Is This The Ending?

IS THIS THE ENDING?

Title : Is This The Ending?

Author : Babo

Main cast : Lee Jinki (Shinee), Park Heesung (OC)

Support cast : Kang Yunmoo (OC), Jung Hyunmi (OC), Choi Minho (Shinee)

Length : 3040 words (oneshot)

Genre : romance, sad

Rating : general

 

I finally set my heart to leave

And it come to me like a harsh storm

It might be a fate that will wash away like the rain

Because it was more painful than a fate shattered like a glass

At the end of this walk, i let you know but you wouldn’t know*

Sudah hampir setahun berlalu semenjak kejadian itu.  Waktu yang terasa amat lambat berjalan, begitu menyesakkan.  Dan kini, Park Heesung memulai hidup barunya di sini.  Dipandanginya terik matahari yang berusaha menyusup di antara rindangnya pepohonan.  Universitas Oxford.  Ini adalah tujuannya, bahkan jauh sebelum dia sempat membayangkan akan mengalami hal yang akan memaksanya benar-benar mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi ini.  Mungkin apa yang dia sebut mimpi hanya berupa kamuflase dari berbagai alasan yang  yeoja itu katakan untuk menggunakan kesempatan beasiswa berkuliah di luar negeri.  Jarak.  Ini lah alasan sebenarnya dari semua alasan.  Heesung membutuhkan jarak, bukan ukuran jauh yang dia butuhkan, tapi jarak yang akan menahannya untuk tidak terus terbenam dalam kubangan masa lalu.  Dan sekali lagi dia menghela nafas, berusaha menyemangati diri bahwa hari ini dirinya akan menjadi lebih baik dari setahun lalu.  Dari waktu di mana dia menangis tanpa henti, ketika dia untuk pertama kalinya merasa seakan dunia akan berakhir karena yeoja itu telah pergi dari kehidupan seseorang.

One year ago

 

“Pergi.”

Namja bernama Lee Jinki mengucapkan kata itu dengan amat pelan, tetapi Heesung bisa dengan jelas mendengarnya.  Sangat jelas, bahkan menyakitkan.  Bukan karena Heesung sudah mendengar kata ini berkali-kali sebelumnya, adanya air mata yang mengalir dari mata namja itulah yang membuatnya seakan kehilangan udara untuk bernafas.  Dia sudah menyakiti namja itu padahal dia sudah berjanji untuk menjaganya, berjanji di hadapan Tuhan untuk setia pada namja itu.  Apapun keadaannya, betapa pun dia harus terus menerus menahan sakit seorang diri.  Selama ini Heesung masih bisa bertahan.  Dari semua salah paham yang harus mereka hadapi, mungkin inilah yang paling memporakporandakan kehidupan Heesung.  Semua berakhir.  Skak mat.

Now

 

“My name is Lee Heesung, i came from South Korea.  Nice to meet you all.”

Heesung membungkukkan badannya di hadapan sekumpulan anak muda yamg berbeda ras dengannya.  Mereka adalah teman baru Heesung.  Teman yang diharapkan dapat membantunya menghapus setiap jejak yang ditinggalkan namja itu.  Ani.  Bukan menghapusnya, Heesung sama sekali tidak berniat menghapusnya.  Heesung hanya berniat menguburnya.  Membuatnya terpendam di dasar memori terdalamnya, menekannya hingga ke alam bawah sadarnya.  Bukan karena Heesung tidak menyukai kenangan itu, malah sebaliknya, Heesung sangat menikmati setiap kenangan yang telah dia lalui bersama Jinki.  Heesung hanya tidak ingin terbuai dengan masa lalu.  Masa lalu tidak mungkin ditapaki kembali, dia harus  terus maju untuk bisa hidup selayaknya manusia karena selama setahun terakhir dia amat menyadari seberapa berantakannya hidupnya.

+++

Even tough it’s painful, even if i get hurt,

I need you in order to live

A life without you is the same as death

I can’t move forward or back in time

What do i do**

Dengan malas Heesung menenteng setumpuk bahan kuliah yang baru dia dapatkan dari perpustakaan.  Rencananya siang ini dia akan mulai menyicil tugas membuat desain yang baru saja diberikan oleh profesornya pagi tadi dengan deadline super membunuh yaitu 2 hari yang akan datang.  Karena Heesung sudah berjanji menemani kedua temannya yang sama-sama berasal dari Korea Selatan, Hyunmi dan Yunmoo, makan siang di coffee shop dekat asrama mereka, Heesung harus rela membawa semua bahan untuk tugasnya ke coffee shop itu.

“aiisshh, punggungku bertahanlah.  Kau harus berjuang untuk 2 hari kedepan.”  Heesung langsung meletakan semua barang bawaannya di atas meja pilihannya setelah mengorder caffe latte dan strawberry cheese cake.  Di liriknya jam tangan di tangan kirinya, jam itu menunjukkan pukul 01.06 siang.  Mereka berjanji langsung bertemu di tempat ini pukul 01.00, Heesung pikir dia yang akan terlambat karena dia harus berjalan dari perpustakan dengan setumpuk bahan tugasnya itu, tetapi ternyata kedua temannya belum ada yang datang sama sekali.

“One ice americano and one strawberry cheese cake, please.  Thank you.”

Perhatian Heesung teralihkan oleh suara yang terasa amat familiar baginya.  Heesung hapal benar suara ini, suara namja itu, namja yang pernah menemani hari-harinya, namja yang akan selalu mendapat tempat di hatinya,  meskipun Heesung sadar benar bahwa kemungkinan dirinya untuk bisa bersama namja itu hampir mendekati nol.  Ini suara Lee Jinki.  Suara yang sama, minuman yang sama, cake yang sama.  Selalu memesan itu tiap kali Heesung dan namja itu pergi ke coffee shop dulu, ya dulu ketika semua masih terasa bahagia.  Serta merta Heesung berdiri dari duduknya untuk memastikan asal suara tersebut.  Ternyata benar itu suara seorang namja.  Dan sekali lagi Heesung seakan mendapat sayatan di hatinya.  Di depan counter pemesanan ada seorang namja tengah memunggunginya.  Punggung itu, punggung yang hampir selalu memunggunginya ketika mereka masih bersama, punggung yang pernah menggendongnya ketika dia hampir jatuh pingsan di sekolah, punggung dari seorang namja yang begitu ingin  dia hindari sekaligus begitu dia rindukan.  Seakan kehilangan akal, Heesung melangkahkan kakinya ke arah counter, dan….

KRRIIIIINNGGGG…. KRRIIIIIIINNNGGGG…. KRRIIINNNNNNGGGGG…..

Langkahnya terhenti oleh dering ponselnya yang tergeletak di atas meja.  Dan seketika itu pun Heesung tersadar, tidak mungkin Jinki ada di negara ini.  Dengan segera, Heesung membalikan badan untuk mengangkat panggilan telepon itu.  Sebuah foto namja dengan caller id Jung Yunmoo terpampang pada ponselnya.

“Yeobseo.  Yunmoo-aah, odiga?  Aku sudah sampai, bahkan sudah memesan kopi.”  Tanpa menunggu jawaban dari si penelepon, Heesung langsung menanyakan keberadaannya.

“Mian, mian.  Tadi aku harus bertemu dengan dosenku terlebih dahulu mengenai penelitian baru yang beliau tawarkan.  Kau tahu Prof.Johnson kan?  Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk bisa bergabung bersama penelitiannya.  Mianhe chagiya karena tidak sempat menghubungimu terlebih dahulu.”  Akhir-akhir ini Yunmoo memang sudah biasa memanggil Heesung dengan sebutan ‘chagiya’.  Sebenarnya Heesung jengah dengan sebutan itu.  Sudah berkali-kali Heesung mengajukan protesnya mengenai hal ini, tetapi Yunmoo tetap pantang menyerah menyuarakan keinginannya memanggil Heesung seperti itu.  Hal ini sebenarnya bermula dari pernyataan cinta Yunmoo pada Heesung sebulan yang lalu.  Yunmoo meminta Heesung untuk menjadi namjachingu-nya.  Tentu saja ini ditolak mentah-mentah oleh Heesung.  Selama ini Heesung sudah menyadari ada yang berbeda pada perlakukan Yunmoo terhadap dirinya, tetapi Heesung tidak pernah menganggapnya serius.  Sudah ada namja yang mengisi hatinya dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.  Semenjak penolakan itu, Yunmoo malah makin terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Heesung dan yeoja itu hanya bisa pasrah menerima semua tingkah Yunmoo tersebut.  Hingga saat ini, Heesung hanya menganggap Yunmoo sebagai seorang teman, tidak lebih, tidak akan pernah.

“Ah ne, ne.  Arrasho.  Ayo cepatlah kemari atau aku akan segera pulang.”  Ujar Heesung tidak sabar.  Bukan karena benar-benar ingin Yunmoo segera datang, Heesung hanya ingin segera menyelesaikan pembicaraannya dengan namja itu.  Heesung masih penasaran dengan sosok namja yang suaranya amat mirip dengan suara Jinki.

“Ara, ara.  5 menit lagi aku sampai.  Ini aku sudah bersama Hyunmi, kami bertemu di jalan.”

“Ne.  Bye.”  Klik.  Sambungan telepon diputus oleh Heesung tanpa menunggu persetujuan si penelepon.  Heesung langsung melempar ponselnya ke dalam tas dan bergegas berjalan ke arah counter pemesanan.  Nihil.  Namja itu sudah tidak ada.

“Excuse me.  Do you know where did the man go?  The next consumer after me.”

“Ooh, i’m sorry, there are several consumers after you, miss.  I think i can’t remember all of them.  I’m so sorry.”  Bukan Heesung namanya kalau tidak keras kepala pada apa yang ingin dia ketahui.  Dia pun mengajukan pertanyaan lain pada pegawai coffee shop tersebut.

“Is there someone like asian man before?  With black hair?  Please, try to remember once again.”

“I’m sorry miss, i don’t really pay attention to many consumers here.  Hmmm, i’m sorry to say this, but there are several consumers behind you.”  Pegawai itu sekali lagi meminta maaf pada Heesung karena tidak dapat mengingat seperti apa namja yang Heesung maksud.  Bukannya segera mundur dan beralih dari counter pemesanan, Heesung tetap berdiri di tempatnya sekarang.  Dia sudah terlanjur berharap.  Dia memang ingin menghindari Jinki, tetapi Heesung tidak pernah tidak ingin untuk melihatnya.  Untuk kesekian kalinya, Heesung merasa dirinya amat lemah karena dia harus mengakui bahwa dia amat merindukan Jinki.

“Why don’t you remember him?  Why?  He’s the asian one, he’s different.  Why don’t you remember?”  Tanyanya berulang-ulang pada pegawai itu.  Bukan mau Heesung untuk tetap berdiri di tempat di mana dia berada sekarang.  Setiap kali rangkaian memori tentang Jinki terputar di benaknya, otaknya selalu tidak pernah bisa bekerja dengan benar.  Dia terus menatap pegawai itu dengan pandangan nanar, antara marah dan sedih.  Dia tahu dia tidak boleh menangis di sini, tetapi ternyata matanya berkerja di luar kendalinya.  Sekali lagi, setelah berpuluh-puluh kali, bahkan mungkin ratusan, Heesung kembali meneteskan air matanya.

“Why don’t you remember him?  Why don’t you remember that man?  Just one man.  Why?”  Air matanya tidak berhenti mengalir dan makin banyak orang yang memperhatikannya.  Hingga akhirnya Heesung disadarkan oleh tarikan dari seseorang di tangannya.

“Heesung-aah, gwenchana?  Uljima, uljima.  Ayo duduk dahulu.  Semua orang melihat ke arahmu.”  Hyunmi menopang tubuh Heesung untuk duduk.  Tampak segurat mimik cemas di wajah Hyunmi saat melihat keadaan temannya itu.  Baru kali ini dia melihat Heesung seperti ini.  Selama ini Hyunmi tidak pernah tahu latar belakang kehidupan Heesung.  Hyunmi kenal dengannya karena program bimbingan bagi siswa penerima beasiswa dan Hyunmi merasa nyaman berteman dengan Heesung.  Hingga saat ini, barulah Hyunmi menyadari satu hal, ada sesuatu yang disembunyikan Heesung tentang masa lalunya.  Hyunmi mulai berpikir, mungkin ini juga yang menjadi alasan kenapa Heesung menolak permintaan Yunmoo, padahal jelas-jelas Yunmoo adalah namja yang terbilang hampir sempurna.  Pintar, tampan, berasal dari keluarga mapan, dan tentunya menyayangi Heesung.  Selama ini Hyunmi selalu merasa Heesung terlalu jual mahal, tetapi setelah melihat keadaan Heesung sekarang, Hyunmi jadi merasa bersalah karena sempat berpikir begitu pada temannya ini.

“Aku melihatnya.  Aku yakin itu dia.  Aku hapal suaranya, aku hapal punggung itu.  Aku benar-benar yakin namja itu dia.”  Omongan Heesung hanya terdengar sebagai racauan.  Dia terus meyakinkan dirinya bahwa orang yang dia lihat adalah namja yang dia kenal, dia menanggap bahwa namja itu Jinki.  Menyedihkan.  Inilah satu kata yang dapat menggambarkan keadaan Heesung saat ini, dia menangis tanpa dia sadari dan pikirannya seperti tidak ada di tempatnya berada.

“Heesung-aah, siapa itu dia?  Kau melihat siapa?  Temanmu dari Korea juga?  Uljima.  Aku benar-benar tidak tahu mengapa kau menangis seperti ini.”  Yunmoo tampak benar-benar khawatir melihat Heesung.

“Aku ingin pulang.  Mianhe, aku rasa aku tidak bisa tetap di sini.”  Dengan setengah kesadaran yang tersisa, Heesung membereskan semua barangnya dan segera melangkah ke pintu keluar.  Melihat keadaan Heesung yang berantakan, Yunmoo segera menarik lengan Heesung, mencegahnya pergi.

“Heesung, sadarlah.  Kau seperti bukan dirimu.  Apa kau yakin akan pulang ke asrama sekarang?  Aku akan mengantarmu.”  Ujar Yunmoo dengan tanpa melepaskan tangannya pada lengan Heesung.

“Gwenchana, aku sudah mengembalikan pikiranku pada tempatnya.  Aku bisa kembali sendiri.”  Heesung berusaha sekuat tenaga menunjukkan senyum terbaiknya.  Dia ingin sendiri saat ini.  Tidak ada seorang pun yang bisa membantunya, hanya dirinya lah yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.  Lagipula, Heesung masih berkeyakinan bahwa namja yang dia lihat itu adalah Jinki, dia tidak mau merusak kepercayaan Jinki dengan berjalan berdua bersama Yunmoo, cukup sudah Heesung merasakan kesalahpamahan yang membuat hidupnya berantakan.  Heesung tidak mau melakukan kesalahan yang sama.  Yunmoo memang baru mengenal Heesung sejak 3 bulan lalu, tetapi dia tahu betul bahwa jika yeoja ini berkata tidak untuk suatu hal, itu artinya memang benar-benar tidak.  Dengan tidak rela, Yunmoo melepas tangannya di lengan Heesung.  Entah kenapa tiba-tiba Yunmoo merasa bahwa kisahnya dengan Heesung benar-benar tidak mungkin terjadi.  Yeoja ini memiliki ruang untuk namja yang dicintainya di hatinya.  Yunmoo baru menyadari bahwa ruang itu sudah terisi oleh seseorang dan orang itu bukanlah dia, melainkan namja yang baru saja Heesung lihat, entah siapa namja itu.

My Heart, my tears, again the memory of you

Drop by drop they fall onto my chest

I cry and cry, and with these memories that won’t be erased

Today my empty heart is drenched again***

Heesung berjalan dengan gontai menuju kamar asramanya.  Sudah saatnya dia memulihkan kesadarannya sepenuhnya.  Mengembalikan keyakinannya bahwa dia tidak mungkin kembali bersama Jinki.  Meskipun namja itu memang benar-benar Jinki yang dia kenal, Heesung harus kuat.  Dia harus mampu meneguhkan hatinya untuk mengubur dalam-dalam kenangannya bersama namja itu karena namja itulah yang menginginkannya pergi, karena namja itu yang mengatakan bahwa Heesung hanya beban di hidupnya, namja itu juga yang mengatakan bahwa dia akan lebih bahagia jika Heesung tidak pernah ada di hidupnya.   Meskipun tiap kali Heesung mengingat semua ucapan terakhir Jinki membuat dirinya seakan kehabisan udara untuk bernafas, Heesung akan berusaha bertahan.  Heesung akan berusaha menjauh dari hidup seorang Lee Jinki.  Karena hingga saat ini, Heesung masih merasa Jinki adalah bagian dari kebahagiaannya, dan dia hanya ingin melihat Jinki bisa bahagia.  Jika memang ternyata Jinki lebih bahagia tanpa dirinya, Heesung akan rela melangkah mundur demi kebahagiaan namja itu.

I knew that i couldn’t have you

But my heart just keep growing

It’s my mistake for waiting by my self

Regretting by my self

It’s my mistake for not making you love as much as i wanted you

It’s my mistake for not letting you go****

+++

Even if I throw and throw it away
Memories call for you again
I try to lock you in this place
Where you smile while sitting in front of me

But all the things in my room
Seem to miss you*****

 

Jinki langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa sesampainya di apartemennya.  Dia langsung pulang setelah selama seminggu berada di Inggris untuk urusan bisnis.  Sepi.  Selalu seperti ini selama hampir setahun terakhir.  Hanya ada dirinya di apartemen itu.  Dulu tidak seperti ini.  Dan kembali kenangan itu datang menghampirinya.   Kenangan bersama yeoja itu.  Jika yeoja bernama Park Heesung itu masih ada di sini, dia pasti sekarang tengah menyiapkan makan malam untuknya.  Yeoja itu sangat pintar memasak.  Dia akan sangat senang jika Jinki bisa pulang untuk makan masakannya.  Heesung akan memperhatikan Jinki yang tengah lahap menyantap masakannya hingga piringnya bersih dan dia akan tersenyum puas jika Jinki tidak menyisakan makanannya sama sekali.  Jinki beranjak dari sofa dan berjalan ke arah saklar lampu untuk menciptakan kegelapan di ruangan itu.  Dia sudah terlalu malas untuk beranjak ke kamarnya.  Dan betapa kagetnya dia saat melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah dia sadari ada di langit-langit ruangan ini.

Saengil chuka hamnida, Jinki oppa.  Aku akan terus berusaha menjadi istri yang baik untukmu.  Terimakasih untuk setiap waktu yang telah oppa berikan untukku.  Terimakasih karena oppa sudah mau menjadi bagian dari kebahagianku.

 

Tentu saja ini pertama kalinya bagi Jinki melihat tulisan itu di langit-langit.  Tulisan yang terbuat dari tinta fosforecente, yang hanya akan terlihat saat gelap.  Ulang tahunnya tahun lalu tidak bisa dikatakan sebagai hari bahagia, bahkan mungkin lebih bisa disebut sebagai bencana.  Saat itu, Jinki baru sampai di apartemennya ketika matahari telah tinggi dan tulisan ini pastinya tidak akan terlihat jika ruangan ini terang benderang.  Saat Jinki sudah pulang pun, bukannya acara pesta yang ada saat itu, tetapi ledakan kemarahan dirinya akan pemberitaan mengenai hubungan sahabatnya, Minho, dengan istrinya sendiri.  Di hari ulang tahunnya, Jinki merasa dikhianati oleh dua orang yang dia pikir bisa dia percaya.  Campuran antara marah dan kecewa yang akhirnya mengakibatkan perginya yeoja yang sudah hampir satu tahun menjadi istrinya.  Hingga detik ini, Jinki masih belum mau mendengar penjelasan apapun dari Minho.  Dia sudah pernah dikhianati sebelumnya oleh yeoja lain sebelum Heesung, dan hal ini terjadi untuk kedua kalinya bahkan ketika statusnya sudah menikah.  Namun setelah melihat tulisan di langit-langit itu, ada sebersit penyesalan di dada Jinki.  Dia menyesal kenapa dulu tidak membiarkan Heesung mengemukakan pembelaannya terlebih dahulu meskipun bukti mengenai hubungan mereka sudah sangat jelas karena berbagai media mengatakan bahwa mereka berdua tertangkap basah sedang berkencan dan Minho sendiri yang mengakui bahwa Heesung adalah yeojachingu-nya.  Bagaimana mungkin sahabatnya itu mengakui seseorang yang telah bersuami sebagai yeojachingu-nya?  Meskipun akhirnya media menyamarkan wajah Heesung dan membuat nama Heesung menjadi sebuah singkatan LHS, Jinki yakin betul bahwa yeoja itu adalah Heesung.

Ada kegetiran yang dia rasakan saat ini.  Jinki tidak tahu ini perasaan apa.  Selama menikah dengan Heesung, Jinki tidak pernah sekali pun merasa bahwa dia mencintai yeoja ini.  Dari awal, pernikahannya dengan Heesung hanyalah sebuah kompromi antara mereka berdua.  Dia hanya merasa nyaman dan percaya pada Heesung.  Jinki sudah lupa bagaimana rasanya merindukan seseorang hingga saat ini.  Sesak.  Dia merasakan dadanya sakit.  Sakit karena akhirnya dia menyadari bahwa sebenarnya dia menyimpan perasaan sayang pada Heesung, tetapi dia tidak pernah mengungkapkannya.  Baru Jinki sadari juga bahwa Heesung selalu berusaha membuatnya nyaman berada di sisinya.  Jika saja tidak ada berita mengenai skandal itu, mungkin ulang tahunnya tahun lalu akan menjadi bagian manis dari kenangan-kenangan lainnya bersama Heesung.  Saat ini, setelah setahun lalu Jinki meneteskan air matanya ketika dia menyuruh yeoja itu pergi, kini dia menangis lagi.  Menangis tanpa bisa dia hentikan.  Menangis dengan sebab yang dia sendiri tidak mengerti.  Menangis karena setelah hampir setahun dia sudah dengan rapi menata kembali hidupnya, mengunci kenangan pahitnya, dan ternyata semua itu terasa percuma hanya dengan melihat tulisan itu di langit-langit.

“Kenapa kau tidak pernah mau menamparku untuk menyadarkanku?  Kenapa kau harus selalu tersenyum seakan semua baik-baik saja?  Bahkan ketika aku menyuruhmu pergi dari kehidupanku.  Kenapa Park Heesung?”  Jinki hanya bisa terisak seorang diri di ruangan itu.  Jinki merasakan lagi sakit yang dulu pernah dia rasakan, sakit kehilangan seseorang.  Ada sisi hatinya yang masih belum bisa memaafkan Heesung, tetapi di sisi lain hatinya merasakan penyesalan yang amat sangat atas keegoisannya selama ini.

“Kenapa kau harus pergi bersama Minho?  Kenapa kau terlihat begitu bahagia bersamanya?  Kau bilang bahwa aku adalah bagian dari kebahagianmu, lalu apa bedanya aku dengan Minho?  Heesung-aah, kau harus menjawabnya!”  Dengan kasar Jinki melempar pigura fotonya bersama Heesung.  Dan sekali lagi, Jinki membiarkan dirinya dikuasai keegoisannya, memposisikan Heesung sebagai yang salah karena tidak bisa menjaga nama baiknya sebagai seorang istri, tidak bisa memegang janji setianya di hadapan Tuhan.

The words i couldn’t swallow

Those words so burning and pungent of yours

Those cruel lips, are you leaving after coldly cutting off my lingering feeling?

By my side, there are only things fading away, my heart frozen

If only we had just been nothing from the start******

+++

Dua insan manusia bisa dengan mudah dipersatukan oleh Tuhan, begitu pula sebaliknya.  Ketika sepasang manusia hanya mengandalkan asumsi mengenai isi hati seseorang, yang akan ada hanya berupa kesalahpahaman karena tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa isi hati orang lain.  Kesetiaan dan pengertianlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan kebersamaan dua insan manusia.  Dengan kesetiaan, seseorang akan berusaha sebaik mungkin demi pasangannya.  Dengan kesetiaan pula, seseorang akan rela berkorban demi kebahagiaan pasangannya.  Namun definisi kesetiaan masihlah sangat kabur ketika tidak dibarengi pengertian.  Saat setia disandingkan dengan pengertian, maka seseorang akan berusaha memposisikan dirinya pada posisi orang lain, mencoba memahami dari sudut pandang berbeda, menelaah setiap alasan dari setiap tindakan.  Pada saatnya setia bisa berjalan bersamaan dengan pengertian, saat itulah seseorang mampu menekan keegoisannya, saat itu juga kata kesalahpahaman dapat dihindarkan.

End

++++

*storm – super junior

**daydream – super junior

***memories – super junior

****mistake – snsd

*****in my room – shinee

******bittersweet – super junior

English translation for the lyrics was taken from shineee.net, sup3rjunior.com, and wonderfulgeneration.net

Akhirnya FF perdanaku selesai juga.  Fiuuhh.  Maaf kalau FF ini super gak jelas karena sebenernya aku sendiri bingung gimana mau bikin endingnya :p Ide FF ini murni berasal dari imajinasiku pas ngedengerin lagu-lagu mellow.  Rencana awalnya cerita ini mau dibikin sekuel, jadi mungkin banyak hal yang bakal bikin reader bingung.  Maaf kalau bener-bener bikin bingung.  Feel free for asking the meaning J Kalimat-kalimat dari paragraf terakhir itu murni buatan aku.  Sedangkan sempilan-sempilan yang dimiringin itu udah aku kasih kreditnya.  Thanks to SMEntertainment yang udah munculin banyak lagu dengan lirik mellow karena lirik-lirik itu bener-bener menginspirasi buat terciptanya FF ini.  Mohon komentar dan koreksinya untuk FF pertamaku ini.  Karena dengan koreksi dari para reader semua, ini mungkin bakal menentukan kelanjutan FF ini.  Sekali lagi khamsahamnida #deepbow

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “Is This The Ending?”

  1. Sad-nya dapet ah. Suatu hal yang mestinya nggak terjadi, Heesung dan Jinki terpaksa pisah hanya karena kesalahpahaman. T_T

    Eh? Ke mana larinya Minho yang udah ngaku-ngakuin Heesung sebagai yeojachingu-nya? Is this the ending? Beneran deh ending-nya masih ngegantung. Ada sekuelnya kah, Author? Ada, ya? *ngarep lol

    Nice story. ^_<

    1. Huaa, seneng kalo dirasa bisa dpt feel sad-nya 🙂 takutnya malah nanggung.
      Sebenernya ini emang cerita sekuel, cuma belum sempet ditamatin hehe.
      doakan saja dpt banyak waktu luang buat ngelanjutin sisa cerita yg tertunda #authorsoksibuk
      Makasi udah baca dan komen, salam kenal 🙂

  2. Kyaaaa,,
    nyesek gila ni dada.
    Lagu2 galaunya jg pas bgt lagi.

    Kyknya ada typo deh, yg bagian Yunmoo meminta Heesung menjadi namjachingunya(?) harusnya yeojachingu kan yah(?)

    iya neh, harusnya dibuat sekuel,
    penasaran gt dr Minho’s side.

    Oia, suka bgt bagian pendeskripsian perasaan Onew oppa. Menikah berdasarkan kompromi?tnpa cinta?
    Dijodohin pa gmn?

    Keep writing, FF-nya Daebak!!

    1. Lirik-lirik lagu ballad SM emang juara sedihnya, jd menginspirasi bikin ff ini 🙂
      Huaa,maaf ada yg typo, kurang teliti huhuhu. Makasi banyak buat koreksinya 😀
      Semua pertanyaan itu sebenernya kejawab di ff lengkap yg (rencananya) dibikin sekuel. Kalo responnya banyak yang suka, aku usahain nyelesein sekuelnya 🙂
      Sekali makasi udah baca dan komen, salam kenal ^^

    1. Author bener-bener melayang nih dibilang keren asli ff-nya #gaktaudiri haha
      Sini,sini,bantuin nyelesein tugas-tugas segambreng dl, nanti dilanjutin sekuel deh 😀 #edan
      Makasi udah baca dan komen, salam kenal 🙂

  3. Suer FFnya DAEBAKK!!
    pendeskripsiannya aku suka bangett, beneran deh aku bisa ngerasain banget perasaan berada diposisi heesung ataupun jinki rasanyaaaaaa nyesek sumpah 😥 feelnya dapat bangettt ya ampun.. demi apapun aku suka FF kamu
    Minta sequel donk itu gantung banget kali endingnya aku penasaran jinki dan heesung menikah karena apa? ktemunya gimana? kenangan2nya apa aja? trus minho kenapa sampe ngakuin klau heesung yeojachingunya smntra tau heesung istri sahabatnya? trus juga apa yg buat minho ngelakuin itu? apa sbenarnya hubungan minho sama heesung?
    dooh sequel yahhhh~

  4. Aiisshh,saya beneran babo deh,pake acara salah komen karena mata leler ini bales komen pake hape #kebanyakanalesan. Mohon maaf #deepbow
    Baca komen kamu bener-bener bikin pengen ngelanjutin sekuel ff ini, yg sebenernya udah sebagian aku garap. Melayang deh rasanya #kegeerantingkatdewa hahaha
    Seneng banget kalo ada yg suka dan bisa dpt feel dari ff ini, itu yg aku harepin pas bikin sambil dengerin lagu-lagu mellow 🙂
    Aku usahain ya buat sekuelnya, tapi gak bisa janji juga karena tugas stase datang terus bagai banjir bandang #lebay
    Makasi udah baca dan komen, salam kenal 😀

  5. Yeaaayy!! Akhirnya ff ini di publish juga #narikegirangan *udah telat kaliiii*
    Iyaa, taunya telat banget 😦 udah publish dari tanggal 4, dan baru tau tanggal 11. Ini semua gara-gara kerjaan kuliah #soksibuk
    Makasi sf3si krn uda nerbitin *kecup basah dari author* *iyeeaakks* 🙂
    Makasi buat para reader yg udah komen, dan maaf masih ada typo dan telat bales komennya.
    Untuk sekuel, aku usahain buat ngelanjutin cerita ini. Aku juga pengen liat dulu responnya bagus ato gak dari ff perdana ‘ITTE?’.
    Sekali lagi, makasi dan salam kenal semuanyaaaaaaaaaaa 🙂

  6. yah, msh gantung tu critanya
    msalah mreka blm d slesaikan
    pdhal mreka msh saling cinta ya
    ada lanjutannya ga ni ff?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s