Another Fairytale [1.2]

Title : Another Fairytale [1/2]

Author : Lumina

Cast : Kim Jonghyun, Lee Minna

Rating : G

Genre : romance with a lil bit imagination

Ps : Annyeong, ini ff lama, dulu bikin castnya gak pke Jonghyun, tapi aku revisi dan aku ganti castnya, soalnya aku masih suka sama ceritanya.

Disclaim : -Don’t take any part of this fiction without permission-

 =========================================

Happy ending hanya ada di negeri dongeng.

Pangeran tampan berkuda putih hanya sekedar tokoh fiktif dalam buku cerita bergambar yang kau baca sewaktu berusia lima tahun, atau bahkan eomma-mu telah mendongengkannya sebelum tidur waktu kau berusia dua tahun.

Cinderella dan sepatu kacanya hanya eksis dalam world-before-12-o’clock nya. Tidak akan ada ibu peri yang datang dan memberimu gaun seindah yang dikenakan Cinderella ke pesta dansa, lengkap dengan sepatu kaca dan kereta kuda yang terbuat dari labu.

Tidak ada putri yang akan tertidur selama seratus tahun tanpa menjadi tua, bahkan mati, Aurora yang cantik jelita tidaklah lebih dari putri malang yang menghabiskan 100 tahun hanya untuk tidur hingga pangeran tampan datang dan membangunkannya dengan sebuah ciuman.

Putri duyung? Ayolah, kau sudah cukup besar untuk percaya bahwa Ariel tinggal di dasar Samudera Atlantis dan selalu naik ke permukaan untuk mengagumi ketampanan Erik yang sedang duduk di buritan kapal. Seorang ahjumma dengan tubuh setengah gurita—setengah manusia, memberikan ramuan yang mengubahnya menjadi manusia. Ariel sangat bodoh, jika aku adalah dia, aku lebih memilih jadi putri duyung yang cantik jelita di bawah laut, di banding hidup di atas daratan yang penuh sesak dengan populasi manusia yang semakin padat.

Ah, satu lagi, apa kau yakin bisa jatuh cinta pada seekor monster besar yang menyeramkan sekalipun berhati baik? Oh, tak perlu munafik, mengaku saja, gadis-gadis pasti lebih memilih untuk membayangkan pangeran setampan member-member Shinee. Jadi apakah Bella berbohong ketika ia berkata mencintai Beast? Atau mungkin ia terkena katarak dini?

Apa lagi yang kau baca? Putri salju? Tak jauh berbeda dengan nasib Aurora si putri tidur, hanya saja ia lebih beruntung karena tak perlu menunggu hingga 100 tahun untuk bangun. Tapi, apakah tidak pernah ada yang mengajarkannya bahwa menerima pemberian orang asing itu berbahaya? Eomma bahkan melarangku menerima permen dari orang yang tidak kukenal, apalagi sebuah apel, huh?

Putri cantik dan Pangeran tampan tidak ada di dunia nyata. Bahkan cerita happy end yang kau sukai itu belum tentu berakhir sesuai yang kau bayangkan. Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana jika Cinderella memecahkan sepatu kacanya? Jika setelah bangun dari tidur panjangnya, Aurora terkena insomnia karena telah terlalu banyak tidur? Jika Ariel menyesal menjadi manusia karena ia akan jadi kanibal jika makan seafood? Atau Bella tidak lagi mencintai Beast yang sekarang sudah berubah jadi tampan, siapa tahu ternyata tipe idamannya adalah Beast yang ganas? Bagaimana jika Putri Salju trauma makan apel?

Aku tidak percaya pada ibu peri di negeri dongeng. Aku tidak percaya ada pangeran berkuda putih akan datang menjemputku, tentu saja karena aku bukan seorang putri. Tapi bukan berarti aku tidak mempunyai kisah fairytale-ku sendiri. Kisahku berbeda dengan pangeran dan putri dalam buku dongeng. Aku tidak memakai gaun seindah yang dikenakan Cinderella apalagi sepatu kaca. Aku tidak perlu tidur selama 100 tahun untuk menunggu pangeranku menciumku. Meskipun aku mengagumi pangeranku sama seperti Ariel mengagumi Erik, tapi aku tidak perlu berhadapan dengan ahjumma setengah gurita yang bernama Ursula untuk meminta kaki. Pangeranku juga bukan makhluk menyeramkan seperti Beast, sekalipun ia galak dan terkadang menakutkan. Dan, Putri Salju bisa saja trauma dengan apel, namun siapa sangka pangeranku justru datang dengan membawa apel?

***

This is my fairytale, not as sweet as Cinderella, nor romantic like Sleeping Beauty. It’s not touching like Little Mermaid, neither as wonderful as Beauty and The Beast. And my prince is not bring me a poisonous apple.

-Another Fairytale-

 

Once upon a time…

“Ayolah, Minna Eonni, kau harus datang, arrachi?” ujar Lee Minji, adik perempuanku yang hanya terpaut satu tahun dariku.

Aku menengadah untuk menatapnya—yang berdiri satu meter dari tempatku duduk menghabiskan waktu untuk membuat sketsa sejak satu jam lalu. Kuhembuskan nafas pelan, tanda kesabaranku mulai habis.

“Minji-ya, dengarkan aku. Aku. Tidak. Ingin. Datang.” ejaku perlahan-lahan sambil memberikan penekanan pada tiap kata yang kulontarkan.

Eonni?” Minji mulai merajuk. Ia menghampiriku dan menggoyang-goyangkan lenganku hingga pensil yang daritadi kugenggam terjatuh.

Ya! Lee Minji, sudah kubilang aku tidak ingin datang!” seruku setengah berteriak agar ia tidak lagi memaksaku datang ke pesta “konyol” ulang tahun temannya.

Ok, aku memang mengenal Song Hana, teman baiknya itu, bahkan Hana sudah kuanggap sebagai dongsaengku, sama seperti Minji. Masalahnya terletak pada tema pestanya. Fairytale? Cih, sudah umur berapa ia sekarang? Dua puluh? Yah, pasti ia sekarang berusia dua puluh tahun karena ia seumuran dengan Minji. Jadi apakah tidak aneh jika gadis seusianya masih percaya pada fairytale?

Bahkan aku sudah menyingkirkan semua buku dongeng itu ke tempat sampah ketika aku belum genap berusia delapan tahun. Minji menatapku takut-takut, ia sudah tahu apa akibatnya jika berani menyulut emosiku. Untung saja hari ini aku sedang tidak mood untuk marah-marah, jadi aku hanya menutup buku sketsaku dan mengambil pensil yang terjatuh di lantai, kemudian berjalan santai ke arah kamarku. Mencari ketenangan.

***

And the princess would go to meet her prince…

“Minna-ya, tolong antarkan sepatu ini ke rumah Hana-ya,” ujar Eomma sambil membawa shopping bag berisi kotak sepatu milik Minji.

Wae?” aku menatap Eomma bingung. Menurunkan buku komik yang sedang kubaca dari batas pandang mataku.

“Minji, adikmu itu selalu saja pelupa seperti ini. Ia tadi telepon, katanya ia lupa membawa sepatunya untuk pesta nanti malam,” jelas Eomma sambil berdecak kesal mengingat anak gadisnya yang berusia 20 tahun namun pelupa seperti halmoni berusia 60 tahun.

“Suruh saja ia pulang lagi ke rumah, pestanya masih nanti malam,” kataku singkat tanpa memedulikan kotak sepatu yang diletakkan Eomma di sebelahku.

“Minna-ya, adikmu kan sedang membantu Hana menyiapkan pesta ulang tahunnya. Ia tidak sempat pulang ke rumah hanya untuk mengambil sepatunya, jadi…” Kalimat Eomma tertahan, wanita empat puluhan tahun dengan wajah yang terlihat sepuluh tahun lebih muda itu memamerkan deretan giginya yang putih dan rapih, membuatku merinding seakan dapat melihat kilauan cahaya yang memantul dari giginya.

“Aku… mau… mengerjakan tugas,” ujarku terbata, mencari alasan agar tak perlu mengantarkan sepatu Minji, “Annyeong!”

Criiittt…. kira-kira begitulah suara langkah kakiku yang direm tiba-tiba—berdecit karena gesekan pada permukaan lantai yang licin—ketika Eomma menarik kerah bajuku dari belakang.

“Minna-ya, kau mau mengantarkannya, kan?”

Dan aura ibu tiri Putri Salju pun merebak hingga di setiap sudut rumahku.

***

The fairy-godmother gave a lil bit miracle…

Shireo!!”

Aku mati-matian menolak paksaan Minji dan Hana yang memaksaku ikut pesta nanti malam. Aku sudah menduga bahwa semua ini jebakan—rencana busuk mereka, ternyata Minji telah membawa sepatunya, dan sepatu yang Eomma berikan padaku adalah sepatuku yang diletakkan dalam kotak sepatu Minji.

Dan sekarang kedua tangan kurus, putih, mulus dari kedua gadis yang belum sepenuhnya beranjak dewasa—karena tingkah mereka yang kekanakan diusia yang sudah dua puluh—itu mencekalku yang berusaha kabur. Mereka menarikku paksa ke arah lemari pakaian. Sebuah gaun berwarna putih gading bertengger di depan pintu lemari. Aku punya firasat buruk. Glek!

Eonni, mianhae,” ujar Hana lirih sambil mengunci tanganku dengan erat hingga tak bisa bergerak, sedangkan Minji, tangannya telah menggerayangi tubuhku. Menarik jaketku, melepas kaosku, celanaku, bahkan.. omo, braku!

Kedua gadis ini dengan cekatan telah berhasil memindahkan gaun di depan lemari hingga kini telah melekat di tubuhku. Sangat pas, gaun ini membentuk lekukan sempurna pada pinggangku. Lengan sabrinanya menggantung tepat di bahuku. Dan ujung gaun yang lembut menjuntai di bawah lututku.

“PAS! DAEBAK!” seru kedua gadis busuk itu bersamaan. Senyum penuh kemenangan terukir di wajah mereka.

Tak berhenti sampai di situ, mereka menyeretku ke arah meja rias. Oh, tidak untuk yang satu ini! Aku meronta sekuat tenaga hingga tangan Hana terlepas. Kumanfaatkan hal itu untuk kabur ke arah pintu keluar. Tapi… Kreeekk… kreeekk.. pintunya terkunci.

Eonni, kau tidak bisa kabur,” ujar Minji sambil menyeringai seperti serigala yang hendak menelan gadis polos berkerudung merah—err, maksudku bergaun putih—bulat-bulat.

Glek! Aku menelan ludah. Tamat riwayatku.

Alhasil, kau pasti sudah dapat menerka apa yang terjadi. Dalam sekejap, aku sudah duduk di atas kursi berhadapan dengan cermin besar yang memantulkan bayanganku.

Sreet.. sreeet.. sreeeeet… kedua tangan gadis itu dengan cekatan memoleskan setiap bahan kimia yang digemari anak gadis dan dipercaya dapat membuat siapapun menjadi cantik layaknya putri negeri dongeng.

“Selesaaaaaaaii!” Suara Hana menyadarkanku. Pelan-pelan kubuka mataku dan menatap terpaku ke arah cermin. Siapa itu? Aku bisa mengenali mata bulat dan besarnya. Pipi tembamnya. Serta senyumnya yang menawan. Itu aku? Hanya saja kali ini sepuluh.. anii.. mungkin lima puluh, atau seratus kali lebih cantik?

Minji mendekatkan sebuah rolling iron ke arah rambutku.

“Sekarang aku akan menata rambutmu, Eonni,” ujarnya sambil menarik rambutku dan mulai menggelungnya hingga berbentuk ikal. Hana menyemprotkan sedikit gel untuk membuatnya berkilau, tak lama, aku menemukan diriku, Si Upik Abu, telah menjadi Cinderella.

***

The party would begin…

Aku berdiri di sudut ruangan pesta, memegang gelas berisi coke dengan tangan kananku, sedangkan tangan kiriku kuletakkan di dadaku. Mataku mengawasi Minji yang sedang menemani Hana di depan panggung bersama dengan kue ulang tahun empat susunnya.

Huuhhh! Aku menghela nafas entah untuk keberapa belas kali. Bosan dengan suasana pesta dengan banyak orang berlalu lalang di depanku. Di tambah wajah-wajah asing yang saling tertawa satu sama lain seolah dunia ini hanya dihuni oleh mereka dan aku hanya orang asing yang salah tempat.

Aku lebih memilih untuk berkutat dengan buku sketsa dan pensilku dibanding menghabiskan waktu tiga jam mengikuti pesta ini. Hoaamm… aku menguap tanpa menutup mulutku. Mengedipkan mataku beberapa kali karena merasa mengantuk. Maskara yang dipakaikan Minji pada bulu mataku membuat mataku terasa berat.

“Kita akan mulai permainannya, arrachi?” seru MC dengan heboh. Aku memiringkan kepalaku ke kanan, lalu ke kiri hingga terdengar suara tulang yang bergesekan.

“Para Prince akan diberikan apel ini, dan silahkan cari Princess kalian. Letakkan apel kalian di antara bibir kalian lalu berjalanlah ke atas panggung. Siapa yang berhasil sampai tanpa menjatuhkan apelnya, maka akan mendapatkan hadiah berupa iPad!”

Mataku terbelalak mendengar hadiahnya. Wuah, Hana-ya memang tidak main-main ketika berkata bahwa pesta ulang tahunnya akan meriah. Berapa kira-kira uang yang telah ia habiskan untuk pesta semacam ini? Aku berpikir sambil memutar bola mataku ke atas, mencoba membayangkan seorang gadis dua puluh tahun sedang melempar-lempar uang ke udara. Senangnya menjadi anak orang kaya, tapi biarpun kedua orang tuanya memiliki bisnis yang sukses, Hana tidak pernah menjadi sombong.

Lonceng yang dibunyikan—tanda games dimulai—membuyarkan imaginasiku. Akhirnya aku memilih memperhatikan para namja berjalan mencari yeoja untuk di ajak bersama ke atas panggung. Mereka yang telah berpasangan, mulai berjalan ke arah panggung dengan apel diapit di antara bibir mereka. Aku terkekeh pelan melihat apel-apel berjatuhan ketika mereka tidak bisa menahan mulut mereka untuk tertawa. Pasti aneh rasanya berpandang-pandangan dengan lawan jenismu, apalagi dengan jarak sejauh buah apel.

Mataku sibuk memperhatikan pasangan yang terus menerus gagal. Sesekali tertawa melihat ekspresi kecewa mereka karena apel mereka jatuh sehingga mereka tersisih dari permainan. Dan saat itulah sebuah apel terulur di depan mataku.

***

And finally the Prince found his Princess…

Bukan, bukan pesta dansa yang kuikuti. Bukan tangan pangeran yang terulur di depanku untuk memintaku berdansa dengannya. Lagipula, ini masih jauh dari tengah malam dan aku tidak memakai sepatu kaca.

Bukan pula apel beracun dari ibu tiri yang jahat yang terulur—apel yang akan membuatku tertidur dalam peti kaca setelah memakannya. Apel ini merah, manis, dan seorang pangeran yang membawanya ke depan mataku.

“Ayo ikut permainan ini bersamaku,” ujarnya seraya mengulurkan apel yang berwarna merah ranum di depan mataku.

Aku hanya melotot ke arahnya. Bahkan aku tidak pernah melihat wajahnya. Tapi yang jelas, ia tampan. Terutama senyumannya entah mengapa membuat sistem peredaran darahku tidak normal, berpacu lebih cepat dari biasanya.

Mwo?” tanyaku ternganga, belum sepenuhnya mencerna ucapannya. Mungkin aku terlalu terpaku pada sosok pangeran tanpa kuda putihku. Ia terlihat tampan dengan kaus biru muda yang terbalut semi jas berwarna hitam.

“Bantu aku dalam permainan ini, nanti kita bagi dua hadiahnya, otte?”

Aku berkedip beberapa kali sebelum mengerti tujuannya mengulurkan apel ke arahku. Menghela nafas karena bahkan pangeran di depanku tidak melihatku sebagai seorang putri. Tidak, dari awal aku memang bukan seorang putri.

Aku mengangguk pelan—tanda setuju pada permintaannya. Toh, jika kami menang, aku juga tidak rugi. Hasil hadiah yang akan kuterima bisa kugunakan untuk membeli satu set copic yang selama ini aku inginkan.

Jadi aku membiarkannya meletakkan apel di antara bibir kami—sekalipun aku tak mengenalnya, hal yang tidak mungkin aku lakukan andai aku tak seperti terhipnotis oleh tatapan matanya. Aku sama sekali tidak berkomentar ketika ia menarik tubuhku mendekat agar apel di antara kami tidak jatuh saat kami berjalan. Bahkan, aku menurut ketika ia memegang tanganku dengan erat.

Satu hal yang kusadari, bahwa setiap langkah yang kami lalui dengan bertatapan satu sama lain, membuat jantungku berpacu semakin cepat. Hembusan nafasnya terdengar seperti alunan melodi yang terdengar seirama dengan detak jantungku, cukup membantuku untuk memadukan langkahku dengannya.

Dan akhirnya… sampai… kami berhasil sampai ke atas panggung tanpa menjatuhkan apel kami.

***

When The magic was disappear…

“Kim Jonghyun,” aku menggumamkan nama pemilik rekening yang baru saja mengirimkan sejumlah uang ke rekeningku melalui internet banking.

Jangan membayangkan kisahku berakhir seperti dongeng Cinderella, karena dari awal aku tidak memiliki sepatu kaca untuk kutinggalkan sebelum kami berpisah. Bahkan aku tidak bisa menikmati kebersamaan kami hingga lonceng berdentang dua belas kali.

Pertemuan singkat, tatapan mata yang menggetarkan setiap sendi di tubuhku, hangatnya tangan yang menggenggam tiap jemariku erat, semua berakhir ketika kami tiba di atas panggung dan menerima hadiah.

Pertanyaan pertamanya adalah, “Siapa namamu?”

“Lee Minna,” jawabku sambil berusaha menenangkan diri agar suaraku terdengar wajar, “Kau?”

“Kim Jonghyun. Jadi, berapa nomor rekeningmu? Aku akan mentransfer uang hasil penjualan hadiah ini ke rekeningmu.”

Dan percakapan kami berakhir ketika aku memberikan nomor rekeningku. Berakhir ketika ia mengucapkan terima kasih atas kesediaanku membantunya dalam permainan. Berakhir ketika ia melangkah pergi menjauh dan sosoknya menghilang di balik kerumunan orang di tengah pesta.

Tring! Notebook-ku berbunyi, tanda ada e-mail yang masuk ke inbox. Dengan segera aku mengarahkan kursor ke icon berbentuk amplop di pojok bawah notebook.

‘To: Minna Lee

From: Choconut ArtHouse

Congratulation, you are accepted to be a Junior Assisten of Creative Art Director in our company. We welcome you to our office on Monday, 13th February 2012. Please send us an email for asking more information.’

Jinjja? Aku tidak sedang bermimpi, kan? Aku sungguh diterima sebagai junior assisten di Choconut ArtHouse? Itu adalah salah satu perusahaan desain terkenal di Seoul, dan aku sebenarnya tidak berharap banyak mereka akan menerima lamaranku yang masih berstatus mahasiswi. Tapi nyatanya, ini bukan mimpi, aku sungguh di terima!

“Yeaaaaahhh!!” Aku melonjak kegirangan sambil berteriak-teriak di dalam kamar.

***

It’s was a destiny that no one could understand…

Aku mengikuti langkah seorang ahjumma berusia sekitar tiga puluh tahun ke dalam sebuah ruangan. Artistik. Begitulah kesan pertamaku memasuki ruangan ini. Bagaimana mungkin ruangan berukuran kurang dari dua puluh meter persegi bisa didesain begitu rupa sehingga menimbulkan kesan lapang dan melegakan perasaan orang yang ada di dalamnya?

Warna-warni pastel menghiasi setiap perabotan yang tertata dengan rapih di setiap sudut dan sisi ruangan. Ada sofa panjang berwarna kuning pastel dengan bantal berbentuk bulat berwarna soft orange. Sangat manis menurutku jika dipadukan dengan corak Art Nouveau yang terukir di belakangnya, elegan dan sangat memukau siapapun yang melihatnya.

Kusen pintu dan jendela dicat warna coklat burlywood, tentunya dengan ukiran masih bercorak Nouveau yang menghiasi setiap sudutnya. Siapapun yang mendesain ruangan ini, ia memiliki selera yang mirip denganku. Aku suka caranya menata ruangan ini, bahkan hingga tiap jengkal ubinnya yang terbuat dari batu marmer berwarna nude beige.

“Apakah ruangan ini di desain oleh…” tanyaku kepada ahjumma yang adalah sekretaris di sini, namanya Hwang-ssi, ia berdiri di sebelah kananku.

“Ne, Jjong Sajangnim yang mendesainnya sendiri. Ini adalah ruangan kantornya. Jjong sajangnim berpesan agar Minna-ssi menunggu di sini sampai ia datang,” jawab Hwang-ssi sambil membungkuk untuk pamit.

Beberapa saat setelah Hwang-ssi meninggalkanku, pintu ruangan tempatku menunggu di buka. Aku berhenti mengamati ukiran di langit-langit dan mengalihkan pandanganku ke arah pintu. Dia?

Mataku berkedip berkali-kali tak percaya. Pangeran tak berkuda putihku yang membawakanku apel, dia mengapa ada di sini?

Annyeonghaseo, Lee Minna, kita bertemu lagi,” sapanya sambil memamerkan senyum yang membuat fungsi saraf di otakku sekejap berhenti sehingga aku sempat merasa jiwaku terbang meninggalkan tubuhku—yang masih berdiri terpaku di hadapannya—dan kembali membayangkan malam di pesta ulang tahun Hana.

“Ka.. kau?” tanyaku terbata kerena merasa kaget dan gugup secara bersamaan.

Ne, aku adalah Creative Art Director di sini, Kim Jonghyun imnida, atau semua karyawan di sini memanggilku dengan nama Jjong Sajangnim,” katanya mantap membuatku semakin yakin aku tidak bermimpi.

-TBC-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

31 thoughts on “Another Fairytale [1.2]

    1. makasih udah suka.. iya cerita lama yg aku tulis berapa bulan lalu.. tapi baru d revisi berapa hari lalu..😆 tunggu aja yah, udah masuk schedule kok..🙂

  1. meski nga berkuda putih dan setinggi erik, tapi aku juga mau kalo pangeranya jjong,, *ngelirik temenya (dibaca:onyu)
    intronya bagus, yg not as sweet as bella, … etc etc.
    pertanyaannya: jjong kaya tuh.. napa juga jualan ipad? *pikiran ane langsung melayang ke salah satu forum,kbyakan orgnya tipikal gini banget. suka barang gratisan buat di jual lagi.. hohoho.. oot ya? maap :))
    lanjutakan lumina, penasaran.. kenapa di awal di tulis ” happy ending hanya di negri dongeng” emng ini nga bakal happy end ya? *jgn bilang jjong disni sama key )o__o(

  2. WOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~ Lumiiiiieeee post FF
    eaaa kocak ih intronya hahaha
    Eh btw itu posternya gak salah? tinggi jjong sama minna sama yah? *eh *balik badan, kabur*
    kok tumben bukan minho castnya *lanjut kabur*

    1. iyah fi.. kemaren abis bongkar2 arsip ff lama, dan nemu ini lagi.. rombak dikit aja biar bisa di post soalnya msi suka ceritanya.. klo ff baru mah gak berani post deh.. ntar klo mood lanjutin ilang saya bisa d bunuh massa rame2..😆
      kenapa dengan tinggi jjong? itu c jjong pke insoles.. mwahahaha😆
      bukan minho karena…. liad aja d part 2.. cast namja d ff ini soalnya minta diinjek..😈

  3. ngakak ama intronya,wkwkwk!!
    “bagaimana jika Cinderella memecahkan sepatu kacanya? Jika setelah bangun dari tidur panjangnya, Aurora terkena insomnia karena telah terlalu banyak tidur? Jika Ariel menyesal menjadi manusia karena ia akan jadi kanibal jika makan seafood? Atau Bella tidak lagi mencintai Beast yang sekarang sudah berubah jadi tampan, siapa tahu ternyata tipe idamannya adalah Beast yang ganas? Bagaimana jika Putri Salju trauma makan apel?”, hhahahahah ><

    1. hehehe.. makasih ya.. part 2nya udah masuk schedule kok.. ditunggu aja ya.. sambil nunggu drpd baca ini berulang-ulang, banyak ff lain d blog ini yang bagus2 kok.. ayo dibaca *promosi*😉

  4. Curcol dikit yaa, dulu aku sih suka banget tuh cerita, yahh something like fairytale.

    Tapi kalau dipikiri-pikir lagi sekarang, emang nggak masuk akal-_-

    Aku setuju sama kata-kata “Ariel sangat bodoh, jika aku adalah dia, aku lebih memilih jadi putri duyung yang cantik jelita di bawah laut, di banding hidup di atas daratan yang penuh sesak dengan populasi manusia yang semakin padat.”

    JJANG~! CAN’T WAIT FOR THE NEXT PART~ xD

  5. beneran FF ini keren deh, aku suka sama ceritanya trkemas rapi gitu trus juga bahasanya enak eum trus juga intronya keren bangetttt apalgi yang pas ini aku suka banget nih :
    “apa kau yakin bisa jatuh cinta pada seekor monster besar yang menyeramkan sekalipun berhati baik? Oh, tak perlu munafik, mengaku saja, gadis-gadis pasti lebih memilih untuk membayangkan pangeran setampan member-member Shinee. Jadi apakah Bella berbohong ketika ia berkata mencintai Beast? Atau mungkin ia terkena katarak dini?”
    baru sadar tentang ini pdahal selama ini udah brkali2 gak ke itung lagi malah nonton beauty and the beast tpi gak pernh kepikiran ini_- berasa bego deh aku haha
    so far, aku pengen FF ini cepaaaaaaaaaaaaaaat lanjutttttttt!! yah yah yah?😀

    1. hahaha.. buka bego tapi cerita2 fairytale emang bisa menghipnotis dan membuat pembacanya berimaginasi.. siapa pun yang bikin, they are really a great author!!🙂
      lanjutannya ditunggu aja, udah masuk schedule kok..

  6. wuaaaaa jjong sajangnim XDDD
    mau dong disodorin apel sama jjong sajangnim

    lumie, harusnya nama tokohnya bukan lee minna tapi heartless vero.. ekekke~
    mana mana mana part 2? *nadah*

  7. Oennie sebenernya aq bacanya udah dari hari minggu sih tapi baru sekarang commentnya*ketahuan males comment
    Waktu baca intronya langsung ngebayangin fairytale yg pernah aq tonton
    Entah kenapa langsung srek sama ff ini gegara cuma baca intronya
    Ternyata gak rugi deh udah baca sampe akhir
    Keren gila gak sabar baca part 2nya nih
    kalo cast namjanya bling-bling oppa berarti minho oppanya buat aq ya oen?
    *kedip-kedip mata
    *ditendang lumi oennie

  8. hya eonni, can’t wait for the next part!!!

    Oh, tak perlu munafik, mengaku saja, gadis-gadis pasti lebih memilih untuk
    membayangkan pangeran setampan
    member-member Shinee—>ㅋㅋㅋㅋ betul banget. Apalagi prince minho *kabur sebelum dipelototin lumie eonni

    jjong disini kaya2 ko matre -____-

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s