Piece of Memory – Part 4

Piece of Memory [Piece 4]

Author             : ZaKey

Main Cast        : Choi Minho, Lee Taemin

Support Cast    : Choi Jinri (Sulli), Kim Kibum (Key)

Minor Cast      : Kim Jonghyun, Lee Jinki (Onew)

Length             : On Going

Genre              : Life, Shounen-Ai

Rating              : Teen

Disclaimer       : I do not own the character – they belong to God and themselves. The plot and the story are mine; it also published at my own wp

A.N.                 : Maaf, ini part yang sangat absurd ._.

~~~~~~~

Kau diberi satu lagi kesempatan untuk hidup.
Cari Kim Jonghyun – ketahui apa yang harus kau ketahui dan ungkapkan apa yang harus kau ungkapkan.
Waktumu hanya tiga hari terhitung dari sekarang.

Taemin berjalan lesu di sepanjang koridor menuju kelas. Beberapa hoobae perempuan menyapanya, tapi ia hanya sanggup membalas dengan senyum setengah hati. Mereka semua tampak asing, pikir Taemin getir. Bayangkan perasaan orang-orang yang menyayangi kita tapi kita justru tidak ingat secuil pun dari mereka. Menyakitkan. Karena itu Taemin memutuskan untuk diam.

Tiga hari. Untuk kesekian kalinya di pagi hari Taemin mendesah. Waktu yang tersisa terlalu sedikit sementara ia belum menemukan apa pun. Bila dipikir ulang, hal yang didapatkannya masih bisa dihitung dengan jari; informasi yang memiliki kaitan tapi entah dimana kaitannya.

Sulli belum tiba ketika ia mencapai kelas. Satu-satunya orang yang dekat dengannya tanpa peduli banyaknya pertanyaan remeh yang sudah sering ia lontarkan. Taemin duduk di bangkunya; dari sini ia bisa melihat keseluruhan kelas yang masih lengang. Tanpa dikehendaki pikirannya melayang ke satu tempat berbeda.

Suatu ruangan. Papan tulis di depan menjelaskan bahwa ruangan itu kelas, begitu pula dengan deretan bangku dan beberapa orang yang berseliweran di dalamnya. Seseorang masuk. Laki-laki dengan sorot mata ramah dan memiliki bentuk rahang tegas. Berjalan terus mendekatinya tanpa mengurangi kadar senyum seribu watt-nya. Laki-laki itu membuka mulut untuk mengatakan sesuatu….

“Hei, Taemin-ah! Kau sudah datang!”

Taemin tergagap dengan suara ceria itu. Lamunannya buyar dan ia melihat Sulli sudah berdiri di depannya. Rambutnya diurai dan hanya dihiasi bando kain hijau turqoise yang senada dengan mini dress-nya.

Aish, ternyata kau,” gumam Taemin, setengah kesal karena ia belum sempat mengenali wajah lelaki yang diyakininya berasal dari ingatan yang belum digali.

“Wow, kenapa kau marah?” Sulli meletakkan tas berbahan jeans-nya ke meja, lalu memutar kursi agar dapat berhadapan dengan Taemin. “Tenang saja, kemarin aku tidak bertemu dengan Key oppa,” godanya.

Mendengar nama Key disebut membuat bibir Taemin tanpa sadar melengkung ke bawah. Ia tidak mencemaskan apa yang dikatakan Sulli, tentu saja. Jujur saja ia resah tiap kali membayangkan hal yang dapat membuat Kim Jonghyun menghindar dan Key marah besar.

“Huh? Kau benar-benar cemburu?”

“Singkirkan pikiran konyolmu itu, Sulli-ya.” Taemin menyentil dahi Sulli pelan. “Untuk apa cemburu jika kau dan Key sama-sama teman baikku?”

Taemin memungut pensilnya yang jatuh sampai tidak menyadari rona merah di wajah Sulli berubah menjadi mendung kala ia mengatakan ‘teman’.

“Hei, teman-teman. Minta perhatian sebentar!”

Sulli dan Taemin, juga anak-anak yang sudah berada di kelas, serentak menoleh ke depan. Seorang laki-laki yang namanya tidak diketahui Taemin berdiri disana, melambaikan selembar kertas di satu tangannya. Ekspresinya sedih, tapi tetap tegas.

“Ada berita buruk. Ibu teman sekelas kita, Eunjung, meninggal tadi malam. Aku sudah meminta izin pada wali kelas agar membebaskan kita tidak ada pelajaran hari ini untuk mengunjungi rumahnya,” jelas lelaki itu lantang.

Riuh rendah memenuhi seisi kelas; antara ungkapan duka cita, ide untuk memberi buah tangan, sampai sorakan terselubung atas tidak adanya pelajaran, semua berbaur menjadi satu.

Sulli menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tidak yakin dia dapat mempertahankan peringkat dua setelah kehilangan satu-satunya keluarga. Gadis malang.”

Taemin mengiyakan sambil lalu. Telinganya terpasang tajam pada percakapan lirih dua gadis tak jauh darinya.

“… tapi kita tidak tahu rumahnya.”

“Bukankah kita bisa mencarinya di Ruang Data? Disana menyimpan data semua siswa.”

“Oh, benar juga. Tapi aku tidak yakin Mr. Jung akan mengizinkan kita mengobrak-abrik kantornya yang berharga.”

Data siswa? Taemin menatap ke luar jendela tanpa maksud tertentu. Jika ia bisa melihat data miliknya sendiri, bukankah itu berarti ia bisa mengetahui segala hal yang belum diingatnya? Semisal nama orangtua, nomor telepon, alamat rumah….

Itu dia! Ia akan mencari alamat rumahnya dan pergi kesana untuk memanggil ingatan lewat barang-barang pribadinya. Belum tentu berhasil, tapi juga tidak berarti tidak mungkin, bukan? Taemin memutar tubuh ke arah dua gadis tersebut.

“Hei, aku bisa melakukannya,” katanya mantap. Gadis dengan kaus jersey salah satu klub bola menoleh padanya. Wajahnya sontak merah padam.

“Tae –Taemin-ah? Melakukan apa?” tanyanya gugup. Temannya yang berkuncir kuda hanya bisa membuka mulut tak percaya, seolah jika Taemin menyapa mereka berarti kiamat sudah dekat.

“Mencari data Eunjung – aku akan ke Ruang Data dan melihat alamat rumahnya. Dengan begitu kita bisa mengunjunginya, bukan?” Sebagai bonus Taemin memberikan seulas senyum yang sukses membuat kedua gadis itu salah tingkah.

“Ta-tapi kau lupa Mr. Jung galak bukan main?” sahut gadis berkuncir kuda ragu.

“Bukan masalah.” Taemin berdiri dari kursinya, mengabaikan tatapan tajam Sulli padanya. Setelah yakin tidak ada yang mengikuti dirinya keluar kelas, ia mencegat salah satu hoobae yang sedang melintas di koridor.

“Antarkan aku ke Ruang Data.”

~~~

Ruang Data adalah ruangan sempit bernuansa gelap yang hanya memuat satu meja besar tempat komputer, setumpuk map, dan kertas-kertas disusun rapi. Dan di depan komputer itulah seorang pria paruh baya yang selalu tampak tegang duduk memandang Taemin tajam dari balik kacamata tanpa bingkai yang bertengger melorot di hidungnya.

“Lee Taemin, eh? Apa yang membuatmu kesini?” Suaranya berat dan resmi.

“Aku… bisa aku melihat data Eunjung? Kami sekelas akan mengunjungi rumahnya,” jelas Taemin singkat.

“Di jam pelajaran begini? Anak muda zaman sekarang, mencari kesempatan dalam kesempitan.” Taemin meringis mendengar hal ini – memang benar. “Kalian terlalu dimanjakan teknologi. Nah, nah. Eunjung siapa?”

Taemin mengerjapkan mata. “Maaf?”

“Eunjung siapa? Kau pikir ada berapa murid bernama Eunjung selama tiga puluh tujuh tahun sekolah ini dibangun? Kami – khususnya aku – menyimpan semua data murid secara runtut, tapi jika hanya dengan satu nama tersebut, bagaimana aku bisa tahu Eunjung yang kau maksud?” omel Mr. Jung dengan nada meninggi.

Eunjung-siapa? Mana dia tahu. Taemin merutuk dalam hati kenapa tidak menanyakan nama keluarga Eunjung pada Sulli. Tunggu, bukankah Eunjung di kelas 3-5 hanya ada satu? Kenapa dia tidak –

“Kim Eunjung kelas 3-5, bukan?”

Taemin menoleh, terkejut dengan suara lembut yang menyela percakapan mereka. Ia melihat seorang pria muda berdiri di ambang pintu ruang data. Matanya seakan menghilang saat ia tersenyum dan rambut sewarna madu miliknya diikat pig tail hingga ia tampak lebih manis.

“Kau pasti Lee Taemin, murid peringkat satu paralel. Tenang saja, aku akan mencarikannya untukmu.”

Taemin sedikit shock dengan fakta bahwa ia peringkat satu paralel di sekolah elit ini, tapi maksud sesungguhnya ia datang kesini cukup mendesak hingga ia tak sabar untuk berkata, “Tidak usah, biar aku saja yang mencari.”

Kening halus pria itu dihiasi kerutan samar. “Kenapa? Tugasku disini – “

“Aah, sudahlah. Biarkan Taemin masuk dan mencari apa yang ia inginkan; kalian hanya membuat keributan di kantorku yang tenang!” sela Mr. Jung ketus seraya mengibaskan satu tangannya, mengisyaratkan pada Taemin dan pria itu untuk segera pergi entah kemana asal tidak mengganggu pekerjaannya.

“Bagaimana kau tahu namaku?” selidik Taemin ketika mereka sudah di dalam ruangan tempat jajaran rak membentuk gang-gang kecil serupa perpustakaan.

“Aku bekerja disini, sepanjang hari mengecek data siswa. Bagaimana aku tidak tahu?” tanya pria itu ringan. Ia menarik salah satu map dan menyerahkannya pada Taemin. “Aku Lee Jinki. Mr. Jung sangat membenci jika siswa masuk kesini, tapi jika Lee Taemin yang meminta kelihatannya beliau sedikit luluh.”

“Ah, ya. Terima kasih banyak.” Taemin menunduk menatap map di tangannya, terkejut dengan nama yang tertera di sampulnya. “Mr. Lee, sepertinya kau salah mengambil – ini milikku,” gumam Taemin ragu. Yah, memang benar ia ingin melihat data dirinya, tapi ia harus mencari alamat Eunjung terlebih dahulu, bukan?

Jinki tersenyum misterius. Kedua tangannya dilipat di dada dan kepalanya sedikit dimiringkan. “Salah? Kupikir kau ingin mencari data milikmu untuk menggali ingatan.”

Taemin mencengkram pinggiran map hingga buku-buku jarinya memutih. Darimana orang bernama Jinki ini tahu? Apakah ia teman Minho juga? Atau jangan-jangan Taemin sendiri yang membocorkan hal ini tanpa sadar?

Jinki menghentikan tatapan intensnya dari Taemin kepada rak di sebelahnya. Kembali ia menarik map kuning lain. “Ini milik Kim Eunjung yang kau cari.”

“Bagaimana kau tahu…?”

Alih-alih menjawab pertanyaan, Jinki berkata, “Aku tidak melarangmu mencari seperti apa Lee Taemin yang sesungguhnya, tapi kusarankan kau berhenti berusaha mengumpulkan kepingan ingatan.”

Mata Taemin membulat. “Apa maksudmu?”

“Kau hanya perlu mencari Kim Jonghyun, setelah itu kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya.” Jinki tersenyum kecil, memukul puncak kepala Taemin dengan map di tangannya. “Lakukan apa yang harus kau lakukan; aku yang akan ke kelasmu dan menyerahkan ini.”

~~~

Minho memasukkan laptop ke dalam ransel dan membungkuk sembilan puluh derajat pada dosen pemimbing. Setelah memastikan wanita paruh baya berwajah lembut itu keluar dari kafe tempat mereka bertemu, Minho menghempaskan pantatnya ke kursi. Matanya memandang keluar jendela, ke arah trotoar yang ramai oleh pejalan kaki. Tak heran, sekarang sudah masuk waktu makan siang dan sepertinya semua orang memutuskan keluar.

Beberapa menit terlewat hanya dengan melamun, kemudian seseorang yang berjalan tergesa membuat Minho tersedot kembali ke kenyataan. Ia mencondongkan tubuh, mencengkram lengan kursi dengan kedua tangan agar tubuhnya tidak terjengkang ke depan. Mata lebarnya menyipit, mengidentifikasi lelaki berkemeja putih garis-garis yang berusaha mencari celah di antara iringan manusia yang berjalan lambat.

Tak salah lagi, lelaki dengan rambut lumayan panjang itu adalah Taemin. Tampaknya ia begitu terburu-buru karena beberapa kali mengabaikan umpatan orang-orang yang tanpa sengaja ditabraknya. Matanya terpancang lurus ke tempat yang jauh.

“Apa yang ia lakukan?” bisik Minho pada dirinya sendiri. Ia menyandang tas di bahu, membayar sekenanya pada kasir, dan berlari mengejar Taemin.

~~~

Jika ingatan Taemin tidak salah, maka ia hanya harus melewati jalan ini dan menaiki bus tiap dua puluh menit untuk mencapai alamat yang sudah ia salin ke memo ponselnya. Aneh, bagaimana ia bisa tahu jika harus melewati rute ini? Sepertinya detail ini muncul begitu saja di benaknya.

Berkat pria misterius bernama Jinki, ia diperbolehkan keluar sekolah. Ia takjub dengan kekuasaan Jinki dalam meminta izin pada satpam berikut guru piket yang berada di dekat gerbang. Setelah Taemin keluar, Jinki kembali ke kelas 3-5 untuk menyampaikan alamat Eunjung.

Kaki Taemin mencapai bayangan atap halte bus ketika sentuhan ringan menyambut tangannya. Ia menoleh, nyaris melonjak kaget melihat Minho terengah-engah di sampingnya. Lelaki itu mengatur napas sejenak, lantas menegakkan tubuh dan menatap Taemin tajam.

“Kau membolos?”

“Tidak!” sergah Taemin. “Aku diperbolehkan keluar oleh guruku untuk….” Taemin terdiam, menyadari alasan ‘mencari rumahku’ sangat tidak bisa dipercaya. Ia diam, menunduk memandangi tangan Minho yang masih bertempat di sikunya. “Lepaskan aku,” gumamnya pelan.

“Apa katamu? Sekarang lebih baik kita pulang,” tegas Minho. Sebelum ia sempat menarik Taemin dari kerumunan orang, Taemin menyentak tangannya.

“Maaf, Minho ssi. Aku hanya punya waktu tiga hari, aku harus segera pergi mencari Kim Jonghyun.”

“Jonghyun lagi? Taemin-ah, kau benar-benar….” Tanpa aba-aba Minho meraih pergelangan tangan Taemin dan menyeretnya pergi.

“Lepaskan aku!”

“Tidak sebelum kau menjelaskan alasan kenapa kau bernafsu mencari Jonghyun!” balas Minho berteriak. Beberapa orang memperhatikan mereka, tapi Minho tidak peduli; ia berbalik menghadap Taemin yang membeku.

“Dengar, selama empat hari terakhir ini aku berusaha memaklumi keadaanmu, tapi keinginan gilamu untuk mencari Kim Jonghyun sungguh di luar kesabaranku. Kau tahu kenapa? Karena orang itu yang menyuruhmu bunuh diri!”

Taemin terperangah, nyaris tidak bisa mempercayai setengah dari perkataan Minho. Ia berhenti berusaha melepaskan diri hingga kini tautan tangan mereka menggantung di udara. Otaknya seolah membeku selama beberapa detik. Ia membiarkan Minho memalingkan wajah dan membimbingnya ke mobil yang terparkir di depan sebuah kafe mungil.

“Maafkan aku,” ungkap Minho saat mereka sudah berada dalam perjalanan. Taemin nyaris tidak bisa mendengarnya. “Kemarin aku berbohong padamu. Kau jelas mengenal Jonghyun – kalian secara aneh dapat menemukan bahan pembicaraan yang tepat.”

Taemin melempar pandangan keluar, ke arah deretan bangunan yang berbaur menjadi satu garis panjang yang tampak kabur di matanya. Bagus, setelah Minho mengatakan Jonghyun yang menyuruhnya bunuh diri, sekarang lelaki itu mengakui bahwa mereka adalah teman. Segalanya semakin membingungkan.

“Kau tahu kenapa aku berbohong?”

“Tidak.”

“Mungkin memang belum saatnya kau tahu.”

Taemin menoleh, memberikan tatapan setajam mungkin pada Minho. Apa yang coba laki-laki itu bicarakan?

“Aku ingin pulang,” gumam Taemin.

“Ya, kita memang akan pulang.” Minho membenarkan.

“Bukan, ke rumahku sendiri.”

Minho mematahkan atmosfer hening yang canggung selama semenit penuh dengan bertanya, “Untuk apa?”

“Untuk mengetahui tentang diriku sendiri.”

“Kau sudah tahu siapa dirimu.”

“Jika boleh jujur, Minho ssi, aku tidak keberatan diturunkan disini – aku tahu alamat rumahku,” kata Taemin dingin. Ia kesal lantaran sedari tadi Minho hanya membolak-balik perkataan alih-alih menjawab sedikit dari pertanyaannya.

Minho mendesah keras dan menggumamkan sesuatu yang hanya ditangkap telinga Taemin berupa kata “tidak berubah” dan “keras kepala”. Tak perlu menjadi jenius untuk menjelaskan bahwa Minho sedang membicarakan dirinya.

“Tak masalah, kita akan kesana sekarang,” putus Minho setelah terdiam beberapa saat.

Mata Taemin membulat. “Benarkah? Minho ssi, kau benar-benar – ”

“Sebelumnya kita makan dulu, oke? Aku yakin kau belum makan siang,” sambung Minho. Melihat senyum manis lelaki itu membuat Taemin tidak bisa menolak. Ia memutar bola mata dan mengangguk samar.

Mobil melesat menyusuri jalan raya yang lumayan lengang, meninggalkan megahnya perkotaan menuju perumahan mungil yang berdesakan di pinggir jalan. Nyaris tidak ada orang yang berjalan di trotoar, dan Taemin mendapati dirinya menikmati pemandangan damai tersebut setelah empat hari hanya melihat keramaian yang selalu sibuk.

Minho membelokkan mobil ke salah satu lahan parkir yang cukup luas milik restoran mungil bergaya Eropa. Beberapa sesemakan mawar bergerombol di kedua sisi pintu kayu berkaca yang berdiri di atas beberapa undakan.

“Kita terakhir kesini sebulan lalu,” gumam Minho seraya melepas sabuk pengaman.

“Oh ya?” Taemin menunggu hingga Minho keluar sebelum ia menyusul keluar. Bukan apa-apa, ia hanya berjaga-jaga.

Interior restoran itu begitu manis meski bergaya tua. Setiap meja dilapisi taplak hijau kotak-kotak dan dihias dengan satu vas ramping berisi bunga kuning imitasi. Lukisan pedesaan memenuhi dinding. Meski hampir semua meja terisi penuh, yang terdengar hanyalah gumaman samar, seolah semua orang ingin tempat ini tetap tenang. Minho memilih meja di dekat jendela yang memamerkan pemandangan kebun bunga di samping restoran dan Taemin langsung menyukainya.

“Kau tahu ini restoran milik siapa?”

Taemin mengalihkan pandangan dari hamparan dandelion ke raut misterius Minho. “Tidak.”

Sebelum Minho sempat menjawab, langkah kaki dari arah dapur membuat Taemin menoleh. Ia membelalakkan mata melihat sosok gadis yang sudah sangat akrab di matanya muncul dari balik kerai pintu dapur.

“Sulli?”

“Taemin-ah!” Sulli nyaris menjatuhkan notes kecil di tangannya karena terlampau bersemangat. Ia membungkuk di samping Taemin dan melingkarkan kedua tangan di sekeliling pundak lelaki itu, secara terselubung memeluknya erat-erat.

“Hei, kupikir kau kembali sakit hingga tidak bisa mengunjungi rumah Eunjung. Sebagai gantinya kau mengunjungi rumahku! Astaga, ini membuatku terharu!” cerocos Sulli sambil mengusap air mata imajinatif dari sudut mata indahnya. Ia menoleh dan mendapati Minho menatapnya lekat-lekat. “Oh, selamat datang, Minho ssi.”

Taemin menyadari atmosfer canggung di antara mereka saat Minho mengiyakan dengan resmi dan mulai menenggelamkan kepala di balik buku menu. Sulli pun terlihat gelisah. Taemin sedikit memiringkan kepala. Ada apa ini?

Setelah menyebutkan pesanan dan Sulli berlalu ke dalam dapur, Minho membuang pandangan keluar, bukan ke bunga-bunga indah yang mulai disentuh musim semi melainkan langit biru berkapas yang sangat cerah. Wajah lelaki itu merenung dengan siratan penyesalan dan rasa bersalah yang sangat samar.

Taemin tersadar ia sudah memanjakan matanya dengan menatap wajah rupawan Minho terlalu lama. Ia cepat-cepat menunduk, meredakan gemuruh di dadanya juga protes-protes kecil dari sudut kecil hatinya akibat tidak lagi melihat paras bak malaikat tersebut. Bodoh, ia sudah bersumpah pada dirinya untuk tidak menganggap Minho lebih dari sekadar teman dan – mungkin – figur kakak, tapi bagian dirinya yang lain menginginkan status lebih dari itu.

Taemin mengerjapkan mata. Disitulah letak masalahnya. Selama ini ia merasa mempunyai dua hal yang berbeda yang membuatnya merasakan dua perasaan yang berbeda – bahkan berlawanan – pula. Apakah artinya ini?

Sebelum Taemin mencapai hipotesa, Sulli kembali dengan pesanan mereka. Kali ini gadis itu tidak berceloteh riang seperti biasa, hanya tersenyum kecil dan bergegas kembali. Meski hanya sepersekian detik Taemin sempat melihat Sulli melirik Minho dan begitu pula sebaliknya meski tidak secara bersamaan.

Hal ini membuat Taemin mengesampingkan pikirannya soal dirinya sendiri dan beralih pada Minho dan Sulli. Sulli selalu mencemooh Minho jika di sekolah sementara Minho tidak pernah membahas gadis itu (hanya sekali, itu pun untuk menjelaskan siapa saja yang menjenguknya di rumah sakit). Sikap canggung Sulli barusan terlihat natural, tapi tidak begitu dengan tatapan matanya terhadap Minho. Ada sesuatu yang –

“Makanlah sebelum dingin,” tegur Minho. Taemin mengangguk dan segera melahap makanannya. Sekali lagi ia memergoki Minho melamun dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Mereka makan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam lamunan panjang yang tak berujung. Barulah saat terdengar suara benda pecah, Minho cepat-cepat berdiri untuk membayar sementara Taemin bergegas menghabiskan minuman yang dipesan.

“Kau bilang dulu kita sering kesini,” pancing Taemin ketika mereka menuruni undakan menuju mobil. Ia hanya iseng bertanya – menerima perhatian dari Minho memang sedikit aneh, tapi melihat lelaki itu diam seribu bahasa jauh lebih mengerikan.

“Memang benar. Sepulang sekolah,” jawab Minho singkat. Ia merogoh kantong celana dan mengeluarkan kunci mobil. Bunyi ‘bip’ lembut terdengar kala ia menekan tombol pembuka kunci.

“Kau tidak kuliah?”

“’Sering’ yang kumaksud bukan setiap hari, Taemin-ah. Di saat baik kau mau pun aku sedang senggang, maka kita akan kesini.”

“Oh, kenapa di restoran Sulli?” Taemin menyadari dengan terlambat bahwa dirinya melontarkan pertanyaan yang berisiko. Minho berhenti sejenak, kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam mobil tanpa berbicara. Barulah ketika Taemin sudah masuk dan mesin mobil dinyalakan, ia menjawab riang,

“Karena makanannya lezat dan harganya murah. Karena letaknya yang jauh dari perkotaan hingga kita tak perlu mendengar bunyi berisik kendaraan bermotor. Karena tidak ada yang tahu kita kesini. Karena….” Sorot mata Minho meredup dan ia melanjutkan lirih, “karena membuatku mengingatnya.”

Taemin mengabaikan alasan melankolis terakhir. “Apa yang terjadi jika ada orang yang tahu kita kesini?”

“Bencana, terutama jika dia yang tahu.” Minho menghembuskan napas pelan. “Sudahlah, kau bilang akan ke rumahmu?”

“Ya, tentu saja!”

Minho batal memundurkan mobil lantaran tangan kanannya digunakan membelai pipi Taemin dengan lembut. Ia tersenyum kecil. “Kau semangat sekali. Seharusnya dari dulu aku membawamu pulang.”

“Ke-kenapa tidak kau lakukan?” Taemin lagi-lagi menyalahkan sebagian dirinya yang meleleh atas tingkah Minho barusan.

Because because.” Minho terkekeh seraya memindah persneling ke huruf ‘R’. Mobil bergerak mundur perlahan dan kembali ke jalan raya dengan mulus. “Aku tidak mau tahu jika tidak ada orang yang bisa membukakan pagar rumahmu nanti – kedua orangtuamu pergi, ingat?”

“Yap, tidak masalah.”

Taemin memandang ke depan dengan penuh antisipasi, berharap ia benar-benar bisa mengingat sesuatu yang berguna dalam pencarian Kim Jonghyun.

~~~

“Maaf, Eomma. Aku sedang melamun.”

Setelah ibunya berlalu, Sulli berjongkok untuk memungut pecahan-pecahan gelas yang tersebar di dalam dapur. Ia menggigit bibir, lebih untuk mencegah air matanya turun daripada berkonsentrasi atas kepingan kaca halus tersebut.

Kenapa dia berubah? Pertanyaan itu kerap mengganggu pikiran Sulli, tapi tidak pernah membuatnya kacau seperti ini. Ia tak menyangka otaknya serasa dibolak-balik melihat perubahan menyakitkan tersebut – oh, well, siapapun dapat mengetahui pandangan penuh cinta itu.

Sulli mengaduh pelan saat ujung telunjuknya tergores serpihan kaca. Ia menatap darah mulai mengalir dari sana lalu tersenyum miris.

Bahkan air matanya mengalir lebih cepat ketimbang darahnya yang tak terbendung keluar.

..::To be Continued::..

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “Piece of Memory – Part 4”

  1. Ada apaa ini ada apaa? Sulli, siapa yang berubah? Siapa yang mandang penuh cinta itu? Ayooo thooor lanjut ayo lanjuuut udah ga sabaar, aku suka banget ceritanyaa

  2. Ow.ow.ow.
    Siapa sebenarnya Jinki?seolah2 semua orang tunduk sm kata2nya.

    Apalagi maksud Minho bilang, Ttg bencana bila Dia melihatnya. Dia siapa?kakaknya Taemin?Jjong?

    Bener2 part ini kayak puzzle,
    semoga next part bs kebentuk wujud puzzlenya kyk apa..

    I’ll be waiting

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s