Waiting For The Sun – Part 7

Waiting for The Sun – PART 7

Credit poster: yuyounji. Thanks eonni 

Authors : Dubudays and Nikitaemin

Main Cast : Lee Jinki, Cho Hyunsa (OC)

Support Cast : Cho Jiman (Hyunsa’s father), Sungha Jung (Korean fingerstyle guitarist), Lee (Kan) Ahra

Genre : AU, Romance, Family

Rate : PG-16

Length : chaptered (7/?)

Disclaimer : THIS FANFICTION BELONGS TO KAN AHRA AND SHIN MINKI!!

3rd PERSON’S POV

“Hyun!! Hyun tungguuuu! Aissshh!” Jinki mengacak-acak rambutnya frustrasi sementara wanita cantik itu hanya bisa menatap punggung Jinki kebingungan karena tidak mengerti. Jinki bergerak cepat menuju lemarinya. Mengeluarkan pakaiannya dan hampir melepas handuknya kalau tidak ingat masih ada wanita itu di belakangnya.

“ Ada apa, sih? Siapa dia? Dan kenapa yeoja itu tiba-tiba teriak-teriak?” tanya wanita cantik itu sambil menatap Jinki polos.

“Keu yeoja neun… Hyunsa-yeyo. Dia marah besar. Dia pikir kita tadi sedang errr.. bercumbu. Noona keluarlah sebentar. Aku mau pakai baju.”

“WHAT?? Okay aku keluar sekarang!” Wanita itu segera melangkahkan kakinya lebar-lebar dan menutup pintu kamar Jinki.

********

“AAAAAAAA JINKI KAMU KETERLALUAANN!! FFFF*K!!”

Tidak peduli pada tatapan orang yang melewatinya, Hyunsa terus saja berteriak dan menghentakkan kakinya kuat-kuat ke aspal. Hari sudah gelap dan rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Namun kakinya tidak ingin beranjak sedikitpun dari tempatnya. Hatinya masih sakit. Terlalu sakit menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Lagi-lagi bayangan dua makhluk itu singgah di dalam ingatannya. Hyunsa membenturkan kepalanya ke pembatas besi di pinggiran Sungai Han, berharap dengan begitu ingatan itu akan hilang selama-lamanya dan juga ingatan-ingatan lainnya. Perhitungan Hyunsa salah. Vertigonya malah kumat tiba-tiba.

“AAHHH SH*T!!” Hyunsa jatuh terduduk memegangi kepalanya. Matanya terpejam erat menahan sensasi berputar dan rasa ingin muntah. Sensasi putaran itu semakin lama terasa semakin kencang. Perutnya bergejolak. Meskipun belum terisi apapun, isi perutnya minta dikeluarkan.

Brrrssshhhh

Hari indah untuk Hyunsa. hujan turun seakan turut menangisi hidup Hyunsa hari ini.

Tubuhnya sudah lemas. Hyunsa pun hanya bisa pasrah terguyur hujan deras.

********

“Jinki! mau kemana??” wanita itu mencegat Jinki yang sedang terburu-buru menuju rak sepatu dan menyambar sepatu yang berada di dekatnya.

“Menyusul dia tentu saja, Noona. Noona di sini saja. Kalau lapar, di lemari masih ada jajang ramyeon. Di kulkas masih ada telur. Atau delivery juga tak apa. Aku pergi dulu.”

“Ne. aku harap semuanya akan menemukan titik terang. Aku benar-benar minta maaf. Ini semua terjadi karenaku.”

Jinki menghela nafas lalu memeluk wanita itu. “Noona tidak bersalah. Ini semua salah paham. Aku akan kembali dan menyelesaikan masalahku. Kita pulang ke Gwangmyeong kalau semuanya sudah selesai. Aracchi?”

Wanita yang dipanggil Jinki ‘noona’ itu hanya mengangguk di dalam pelukan Jinki lalu melepaskannya.

“Cepat sana pergi!” wanita itu berpura-pura mendorong Jinki. Jinki tersenyum dan segera membuka pintu apartemen nya.

Drap drap drap

Samar Jinki bisa mendengar langkah seseorang yang menjauh darinya. Tubuhnya menegang. Jinki segera berlari menuju lift.

“Oh come on!!” dari dua lift yang disediakan, hari ini hanya satu yang beroperasi dan baru saja pintu lift nya tertutup. Jinki menggerutu lalu turun dengan tangga darurat.

“Hh hhh, jeogi, apa anda lihat wanita berambut ikal panjang, memakai rok hitam melintas di sini?” tanya Jinki pada resepsionis sambil berusaha mengatur nafasnya.

“Oh Agasshi itu. dia baru saja keluar, tuan. Dia berlari sambil menangis. Dan ah ya! dia belum—“

“Arasseo. Kamsahamnida!” Jinki berlari menuju basement dan mencari mobilnya.

“Hyunsa, aku mohon mengertilah aku…,” gumam Jinki sambil men-stater mobilnya.

********

“Sungha! Hyunsa menginap di mana selama di Seoul??” sapa Jinki tanpa basa-basi melalui handsfree Bluetooth nya begitu teleponnya diangkat Sungha.

“Hei hei santai, Hyung! Kenapa sih memangnya?” jawab Sungha.

“For God sake, cepat jawab saja!!” Jinki memukul stir mobilnya untuk mengalihkan emosinya yang memuncak. Dalam keadaan panik, Jinki bisa menjadi manusia yang mengerikan.

“Chosun hotel. Kamar 9192. Tunggu! Bagaimana hyung bisa tahu kalau Hyunsa noona ke Seoul bersamaku?”

“Ahh, itu kujelaskan kapan-kapan. Gomawo anyway!”

Jinki segera mematikan sambungan dan melempar Bluetooth handsfree nya ke jok penumpang di sampingnya. Sekali lagi Jinki mencoba menghubungi ponsel Hyunsa. Namun nihil. Hanya suara operator yang lagi-lagi menyapanya.

********

“Annyeonghaseyo, Sonsaengnim.” Jinki membungkuk dalam di hadapan Ayah Hyunsa yang melihatnya keheranan.

“Sendiri saja? Hyunsa nya mana?” Ayah Hyunsa mengintip bahu Jinki—kalau-kalau anaknya memang berada di belakang Jinki sehingga tidak terlihat.

“Aa…em.. sebenarnya aku ke sini justru mencari Hyunsa, Sonsaengnim.”

“Haaa? Memangnya Hyunsa belum ke apartmenmu? Aissh, kemana anak itu!”

“Ani.. keuge… sebenarnya kami sudah bertemu dan Hyunsa malah pergi setelah itu. Ini semua salahku Sonsaengnim. Hyunsa datang di saat yang kurang tepat. Y..yah.. dia melihatku sedang bersama wanita lain di kamarku.” dengan susah payah akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Jinki. Jinki menghela nafas lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam bersiap untuk menghadapi kemarahan Jiman sonsaengnim.

“Yeoja?? Ya! Jashik! Apa maksudmu, hah??”

“Sonsaengnim tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku tidak mau—“

“BERANINYA KAMU, JINKI!!“

BUUUGHH

“Dang…” pekik Jinki dalam hati. Belum hilang panas di pipi kirinya bekas tamparan Hyunsa, sekarang giliran pipi kanannya yang terkena tangan Cho Sonsaengnim.

“Sonsaengnim, dengarkan aku dulu, kumohon. Sonsaengnim harus mendengarkannya karena ini benar-benar penting. Jebalyo…,” mohon Jinki. Tangannya refleks memegang pipi kanannya yang baru saja kena bogem. Matanya menyiratkan permohonan yang amat sangat. Sementara Ayah Hyunsa berusaha mengatur emosinya yang sempat melebihi batas. Pria di depannya ini harus menjelaskan sedetil-detilnya.

“Hhh.. Oke. lanjutkan.”

“Thanks god! Finally…,” batin Jinki dan melanjutkan,

“Sonsaengnim tahu kalau ibu dan ayahku pernah mengangkat seorang gadis dari keluarga Kan tetangga kita sewaktu di Ilsan? Ibu dan Ayah mengangkat Ahra setahun sejak kepindahan kami ke Korea. Keluarga Kan sedang dalam perjalanan menuju New York untuk berlibur lalu… pesawat mereka mengalami kecelakaan dan terjatuh di laut. Tidak ada satupun dari mereka yang selamat kecuali Ahra, putri pertama mereka. Sonsaengnim ingat?”

“Ya, tentu aku tahu. Lalu apa hubungannya?

“Yang ada di apartemenku tadi adalah Ahra Noona, sonsaengnim! Ahra noona baru saja kembali dari Paris menyelesaikan S2 nya. Dia yang memelukku. Dia yang mencium pipiku. Dia yang Hyunsa lihat. Dan sumpah Demi Tuhan, Ahra Noona melakukan itu semua semata karena kami adalah adik kakak yang sudah lama tidak bertemu! Walaupun saudara tiri, tapi aku menganggapnya seperti kakakku sendiri, begitu pula dia. Dan, bagaimana mungkin seorang adik bercumbu dengan kakaknya sendiri?? Itu yang kumaksud, Sonsaengnim. Ini semua hanya salah paham. Kumohon mengerti aku..,” jelas Jinki panjang lebar. Nafasnya terengah-engah ketika selesai menjelaskan semuanya pada Jiman. Tapi beban di hatinya terasa sedikit berkurang.

Jiman menatap Jinki lama. Seakan mencari kebenaran di dalam mata coklat Jinki. Tangannya memijat keningnya perlahan.

“Sonsaengnim percaya aku, kan? Ini hanya salah paham, Sonsaengnim. Jeongmal, aku minta maaf karena tidak bisa menahan Hyunsa di apartmenku dan menjelaskan ini semua. Aku terlalu shock melihatnya di hadapanku.”

“Oke oke aku percaya. Jinki, kamu sudah mencarinya kemana saja sebelum ke sini?” nada suara Jiman sudah kembali tenang.

“Ohh thanks god! A.. Aku mencari ke semua tempat di dekat apartmenku, di beberapa taman, aku menyetop beberapa bus, tapi aku belum juga menemukannya.”

“Jinki, kamu ingat Hyunsa punya vertigo? Penyakit itu bisa kapan saja kumat! Pasti sekarang dia…. Akhhh, Demi Tuhan cari dia sekarang, nak! Sudah semakin sore! Kalau tiba-tiba saja hujan turun, atau atau ada orang yang berniat jahat padanya…. Kumohon cari dia sekarang!”

“Ye, ye Sonsaengnim. Aku akan langsung telepon Sonsaengnim kalau aku berhasil menemukannya. Keurom, annyeongi gaseyo!”

********

Jinki mengetuk-ketuk jari-jarinya di stir mobil sambil terus memperhatikan kanan-kirinya. Jinki sudah memasuki kawasan Han-gang (Sungai Han) saat ini. Jam di dashboard mobilnya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rintik-rintik hujan sejak tadi masih turun. Namun, Hyunsa belum juga ditemukannya.

Tangannya memijat kening perlahan. Dimatikannya mesin mobil lalu turun dengan earphone menempel di telinganya. Jinki masuk ke coffee shop dan keluar dengan segelas Americano. Untuk berpikir jernih, tubuhnya harus dibantu Americano.

Brrrsssshhh

Tiba-tiba hujan turun semakin deras. Padahal tadi hanya rintik-rintik yang tidak terlalu mengganggu. Orang-orang yang sedang asyik bernaung di bawah langit malam berhamburan mencari tempat berteduh. Pun Jinki yang segera berlari ke sebuah tenda kecil milik café yang sudah tutup. Ada beberapa orang yang juga berteduh di tenda itu dan membuat Jinki harus sedikit irit tempat. Jinki menghela nafas lalu menyesap Americano nya.

….PLAAKK

“Bisa-bisanya kamu bilang akan berteriak padaku?! Sejak kapan Jinki yang sopan jadi begitu?? Semuanya sudah jelas, kok. Terima kasih untuk semua kenangan manis saat di Jakarta. Terima kasih buat semuanya. Terima kasih sudah membuatku melayang di atas awan dan terima kasih juga sudah mendorongku ke dalam jurang dalam. Sekarang aku kembalikan gelang ini padamu. KASIH SAJA SAMA NOONAMU YANG CANTIK ITU!!”

“Hyunsa, please!!”

“Ohh Sh*t!” Jinki meninju-ninju besi tenda ketika mengingat kejadian tadi siang di apartmennya. Orang-orang yang berada di satu tenda dengannya menatapnya heran tetapi Jinki tidak peduli lalu menyesap Americano nya lagi.

“Hei, disana ada Agasshi yang terletak pingsan di bangku dekat pagar pembatas. Kasihan sekali dia!”

“Tubuhnya basah kuyup dan tidak ada yang mau menolongnya. Agasshi yang malang.”

Jinki mengecilkan volume iPod nya dan ikut mendengarkan bisik-bisik orang di sekitarnya. Ya, wajar saja tidak ada yang menolong. Mana ada orang yang mau rela basah-basahan hanya untuk menolong orang yang tidak di kenalnya?

Tapi berbeda dengan Jinki. setelah mendengar bisik-bisik orang di sekitarnya, tubuh Jinki menegang. Ia mencabut earphone yang masih menempel di telinganya lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Jinki menarik nafas panjang lalu dengan cepat berlari menerobos hujan mencari gadis yang dibicarakan orang-orang tadi.

“Hyunsa!”

Jinki berlutut di samping Hyunsa yang meringkuk. Ia mengangkat kepala Hyunsa dan meletakkannya di pangkuannya. Seluruh tubuh Hyunsa basah kuyup. Bibirnya kebiru-biruan dan gemetar hebat. Jinki melepas coatnya lalu menyelimuti tubuh Hyunsa.

“Hyunsa, kamu masih sadar, kan? Ayo jawab aku!” Jinki menepuk-nepuk pipi Hyunsa. Mata Hyunsa terpejam, namun mulutnya merintih.

“Hhhh.. Jinki neo ka….”

“No! Andwae! Sudahlah, sekarang aku antar ke hotel, ya.” Jinki mengangkat tubuh Hyunsa. Sebisa mungkin ia melangkah lebar-lebar agar cepat sampai ke mobilnya. Jinki segera menyalakan mobilnya setelah memastikan posisi Hyunsa sudah cukup nyaman di kursi penumpang. Dinyalakannya juga heater agar dirinya dan Hyunsa tidak menggigil.

*******

“Ya Tuhan anakku! Cepat bawa masuk, Jinki!” Ayah Hyunsa membuka pintu lebar-lebar supaya Jinki lebih mudah masuk. Jinki cepat-cepat membaringkan Hyunsa di kasurnya dan beranjak untuk mengambil handuk. Tetapi, tangan Hyunsa mencengkram kerah polo shirtnya, menahannya untuk bergerak.

“Hyunsa, aku mau mengambil handuk untukmu. aku tidak akan pergi jauh-jauh,” bisik Jinki di telinga Hyunsa lembut. Jinki yakin, jauh di lubuk hati Hyunsa, Hyunsa tidak berniat menjauh darinya.

Perlahan tangan Hyunsa mengendur lalu terlepas dari kerah polo shirt Jinki. Jinki menghampiri Jiman yang juga sedang menyiapkan pakaian ganti untuk Hyunsa.

“Sonsaengnim, euu… aku akan panggil staf wanita dulu untuk menggantikan pakaian Hyunsa, ya. Jamkkan kidariseyo,” Jinki hendak menekan nomer pada telepon hotel namun Ayah Hyunsa menahannya.

“Aku rasa aku bisa memercayaimu. Butuh waktu yang lama untuk menunggu staf wanita.” Ayah Hyunsa menyerahkan pakaian Hyunsa pada Jinki.

“M..mwoo?? Aku?? Sonsaengnim, ini tidak boleh! Kalau begitu Sonsaengnim saja yang mengganti pakaian Hyunsa. Dia bisa makin parah.” Ia menatap ayah Hyunsa kebingungan. Tangan Jinki terulur untuk mengembalikan pakaian Hyunsa yang sudah berada di tangannya namun ayah Hyunsa. menahannya.

“Ayolah. Kamu yang bertanggung jawab atas insiden ini. Sekarang cepat ganti pakaian Hyunsa. Dia bisa makin parah.”

Jinki mengangguk ragu namun segera melaksanakannya.

********

Jinki menghela nafas lega setelah selesai menggantikan pakaian Hyunsa. Diraihnya pengering rambut dan menguraikan rambut Hyunsa agar lebih mudah terkena angin dari pengering tersebut. Ia meletakkan punggung tangannya di leher Hyunsa dan berdecak pelan. Jinki menuju pantry dan mengambil semangkuk air untuk mengompres kening dan leher Hyunsa.

“Dia demam, Jinki?” tanya Jiman.

“Iya, Sonsaengnim. Tadi keadaannya benar-benar parah. Kesadarannya hampir hilang dan tubuhnya benar-benar basah kuyup karena telah terguyur air hujan cukup lama.”

“Arasseo. Ah, bermalamlah malam ini di sini. Kamu temani Hyunsa. biar aku di sofa ini saja.”

“Oh baik. aku bisa menggunakan kasur di sebelah kasur Hyunsa, sonsaengnim.”

“Tidak. Tolong untuk selalu berada di dekatnya. Kamu boleh tidur seranjang dengannya.”

“Sonsaengnim, ini tidak boleh. Aku dan Hyunsa—“

“Aku percaya padamu, nak. Sekarang kamu jaga Hyunsa, ya. Tapi kamu juga harus istirahat. Beri kabar pada Ahra kamu bermalam di sini. Oh, dan gantilah pakaianmu. Ini pakai punyaku dulu.”

“jeongmal kamsahamnida, Sonsaengnim. Kalau begitu, aku menemani Hyunsa, ya. Selamat malam, Sonsaengnim.”

********

Jinki menatap tangan Hyunsa yang memegang sebelah pergelangan tangannya. Meskipun pegangan itu lemah, Jinki mengerti kalau Hyunsa tidak ingin ditinggalkan. Ia menarik nafas panjang lalu meletakkan kain kompresan di nakas. Suhu tubuh Hyunsa sudah sedikit menurun, jadi Jinki bisa sedikit lega.

“Hyunsa, aku bermalam di sini malam ini. Jangan khawatir karena aku tidak akan meninggalkanmu sejengkal pun. Aracchi?” bisik Jinki lembut. Jinki perlahan menyingkirkan tangan Hyunsa dari pergelangan tangannya lalu berjalan menuju sisi lain kasur yang ditiduri Hyunsa. Jinki sudah memutuskan untuk mengikuti saran Jiman. Sebelum merebahkan tubuhnya, Jinki mengetikkan pesan singkat untuk Noonanya.

To: Ahra Noona
 Noona, aku bermalam di Chosun Hotel malam ini.
Besok pagi, datanglah kemari. Kita buat semuanya menjadi
Jelas.

From: Ahra Noona
 Okay. Nanti pagi aku akan langsung ke Chosun Hotel.
Sekarang tidurlah. Have a nice dream, dongsaeng-ah 

Jinki menatap Hyunsa yang sudah benar-benar tertidur. Tangannya membelai rambut Hyunsa dengan lembut. Turun ke dahi, lalu telunjuknya menelusuri hidung Hyunsa. mengusap lembut kedua pipinya, dan berakhir di ujung bibir Hyunsa.

“Mianhae. Aku melukaimu lagi, sayang. Aku masih belum bisa menjagamu dengan baik. Mianhae.” Jinki menarik Hyunsa ke dalam pelukannya. Hal terakhir yang diingat Jinki sebelum matanya tertutup rapat, Hyunsa menggeliat dan semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jinki.

********

LEE JINKI’S POV

“mmph,” suara erangan Hyunsa membuatku langsung terjaga. Ah, sudah pagi rupanya! Aku melirik Hyunsa. Kepalanya sedikit bergerak namun matanya masih terpejam. Mungkin matanya terkena pantulan sinar matahari sehingga jadi kurang nyaman. Kubenarkan posisi tubuhku agar menghalanginya dari sinar matahari. Kepala Hyunsa naik sedikit menjadi berada di dekat lekukan leherku. Hembusan nafasnya yang panas menunjukkan tubuhnya masih sedikit demam.

Aku mencoba mengangkat kepalaku. Akkhh, kenapa kepalaku terasa berat sekali? Mataku terasa perih saat aku mengerjap-kerjapkan matkau tadi. Ani, ani. Aku tidak boleh sakit.

Beberapa menit kemudian, aku merasakan Hyunsa yang berada dalam dekapanku tersentak. Aku terpaksa membuka mataku lagi dan mendapati Hyunsa sedang menatapku lekat. Jarak kami benar-benar terlalu dekat. Tiba-tiba jantungku kembali berdegup kencang. Lebih kencang daripada semalam saat aku mulai berbaring di sampingnya. Rasa kantukku tiba-tiba saja hilang tanpa bekas.

Hyunsa masih menatapku. Sebelah alisnya naik, tetapi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang dipikirkannya sekarang? Berniat mendampratku lagikah?

Namun rasanya tidak mungkin. Dengan semua perlakuannya semalam, aku masih bisa yakin kalau sebenarnya Hyunsa tidak berniat menjauh dariku. Buktinya tangannya yang selalu menahanku pergi saat akan mengambil air atau handuk.

“Ehem.. selamat pagi. Sudah merasa baikan, hm?” kuputuskan untuk memulai percakapan—mencairkan suasana awkward.

“Kepalaku masih sedikit sakit,” jawabnya singkat dan nada kaku.

Hening. Kami kembali menatap satu sama lain. Hyunsa menatapku intens—seakan mencari sesuatu dibalik mata coklatku.

“Kamu mau dengar ceritaku? Ini penting,” aku kembali buka suara. Hyunsa tidak mengiyakan, tidak juga menolak. Namun dari tatapannya, aku bisa mengerti kalau dia mau mendengarkan.

“Setahun setelah aku pindah kembali ke Korea, hidupku ditemani kesepian. Biasanya aku selalu nongkrong dengan teman-temanku sepulang sekolah. Kami bermain, kadang adu fisik dengan geng sekolah lain, atau seperti siswa SMA Indonesia kebanyakan—kami menyewa studio dan menghabiskan waktu untuk bermain musik dan bernyanyi. Atau terkadang kalau sedang insyaf, kami belajar berkelompok. Tapi selalu gagal karena ujung-ujungnya kami kembali bermain musik colongan,”

Hyunsa masih setia mendengarkan. Ekspresinya masih sama. Jadi kulanjutkan saja ceritaku,

“Di awal-awal kepindahanku ke Korea, aku selalu menyendiri. Hingga suatu hari, kami sekeluarga mendapatkan kabar buruk. Tetangga dekat kami di Ilsan—Keluarga Kan mengalami kecelakaan. Dalam perjalanan mereka menuju New York untuk berlibur, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Dua dari empat mesin pesawat tersebut tiba-tiba mati dan pesawat itu kehilangan kendali. Pesawat menukik tajam menuju permukaan bumi dan jatuh di daerah samudra. Hampir dipastikan semua penumpang pesawat tersebut tidak akan selamat. Namun Tuhan Maha Adil, dari sekian banyak korban pesawat itu, masih ada beberapa yang selamat. Termasuk salah satu anggota keluarga Kan. Kan Ahra namanya, dan hanya dia yang selamat. Saat semua korban selamat telah dibawa ke rumah sakit, sebagai tetangga yang dekat dan bahkan sudah dianggap keluarga sendiri, Ayah dan Ibuku segera menyusul ke New York untuk mencari Ahra noona. Akhirnya, Ayah dan Ibu mengangkat Ahra Noona sebagai anak karena melihat masa depan Ahra Noona yang masih panjang dan potensinya yang sangat bisa dikembangkan. Sekaligus menemaniku dengan menjadi kakakku.”

“Kamu ingat wanita yang kucium dan kupeluk kemarin, sayang?” tanyaku pada Hyunsa. Hyunsa terlihat mengencangkan rahangnya lalu mengangguk.

“Dia itu Ahra Noona yang baru saja kuceritakan. Kan Ahra. Ahra Noona baru saja kembali dari Paris setelah menyelesaikan sekolah magister fashion design nya. Aku benar-benar kaget saat melihatnya sedang asyik menatap pemandangan Gangnam dari jendela kamarku. Aku benar-benar tidak tahu Ahra Noona akan pulang kemarin. Dia mau memberi kejutan, katanya. Aku—sebagai adik yang baik, tentu sangat merindukannya.Aku selalu memeluk dan mencium pipinya layaknya adik yang baik. Tapi itu hanya kebiasaan. Tidak ada maksud lain daripada itu, Hyunsa. Jadi aku tidak bercumbu dengan Noonaku sendiri kemarin.”

“M..Mwo??” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Hyunsa. Tatapannya langsung kosong. Ekspresi wajahnya sulit dijelaskan.. Aku tetap menatapnya seakan meminta kepercayaan darinya. Lama sekali kami terdiam hingga mata Hyunsa semakin berkaca-kaca. Tiba-tiba dia menyurukkan kepalanya ke dadaku.

“Hei, kenapa menangis? Sepertinya ceritaku tidak sedih.” Aku mencoba mencairkan sedikit suasana. Tapi bukannya terhibur, isakan Hyunsa malah semakin keras. Aku mengelus kepalanya lembut untuk menenangkan. Hyunsa melingkarkan sebelah tangannya di punggungku.

“Ssshh, wae uroyo? Jangan menangis, Hyunsa. aku hanya mencoba menjelaskan yang sebenar-benarnya padamu agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Ahra Noona itu Noona tiriku. Tidak lebih. Sedangkan kamu, kamu adalah segala-galanya untukku. Kamu matahariku. Goddess-ku. Jadi jangan seperti ini lagi.”

“Jinki aku minta maaf… sungguh aku sangat-sangat bodoh. Bodoh bodoh bodoooh. Aku minta maaf, Jinki. Aku terlalu emosi sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih. Aku—aku—“

“Sudahlaah. Bukan salahmu sama sekali, Jagiya. Yang penting semuanya sudah jelas sekarang, kan? Kamu percaya, kan padaku?”

Kepala Hyunsa yang masih menempel di dadaku mengangguk pasti.

“Ssshh, berhenti menangis, ya. Kalau kamu menangis di hadapanku, aku merasa menjadi laki-laki paling jahat karena membiarkanmu menangis. Mata indahmu tidak boleh mengeluarkan airmata untuk hal-hal seperti ini.”

Hyunsa mendongak dan kembali menatapku. Aku meletakkan tanganku di pipinya. Kuseka airmatanya kembali dengan ibu jariku lalu membelai-belai pipinya lembut. Kulitnya masih halus saat terakhir kali aku menyentuh kulitnya. Bahkan kurasa lebih halus.

Aduh, kenapa jantungku jadi berdebar kencang saat menatap matanya semakin intens? Aku menurunkan pandanganku menuju bibir Hyunsa yang kemerahan karena digigit tadi. Dan debaran di jantungku malah semakin keras. Aduuhh kalau Hyunsa mendengar bagaimana?

Tapi entah siapa yang memulai, tiba-tiba jarak wajah kami sudah sangat dekat. Kami bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Hyunsa menutup matanya perlahan dan aku bisa merasakan bibirku bertemu dengan bibirnya. Begitu hangat dan lembut sampai-sampai rasanya aku harus ekstra hati-hati menciumnya.

Kami cukup lama berciuman sebelum akhirnya Hyunsa menjauhkan wajahnya. Senyumnya mengembang. Masih berpelukan, kami menatap satu sama lain lagi. Aku tidak akan pernah bosan menatapnya.

“Dubu, nan neomu bogoshippeo,” ujar Hyunsa sambil memelintir rambut coklatku yang sudah memanjang. Ei ei, sejak kapan tangannya sudah ada di kepalaku?

“Na do. Ei, Hyunsa! kamu belajar darimana memainkan rambutku seperti itu? Nakal!”

“Apasih? Aneh! Aku senang memainkannya soalnya rambutmu halus sekali, tau!” Hyunsa sengaja menjambak beberapa helai rambutku yang tadi di pelintirnya.

“Aaakk! Aduh sakiitt!”

Tap tap tap

Kami sama-sama mendengar suara langkah mendekat. Aku segera melepaskan pelukanku dari Hyunsa dan berdiri untuk membantu Hyunsa bersandar di kepala kasur.

“Annyeonghaseyo,” seorang wanita yang kukenal sebagai noona tiriku—membungkuk ringan di hadapan kami.

“Annyeonghaseyo Ahra eonni,” Hyunsa membungkuk sambil duduk karena masih pusing untuk berdiri. seketika wajah Hyunsa menjadi tidak tenang. Hyunsa menggigit-gigit kecil bibir bawahnya. Ahra noona duduk di tepian kasur dekat Hyunsa.

“Hai, Hyunsa. Kamu pasti sudah kenal aku dari Jinki. Aku noona tirinya Jinki. Aku benar-benar minta maaf karena kejadian kemarin. Aku tidak menyangka kebiasaan kami menjadi bencana bagi Jinki. Aku benar-benar minta maaf, ya. aku berjanji tidak akan melakukan kebiasaanku pada Jinki lagi.”

“Aah.. Eonni jangan seperti itu. Aku sudah mengerti sekarang dan justru aku yang minta maaf karena membuat kesimpulan sebodoh itu. Lain kali aku harus berpikir lebih jernih dan mendengarkan semua penjelasan Jinki dulu.”

“Tidak. Kamu tidak salah, Hyunsa. Ah, jadi kalian sudah berbaikan, hm?”

Kami tersenyum lalu mengangguk. Dibawah selimut, kami saling menautkan jari-jari kami. Bahkan Hyunsa iseng menggelitik telapak tanganku. Nappeun!

“Syukurlah. Aku juga merasa senang kalau begitu. Kalian jangan marahan lagi, ya. teruslah akur sampai kakek nenek nanti. hehe.”

Kakek dan Nenek? Haha, lucu juga….

But, who knows? ._.

To Be Continued.
-ㄱ . ㅅ-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Waiting For The Sun – Part 7”

    1. wkwkw meskipun kakek kakek, tapi tetep ganteng yaa (y)
      waah bagus deh kalo bisa bikin kamu terhibur dan senyum-senyum:) ikutan senyum deh aku nya hehe

      makasih yaaa udah komen! tunggu next partnyaaa 😀

  1. Aih, disini ada FF Jinki dan aku baru tahu dan baru baca di part ini, aku mau baca yg part2 sebelumnya ah~ hehe

    Di FF ini Jinki banyak berbahasa Inggris ya, hehehe

    Itu pas dia mau ngejelasin kok bapaknya Hyunsa langsung nonjok aja sih? Tapi ujunng2 nya mau juga dengerin penjelasannya, wkwkwk, dasar ahjusshi2~

    Dan itu JInkinya beneran gantiin baju Hyunsanya? Serius? Ampe dalem2annya? Aku jadi ngebayangin gimana nervousnya Jinki /eh?

    Denger Ahra jadi inget Goh Ahra,, hehe

    Hwaiting buat lanjutannya ^^

    1. Hahahaha:$:$ jujur jujuran ajanih, aku malu sendiri abis baca komen kamu. Aku ngebayangin otak aku lagi jalan-jalan kemana pas buat part ini-_-_-_-

      Iya, itu jinki gantiin sampe dalem2nya .______. Mungkin karena papanya hyunsa percaya sama jinki dan mereka butuh waktu berdua gitu._.

      Inget Go Ahra? Wkwk gapapa deeh. Diakan cantik bangeeet*-*heheheh

      Iyaaa makasih yaaa! Tungguin lanjutannya okk;)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s