The Sweet Summer – Part 10

The Sweet Summer (Part 10)

 

Tittle                : The Sweet Summer (Part 10)

Author             : Ichaa Ichez Lockets

Main Cast        : Shin Hye Rin, Shin Eun Kyo, Lee Taemin, Kim Ki Bum (Key), Choi  Minho, Kim JongHyun (Jjong), Lee Jin Ki (Onew).

Genre              : Friendship, Romance, Family.

Length             : Series (Chaptered)

Rating             : PG

Desclaimer      : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

Key benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Dia mendadak panik saat melihat wajah Hye Rin yang begitu pucat dan tampak sekuat tenaga menahan sakit yang menyerang tubuhnya.

            Ingin sekali Key meminta bantuan ke penumpang lain. Namun didalam bus yang ditumpanginya hanya ada seorang kakek tua dan seorang yeoja kecil yang duduk disampingnya. Bantuan dari mereka juga tidak akan banyak berguna.

            “Gwenchanayo Hye Rin? Kenapa kau bisa sakit begini?” tanya Key panik.

            Dengan lemah Hye Rin menatap kearah Key yang duduk disampingnya, “Gwenchana Key. Aku baik-baik saja.”

            “Pabo! Mana bisa kau baik-baik saja dalam keadaan seperti ini?!?”

            Key ini aneh sekali. Tadinya ia bertanya penasaran, tapi setelah Hye Rin menjawabnya dia justru mengomel tidak karuan.

            Tapi sesungguhnya namja itu benar-benar mencemaskan keadaan Hye Rin. Hanya saja dia tak tahu harus bagaimana membantu Hye Rin untuk mengurangi rasa sakitnya.

            (Backsound : The Name I Loved)

Setelah berfikir instan, akhirnya Key memutuskan untuk menolong Hye Rin dengan caranya sendiri. Dengan sigap ia setengah jongkok dan menahan tubuh Hye Rin di punggungnya. Kemudian ia membawa yeoja itu pergi meninggalkan bus yang ‘terdampar’ di pinggir jalan.

Mungkin Key bisa saja menunggu didalam bus sampai bus itu kembali berjalan, tapi keadaan Hye Rin terlihat tak mampu menunggunya lebih lama lagi. Hye Rin harus cepat dibawa pulang sebelum sakitnya bertambah parah.

Key bertekat melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti meski harus dengan berjalan kaki.

Sementara tubuh kecil Hye Rin di punggung Key, ada puluhan tas belanjaan yang menggantung di kedua tangannya.

            “Waeyo Hye Rin? Kenapa bisa jadi seperti ini? Sebenarnya kau sakit apa? Apa kau sangat shock setelah bertemu dengan ummamu hingga menjadi sakit? Atau ada penyebab lain?” cerocos Key tanpa jeda.

            Mendengar pertanyaan Key yang bertubi-tubi, dengan pelan tangan kecil Hye Rin mencoba menjitak kepala Key. CETUK! Meski nyatanya tidak terasa seperti sebuah jitakan karena tenaga yang terlalu kecil.

            “Ya! Kau ini sudah sakit masih bisa-bisanya mencoba menjitak kepalaku. Pabo!”

            Hye Rin tak menjawab. Dia masih terdiam dengan tangan yang melingkar di leher Key.

            “Hye Rin, kau masih mendengarku kan?” tanya Key takut kalau Hye Rin kenapa-napa.

            Tak ada suara.

            “Hye Rin-ah~ sadarlah!” teriak Key kali ini dengan lebih keras sambil menggoncangkan tubuh Hye Rin di punggungnya. Key tak ingin gadis itu pingsan.

            “Kumohon jangan berteriak lagi Key.” ucap Hye Rin lirih – hampir tak terdengar. Padahal jarak bibirnya dan telinga Key sangat dekat. “Sudah cukup aku menguras tenagamu karena menggendongku. Jangan sia-siakan sisa tenaga itu hanya untuk berteriak, Key.”

            Key mendadak terdiam. Ucapan Hye Rin yang tertahan membuat Key semakin mencemaskan keadaan yeoja itu.

            “Tapi sebenarnya apa yang kau rasakan sekarang? Apa kau punya penyakit tertentu?” ucap Key kali ini dengan pelan. “Tolong bicaralah… jangan membuatku takut seperti ini Hye Rin-ah.”

            Kekhawatiran terdengar jelas dari nada bicara Key yang rendah dan bergetar. Ada juga desahan nafas yang tidak beraturan disana. Tampaknya Key mulai kelelahan.

“Sepertinya maag ku kambuh.” Jawab Hye Rin. “Kepalaku pusing. Tenagaku juga terkuras karena berlari tadi.”

            “Jinja?? Kapan terakhir kali kau makan?”

            Hye Rin tak langsung menjawab. Yang terdengar hanyalah nafasnya yang semakin tipis. Bahkan Key bisa melihat ada kepulan asap yang keluar dari bibir Hye Rin karena menahan dingin.

            “Entahlah Key. Sepertinya kemarin pagi.” Jawab Hye Rin akhirnya.

            (Flash back : Kemarin pagi Hye Rin sibuk menunggu Taemin didepan sanggojaenya. Saat ia bertemu Taemin, ia langsung mengajak namja itu ke salon. Namun ‘perubahan’ Hye Rin justru membuat ia emosi sampe akhirnya dia marah dan jam 10 malam baru pulang. Selama itulah Hye Rin tidak makan. Ingat?)

            “Omonna Hye Rin-ah… Kenapa kau tidak bilang?” Key tampak terkejut mendengarnya. “Ash! Aku juga pabo! Kenapa tadi pagi aku juga tidak mengajakmu sarapan? Ugh! Pabo! Pabo!” Kini Key malah mengutuk dirinya sendiri.

            Hye Rin tak menanggapi apa yang Key katakan kali ini. Ia semakin mengeratkan pelukannya di leher Key seraya menggigit bibir bawahnya menahan sakit.

            Hye Rin bisa merasakan perutnya seperti di remas-remas. Rasanya benar-benar perih. Dan lagi, kopi pemberian Key tadi dengan sukses mengikis dinding lambung Hye Rin hingga sekarang terasa begitu tipis.

            “Bertahanlah Hye Rin. Kita hampir sampai…” ucap Key mencoba menenangkan.

            Langkah besar Key berjalan semakin cepat melintasi jalanan desa yang sepi. Sudah 2 kilometer jauhnya dia membawa beban yang berlipat. Dan masih 2 kilometer lagi yang harus ia lewati sampai pintu sanggojae benar-benar terlihat.

            Nafas Key semakin terengah. Betisnya pun semakin terasa sakit. Meski tenaganya juga semakin habis, tapi semangatnya tidak berkurang. Hanya Hye Rin yang ada dalam pikirannya sekarang. Dia tidak boleh membiarkan gadis itu menahan sakitnya lebih lama lagi.

            “Siapapun disana tolong cepat buka pintunya!” teriak Key dari pintu depan sanggojae. Dadanya semakin terasa sempit karena udara yang sulit dihela. Kakinya bergetar menahan Hye Rin yang terlihat kaku tak bergerak.

            “Aigoo! Key?!?” Minho terperanjat mendapati Key sedang menggendong Hye Rin di punggungnya. “Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?”

            “Cepat bawa Hye Rin kedalam! Aku sudah benar-benar tidak kuat!” tangan kanan Key mencoba menyangga tubuhnya di pinggiran pintu.

            Dengan sigap Minho meraih tubuh Hye Rin kemudian mengangkatnya dengan kedua tangan. Keterkejutan itupun tak mampu Minho sembunyikan saat melihat wajah Hye Rin yang pucat dan berkeringat.

            “JongHyun Hyung! Tolong bantu aku membawa Key kedalam!” teriak Minho pada JongHyun yang masih terjaga dalam kamarnya.

            Tapi belum sempat JongHyun datang, tubuh Key lebih dulu jatuh karena tenaganya sudah benar-benar habis sekarang.

***

            “Bagaimana keadaan Hye Rin? Apa dia sudah baikan?” tanya Minho pada Eun Kyo ketika pagi tiba.

            “Ne~ dia sudah baikan. Hanya saja masih butuh waktu untuk beristirahat.” Jawab Eun Kyo sambil menutup pintu kamar Hye Rin.

            “Sebenarnya dia sakit apa, Eun Kyo?”

            “Sepertinya maag Hye Rin kembali kambuh. Dia juga tampak dehidrasi, kekurangan cairan karena sama sekali belum mengkonsumsi apapun.” Eun Kyo kemudian duduk ditepian teras diikuti Minho yang duduk disebelahnya. “Oh iya, Key sendiri? Bagaimana keadaannya sekarang?”

            “Dia masih tidur. Hanya kelelahan.”

            Setelah itu suasana kembali sepi sampai sesosok namja muncul dan mengagetkan mereka berdua.

            “Taemin?!?”

            “Dimana Hye Rin noona?” ucap Taemin terengah-engah. “Kudengar dari JongHyun Hyung tadi katanya dia sakit.”

            Eun Kyo justru tersenyum. “Dia baik-baik saja Taemin. Sekarang masih beristirahat di kamarnya.

            “Bolehkah aku kesana?”

            “Ne~ silahkan.”

            Tanpa ba-bi-bu lagi, Taemin langsung melesat ke arah kamar Hye Rin. Saat pintu terbuka, Taemin menemukan Hye Rin tampak duduk sambil memegangi kepalanya.

            “Ottokhae noona? Apa kepalamu sakit? Mengapa tadi malam kau bisa tidak sadarkan diri? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Taemin panik.

            Mata Hye Rin menyipit memandang Taemin yang berjongkok disampingnya, “Aigoo~ kenapa kau jadi mendadak cerewet seperti ini, Taemin? Apa Key telah menularkan penyakit itu padamu?”

            “Mwo?” tanya Taemin bingung.

            Hye Rin diam sejenak lalu menyadari apa yang baru saja ia katakan.

            ‘Oh iya, Key. Bagaimana keadaannya sekarang ya?’

            Hye Rin bangkit dari kasurnya dan membuat Taemin semakin bingung.

            “Eh noona, kau mau kemana?” tanya Taemin kaget. Yang ditanya justru berjalan gontai menuju pintu.

            Namun saat pintu terbuka, tiba-tiba mood Hye Rin jadi jelek karena menemukan sosok Eun Kyo dan Minho yang tampak sedang tertawa lepas diteras sanggojae.

            “Loh Hye Rin? Kau sudah baikan?”

            Hye Rin tak menjawab pertanyaan Eun Kyo. Pandangannya teruju pada Minho, lalu unnienya bergantian. Ada tatapan terkejut sekaligus sinis dibalik mata Hye Rin. Membuat suasana hening dalam beberapa saat.

            Krekk….

            Terdengar suara pintu terbuka yang membuyarkan keheningan itu. Asalnya dari kamar Key. Spontan semuanya menoleh. Termasuk Hye Rin yang tadinya sempat lupa kenapa ia ingin keluar kamar.

            Eun Kyo dan Taemin mengerutkan kening, ada sesuatu dari wajah Key yang menarik perhatian mereka berdua yang belum pernah melihatnya. Sedangkan Hye Rin justru tiba-tiba diliputi rasa bersalah.

            “Loh Hyung, kenapa ujung bibirmu terluka?” tanya Taemin pada Key. “Apa ada yang memukulmu tadi malam??” lanjutnya dengan polos.

***

            Udara pagi terasa begitu sejuk dihela. Matahari juga tampak bersahaja, mengeluarkan sisa-sisa cahayanya yang menerobos melewati dedaunan serta beberapa gedung yang berjajar rapi di tepi jalan.

“Padahal terakhir kali kita bertemu 5 bulan lalu. Tapi entah kenapa sudah bertahun-tahun lamanya kita tidak jalan-jalan begini ya Hyung.” Ucap JongHyun sambil mencoba melangkah santai, menyamakan langkah Onew yang berjalan disampingnya.

“Ne~ Rasanya memang sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Jawab Onew.

            Kini mereka berdua tampak asik berbincang-bincang sambil menyusuri trotoar yang ramai. Pagi itu tak hanya disia-siakan dengan berjalan di pinggir jalan, tapi terkadang mereka juga mampir sebentar ke beberapa tempat yang membuat mereka tertarik.

Setelah puas berjalan-jalan, akhirnya mereka singgah di halte bus.

            Sambil menunggu angkutan umum yang lewat, obrolan mereka tetap berlanjut.

            “Apa kau sudah lama tinggal di sanggojae itu?”

            “Ne~ Semenjak kita liburan musim panas. Kehidupan disanggojae itu sangat menyenangkan. Tenang sekaligus ramai.”

            Onew tersenyum mendengarnya. “Disana memang selalu menyenangkan. Masakan Hye Rin enak bukan? Aku sampai ketagihan.” Canda Onew pada JongHyun. JongHyun pun tertawa.

            “Hyung, kau bilang kau sudah mengenal mereka sejak lama. Lalu menurutmu Eun Kyo itu gadis yang seperti apa?” tanya JongHyun penasaran.

            Onew tersenyum lagi. Kali ini sambil menerawang. “Ehmmm, dia gadis yang cantik, lembut, dan perhatian. Dia selalu tahu situasi dimana dia harus bersikap sebagai seorang unnie, dan bagaimana harus bersikap sebagai seorang dongsaeng jika sedang bersamaku.” Papar Onew.

            “Maksudmu?”

            “Ketika ia berperan sebagai unnie-nya Hye Rin, maka sifatnya menjadi dewasa. Tapi jika ia sedang bersamaku, dia bisa bersikap seolah-olah kami ini saudara kandung. Dia dongsaengku, dan aku oppanya. Hehehe.” Entah kenapa Onew malah malu sendiri saat menceritakannya.

            “Sepertinya hubungan kalian sangat dekat ya?”

            Tawa Onew meledak mendengar pertanyaan JongHyun. “Ne~ sudah kubilang kami ini seperti saudara.”

            Kali ini JongHyun terdiam. Berfikir sejenak. Lalu tiba-tiba ada sebuah inisiatif yang hinggap dalam fikirannya.

“Karena kalian sudah dekat, maukah kau menolongku, Hyung?”

            Pertanyaan itu tidak Onew jawab. Ia justru memajang wajah bingung dengan dahi yang berkerut.

            “Bisakah Hyung membantuku untuk mendapatkan Eun Kyo?” Tanya JongHyun serius. “Kurasa kali ini aku benar-benar mencintainya.” Dari cara bicara JongHyun, tampaknya namja itu sedang tidak bercanda.

-To Be Continue-

            Weleh-weleh. Kayaknya tambah rumit neh. Kira-kira Onew mau bantu JongHyun gak ya?

            Gomawo buat yang udah mau baca. Jangan lupa komen. *bow

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “The Sweet Summer – Part 10”

  1. penasaraaaannnn….!
    *demo
    Lanjuttt… aku udh baca lhooo dri part awal sampe sjrg… Lanjuttt eonnn… Ganbatte(?) *sadar woi itu bhs jepang -__-

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s