhh! Bicara denganmu bikin emosi!”

Chiaki tertawa melihat reaksi temannya itu, “Iya deh, ayo masuk kelas dan bantu aku menyusun rencana berikutnya soal pamanku”

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju kelas dan mereka berpapasan dengan Lee Taemin dan Kai. Bomi langsung sibuk pasang aksi jual mahalnya, yang kabar baiknya, ditanggapi dengan sapaan lebih dulu oleh Kai. Kemajuan yang baik.

“Kakimu sudah baikan?” tanya Taemin. Chiaki berlagak tidak peduli. Tapi ia berterima kasih soal Taemin yang membawanya ke klinik, mengantarnya pulang (meskipun Chiaki menolak soal antar jemput itu), dan mawar yang ada di lokernya.

“Kau suka mawarnya?” Taemin tersenyum senang. Chiaki mengangguk, tapi sejurus kemudian ia menarik tangan Bomi untuk masuk kelas, mempersingkat kesempatan Bomi untuk ngobrol lebih banyak dengan Kai.

“Kau kenapa?” Bomi mendengus cemberut. Chiaki membekap mulutnya dan mereka bersembunyi di balik tembok kelas.

“Apa yang pamanku lakukan pagi-pagi di sekolah ini? Jangan-jangan dugaan bibiku benar? Ia…selingkuh dengan guru kita!” desis Chiaki, menyimpulkan sendiri. Karena kalau memang hal itu benar, ia tidak sanggup membayangkan kehidupan paman dan bibinya berikutnya. Kasihan Kai. Kasihan bibinya. Mendadak Chiaki tersadar. Ia menepuk kedua pipinya sendiri. ia sedang memikirkan apa? Tidak ada bukti apa pun soal dugaan perselingkuhan itu dan dia buru- buru menarik kesimpulan negatif seperti itu? Chiaki Hatori bukan anak yang gegabah, ia bicara pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja hal ini menjadi hal yang penting sekali. Selama ini Chiaki cuma main detektif-detektifan dengan binokularnya. Tapi tentu saja, bagi Kai dan keluarganya, itu hal yang sangat penting. Dan sebagai keponakan yang tahu terima kasih, Chiaki memutuskan untuk menyelidiki dengan benar.

Setelah berdebat dengan Bomi soal bolos (yang tentunya ditentang mati-matian oleh gadis itu), akhirnya Chiaki melarikan diri dari pelajaran Sastra dan Budaya dan berjingkat-jingkat mengikuti pamannya.

Paman Kim tampak berjalan cepat ke arah ruang guru. Kemudian ia terlihat mengetuk sebentar dan masuk. Pintu ruang guru ditutup. Chiaki menggigit bibirnya. Tapi ia tidak patah semangat. Chiaki berjalan cepat, sembari menengok ke semua arah, memastikan tidak ada yang mengawasinya. Kemudian ia ke belakang, mencari celah. Sayangnya, satu-satunya cara Chiaki agar bisa mencuri dengar pembicaraan di dalam ruang guru adalah dengan masuk ke sana, karena jendela luar ruang staf pengajar dilengkapi dengan akustik yang baik sehingga sulit untuk mendengar pembicaraan di dalam.

“Kau itu sebenarnya sedang apa, Chiaki?” sebuah suara mengagetkan Chiaki. Gadis itu menoleh ke belakang. Lee Taemin sudah berdiri di sana. “hingga harus bolos?”, lanjutnya.

“Apa yang aku lakukan di sini?” sahut Chiaki, memandang remeh, “apa yang kau lakukan di sini, Lee Taemin? Kau punya bakat untuk selalu ikut campur urusan orang, huh?”

“Jangan bilang kau mau mencuri soal ujian” Taemin memandangnya tajam. Chiaki meringis, tidak percaya bahwa Taemin bisa memberinya tuduhan tidak masuk akal.

“Aku tidak akan melakukan perbuatan serendah itu! Sebaiknya kau bawa mulut besarmu dan tinggalkan aku di sini!” tandas Chiaki. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendengus. Tapi ia tidak tahan juga membiarkan Lee Taemin berpikir demikian.

“Baiklah, kuberitahu apa yang kulakukan. Aku mau mencari bukti bahwa Choi songsenim bukan pacarnya pamanku” ketus Chiaki akhirnya. Taemin mengerutkan dahinya. Chiaki pikir Taemin pasti akan menertawakannya. Tapi ternyata pemuda tampan itu langsung menarik tangannya menuju ruang guru.

Taemin mengetuk ruang guru dua kali, kemudian tanpa dipersilakan masuk lebih dulu, ia membuka pintunya dan menyeret Chiaki ke depan hidung guru piket.

“Anak ini,” ujar Taemin sembari menunjuk Chiaki tepat di wajah, “ketahuan hendak melompati pagar belakang sekolah untuk membolos”. Chiaki mengernyitkan dahinya dalam- dalam. Lee Taemin sudah memberinya dua tuduhan tidak masuk akal pagi ini. Tapi Chiaki tidak berkata apa-apa ketika Taemin menyeretnya ke ruang detensi, di sebelah ruang guru. Sekilas Chiaki melihat pamannya sedang bicara serius dengan…hey, tunggu. Pamannya tampak sedang bicara dengan beberapa orang, tidak hanya Choi songsenim. Beberapa guru dan orang tidak dikenal tampak mengobrol dan sesekali tertawa.

Sekarang masuk akal kenapa Taemin berbohong dan membawa Chiaki ke ruang detensi. Antara ruang detensi dan ruang tamu guru hanya dipisahkan oleh panel temporer yang bahkan tidak menjulang hingga ke atap. Jadi mereka bisa mendengar pembicaraan para guru dan tamu tersebut dengan jelas.

“Semua sudah diundang?” tanya Paman Kim.

“Kau tanya hal itu berkali-kali. Sudah, Eunjung tidak bisa datang. Ia ikut suaminya ke Singapura, urusan bisnis. Tapi tenang saja, reuni ini akan ramai. Hanya beberapa yang tidak bisa hadir. Bawa istrimu juga, Youngjae!” terdengar suara tamu lain.

“Tentu saja harus kuajak. Belakangan ini ia menuduhku main belakang dengan Areum, yang benar saja. Tepat ketika kalian memesan minuman, ia melihatku dan marah-marah. Padahal sebenarnya kita kan berdelapan. Perempuan kadang bisa sangat cerewet sekali. Tapi tolong rahasiakan hal ini padanya. Biar jadi kejutan nanti” papar Paman Kim panjang lebar.

Chiaki menganga tidak percaya. Kenapa ia dan bibinya begitu dangkalnya menuduh Paman Kim dan Choi songsenim?

“Bagaimana, Detektif? Kau puas? Jadi sepulang sekolah kau bisa ceritakan semua ini ke bibimu. Dan jika ia masih marah-marah juga, terpaksa kau harus bongkar kejutan pamanmu sendiri dengan menyerahkan rekaman dari sini” ujar Taemin sembari menunjukkan ponselnya di depan hidung Chiaki. Gadis itu tersenyum berbinar-binar.

“Kau merekamnya?” ujarnya, dengan suara perlahan. Taemin mengangkat bahu.

“Detektif yang cuma punya binokular sepertimu butuh bantuan, kurasa” godanya. Chiaki tersenyum kecut dan Taemin tergelak, tanpa lupa menjaga intonasi suaranya agar tidak terdengar hingga luar panel.

“Jadi kurasa…, aku berhutang padamu satu ucapan terima kasih. Kau mau kutraktir makan siang?” Chiaki bicara sambil membuang pandangannya ke meja detensi, berusaha menghilangkan rona merah di wajahnya yang tiba-tiba saja menjalar tanpa kompromi karena berada dekat sekali dengan Lee Taemin. Chiaki bahkan bisa mengendus aroma sabun mandi dari tubuh anak itu.

Lee Taemin tersenyum dan memutar dagu Chiaki hingga mata mereka bertemu.

“Aku tidak ingin memaksa, tapi…kau bisa mengucapkan terima kasih dengan…jadi pacarku?” ujarnya. Chiaki membelalak, tidak percaya Lee Taemin baru saja memintanya untuk jadi pacarnya. Tapi Chiaki tampaknya sudah punya jawaban.

“Jadi pacarmu tidak terlalu buruk. Asalkan akan ada coklat tiap hari di lokerku” ujar gadis itu dengan senyuman jahil khasnya. Taemin membulatkan bibirnya.

“Tidak masalah, Detektif. Dan kurasa…binokularmu harus siap-siap merasa cemburu karena aku…akan…mengalihkan perhatianmu darinya” ujar Taemin lagi. Mereka tertawa bersama.

“Ayo keluar dari sini. Kau tidak ingin bolos seharian, kan?” tanya Taemin.

“Bagaimana dengan guru piket?” sahut Chiaki, baru ingat kalau ia sedang pura-pura kena detensi. Taemin mengangkat bahu.

“Bilang saja diijinkan mengikuti pelajaran selanjutnya” ujar Taemin sembari menarik tangan Chiaki keluar dari ruang detensi. Chiaki tersenyum lebar. Bukan hanya karena Lee Taemin sekarang jadi pacarnya, tapi juga karena Paman Kim benar-benar tidak melakukan hal yang tidak benar, dan ia sudah tidak sabar lagi ingin menceritakan kejutan pamannya itu pada bibinya, Kai, dan Bomi.

THE END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

28 thoughts on “Binocular”

  1. Terlalu cepat… kurasa? =\

    Menurutku sih ini kecepetan, tiba-tiba aja Taemin udah suka ama Chiaki atau.. emang dia udah suka dari dulu?._.

    Harus sedikit ditambah ceritanya… kurasa? =\ #plakk #kurasamululoTazkia

    Tapi ide ceritanya bagus kok, jarang yang ada kayak gini =) keep writing!

    1. yeah…kurasa. hehe. ga kok emang kecepetan ya. to be honest pas nulis ini aku juga mempertimbangkan berapa page yang udah kuhabiskan untuk bercuap-cuap di cerita ini sih. tapi aku ga kepikiran buat paling enggak sedikit aja bilang kenapa sih si taemin naksir chiaki. hehe.
      but thank you, anyway ^^

  2. Haduh… Taemin so sweet banget. Kebayang deh pas Chiaki liat senyuman Taemin di binocular-nya, kl jadi Chiaki psti deg2an setengah idup.kekekek.

    Oh iyh, soal yg Taemin mnta Chiaki jdi pacarnya itu. Aku rasa alurnya kecepetan, mgkin bisa ditambah sedikit penjelasan kalo sebenarnya Taemin itu emg udh ngincer Chiaki sjak Chiaki pndh ke Korea. Atau ada beberapa scene yang menerangkan klo Taemin mulai tertarik sma Chiaki. Mudah2an sarannya membangun yaa ^^~
    Nice FF b^^d

  3. Ahhh… Bener-bener keren min !
    Daebak dah min ! MMimin Jjang ! Bisa bikin cerita se-spektakuler ini *eaa..eaa..lebay mode on..hehe

    Ceritanya cukup ringkas, padat, dan keren pokoknya min ! 1000 jempol buat mimin..
    *pinjem jempol member SM Family..hehe 😀

  4. AAAAAA biasku taem, dan aku sukaaaa banget sama cerita inii! Ngebayangin taem kaya gitu hehe
    kereeen banget ceritanyaa! Ayo thor buat lagi cerita yang lain yang ga kalah seru ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s