Married By Accident – Part 8

MARRIED BY ACCIDENT

Author : Yuyu
Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Han Younji

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Key
  • Son Shinyoung (Oc)
  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyunji (Oc)

Minor Cast:

  • Lee Taemin
  • Hwang Jungmi (Oc)
  • Son Miyoung (Oc)

Length : Sequel
Genre : Romance, Sad, Friendship
Rating : PG – 15
Published at :

  • Piece of My Imagination (wp)
  • SF3SI
  • Fanfiction.net

Dentuman musik yang sangat keras terdengar samar dari luar pintu sebuah bar di daerah Hongdae. Beberapa pejalan kaki yang berusia lebih dari setengah abad selalu menyempatkan diri untuk sekadar menoleh pada suara ingar-bingar yang meski cukup teredam, namun tetap terasa menjengkelkan bagi para senior. Bagaimana tidak, matahari masih berada di atas kepala, menyinari dengan cukup terik sementara anak-anak muda lainnya malah bersenang-senang tanpa menggunakan akal sehat di dalam sana.

Suasana di dalam bar bisa dibilang berbanding terbalik dengan apa yang ada di luar. Musik mengalun dengan begitu nyaring. Lantai dansa dipenuhi oleh orang-orang yang kesadarannya telah berada di ambang batas. Sebagian di antara mereka hanya menggerak-gerakan tubuh tanpa benar-benar tahu apa yang sedang mereka lakukan. Sebagian lainnya nyaris menempel dengan pasangan mereka, entah itu yang sudah mereka kenal dekat atau baru mereka kenal saat menginjakkan kakinya di bar.

Di sudut ruangan, seorang pria bermata sipit kembali meneguk minuman beralkohol yang diharapkan mampu mengusir segala penat yang menyelubungi pikirannya sejak beberapa hari lalu. Pria itu tak pernah benar-benar bisa mengekspresikan dirinya dengan baik, terlebih jika menyangkut tentang perasaannya. Ia tidak bisa berpikir dengan tenang saat berada di rumah, ia selalu mengkhawatirkan kondisi istrinya yang menurut dokter akan pulih dalam waktu dekat. Hanya saja dokter itu lupa memberitahukan bahwa yang akan pulih hanyalah fisiknya, bukan luka hati dan rasa terpukulnya.

Lihatlah, Onew tak pernah bisa bisa mengistirahatkan pikirannya. Di saat Younji tak ada dalam jangkauan pandangnya pun, wanita itu akan hadir dalam setiap sudut pikiran Onew dan membuat ia tak berdaya. Bukannya Onew tak memiliki pilihan untuk menyingkirkan Younji dari pikirannya, hanya saja ia tak ingin melakukan hal tersebut.

Onew mengangkat gelas dengan tangan yang bergetar pelan karena mulai kehilangan fokus. Suara dentingan pelan saat bibir gelas saling beradu menarik perhatiannya. Ia mendongak namun tak melihat siapa pun yang berdiri di depannya. Saat menoleh ke samping barulah ia mendapati seorang wanita cantik muda yang baru saja bersulang tanpa permisi darinya. Wanita itu mengangkat dagunya cukup tinggi, ia meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Setelah menurunkan gelas, wanita itu menatap Onew dengan penuh makna. Terlihat dari tatapannya, wanita itu berusaha menggoda Onew.

Ketika Onew membuka mata, ia hanya mengingat sosok wanita asing yang sedang  mengosongkan gelas berisi wisky. Hanya berselang sedetik, manik matanya kemudian menangkap sekilas interior kamar yang jelas bukan miliknya. Belum sempat berpikir jauh, kedua kelopak mata Onew sontak merapat kembali. Keningnya berkerut jelas menggambarkan guratan-guratan saat kedua alisnya saling menyatu. Denyutan di kepala pria itu terasa sangat mematikan, sebuah dampak yang sudah cukup lama tidak ia alami.

Beberapa detik berlalu dalam hening yang Onew biarkan begitu saja sembari menenangkan denyutan di kepala yang menerkamnya tanpa ampun. Sebuah erangan pelan terdengar sebagai pelampiasan kekesalan yang tertunda. Kini rasa sakit yang menderanya perlahan menghilang. Ia membuka mata yang dengan sigap memandang berkeliling. Pemandangan yang ditangkap penglihatannya memaksa ia untuk menerka kejadian selanjutnya sejak cuplikan terakhir yang mampu ia ingat. Sayang, yang mampu ia ingat kembali hanyalah lembaran putih yang justru membuat ia semakin geram pada diri sendiri karena tak mampu mengingat apa pun.

“Kau sudah bangun?”

Kepala Onew berputar dengan cepat menuju asal suara yang dibarengi deritan pintu ketika terbuka. Pria itu sempat merutuki dirinya sendiri karena bergerak begitu cepat hingga sakit kepala pasca mabuknya kembali menyergap. Lagi-lagi ia harus memejamkan mata untuk sesaat. Ketika indera penglihatannya terpaksa harus absen, kedua telinga Onew menajamkan fungsinya untuk mengambil alih. Suara-suara ringan terdengar sebelum akhirnya tempat tidur yang diduduki Onew bergerak pelan ketika berat tubuh seseorang bertambah di sisi kirinya.

“Apakah sekarang kau menyesal telah minum begitu banyak semalam?”

“Sial,” umpat Onew yang perlahan membuka mata. Satu tangannya terangkat naik untuk memijat pelipis beberapa detik sebelum ia melanjutkan kalimat yang sempat terhenti. “Tapi, kurasa kau benar. Aku sedikit menyesalinya, Jonghyun-ah.”

Jonghyun tertawa puas mendengar pengakuan jujur dari Onew. Ia mengambil secangkir madu hangat yang tadi ia letakkan di meja kecil di samping tempat tidur dan menyodorkannya pada Onew untuk meringkankan penderitaannya karena alkohol.

“Mengapa aku bisa berakhir di sini?” tanya Onew yang masih merasa penasaran.

Onew mengambil cangkir yang disodorkan padanya namun belum berniat untuk meminum madu hangat itu. Ia sedang mencoba untuk mengumpulkan ingatannya sekali lagi. Yang ia ingat, ada wanita cantik yang menggodanya. Namun saat membuka mata mengapa justru Jonghyun yang muncul? Apakah wanita semalam hanyalah halusinasi belaka?

“Joe—si bartender—menghubungiku semalam. Katanya kau membuat kegaduhan dan memintaku untuk menyeretmu keluar dari sana,” jelas Jonghyun dengan santai.

“Membuat gaduh? Aku?” tanya Onew tak percaya. Jari telunjuk yang ia arahkan pada dirinya sendiri perlahan bergerak turun dan bergabung dengan keempat jemari lainnya kala sebersit kilatan memori mengetuk pintu kesadarannya. Samar-samar ia bisa mengingat lanjutan adegan yang membuat ia penasaran sejak tadi.

Ketika Onew dan wanita itu saling mendekatkan, bayangan wajah Younji yang tiba-tiba muncul menjadi semacam siraman air dingin yang mengembalikan kesadarannya. Bahkan sebelum pria itu sempat menyentuhkan seujung jari pun ke permukaan kulit wanita di hadapannya, ada rasa bersalah yang memborgol kedua tangannya.

“Sekarang kau sudah ingat?” Jonghyun mengalungkan lengannya yang berotot ke leher Onew dan sedikit menariknya ke belakang hingga Onew terbatuk pelan karena oksigen tercekat di tenggorokannya. Suara tawa Jonghyun dan batuk Onew saling beradu menciptakan harmoni tersendiri yang memenuhi ruangan itu.

HYUNG!”

Suara teriakan dari ambang pintu yang baru saja terbuka menghentikan aktifitas konyol kedua sahabat itu. Tatapan mereka bergerak bersamaan ke arah pintu dan melihat Taemin merekahkan sebuah senyum di wajahnya, ia terlihat begitu senang karena bisa bertemu dengan Onew lagi setelah pertemuan terakhir mereka yang cukup lama. Dari balik bahu Taemin, Shinyoung menyembulkan kepalanya lebih dulu sebelum akhirnya berjalan ke samping dan memperlihatkan diri sepenuhnya.

“Apa ini?” tanya Onew bingung. Ia menatap ketiga orang itu secara bergantian. Matanya yang sipit kini menjadi segaris saat ia memicingkannya. “Mengapa aku merasa seperti menjadi salah satu hewan pertunjukkan yang sedang dipamerkan?”

Gelak tawa terdengar dari ketiga orang itu. Shinyoung lalu mencibir pelan.

“Bagaimana keadaan istrimu?” tanya Shinyoung tanpa bergerak dari posisinya di samping Taemin.

“Dia sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu,” jawab Onew. Dia terlihat ragu sesaat namun tetap memaksakan sebuah senyum. “Mengenai keadaannya, kurasa aku tidak bisa menjabarkannya lebih baik dari apa yang mampu ditangkap oleh mata kalian jika bertemu dengannya.”

“Boleh aku ke tempatmu, Hyung? Aku ingin bertemu dengan Younji Noona,” timpal Taemin.

Onew menganggukkan kepalanya sambil mengiyakan permintaan Taemin. Tak lama kemudian Jonghyun menyatakan bahwa dirinya juga akan ikut berkunjung, sekadar melihat kondisi Younji.

“Aku juga ingin sekali melihat keadaan Younji, tapi sepertinya aku tidak bisa,” kata Shinyoung dengan perasaan bersalah. Ia mengangkat tangannya, melihat jam berwarna putih yang melingkar manis di pergelangan tangan. “Aku ada janji sebentar lagi.”

“Janji?” Taemin yang pertama kali menyuarakan pertanyaan yang hinggap di benak kedua pria lainnya. Seolah tak memercayai ucapan Shinyoung, kedua mata Taemin melebar lalu disipitkan dengan tatapan menyelidik. “Sejauh yang mampu kuingat, Noona tidak punya pacar.”

Shinyoung berdecak kesal. Mulutnya terbuka, hendak menyuarakan kekesalannya namun diurungkan. Sambil mendelik Shinyoung berujar, “apakah janji harus selalu dianggap sebagai kencan? Dan terima kasih karena sudah mengingatkan statusku,” cetus Shinyoung dengan sarkastis.

***

Beberapa hari setelah Younji harus menerima kenyataan pahit yang disajikan di hadapannya, keadaan wanita itu mulai pulih perlahan-lahan meski tidak sepenuhnya. Tentu saja, bagaimanapun tetap akan ada kekosongan dalam hatinya. Kekosongan itu lebih dikarenakan rasa penyesalannya yang tak mampu melindungi apa yang telah ia biarkan pergi.

Beberapa hari pertama rasanya sangat menyiksa. Younji tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Ia terus berandai-andai dengan mengucapkan kata jika, andai saja, dan tidak seharusnya. Lama-kelamaan ia mulai berhenti melakukan hal tersebut, bukan karena ia tak lagi menyalahkan diri sendiri melainkan karena ia tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya menjadi cemas. Yah, benar. Ada Nyonya Lee, Minho… dan Onew yang mencemaskannya.

Younji sedang duduk menekuk lutut di atas sofa saat ia mendengar suara pintu terbuka. Kelegaan meliputinya. Orang yang membuat ia cemas karena tidak pulang semalam tanpa kabar, akhirnya kembali. Younji berlari kecil ke arah pintu, bersiap untuk melemparkan beberapa pertanyaan pada Onew. Langkahnya langsung terhenti saat melihat Onew tidak sendirian melainkan bersama dua orang lainnya yang juga ia kenal.

Noona, aku merindukanmu.” Taemin langsung bergerak maju dan menghambur ke dalam pelukan Younji tanpa permisi.

Masih terkejut dengan kehadiran Jonghyun dan Taemin yang tak ia duga sebelumnya, Younji hanya diam mematung membiarkan Taemin memeluk erat dirinya untuk melampiaskan kerinduan. Taemin melemparkan sebuah senyum setelah ia membebaskan Younji. Seperti rumahnya sendiri, Taemin beranjak masuk tanpa perlu disuruh. Jonghyun melepaskan sepatunya dan mengikuti Taemin, sengaja memberikan kesempatan bagi Onew dan Younji yang terlihat kaku untuk mencairkan diri.

“Maaf, aku lupa mengabarimu kalau tidak pulang semalam,” kata Onew setelah hanya tersisa mereka berdua saja. “Eomma tidak menginap di sini semalam?”

Younji menggelengkan kepala sebagai jawaban lalu kesunyian menyusup masuk di antara mereka berdua.

Eomma tidak memaksamu melakukan hal yang aneh-aneh, bukan?”

Younji menggelengkan kepala sekali lagi. “Kami membuat kue seharian,” timpal Younji karena samar-samar ia melihat kedua pundak Onew merosot turun bersamaan dengan hembusan napas yang keluar dari bibirnya.

“Baguslah kalau begitu.”

Merasa tidak tahu harus berkata apa, Younji hanya memaksakan sebuah senyum yang ia harap lebih dari cukup agar terlihat normal. Onew membalas senyuman Younji, senyuman yang terlihat begitu letih, tidak dipaksakan seperti yang Younji lakukan.

Mereka berjalan masuk ke dalam lalu melihat Taemin dan Jonghyun yang telah duduk di sofa dan sedang menonton entah apa yang sama sekali tidak menarik minat Onew. Ia menyempatkan diri untuk duduk bersama mereka sebentar, mendengarkan obrolan-obrolan ringan yang lebih banyak dimulai Taemin yang menceritakan tentang kisah-kisah konyol dia dan teman-temannya. Sekitar dua puluh menit kemudian Onew undur diri dengan alasan ia harus membersihkan dirinya.

Younji mendengarkan apa yang Taemin ceritakan. Senyuman dan tawa—yang dipaksakan—tak jarang meluncur dari bibirnya. Ia masih terus mendengarkan cerita Taemin yang sesekali ditimpali Jonghyun, sementara ekor matanya mengikuti pergerakan Onew yang beranjak ke kamar. Diam-diam ia menghela napas pelan. Selain memikirkan tentang kehilangan yang baru saja ia alami, sebagian benaknya juga dipenuhi oleh Onew yang terlihat cukup berbeda beberapa hari ini.

Jika dipikir-pikir lagi, Younji tidak tahu mengapa ia menangis sambil memeluk Minho hari itu padahal Onew yang lebih dulu berada di sisinya.

Younji tersentak kaget saat Taemin menepuk pelan pundaknya dan mengatakan sesuatu tentang adanya hal lain yang harus ia urus. Tersadar dari pikirannya sendiri, Younji mengantarkan Taemin dan Jonghyun ke pintu tanpa pengawalan Onew yang masih menikmati waktunya di bawah guyuran air segar.

Younji kembali duduk menekuk lutut di sofa sambil memandang kosong. Tarikan demi tarikan napas yang berat berderu lemah di telinganya. Ia merasa cukup lelah karena harus memaksakan senyuman sepanjang hari kemarin. Hari ini pun ia terus berusaha tersenyum. Tidak, Younji tidak sedang membohongi siapa pun tentang menjadi baik-baik saja. Ia memang berharap demikian, hanya saja masih sulit baginya untuk menyelesaikan masa berkabung dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan agar tidak membuat orang di sekitarnya menjadi cemas hanyalah dengan berusahan terlihat sebaik mungkin.

Onew mengusapkan handuk putih kecil pada gumpalan rambutnya yang basah. Saat ia keluar dari kamar, yang mampu ia lihat hanyalah sosok Younji yang duduk mematung tak menyadari kehadirannya. Setelah mengasumsikan bahwa Taemin dan Jonghyun telah pulang karena memang mereka telah mengatakan tidak bisa mampir terlalu lama, Onew duduk setenang mungkin di samping Younji. Meskipun ia tak bersuara, bola matanya bergerak ke samping untuk melirik pergerakan wanita itu.

“Jonghyun dan Taemin sudah pulang,” kata Younji tanpa diminta setelah menyadari kehadiran Onew berkat dudukan sofa yang sedikit menurun. Onew segera meluruskan pandangannya dan berpura-pura sibuk dengan handuk yang masih ia gunakan untuk mengeringkan rambut sambil bergumam pelan.

Awan kelabu menaungi Seoul seharian ini sehingga tidak ada setitik pun cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela-jendela yang terbuka lebar. Ruangan yang di tempati sepasang suami-istri itu menjadi agak redup dibanding biasanya, sehingga kilatan cahaya dari layar televisi terpantul cukup jelas memperlihatkan warna-warni yang beradu.

Onew menggantungkan handuk putih yang telah selesai ia gunakan di lehernya yang kosong, ia biarkan saja seperti itu karena terlalu malas untuk beranjak. Ia menumpukan kedua tangannya yang saling bertautan di atas perut, membiarkan kedua ibu jarinya saling bergesekan seperti pikirannya saat ini sementara punggungnya menyentuh sandaran sofa yang empuk.

“Apakah tidurmu semalam nyenyak?”

Younji bergumam pelan sebagai jawaban tanpa bergerak seinci pun. Rasa kantuk kembali menyapanya. Ah, tidak. Bukan sepenuhnya rasa kantuk. Itu adalah gabungan dari berbagai macam perasaannya yang bercampur menjadi satu dan membuat ia begitu lelah hingga kini tak ada setetes tenaga pun yang tersisa untuk sekadar membuka kelopak matanya.

Onew menoleh, ia menatap lekat-lekat setiap lekuk wajah orang yang duduk di sampingnya. Kantung mata Younji mulai terlihat cukup jelas karena minimnya kemampuan ia untuk terlelap. Kelopak mata wanita itu bergerak pelan-pelan membuat bulu matanya yang panjang dan lentik menyapu malas. Perhatiannya lalu teralih pada garis-garis kesedihan yang tak kasat mata.

“Kau masih berduka?” Pertanyaan itu dilontarkan secara spontan. Onew sempat mengumpat pada dirinya sendiri sepersekian detik setelah melontarkan pertanyaan yang jawabannya terpampang jelas sebelum memperjelas maksud dari ucapannya. “Aku tahu kau masih merasa kehilangan. Hanya saja kuharap kau tidak berlarut-larut dalam masa itu.”

Butuh waktu beberapa detik bagi Younji untuk menetralkan ekspresinya dan menoleh pada Onew. “Hmm, aku tahu,” sahut Younji yang lagi-lagi mencetak paksa sebuah garis melengkung di wajah sayunya. Ia sempat tertegun ketika mendapati Onew tengah menatap intens padanya. Onew seolah sedang mencoba menembus kilatan bening pada matanya untuk langsung menerobos masuk ke pusat kontrol yang ia miliki.

“Jangan tersenyum jika kau tidak menginginkannya.” Tuduhan sekaligus perintah yang Onew berikan terasa sangat kontras mengingat ia sendiri pernah mengalami fase seperti itu—di mana ia tetap tersenyum meski tak menginginkannya. Hanya saja berbeda ketika ia melihat orang lain yang jelas-jelas terluka namun mencoba untuk menutupinya. Hal itu justru membuat Onew semakin cemas. Tidak masalah jika menangis, tidak masalah juga jika memaki asalkan tidak menyembunyikan diri.

Masih sambil terus menatap Onew yang seolah menghipnotis dirinya agar tidak mengalihkan pandangan, Younji berkata, “Aku menginginkannya.”

Lagi, sebuah penolakan lain yang semakin mencabik hati Onew. Jangan salahkan dia jika berpikiran dirinya tidak berguna. Bagaimana tidak, bahkan istrinya saja tidak percaya padanya. Sekadar untuk berkeluh kesah pun tak sanggup Younji lakukan.

Pandangan mereka masih saling terkait satu sama lain. Masing-masing merasa enggan untuk mengakhiri kontak itu. Mereka tak mampu merangkai hangul yang berkeliaran di pikiran mereka padahal bagian otak yang mengatur bahasa tetap bekerja seperti sedia kala.

“Kau bisa bersandar padaku, kau tahu?” Lagi-lagi sebuah pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan dilontarkan secara spontan karena Onew tak menyadari kinerja otaknya yang bekerja tanpa permisi.

Younji menggigiti bibir bawahnya. Sebuah senyum tanpa alasan nyaris terbentuk jika saja ia tak menghentikannya.

“Aku mengerti….” Onew menghentikan kata-katanya sesaat untuk mengoreksi, “Ah, tidak, kurasa aku tidak akan mengerti bagaimana rasanya menjadi dirimu. Tapi, penyesalan bukanlah sebuah penghapus yang bisa menghilangkan jejak ketidakpuasan yang pernah terjadi dalam buku kehidupanmu. Lagipula kesempatan masih terbentang luas, kau masih bisa memiliki anak lagi.”

Onew mengerjapkan matanya beberapa kali, ia terlihat sedang mencerna pernyataan-sok-bijaksananya sendiri. Entah mengapa setelah ia mencerna dengan cermat, ia justru menjadi salah tingkah. Semburat merah muda yang sangat samar menjalari sekitar pipinya. Ia memalingkan wajah dan terbatuk pelan untuk menghilangkan rasa canggung yang bisa mengulitinya hidup-hidup.

Younji juga terdiam sejenak sambil menangkap apa yang Onew katakan. Kedua tangannya saling bertumpu untuk membekap mulutnya sendiri dengan tujuan meredam tawa. Pada akhirnya hal itu tak berhasil, Younji tertawa lepas. Ada sedikit rasa canggung yang juga dibagi oleh Onew padanya namun perasaan geli mengalahkan segalanya hingga ia tidak sempat merasa canggung sama sekali.

Onew kembali menoleh pada Younji. Masih diliputi rasa canggung, satu tangannya menyentuh tengkuk dan mengusap pelan semantara ia tertawa kaku.

Kyaaaaa!” Tawa Younji mereda seketika digantikan oleh jeritan tertahan saat kilatan cahaya terlihat membelah langit bersamaan dengan rintik-rintik hujan yang turun. Terdengar pula gemuruh guntur yang membuat siang itu semakin kelam dan menakutkan.

Insting alami manusia ketika merasa terancam atau berada dalam bahaya adalah mencari perlindungan. Satu-satunya tempat berlindung yang terlihat menjanjikan saat ini adalah Onew, maka Younji bergeser merapat saat lagi-lagi kilatan petir dan suara guntur saling berkolaborasi. Kedua tangan Younji mencengkram erat bahan kaos lengan panjang yang Onew kenakan. Kepalanya tertunduk dalam-dalam dengan mata yang terpejam.

“Kupikir kau tidak takut apa pun,” goda Onew yang jarang melihat sisi Younji yang satu ini. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Onew menyimpulkan jika wanita ini memang ketakutan.

Onew mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka lebar. Angin kencang yang singgah menerbangkan gorden putih tipis yang awalnya terkulai lemas di sisi jendela. Wajar saja, segala kombinasi yang ada memang membuat hujan ini terlihat seperti monster yang siap meratakan Seoul.

Mengambil inisiatif, Onew bersiap untuk berdiri. Sebuah tarikan lemah pada ujung kaosnya membuat Onew menghentikan gerakannya.

“Jangan tinggalkan aku,” bisik Younji dengan kepala tertunduk. Pemikiran bahwa Onew tak lagi berada di sampingnya tiba-tiba saja membuat ia begitu gelisah dan tak aman.

“Aku hanya akan ke sana sebentar,” sahut Onew sambil menunjuk seberang ruangan tempat di mana gorden putih melambai-lambai kedinginan. Onew mengusap pelan puncak kepala Younji. “Setelah jendelanya ditutup, kau tidak akan merasa takut lagi.”

Younji melepaskan pegangannya, membiarkan Onew melakukan seperti apa yang ia katakan. Setelah jendela ditutup dan dilapisi gorden, hujan siang itu tak terlihat semenyeramkan sebelumnya. Onew menyempatkan diri untuk berjalan ke arah sakelar lampu dan menyalakan penerangan sebelum kembali duduk.

“Aku tidak takut lagi,” ujar Younji begitu saja. Ia memejamkan mata lalu merebahkan kepalanya di atas pundak Onew yang terangkat sedetik karena kaget.

Jika saja Onew bisa terus berada di sisinya selama dua puluh empat jam, rasanya Younji tak perlu merasa takut pada apa pun juga. Kehadiran Onew mampu menghapuskan segala jenis kecemasan dan perasaan negatif lain yang bersarang padanya. Seperti sekarang, meski masih merasa tidak sepatutnya, Younji perlahan-lahan mulai menghilangkan rasa bersalah dan penyesalan atas keguguran yang ia alami.

***

Kepulan asap terlihat dari secangkir kopi yang baru saja diseduh. Aromanya yang begitu wangi masuk ke dalam hidung seorang wanita muda yang tengah menikmati suasana pagi yang tenang. Seulas senyum terukir manis di wajahnya yang menawan. Bahkan rambutnya yang masih basah dan belum ditata rapi tak mengurangi sedikit pun kecantikan yang terpancar sempurna.

“Untukku?” Seorang pria berjalan ke dapur sambil menguap lebar dan mengacak rambut paginya yang masih berantakan.

Wanita itu hanya tersenyum melihat kehadiran pria yang ia kira masih bergelut di balik hangatnya selimut. Seolah ingin membantah pertanyaan yang tadi ditujukan padanya, wanita itu menyandarkan punggungnya pada konter sambil menyesap kopi.

“Dasar pelit,” gumam Jonghyun dengan nada bergurau. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di depan lawan bicaranya. “Kita harusnya saling berbagi, Nyonya Kim.”

Hyunji terkekeh pelan mendengar gurauan sang suami. Saat kedua tangan Jonghyun terulur dan mendarat di masing-masing sisi tubuh Hyunji, wanita itu memutar tubuhnya sesaat untuk meletakkan cangkir kopi di atas konter.

“Kita harus saling berbagi, benarkah?” tanya Hyunji meyakinkan. “Kalau begitu…” Kalimat Hyunji menggantung. Dilingkarkan kedua lengannya di leher Jonghyun. Sekilas ia bisa melihat seringaian kecil di wajah Jonghyun. “Ceritakan apa saja yang terjadi pada Younji selama aku tidak ada.”

Seringaian di wajah Jonghyun berubah menjadi senyuman kecut. Ia menggerutu tentang bagaimana Hyunji hanya penasaran pada Younji dan bukan dirinya. Meskipun begitu, toh pada akhirnya Jonghyun tetap menceritakan apa yang ingin istrinya dengar.

“Bukankah sudah kukatakan? Younji menikah dengan Onew dan beberapa minggu yang lalu dia keguguran.”

“Ceritakan lebih detil,” paksa Hyunji.

“Kau ini,” desah Jonghyun pelan. Kedua tangannya yang semula menyentuh permukaan konter kini beralih ke pinggang Hyunji dan mendekap erat kehangatan yang dimiliki sang wanita.

Jonghyun lalu memutar tubuhnya dan Hyunji, membuat mereka berpindah posisi. Sementara punggung Jonghyun menabrak pinggiran konter dengan suara debam pelan, ia biarkan Hyunji menumpukan berat tubuh padanya.

“Kau benar-benar ingin tahu?” tanya Jonghyun sembari menyelipkan beberapa helai rambut Hyunji ke balik telinga. Ia menatapnya lekat. Masih ada banyak kerinduan yang belum sempat mereka tumpahkan.

“Beberapa jam yang lalu kau berjanji tidak akan berbohong lagi padaku, jangan coba-coba mengingkarinya,” ancam Hyunji berpura-pura galak.

Suara tawa Jonghyun terdengar memenuhi ruang hotel yang cukup luas. Beberapa menit ia biarkan berlalu sia-sia karena terlalu sibuk beradu pandang.

Tetesan air yang mengalir turun dari ujung rambut Hyunji yang masih basah menjadi hentakan pelan yang mengembalikan kesadaran Jonghyun secara paksa. Tangannya bergerilya hingga menyentuh pergelangan tangan Hyunji dan menariknya menuju sofa.

“Kopiku,” dengus Hyunji saat ia duduk manis sesuai keinginan Jonghyun.

“Kau tidak perlu asupan kopi jika bersamaku, aku akan menjadi kafein bagimu,” kekeh pria itu. Tangannya menyalakan hairdryer yang baru saja ia pasang.

Sambil menggarahkan mulut hairdryer yang mengeluarkan angin hangat, tangan Jonghyun bergerak pelan disetiap sela-sela rambut Hyunji. Cerita demi cerita juga bermunculan, sesuai janjinya, Jonghyun menceritakan semua yang terjadi antara kedua sahabat mereka. Ia juga tidak lupa menceritakan tentang pernikahan tanpa cinta yang diakui Onew.

Wah, kupikir kisah seperti itu hanya terjadi dalam drama saja?” Hyunji berdecak heran.

“Memang drama, drama kehidupan, bukan?”

“Sejak kapan kau jadi puitis?” selidik Hyunji. Ia mencoba untuk menoleh ke belakang dan melihat wajah Jonghyun namun pria itu memutar kepalanya kembali menoleh ke depan sementara ia fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Aku ingin menemui Younji hari ini untuk mengucapkan rasa dukaku sekaligus melepaskan rindu.”

***

“Kapan kau kembali!?” pekik Younji yang harus menahan dirinya agar tidak melompat kegirangan di tempat saat sosok sahabat yang ia rindukan sekarang muncul layaknya keajaiban.

Bogoshipo!” Hyunji balas berteriak tanpa perlu repot-repot menjawab pertanyaan Younji. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan sahabatnya sementara pintu apartemen masih terbuka lebar.

“Masuk dulu,” tukas Younji sambil menguraikan pelukan.

Pintu apartemen tertutup, Younji menuntun wanita yang baru kembali dari Paris beberapa hari lalu menuju sofa ruang nonton. Mereka kembali berpelukan singkat setelah menempatkan diri di posisi yang nyaman. Pertanyaan demi pertanyaan acak mereka lontarkan secara bersamaan, mereka terlalu ingin tahu apa saja yang sudah dilewatkan masing-masing.

“Aku sudah dengar dari Jonghyun tentang pernikahanmu,” kata Hyunji setelah mereka cukup banyak bercerita tentang berbagai hal. Hyunji meluruskan kaki, meletakkannya di atas meja. “Jadi, di mana suamimu sekarang?”

“Dia ada kuliah hari ini,” jawab Younji.

Hyunji memberikan tatapan menggoda namun belum sempat ia mengutarakannya, terdengar bunyi pintu yang terbuka dan derap langkah. Buru-buru Hyunji menoleh ke belakang.

“Younji-ya, apakah Eomma be—” Ucapan Onew terpotong ketika ia melihat wajah Hyunji yang menoleh padanya. Tadi ia mengira sepatu di depan adalah milik Nyonya Lee, namun persepsi itu terpatahkan saat ia melihat siapa yang kini duduk di samping istrinya. “Oh, kau.”

Hyunji menarik turun kakinya lalu memutar tubuh untuk menyapa Onew. Wajahnya memamerkan senyum sementara matanya fokus mengamati si pemilik resmi apartemen. Seperti yang biasa selalu ia lakukan, ia tengah menyeleksi apakah Onew cukup pantas untuk bersanding dengan sahabatnya, sama seperti yang ia lakukan saat pertama kali melihat Minho di cafe.

“Sudah berbaikan dengan Jonghyun rupanya?” ejek Onew yang tak memedulikan tatapan Hyunji.

“Ternyata namja suka bergosip juga,” balas Hyunji tak kalah usil.

“Aku mengajak Hyunji dan Jonghyun untuk makan malam bersama, kau tidak keberatan, bukan?” tanya Younji ragu. Selama ini ia tak pernah mengajukan hal semacam ini, makanya ia tak terlalu yakin.

Onew menganggukkan kepala sambil tersenyum manis pada Younji sebagai jawaban. Ia berjalan mendekat lalu mengusap lembut puncak kepala Younji dan kembali menegaskan jawabannya. “Tentu, kau bisa lakukan apa pun yang kau inginkan tanpa perlu meminta izin dariku.” Setelah itu Onew beranjak ke kamar untuk memberikan ruang lebih pada kedua wanita yang jelas belum selesai melepas rindu.

Hyunji mengikuti langkah Younji yang berjalan ke dapur untuk mulai menyiapkan makan malam. Setelah menghubungi Jonghyun untuk memastikan kapan ia akan tiba, Hyunji menempatkan diri di kursi depan konter sambil memperhatikan Younji bekerja. Rasanya agak berbeda, kini ia sungguh-sungguh bisa melihat sisi keibuan dalam diri Younji yang selama ini memang telah mengental dalam dirinya. Statusnya yang tak lagi single pada kartu identitas diri sepertinya punya pengaruh cukup besar. Hyunji tersenyum tanpa ia sadar.

Tangan Younji dengan lincah bergerak ke sana kemari. Ia hanya perlu memanaskan sup dan beberapa hidangan lainnya yang telah ia masak bersama Nyonya Lee pagi tadi. Sambil menunggu hidangannya kembali hangat, ia keluarkan beberapa buah apel dari dalam lemari es dan mengupasnya dengan rapi.

“Kau tidak berencana untuk memiliki anak lagi?” selidik Hyunji yang menolak menatap Younji. Ia memainkan kupasan kulit apel sembari memasang telinga setajam mungkin menunggu jawaban.

“Belum,” jawab Younji singkat. Sebagian karena rasa sedih yang masih menyentuhnya dan sebagian lagi karena rasa geli yang menggelitiknya ketika mengingat kecanggungan yang sempat menyelimuti ia dan Onew pada pembicaraan serupa.

“Younji-ya,” panggil Hyunji yang mengambil sepotong apel lalu memasukkannya ke dalam mulut. “Ayo kita liburan bersama.”

***

Key berdiri di depan cermin. Ia memandangi pantulan dirinya. Pesona tuxedo yang ia kenakan jadi berkurang karena wajahnya yang terkekuk semenjak pagi ini. Masih terus memandangi dirinya, ia seolah sedang meluapkan emosi yang tak mampu ia tuangkan sebagaimana mestinya. Amarah yang memuncak tak sebanding dengan ketidakberdayaan yang menderanya di balik jeruji kepatuhan. Pada akhirnya ia hanyalah seorang anak yang ingin mendapatkan pengakuan dari orangtuanya, tak lagi dipandang sebelah mata.

Apa yang sedang dilakukan calon pengantinnya sekarang? Apakah sudah selesai merias diri?

Yah, pertanyaan semacam itu terus memutari pikiran Key namun bukan dalam konteks yang romantis. Ia ingin menemui pengantinnya. Ada yang harus ia sampaikan sebelum ia berdiri di depan altar, menunggu dan mengulurkan tangan lalu mengucapkan sumpah setia. Bukan, ikrar itu tak akan pernah menjadi sumpah setia baginya. Bagaimana bisa sebuah janji yang tidak berasal dari hati berubah menjadi sumpah setia? Omong kosong.

Key membuka pintu ruangannya dengan kasar. Amarah jelas masih menaunginya seperti awan tebal kelabu yang singgah di atas kepalanya. Ia berjalan menuju satu arah dengan mantap. Di depan pintu tersebut, dua orang pegawai wanita berdiri di sana persis bodyguard.

“Anda tidak boleh masuk, Tuan,” ujar seorang pegawai.

“Pengantin pria tidak diizinkan untuk bertemu dengan pengantin wanita sampai acara berlangsung,” ujar yang satunya lagi.

Kedua pegawai merangkap pengawal itu merapatkan diri untuk menghalangi jalan Key. Namun hal itu tak berlangsung lama karena Key memberikan tatapan tersinisnya dan dengan segera membuat ia mendapatkan akses ke dalam ruangan. Saat menyentuh ganggang pintu, Key sedikit menolehkan kepalanya. Ia melirik salah satu pegawai menggunakan ekor mata sebagai isyarat bagi mereka untuk menjauh karena tidak ingin ada seorang pun yang mendengarkan percakapannya nanti.

Key baru membuka pintu dan melangkah masuk setelah yakin dua orang pegawai itu akan mematuhi perintahnya. Di ujung ruangan, seorang wanita duduk manis dengan setelan gaun putih menggembang bak putri. Kecantikan itu akan menawan hati Key jika saja dalam kesempatan yang lebih layak.

“Ada apa?” tanya wanita itu dengan suara pelan. Ekspresi wajahnya tidak terlihat terlalu jelas karena tertutup cadar berjaring halus.

“Berhenti bertingkah sok suci di hadapanku,” desis Key dipenuhi kebencian. Ia berjalan mendekat namun masih dalam jarak yang ia pikir aman. “Kau senang sekarang? Kau senang karena sebentar lagi akan menjadi istriku?”

“Aku—”

“Jangan coba-coba menyangkal, Kim Yessa!” bentak Key yang meninggikan suaranya. “Aku tahu ini semua adalah idemu. Semua hal tentang pernikahan ini adalah ide terkutukmu!”

Ruangan itu mendadak sunyi setelah teriakan Key menghilang. Wanita yang tadi dipanggil Kim Yessa masih duduk bergeming. Ia tak lantas membalas amukan Key tanpa pemikiran panjang.

“Benar itu ideku. Seharusnya kau berterima kasih, bukannya malah memakiku seperti sekarang.” Yessa kembali bersuara, kali ini suaranya terdengar lebih tegas dan mantap. Sebuah seringaian samar terlihat dari balik cadarnya yang saat ia berdiri. “Jika bukan karena aku, kau tetap akan menjadi seorang anak yang tak berguna. Akuilah, satu-satunya bantuan yang bisa kau berikan pada Ayahmu adalah dengan menikahiku, bukan?”

“Kau!” umpat Key yang tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia terlalu kesal untuk membalasnya. Dengan napas yang memburu karena marah, Key berjalan keluar. Ia membanting pintu sekeras mungkin, mengindikasikan sebesar apa rasa benci yang ia tanam. Ia bahkan tak sempat mengatakan apa yang menjadi tujuannya sejak awal, untuk memeringati Yessa agar tidak merasa berada di atas awan lebih dulu karena Key pasti akan membuatnya mengaku menyesal telah mencetuskan ide tentang pernikahan.

Sesosok figur terlihat sedang bersandar pada dinding di samping pintu. Key segera menoleh setelah ia menyadarinya. Kebencian yang biasa ia miliki untuk saudara se-ayahnya akan langsung bangkit pada detik pertama ia merasakan kehadirannya. Sayang, kali ini hal itu tidak terjadi. Rasa benci Key terhadap Yessa ternyata melebihi apa pun juga. Key hanya mendengus pelan, ia berjalan kembali ke ruangannya tanpa memedulikan Onew.

“Kau mendapatkan lawan yang lebih tangguh kali ini,” tukas Onew yang berjalan di belakang Key tanpa izin.

“Itu berarti kau mengakui dirimu tak cukup tangguh untuk menjadi lawanku,” sahut Key tanpa menghentikan langkah.

“Sebagai informasi bagimu, aku jauh lebih tangguh darimu. Itu berarti aku tak mungkin menjadi lawanmu, akan sangat tidak imbang,” kilah Onew diam-diam merasa senang mendengar suara frustasi Key yang kentara. Awalnya ia hanya ingin berbasa-basi sekaligus menyampaikan ucapan selamat kepada Yessa atas permintaan Nyonya Lee. Siapa yang tahu bahwa ia justru mendengarkan hal yang menarik.

Sementara itu, Yessa mengepalkan tangannya yang bersarung hingga ke siku. Kepalan tangannya agak bergetar. Ia terduduk lemas. Kepalanya menunduk dalam hingga ia bisa melihat dengan jelas tanpa terhalang cadar tipisnya. Batu-batuan indah yang berkilau pada gaun pengantin yang harganya sangat mahal berusaha untuk menenangkan Yessa namun gagal. Bahkan kecantikan batu itu tak mampu menutupi luka hatinya yang diakibatkan oleh ucapan Key dan ucapannya sendiri yang baru saja dilontarkan tadi.

Tak lama, Yessa telah berjalan menyusuri karpet merah menuju tempat di mana Key berdiri. Alunan Wedding March mengalun merdu mengiringi setiap langkahnya. Masih dalam pandangan yang samar karena terhalang cadar, ia mampu melihat Key yang sama sekali tidak berusaha untuk menutupi ketidaksenangan yang terpancar jelas.

Di sisi sebelah kanan pada barisan bangku kedua, Onew dan Younji berdiri berdampingan saat para tamu undangan dipersilakan berdiri untuk menyambut bintang utama hari ini. Pandangan sepasang suami-istri itu mengikuti setiap langkah-langkah lambat yang Yessa ciptakan dan ingatan mereka pun bermain. Alih-alih menyaksikan pernikahan yang sedang berlangsung saat ini, Onew dan Younji justru merasa seperti melihat rekaman ulang pernikahan mereka yang juga berlangsung di tempat yang sama kurang lebih setahun lalu. Tanpa disadari waktu berlalu begitu cepat. Bahkan jika terlambat menyadarinya, mungkin saja waktu telah berjalan melewati mereka.

Ikrar pernikahan diucapkan—meski tak ada yang tahu berapa persen ketulusan hati mereka saat mengucapkannya. Lokasi pemberkatan pernikahan dengan segera berpindah menjadi resepsi pernikahan yang diselenggarakan ala Garden Party. Warna hijau yang mendominasi acara terlihat menyejukkan.

Onew sedang mengambil segelas minuman saat Key berjalan ke arahnya dengan satu tangan terselip di saku celana. Hanya dilihatnya Key tanpa berniat melakukan apa pun. Minuman yang berada di tangannya mengalir mulus melalui kerongkongan. Masih berusaha mengabaikan Key, Onew mengedarkan pandangannya mencari sosok Younji yang tadi dibawa Nyonya Lee untuk diperkenalkan beberapa orang kenalannya yang juga diundang.

“Kau pasti sangat senang hari ini,” tuduh Key.

“Maaf?” Onew meluruskan pandangannya. Bertingkah seolah-olah ia tak bisa mendengar ucapan Key dengan jelas, ia hanya mengulum senyum.

“Brengsek kau,” maki Key. Satu tangannya bergerak ke arah kerah kemeja lalu menariknya dengan kasar agar memberi ruang bagi tenggorokannya yang terasa tercekik.

“Kupikir kau seharusnya merasa senang,” aku Onew yang kembali meneguk minumannya.

“Senang? Yah, coba saja kau berada di posisiku dan lihatlah apakah kau masih bisa merasa senang atau tidak, dasar anak haram.”

“Yang pasti aku tidak ingin menjadi pengantin yang dipenuhi luka lebam jika menjadi dirimu,” sindir Onew tajam. “Kau kan begitu tergila-gila ingin berbakti pada pria tua itu dan sekarang berkat pernikahan ini akan ada merger yang sangat menguntungkan. Tentu dia akan merasa senang.”

Key tak menanggapi perkiraan Onew. Memang itulah alasan mengapa ia sekarang telah resmi menjadi suami Kim Yessa, karena keinginannya untuk diakui akan membuat ia melakukan apa saja. Seorang pria paruh baya menepuk pundak Key dan mengucapkan selamat. Sebuah senyum palsu terlukis di wajahnya saat ia berjalan pergi bersama salah satu rekan bisnis Tuan Kim dan meninggalkan Onew tanpa pamit.

Onew hanya bisa tersenyum getir. Jika saja Key bukanlah adik tirinya, jika saja Key tidak mewarasi darah pria yang paling ia benci, mungkin saja saat ini ia tengah mengasihani dan memberikan nasehat pada Key yang begitu terobsesi menjadi nomor satu di hati ayahnya.

“Kau tidak berniat untuk berdamai dengan Key-ssi?”

Onew meletakkan gelas kosong di atas meja. Kepalanya menoleh pelan ke samping. Younji dalam balutan gaun berwarna coral menatapnya dengan kening berkerut, jelas sekali ia tidak menyangka akan melihat Onew dan Key berbincang—walau sesungguhnya perbincangan mereka tak terlalu mulus.

“Tidak ada yang tahu bagaimana langkah manusia selanjutnya, bukan?” tanya Onew dengan senyum penuh makna. Ia mengulurkan tangannya pada Younji lalu menuntunnya menuju lantai dansa setelah ulurannya disambut.

TO BE CONTINUE . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.

Officially written by Yuyu, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

81 thoughts on “Married By Accident – Part 8

  1. ini MBA part 9 kapan ada rencana publish?? Udah penasaran bangettt sama kelanjutan cerita Onew-Younji nih….di blog pribadi authornya juga belum ada lanjutannya deh kayanya…

  2. Berharap cepat dilanjutin karena aku penasaran bgt sama kelanjutannya😀 ,semoga younji cepat cepat punya baby lgi dan kebahagiaan menyelimuti keluarga onew di next part, haha

  3. Ceritanya baguus,.authornya daebaaak,.
    pnasaraan nunggu lnjutan cerita part9.. Smga onew+younji cpet pnya baby..biar tmbah rame,hehehe
    author-ssi hwaiting..

  4. Bener younji kata onew, kan masih bisa punya anak lagi, kan udah punya suami.
    Ngakak aku bcanya eon.
    Jonghyun – hyunji udah bahagia, onew – younji menyusul, selanjutny key – yessa kelihatan yg paling seram konflikny.
    Kelihatanny ke 5 member mslahnya pada serius ya eon.
    G sabar baca seri selnjtnya.
    Otw nxt part.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s