In Front of The Bus Stop

Title: In Front of The Bus Stop

Author: Ayachaan

Main cast: Lee Jinki, Kim Eun-hyo

Support cast: Luna f(x), Sungmin Super Junior

Genre: AU, Romance, fluff

Rate: PG-15

A.N: Annyeong ^^ Ayachaan bawa ff lagi. Oya, ada pemberitahuan dikit nih, kalo nanti kalian tiba-tiba nemu ff di wp lain (seperti ffshineeshawol.wordpress.com) jangan heran ya. Selama nama Authornya adalah Ayachaan atau Aya-chan itu berarti adalah ff saya. Onkey, happy reading ^^.

Note: Adaptasi dari VCR SHINee World Concert – The Bus Stop dengan beberapa perubahan. Beberapa adegan terinspirasi dari drama ‘Love Rain’. [ALERT] Setting waktunya loncat-loncat.

IN FRONT OF THE BUS STOP

Hari itu masih seperti hari biasa

Mentari bersinar memberi semangat

Hingga takdir menjadikannya tidak biasa

Ketika aku dan kau bertemu pandang dalam semburat hangat

 Lee Jinki membenarkan letak tas ransel yang tersampir di bahu kanannya. Sembari terus berjalan menyusuri trotoar jalan, bibirnya sesekali bergumam. Menyanyikan potongan kecil dari bait-bait lagu yang sedang di dengarnya dari earphone. Lagu dari boyband kesukaan Jinki; SHINee.

Jinki sampai di halte bus yang masih lengang. Hanya ada enam orang di sana, termasuk dirinya. Perhatian Jinki teralih pada pergelangan kirinya, melirik arloji hitam casual—pukul 07.00 AM. Pasti sebentar lagi bus-nya akan datang. Bus yang selalu Jinki tumpangi untuk menuju tempatnya menimba ilmu; Changwon University.

Brummm….

Suara khas dari pedal rem yang di injak. Memberi efek berhenti pada empat roda bus tersebut. Jinki mengangkat wajah untuk sekedar melongok pada para penumpang di dalam bus sebelum naik dari pintunya—yang bahkan belum terbuka.

Mata sipit yang indah bagai kerlip bintang itu terpaku. Menatap jauh menembus kaca bus tersebut. Memicingkan penglihatannya untuk memperjelas pemandangan indah di depan matanya. Seorang gadis manis yang tengah menundukkan wajahnya pada sebuah buku.

Hana… dul… set, sepertinya aku telah jatuh cinta hanya dalam tiga detik.

.

.

Kim Eun-hyo merasakan getaran halus ketika bus berhenti. Em, bukan halte pemberhentianku, pikirnya. Ia tetap memfokuskan perhatian pada buku modul kuliahnya. Berusaha merefresh memorinya tentang bahan ujian yang akan di jalaninya hari ini.

Ada yang aneh. Eun-hyo merasakan jika dirinya seperti di perhatikan. Melirik ke samping kirinya dengan ujung matanya—namun tak ada seorangpun dari penumpang lain yang sepertinya sedang memperhatikan Eun-hyo.

Ia masih merasa aneh. Hingga kepalanya seolah bergerak sendiri, menoleh ke samping kanannya, melongok keluar jendela bus. Detik berikutnya, mata bening kecoklatan itu telah bertemu dengan mata sipit nan indah. Saling beradu pandang seolah kedua mata itu saling mengunci lawannya masing-masing.

            Aku seperti tenggelam dalam mata sipit itu.

Eun-hyo menyadari bus mulai berjalan. Detik itu juga kontak matanya dengan namja itu terputus. Selang beberapa detik, Eun-hyo menyadari sebuah suara aneh, suara yang sepertinya berasal dari luar badan bus. Ia menoleh tepat saat melihat namja bermata indah itu berlari sembari berusaha menggapai badan bus. Satu hal yang dapat di simpulkan Eun-hyo, namja itu hampir ketinggalan bus.

AHJUSSI! TOLONG BERHENTI! Ada seorang penumpang sedang berlari.” Teriak Eun-hyo lantang.

Supir bus melihat dari kaca spionnya seketika setelah mendengar teriakan Eun-hyo. Buru-buru menghentikan laju bus dan membukakan pintu.

.

.

Kamsahamnida, ahjussi.” Jinki membungkuk hormat ketika kedua kakinya telah menapak masuk ke dalam bus.

Tadi itu, astaga… kejadian yang memalukan atau malah sangat bodoh, eoh? Dia hampir saja ketinggalan bus dan terancam tidak bisa ke kampus hanya karena terpaku menatap mata seorang gadis. Gadis di dalam bus.

Jinki terhenyak. Langkahnya sempat terhenti ketika mata sipitnya kembali menemukan seluit gadis itu. Ia tengah menundukkan pandangan, terlihat fokus membaca buku di genggaman tangannya.

Entah apa yang menuntun Jinki, hanya saja, kedua kakinya seolah berjalan sendiri menuju arah gadis itu. Terus berjalan hingga dia berada di sisi luar dari bangku tempat si gadis duduk. Memutuskan untuk meraih handle yang tergantung dan berdiri di sana, di samping Eun-hyo.

***

 

Ketika hujan turun aku melihatmu

Ketika tangan kuasaNya menuntunku

Dan ketika kau masuk dalam lindungan payungku

Saat itu aku tahu, ini adalah hujan cinta dan aku jatuh cinta padamu

 

Lee Jinki memperhatikan tetesan hujan yang mengalir di permukaan kaca jendela bus. Hujan terus saja mengguyur kota Seoul sejak beberapa saat lalu, membuat jalanan di selingi pejalan kaki dengan beragam payung maupun jas hujan.

Getaran halus terasa ketika bus yang ditumpangi Jinki berhenti. Hampir semua  penumpang sigap berdiri dan membuat barisan menuju pintu keluar. Beberapa ada yang telah mempersiapkan payung, ada juga yang berusaha mengandalkan tas untuk menjadi pelindung sementara hingga sampai ke tempat tujuan.

Begitu hampir semua dari penumpang bus keluar, Jinki baru beranjak dari duduknya. Membuka payung yang telah dia bawa sembari melangkahkan kaki ke arah pintu keluar.

Kedua kaki namja tampan itu melangkah pasti hingga menginjak trotoar jalan. Kemudian seperti tergerak sendiri, wajahnya menoleh ke arah halte bus. Disana, diantara para penumpang yang kebanyakan pelajar, berdiri seorang gadis.

Ia berdiri di sudut halte. Terlihat agak menggigil di balik cardigan coklat muda yang ia kenakan. Rambut gadis itu agak lembab, mungkin terkena bias dari air hujan karena ia berdiri di sudut halte.

Meskipun mata gadis itu menatap nanar ke atas, seolah memperhatikan tetesan air hujan yang turun membasuh bumi, Jinki dapat melihat warna bening kecoklatan dari irisnya. Mata itu, mata yang telah mengunci pandangannya sejak lebih dari seminggu yang lalu.

Jinki tidak pernah melupakannya. Tidak pernah sama sekali. Bagaimana mungkin dia bisa lupa seperti apa indahnya mata coklat itu, bagaimana cara mata itu memandangnya dari balik jendela bus. Dan bagaimana mata itu berhasil membuatnya dadanya bergemuruh dahsyat hingga mengakibatkan kenyataan berbicara, jika dia telah jatuh cinta hanya dalam tiga detik.

Jinki hampir tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Kaki itu seolah tertarik medan magnet untuk melangkah mendekati gadis itu. Mengulurkan sebagian payungnya hingga melingkup bagian atas kepala si gadis.

“Kau hampir kehujanan.” Lirih Jinki. Jika boleh jujur, Jinki hampir tidak bisa mengendalikan suaranya—hingga hanya mampu mengeluarkan suara pelan bagai lirihan itu. Gemuruh di dadanya benar-benar membuatnya nampak bodoh. Gadis ini—yang bahkan belum dia ketahui namanya—telah berhasil meluluhlantakkan hatinya dengan penuh sensasi.

.

.

“Kau hampir kehujanan.”

Eun-hyo menoleh tepat ke mata sipit nan indah begitu ia mendengar kalimat itu. Tersadar akan sosok yang kini ada di depannya. Menawarkan tumpangan payung untuknya yang memang hampir kehujanan.

Namja ini, Eun-hyo tidak pernah melupakannya sedetik pun. Namja yang ia temui di bus lebih dari seminggu yang lalu. Namja yang kedapatan memandangnya, dan ketika ia memandang balik, ia seolah terhisap masuk ke dalam matanya. Ia seperti tenggelam dalam samudra sorot mata sipit yang tajam itu.

Eun-hyo mengangguk, “Gomawo.”

Namja itu tersenyum. Tarikan kedua sudut bibirnya memberi efek pada matanya yang indah. Membuat mata itu menjadi garis hitam tebal. Oh, dan Eun-hyo baru menyadarinya… ada efek lain yang di akibatkan oleh senyuman itu—pipinya menggembung lucu sekarang.

Tidak tahu siapa yang memulai, hingga kini mereka berjalan beriringan. Jinki dengan gugup menjaga jaraknya dengan gadis di sampingnya. Lebih mengarahkan payung hitamnya pada si gadis, meskipun resikonya bahu Jinki sendiri menjadi basah.

Eun-hyo menyadari pundak Jinki yang basah. Ia mengulurkan tangan untuk meraih gagang payung. Menggesernya sedikit hingga kembali tegak dan melindungi pundak Jinki dari cipratan air hujan.

“Aku tidak apa-apa.” Ucap Jinki. Dengan keras kepala kembali menggeser payung hingga kembali keposisi semua—miring, mengarah pada Eun-hyo.

“Bagiku juga tidak apa-apa.” Sanggah Eun-hyo. Ia kembali menegakkan payung hingga pundak Jinki terlindungi.

Jinki melirik Eun-hyo dengan ujung matanya. Manis… cantik…. Astaga, Jinki lupa! Bahkan sampai saat ini, dia belum mengetahui nama gadis di sampingnya.

“Ehem,” Jinki berusaha membuka percakapan.

Ne?.”

Ah, senangnya Jinki walau hanya mendapat respon yang simple. Tidak apa-apa, sama sekali tidak apa-apa… karena dengan begitu Jinki bisa melanjutkan kalimatnya.

Naneun Lee Jinki imnida.”

Naneun Kim Eun-hyo imnida.” Sebuah sahutan yang malu-malu, namun membuat dada Jinki kembali bergemuruh hebat.

Tidak ada jabat tangan karena sungkan dan malu yang masih melingkup mereka. Hanya saling melirik dengan ujung mata masing-masing. Dan ketika pandangan mereka kembali bertemu, masing-masing langsung memalingkan wajah. Gemuruh yang semakin hebat di dada Jinki dan rona merah jambu di pipi Eun-hyo menjadi penghias kebersamaan mereka.

 

“Eunhyo-ssi, kau bisa gunakan payung ini untuk pulang. Aku harus pergi ke suatu tempat dulu.” Kata Jinki tiba-tiba.

Hujan memang hanya tertinggal gerimis. Namun tetap saja dapat membuat demam jika berjalan tanpa pelindung.

“Kau bagaimana? Kau bisa kehujanan.” Sahut Eun-hyo.

“Aku tidak apa-apa. Lagipula hujannya hanya tertinggal gerimis.”

Eun-hyo sempat terdiam beberapa detik sebelum membuat satu keputusan.

“Jinki-ssi, kapan aku bisa mengembalikan payung ini?.”

Bolehkan Jinki berharap kalimat dari Eun-hyo barusan bermakna ambigu. Dan salah satu maknanya adalah gadis ini ingin mereka bertemu lagi. Ketika Jinki memandang wajah manis Eun-hyo, Jinki melihat semburat merah jambu disana, membuatnya percaya dengan prediksinya sendiri.

“Hari minggu depan jam 3.30 sore? Bagaimana?.” Tanya Jinki.

Eun-hyo menanggapinya dengan anggukan kepala yang malu-malu. Jinki tersenyum puas melihat itu, akhirnya dia bisa membuat satu langkah pasti.

“Kita bertemu di depan halte.”

Eun-hyo kembali mengangguk. Ia menegakkan wajah dan tersenyum pada Jinki, senyum malu-malu karena sebelumnya ia tidak pernah seperti ini pada seorang namja.

“Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Jinki keluar dari lindungan payung dan melambai pada Eun-hyo. Lambaian dengan senyum cerah yang bertolakbelakang dengan kondisi cuaca.

“Sampai jumpa.” Eun-hyo ikut melambai dengan sebelah tangannya. Senyum terus merekah dari wajah itu walau seluit tubuh Jinki semakin menjauh.

Selang beberapa saat, ketika ia sudah tidak bisa lagi melihat punggung Jinki, ia mutuskan untuk berbalik. Melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah. Langkah demi langkah yang tercipta oleh kakinya diwarnai Eun-hyo dengan senyum manis nan merekah.

***

Pertemuan dengan alasan klise

Namun bahagia tetap mengakar tumbuh

Dan ketika keyakinan datang menyapa

Aku dan kau, kita…

 

Eun-hyo mengetuk-ngetuk ujung sepatu converse putihnya pada tiang halte. Membiarkan bunyi-bunyi pelan dari peraduan itu menemaninya yang sedang duduk sendiri. Ia sedang menunggu seseorang sekarang. Dan jika kau ingin melihat rona merah jambu di pipi gadis manis itu, tanyakan saja siapa orang yang sedang ia tunggu sekarang. Maka dengan begitu, tanpa perlu menunggu lama, kau akan di suguhi oleh rona manis tersebut.

Mianhae, kau lama menunggu?.”

Sebuah suara membuat kepala Eun-hyo refleks menoleh. Ia tersenyum lebar melihat orang ditunggunya telah datang.

Aniyo, aku baru datang juga.” Sahutnya. Meskipun kenyataannya Eun-hyo telah menunggu agak lama, ia tidak akan mengatakannya pada sosok di depannya kini. Karena ia sendiri yang berinisiatif untuk datang lebih awal.

“Ah, busnya sudah datang.” Pekik namja itu.

Eun-hyo lantas berdiri, menyongsong bus yang akan mereka tumpangi. Jinki meraih tangan Eun-hyo, menautkan jemarinya di sela jemari Eun-hyo dan menarik gadis itu untuk memasuki bus dari pintunya yang baru terbuka.

Gemuruh itu, gemuruh yang belakangan ini selalu jadi teman setia Eun-hyo kembali hadir. Ketika ia menyadari hangatnya tangan Jinki yang menggenggam tangannya.

Aku agresif!.

Jinki mengakui kenyataan itu ketika dia seperti tanpa terkontrol meraih tangan Eun-hyo. Membuat tautan manis antara kedua tangan mereka. Jika boleh jujur, bagi Jinki sendiri ini agak… err… memalukan. Belum pernah sebelumnya dia seperti. Bersikap hangat dan perhatian pada seorang gadis adalah pengalaman pertama bagi Jinki. Pengalaman pertama yang dia harap hanya tercipta untuk Eun-hyo.

Mereka berdua duduk di bangku ketiga dari belakang. Eun-hyo duduk tepat disamping jendela dan Jinki di sebelahnya.

“Jinki-ssi,” panggil Eun-hyo ketika bus mulai melaju.

“Eum?.”

“Kita akan kemana?.”

“Kau akan tahu nanti. Yang pasti, aku tidak akan menculikmu.” Jawab Jinki. Dia tersenyum jahil sambil melirik Eun-hyo dari ujung mata indahnya.

Eun-hyo mengerucutkan bibir mendapatkan jawaban seperti itu. Kemudian tertawa pelan melihat ekspresi Jinki yang meleletkan lidah padanya.

Tanpa mereka sadari, sebagian dari penumpang bus melirik iri pada mereka. Sedikit-banyak bergumam penuh harap. Berharap merekapun bisa memiliki momen manis yang sekarang tercipta antara Jinki dan Eun-hyo.

Jinki menyusupkan tangan kirinya ke saku jaket baseball yang dia kenakan. Meraba satu stick di dalam sana sembari matanya mencuri pandang pada Eun-hyo yang sedang menatap keluar jendela bus.

“Eum, Eunhyo-ssi….”

Ne?.” Eun-hyo menoleh dengan sigap begitu mendengar Jinki memanggilnya.

Jinki kembali meraba stick di dalam kantong jaketnya. Meyakinkan hati untuk menarik stick itu keluar dan memberikannya pada Eun-hyo.

Jinki menoleh, tepat bertemu dengan mata bening Eun-hyo yang memandangnya penasaran. Jinki yakin, sebagai namja, dia yakin akan tindakannya selanjutnya.

“Ini.”

Kata singkat itu terucap di sertai oleh sebuah lollipop ukuran sedang yang keluar dari kantong Jinki. Memperlihatkan permen manis itu pada Eun-hyo.

“J-jinki-ssi….”

Eun-hyo hampir tidak bersuara melihat lollipop di depannya. Bukan karena bentuk love manis dari lollipop itu. Bukan juga karena warna pink-nya yang lembut. Tapi karena kalimat yang tertulis dengan jelas disana.

            ‘SARANGHAE KIM EUN-HYO’

“Apa kau mau… j-jadi… yeojachinguku?.” Tanya Jinki dengan suara gugup. Berkali-kali dia mencoba mengontrol desau napasnya sendiri. Pertama kali melakukannya membuat Jinki gugup minta ampun.

“A-aku…,” suara Eun-hyo terdengar pelan dan… ragu?. Hati Jinki hampir mencelos kecewa sebelum dia mendengar kalimat lanjutannya. “…mau. Aku mau Jinki-ssi.”

Serasa ada kembang api yang meledak dalam diri Jinki ketika mendengar kalimat itu. Dia senang… sangat senang! Astaga, cukupkah kata itu melukiskan perasaan sekarang?. Jinki tidak tahu dia harus mendeskripsikannya seperti apa. Ini kali pertama dia jatuh cinta, kali pertama dia menyatakan perasaannya dan kali pertama perasaannya di terima.

“Jinki-ssi,” panggilan itu, semakin terdengar lembut di telinga Jinki. Dia menoleh, menoleh pada gadis di sampingnya. Gadis yang kini menjadi kekasihnya.

“Berhentilah memanggilku begitu, panggil Jinki saja.”

“Ah, mianhae… J-Jinki-ya.”

            Jinki tersenyum puas. “Kau mau mengatakan apa tadi?.”

Aniyo….” Jawab Eun-hyo malu-malu.

“Eunhyo-ya?.”

Ne?.”

Saranghae.” Ucap Jinki penuh perasaan. Matanya dia tajamkan untuk menembus masuk ke mata bening Eun-hyo.

Nado, saranghae.” Jawab malu-malu dengan rona merah jambu yang manis.

***

From: Dubu-oppa

“Happy five months anniversary, nae Eunhyo-ya.”

 

To: Dubu-oppa

“Ne, happy anniversary too Jinki-ya ^^.. ah, apa kau sibuk sore nanti?.”

 

From: Dubu-oppa

“Ani, ada apa?.”

 

To: Dubu-oppa

“Bagaimana kalau kubuatkan kimbab ayam dan telur gulung kesukaanmu?.”

 

From: Dubu-oppa

“Ide bagus, Jagi-ya!.”

 

To: Dubu-oppa

“Baiklah, aku akan ke apartemen Oppa?.”

 

From: Dubu-oppa

“Kutunggu Jagi-ya.”

Eun-hyo tersenyum cerah melihat balasan terakhir dari Jinki. Apakah ini bisa disebut sebagai kencan perayaan hari jadi mereka? Membayangkan hal itu membuat Eun-hyo tidak henti mengukir senyum. Ia bahagia, sangat.

Oh, ia hampir lupa… ia harus segera menyiapkan bekal untuk di makan bersama Jinki nanti. Kimbab ayam dan dadar gulung, merupakan keahlian kulinaris Eun-hyo yang paling disukai Jinki.

.

.

Gadis itu menenteng tas coklat kecil di tangan kirinya, tas khusus berisi bekal yang telah ia persiapkan. Sementara di bahu kanannya tersampir tas lain—tas yang biasanya menjadi pelengkap penampilan gadis-gadis.

Eun-hyo terus melangkah pasti memasuki areal apartemen Jinki. Begitu memasuki gedung bertingkat itu, ia langsung menuju lift di sisi kiri.

TING. Lantai 8.

Eun-hyo tersenyum begitu mendengar bunyi ‘ting’ dan melihat layar LED bertuliskan angka delapan. Menunggu beberapa detik hingga pintu lift terbuka dan ia melenggang keluar.

Sedikit lagi sampai, batin Eun-hyo.

Ketika langkah gadis itu sampai di belokan terakhir lorong panjang gedung apartemen Jinki, ia terhenti. Sayup-sayup di dengarnya suara wanita dari dalam apartemen Jinki yang pintunya terbuka. Dan mata bening kecoklatan itu hanya mampu terpaku melihat pemandangan didepannya.

Jinki sedang berpelukan dengan seorang gadis. Gadis cantik dan memiliki postur tubuh yang bagi Eun-hyo sangat proporsional. Kenapa ini? Kenapa dengan dirinya sekarang… mulut dan bahkan seluruh tubuhnya kaku melihat Jinki yang tengah berdiri menyamping—membuatnya tidak melihat Eun-hyo—dan memeluk balik gadis itu dengan erat.

Sakit… dan sesak. Rasa itu seperti air bah menyergap Eun-hyo. Dan seolah langsung tertaman lalu tumbuh kuat di hatinya. Jinki-nya… Jinki-nya memeluk wanita lain. Bukankan Jinki pernah berjanji kalau hanya Eun-hyo yang akan dia peluk?.

Dan itu… astaga, Tuhan… kenapa gadis itu mulai berjinjit?

BRUK.

Genggaman tangan Eun-hyo pada bekal yang dibawanya untuk Jinki mengendur hingga mengakibatkan tas itu jatuh berdebam ke lantai. Jatuh tepat ketika gadis itu mencium pipi Jinki dengan lembut.

“Eunhyo-ya?.”

Indera pendengaran Eun-hyo mengenali suara itu, amat sangat mengenali suara yang begitu di sukainya itu. Dan dari sela-sela matanya yang mengabur, Eun-hyo dapat melihat Jinki memandangnya dengan pandangan kaget.

Eun-hyo tidak bisa mengendalikan dirinya untuk sekedar tenang. Ia hanya menuruti perintah hatinya untuk menjauh dari sana, lari dari hadapan Jinki sebelum lelaki itu melihatnya menangis. Sebelum Jinki menganggapnya gadis menyedihkan—mungkin.

.

.

Jinki berjalan tanpa menoleh pada layar intercom rumahnya. Terus melenggang, agak terburu-buru membukakan pintu begitu dia mendengar bel rumahnya berbunyi beberapa saat lalu.

“Jinki-ya?.” Panggil seseorang ketika pintu belum sepenuhnya terbuka.

Jinki menoleh antusias ke balik pintu. Sempat mengira jika yang datang adalah Eun-hyo. Namun perkiraan itu meleset jauh ketika pupil matanya menangkap siapa sosok yang memanggilnya.

“Luna-noona?.”

Ne, apa kabar, Jinki-ya?.”

Gadis yang di panggil Jinki Luna itu melangkah masuk, mendekati namja tampan yang tengah berdiri diam di hadapannya. Tersenyum lebar dengan pandangan yang tidak lepas dari Jinki.

“Baik, Noona. Apa Noona baru datang hari ini?.” Tanya Jinki ramah.

“Iya, baru saja tiba dari London!.” Jawab Luna ceria.

Noona langsung kesini?.”

“Tidak, aku mampir dulu kerumah paman dan bibi.” Sahut Luna.

“Ah, kukira Noona langsung kesini.”

“Astaga, Jinki-ya….”

Jinki agak terperanjat ketika tangan Luna mencengkram lengannya. Wajah gadis itu seperti tengah terkagum-kagum dengan apa yang dilihat matanya.

“Kau makin tinggi dan tampan saja.” Puji Luna.

Jinki tersenyum tentatif menanggapinya, sejujurnya agak merasa risih dengan jarak Luna yang begitu dekat dengannya.

Dan Luna, ia seperti tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Jinki. Hingga kedua tangannya tergerak cepat menggantung di pundak Jinki, membuat jarak terhapus di antara mereka.

“Tidak merindukanku ya?.” Bisik Luna.

“Ah, ani….” Jinki menjawab ragu. Dia menaikkan tangan untuk membalas pelukan Luna.

Luna memundurkan kepala untuk menatap wajah Jinki. Tersenyum lebar melihat wajah tampan itu dari dekat. Pelan, ia berjinjit dan… mengecup pipi Jinki lembut.

BRUK.

Suara itu bagai pengganggu ditengah hangatnya suasana antara Luna dan Jinki.

“Eunhyo-ya?.”

Luna mendengar Jinki memanggil sebuah nama. Juga disertai pelukan Jinki yang lolos dari tubuhnya. Luna mengerling pada Jinki dan ia mendapati itu. Ia melihat itu, tatapan penuh cinta Jinki pada gadis bernama Eun-hyo yang kini berdiri di depan pintu apartemen Jinki.

“Eunhyo-ya, jamkkaman.” Luna menoleh kaget. “Noona, maaf aku harus pergi.”

Detik berikutnya, Luna melihat Jinki berlari kencang berusaha mengejar gadis yang rupanya telah pergi lebih dulu.

Luna menghela napas pelan, ia melupakan satu hal. Ia dan Jinki punya satu hubungan… dan hal terlarang baginya untuk merasakan suka pada Jinki. Dan lagi, Jinki telah memiliki orang yang dia cintai.

.

.

Jinki terus berusaha mengejar Eun-hyo. Ini sudah keluar dari areal apartemennya. Jinki berhenti, mengamati sekitarnya dengan jeli, lalu berlari lagi. Terus begitu hingga dadanya terasa sesak. Hanya satu yang ia inginkan sekarang… dia harus menemukan Eun-hyo.

Hingga mata sipit nan indah itu terpaku. Menatap seluit seorang gadis di kejauhan. Tepatnya di depan halte bus yang tengah sepi, karena hanya ada ia sendiri disana.

“Eunhyo-ya,”

“Berhenti, Jinki-ya.” Eun-hyo menoleh tajam pada Jinki. Membiarkan namja tampan itu melihat sisa-sisa airmata dipipinya.

“Aku bisa jelaskan semuanya.” Seru Jinki, suaranya terdengar parau. Bagaimana tidak, jika dia dapat melihat dengan jelas jika Eun-hyo menangis. Tangis yang di sebabkan oleh dirinya sendiri.

Eun-hyo menggeleng, “Aniyo, tidak perlu.”

“Tapi—.”

“Aku akan pergi darimu. Jangan khawatir.” Kata Eun-hyo datar.

Mwo? Jangan bercanda, EUNHYO-YA!.” Jinki tidak dapat mengendalikan nada suaranya. Apa tadi ia bilang? Akan pergi dari Jinki?. Apakah gadis ini mau membunuhnya perlahan dengan meninggalkan Jinki.

Eun-hyo tidak menjawab. Ia memilih untuk berbalik dan melangkah menjauh meninggalkan Jinki.

Jinki tidak mau tinggal diam, hingga kakinya melangkah lebar mengejar Eun-hyo.

“Jangan kejar aku!.” Pelan Eun-hyo. Ia berbalik dengan sigap begitu mendengar langkah berat Jinki. Berbalik menatap Jinki penuh dengan rasa kecewa dan marah. Napasnya memburu menahan tetesan airmata yang akan jatuh tidak terkendali.

“Jangan… kumohon, jangan kejar aku, Jinki-ya.”

Jinki diam. Menatap jauh ke dalam mata Eun-hyo yang gelap oleh airmata. Apakah gadisnya ini benar-benar menginginkan perpisahan sekarang?.

Jinki merasa sakit melihat wajah itu. Melihat pandangan itu dan melihat bahu Eun-hyo yang bergetar… menahan tangisnya. Bagaimana cara Jinki agar gadis itu berhenti seperti ini… apakah dia harus merelakannya pergi?.

Mianhae, a-aku… ingin sendiri dulu, a-aku baik-baik saja.”

Kata-kata itu sarat akan kebohongan, Eun-hyo sangat menyadarinya. Namun entah mengapa, kata-kata itu justru mampu menghempas Jinki dengan keras. Seolah badai baru saja melindas tubuhnya, membuatnya merasa terpuruk dan… sesak.

Menit berikutnya Eun-hyo berbalik. Meninggalkan Jinki yang terpaku berdiri di depan halte bus. Terpaku tanpa mampu untuk sekedar memberi tanggapan pada Eun-hyo.

Jinki menatap punggung sempit yang semakin menjauh darinya. Diam-diam telah membuat keputusan berat dalam hatinya, membiarkan gadis itu pergi tanpa berusaha mengejarnya.

Jinki berusaha berpikir realistis. Dia bukan lagi namja labil yang akan terus meronta sampai penjelasnya di dengarkan. Dia beranggapan, Eun-hyo memang perlu waktu untuk sendiri.

Namja tampan itu berbalik. Berniat kembali ke apartemennya walau ternyata langkahnya saja terasa berat. Dia ingin tetap disana, berharap Eun-hyo berbalik lalu berlari ke pelukannya.

Langkah Eun-hyo semakin pelan, hingga berhenti sama sekali. Ia diam di tempat, kemudian dengan gerakan yang sangat pelan mencondongkan badan ke belakang. Entah apa yang ada di pikiran gadis manis itu, ia hanya… hanya berharap Jinki masih berada di sana—didepan halte bus—berdiri menghadap dirinya.

Sedetik kemudian hatinya jelas mencelos kecewa begitu melihat punggung Jinki. Ia melihat punggung namjanya dan itu berarti jika lelaki itu teleh berbalik meninggalkan tempatnya semula.

Tes.

Ia tidak dapat membendungnya lagi. Membiarkan tetesan kristal sebening kaca itu terus berguguran menyurusi pipinya sembari ia membalikkan badan. Kembali berjalan, meninggalkan tempat itu.

Jinki menarik napas berat, menghembusnya dengan keras. Kesal… sesak… rasa-rasa tidak mengenakkan itu semakin merayap tumbuh. Seolah mengakar tunggang di hatinya. Pelan, Jinki menolehkan kepalanya. Mencelos kecewa ketika kembali hanya mendapati punggung Eun-hyo yang semakin menjauh, tertimbun kerumunan pejalan kaki lain.

Kenapa, dia begitu berharap?.

Kupikir jiwa kita saling terpaut

Kupikir batin kita terjalin erat

Aku kehabisan kata

Aku tak tahu harus berkata apa

Ia bukan siapa-siapa… hanya kau, cinta yang menjerat

***

Hilang arah

Hanya raga tanpa jiwa

Menjadi anak kecil oleh marah

Menjadi bagai mayat oleh sepi

 

Eun-hyo berjalan sendirian di sepanjang trotoar jalan. Ia baru saja pulang setelah berbelanja kebutuhan pangan. Biasanya… Jinki akan menemaninya berbelanja. Dan dengan begitu list belajaan Eun-hyo akan bertambah panjang oleh kebutuhan Jinki.

Ia tersenyum kecut mengingat sepenggal cerita manis itu. Ia dan Jinki… berjalan berdua… jemari saling bertaut… menunggu bus bersama… menaiki bus dan duduk berdampingan… ia rindu. Rindu akan sosok Jinkinya.

“Eunhyo-ssi?.”

Apakah itu suara seseorang?. Seperti suara perempuan namun entah mengapa telinga Eun-hyo memaksa menterjemahkannya sebagai suara Jinki. Membuat si gadis kembali larut dalam lamunannya.

“Eunhyo-ssi,” panggilan yang semakin mendekat sepertinya.

Eun-hyo masih mengacuhkannya walau jelas-jelas telah mendengar. Ia masih menikmati, terlarut dalam kerinduan mendalam pada Jinki.

“Eunhyo-ssi,”

“Eoh?.”

Akhirnya, keluar dari belenggu kabut tipis kerinduannya. Mengerjap sakali, dua kali hingga benar-benar menyadari ada seseorang berdiri di sampingnya. Seorang wanita, dan wanita itu telah menepuk bahunya.

“Ada ap—.” Kata-kata selanjutnya hanya tertanam dalam kerongkongannya. Ketika mata bening kecoklatannya menakap seluit wajah wanita itu. Ia tahu saat ini kembali berhadapan pada saat paling menyebalkan dalam hidupnya, bertemu dengan wanita yang tempo hari berpelukan dengan Jinki.

“Kau Eun-hyo bukan? Kim Eun-hyo?.” Tanya wanita itu.

Oh, apakah Jinki bercerita tentang dirinya pada wanita ini? Atau wanita ini seperti seorang stalker yang mencaritahu segala tentang dirinya?.

“Hmm.” Jawaban yang terdengar sangat malas.

“Perkenalkan, aku Luna. Kita belum sempat berkenalan ketika bertemu di apartemen Jinki.” ucap wanita itu ramah.

Eun-hyo merasa darahnya naik ke ubun-ubun dengan drastis. Mungkin ia sedang mengalami tekanan darah tinggi sekarang. Kenapa? Karena ia ingin sekali mencakar-cakar wajah wanita bernama Luna ini. Begitu inginnya hingga buku-buku jarinya terasa mengeras menahan amarah.

“Aku Kim Eun-hyo.” Sahut Eun-hyo. Boleh dikatakan jika nada suaranya sekarang sangat geram. Walau telah susah payah membuat nada suaranya terdengar biasa.

Luna tersenyum tentatif, “Aku adalah kakak sepupu Jinki.”

APA? Tadi ia bilang apa? Oh, rupanya ia berani mengakui status diri di hadapan Eun-hyo sekarang. Setelah kejadian menyesakkan yang terjadi gara-gara dirinya, berani sekali ia bilang bahwa ia adalah kakak sepupu Jin—eh, kakak sepupu?.

Beberapa detik yang di selingi omelan berlalu sebelum Eun-hyo menyadari satu hal. Mencerna dengan baik kata-kata Luna. Wanita ini, kakak sepupu Jinki? Be-benarkah?.

Eun-hyo tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak tahu ia mesti memberi tanggapan apa akan kata-kata Luna. Malu, malu dan malu… tidak ada lagi hal selain itu yang menghiasi pikiran serta perasaannya detik ini.

“Luna-ya,”

Luna menoleh di ikuti dengan Eun-hyo. Tidak berapa jauh dari tempat mereka berdiri sekarang, seorang lelaki muda melambai.

“Sebentar, Sungmin-oppa.” Terdengar Luna menyahut riang.

“Aku pergi dulu. Kuharap bisa bertemu lagi denganmu, sampai jumpa.”

Ne.” Eun-hyo menjawab singkat. Ia sendiri merasa nampak seperti orang bodoh sekarang.

Membalas lambaian Luna sekedarnya, lalu kembali terdiam. Melirik bayangan dirinya di kaca etalase toko.

“Lihatlah Eun-hyo, kau nampak bodoh!.” Rutuknya.

Astaga, ia benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Ah, sekaligus paling memalukan. Bagaimana bisa ia melewatkan satu hal yang sangat penting begitu saja… bahwa Luna dan Jinki adalah saudara. Jadi untuk apa ia menyiksa diri selama beberapa hari ini?. Menyiksa diri dengan kerinduan pada Jinki yang kian detik kian membuncah.

“Apa yang harus kulakukan?.” Pertanyaan pertanda kebingunan tengah melanda gadis itu. Bagaimana selanjutnya? Apa yang harus  ia katakan pada Jinki? Bagaimana caranya untuk minta maaf?.

Kupikir jiwa kita saling terpaut

Kupikir batin kita terjalin erat

Adakah sesuatu di dunia ini yang bernama magnet cinta? Jika ada, berarti benda itulah yang tengah menuntunnya sekarang. Menuntun langkah kaki itu menyusuri trotoar jalan, menuju tempat bersejarah yang menjadi pertemuan cintanya.

.

.

Jinki menghembuskan napas jenuh. Mengetuk-ngetuk ujung sepatunya pada trotoar jalan. Disini sekarang ia berada, sendirian. Entah sudah dua atau tiga bus dia lewatkan begitu saja. Tidak lazim memang, seharusnya dia telah menaiki salah satu bus tersebut. Bukannya terus duduk dan menunggu sesuatu yang tak pasti.

Dia sedang menunggu?.

Benar… sedang menunggu dan berharap lebih tepatnya. Berharap tempat ini bisa menjadi jimat keberuntungan dan membuat cintanya datang kembali. Bukankah tempat ini—halte bus—telah… ani, selalu menjadi saksi bisu manisnya cintanya dan Eun-hyo.

Tempat mereka pertama kali bertemu pandang.

 

Tempat Eun-hyo berteduh, lalu Jinki datang dan menawarkan tumpangan payung.

 

Tempat Eun-hyo dan Jinki kembali bertemu, lalu memulai sebuah goresan kisah manis.

Tempat mereka berpisah oleh sebuah kesalah pahaman.

 

Di sini, selalu di tempat ini. Dan akankah sekarang akan tempat ini kembali menjadi saksi. Saksi dimana cintanya kembali.

Jinki tersenyum kecut. Mungkin dia terlalu berharap sekarang. Efek dari betapa dia merindukan Eun-hyo. Sudah berhari-hari tidak melihat gadis itu, juga tidak mendengar suaranya memanggil Jinki… rasanya seperti… em, hampa.

“Jinki-oppa,”

Astaga, bahkan sekarang khayalannya menjadi sangat berkembang. Panggilan itu, panggilan yang begitu dia rindukan dan sekarang terdengar nyata di telinganya.

“Jinki-oppa,”

Eh, kenapa seperti sangat nyata dan dekat dengan Jinki.

“Jinki-oppa,”

Panggilan itu kembali Jinki dengar di sertai tepukan kecil di lengannya. Memaksanya menghapus mantra magis penuh harapan yang melingkupinya sejak tadi. Dan ketika kepalanya menoleh, mata sipitnya yang indah itu terpaku.

Apakah ini mimpi atau dia sedang berhalusinasi. Benarkah sosok yang ada di depannya kini Kim Eun-hyo? Eun-hyo, orang yang selalu berputar dalam memori otaknya dan mengalir dalam setiap denyut nadinya.

“Jinki-oppa… m-mianhae,”

Tidak, Jinki tidak sedang bermimpi maupun berhalusiansi. Sosok ini benar-benar Eun-hyo dan baru saja mengucapkan kata ‘maaf’. Eh, untuk apa?.

“Untuk apa?.”

“Karena aku keras kepala. Tidak mendengar penjelasan Oppa. A-aku… seperti anak kecil. Mianhaejeongmal.” Ucap Eun-hyo pelan. Kepalanya menunduk dalam, tidak berani memandang wajah Jinki.

Jinki memandang tajam gadis yang ada di depannya. Astaga, Tuhan… betapa ia begitu merindukan gadis ini. Sangat, sangat merindukannya.

Memilih tidak menjawab tapi justru menarik Eun-hyo ke dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh mungil itu. Meletakkan dagunya di puncak kepala Eun-hyo, mengelus rambut hitam gadis itu dan mengecupnya sesekali.

Oppa, m-mianhae….” Lagi, Eun-hyo mengulangi permintaan maafnya ketika tidak mendapati tanggapan dari Jinki.

“Apakah kau sudah tahu semuanya?.” Jinki justru bertanya balik.

Eun-hyo mengangguk dalam pelukan Jinki. Tidak berani mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan tersebut. Malu dan sangat merasa bersalah.

Jinki tersenyum lucu sementara tangannya bergerak mendorong tubuh Eun-hyo ke belakang. Berusaha membuat kontak mata dengan Eun-hyo, walau gadis itu terus menghindar. Jinki tidak kehabisan akal, dia menarik dagu Eun-hyo dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain mendekap mesra pinggang Eun-hyo.

Ketika kedua mata indah itu kembali saling mengunci sang lawan, lalu Jinki mendekatkan wajahnya. Memejamkan mata, membuat jarak terus terhapus. Dia menghirup aroma lembut seperti bayi yang menguar dari tubuh Eun-hyo sebelum membuat menyatuan kecil diantara mereka.

Mengecup bibir cherry itu lembut. Mengemutnya dengan gerakan sangat pelan, lalu mengecap manisnya. Rasa manis yang memberi sensasi demi sensasi berbeda ketika Jinki mengecupnya. Membuat perasaannya bagai terbang ke langit, lalu tersentuh lembut oleh gumpalan awan putih. Tenang… rileks… dan bahagia.

Dan ketika dia merasakan gerakan pelan dari lawannya, Jinki tahu Eun-hyo sedang membalas ciumannya. Saling mengecup dengan napas yang menderu penuh kerinduan. Permintaan maaf, penerimaan maaf dan tentu saja rasa rindu berpadu lembut di sana.

Jinki menyudahi kecupan penuh rindu nan manis itu ketika di rasa paru-parunya mulai berteriak meminta oksigen. Matanya kembali menatap wajah Eun-hyo yang kini memerah, mengulum senyum lebarnya.

“Apakah tadi artinya kita sudah saling memaafkan?.” Jinki mengerling jahil.

Wajah Eun-hyo jelas merah padam. Ia tidak tahu mengapa, namun ia selalu bereaksi seperti ini ketika Jinki sukses menggodanya. Hanya mampu mengangguk seperti orang bodoh, dan itu membuat Jinki lepas kendali. Tidak bisa lagi menahan tawanya melihat tingkah Eun-hyo.

“Eunhyo-ya,”

“Eum?.”

“Lain kali selalu dengarkan dulu penjelasan orang lain, arra?.”

Arraseo.”

“Eunhyo-ya,”

“Ada apa lagi Oppa?.”

Jinki kembali menarik Eun-hyo ke pelukannya. Melingkarkan tangan hingga mendekap tubuh mungil itu sepenuhnya. Sedikit memajukan mulutnya ke telinga Eun-hyo.

Saranghae,” bisikan yang sangat pelan.

Eun-hyo tersenyum, lalu terus melebar hingga kini ia tersipu malu. Berjinjit untuk dapat mencapai telinga Jinki, “Nado, saranghae.”

 

Dan kini aku semakin yakin

Jiwa kita saling terpaut

Batin kita terjalin erat

 

FIN.

Ayachaan #120809

Gimana? Gaje kah? 😀

Ayo komen, kritik dan sarannya aku tunggu ya. Annyeong ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

42 thoughts on “In Front of The Bus Stop”

  1. Sukaaaaaaaaa…
    Sampe terharu, hiks..

    Idenya sederhana, walau awalnya emg beneran agak mirip Love Rain*yaiyalah,namanya jg inspirasi*

    sukaaaaa..

    1. iya awalnya emang mirip sama Love Rain, sengaja, hehe… habisnya bikin ini juga setelah selesai nonton drama itu, hehe

      gomawo udah sempetin mampir yaaa ^^

  2. SWEEEEEEEEEEEEEEEEET~

    Chukkae Jinki Oppa~ tunggu aku sama Taemin ya, kita nanti bakal nyusul kok. Kekekeke~ #modus

    NICE FF~!

    1. iya, alurnya sengaja dibikin mirip karena ini adaptasi dan authornya suka banget sm VCR itu, hehe
      makasih yaa liaguk, udah sempetin baca ^^

  3. Wah, so sweet banget lah abang dubu. Mau dong begitu juga.ekekek.
    Tapi,tapi, itu jatuh cinta dalam hitungan 3 detik. Kilat banget yak?!
    Terus,terus aku kyanya kalo jadi Eun hyo trus ditembak sama Jinki, pdahal baru kenal sebentar. kayanya bakalan mikir2 lagi deh.ehe. 😛

    “Karena ia ingin sekali mencakar-cakar wajah wanita bernama Luna ini” <– Ini dengan senang hati deh ak bantu cakarin. cakarnya pake pisau bedah yah.ahahaahh.

    oKEY Aya, sekian dari aku. Nice FF b^^d

    1. haha, Eun-hyo kayaknya udah kena pelet Onew, jadi waktu dibilang suka, hooh hooh aja langsung 😀
      Eun cha mau bantuin nyakar? ayo mari, dipersilakan *dibejek Luna*

      makasih yaa eun cha udah mau mampir dan sempetin bacaaa~ ^^

  4. Wah, udah lama gak ke sini.
    keren-keren!
    Daebak!
    aku juga suka sama cover ffnya!
    Author daebak! :Db
    main castnya bang onyu lagi ><

    1. hehe, makasih tiara. suka onew ya? kalo gitu bisa aja sambil bayangin kamu jadi eun-hyo, hihi *saran sesat*
      sekali lagi, makasih yaaa ^^

  5. Kim Eun-hyo…knpa yang berputar-putar dikepala saya si taebong dalam balutan dress putih dengan senyum yang terus mengembang????lol~ #jiwaontae
    efek VCR kali ya, hoho

    aku suka…..ceritanya ringan dan so sweet. :d

  6. sweet sekali ff nya aya.. kata2nya juga bagus..
    boleh koreksi masalah penulisan dikit?

    kata di pada kata diselingi itu kedudukannya sebagai imbuhan, jadi disambung nulisnya. sedangkan kata ke pada ke posisi, kedudukannya sebagai kata depan, jadi dipisah nulisnya. ada beberapa penulisan imbuhan dan kata depan yang kamu salah antara disambung ato dipisah.

    penulisan kalimat langsung:
    “AHJUSSI! TOLONG BERHENTI! Ada seorang penumpang sedang berlari.” Teriak Eun-hyo lantang.

    harusnya:
    “AHJUSSI! TOLONG BERHENTI! Ada seorang penumpang sedang berlari,” teriak Eun-hyo lantang.

    belakang kalimatnya pke koma, bukan titik dan kata teriak, ucap, ujar, kata, dll pke huruf kecil.

    habis tanda ? dan ! seharusnya gak perlu lagi dipakein tanda .

    masalah teknik penulisan aja sih, ceritanya udah bagus. 😉

    1. hai hai Lumina ^^
      ff ini ditulis jauh sebelum aku kirim the eyes, dan memang banyak teknik penulisan yang maish salah ya, hehe
      kedepannya pasti bakalan aku perbaiki. seneng deh di kasih masukan gini, ngebantu banget.

      makasih yaaaa Lumina ^^

  7. baca ff ini pake lagu only u nya suju nyess bangeet…sweeety~~
    aah, aku melting banget pas bagian masuk bis bareng2 pas nembak itu..aww..aww…

    bikin lagi aya~~ aku suka ^.^/

  8. Huaaaaaa
    Sweet banget sueerr:”” apalagi pas udah baikan itu, haaa terdaebak:”
    Tapi berasa banget nyeseknya apalagi pas eunhyo nengok kebelakang berharap jinki lg natap dia ternyata enggak, dan sebaliknya jinki juga gitu.
    Feelnya ngena sekalii (y) kekeke
    Super super nice ff (y)(y)

    1. makasih yaa, syukur deh kalo feel nya dapet aja. aku malahan takut nggak berasa karena ini adaptasi, hehe
      makasih yaaa udah sempetin baca ^^

  9. aaaaaaaaaaaaaaaaaa
    jari2ku mengeriting ….
    aaaaaaaaaaaaaaa
    syuka syuka

    tp ngakak pas jinki blg “luna noona” hahahaha

    suka jg aq sm pendeskripsian qm ttg senyum jinki /pingsan/

  10. Eheeem
    saya muncuuul~
    ..berikan ak waktu 3 detik dan ak akan mencintaimu..>quote mario teguh ini lgsung keingt wktu bca ini
    tuh kan tuh kaan,biarpun temany udah umum,tp kalo narasiny bgus kan ceritany bisa keren gini hoho

    1. hai hai kak ^^

      kak boram bisa aja. Aya malahan ngerasa narasiku masih byk kurangnya. Tapi, overall makasih yaaaa kakak cantik, hehe

  11. Ayaaaa, im coming, hehehe
    Aku pikir emang ada sesi pas SHINee yang lain soalnya di covernya ada gambar member yg lain walopun emang ga jelas. Ehhh ternyata semuanya diadaptasi oleh Jinki, hehe, sukaaa >__<
    Dan ngebayangin pas Jinki ngejar2 bis sambil bawa ransel macam minho di VCR nya, rasanya aku suka banget bagian itu, erasa keren aja liat Jinki pake ransel. Kan biasanya kalo di airport pake tas ibu2 item itu =_=
    Eh tapi pas di Barcelona sama KeyTaem dia pake ransel kok *gapentingabaikan

    Sebenernya aku mau koreks bagian yg tanda tanya & tanda seru itu, emang ga perlu dititikin lagi kalo abis tanda tanya.

    Terus bagian pas {"Gadis yang di panggil Jinki Luna itu melangkah masuk,"} itu kedengaran aneh ga kalimatnya? Mungkin enakan jadi {"Gadis yang dipanggil Luna oleh Jinki itu,…"} gitu ya? hehe

    Nah bagian yg kata Lumina
    {“AHJUSSI! TOLONG BERHENTI! Ada seorang penumpang sedang berlari.” Teriak Eun-hyo lantang. }
    emang sebelum kata teriak enakan dikasih koma. Tapi yang ini

    {“Kamsahamnida, ahjussi.” Jinki membungkuk hormat ketika kedua kakinya telah menapak masuk ke dalam bus.}
    emang udah bener pake titik sebelum kata Jinki. Kalo kamu tahu bedanya nada si kalimat tersebut. (Ini aku juga dapet dari Yuyu, hehe).

    Tapi terserah kamu sih mau dipake ato enggak, ini cuman saran ^^
    Hwaiting buat FF lainnya Aya ^^~

    1. hai kak ^^

      ini masukan berguna lho buatku kak.. hehe
      kemarin waktu di the eyes juga banyak dapet masukan soal teknik nulis yg baik. seneng deh 🙂
      sygnya disini masukan itu blm bisa aku aplikasikan krn ff ini selesai dua bulan sebelum the eyes 😦

      sekali lagi makasih yaaa kak, nanti2 kasih tau lagi ya kalo ada yg salah ^^

  12. manisnyaaaa. fluffy :3
    tapi masih ada tanda baca yang salah. kayak habis tanda baca atau tanda seru ada titiknya. terus ada kata yg aku nggak ngerti, seluit? itu apa? dan ada beberapa diksi yang kurang tepat. kayak pas jinki menatap tajam (biasanya tatap tajam itu kalau marah bukan rindu) cuma mau koreksi itu. tetap menulis! ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s