Another Fairytale [2.2]

Title : Another Fairytale [2/2]

Author : Lumina

Cast : Kim Jonghyun, Lee Minna

Rating : G

Genre : romance with a lil bit imagination

Ps : Annyeong, ini ff lama, dulu bikin castnya gak pke Jonghyun, tapi aku revisi dan aku ganti castnya, soalnya aku masih suka sama ceritanya.

Disclaim : -Don’t take any part of this fiction without permission-

 =======================================

Apa kau percaya bahwa happy ending itu nyata dan tidak hanya ada di negeri dongeng?

Uhm, apa aku bisa jadi seperti Cinderella meskipun aku tidak meninggalkan sepatu kaca? Mungkinkah akhir ceritanya akan sama jika aku hanya meninggalkan nomor rekening kepada pangeranku?

Ah, ada lagi yang ingin kutanyakan, apa pangeran akan tetap menciumku jika aku tidak secantik Aurora ketika tidur? Aku ragu ia akan tetap mengecupku setelah melihat air liur di sudut bibirku.

Sekarang aku tahu perasaan Ariel saat memandangi Erik dari permukaan laut. Aku tidak perlu berenang melawan ombak untuk melihat pangeranku dari dekat, namun berada dalam jarak dekat dengannya selalu membuat isi otakku berantakan seperti dilanda badai.

Ia berteriak, ia melotot padaku, bahkan membentakku walau ia bukanlah Beast. Oh, Bella, aku sekarang mengerti bagaimana sulitnya kau hidup dengan makhluk buas itu. Namun, ketika perasaan paling simple sekaligus paling membingungkan itu bertahta di hatimu, teriakan dan bentakkannya bahkan terdengar seperti suara angin sepoi-sepoi yang bertiup memainkan helaian daun kelapa di tepi pantai berpasir putih.

Dan apel itu, bukanlah apel yang diberikan ibu tiri yang jahat. Pangeranku sendiri yang membawa apel itu ke hadapanku. Aku baru menyadari bahwa meskipun apel itu tidak beracun, namun tetap membuatku sakit. Yeah, i’m sick of love.

So, could my fairytale have a happy ending like others in the story books? Uhm, I don’t think so…

***

This is my fairytale, not as sweet as Cinderella, nor romantic like Sleeping Beauty. It’s not touching like Little Mermaid, neither as wonderful as Beauty and The Beast. And my prince is not bring me a poisonous apple.

-Another Fairytale-

The princess dreams about her prince…

Tik.. tok.. tik.. tok..

Jarum jam dinding terus bergerak tanpa lelah. Suara detakannya terngiang dengan jelas di telingaku. Aku gugup. Totally nervous. How could such this thing happen to me?

Berada satu ruangan dengan si pangeran tak berkuda putih. Sama-sama duduk di balik meja yang berjarak hanya dua meter. Oh, bahkan aku bisa memandang wajahnya dari balik layar komputerku. I can’t focus. Wajahnya yang tampan itu memorak-morandakan konsentrasiku.

“Eheemm,” aku berdeham—mencoba memecah keheningan yang meliputi kami selama berjam-jam. Tidak, aku tidak bisa menahannya lagi. Setidaknya katakanlah sesuatu dan berhenti menatap layar komputermu dan menggerak-gerakkan jarimu di atas mouse. Kau bisa membuatku mati muda karena jantungan memandangimu bekerja dengan jarak sedekat ini. Ok, aku ingat bahkan kami pernah berada pada jarak yang jauh lebih dekat, sejauh buah apel, dan kenyataan itu berhasil membuatku semakin gugup sampai berkeringat dingin.

“Ehmmmm….” Ia mulai bergerak, menggeliat, lalu menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Aku segera mengalihkan pandanganku—yang daritadi seperti berada dalam pengaruh gaya magnet karena terus memandangnya—dan menatap layar monitorku, berusaha menyembunyikan perbuatan kriminalku yang mencuri pandang darinya.

Oh, Ariel yang malang. Sekarang aku mengerti bagaimana memandang Erik yang tampan diam-diam dan bersembunyi ketika ia mendekat. Aku tak punya lautan untuk menenggelamkan diri agar tubuhku tak tampak, tapi aku berharap layar monitor besar di atas mejaku cukup untuk menyembunyikan wajah merahku yang mungkin sudah semerah Sebastian—si kepiting.

“Minna-ssi,” panggilnya, aku segera mendongakkan kepalaku dan memandang ke arahnya, mata kami bertemu dan jantungku berpacu semakin cepat, “Sudah sampai mana pekerjaanmu?”

Untuk pertama kalinya aku mengakui dalam hidupku bahwa aku bodoh. Anii, cintalah yang telah membuatku seperti orang bodoh. Memandangnya berjam-jam hingga mengabaikan pekerjaan yang ia berikan padaku.

“Itu…” Bibirku kelu, tak tahu harus menjawab apa. Tugas yang ia berikan padaku bahkan belum selesai setengahnya padahal aku sudah mengerjakannya selama tiga jam.

“Coba kulihat,” ujarnya sambil berjalan ke arah meja kerjaku. Oo.. Tamatlah riwayatku!

Matanya melotot, mulutnya ternganga membentuk huruf O besar, tak lama kudengar helaan nafasnya yang berat. Kupejamkan mataku, ini pasti mimpi buruk dan kuharap ragaku di dunia nyata cepat tersadar. Mungkin suara si nenek sihir—uhm, Eomma maksudku—dapat menyelamatkanku kali ini.

“Lee Minna, apa ini semua yang kau kerjakan selama tiga jam?” tanya Jjong Sajangnim dengan suaranya yang penuh penekanan.

Aku mengangguk, meng-iya-kan kalimatnya. Dan harus aku akui, dia memang pangeran tak berkuda yang tidak pernah ada di negeri dongeng. Setidaknya pangeran di buku cerita yang kubaca akan selalu tersenyum pada sang putri. Sedangkan pangeranku ini…

“Jangan berani meninggalkan mejamu sebelum kau menyelesaikannya,” perintahnya tegas tepat ketika jam dinding menunjukkan pukul 12 siang. Err, kurasa pangeran ingin tuan putri diet siang hari ini.

***

Where are you, My Prince?

Satu bulan telah berlalu dengan sangat cepat. Aku telah terbiasa dengan sikapnya yang berbeda seratus-delapan-puluh derajat dari pangeran pembawa apelku. Ia kasar. Ia suka membentak. Ia sering memarahi dan membentakku dengan keras.

Pangeran apelku hilang bersama dengan kuda putihnya yang memang tidak pernah ada. Atau aku yang salah karena telah mengiranya adalah seorang pangeran? Semua pangeran selalu menunggang kuda putih, tapi ia malah membawakanku apel. Jangan-jangan ia memang seorang penyihir jahat yang berniat membunuh putri cantik sepertiku.

Andwe!! Jauh dalam lubuk hatiku, ia tetap pangeranku. Entah mengapa aku tidak bisa menerima begitu saja kenyataan bahwa ia benar-benar berbeda. Setidaknya, senyumnya masih mampu membuat jantungku ingin melonjak keluar.

“Jjong Sajangnim,” panggilku ke arahnya yang sedang melukis draft untuk project desain kami selanjutnya.

“Hmm?” ia hanya berguman pelan.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyaku takut-takut.

Ne, waeyo?” Ia masih saja berkutat dengan kertas dan pensilnya.

“Kau…” Aku mulai ragu menanyakan perbedaan sikapnya dengan saat pertama kali kami bertemu, “Kau mau makan siang denganku?”

What the silly thing i had said? Mengajaknya makan siang? Kau sudah gila, Lee Minna. Kurasa kau meninggalkan otakmu di tangga istana, bukannya sepatu kaca seperti yang dilakukan Cinderella.

Ne,” jawabnya singkat yang membuatku berhenti menyesali kata-kata bodoh yang baru saja kuucapkan, “Tunggu aku menyelesaikan draft konsepku.”

Dan aku berhasil mengajak pangeranku berkencan tanpa pernah merencanakannya.

***

He is still my prince…

Ia makan dengan lahap, menghabiskan makanan yang tersaji di atas meja. Memasukkan potongan daging ke mulutnya yang lebar dan menelannya dalam hitungan detik. Selera makannya sungguh luar biasa.

“Makan pelan-pelan, Sajangnim,” ujarku menasihatinya sebelum ia tersedak.

Ia tak menghiraukan perkataanku sama sekali. Padahal aku mengatakannya untuk mencari perhatiannya. Untuk menciptakan image yang baik di hadapannya, tapi ia malah seperti tidak mendengar ucapanku hingga akhirnya aku memilih mengigit ujung sumpitku untuk menyembunyikan rasa malu dan kecewa.

“Cepat habiskan makananmu,” ujarnya yang lebih mirip seperti perintah. Aku menatap mangkok nasiku yang masih terisi setengahnya dan mulai memasukkan makanan ke mulutku dengan cepat. Tak lama, aku berhasil memasukkan semua makanan itu ke lambungku.

Selesai makan ia menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi. Menepuk-nepuk perutnya dengan santai. Tak lama ia memanggil pelayan dan membayar semua makanan kami.

Ah, biarkan aku…”

Gwenchana, aku tidak pernah membiarkan wanita mentraktirku,” potongnya cepat.

Ah, ne, khamsahamnida, Sajangnim.”

Setelah selesai mengurus pembayaran, ia mengambil bangkit berdiri. Aku segera mengikutinya, bangkit berdiri dari kursiku dan melangkah di belakang tubuhnya yang berjalan ke arah pintu keluar.

“Kembali ke kantor dan selesaikan pekerjaanmu secepatnya. Malam ini kurasa kau harus lembur karena aku punya pekerjaan tambahan untukmu,” kata pangeran tampanku datar tanpa ekspresi dari balik kursi pengemudi sambil tetap menatap jalanan di depannya.

Ne,” jawabku singkat. Huuhhh… lembur? Aku malas jika ia sudah menyuruhku untuk lembur. Tapi apa boleh buat, ia tetap atasanku dan aku harus mengikuti semua perintahnya.

Maka sekembalinya ke kantor, aku duduk di depan layar komputerku dan berkutat dengan pekerjaanku yang sangat banyak. Menghabiskan berjam-jam memandangi layar komputer yang membuat mataku berkunang-kunang. Akhirnya, sebelum matahari benar-benar terbenam, aku telah berhasil menyelesaikan pekerjaanku.

“Jjong Sajang…” kata-kataku terhenti ketika melihat mejanya kosong. Huh? Ke mana ia pergi?

Aku bangkit berdiri dan berjalan ke mejanya. Kutemukan note di sana.

Jangan pulang dulu, aku ada urusan sebentar dan akan kembali untuk memberimu pekerjaan tambahan hari ini. Tenang saja, aku akan membayarmu lebih untuk waktu lemburmu.

Huh? Aku menghela nafas panjang. Lembur dengan pekerjaan tambahan yang akan membuatku semakin pusing. Sekalipun ia berkata akan membayarku lebih, hal itu sama sekali tidak menambah semangatku.

Menit demi menit berlalu. Aku hanya berjalan mondar-mandir di ruangan kantornya. Menyentuh pola-pola pada dinding, meniup ukiran pada kusen jendela yang sebenarnya sama sekali tidak terlihat berdebu.

Setelah hampir satu jam menunggu, pintu kantor di buka. Ia masuk sambil menjinjing jas di lengannya. Kancing kemejanya yang paling atas terbuka, membuatku gugup melihat otot dadanya yang mengintip dari balik kemeja.

“Ikut aku,” perintahnya datar sebelum kembali menutup pintu.

Aku segera mengambil tasku, dan keluar dari ruang kantor. Kuikuti langkahnya hingga kami tiba di tempat parkir. Ia menyuruhku masuk ke mobilnya dan segera melaju menuju tempat yang tidak kuketahui.

***

The sweetest little thing called happy ending…

Ia memarkirkan mobilnya, bukan seekor kuda putih. Ia membukakan pintu untukku, seperti yang dilakukan kurir tikus kepada Cinderella ketika ia tiba di istana pangeran.

“Ikut aku,” perintahnya lagi tanpa banyak bicara, tak sedikitpun menjelaskan maksud semua ini.

Kami tiba dalam sebuah ruangan kostum. Penuh dengan kostum negeri dongeng.

“Pilihlah yang kau suka, dan pakailah,” perintahnya sambil menyibakkan kostum-kostum yang tergantung di hadapanku.

Wae?” tanyaku bingung.

“Aku butuh model untuk desainku, dan kurasa kau cukup cocok. Kenakanlah salah satu kostum putri di sini lalu keluar menemuiku. Aku harus mempersiapkan hal lainnya,” ujarnya datar, lagi-lagi tanpa senyum, dan setelah mengatakan semua itu, ia langsung meninggalkanku sendirian.

Kusentuh gaun-gaun putri di hadapanku. Gaun biru cemerlang milik Cinderella, gaun emas yang berkilauan milik Bella. Tak lupa gaun merah muda milik Aurora serta gaun hijau emerald milik Ariel. Di paling ujung ada gaun selembut sutra milik Putri Salju.

Semua gaun ini begitu indah. Namun aku tak tahu apa yang harus kukenakan. Aku menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk memandangi gaun-gaun yang tergantung di depanku tanpa sedikitpun mencobanya.

Akhirnya kuputuskan tidak mengenakan apapun karena aku bingung memilih salah satunya. Lebih baik aku bertanya pada Jjong Sajangnim saja. Gaun seperti apa yang ia ingin aku kenakan?

Aku keluar dari ruangan kostum, namun kebingungan karena tidak menemukannya di mana pun. Kutelusuri koridor kecil yang mengarah ke taman.

Ia berdiri di sana, di tengah-tengah taman dikelilingi lampu kerlap-kerlip yang tergantung di pohon. Mengenakan kostum pangeran tampan seperti yang kulihat di buku cerita negeri dongeng.

“Jjong Sajangnim?” panggilku bingung.

Ia melangkah ke arahku. Mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan putih.

“Berdansalah denganku,” pintanya. Seperti dipengaruhi sihir, aku menerima uluran tangannya detik di mana tangan itu terulur ke arahku. Kakiku mengikuti langkahnya ke tengah taman dan berdansa dengannya dengan gerakan yang sangat kaku. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya.

Wae? Apa maksud semua ini?” tanyaku di tengah alunan musik yang terdengar di seluruh penjuru taman—kurasa aku mulai mendapatkan kembali kesadaranku setelah tersihir oleh keindahan suasana di sekitarku, tentu saja wajah tampan Jjong Sajangnim yang paling menyihirku.

“Tidak ada, hanya saja aku ingin berdansa dengan putriku,” jawabnya dengan wajah penuh senyum yang selama ini kurindukan karena hampir menjadi sesuatu yang langka belakangan ini.

Syuuuuuuuuuuu…… dhuuaarrr!

Cahaya warna-warni dari kembang api yang diluncurkan ke atas langit menerpa wajahku. Kami berhenti berdansa. Aku terpaku menatap langit yang dipenuhi kembang api.

Syuuuuuuuuuu… dhuuuuaarrr… syuuuuuuuuu…. dhuuuuaaarr….

Berkali-kali kembang api ditembakkan ke angkasa. Membentuk pola seperti bunga yang penuh dengan warna-warni yang ceria.

“Wuaaa…” seruku terkagum sambil terus memandangi langit.

“Lee Minna,” panggil pangeran tampan di hadapanku.

Nde? Kau yang menyiapkan semua ini Jjong Sajangnim? Tapi untuk apa?” tanyaku sambil terus memperhatikan kembang api yang menghiasi langit malam hari.

Ia tiba-tiba berlutut, merendahkan tubuhnya di depanku. Aku terkejut menyadari gerakannya dan berhenti memandangi kembang api, lalu menunduk ke arahnya.

Would you be my princess?” tanya pangeran tampan, pembawa apel, tak berkuda putihku.

Nde?” tanyaku kebingungan dengan tindakannya yang tiba-tiba.

Ia mengulurkan sebuah kotak berwarna hitam ke arahku. dengan tangannya yang bebas ia membuka kotak itu. Kulihat sebuah cincin berwarna perak di dalamnya. Cincin mungil dengan batu-batu permata putih yang berkilauan dan tunggu… bentuk ini seperti… apel?

Aku teringat ketika pertama kali apel itu terjulur di depan wajahku. Ketika pertama kali kami bertemu dan aku sadar ia adalah pangeran dalam mimpi yang datang ke dunia nyataku.

Sekarang sebuah apel lain, dalam bentuk lain, terulur di depanku untuk kedua kalinya.

Saranghae, Lee Minna. My apple princess, please be mine,” pintanya sekali lagi. Tanpa sadar tanganku terulur ke arahnya seolah mengerti kemauan hatiku.

Ia menyelipkan cincin mungil itu di jari manisku, lalu mengecup jemariku dengan lembut. Ia berdiri, memandang kedua bola mataku. Aku tak bisa melepaskan pesonanya. Memandang wajahnya dengan mata berbinar penuh kekaguman. Pangeran tampanku.

Inikah yang dinamakan happy ending? Inikah yang dirasakan para putri itu ketika pangeran mengutarakan cinta kepada mereka?

Ia memajukan wajahnya. Tubuhku merespon dengan menutup kedua mataku perlahan-lahan, hingga sepenuhnya rapat.

“Haaa…chiiiii!!”

Ok! Kurasa ini bukan happy ending seperti di negeri dongeng. Bukankah seharusnya pangeran mengecup bibir sang putri? Tapi ini, pangeranku malah bersin dan membasahi wajahku. Aku mengelap wajahku dengan punggung tangan, “YAAAA!!”

Mianhae, Min, aku tidak sengaja… haaa.. haaa.. chiiii!!” Ia kembali bersin.

Aku menghela nafas pasrah. Kulepaskan syal yang melilit di leherku dan melingkarkannya di leher pangeranku yang nampaknya terserang flu karena memakai kostum pangeran yang tipis di udara malam sedingin ini. Dasar pangeran bodoh!

***

Another happy ending…

“Min, cepat kemari!” perintah Jjong dengan suara lantang yang menggema di penjuru rumah kami.

Wae?” tanyaku sebal, masih memakai celemekku karena aku saat ini sedang memasak di dapur untuk makan malam kami.

Jjong menunjuk ke arah seorang bayi yang sedang berbaring di lantai beralaskan karpet untuk bayi. Bayi itu adalah putra kami. Namanya Kim Jongki. Ya, aku dan Jjong sudah menikah selama tiga tahun dan Jongki sekarang sudah berusia hampir dua tahun.

“Yaaa… aku sedang memasak, bisakah kau menggantikan popoknya untuk kali ini,” protesku.

Shireo, kau saja yang gantikan, kau kan eomma-nya,” jawab Jjong santai sambil terus menonton TV.

“Yaaa!!” Aku kesal, kesal, kesal. Ku ambil mainan Jongki di lantai dan ku lemparkan ke arah pangeran menyebalkanku.

“Yaaa! Appo, mengapa melempariku seperti itu?” gerutunya.

Aku tidak menjawab kata-katanya. Dengan segera menggendong Jongki dan menggantikan popoknya.

Setelah selesai mengganti popok Jongki, aku menganggat popoknya yang penuh dengan pup sambil menjepit hidungku dengan tangan kiriku.

Kupandangi si pangeran pemalas yang berbaring di sofa. Kurasa aku tidak diciptakan menjadi putri anggun seperti Aurora ataupun Putri Salju. Aku menyeringai. Sambil berjinjit aku melangkah mendekatinya, hingga tepat berdiri di belakangnya.

Yeobo…” panggilku lembut, Jjong mendongak melihatku dan terkejut dengan popok di tanganku.

“Yaa… jangan macam-macam!” teriaknya sambil bangkit dari sofa dan mulai melarikan diri. Aku malah semakin bersemangat mengejarnya dengan membawa popok di tanganku untuk menakutinya. Namun, Jjong berhasil bersembunyi entah di mana. Kami memang tidak tinggal di istana, tapi rumah kami cukup besar dan banyak tempat untuk bersembunyi. Huh, lain kali aku akan mengunci tempat-tempat yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi.

Aku menyerah mencarinya. Kubuang popok Jongki ke tempat sampah lalu kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak. Setelah selesai menyajikan makanan di meja makan, pangeran pemalas itu muncul. Ia tidak pernah terlambat soal makanan.

Kami makan bersama, aku, Jjong, dan Jongki. Tentu saja tugasku menyuapi putra kami. Setelah selesai makan, aku masih harus membereskan meja makan, membuatkan susu untuk Jongki, dan menidurkannya setelah ia menghabiskan susunya.

“Huhhh,” Aku menyeka dahiku yang sebenarnya tak berkeringat. Aku penasaran apakah Cinderella mengalami hal sepertiku juga? Ataukah Aurora, Ariel, Bella dan Putri Salju juga merasakan hal yang sama denganku? Buku-buku cerita itu tidak bercerita sama sekali tentang hal-hal seperti ini.

“Min,” panggil Jjong manja sambil memeluk pinggangku dari belakang.

Wae?” jawabku ketus.

Jjong meletakkan kepalanya di pundakku, “Kau masih marah rupanya?”

Aku tidak menjawabnya, tanganku berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku.

“Jangan dilepas, biarkan aku memelukmu. Ayolah Min, jangan marah karena hal seperti itu,” rayunya sambil menciumi rambutku.

“Kau ini tidak bisakah menjadi suami dan ayah yang baik bagiku dan Jongki?” protesku masih dengan nada ketus.

Jjong melepaskan pelukannya, ia memutar tubuhku hingga sekarang kami berdiri berhadapan dengan tangannya masih berada di samping tubuhku—bertumpu pada tempat tidur Jongki, “Mianhae, apakah kau menyesal menikah denganku?”

Tidak, dia mulai lagi. Menanyakan hal yang sama setiap kali aku mulai marah padanya. Dia selalu tahu apa jawabanku, aku sama sekali tidak menyesal menikah dengannya. Setidaknya, walaupun ia seorang pangeran pemalas yang menyebalkan, tapi aku tahu ia mencintaiku setulus hatinya—sama sepertiku.

“Aku tahu kau tidak pernah menyesal menikah denganku,” katanya penuh keyakinan, menjawab sendiri pertanyaan yang baru ia tanyakan tiga detik lalu. Tangan-tangannya yang kekar tiba-tiba sudah membopong tubuhku.

“Yaa!! Turunkan aku!” perintahku setengah berbisik, takut Jongki terbangun.

“Aku akan menurunkanmu nanti setelah kau mau menuruti perintahku,” ujarnya sambil membawaku keluar dari kamar Jongki dan menuju ke kamar kami.

Mwo? Apa perintahmu Jjong Sajangnim?” tanyaku dengan sedikit sindiran—memanggilnya dengan sebutan Sajangnim. Kami masih suka saling menyindir jika mengingat pengakuannya dulu bahwa ia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama saat di pesta ulang tahun Hana.

Ia kaget ketika menemukan namaku di tumpukan surat lamaran yang sesungguhnya telah ditolak karena tidak memenuhi kriteria. Akhirnya ia menghalalkan segala cara hingga berhasil membuatku menjadi asistennya, padahal aku harusnya ditolak karena masih duduk di bangku kuliah.

Ia juga mengaku tidak tahu bagaimana cara mendekatiku karena malu. Ia berniat mengajakku kencan, namun selalu mengurungkan niatnya, hingga waktu itu aku tanpa terduga mengajaknya makan siang. Karena ajakanku itulah ia segera menyusun ide, yang menurutku gila dan menurutnya brilliant, untuk mengutarakan perasaannya.

Ide itu yang membuatnya terkena flu berat sepanjang minggu setelahnya. Dan ide itu juga yang membuatnya memarahiku karena aku merusak rencananya dengan tidak menggunakan gaun yang telah ia persiapkan. Tapi aku tidak menyesal, aku senang karena waktu itu aku tidak mengenakan gaun Cinderella maupun Aurora. Aku tidak memakan gaun Ariel, Bella, maupun Putri Salju. Aku tidak menyesal karena ketika pangeranku mengutarakan cintanya, aku tidak menjadi putri dalam dongeng, tapi aku menjadi diriku sendiri, tanpa gaun, tanpa sepatu kaca, dan tanpa mahkota di atas kepalaku.

Aku bukan putri dari negeri dongeng. Pangeranku pun bukan pangeran berkuda putih seperti yang diceritakan di buku dongeng. Namun, aku bahagia hidup bersamanya. Dengan kisah cintaku sendiri. Dengan happy ending-ku sendiri.

“Perintahku…” gumamnya setengah berbisik di telingaku, “Berikan Jongki seorang adik!”

-THE END-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

41 thoughts on “Another Fairytale [2.2]

  1. Ck, si Jonghyun awal2nya jual mahal nih haha. diem2 suka ama Minna. ujung2nya doajak nikah,aduh sweet bgt.
    eh tpi wktu di adegan minna liat otot dadanya Jjong itu aku serasa ngeliat betulan *,* *mimisan
    overall aku suka ceritanya. like this yoo like this *ala wg

  2. Wuah udah ada nih lanjutannya *lemparpetasan*
    Lagi2 kata2nya duh sukaaaaaa :$
    Favorit aku nih :
    “apa pangeran akan tetap menciumku jika aku tidak secantik Aurora ketika tidur? Aku ragu ia akan tetap mengecupku setelah melihat air liur di sudut bibirku.”
    Sbenarnya antara mau ngakak sma anguk2 baca yg di atas ini, emang iya ada gitu yg mau nyium aja stelah ngeliat air liur? Untung iya air liur doang nah kalo ileran? Haha😀
    Waktu baca part 1 kan ada nih yg kayak gini “Happy ending hanya ada di negeri dongeng.” sempat nebak FF ini bakal brakhir dengan Sad ending_- untung tebakan aku salah hehe😀
    Nikah yah mereka pdahal aja Jjong awal2nya sok cuek gitu tau2nya dia mnyimpan rasa sejak prtamakali brtemu #eaaa sampe susah2 usahain Minna jadi asistennya pula ya ampun modusss bangett😀
    Pokoknya aku suka FFnya, keep writing yah~

  3. Aduhh, endingnya… *tutup muka pake buku dongeng Cinderella*

    Tapi jujur, aku suka kata-kata di FF ini. Simple, nggak ribet~

    LOVE IT~ KEEP WRITING!

  4. suka banget ff nya,bahasanya bagus bgt,kata kata nya gak bikin yang baca bosen,jalan ceritanya juga,coba ada sequelnya hehe.

  5. LUMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEE.. Hahaha astagaaa
    eh tau gak dari semuanya aku tertarik pas baca Syuuuuuuuuuuu…… dhuuaarrr! itu suara kembang api begitu yah? beneran? ciyuuusss? *polosss*
    ckckck penutupnya suka yang “Perintahku…” gumamnya setengah berbisik di telingaku, “Berikan Jongki seorang adik!” rasanya pengen jambak jjong bawa masuk ke kamar #ehhh *kabur bareng onew*

  6. hahaha intronya masih bikin ngakak..
    yakali ninggalin nomer rekening, cuma pangeran yg berduit banyak itu mah yg bakal nanggepin -.-

      1. mungkin oennie gk mksud biki lucu ya
        tapi baca ini ff bikin aq ketawa-ketiwi di kelas loh
        untung sepi klo gk pasti dah dikirain orang gila*numpang curcol
        aq tunggu ff selanjutnya ya🙂

  7. hyaaaa..
    Serasa ada kupu2 terbang di perutku.. Hihihi..
    Aigooo.. Aku dah ngira perintah si jjong yg terakhir itu.. Dasar jjong!!

  8. Hhuuuaaaa….. Ceritanya seru! Jonghyun diam” penuh misteri(?)
    Semuanya pas! Dari segi cerita, alur, dan bla bla bla… Aku suka!!❤

  9. maafkan aku yang baru comment..
    vision-ku menjelaskan:
    pas di pesta dansa jonghyun sebenarnya nga ‘tertarik’ sama hadiah ipadnya, tapi jauuh dari tempat dia berdiri dia memandang minna indah, mangkanya dia beraniin ngedeketin dengan alesan mau jualan ipad..hahaha.. gitu ya? *bcs kalo nanya no hape langsung takut kena senggrong ya,jong?
    unseen POV:
    setelah menang,
    JJong: kamu hapal nomor rekeningmu gak?
    minna: enggak *aku juga engga soalnya
    jjong : no hape mu berapa?
    minna: buat apaan?
    Jjong: buat kirim nomor rekening, kita kan kudu bagi dua ni hadiah? lu rela hasil penjualanya gua embat semua?
    minna: mikir*
    dan berhasilah jjong dapet no hape tanpa disadari minna.. hahaha cerdas juga! pangeran modern!!

  10. keren banget ceritanya thor!! sumpah ngakak baca saat jjong menyatakan cintanya ke minna lucuuu xD

    cerita sederhana namun penuh dengan warna~

  11. sebenarny aku udh bc ni b2rapa hr yg lalu . . .
    Eh ,,, vny hr ni bru kepoikiran bwd ninggalin jejak
    Hehehe

    di awal cerita (pas di part ke 1 ) aku g pernah nyangka klo cerita awal begitu ringan namun sarat dengan arti

    Mnrt aku ktikanny jg cukup rapi . . .
    Cuma sayangny knp ceritany cepet bgd selesai !?
    (^_^) Joo Lee Dz

  12. hehe.. ffnya daebak min..
    ceritanya bagus banget min, tapi sayang k’gantung..
    kok cuma 2 part se Min T^T.. pdahal masih mau ngeliat jjong oppa.. OPPA!!!

    tapi hebat kok min.. cover sampulnya juga keren// i like it~!

    1. makasih udah baca.. eh? gantung gimana? udah merid kan akhirnya, punya anak juga.. hehehe.. makasih udah suka.. covernya bikin sendiri supaya masuk aja sama ceritanya.. hehehe😉

  13. baru baca ff ini stlah skian lama hiatus dr dunia fangirlingan
    *malah curcol
    dr jdulny dah mnarik perhatianku
    bagus ceritanya, aku suka
    susunan kata”ny jg bagus, jdi senyam senyum sndri pas baca
    jjong romantis bgt, jdi kangen jjong

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s