Sakura In Seoul – Part 7

Title                : Sakura In Seoul 7

 

Author            : Ani

 

Main Cash     : ° Shin ji-eun

                          ° Kim kibum (Key)

 

Support Cast:  ° SHINee (all member)

                          ° Shin jisun

                          ° Super Junior (member)

                         ° DBSK/TVXQ (all member)

                          ° Jang soul in

                          ° Park shin hye

                          ° Goo hyemi

                       

Length            : Sequel

 

Genre             : Romance, Friendship, Family, Comedy, and   Other

 

Rating             : G/PG-13

 

A/N                 :

 

Aku membuat cerita ini karena terinspirasi oleh impianku untuk pergi ke Jepang kkekekeke~ negeri bunga sakura hidup (oh ya?). Semoga tercapai. ^_______^ seperti terselesainya cerita ini. Happy reading readers, I love you ^o^

¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡

Kruyuuukk…

Ji-eun membuka pintu kulkasnya dan, kosong. Tak ada makanan disana, yang ada hanya secarik kertas memo di dalam kulkas. Ji-eun membuka sebelah matanya yang masih terpejam tadi sambil membaca isi memo tersebut dengan sedikit menguap.

To : Ji-eun

 

Ji-eun-ah~ Aku ada urusan di kampusku, aku tidak masak apapun hari ini. Jadi kau masak saja sendiri, tapi jika kau bisa. Ah, tidak aku hanya bercanda! jangan bermain dengan kompor! beli makanan saja diluar. Aku tak ingin kau menghanguskan gedung ini saat aku kembali…

Ji-eun meletakkan memo tersebut sembarang diatas meja, “…apa maksudnya dengan menghanguskan?” Ji-eun merenggangkan otot-ototnya sambil menguap kembali, “hoamm, kenapa tidak membangunkanku?” Ji-eun melirik jam dinding sekilas yang telah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Sambil mengikat rambutnya asal Ji-eun berjalan membuka pintu. Tiba-tiba sesosok wanita yang tak asing muncul di depan pintu. Ji-eun langsung membelalakkan matanya terkejut.

“Omo!” pekik Ji-eun sedikit terlonjak kebelakang saat mendapati tamu paginya itu.

“Anyeonghaseyo Ji-eun-ah~ kau sudah bangun? apa kau sudah sarapan?”

Sapa wanita tersebut dengan ramah tamah yang bagi Ji-eun itu semua hanya basa-basi yang tak berarti, ya wanita itu adalah nyonya Lee, istri dari Lee Donghae. Setelah larut dari keterkejutannya Ji-eun mulai membuka suara lagi, wajahnya terlihat memerah dan sedikit kesal karena paginya telah dirusak dengan kehadiran wanita menyebalkan ini.

“Eonni, ada apa kemari?”

“Hehe, aku hanya ingin menyambut pagi indahmu saja. Hari yang cerah bukan?”

Ji-eun membelalakkan matanya setengah terkejut. Benarkah? menyambut pagiku? Pikirnya tak percaya, ia merasa ada maksud lain dari kedatangan wanita yang bernama Seun rin ini. Sejak kapan wanita ini pernah menyapanya kalau bukan untuk memintanya melakukan sesuatu yang merepotkan dirinya, sungguh mencurigakan kata-katanya itu.

“Oh dimana Jisun? Apa dia ada di dalam?”

Tanta Seun rin lalu menyembulkan kepalanya kedalam apartment Ji-eun tanpa seijin pemiliknya, dengan segera Ji-eun langsung menarik pundak Seun rin keluar. Wanita itu terlihat tidak senang menerima perlakuan yang diberikan Ji-eun barusan, tetapi Ji-eun hanya menanggapinya dengan senyuman datarnya seperti biasa.

“Hehe, eonniku sedang pergi dia tidak ada di dalam. Kalau Seun rin eonni ingin bertemu dengannya mungkin nanti malam baru bisa. Oh, mianhamnida Seun rin eonni aku harus segera pergi. Sampai jumpa!”

Dengan secepat kilat Ji-eun mengunci pintunya dan bergegas beranjak dari tempatnya.

“YA! tunggu dulu!” seru Seun rin sambil menarik lengan Ji-eun, membuat tubuhnyanya tertarik hingga ketempat semula –menghadap Seun rin-.

“Kau tunggu sebentar, ne? aku akan segera kembali! Kau jangan kemana-mana, ne?” perintah wanita itu lalu segera menghilang di balik pintu apartmentnya –apartment Seun rin-. Ji-eun mengangguk begitu saja, beberapa menit kemudian ia baru sadar dengan kebodohannya.

“Aisshh…apa yang aku lakuakan disini? Menunggu parasit betina itu? aigoo babo!”

Sambil menggerutu Ji-eun berjalan cepat menuju tangga, saat kakinya hampir menuruni anak tangga, sebuah suara menyebalkan kembali memanggil namanya.

“Ji-eun-ah! Tunggu sebentar! Akukan sudah bilang, kau tunggu disini,”

wanita itu menarik lengan Ji-eun hingga menghadapnya. Ji-eun hanya bisa pasrah dan mendengus malas mendengarkan ceramah yang dikeluarkan dari mulut wanita dihadapannya. Iapun membuang muka kesembarang arah, saat itu juga matanya menangkap sosok Kim kibum yang baru keluar dari apartmentnya dengan penampilan rapih dan stylishnya seperti biasa. Key saat itu sedang mengunci pintu sambil memandang kedua tetangganya tidak tetarik.

Seun rin yang menyadari kehadiran Key pula, dengan bersemangat menyapa namja itu dengan suara keras.

“Anyeonghaseyo~ Kim kibum-ssi!!!”

Ji-eun hanya menatap Seun rin sambil memukul kepalanya pelan. Aisshh dasar wanita girang, untuk apa memanggilnya?. Batinnya.

“Ah, ne. anyeonghaseyo ahjumma.”

Balas Key sambil tersungging.

“Mwo? A..ahjumma?”

Wajah Seun rin terlihat merah padam, ia lalu berjalan menghampiri Key dengan wajah serius.

“Ya! aku masih muda! panggil aku eonni! arasseo?”

“Oh, ne.”

Key mengangguk sambil pura-pura terkekeh menyesali ucapannya, padahal ia sama sekali tak peduli dengan emosi yang dikeluarkan wanita tersebut barusan.

“Hehe, baiklah, kumaafkan karena kau masih baru disini. Panggil aku eonni Key-ssi ara?”

Kata Seun rin sambil tersenyum lebar, Ji-eun hanya memandang mereka bosan. Seketika sebuah pemikiran terlintas dikepalanya yang kosong. Ji-eunpun kemudian tersenyum sendiri. sebaiknya dia pergi dari sini, dengan begitu dia tidak perlu lagi repot-repot mengurusi wanita menyebalkan itu.

“Ji-eun eonni!”

Panggi sebuah suara dari samping. Ji-eun langsung menoleh dan mendapati seorang bocah lelaki tengah berdiri disana sambil memeluk sebuah boneka beruang coklatnya yang tampak kusam.

“Yoogeun! Apa yang kau lakukan disini?”

Tanya Ji-eun bingung, sepertinya dari tadi dia tidak melihat kehadiran anak ini. sejak kapan anak itu berada disana? Pikirnya.

Seketika mereka -Key dan Seun rin- ikut memandang ke arah anak lelaki tersebut. Seun rin langsung menghampiri Yoogeun lalu menghadap pada Ji-eun sambil tersenyum aneh. Ji-eun semakin mencurigai Seun rin, apalagi saat wanita itu sedang mempamerkan senyuman seperti itu. Senyuman yang sering ia hindari saat bertemu dengan wanita itu.

“Hehe, Ji-eun-ah aku ingin meminta bantuan padamu. Bisakah kau menjaga Yoogeun? Eommanya sedang ada urusan mendadak dikantornya sehingga dia menitipkan anaknya dan sekarang aku sedang ada acara penting. Ji-eun-ah~ bisakah kau menolongku? Jebal~ kau maukan?”

Seun rin menatap mata Ji-eun memohon sambil memeganginya dengan erat membuatnya merasa risih.

“Eh? Tunggu dulu! Apa maksudmu?” Ji-eun melepas paksa genggaman Seun rin sambil mundur selangkah.

“Ji-eun-ah~”

“Shiro! Tidak bisa! aku juga sibuk eonni, mianhamnida aku harus pergi sekarang, kau bisa meminta bantuan orang lain, annyeong-hi gaseyo~” Ujar Ji-eun seraya melambai cepat dan berjalan pergi, tetapi saat itu juga tangannya ditahan lagi oleh Seun rin. Ji-eun mengepalkan tangannya, ia semakin kesal sekarang.

“Kau harus membantuku ne?”

Key berjalan dengan santai saat melewati kedua tetangganya yang sedang berdebat itu, ia tidak tertarik dengan masalah mereka. Bisa ia lihat bocah lelaki disanapun juga sedang memperhatikan percakapan kedua perempuan itu dengan bosan sambil menyender ditembok.

“Tapi..”

Seun rin melirik jam tangannya sekilas, lalu berkata “Kalau begitu, oh! Key-ssi kau bantu Ji-eun juga menjaga Yoogeun. Ah, kalau begitu aku pergi dulu annyeong~”

“Mwo?” pekik key terkejut, Saat itu juga bayangan wanita itu telah menghilang dibelokan tangga keluar. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Ji-eun sebal lalu pada Yoogeun.

“Apa maksud ahjumma itu? menjaga…aisshh..”

“Dia menyuruhmu yang menjaga Yoogeun.”

“Hah?”

“Bagaimana kalau Yoogeun ikut bersamamu? Aku sedang sibuk. Baiklah, Sampai jumpa!”

Kata Ji-eun mengambil keputusan sepihak, iapun segera melesat dibelokan tangga.

“Mwo? YA! Aku? Apa kau gila, shiro! Aku tidak mau, kau saja aku…aisshh, yeoja ini”

Teriak Key dari belakang, tak mau buang waktu lagi ia segera mengejar Ji-eun yang sudah berlari.

“Aisshh…YA! apa yang kau lakukan? Changkaman!”

Ji-eun bisa mendengar suara panggilan Kibum dari belakang dengan jelas, saat kakinya sudah menapaki anak tangga kedua.

“YA! changkaman!”

Saat Ji-eun menoleh kebelakang, bisa ia lihat Key sudah hampir dekat bahkan mencoba menggapai pundaknya. Merasa panik Ji-eun langsung menggerakkan kakinya dengan cepat menuruni tangga, tanpa sengaja kakinya terpeleset ujung anak tangga. Saat itu juga Ji-eunpun kehilangan keseimbangannya, jantungnya berdetak dengan cepat dan bisa ia pastikan kepalanya akan membentur anak tangga lain yang menunggu di bawah dengan keras dan mungkin saja otaknya akan langsung meloncat keluar. Ia pun memejamkan matanya rapat.

“Aaaaaaa…”

Teriak Ji-eun, entah mengapa ia merasakan sesuatu melilit perutnya dan ia langsung membuka matanya membelalak saat menyadari sesuatu.

“Ya! apa kau tidak tahu betapa kagetnya aku? Hufftt…Kau hampir saja membuat jantungku copot karena menyaksikan aksi terjun bebasmu tadi.”

Ji-eun langsung menoleh kebelakang, “K.ki..kibum-ssi.” Katanya tercekat sambil menatap wajah Key terkejut dengan mata membelalak.

Deg~

Seketika bulu kuduk Ji-eun langsung menegang, jantungnyapun kembali berdetak cepat membuat wajahnya entah mengapa ikut memanas sekarang. Ji-eun lalu menggeser kepalanya keposisi semula. Jika ada orang yang melihat mereka sekarang, mungkin orang itu akan mengira mereka –Key dan Ji-eun- adalah sepasang kekasih yang tengah berpelukan dengan romantis di tangga.

“Ya! kau kenapa?” seruan Key membuyarkan lamunan Ji-eun, membuat otak gadis itu kembali jernih.

“Ah, eh.. a..aku..,” Ji-eun terlihat bingung mau menjawab apa, saat matanya melihat ke arah bawah ia langsung ingat bahwa Kibum masih menopang tubuhnya. “Ya! lepaskan! Lepaskan!”

“Arasseo! Tidak perlu berteriak! Berlebihan sekali babo!”

Ji-eun menatap Key kesal lalu berjalan kedepan, tak menghiraukan ocehan Key barusan.

“Ya! kau kira kau akan kemana?” tanya Key dengan tenang yang sudah memblokade tangan Ji-eun dengan paksa untuk kembali keatas.

“Ya! lepaskan! Tentu saja aku mau pergi! kau mau apa membawaku keatas? Ya! Kibum!”

“Kau sudah tahu jawabannya!”

Sesampai mereka di atas, Yoogeun langsung menyambut kehadiran mereka.

“Appa~”

Anak itu langsung memeluk Key, tepatnya memeluk kakinya. Ia terlihat agak terkejut dengan sambutan mendadak itu.

“Ya! kenapa dia memanggilku ‘Appa’?”

Ji-eun hanya mengangkat bahu, “Mungkin wajahmu terlihat seperti ahjussi,”

“Itu tidak lucu!”

“Yoogeun-ah~ aku bukan appamu, bisakah kau lepaskan kakiku?”

Key berusaha menggeser tangan Yoogeun menjauhi dirinya, tetapi anak itu semakin mengeratkan pegangannya.

“Appa~  appa~”

“Eotokhae? Aisshh…Aku bukan apamu arasseo?”

“Appa~”

“Aisshh…jinjja?”

“Sepertinya dia telah memilihmu, sebaiknya aku tidak mengganggu disini. Annyeong, Kibum-ssi!”

Lambai Ji-eun sambil berjalan santai, ia yakin Kibum tak akan mengejarnya dengan sebelah kaki seperti itu.

“Ya! kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu!”

Ucap Ji-eun santai sebelum menuruni tangga,

“YA! changkaman! Jangan pergi dulu!”

Key berhasil menarik hoodie yang dikenakan Ji-eun.

“YA! apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak mungkin meninggalkanku sendirian disini dengan makhluk inikan?”

Ji-eun mengangkat sebelah alisnya sambil barkata, “Tentu saja, dia-kan anakmu,”

Ucapan Ji-eun barusan terdengar amat menyebalkan ditelinga Key.

“Ya! aisshh… sudah kubilang ini tidak lucu dan…”

KRUYUKK….

Ji-eun memegangi perutnya, wajahnya tampak memerah.

“Kau lapar?”

_______________

Restoran ramen Ya-ko di pinggir jalan Seoul terlihat cukup ramai, tidak sedikit orang yang berlalu lalang dari restoran lezat tersebut. Para pelayan menuliskan dan mengantarkan pesanan para pelanggan dengan gesit. Key memandang sekeliling sebelum mengalihkan kepalanya menghadap Ji-eun yang sedang menikmati sarapannya itu. Key sungguh menyesali tawaran yang ia buat dengan Ji-eun setengah jam yang lalu.

“Aigoo…ckckck, ini sudah mangkuk ke lima-mu!! Tak kusangka, tidak hanya aneh kau juga rakus, kau benar-benar yeoja mengerikan!”

Ji-eun melemparkan tatapan sinisnya pada Key sebelum menyumpit ramennya, “Diam kau! jangan urusi aku! Kau pergi saja sana!” ucap Ji-eun ketus sambil memasukkan sesumpit besar ramen kedalam mulutnya untuk memuaskan amarah karena bosan mendengar ocehan Key yang sedari tadi mengganggu ketenangannya.

“Mwo? Kau mengusirku? Apa kau sadar siapa yang membayar makananmu? Benar-benar yeoja tidak tahu diri!”

Ji-eun menutup telinga dengan telunjuk kanannya disertai dengan dengusan kesal. Ia berusaha tidak mempedulikan ocehan Key barusan sambil kembali memasukkan sesumpit besar ramen lagi kedalam mulut. Merasa tidak ada tanggapan, dengan malas Keypun ikut menyantap ramennya yang sedari tadi belum ia disentuh. Tetapi saat ia hendak menyumpit ramennya entah mengapa ia menjadi tidak berselera saat melihat cara makan yeoja dihadapannya.

TUKK!

Key membanting sumpitnya diatas meja dengan keras, Ji-eun membelalak sesaat sambil memastikan Yoogeun masih tertidur disebelah bangkunya.

“Ya! apa yang kau lakukan?”

“Hah, lihatlah cara makan si aneh ini. Kurasa mulut monsterpun kalah dengan mulutnya itu. membuatku tidak berselera makan saja!”

Ji-eun mengangkat sebelah alisnya sambil memandangi Key sebal, “Mulut monster? Aku?”

“Omo! Kau tahu juga?” tanya Key dengan tampang pura-pura terkejut.

“Kau ingin mangkuk ini melayang diwajah indahmu tuan Kim kibum?” tawar Ji-eun

Key mengepal tangannya karena kehabisan kata, “Gomawo nona Shin ji-eun atas tawaranmu, sekarang lebih baik, cepat kau selesaikan makananmu dan jaga anak ini, aku mau pergi.”

Tanpa disuruhpun Ji-eun sudah melakukannya dari tadi –menghabiskan makanannya-.

“Cih~ kemana eommanya? Benar-benar tidak bertanggung jawab,” kata Key membuka mulut sambil memandangi bocah lelaki di hadapannya yang masih tertidur di bangku sebelah Ji-eun. “Untuk apa dia melahirkan kalaupun akhirnya anaknya tidak diurus, kemana appanya? Tidak mengurusi keluarganya. Ckkckc, Semuanya tidak berguna!”

“Ckckck…aigoo.. bicaramu, kau tidak usah sok tahu,” Ji-eun melirik sebentar kearah Yoogeun sebelum beralih pada Key. Iapun mulai melanjutkan, “Tuan Jung meninggal dalam sebuah kecelakaan saat Yoogeun masih bayi dan sekarang dia hanya punya Nyonya Jung saja, beliau wanita karier yang sibuk.”

Key memandangi Yoogeun yang masih tertidur pulas dibangku sambil terlarut dalam pikirannya sendiri setelah mendengar penjelasan Ji-eun barusan, entah mengapa ia merasa bocah lelaki itu mirip seseorang. Dia seperti aku. Tebaknya dalam hati, ia menyadarinya setelah beberapa saat.

“Pantas saja dia memanggilku ‘appa’, semoga saja eommanya tidak penuh ambisi seperti seseorang. Semoga nasibnya baik.” Key jadi teringat ibunya, bagaimana kabarnya sekarang?

Ji-eun menatap Key dengan tampang bingung, “eomma? Ambisi? Mirip seseorang? Hah~ Aku tidak mengerti ucapanmu, apa maksudnya?”

“Sudahlah kau makan saja, jangan banyak tanya!”

Dimeja lain tampak sepasang kekasih yang tengah makan sambil sesekali yang perempuan terkekeh geli dengan gombalan yang diutarakan oleh si laki-laki dihadapannya yang terlihat lebih tua beberapa tahun.

“Shin hye-ah! Kau ternyata lebih cantik dari yang difoto.”

“Oppa~ kau bisa saja, aku sudah mendengarnya sepuluh kali hari ini. Kuharap lain hari saat kita sedang berkancan, kau tidak mengatakannya lagi.”

Ujar Shin hye dengan nada manjanya. Mereka berduapun tertawa bersama, tanpa sengaja mata Shin hye menangkap sesuatu.

“Key-ssi?”

“Ne? kau bilang apa?”

“Ah, aniyo oppa. Bisakah kita sekarang pergi? aku sudah kenyang.”

“Ne? waeyo? Apa kau sakit?”

“Anni~ aku tidak apa-apa, aku hanya baru ingat aku harus kesuatu tempat sekarang, ayo kita pergi oppa~”

Shin hye langsung menarik lengan kekasih barunya kepintu keluar.

“Kau benar tidak ingin oppa antar ke sana?”

“Tidak perlu, aku bisa sendiri. oppa kau duluan saja.”

Shin hye memaksa laki-laki tersebut masuk kedalam mobil silvernya.

“Baiklah pokoknya besok kita harus bertemu lagi, ne?”

“Ne, oppa kau tak perlu khawatir. Aku akan meneleponmu nanti.” Laki-laki tersebut mengecup sekilas pipi Shin hye sebelum melajukan mobilnya.

“Annyeong~ oppa~”

Shin hye tersenyum senang, akhirnya ia bisa bebas sekarang. Iapun melangkahkan kakinya kembali kedalam restoran sambil mencari-cari sesuatu. Ia lalu kembali tersenyum senang saat melihat si pemilik meja ternyata masih disana.

“Ya! kau bayar mangkuk-mangkukmu yang lain, aku hanya mentraktirmu satu porsi.”

“Mwo? Tidak bisa! ini sudah perjanjian! Kau tidak boleh melanggarnya, dan kau juga masih berhutang padaku 350.000 won!”

“Key-ssi?”

“Ah! P…Park shin hye-ssi?”

Key tercengang saat mendapati seseorang yang memanggilnya ternyata adalah Park shin hye -sepupu Junsu- yeoja yang baru seminggu menjadi kekasihnya. Ia keringat dingin sekarang, sambil berusaha mencari alasan yang tepat untuk menyangkal tuduhan yang akan mejatuhkannya sewaktu-waktu. Omo! Apa yang harus kulakuakan? Pikir Key mulai gelisah.

“Key-ssi! Apa yang kau lakukan dengan yeoja ini disini? bukankah dia yeoja yang waktu itu di cafè?”

Air mata Shin hye mulai menetes sambil memandangi Key. Ji-eun hanya menghela napas panjang, yeoja ini benar-benar suka mendramatisir keadaan. Pikir Ji-eun.

“Key-ssi! Apa kau berselingkuh?”

“Ah, aku..”

Bwara Mr. simple, simple geudaeneun geudaeneun geudaero muhtjyuh~~..

Suara ponsel Key bergetar disaku celananya, dalam hati ia amat berterimakasih pada sang penelepon.

“Yoboseyo?”

“Ne, baiklah, aku kesana sekarang.”

Tutss..

Setelah menutup telepon, Key langsung menghadap yeojachingunya sambil memegangi kedua pundaknya.

“Mianhamnida Shin hye-ssi, aku harus pergi sekarang. Nanti akan kujelaskan ditelepon. Aku janji! Annyeong~”

Key meletakkan beberapa lembar uang diatas meja sebelum beranjak pergi.

“Key-ssi!” panggil Shin hye dengan suaranya yang melengking, tapi sayangnya Key sudah menghilang dibalik pintu keluar. Beberapa orang dan pelayan yang berlalu lalang sempat menengok kearah yeoja itu lalu melanjutkan kembali aktivitas mereka yang sempat terhenti. Shin hye langsung mengalihkan pandangannya menhadap Ji-eun dengan garang, Shin hye merasa dia benar-benar tidak dihargai oleh Key. Belum pernah ia diperlakukan seperti itu oleh namja manapun kecuali Key –hari ini-. Iapun langsung melemparkan tatapan benci pada Ji-eun.

“Apa hubungan kalian?”

“Kami hanya tetangga,”

“Cih~ Tidak mungkin!”

“Apa yang kalian lakukan disini? Berkencan, yah benarkah? Kau pasti menguntitnya lagi.”

“Mwo? Berkencan, aigoo. Berarti aku sudah gila kalau begitu, kami tidak berkencan! Dia yang mengajakku kesini dan aku tidak menguntit.”

“Mana mau dia berkencan dengan yeoja sepertimu! Yeoja aneh dan jelek! Itu tidak mungkin! Kau pasti yang menggodanya dan terus mengikutinya.”

Perkataan Shin hye begitu menusuk ke ulu hati. Ji-eun mengepal kedua tangannya kesal lalu  bangkit berdiri, ia bisa merasa amarahnya sudah tidak terbendung lagi.

“Ya! apa yang kau bicarakan? aku tidak berkencan dengan namjachingumu! Sampai matipun itu tidak akan pernah terjadi! Kau tenang saja, aku tidak akan pernah tertarik padanya.”

“Bohong!” sembur Shin hye langsung menanggapi, “Itu tidak mungkin! kau pasti masih berusaha mengincar uang namjachinguku lagi! Sudahlah sebaiknya kau menyerah sekarang juga sebelum kau dipermalukan lagi.”

“Mwo? Apa katamu? Mengincar uangnya? ahahaha… yeoja babo-ya, jangan buat aku geli mendengarnya.” Ji-eun tetawa mengejek, membuat Shin hye semakin panas mendengarnya. Ji-eun mulai melanjutkan, “Apa kau mau kuberi tahu sebuah rahasia?”

Shin hye tak menjawab, ia hanya diam menunggu sampai Ji-eun membuka suara lagi.

“Baiklah kuanggap kau ingin tahu, ini tentang Kibum. Dia bukan orang kaya seperti apa yang kau dan teman-temanmu pikir. Dia itu namja miskin! Lebih miskin dariku, bahkan dia berhutang banyak uang padaku!”

______________

Minho’s home

“Kenapa lama sekali? Yang lainnya sudah lama menunggumu dari tadi.” Kata Minho sembari berjalan menuju sebuah ruang perpustakaannya. Key hanya tersenyum bodoh lalu menjawab.

“Ah, mian. Tadi ada sedikit masalah dijalan.”

Merekapun membuka pintu dan segara disambut oleh rekan-rekan cantik mereka -Hyemi dan Yoona- tampak sudah menunggu di dalam.

Mereka melambai sambil tersenyum manis pada Keypun, ia hanya membalas tersenyum.

“Ah, mianhae~ membuat kalian menunggu lama.”

__________

“YA! jauhkan benda itu dariku. Palliya! Usir dia! Huss, huss…jauhkan benda itu dari radius seratus meter dari jangkauanku, palli Ji-eun-ssi!”

Ji-eun memandang Onew bingung, karena sekarang namja itu sedang merapatkan diri disudut perpustakaan, tepatnya dipojokan rak-rak besar yang menjulang.

“Ya! dia bukan monster. Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu, sudah kubilang dia tidak akan membunuhmu.”

“Tetap saja, benda itu terlihat mengerikan dimataku. Aigoo! Dia memandangiku sekarang!”

“Ya! babo namja! Apa jangan-jangan kau takut pada anak kecil?”

“Sudahlah Ji-eun-ssi, kau masuk saja.”

Kata Jonghyun yang sudah mulai gerah dengan sikap Onew yang berlebihan itu. Dia dari tadi duduk dikursinya dan hanya menonton dari dalam.

“YA! ya! ini rumahku, tidak ada yang mengizinkanmu masuk selain aku!”

Sahut Onew.

Ji-eun semakin kesal, iapun dengan sengaja melangkahkan kakinya kedalam ruangan.

“Kau yang mengundangku! Akukan sudah bilang, aku sibuk, dan kau tidak percaya dan malah memaksaku kemari.”

Ji-eun mengingatkan, Onew yang menelepon tiba-tiba ditengah perdebatannya dengan yeojachingu Kibum itu, benar-benar membuatnya kesal. Padahal ia masih belum puas membongkar rahasia Key pada kekasihnya yang menyebalkan itu.

“Tentu, tapi harusnya kau bilang dulu kalau kau membawa ‘benda itu’. Ya! akukan sudah bilang jangan masuk bersamanya!”

“Sudahlah titipkan saja pada pelayanmu,  disinikan banyak ahjumma.”

Usul Jonghyun, Onew segera memanggil pelayan dan melaksanakan usul Jonghyun barusan.

“Shin ji-eun kenapa kau membawa anak? Apa dia itu anakmu?”

Ji-eun langsung melayangkan jitakannya diatas kepala jonghyun,

“Apa kau sudah gila?”

“Ya! aisshh…tak usah memukulku, akukan hanya bertanya.” Oceh Jonghyun sambil mengelus kepalanya. Onew menghampiri teman-temannya setelah bernapas lega atas kepergian Yoogeun -benda yang ia sebut mengerikan-.

“Ehmm, oh ya kenapa Kyuhyun belum datang?”

Ji-eun hanya mengangkat bahu sedangkan Jonghyun hanya menggeleng tidak tahu. Karena sudah hampir siang mereka akhirnya memutuskan untuk memulai tugas mereka saja tanpa Kyuhyun dengan diketuai Onew.

Hampir dua jam mereka mencari-cari buku yang tepat untuk tugas mereka.

“Aku lelah!” Jonghyun melempar bukunya sembarang ke lantai lalu duduk di atas lantai sambil menyender dirak. “Kenapa semua buku disini bergenre horror?”

“Aku tidak tahu, ini ruangan harabeojiku yang sudah meninggal. Aku bahkan belum pernah membaca disini.” Jelas Onew sambil memandangi langit-langit yang terlihat mengerikan dengan warna coklat yang memudar. Ji-eun berdeham sesaat, ia mulai merasa topik selanjutnya pasti tidak akan menyenangkan, apalagi membahasnya ditempat milik seseorang sudah mati.

“Lebih baik kita ketoko buku saja,”

Kata Ji-eun.

“Kau benar!”

Timpal Jonghyun menyetujui.

Tiba-tiba seorang lelaki berjalan santai menghampiri mereka sambil menyengir seperti biasa, “Mianhae aku terlambat, tadi pacarku tidak mengizinkanku untuk pergi. Dia memaksaku menemaninya.”

“Pasti dengan psp lagi,” tebak Ji-eun, Kyuhyun hanya menyengir.

“YA! kau pulang saja sana!” kata Jonghyun kesal.

“Memangnya boleh?” tanya Kyuhyun tak percaya.

“Babo!”

“Mwo? Ya! Kenapa mengataiku?”

Onew segera menengahi perdebatan yang hampir dimulai diantara Jonghyun dan Kyuhyun. Ini pasti akan panjang. “Ya! sudahlah,” Onew menghela napas sebelum melanjutkan, “Kyuhyun-ah, apa yang kau lakukan? Kami sudah bekerja selama berjam-jam sedangkan kau datang setelah kita hampir selesai.”

“Minhae~” ucap Kyuhyun penuh penyesalan sambil menunduk.

Tanpa banyak berbicara lagi, Onew segera mengajak anggotanya menuju ke toko buku dengan mobil Kyuhyun. Sebelumnya sempat terjadi perdebatan kecil sebelum mereka berangkat. Apalagi kalau bukan karena Onew yang tidak mengizinkan Yoogeun ikut serta dalam perjalanan mereka.

“Ya! jangan duduk di sebelahku! Jauhkan benda itu!”

“Dia bukan benda!”

Ji-eun menjawab dengan bosan, karena sudah ratusan kali dia mengatakannya.

Kyuhyun menatap bingung pada Onew yang berada dijok belakang bersama Ji-eun. “Ada apa dengannya?” Jonghyun hanya mengangkat bahu tidak mempedulikan. Onewpun hanya duduk merapat dipojokan sambil  menangis-nangis disertai keringat dingin disaat perjalanan.

_____________

“Ah! Ini banyak sekali, aku lelah!” keluh Yoona sambil mengetuk-ngetuk pensilnya diatas meja dengan kesal. Yang lainnya ikut menghentikan aktivitas mereka dan mulai merenggangkan otot-otot jemari mereka.

“Sebentar lagi selesai,” kata Hyemi menyemangati. Gadis ini memang rajin dan pandai disegala bidang, benar-benar hebat. Key bahkan kagum pada gadis itu.

“Kau hebat sekali Hyemi-ssi. Kau masih bersemangat mengerjakannya, kami saja sudah pegal-pegal seperti ini.”

Hyemi tersenyum malu sesaat sebelum menjawab.

“Ah, tidak aku hanya belum lelah saja.”

Yoona tersenyum senang memperhatikan percakapan singkat antara sahabatnya dengan Key, iapun mulai merencanakan sesuatu diotaknya sambil tersenyum.

“Minho-ya, bisakah kau antarkan aku ke toilet. Aku tidak tahu dimana letaknya.”

Minho hanya mengangguk sebelum akhirnya mereka menghilang dibalik pintu. Sebelum itu Hyemi bisa melihat Yoona mengedipkan sebelah matanya padanya, dan ia tahu sahabatnya itu sedang merencanakan sesuatu untuknya. Hening sejenak. Hyemi memilih untuk melanjutkan tugas catat-mencatatnya. Key juga melakukan hal yang sama denga Hyemi, mengingat mereka hanya berdua sekarang Key ingin segera menyelesaikan tugasnya, ini sebuah kesempatan emas. Akhirnya Iapun membuka suara.

“Hyemi-ssi,”

“Ne?” Hyemi mendongakkan kepalanya pelan. Ia senang mendengar Key membuka suara –membuka pembicaraan-.

“Bolehkan aku bertanya sesuatu?”

Key agak ragu dengan ini. Ia melemparkan sedikit senyuman sebelum melanjutkan sambil menunggu tanggapan dari Hyemi.

“Tentu, apa itu?”

“Apa kau punya punya seseorang, ah maksudku seorang kekasih, namjachingu. Kau punya?”

Hyemi terlihat membulatkan matanya, pipinya memerah saat itu juga. “Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Umm, aku hanya ingin tahu, ah! mianhae pertanyaanku tidak sopan, kau tidak perlu menjawabnya bila itu mengganggumu.”

“Ah, aniyo! Aniyo!,” kata Hyemi sambil mengipas-ngipaskan tangannya kedepan.

“Ini tidak mengganggu, kau tidak perlu minta maaf. Umm, aku belum mempunyai namjachingu.”

Key tersenyum mendengar jawaban Hyemi, “Jinjjayo?”

Hyemi hanya mengangguk pasti sambil tersenyum manis.

“Kalau boleh tahu, kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?”

“Ah Tidak, aku hanya ingin tahu, tadinya kukira yeoja pintar dan cantik sepertimu pasti sudah punya seseorang kekasih. Tapi ternyata dugaanku salah.”

_____________

Key sedang berada di apartmentnya sambil memanggil-manggil Taemin, tapi orang yang dipanggil tidak muncul ataupun menyahut.

“Taemin! Taemin-ah!”

“Bagus! anak itu tidak dirumah. Ini kesempatanku.”

Seru Key senang, iapun langsung menyentuh layar ponsel touchscreennya, mencari nomor seseorang kemudian mendekatkan ponselnya ketelinga.

“Jjong-ah!”

“Wae?”

“Aku berhasil,”

“Jinjja? Bagaimana hasilnya?”

“Ne, Goo hyemi masih single.”

Terdengar seruan senang disebrang telepon.

“Kau jangan senang dulu, bagaimana kalau dia tidak menyukaimu, atau bahkan menolakmu dan mungkin saja dia sudah menyukai orang lain.”

“Ya! itu tidak mungkin! Semua yeoja pasti meleleh melihatku, kau lihat saja nanti akhirnya.”

“Hah! Kau ini, kenapa kau tidak bertanya sendiri saja padanya?”

“Aku sudah melakukannya, tapi yeojaku itu hanya diam,”

“Berarti dia tidak menyukaimu.”

“YA! YA! ITU TIDAK MUNGK….”

 

Key menjauhkan ponselnya dari telinga, “YA! ponselku bisa rusak! Kau tidak perlu berteriak!”

“Kau yang mengataiku duluan!”

“Baiklah-baiklah terserah padamu. Aku tidak peduli dengan masalahmu. Sesuai perjanjian, besok kau harus memberiku satu juta won ara?

Tuts..

Key memutuskan teleponnya sambil menggeleng-geleng geli, “Ckck, aku heran kenapa semua sepupuku itu aneh. Hah~.”

☺TBC☺

Gomawo readers^^ setiaku yang masih menunggu (emang ada?), mianhae membuat kalian lama menunggu. Aku sibuk akhir-akhir ini dengan ulangan dan tugas-tugas yang terus menguasaiku. Semoga otak ini semakin kreatif agar cerita ini cepat selesai J haha…

Btw disini ji-eun gak mandi loh J, kekeke~

Jeongmal mianhae, aku memang bukan penulis yang baik, karena aku sering lama baru melanjutkan ff , m-.-m *bow. Gomawo buat yang telah komen. Jangan lupa like n komennya lagi (agar lebih semangat nulis) dan yg paling penting kritik dan saran. Jangan ragu tuk memberi keritikan apalagi saran, aku malah senang soalnya ada yang mengingatkan kesalahanku J. Ok sampai sini aja dulu curcolnya. Semoga kalian semua semakin pandai dalam menulis juga^0^.

See you next part~

Thx yo ^^b. *bow

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Sakura In Seoul – Part 7”

  1. Annyeong, Author.

    Dee imnida,

    newbie di sini.
    Agak ga nyambung, soalnya belum baca dr awal,hhee..
    Jwesonghamnida*deep bow*

    author, ada typo yah.
    Panggilan ke wanita yg lebih tua memang Oennie, itu kalo yg manggil jg wanita. Tp kalo yg manggil laki2, Noona/Nuna.

    Semoga bisa diterima yah koreksinya, demi kebaikan FF ini(?)lho?
    *apalah*

    annyeong, saya mw siap2 loncat ke part 1..

  2. FF yg kutunggu2 keluar! yeay.. akhirnya.

    aku suka FFmu, kocak keke… terutama antara Key dan ji-eun terus key dan hyemi yang si hyeminya kegeeran wkwkwk…

    udah deh, next part aku tunggu

  3. Akhirnya di kluar nh ff, stelh skian lma ku tnggu…
    Sprti biasa thor ff mu ini slalu bkin ngakak mnghibur bgt dh 🙂 seandaianya autr pub.. Sminggu skali, psti mknyos th mnyegarkn pkiran biar fresh di akhir pkan hehe… Part slanjtnya ditnggu oh ya klo bsa jgn lma2 ya ^-^v

    1. Berarti ff ini anti depresan dong? O,o… Senang skali ff’ny bisa menghibur, kekeke~ ^^ udh ada kok sampe part 9 paling tiap minggu dipost disini, mungkin minggu ini akan aku kirim part 10’ny 😀
      Mian ya, lamaaaa baru publish. Gomawo udh bacaaa XD

  4. Wah ak baru nemu ff in nih!hahjadi mian baru nongol, cepet lnjut aj deh thor!kekeke~

    Hahaha, diliatin bgt onew oppa gk suka anak kecil, sampe nangis bgituuu, key juga di liatin sering jadi best appa di hello baby jadi dibilang appa ama yoogeun, gmn kalo ad minho yg mirip bgt ama yoogeun, kekeke~

    Daebak deh ff ny, next chapter ditunggu, otthae?

  5. hey eonni author? lama banget lanjutannya ff ini. akhirnya dipublish jg 🙂
    mian yah eonni, berhubung pertama kali aku tau blog ini, ini ff udah sampe pasrt6, jdi sekalian aja aku komen semua part disini^^
    ceritanya keren. lucu juga. daebakk gt dehh. gak bisa komen lg
    ditunggu next chapnya segera yaaa ;;) gomawo

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s