God Must Be Hate Me [3.3]

Title : God Must Be Hate Me ( 3.3 )

Subtitle : [Before Story] ‘Cause We’re Together #Jinki Vers.

Author: Boram.Onyu

Main Cast: Lee Jinki, Lee Eunmi

Support Cast : Lee Yun Seong ( Jinki’s Father ), Lee Hyun Ah ( Jinki’s Mother ), Lee Hyun Mi ( Eunmi’s Mother ), etc

Length: Trilogy

Genre: Romance, Family, Angst, School Life, Tragedy

Rate : Parental guidance (EHEM! Ada beberapa bagian yang agak tidak senonoh loh ya! I’ve warning you!)

Recommended Song : SHINee-Life, Secondhand Serenade-Last Time

Summary :

Di saat ia sudah memperoleh kebahagiaannya kembali, di saat ia sudah memperoleh tempat untuk melupakan segala keresahannya, saat ia mengenal arti ‘cinta’ untuk pertama kali dalam kehidupannya, haruskah semua itu direnggut atas alasan persamaan genetika?

 

Kedua tangan yang saling bergenggaman itu terayun ke depan-belakang. Jinki dan Eunmi, tengah berjalan di antara kerumunan warga Korea yang sedang sibuk pulang ke rumahnya. Hari yang sangat spesial bagi Eunmi, untuk pertama kalinya, dalam sejarah delapan bulan hari jadi mereka, seorang Lee Jinki mengajaknya berkencan.

“ Kau tahu tidak ini hari apa? “

“ Ini hari Jumat. “

Eunmi memberengut. Ia berusaha melepaskan genggamannya, yang ada justru Jinki semakin memperkuat kaitan jari-jarinya. Baru diingatnya, betapa Jinki tadi menolak genggaman tangannya, tapi sekarang malah namja itu tak mau melepaskannya sama sekali.

“ Ya ya. Aku tahu, ini hari ulang tahunmu. “

Senyuman mengembang di wajah Eunmi. Tidak terlalu buruk, ternyata Jinki tahu hari ulang tahunnya. Sebuah toko accesories menarik perhatian Eunmi. Gadis muda itu tak mengalihkan pandangannya dari toko yang bernuansa pink itu. Dan tentu, Jinki bisa segera menangkap maksud Eunmi saat kekasihnya itu menolehkan kepalanya padanya, memasang tampang seimut mungkin.

“ Berhenti menatapku begitu, wajahmu mengerikan. “

Eunmi mangap sepuluh jari. Ayolah, apa kekasihnya itu harus mengucapkan kata yang demikian kasarnya, bahkan di hari ulang tahunnya ini. Matanya masih memandang toko yang sudah dilewatinya dengan nanar. Berharap Jinki akan bersikap manis padanya sama saja menunggu sakura bisa tumbuh di Amerika. Yang pada intinya: Mustahil. Namja dingin itu bahkan tidak pernah menatapnya lama. Terakhir kali, ketika ia menceritakan romantisnya film Valentine’s Day yang baru saja ditontonnya bersama Yirang yang juga teman sekelas mereka, Jinki dengan ekspresi kosongnya akhirnya menatap Eunmi serius dan mengatakan: Diam, aku sedang baca buku.

Gondok hingga dirasanya ubun-ubunnya memanas. Baiklah, ia bisa saja meninggalkan Jinki, menemukan namja lain yang bisa lebih bersikap manis padanya. Setidaknya, ia punya beberapa fans di antara siswa seangkatannya. Bahkan, pernah sekali ia menerima pernyataan cinta dari adik kelasnya, menimbulkan keriuhan di angkatan kelas dua. Saat Jinki melewati mereka, ia bahkan berharap jika Jinki akan segera menarik tangannya dan mengatakan pada hoobae itu, jika Eunmi sudah menjadi miliknya.

Alih-alih menarik tangannya, meliriknya pun tidak. Dengan santainya ia melewati kerubungan siswa, yang sebenarnya ingin tahu reaksi Jinki, masih fokus pada buku psikologi yang baru saja dibelinya beberapa hari yang lalu. Meninggalkan ia dan semua yang berada di sana dengan mulut mangap. Menghancurkan khayalan Eunmi mengenai pertarungan sengit antara Jinki dan si hoobae memperebutkannya.

Tapi apa daya. Lee Jinki telah memikat hatinya terlalu jauh. Lagi, ia tak pernah bisa menampik jika di pikirannya hanya selalu tertuju pada Jinki seorang. Namja dingin yang tampan, cerdas, dan kaya. Tapi, itu bukan alasan yang cukup untuk menjelaskan alasan mengapa ia tergila-gila pada Jinki. Namun jika ditanya alasan yang tepat, ia akan menggeleng bingung. Sama sekali belum tahu alasan sebenarnya. That’s love, friend. You don’t know the clear reason why you fallin’ to someone.

Eunmi memiringkan kepalanya, menatap Jinki yang sibuk membaca sinopsis buku biografi dari tokoh terkenal. Huh, namja itu selalu lebih suka membaca bait demi bait isi buku, daripada memandangi dirinya. Tak pedulikah ia jika Eunmi sudah bersusah payah, kelimpungan tak tidur semalaman hanya karena memilih baju yang tepat untuk kencan pertama mereka. Tak pedulikah ia pada sakit di tumitnya yang menahan beban berat dirinya, atas runcingnya high heels yang dipakainya sekarang. Tak pedulikah ia pada usaha kerasnya untuk berdandan, meski hanya tabuhan bedak natural, tapi ia memakai lipgloss sekarang! Dan saat mereka sudah bertemu di halte tadi, Jinki hanya mengangguk kecil melihatnya, kemudian mengendikkan bahunya untuk mengikutinya naik ke atas mobil barunya yang dihadiahkan eumma ketika ulang tahun ke delapan belasnya.

Eunmi mengarahkan langkahnya menuju rak novel yang berseberangan darinya. Sebuah novel sejarah, dengan intrik peperangan antara Korea Utara dan Korea Selatan, diambilnya. Cukup lama ia terlarut dalam beberapa lembar novel itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membeli buku yang hampir setengah kilo itu. Ketika ia mengangkat kepalanya, sosok Jinki yang semula berdiri di deretan buku biografi itu telah menghilang.

Pandangannya diedarkan ke segala penjuru, tapi pria dengan mata sipit itu tak juga ditemukannya. Ponselnya dikeluarkan dari tasnya, menekan nomor Jinki. Tapi, suara yang didengarnya bukanlah suara berat Jinki, malah suara operator wanita. Ia mendecak kesal, tergesa ia meninggalkan toko buku itu.

“ Baiklah Jinki. Jadi sekarang kau mau mempermainkanku. Jika aku menemukanmu di sekolah nanti, jangan harap aku akan melihatmu sedetik pun. “

Eunmi sibuk bersungut dengan dirinya sendiri, tak peduli dengan tatapan aneh yang mengarah padanya. Tangannya mencengkram tali tasnya, tapi seorang pria tiba-tiba menepuknya, kemudian memberinya sebuah bunga mawar merah .

“ Maaf, tapi aku… “

Pria itu menggeleng, kemudian segera berlalu meninggalkan Eunmi yang masih bingung. Ia baru beberapa langkah, dan seorang pria kembali memberikannya bunga. Sama seperti sebelumnya, pria itu menggeleng bahkan sebelum Eunmi akan bertanya padanya. Begitulah seterusnya terulang, hingga di tangan Eunmi sudah ada delapan belas tangkai bunga mawar merah. Yah, ini mungkin ulah Jonghyun, mengingat terakhir kali ia juga menerima sebuket bunga mawar dari hoobaenya itu. Berpikir Jinki yang melakukannya, OH NO! Namja mati rasa itu mana mungkin melakukan hal seromantis itu padanya.

Eunmi memandangi bunga-bunga itu, kemudian didekatkannya pada hidungnya untuk menikmati aromanya yang cukup menenangkan hati Eunmi. Ketika ia sudah berada di ujung jalan, seperti amanat terakhir wanita yang memberinya bunga terakhir itu, ia tercengang. Tangannya makin menggenggam tangkai bunga mawar yang sudah hilang durinya itu.

Di sana, di depan mobil berwarna silver, sudah berdiri seorang namja dengan senyum lebarnya, memegang sebuah kue tart imut. Lututnya terasa ngilu, tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk segera menghampiri pria itu.

“ Saengilchukkae hamnida… Saengilchukkae hamnida, saranghaneun nae Eunmi, saengil chukkae hamnida. “

Eunmi memajukan tubuhnya, saat kue itu disodorkan padanya. Ditiupnya lilin itu, senyumnya pun tak bisa ditahannya.

“ Tapi aku tak bisa mendengar suaramu tadi, bisa kau ulangi nyanyiannya? “

“ Shirreo! “

Jinki menolak dengan tegas. Semu merah di pipinya semakin melebarkan senyum Eunmi. Kue itu pun ditaruh di atas kap mobil, dengan sedikit berlari kecil jinki membuka pintu mobilnya. Mengeluarkan sebuket mawar merah lagi dari sana.

“ Jangan menerima bunga dari orang lain lagi! Jika kau menginginkannya, aku bisa membelikanmu sekalian dengan tokonya! “

Eunmi tertawa pelan. Ia sangat tahu maksud ucapan Jinki adalah menyindir kejadian tempo hari, saat ia mendapat bunga dari Lee Jonghyun.

“ Kau akan membelikanku tokonya? “

“ Ya, setelah aku lulus SMA dan mempunyai pekerjaan tetap. “

Eunmi kembali tertawa. Tak disangka, Lee Jinki punya selera humor yang lumayan. Eunmi melongo, saat Jinki berlari kecil membuka pintu mobil. Sebuah kotak ada di tangannya, mengisyaratkan Eunmi untuk membuka tutupnya.

“ Sepatu? “

Jinki mengangguk. Dalam kotak itu memang terdapat sepasang sepatu balet berwarna biru muda bertaburan manik hitam di pinggirannya, senada dengan warna dressnya. Diletakkannya kotak itu di samping kue tart tadi, kemudian ia berlutut. Kaki Eunmi diraihnya, sedikit mengejutkannya. Tangan Jinki dengan terampil melepaskan pengait high heels milik Eunmi, dan dengan hati-hati ia memasukkan kaki Eunmi ke dalam sepatu itu.

“ Kau tidak perlu memaksakan dirimu. Jangan memaksakan dirimu hanya untuk terlihat cantik di depanku. Bagiku, Eunmi yang apa adanya sudah sangat cantik. “

Eunmi terkesima memandang Jinki yang mengulum senyum lebarnya.

“ Sepatunya pas dengan ukuran kakimu, aku hebat kan? “

Masa bodoh dengan anggapan wanita agresif yang tersemat padanya, masa bodoh dengan tatapan risih beberapa orang tua yang melewati mereka. Bunga di tangannya terjatuh, ditariknya kerah Jinki hingga tinggi mereka sejajar, memudahkan Eunmi menempelkan bibirnya pada bibir Jinki yang sedikit terbuka.

****

Eunmi menyodorkan tisu pada Jinki yang sudah bersin berkali-kali. Baiklah, ia harus mengakui tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena Jinki sedang menyetir sekarang.

“ Kau baik-baik saja? “

Akhirnya, Jinki menepikan mobil. Hidungnya sudah memerah, matanya sendiri berair. Jinki akan kembali menjalankan mobilnya, tapi tangan Eunmi menahannya.

“ Kau benar tidak apa-apa? “

Jinki meraih tisu dari tangan Eunmi saat ia kembali bersin.

“ Aku alergi serbuk bunga. “ Akunya kemudian.

“ Kenapa kau tidak bilang dari tadi! “

Eunmi membuka pintu, turun dan kembali membuka pintu belakang. Di dalam sana beberapa bunga mawar itu dikeluarkannya, kemudian dibuangnya di tempat sampah yang berada dalam jangkauannya.

“ Kenapa membuangnya! Kau tidak tahu itu mahal? “

Sungut Jinki saat Eunmi menariknya turun.

“ Aku belum mau mati Jinki. Jadi, sebaiknya kita jalan kaki saja. Rumahku sudah tidak jauh dari sini. “

Jinki tak protes, ia memilih ikut jalan di belakang Eunmi, setidaknya ia tak perlu lagi merasakan gatal luar biasa di hidungnya. Tapi yang didapatnya kini, tangannya keram. Suhu di Seoul sepertinya berada di titik terendahnya. Eunmi mengerti itu, dan ia pun segera menggamit tangan Jinki yang hampir sama dinginnya dengan es.

“ Rumahku yang disana. Ayo masuk. “

Jinki tak bergerak, pertanda ia menolak ajakan Eunmi. Namun genggaman di tangannya yang makin erat seakan meyakinkan Jinki untuk mengikuti langkah Eunmi. Dilihatnya Eunmi menekan bel berkali-kali. Keringat dinginnya mengucur di dahinya, seiring gemuruh di dadanya. Ia melatih ekspresinya, sudah seharusnya ia terlihat baik di kunjungan pertama pada calon mertuanya. Aha! Jinki hampir menertawai dirinya sendiri, bagaimana bisa frase ‘calon mertua’ itu terlintas di benaknya.

Tibalah waktunya, pintu terbuka, menampilkan wanita bergaya elegan tersenyum mempersilakan mereka masuk.

“ Oh, jadi ini yang namanya Jinki? “

“ Ne, ahjumma. “

“ Jangan sungkan begitu, panggil aku eomonim saja. “

Jinki mengangguk kaku saat ia duduk di sofa empuk itu. Harus diakuinya, kecantikan wanita itu diturunkan mutlak pada Eunmi. Tak ada perbedaan di lekuk wajahnya.

“ Kau sangat tampan. Pantas saja uri Eunmi selalu menceritakan tentangmu padaku. “

“ Eomma! “

Eunmi membuang muka melihat senyum kemenangan di wajah Jinki. Ia pun pergi, seakan menunjukkan kesalnya ia pada eommanya. Untungnya, dering bel mengalihkan perhatian mereka, dan Eunmi berlari tergesa membuka pintu itu.

“ Aku pulang, sayang! “

“ Appa! “

Jinki berbalik cepat, ia sangat mengenal suara berat itu. Dan saat itu juga ia merasa seluruh tubuhnya dipaku hingga lapisan terdalam bumi, langit pun seakan runtuh, tatkala dilihatnya tubuh gempal yang muncul bersama Eunmi tak lain tak bukan adalah abojinya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, ada semacam sesak di dadanya yang membuat kedua matanya sudah mengabur.

“ Jinki! Ini appaku! “

Lutut Jinki melemas, ia sudah tak bisa bernapas dengan bebas. Ia bahkan sempat oleng saat berdiri.

“ Aboji… “

Linangan air mata itu sukses mengalir di pipi Jinki. Bibirnya terbuka, semakin menujukkan getaran hebat di sana. Dan ia tidak tahu, tapi setelahnya ia segera berlari meninggalkan rumah itu, bahkan lupa mengenakan sepatunya sendiri. Rasa dingin di kakinya tak lagi dirasakannya, perih pada kakinya yang bergesekan pada butiran aspal di jalan itu sudah tak dipedulikannya.

Tepat saat ia berhasil mendapatkan mobilnya, ia jatuh bersimpuh. Tangannya memukul dadanya yang semakin sesak.

“ Aaaaaaaaa… “

Lengkingan teriakan Jinki akhirnya bisa dikeluarkannya. Ia berkali-kali berteriak, hingga akhirnya suaranya serak. Tuhan, cobaan apa lagi sekarang? Jeritnya dalam hati.

****

Jinki memandangi surat pemberitahuan yang baru saja didapatnya langsung dari kepala sekolah. Surat yang berisikan pengumuman kelolosannya pada olimpiade sains mewakili Korea Selatan. Diletakkannya ke dalam lacinya, tak begitu semangat. Saat itu juga, di pintu, matanya bertemu dengan mata Eunmi yang dilihatnya sudah bengkak. Jangan katakan abojinya sudah menceritakan semuanya pada Eunmi.

Ia membuang pandangannya ke bukunya, sedang Eunmi menuju ke bangkunya. Juga ikut mengeluarkan bukunya. Sebenarnya, ia tidak bisa membaca kalimat-kalimat di buku itu karena pandangannya yang kabur. Eunmi menggertakkan giginya, ayolah menangis semalaman sudah cukup. Apa yang akan dikatakan teman sekelasnya melihatnya menangis tak karuan?

Jam demi jam berlalu, bel sudah menunjukkan jam pulang. Eunmi selesai membereskan buku-bukunya, hingga tangannya tertarik mengikuti langkah Jinki. Keduanya sama-sama diam, tak ada yang berinisiatif untuk berbicara duluan. Jadilah mereka, saling menunduk menatapi ujung sepatu mereka masing-masing.

“ Jogi… “ Jinki dan Eunmi mengangkat kepalanya bersamaan.

“ Tidak, kau duluan saja… “

“ Tidak Jinki, kau saja. “

“ Ya! Kubilang kau yang bicara. “

“ YA! Sudah kubilang berkali-kali, jangan memanggilku ‘ya’. “

“ Mianhe. “

Mereka kembali melanjutkan langkah mereka dalam diam. Eunmi yang tak pernah betah dalam keheningan begini, akhirnya membuka mulutnya.

“ Sepertinya, kita harus mengakhiri semuanya sekarang. “

Langkah jinki terhenti. Matanya menyorot tajam pada Eunmi.

“ Kita berdua sudah tahu, ayah kita sama. Jadi… “

“ Tidak akan! Meski ayah kita sama, aku tidak akan pernah melepaskanmu! “

“ Jinki… “

Eunmi melepaskan genggaman tangannya, semakin menajamkan sorot mata Jinki terhadapnya.

“ Kau pernah mengatakan padaku. Ada saatnya harus melepas ego. Dan inilah saat yang tepat, Jinki. “

Eunmi memberikan senyumnya. Terpaksa dan sangat dibuat-buat. Ia menggenggam tangan Jinki sekali lagi, lalu segera naik ke atas bus. Di atas sana, ia memukul dadanya, berusaha mengurangi rasa sesak di sana. Namun akhirnya, air matanya mulai berjatuhan. Sedang di bawah sana, Jinki masih termangu. Tak juga bergerak di tempatnya.

Bahkan saat ia sudah menemukan sandarannya kini, haruskah ia dihadapkan pada kenyataan jika Eunmi adalah seseorang yang kebetulan memiliki ayah yang sama dengannya? Di saat ia sudah memperoleh kebahagiaannya kembali, di saat ia sudah memperoleh tempat untuk melupakan segala keresahannya, saat ia mengenal arti ‘cinta’ untuk pertama kali dalam kehidupannya, haruskah semua itu direnggut atas alasan persamaan genetika?

****

Jinki membuka pintu malas. Saat ia melintas di ruang keluarga, bisa dilihatnya aboji dan eummanya duduk berhadapan. Well, ia sudah menduganya, melihat mobil aboji yang terparkir di halaman depan.

“ Jinki. Kemarilah. “

Untuk menunjukkan rasa hormatnya, jinki menghampiri mereka. Setidaknya pada eummanya yang sudah memanggilnya tadi.

“ Apa karena Eunmi, kau meninggalkan kami? “

Kata Jinki tanpa basa-basi. Aboji menggeleng.

“ Sudahlah, aboji. Aku sudah terlalu muak denganmu! “

“ Semuanya salahku Jinki. “

Menarik sekali, setelah membuatnya menangis, dia bahkan merecoki kepala eumma untuk menumpukan segala kesalahan padanya. What a great father you are! Jerit jinki dalam hatinya.

 

*flashback

Bising, dan ramai. Tempat itu dipenuhi beberapa orang yang di antaranya sudah tersisa setengah kesadarannya. Tak berbeda dengan dua orang lain yang duduk di depan meja bar. Keduanya sudah terlihat sangat mabuk.

“ Yun ah, apa kau sudah mabuk? “ Tanya si wanita, karena pria di sampingnya sudah mabuk berat.

“ Jika saja aku tahu, Hyun Mi akan kubawa. “

Hyun Ah merutuk kesal. Ia mengeluarkan dompetnya, membayar seluruh pesanannya tadi dan pria bernama Yun Seong itu. Diraihnya lengan pria itu, melingkarkannya ke lehernya sendiri. Dengan tertatih, dan akhirnya ia berhasil juga, si pria sudah dibawanya ke atas taxi.

“ Hyun Mi… “

Hyun Ah menatap pria yang sudah mabuk berat itu, berkali-kali mengucapkan nama adiknya. Benar, Hyun Mi adalah adiknya. Yang juga berstatus sebagai kekasih Yin Seong. Tapi, sesuatu terjadi di antara mereka, hingga ia sendiri harus turun tangan mengatasi kerewelan Yun Seong yang merasa bersalah atas kekasihnya itu, menemaninya menghabiskan bergelas-gelas gin.

“ Haruskah selalu Hyun Mi? “

Katanya pelan, kemudian air matanya segera dihapusnya. Bodoh sekali, ia masih mengharapkan Yun Seong menjadi miliknya, padahal ia sangat tahu bagaimana adiknya dan sahabat prianya itu saling mencintai.

“ Nona, kita sudah sampai. “

Lagi, Hyun Ah menghapus air matanya. Membayar sesuai yang tertera di kargo, lalu segera turun sambil memapah Yun Seong. Sandi pintu itu ditekannya, ia sudah sangat hapal sandi rumah itu karena ia sudah menjadi sahabat Yun Seong sejak SMA, dan tahu jika paswordnya adalah tanggal jadian antara Yun Seong dan adiknya. Satu bukti nyata jika takkan ada kesempatan sedikit pun untuknya.

Ia melap keningnya yang berkeringat. Baru saja ia akan pulang ke rumahnya, memarahi Hyun Ah yang sudah membuatnya bekerja keras membawa Yun Seong yang hampir dua kali lipat dari beratnya sendiri, tangannya tertarik. Terjatuh tepat di atas Yun Seong yang tersenyum aneh.

Ia tidak tahu lagi bagaimana kronologisnya, saat tubuhnya sudah tertindih tubuh Yun Seong yang sibuk membuka kancing bajunya. Ia meronta. Menangis di antara rasa sakit yang nikmat saat Yun Seong sudah memasukinya. Tangannya mencengkeram seprei, air matanya sudah bercucuran. Meski sangat sakit, ia harus merasakan kesenangan tersendiri. Akhirnya, Yun Seong mau menatapnya.

“ Hyun Ah. “

Hyun Mi membuka matanya, masih juga bercucuran air matanya tatkala Yun Seong mengulang nama itu berkali-kali. Tidak ada rasa yang sesakit ini, meski ketika pria itu memberikannya ciuman, memeluknya erat seakan tak mau terpisahkan, ia masih menangis hingga pagi menjemput.

*flashback off

“ Karena itu, saat aku divonis hamil, halmeonimu marah besar. Pernikahan kami dilaksanakan mendadak, dan aku juga Hyun Mi tak pernah bicara lagi saat itu. Karena itu, aku membiarkan abojimu menikahi Hyun Mi karena rasa bersalahku, Jinki. “

Jinki tercengang di tempatnya. Antara rasa tak percaya, ia menutup telinganya sambil menggeleng. Ya, apa lagi yang lebih menyakitkan dari pengakuan eommanya. Mengetahui jika ia adalah seorang anak yang tak pernah diinginkan lahir di dunia ini, menjadi perusak hubungan aboji dan eumma Eunmi.

Siapa yang bisa ia salahkan saat ini? Pada eummanya yang sudah membiarkan dirinya ternodai oleh abojinya? Pada pertengkaran bodoh aboji dan adik eummanya yang membuatnya terlahir ke dunia ini? Ataukah, Tuhan memang telah menciptakan skenario ini, menikmati cara-Nya menghancurkan kehidupannya perlahan-lahan?

****

Jinki melangkahkan kakinya gontai, yang tak disangkanya justru membawanya ke rumah Eunmi. Di sana ia bertemu wanita itu sama terkejutnya dengan dirinya.

“ Eunmi, jika aku mengajakmu melarikan diri, apa kau ingin ikut denganku? “

“ Tidak, Jinki. “

“ Jika saja.. “

“ Jawabanku akan tetap sama Jinki. “

Jinki tersenyum tipis, tapi bisa dirasakannya tangan Eunmi yang menggenggamnya.

“  Hari ini aku akan ke panti asuhan, kau mau menemaniku? “

****

Jinki duduk terdiam di bangku taman itu. Memandangi bagaimana cerianya Eunmi bermain bersama balita-balita menggemaskan itu. Saat ini, ia bahkan membayangkan Eunmi merawat anak-anak mereka, menemaninya bermain, selalu tersenyum padanya di pagi hari menjelang ia ke kantor. Memberikannya ciuman selamat pagi yang manis.

Lama ia duduk, hingga tak disadarinya sudah sore. Ia bahkan tak sadar sudah duduk berjam-jam disana. Sekarang dilihatnya Eunmi melambaikan tangan pada anak-anak yang sudah memasuki rumah kecil itu, lalu menghampiri Jinki yang tak pernah sedetik pun mengalihkan pandangannya.

“ Ayo pulang. Aku lapar. “

Jinki tersenyum, kemudian meraih tangan Eunmi ke dalam genggamannya. Menyelipkan jari-jarinya satu persatu ke sela jari Eunmi.

“ Jinki… “

“ Hm? “

“ Jika Tuhan memberimu satu permintaan, apa yang kau inginkan? “

“ Aku ingin memilikimu selamanya. “

“ Kau tidak bertanya apa keinginanku? “ Jinki tersenyum.

“ Aku ingin Jinki hidup bahagia, selamanya. “

“ Ya, tapi aku akan bahagia jika bersama denganmu. “

“ Aku takut tidak bisa melakukan itu, Jinki. “ Bisik Eunmi dalam hatinya.

“ Aku sudah sangat lapar. Bagaimana kalau kita singgah ke penjual sundae di depan stasiun? “

Eunmi mengangguk. Belum cukup beberapa langkah, didengarnya teriakan nyaring dari salah satu anak panti itu.

“ Eunni! Tasmu ketinggalan! “

Mereka berbalik bersamaan. Dan di saat itu juga, sebuah truck datang dari arah berlawanan. Hanya berlangsung beberapa detik, ketika tubuh Eunmi sudah memeluk tubuh kecil itu. Jinki tercengang beberapa saat, lalu segera ia menghampiri Eunmi yang sudah bersimbah darah.

“ Kau tidak apa-apa? “ Si gadis kecil menggeleng, matanya sudah berair.

“ Cari bantuan, cepat! Panggil eomoni, atau tetangga terdekat, kau bisa melakukan itu kan? “

Jinki berteriak panik. Ia meraih tubuh lemah Eunmi, di mulutnya mengalir darah kental.

“ Jinki… “

“ Tenang, kau akan baik-baik saja… “

“ Jinki, aku ingin melihatmu tersenyum. “

“ Mana bisa bodoh! “

Wajah Jinki sudah dipenuhi air mata. Bibirnya terus komat kamit, meminta kesediaan hati Tuhan untuk menyelamatkan gadis kesayangannya ini.

“ Jinki, aku mohon. “

“ Ya! Diamlah! “

“ Jinki ah, bisakah kau sekali saja mengucapkan namaku? “

Air mata Jinki terus mengalir, tak ada jeda sedikit pun. Tangannya yang gemetar memegangi kepala Eunmi, tidak lebih karena ia merasakan cairan pekat tak berhenti mengalir di tapak tangannya. Oh Tuhan, kumohon. Tidak kali ini. Kumohon.

“ Eunmi. “

Suara Jinki serak, namun Eunmi bisa mendengar namanya itu terucap jelas dari Jinki. Ia tersenyum, di sela darahnya yang tak kunjung berhenti mengalir. Tangannya tergerak ke atas, merengkuh pipi Jinki yang sudah sangat basah, kini harus ternodai oleh darahnya sendiri.sedetik kemudian, tangan lemah itu bergerak turun seiring matanya yang terkatup rapat. Jinki menegang, sebuah firasat buruk menghampirinya. Dan perlahan, ia bisa merasakan bulir air hujan yang mengenai kepalanya, menghilangkan noda darah di wajah Eunmi, hingga wajah cantik itu sudah bersih, pucat, dan juga kaku.

Mendadak penyesalan memenuhinya. Oh tidak mungkin, ia terus menyalahkan dirinya. entah, pikirannya mulai berprasangka. Mulai mengutuk dirinya sendiri yang selalu menjadikan Eunmi sebagai pelampiasan lalu. Tak pernah begitu memerhatikan yeojanya yang selalu memberikan pelukan hangat ketika ia sudah lelah dengan kehidupan pribadinya. Membiarkan Eunmi selalu sendirian, membiarkan dirinya menganggap Eunmi hanya sebagai sandarannya.

“ Eunmi… Eunmi… “

Jinki mengguncang tubuh Eunmi, tak ada reaksi dari yeojanya itu. Telunjuknya mengarah ke hidung Eunmi, tak ada hembusan napas di sana. Tak ada pilihan lain. Ia membaringkan kepala Eunmi di pahanya, dengan gerakan cepat ia meletakkan kedua tangannya di pipi Eunmi. memberikannya napas buatan, berharap jika Eunmi hanya mengalami gangguan napas, dan bantuan udara darinya akan segera menyadarkan Eunmi.

Sia-sia, ia menyilangkan kedua tangannya di dada Eunmi, yang anehnya tak ada detakan saat ia mulai berusaha menekannya, kali ini berharap mukjizat akan menghampirinya. Tak ada perubahan, Eunmi tetap diam.

“ Aaaaargh… “

Jinki memeluk tubuh lemah tak bernyawa itu, disaksikan beberapa orang yang berniat datang menolongnya. Dering handphonenya mengalihkan perhatiannya. Ditariknya benda elektronik itu setengah hati, diletakkannya di lubang telinganya. Suara berat yang terdengar terisak itu. Seakan jantungnya diremas, tubuhnya melumpuh saat itu juga.

“ Jinki ah, eummamu meninggal beberapa menit yang lalu. ia dinyatakan gagal jantung. Pulanglah. “

Ponsel Jinki terjatuh dari genggamannya. Ia mati rasa, tak ada lagi air mata yang tercampur dengan air hujan. Sekarang ia tahu harus melampiaskannya kemarahannya pada siapa. Tuhan. Sang Pencipta yang berperan sebagai sutradara, yang menciptakan skenario terkutuk ini padanya. Tak cukup dengan kenyataan-kenyataan pahit yang terbeberkan beberapa minggu yang lalu, kini Ia telah merenggut semua yang disayanginya. Satu kesimpulan yang ia tarik, GOD MUST BE HATE ME!

FIN

Ujung-ujungnya saya gak bisa jauh-jauh dari genre bromance ya, hehe. JinMi benar-benar pasangan favorit saya! EHEM! Mbabro, jangan pernah lupa ninggalin komen kalian! Saya mengerjakan fanfic ini dengan cucuran keringat dan air mata, jadi tolong, ESTEEM FOR MY EFFORT! Mianhe for typho, dan sampai jumpa di fanfic berikutnya.

Ah ya, satu lagi! Mungkin saya akan hiatus nulis untuk dua bulan ke depan, tugas kuliah benar-benar menyita seluruh waktu saya. Jadi, sequel untuk ff ini  dan untuk ff lainnymungkin agak lama, bersabar yaah. Daaaah #tanganmelambai

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

66 thoughts on “God Must Be Hate Me [3.3]

  1. hueee.. Kehidupan jinki miris bgt.. Bener2 nyesek..
    Tapi aku masih penasaran bagaimana jinki ketemu sama temen2nya yg lain seperti di ‘Cause
    We’re Together’…
    Sequel ya..
    Fighting!

  2. Ya thor kenapa hrus sad ending pdahal tengahnya udh keren banget,kasihaan tu jinki oppa,cup cup jinki oppa sini lampiasin aku aja……aku slalu ada untkmu jinki oppa
    hahahhaha

  3. sedih n miris banget sih Thor,
    air mataku mau netes nih *ambil ember* #abaikan
    udah agak banyak sih cerita yg mirip kyk gini
    but penggambarannya beda n tetep keren ff ini
    wait another ff Thor^^

  4. Uuhmm…. aku mau ngomong apa ya? #blank

    OK, dari awal baca summary, udah ketahuan jalan ceritanya bakalan kaya gini ._.
    Dan setelah aku baca sampai semua rahasia para tokoh terbongkar, aku pikir akan sangat maksa kalo nantinya happy ending. Dan ternyata bener kan? Sad end tuh -,-
    Tapi gak nyangka juga si eumma Jinki ikutan mati. Serius! Shock berat pas bagian ini .___.

    Itu bukan Tuhan yang kejam mah, tapi author-nya #ditendang

    Anyway… aku JATUH CINTA sama tata penulisan dan cara pendeskrisiannya. Indah banget, bikin aku lunglai *??* saking terpesonanya.
    Jalan cerita? gak perlu ditanya, TOP BANGET.

    Tapi ada satu bagian yang membuatku bingung ._.

    Ini kan before story, berarti ini kisah sebelum Jinki ketemu sama Ji Yeon dan member SHINee lain kan? Bener gak? Kayaknya gitu ya, soalnya selama 3 part ff ini, gak ada dekripsi kalo Jinki udah ketemu sama member SHINee atau Ji Yeon. Karena kata kuncinya mereka selalu makan siang bersama setiap hari pada pukul 12 siang. Tapi karena di sini gak ada penjelasan menyangkut itu, kusimpulkan Jinki belum ketemu sama Ji Yeon dan member SHINee lain.
    Nah, di “Because We’re Together” terlihat kalo eomma-nya Jinki masih hidup, bahkan masih bertengkar sama suaminya. Tapi di before story udah mati aja si eomma ._. gimana ceritanya, kok bisa muncul lagi di “Because We’re Together”? Apa ayahnya nikah lagi dan broken home lagi? Ah, sumpah, kok jadi complicated banget sih pikiranku -,-

    Maaf kalau ternyata aku yang salah mengerti ._.v
    Aku bacanya tengah malem jadi mungkin ada beberapa bagian yang terlewat.
    Tapi serius, ff ini kerennya gak tanggung-tanggung ^^b Fell dari tragisnya hidup Jinki sangat kental, dan sampe sekarang masih kerasa *gak boong*

    Boram~~~ jangan capek-capek nulis yah ^_^
    Fighting!!😀

    1. Entah ya,soalny dulu waktu bikin ini lagi galau”ny jd berimbas dah k cerita hoho

      Masa sih saya kejam -,-

      issh segituny,kan saya jd blushing hoho
      sama saya jatuh cinta gak?😄

      dsini mmg blum trungkap.soalny ini vers jinki sj
      Kalo gak ada halangan,nanti pas lbur semester,semua versi cast bakalan ad.
      Scene mereka ketemu ya nanti dreveal deh,dtunggu aja hoho

      nah trus,it kmuny salah kisah deh.yg brtengkar it kan ortuny Key,d BWT kan Onyu brtengkar sm ayahny sj

      capek nulis sih gak pernah ya,mood it yg susah ddpatny.Aplg sindrom writer blok melanda gara” tgas bejibun hehe

      next sequel dtunggu ya,smg haslny gak mengecewakan
      maacih Mahita🙂

      1. Oh… di BWT Jinki cuma sama ayahnya aja ya? trus trus… kalimat yang ini menunjukkan keberadaannya siapa : “… Di belakangnya muncul seorang wanita yang tak kalah berantakan dengan gaun tidur dari bahan yang sangat tipis.”

        Kalimat itu ada di BWT yang Onew side. Cewek yang dimaksud itu ibu tirinya? Ato neneknya? #nah loh

        Maaf saya cerewet, soalnya masih rada bingung dan penasaran .__.v

        Tapi jujur aku puas baca ff ini ^–^
        Next sequel pasti ditunggu lah😄

        1. Hmm~
          wanita it nanti dreveal k sequelny dah,biar nantiny jd kjutan gitu haha
          cerewet gapapa kali,namany jg bingung kan mesti ditanyain jg🙂
          maacih dah Mahita :*

  5. Aigooo, kenapa sedih banget endingnya?
    udah yeojanya mati, ibunya jga. Jadi dia mau gantiin jadi anak di keluarga si Eunmi nya apa ya? Kan mereka sama2 kehilangan😦

    Jadi ibunya Jinki sama ibunya Eunmi tuh adek kakak? Kok bisa mereka ga saling mengenal? Kan hubungannya jadi tante-keponakan kan? Apa saya yang lelet ngerti?

    1. entah, nanti saya tanya si Yun Seong *eh

      nah kan, mereka gak pernah ketemu. ibunya eunmi kan benci sama ibuny Jinki karena udah merebut si Yun Seong itu. ngerti kan? belum yah?
      ato saya yang lupa nyiratin kali yah?
      hmm, gimanapun maksih masukanny Aikyung🙂

  6. Wow wow dan wow! Gila kren bgt thor top bgt ide crita dn pnulsan’a jd bkin nangs, laen x end nya jgn skjam ini ya thor, gk tga sma bang onew’a😦
    Tp overall nice, i like it ^-^b

  7. Wow wow dan wow! Gila kren bgt thor top bgt ide crita dn pnulsan’a jd bkin nangs, tp laen x end nya jgn skjam ini ya thor, gk tga sma bang onew’a😦
    overall nice, i like it ^-^b

  8. aku baru baca eon, sedih banget. Aku gak bisa bayangin gimana jadinya kalo kehidupan onppa beneran ada d dunia ini
    good ff eon!

  9. curi2 wktu d tengah skripsi cm bwt baca ff lanjutannya couse we’re together
    ga da kata laen slain bagus bgt ni critanya
    gw juga suka bgt ma couple ini, sayangnya endingnya malah meninggal eunminya
    mskipun endingnya sedih tp kseluruhan keren bgt ceritanya
    crita ttg ksedihan ma penderitaanny onew tu dpt bgt. keren deh

  10. Hwaaaaaaa
    Hidup jinki kasihan bgt sih
    Baru ja bisasedikit bahagia Ŧǻρί dah dateng ja masalah lg
    N jg hrz kehilangan 2 org Ɣªήğ dicinta sekaligus.

    Ditunggu ff berikutnya Ɣää
    ªkŮ suka kalo maincastnya jinki
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

  11. author tega amat sih bikin bginian aku ampe nagis tau (lebeh),tp daebak sngat” daebakkk…authorr nyesek bnget pas dua”y mningal sumpah:”(.

    tepi keren sangat🙂😀

  12. Bora, saengi… Eon nangis nih… T T …
    Kirain kisah bromance ala Jinki-Eunmi’ gak akan terulang lg dsini…
    Hwaaaa…… trnyata, eh, ternyata….
    Boram pinter banget nyimpen ceritanya, bener2 gk bisa eon tebak…

    Oyah, tuh, scene kejutan eunmi ultah… bener2 dah,
    ROMANTISSSSS….!!!!!!
    apalagi, yg buat kejutan, Jinki, si iceman dingin (emg ada iceman panas),
    pinter, serius, dan tampan …..
    Jangankan eunmi…, Eon aja bisa pingsan kalo tu trjadi sm eon…
    Haaaaahhhh………
    (Boram ma readers laen pada kabur…..)

    Ehem…, Balik lg ke komen…
    Kenapa sih, Boram sukaaaa…. bgt buat Jinki tragis nasibnya…?
    Eon gak tega… liat Jinki nangis sampe segitunya….
    Tahu bhw dia gk bs sama2 Eunmi krn dia adik kandungnya, udah buat dia
    hancur…, skrg malah Eunmi bener2 pergi u/ selamanya….
    Blom lg, msh d TKP… (bkn Patroli… abaikan…)
    dia harus mngetahui eommanya jg pergi…
    adeewww…. bener2 dah, Boraaammmmm….
    Jgn2 saengi lg putus cinta, desperate gmn gitu…. sampe buat nih
    cerita jd tramat tragis buat Jinki ku….
    (huweeee….. lari ke Jinki… peluk Jinki… nangis bareng Jinki….)

    Tapi, suer…. Eonni suka bgt ma ni FF…
    tmbah suka jg ma Boram…
    Bbrp ffnya yg eon baca smuanya eon suka…

    So, ni FF bakal ada kelanjutannya?
    atau stop sampe disini?
    (kyak cintaku sm Hyunbin…, yg stop, krn kepincut Jinki…
    kali ini Boram ma readers bener2 kabur…)

    Ya, udah deh…, eon selesai sampe disini…
    Ntar eon hunting ff yg laen lg…

    Annyong…

    (Boram ma readers laen say…., “Alhamdulillah….”
    Miina: merana…)

  13. Romantis kaaan? It dr kisah pribadi sy sm Jinki wktu dtmbak dlu *plak
    Patah hati gak eon, it malah scene romantisny dr pgalaman pribadi *ekhem
    Enak aj gitu ya nyiksa karakter utama tiap ceritany. Haha

    Iya eon,maksih banyak loh udah mampir hmpir d smua ff ku sampe mampir k blog pribadi jg :*

  14. Aduh romantis banget super super romantis

    Jadi mau nangis

    Sekarang tau deh apa penyebab Jinki jadi kayak gitu. Mungkin kalo jadi dia aku juga bisa jadi kayak gitu

    Thor abis ini member lain ya kalo bisa Key hehe
    ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

    Oh Dubu kenapa nasib mu sangat malang? Apa yang telah kau lakukan sebenarnya?

    ~ ㅠㅇㅠ ~ ㅠ_ㅠ ~ ㅠㅠ ~ ㅠㅂㅠ ~ ㅠㅁㅠ ~

  15. huweeeeee TTTTTTT
    sumveh nangis bacanyee, knapa jinki jadi sial begitu, yaallooh kasiian!!
    daebak laah (y) meski sad ending tapi daebaaaak jjang!!

  16. Buset, speechless.. Keren dah huwaaa, aku agak suka baca yg bromance2 gini, endingnya meskipun menyayat tapi sweet level tak terhingga.

    Sori ya komennya cuma di last part, aku borongan nih bacanya. wakaka likee thissss so much! Daebakkk!

  17. huahhhh keceeee abangku dinistakan senista nistanya hahahaha
    ini sedih beneran tapi aku kok gak nangis ya? tapi author sukses bikin sesek napasss
    huahhhh jinki ma aku aja yoook
    daebak ^^

  18. wah ….
    keren banget…
    nguras air mata nih….
    semangat ya thor buat ff yg lebih bagus lagi tapi dengan main cast nya tetap jinki…😀

  19. waagh sad ending…
    Kasian jinkinya…hixhixk
    sini sama aku aja..#plak
    ceritanya bgus bgt thor…daebaak lah…keep writing thor..

  20. Kalo jadi jinki nyesek nya superduper cooooy~ thor kok ngerasa kecepetan ya alurnya di part ini agak di buru2 gitu
    Tapi keren lah thor jinkinya melas

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s