Who I Am? I Am an Eve – SPY 8

(credit poster : cutepixie/pinkhive.wordpress.com)

Title       : Who I Am? I Am an Eve (Sequel From Fairytale and Myth)

Author    : ReeneReenePott

Maincast :

• Key(NOT KIBUM OKAY!) <Eve>

• Jessica <Eve>

• Jung Yoogeun <Human>

Supporter cast : (tokoh masih bisa bertambah)

• Hero(Kim Jaejoong) <Eve>

• Ty(Kim Jong Hyun) <Eve>

• Gyuri <Eve>

• Madeleine <Elf>

• Elias(Choi Minho) <Elf>

• Claire <Elf>

• Joon <Elf>

• Chase(Lee Jinki) <Werewolf>

• Ariana Clearwater <Wizard>

• Baek Chan Gi <Human>

Genre : Fantasy, Romance, Thriller, Alternate Universe

Rating   : PG – 15

Length  : Sequel

A/N        : Yeeeeeyyy keluar cepeeet~~~ *tiup terompet* Ayoo langsung serbuu~!

SPY 8

A street, Seoul

Same day, midnight

Tuk

Tuk

Suara langkah sepatu milik seorang namja bertubuh ramping terdengar di kegelapan malam yang lumayan mencengkam itu. Ia baru saja menyelesaikan shift-nya—pekerjaannya adalah pelayan hotel. Dan ketika ia merasakan ada yang janggal dalam kesunyian malam itu, ia mencoba untuk mengeluarkan I-pod dan headset-nya dari saku, memasangnya agar ia bisa mengusir kesunyian yang mulai ia benci itu.

Ssrrrr

Langkahnya terhenti. Kepalanya menoleh ke belakang, ke samping lalu ke depan, namun tak ada siapa-siapa. Ia mengangkat bahunya, dan kembali melanjutkan langkahnya,

Ssssrrrrr…….

Langkahnya kembali terhenti. Bulu kuduknya meremang, sepertinya ia ingat situasi ini. Situasi saat ia sendirian dalam kegelapan, dimana hanya ada satu suara yang mengganggunya.

Dan baru kali ini ia merasa mimpi itu sangat nyata.

Set…

Namja itu langsung menoleh ke belakang, ia merasa ada orang yang lewat di belakangnya, hanya saja ia sangat cepat. Ia mengerutkan keningnya, menunggu apakah orang itu lewat lagi, jadi setidaknya ia bisa mengetahui siapa orang itu.

Set…

Kali ini orang itu lewat di depannya. Ia semakin terkejut, perasaan takut mulai merayapinya. Bola matanya terbelalak lebar, berusaha meyakinkan diri sendiri kalau ia aman. Tanpa pikir panjang, ia langsung melarikan diri dengan kaki panjangnya itu.

Drap

Drap

Drap

Sett…

Bruk.

Namja itu tiba-tiba terjatuh. Ia merasa ia menyandung sesuatu, tapi ia tak tahu apa itu, karena sandungan itu benar-benar tak nampak. Ia langsung berdiri lagi, pandangannya di arahkan ke sekeliling dengan nanar.

Sungguh, ia ingin melepaskan diri dari kegelapan dan kesunyian yang mencengkam ini.

Brukkk

Namja itu sangat terkejut, sekaligus meringis mendapati dirinya tiba-tiba terjatuh. Ia yakin ia tak melakukan apa-apa tadi, bagaimana bisa ia terjatuh?

“Mph!!” pekiknya keras begitu sebuat tangan yang dingin membekap mulut, dan tangan yang lain mengunci tubuhnya kuat. “Mph!” ia kembali meronta.

“Jadi, aku tak akan berlama-lama denganmu,” bisik sebuah suara di telinganya. Dekapan lengan itu menguat, membuat namja itu membelalakkan matanya, ia kehabisan napas karena hidungnya ikut dibekap.

“Mph!!” rontanya lagi. Dekapan itu kian menguat, membuat seluruh organ tubuhnya sakit. “Mmmp!!!”

Sakit.

Itu menyentuh jantungnya.

Mata namja itu tiba-tiba melotot tak normal, dan seketika tubuhnya melemas. Benar-benar lemas, sekaligus tak sadarkan diri. Sosok yang mendekapnya itu mengeluarkan evil smirk-nya, ia mengeluarkan kukunya dan meraba lembut dadanya. Jemarinya yang dingin dan luwes itu menyusup ke balik bajunya, mencengkeram kulit dadanya keras.

“Mph!” mata namja itu melotot ketika dirasakannya lima tancapan merobek daging dadanya. Sosok yang mendekapnya itu memutar tubuh namja itu, nampaklah sosok berpakaian hitam, tinggi dan kekar, dengan seringaian kejam nan licik dan mata setajam elang. Namja itu sudah ada diambang kesadaran, ia bisa merasakan darah mengucur keluar, merembes ke pakaiannya yang masih melekat di tubuhnya. Tangan itu semakin mencengkeram masuk ke dalam dadanya, sementara namja itu sudah mulai sekarat karena tubuhnya mulai banyak kehilangan cairan.

Kraak

Krakk

Tangan itu begitu kuat, 3 ruas rusuk sudah patah karena cengkeramannya. Napas namja itu perlahan menghilang, sementara tangan yang dingin itu memaksa membuka dadanya, menjadikan tiga rusuk itu sebagai pintu yang berengsel. Tanpa pikir panjang, tangan itu langsung mencengkeram jantung yang berdetak semakin lemah, menarik paksa organ itu dari pembuluh darah yang masih mengucurkan cairan merah kental anyir itu.

Sosok itu langsung menelan jantung yang sedang ia genggam, lalu melirik onggokan daging yang sudah tak bernyawa yang masih ia tahan dengan lengan kirinya itu. Ia mengambil setetes darah namja itu dari salah satu pembuluh vena-nya, lalu menggambar tanda salib si lengan kiri namja itu.

Sepasang sayap putih langsung muncul di punggungnya begitu darah yang sudah ia oleskan menyerap masuk ke dalam daging keras itu. Ia melebarkan sayapnya, dan sambil tetap menahan namja itu digendongannya, ia mengangkasa, tanpa terlihat.

__

“Lihat, aku melakukan tugasku kelewat baik,” ujar Key bangga sambil menatap Hero.

“Ya, ya, caramu memang lebih baik daripada Jessica, yang mendapatkan lebih sedikit mangsa,” sergah Hero sambil mengangkat ujung bibirnya. “Oh ya, Key, kau melakukannya tanpa ada orang yang mengikutimu, kan?”

“Tentu saja, aku bahkan sudah mengeceknya. Aku yakin dengan pendengaranku, tak mungkin Eve semuda aku memiliki pendengaran yang buruk,”

“Bisa saja,” Hero mengangkat bahunya acuh, “Kalau setiap hari kau selalu menyangkutkan kabel ke telingamu itu,”

“Benda itu namanya earphone, kau benar-benar ketinggalan zaman,” sergah Key sambil mencibir, “Gaya pakaianmu juga masih persis zaman Victoria,”

“Daripada kau, seperti manusia pink eksekutif pengangguran saja,” balas Hero tak kalah mengejek.

“Aku ini fotografer. Tak mungkin aku mengenakan pakaian Gothic ke studio? Bisa dikira hantu bangsawan,” jawab Key. Hero hanya mengangguk menyerah. Anak Eve ini benar-benar cerwet. Entah diturunkan dari siapa sifat unik itu. Secara, sepanjang sejarah hidupnya, tak pernah ada Eve yang se-ce-re-wet dia.

“Oh ya, mana Taylor?”

“Dia sedang kencan dengan Gyuri,” jawab Key sambil menghempaskan dirinya di sofa kastil yang kelewat empuk.

“Elias?”

“Sedang rapat dokter. Cih, pekerjaan yang menjijikkan, menurutku,” argumen Key cuek. Tangannya meraih sebuah majalah fashion yang kebetulan bernasib sial hingga harus tergeletak di meja ruang tamu itu.

“Itu sama sekali tidak masalah kok. Meski… memang sih, menyentuh daging menurutku sangat menjijikkan, tapi kan itu tidak bagi mereka,” sahut Hero. Key meliriknya, lalu kembali memfokuskan diri dengan majalah yang sedang dipegangnya.

“Madeleine?”

“Dia keluyuran,” sahut Hero cuek. Key langsung terbahak.

“Kemana? Mall? Bar? Atau toko buku?” cibirnya. Hero menyeringai, lalu menjitak Key kejam.

“Dia keluyuran di belakang. Dia kan animal lovers, kau tak tahu sifatnya,” dengus Hero. “Kau di sini denganku, tuan Key, dan sayangnya pikiranmu seperti buku cerita anak-anak,”

“Lalu?”

“Ah, lupakan saja. Mungkin aku melantur,” Hero mengibaskan tangannya lalu berbalik meninggalkan Key. Tapi sebelum ia benar-benar meninggalkannya, ia kembali berbalik dan menatap Key sejenak dengan tatapan seriusnya.

“Kau… bisa mendeteksi sihir, kan?”

“Kenapa?”

Hero mengangkat bahu dan kembali mengubah air mukanya. “Tak apa. Hanya gunakan saja pelajaranmu selama tujuh tahun di sekolah itu,”

___

Konkuk University, Seoul

a day

Namja pengusaha yang kaya raya, wah, kehidupanmu terjamin, eh, Baek Chan Gi?” cibir seorang yeoja yang mengenakan head set besar melingkar di lehernya. Chan Gi yang duduk di tangga di sampingnya hanya mencibir.

Nde, itu lebih baik oke, daripada aku menerima si Soya been cake itu,” terang Chan Gi sedikit sebal. “Harusnya aku membawa si kunyuk Yoo Geun itu ke sini,”

“Mau pamer, gitu?” sindir yeoja itu lagi. Chan Gi memeletkan lidahnya, lalu membenarkan letak jepit rambutnya.

“Iya dong, aku sedang mengambil S-2 ditambah suami kaya. Apa gitu yang kurang?”

“Hiyaa~~ dua perawan ngobrol berdua saja. Enaknya ditemani satu namja dong…” seseorang mengagetkan kedua yeoja itu dari belakang. Chan Gi bergidik, lalu melemparkan tatapan kesal pada namja yang bernama Hoya dan sedang berusaha mengalungkan kedua tangannya di leher kedua gadis itu. “Ya, Do Hwaeji, kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Menyingkir kau, Soya, atau rasakan bogem mentah dariku,” desisnya geram sambil melirik tangan Hoya yang nangkring di bahunya dan bahu Chan Gi.

“Wetss… jangan galak gitu dong, men. Jadi takut badai nih..” Hoya cengengesan sambil melepaskan tangannya dari bahu Chan Gi maupun Hwaeji.

“Untuk apa kau ke sini?” tanya Chan Gi dingin.

“Dia sudah ada yang punya, Soya-been-cake  , jadi kau tak perlu mengejar-ngejarnya lagi,” tegur Hwaeji menyeramkan. Chan Gi mengangguk kecil membenarkan pernyataan Hwaeji, disusul Hoya yang menatap aneh ke arah mereka berdua.

“Kalian pikir aku percaya? Mana namja-mu itu, hadapi aku dulu,”

“Idi, kau siapa, aku siapa. Apa hubunganmu denganku memangnya?” tantang Chan Gi, emosinya mulai tersulut. Hwaeji menggelengkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya.

“Sudahlah, Chan Gi, jangan hiraukan si Soya-been-cake ini. Kita pergi saja, di sini lama-lama bisa gila,” gumam Hwaeji sambil menarik tangan Chan Gi menjauh dari arena itu.

__

A hospital, Seoul

“Dia suka menolong, dan kupikir ini adalah tempat pertama yang akan ia kunjungi,” gumam seorang wanita berambut pirang bergelombang dengan paras yang amat sangat cantik. Ia melangkah hati-hati di lorong sebuah rumah sakit, dengan tatapan tajam ke seluruh sudut tempat itu. Tangan kanannya tersembunyi di balik blazernya, menggenggam sebuah tongkat yang merupakan modalnya untuk bertahan di tempat itu.

“Selamat pagi, aggashi,” sapa seorang perawat pada wanita itu ramah. Wanita berambut pirang itu tersenyum sedikit, ia hanya membalas senyum perawat itu karena sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan perawat itu.

“Shh.. aku tak bisa melacaknya jika menggunakan cara Munggle seperti ini. Key, Kim Key, kau benar-benar membuatku gila,” gumamnya teramat sangat pelan.

__

A forest, France

“Apa katamu, Chase?” tanya Tiffany dingin. Memandang pria yang bertelanjang dada di hadapannya dengan pandangan risih. “Akal sehatmu benar-benar hilang, ya? Setelah naksir manusia, sekarang kau menyukai kaumku?”

“Dia memang kaummu, tapi itu tak akan berhubungan denganku,” sahut Chase dingin.

“Kau gila ingin menyusulnya kesana,”

“Bukan seperti itu, Tiff, aku merasakan sesuatu akan terjadi di sana,” ucap Chase dengan kening berkerut. Tiffany mencibir.

“Chase, aku ingin kau sadar. Tidak sepantasnya kau berbuat seperti ini—argh, kenapa semua orang jadi buta karena cinta, hah?!” erangnya kesal sambil menjambak sepucuk rambutnya.

“Termasuk kau, kan? Sayapmu berubah,” sahut Chase tenang. Tiffany meliriknya tajam.

“Kau belum imprint, Chase. Jadi lepaskanlah Jessica. Suatu saat nanti, kau akan mengalami imprint dan melupakan Jessica,” tukas Tiffany sedikit bergetar. “Aku temannya, Chase, dia kaumku, jumlah kami mulai menipis karena—“ Tiffany menghembuskan napas lagi, “Lagipula, kami tidak hidup. Kau ingat? Kami diciptakan untuk mengantar jiwa-jiwa yang menjadi mangsa kami, atau jiwa-jiwa lain ke alamnya. Sedangkan kau memiliki jiwa, daging, kehidupan, kau lebih baik bersama seorang manusia daripada…”

“Hentikan ucapanmu itu, Tiff,” potong Chase dingin, “Katakan pada Kevin dan Max, kalau dia mau berkeliaran, katakan itu pada Chansung. Aku akan segera meninggalkan tempat ini,” ujarnya kaku, lalu melangkah menjauhi Tiffany.

Wushh..

Tiffany mendesah melihat sosok Chase yang sudah berubah menjadi seekor serigala berbulu cokelat, melangkah menghilang di balik pepohonan tinggi yang rapat. Ia mengalihkan pandangannya, dan kembali melangkah pulang.

“Setidaknya kau sudah kuperingati, Tuan Chase, tapi inilah pilihanmu, jangan salahkan aku bila aku bisa mengira apa yang akan terjadi selanjutnya,”

__

Jung Company Building, Seoul

Jessica merapikan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya, berbagai macam gambar dan file. Ia berbalik dan cepat-cepat membereskan meja kerjanya ketika telinganya menangkap suara sepatu dari lift yang jaraknya beberapa meter dari meja kerjanya. Ia menyelipkan rambut blonde-nya ke belakang telinganya, dan mulai memeriksa lagi gambar yang masih menjadi beban tugasnya.

“Miss Jung?” tegur seseorang yang berdiri di hadapannya. Gila, apakah manusia akan tetap seperti ini? Langkah kaki yang terlalu keras, bau yang menyengat, dan gerak-gerik yang mudah dikenali. Aku nyaris membuka kedokku, pikir Jessica sambil mendesah. Sedetik kemudian ia tersenyum manis.

Nde?”

“Anda dipanggil direktur. Segera,” ujar namja itu, lalu melangkah menjauhi meja kerja Jessica. Jessica mengerutkan keningnya, ia sedikit berdecak.

“Untuk apa ya? Apa gambarku ada yang kurang memuaskan?” gumamnya bingung. Sedetik kemudian ia membuyarkan pikirannya itu, berdiri dan menyiapkan mentalnya apa bila ia benar-benar akan kena damprat oleh direkur.

__

Knock

Knock

Knock

“Masuk,” sahut suara dari dalam. Jessica membuka pintu kaca itu, lalu melangkah masuk dengan sedikit ragu.

Sajangnim, anda memanggil saya?” tanya Jessica. Namja yang sedang duduk di kursi direktur dan sedang memeriksa bebrapa hasil kerja anak buahnya hanya mengangguk.

“Kau kemari. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu,” ujarnya sedikit dingin. Jessica mengangkat sedikit bahunya, namun ia menuruti perkataan Jung Yoogeun itu. Ia melangkah mendekat, menarik kursi lalu duduk di hadapan Yoogeun.

“Apa yang ingin anda tanyakan?”

“Kau benar-benar sudah yakin dengan gambar ini? Kenapa nampaknya biayanya lebih ringan? Apa kau salah hitung?” tanya Yoogeun bingung sambil menunjuk sketsa bagunan  dengan kertas HVS di tangannya pada Jessica. Ia juga menunjukkan berkas yang menunjukkan spesifikasi tentang bangunan itu. Jessica mengangguk yakin.

“Ne, aku yakin sajangnim. Aku sudah melakukan penelitian, dan memang hasilnya segitu. Aku sudah memilih harga yang paling baik, dan aku yakin aku sama sekali tidak keliru,”

“Tapi ini 10% lebih murah daripada membangun apartemen bintang lima waktu itu. Apa kau yakin?”

“Anda bisa mempercayakan itu padaku, sajangnim,” ujar Jessica lugas. Yoogeun terdiam sejenak.

“Apakah ini benar kau, Jessica?” tanyanya parau. Jessica mengerutkan keningnya.

“Apa maksud anda, sajangnim?” tanya Jessica bingung. Semoga firasatnya tidak benar, semoga firasatnya tidak benar…

“Haha, aniya, lupakan saja kata-kataku barusan. Kau boleh kembali ke tempatmu,” ujar Yoogeun kaku lalu mengisyaratkan Jessica untuk kembali dengan tangannya. Jessica hanya menatapnya, membungkuk lalu pergi dari hadapan Yoogeun secepat kilat.

“Jika kau benar Jessica, maukah kau kembali padaku?” gumam Yoogeun lirih, terdengar hampir frustasi.

__

Konkuk University, Seoul

“Waw, Baek Chan Gi, kau benar-benar sedang di mabuk asmara, rupanya,” ungkap Hwaeji sambil memainkan sumpitnya. Kini dua orang yeoja itu sedang asyik menikmati makan siang mereka di sebuah kedai di dekat kampus mereka. Chan Gi hanya tersenyum senang.

“Tentu saja, Do Hwaeji, temanmu ini benar-benar sedang bersuka ria, haha,” sahut Chan Gi sambil melahap kimbapnya, lalu menyeruput kimchi jigae-nya. Hwaeji menatapnya tak percaya.

“Kau menyeruput jigae-nya seperti itu? Astaga, itu pedas sekali kawan!”

“Ya, aku sedang mood untuk makan pedas, jadi biarkan aku dulu, oke?”sahut Chan Gi cuek.

So beautiful my girl, oh oh girl, oh oh girl sigani jinado~

Nuguboda naega deo deo deo, neorul  halke julke my girl~

Chan Gi cepat-cepat menyambar ponselnya yang tergelatak di dalam tasnya ketika mendengar nada dering pesan masuk di ponselnya. Ia membuka flap-nya, lalu bertopang dagu sambil tersenyum tipis.

From : Yoogeunnie~

Sudah makan?

Hwaeji mendengus pelan, lalu melirik Chan Gi. “Namja-mu lagi,eo?” tanya Hwaeji polos. Chan Gi hanya mengangguk sambil tersenyum.

Ne, geuromnyo. Hehe…”

“Huh, enaknya yang punya pasangan. Lain kali aku juga mau cari ah~” gerutu Hwaeji dengan wajah ditekuk. Chan Gi hanya terkekeh sambil mencubit pipi sahabatnya.

“Makanya, jangan memperhatikan partiturmu terus, Do Hwaeji, sesekali kecenginlah itu anak-anak teknik, kata Sulli mereka yang paling the best di universitas kita,” sahut Chan Gi serius sambil mengacungkan jempolnya. Hwaeji mencibir sebal.

“Siapa? Si Lee Gikwang itu? Cih, aku saja muak melihat tampangnya,” sahut Hwaeji kesal. Chan Gi melongo.

Mwo? Lee Gikwang? Ani! Maksudku itu si Kang Minhyuk! Aigoo, kau begitu memperhatikan Gikwang ya? Ckckck…”

Aaniya! Cih, awas kau Baek Chan GI!”

__

Seorang wanita dengan rambut pirang bergelombang melangkah menelusuri trotoar setelah keluar dari rumah sakit yang tadi ia kunjungi. Ia tak habis pikir, darimana datangnya ide untuk mencari pria incarannya di sebuah rumah sakit? Wanita itu mendesah, lalu menjatuhkan tatapannya ke atas semen trotoar. Ia terus melangkah dengan ritme yang sama, hingga tiba-tiba sebuah lengan mencekalnya.

Aggashi, neo gwaenchanna?” sebuah suara terdengar dari belakang wanita itu. Wanita itu mendongak, lalu menatap pencekalnya dengan alis berkerut.

What?” tanyanya. Si pencekal terdiam, sebelum akhirnya kembali bersuara.

“Kau… tak mengerti bahasa Korea, ya?” ujarnya tiba-tiba dengan bahasa Inggris. Wanita berambut pirang itu hanya mengangguk. “Tadi kau hampir menabrak tiang listrik. Apa kau baik-baik saja?”

“Hm, yeah,” jawab wanita itu diiringi dengan senyum tipis.

“Namaku Lee Son Hee. Kau?”

“Ariana. Ariana Clearwater. Senang berkenalan denganmu, nona Lee Son Hee,” Ariana meneliti gadis di hadapannya cermat. “Kau… dokter?”

“Ya, aku baru baru bekerja beberapa hari lalu. Apa yang kau lakukan di sekitar rumah sakit ini? Apa kau sakit?” jawab Son Hee panjang. Ariana menggeleng.

“Tidak. Aku… hanya ingin memastikan sesuatu,” jawab Ariana agak pelan. Son Hee mengangkat sebelah alisnya heran.

“Jadi kau ke Korea untuk mencari sesuatu?” tanya Son Hee hati-hati. Ariana terdiam, tak menyangka wanita di depannya ini sangat teliti.

“Begitulah kira-kira,” Ariana mengangkat lengannya untuk merapikan rambutnya sejenak, tapi tiba-tiba…

Tuk…

Sesuatu yang panjang jatuh dari balik jaketnya. Mata Son Hee menatap benda yang terjatuh itu lekat-lekat, sebelum dengan sigap diambil oleh Ariana dan kembali menyembunyikannya.

“Ah, aku sepertinya tahu siapa kau, nona,” ujar Son Hee dengan senyuman miring, “Kau penyihir, kan?” lanjutnya yang membuat Ariana mendelik. Ia mengeluarkan lengannya yang tengah memegang tongkat sihir itu dan mengarahkannya pada Son Hee.

“Kau tahu penyihir, nona? Wah, berarti kau cukup luas wawasannya,” sahut Ariana dingin. “Obliviate!”

Tapi tak bereaksi, meski tongkat Ariana berpendar mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Son Hee menutup matanya, lalu mendesah pelan.

“Tidak akan berfungsi padaku, Ariana,” gumam Son Hee agak licik. “Kveta Fricai,”

Kening Ariana berkerut mendengar kata-kata aneh yang keluar dari mulut Son Hee. Tiba-tiba matanya mendelik ketakutan. “Kau…”

“Kau tahu siapa aku?” tanya Son Hee tenang. Ariana membeku. Ia menyesali sudah melempari wanita berjubah putih itu dengan Jampi Memori yang jelas-jelas tak akan memberikan efek apapun, justru malah membuat dirinya dikenali.

“Cukup tahu,” gumam Ariana kaku, lalu mendesah. “Maafkan aku,”

“Tak apa. Lalu apa alasanmu di sini, tanpa modal bahasa Korea dan orang yang menjadi guide-mu?” tanya Son Hee to the point karena ia sudah mengetahui jati diri wanita yang berdiri di hadapannya kini.

“Aku ingin merebut apa yang harus aku dapatkan,” gumam Ariana pelan, merasa percuma bila ia menyembunyikan tujuannya berkelana di Negeri Gingseng itu. “Dan aku baru saja bertemu dengan guide-ku,”

“Kau memintaku menjadi guide-mu? Apa imbalan yang akan kudapatkan?” tanya Son Hee curiga. Ariana tersenyum manis.

“Apapun,”

__

An Old Castle, South Korea

a sunlight day

Afternoon, Jess,” Key menyerukan nama Jessica yang baru saja membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kastil. Jessica mendongak, lalu tersenyum tipis.

“Hai, Key,”

“Elias belum pulang?” tanya Key bingung. Jessica hanya menggeleng, lalu melangkah mendekati Key.

“Apa yang kau lakukan?”

“Eh? Tidak, bukan apa-apa. Hanya mengedit beberapa foto yang harus kuserahkan pada editor besok,”

“Oh, kau seorang fotografer?”

Key melirik Jessica sinis. “Kau menghinaku, ya?”

“Kupikir kau mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanmu paling terakhir,” ungkap Jessica acuh. Key memutar bola matanya.

“Aku tidak bisa pisah dengan Gyuri,” ujarnya. Jessica mencibir.

“Bohong,”

“Hehe, tapi memang ada alasan lain, sih,” ujar Key lagi sambil mengalihkan pandangannya ke program Photoshop yang ada di layar monitor di hadapannya.

“Apa?”

“Tapi kau jangan menertawaiku, ya,” balas Key sambil menatap Jessica sejenak. “Aku hanya kesal dengan gadis berambut pirang yang selalu mengekoriku di tiap sudut bangunan Hogwarts,”

“Maksudmu? Ada gadis yang naksir kau ya?” tanya Jessica jahil. Key mendengus, lalu mencubit lengan Jessica gemas. “Aduh, kau bukan manusia, tahu!”

“Kalau aku manusia, aku sudah makan nasi dan minum air putih,” sahut Key jengkel. “Namanya Ariana, dia sangat cantik, kau tahu,”

“Kenapa tidak kau pacari saja dia,” usul Jessica asal. Key mengerutkan keningnya.

“Aku tidak mau dan tidak bisa,” sahut Key datar. “Dia setengah Veela, setengah manusia. Makan nasi dan minum air putih, memiliki darah dan jiwa. Aku?”

“Makan jantung, darahmu berbeda dari spesies lainnya, dan tak berjiwa. Ya, ya, aku mengerti,” sambung Jessica sambil mengangguk mengerti. Key tersenyum kecut, dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya. “Kau menyukainya?”

“Awalnya aku sama sekali tidak risih dengan keberadaannya, tapi dia makin lama makin menjengkelkan,”

“Terserah kau deh. Eh, tapi hanya kita berdua di sini?” tanya Jessica tiba-tiba. Key mengangguk kalem.

“Entah kesambet setan apa, si Hero mencari pekerjaan. Ah, tidak, tidak. Dia mendapat pekerjaan,” ujar Key sambil merenyit sendiri. “Dan Taylor, oh, jangan ditanya. Eve yang menyamar sebagai manusia bernama Kim Jonghyun itu tidak akan pulang kalau belum subuh,”

“Oh, ya. Tapi Gyuri? Well, tak biasanya dia pulang larut, menjelang senja begini,”

“Jangan tanya padaku, aku bukan mahkluk serba tahu,” balas Key agak kesal. Jessica mengerucutkana bibirnya sejenak, lalu melangkah mendekati sofa dan menghempaskan dirinya di sana.

“Ng… Key, kau sudah mendapat mangsa lagi?” tanya Jessica pelan. Key menghentikan gerakan mouse-nya, lalu berbalik menatap Jessica.

“Ya. Dia seorang gadis, kurasa. Nanti akan kuselidiki,”

__

Tuk…

Tuk…

Suara langkah sepatu samar-samar terdengar. Seorang gadis dengan gaun satin putih melangkah pelan, tangannya dingin dan gemetar. Keringat dingin membasahi keningnya, degup jantungnya berpacu seperti kuda yang tengah berlomba di arena pacuan kuda.

“Halo?” tanyanya gugup. Ia tak bisa melihat apa-apa, karena tak ada setitikpun cahaya di tempatnya berpijak saat ini. Yang ia rasakan hanyalah area tempatnya melangkah, terasa sangat keras dan dingin, serta suaranya yang menggema jauh. Ia melebarkan matanya ketika melihat segaris cahaya vertikal menyambut penglihatannya. Langkahnya mendekati cahaya itu semakin cepat, seiring dengan perasaan gelisah yang di alaminya saat ini.

Ia mengangkat tangannya, berusaha menggapai sesuatu ketika cahaya itu nampak melebar. Dan benar saja, sebuah dinding yang sedingin es menyambut telapak tangannya yang hangat. Ia terkesiap dan melepaskan tangannya, lalu memperhatikan tangannya. Ia mendelik ketika melihat noda kemerahan di telapak tangannya, bersamaan dengan bau anyir bercampur busuk yang terkandung di dalamnya. Baru di sadarinya bahwa dinding itu terdiri dari darah beku.

Ia mendongak, lalu mendelik melihat sesosok pria tengah menatapnya dengan seringaian menakutkan. Bibirnya berlumuran darah, bajunya seperti terobek, menampakan absnya yang terlihat tegas dan kaku. Saat pria itu melebarkan seringaiannya, nampak sepasang taring yang berkilat terkena cahaya yang sedikit redup itu.

“Kau… takdirmu… harus mati ditanganku…” gumam pria itu sambil melangkah mendekat. Bau anyir makin menusuk hidung gadis itu, membuatnya membeku, tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya barang 1 inci pun.

Tangan pria itu yang penuh dengan darah pekat, mengelus pipi gadis itu pelan. Nafas gadis itu makin menderu seiring dengan makin dekatnya wajah menakutkan pria itu ke wajahnya…

“AAAAAAAAKKHHH……”

“Chan Gi-ya.. ireona!”

Sebuah suara samar-samar terdengar di telinga Chan Gi, bersamaan dengan guncangan di bahunya. Chan Gi membuka kedua matanya, nafasnya tersengal dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya.

“Sayang, kau tak apa?” tanya eomma-nya khawatir. “Mimpi burukkah?” lanjutnya sambil mengelus kepala putrinya yang kini sudah terduduk.

Chan Gi berusaha meredakan napasnya, lalu berpaling menatap eommanya. “Ne, eomma. It’s scary…” tiba-tiba Chan Gi mulai terisak.. “Eomma terbangun, ya?”

Ne, kau mengigau saat tidur. Appa juga terbangun, ia sedang menonton televisi,”

Mianhae eomma…” gumam Chan Gi bersalah. Nyonya Baek mengelus rambut putrinya lembut.

Gwaenchana. Eomma temani sampai kau tertidur lagi, arra?” balas Nyonya Baek. Chan Gi hanya bisa mengangguk pasrah, dan kembali membaringkan dirinya di ranjangnya.

To Be Continued…

EOTTEEEE??? MAKIN PENASARAN GAAK?? ADA TYPO LAGI YAK??? #jedukh Aku mulai tambah hati-hati dengan typo, jadi mohon bantuannya yaa *bow*

Neext?? mudah-mudahan cepet lagi yakk😄 doakan saja #plakk

Gomawo dah yang udah baca FF aneh nan absurd ini, kritik dan saran serta komennya di tunggu loh!!😄

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 8

  1. Kyaaaaaaaaa!akhirny dilanjutin juga!DAEBAK!penasaran nihhhh!kok ad ariana, jgn” dia nyari key, ohh nooooo!key sama jessica ajaaaa-,-

    Next chap jgn lama” kayakgini deh thor!ditunggu ne

    1. kalo ga dilanjutin pasti adaaaaaa aja yang protes. Apalagi kalo udah dapet lampu merah dari si dirkektur *lirik ava Lana eon yang nyantrung di atas*

      Yeeeee ini mah kebetulan doang atuh neng!!! next masih berkabut tebal niih!! Doain cepet ya!! XDD
      Gomawooooohh :*

  2. wah udah lama ga mampir ke blog ini jadi ketinggalan banyak deh~
    udah part 8 lagi ya? kke~ daebak!

    eon seneng banget bikin penasaran ya? hehe –”
    itu Key baru 10 tahun bisa bikin Jessica kaya gitu? lucu masa. wkwk

    Next partnya ditunggu ya ^^

  3. wiiihh lanjutannya udah ada hahaha
    makin penasaran!!! Tokohnya terus brtambah nih haha mana kadang2 aku lupa lg sama tokoh yg di part sbelumnya, jadi harus mikir dulu deh-,- *curcol haha
    seru banget! Suka sama ceritanya + cara pnulisannya🙂 author daebak!
    Lanjutannya jgn lama2 ya thor, ditunggu ^,^

    1. Udaaah, tokoh lama jangan dibaahas lagi. Cuma beberapa yang nongol lagi kok. Karena cast baru ada 1-2 lagi yang mau nongol. *alamak, alangkah panjang ini cerita*
      Iyakah?? banyak yang lebih daebak dari ini😀
      Gomawooooo gomawo gomawo *cipok*

  4. Huaaaa ff ini kambek (?) lagi😀
    Cieeee, lagi2 aku penasaran sama kelanjutannya, kkk~
    Ariananya muncul lagi nihh, asiikk
    Duh jujur, merinding pas bagian pertamanya, scene itu yg bikin tegang thor
    Typonya gak bisa aku liat, terlalu bagus sih :p
    hehehe, overall is great thor😀
    saya tunggu part selanjutnya, oke

  5. si ariana nyariin key?? whatttt??!! #lebay
    wah.. wah jess ada saingannya nih. trus si chase kok gk muncul? kok jd kangen ama tuh serigala ya? tp di chap ini imajinasiku kurang terbang (?) mungkin karna udh gk di hogwarts lagi ya?

    bykin peran key dong… tambahin yg manis manis pasti lebih seru #emngnya manisan? #plak maksudnya ada adegan romantisss gitu🙂

    mau ngomong apa lg ya? udh deh yg penting cepet post ya

    1. Iya. Huakaka, hidup tak seru tanpa petualangan kk!
      Tenaaaang sayang suatu saat Chase nongol lagi, TENAAAANg #PLAK!!
      Hish, padahal Hogwarts sebenernya cuma mau dijadiin selingan -_-”
      AAAAA adegan romantis? Waduh, di sini lebih menonjol ke crime nya T^T
      Kuusahakan yaaa😄
      Sipp.. doakaaan😄
      gomawoo *cipok*

  6. kyaaaa aku udah lama ketinggalan partnya masa T3T dari part 4 qaqa u,u lama gak update :v muuph ea admintorrr X3 tenang aku mau baca dari part 1 lagi kok -_-v
    RCL juga :v

    part ini keren banget sumveh😄 like thisss😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s