Broken Home VS Broken Heart – Part 9

Title : Broken heart vs Broken home part-9

Author : Silvi a.k.a Lee Kyung Mi

Main Cast : Choi Minho, Park Jiyeon

Support Cast : Kim jonghyun

Kim Kibum

Song Yoo Jin , etc

Length : Sequel

Genre : friendship, romance

Rating : PG-13

“Omo! Eotteokhae, Minho-ah? Eotteokhae?” tanyanya frustrasi sembari meneteskan air matanya.

“Kau harus tenang, Kyung mi-ah.”

“Bagaimana aku bisa tenang? Dia tidak ada dimana-mana!”

“Ya! Kalian kenapa?” Tanya Onew hyung.

“Oppa!” teriak Kyung mi sembari memeluk hyung.

“Apa yang terjadi? Kyung mi-ah, Minho-ah, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau menangis?” Tanya Onew hyung sembari melepaskan pelukkan Kyung mi dan menatapnya.

“Jiyeon tidak ada dimana-mana. Kami sudah mencarinya ke semua ruangan, tapi hasilnya tetap sama. Nihil.” Ucapku menjelaskan.

“Aku tadi melihat Jiyeon sedang berbicara dengan dua orang yeoja di toilet.”

“Lalu mereka kemana, hyung?” tanyaku. Kini, aku benar-benar khawatir. Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan? Apa Jiyeon baik-baik saja? Ya! Jiyeon-ah! Kau ini membuatku khawatir! Aku sangat mencemaskan-mu. Sebenarnya kau ada dimana???

“Di toilet.” Jawab Onew hyung.

“Omo! Yeoja itu!”

“Mwo? Wae?” tanyaku bingung.

“Sebaiknya kita cari dia segera! Sebelum dia…kenapa-napa!” katanya yang berhasil membuatku shock. Apa yang dikatakannya barusan? Apa Jiyeon akan terluka? Aiigo!

“Sebenarnya ada apa?” Tanyaku dan hyung hampir bersamaan.

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Lebih baik kita mencarinya lagi. Kali ini, kita harus menemukannya!”

“Ne. Oh iya, hanya satu-satunya tempat yang belum kita kunjungi. Kajja!” ucapku setelah teringat tempat yang belum sempat kami lihat. Atap sekolah!

Author P.O.V

Dua orang yeoja kini menyeret Jiyeon dengan paksa dan kasar, sehingga membuat Jiyeon kesakitan. Kini airmatanya tak dapat ia bendung lagi, tentu saja kerena Jiyeon ketakutan, dia tidak tahu akan dibawa kemana dan apa yang mereka inginkan.

Mereka segera melepaskan tangan mereka dan membuat Jiyeon jatuh kesakitan saat tiba disuatu tempat yang tak lain adalah atap sekolah.

“Kenapa kalian membawaku kesini?” Tanya Jiyeon lirih disela-sela tangisannya.

“Kau masih bertanya?!” kata yeoja bernama So yeon.

“Sudahlah, hentikan tangisanmu!” bentak Seo jin, Jiyeon pun berusaha menghentikan tangisannya, walau masih terdengar isakan kecilnya.

“Kau ingin tahu apa yang membuat kami membawamu kesini?” Jiyeon hanya menggangguk.

“Karena kau masih dekat dengan Minho!!!” teriak Seo jin kesal. Ia tidak mau melihat yeoja yang ada di depannya bisa akrab dengan Minho, tak ada seorang pun yang akrab dengan namja yang ia sukai, hanya dirinyalah yang boleh.

“A…aku..aku sudah berusaha menghindarinya, tapi dia…”

“DIAM!!!” teriak Seo jin yang membuat Jiyeon semakin menundukkan kepalanya.

“Ceritakan pada kami! Kenapa kalian bisa seakrab itu?” ucap So yeon yang membuat Jiyeon tidak tahu harus menjawab apa.

“Ya! Cepat ceritakan!” teriak Seo jin.

“Aku…aku tidak tahu.” Ucap Jiyeon lirih, saat itu pula, Seo jin dan So yeon mendekati Jiyeon. Seo jin mengangkat dagu Jiyeon dengan paksa.

“Kau tahu kana pa akibatnya kalau kau tidak menjauhi Minho? Iya kan?! Jadi, cepat kau jauhi dia!!!”

“Aku sudah menjauhinya seperti yang aku bilang tadi, Minho yang mendekatiku.”

“Jadi, Minho menyukaimu, iya?!”

“Aku tidak bicara seperti itu.”

Plak!

Kini So yeon menampar pipi kiri Jiyeon, membuat Jiyeon meneteskan airmatanya dan memegangi pipinya.

“YAA! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN, HUH?!!!” teriak Minho sembari berlari kearah Jiyeon. Dengan cepat, Seo jin dan So yeon pun menghindar dari Jiyeon. Minho tak mempedulikan mereka, tapi ia mempedulikan Jiyeon. Minho segera menarik Jiyeon dalam pelukannya dan membiarkan Jiyeon menangis dalam pelukannya.

“Apa yang telah kalian berbuat, huh?!” ucap Kyung mi menghampiri Seo jin dan So yeon.

“Kami hanya membuat perhitungan padanya! Kami hanya menamparnya, itu saja!” ucap Seo jin, membuat Kyung mi menganga dengan mata yang melebar.

“MWO?!!” kata Kyung mi, Onew dan Minho bersamaan.

Plak! Plak!

Kini Seo jin dan So yeon mendapatkan tamparan dari Kyung mi yang setimpal dengan yang mereka lakukan pada Jiyeon. Kyung mi benar-benar kesal dan marah. Seenaknya saja mereka menampar sahabatnya seperti itu. Dan baru kali ini Kyung mi melakukan hal itu, sebelumnya ia tak pernah berani menampar siapapun.

“Jangan pernah kalian melakukan hal seperti itu lagi!!!” bentak Kyung mi.

“Sekarang kalian harus minta maaf pada Jiyeon!” ucap Onew bijak. Bukannya menghampiri Jiyeon, Seo jin malah menarik Minho untuk bisa terlepas dari Jiyeon.

“Kyaa! Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?!!” Teriak Minho sembari melepaskan Jiyeon. Onew dan Kyung mi pun segera menarik Seo jin dan membawa Seo jin serta So yeon pergi dari tempat itu.

Kini hanya ada Minho dan Jiyeon. Minho pun menatap Jiyeon yang masih mengeluarkan airmatanya, segera Minho memeluk Jiyeon dan membiarkan airmatanya membasahi baju seragamnya.

Setelah merasa lega dan bisa menenangkan dirinya sendiri, Jiyeon pun melepaskan pelukan Minho dan menyeka airmatanya.

“Mianhae…” ucap Jiyeon lirih.

“Gwaenchana. Sebenarnya apa yang terjadi? Bisa kau ceritakan?” Tanya Minho hati-hati.

“Mianhae, aku…aku tidak bisa menceritakannya sekarang.” Jawab Jiyeon.

“Ne, gwaenchana. Yasudah, aku antar kau pulang. Kajja!” ajak Minho sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Jiyeon berdiri.

“Kau tunggu disini! Aku akan mengambil tas-mu, arasseo?” Jiyeon pun hanya mengangguk.

Tak lama kemudian, Minho datang dengan membawa tas dan hoodie milik Jiyeon. Jiyeon pun segera memakai hoodie-nya dan tas ranselnya.

“Pakai ini!” perintah Minho pada Jiyeon sembari memberikan helm. Jiyeon pun hanya menuruti apa yang di perintahkan Minho.

***

Setelah mengantar Jiyeon ke rumahnya, Minho pun kembali ke sekolah, tapi hanya menunggu di depan gerbang dan menunggu mereka keluar dari sekolah, kerena tak mungkin Minho masuk lagi setelah ia izin pulang.

Tak lama kemudian, terlihat empat orang berjalan kearahnya. Tak salah lagi, mereka adalah Onew, Kyung mi, Seo jin dan So yeon.

“Apa yang sudah kalian lakukan pada Jiyeon sampai dia seperti itu, huh?” Tanya Minho segera.

“Aku menyuruhnya untuk menjauhimu, karena aku menyukaimu, Minho-ah. Aku tak mau ada seorang pun yang kau khawatirkan dan akrab denganmu. Hanya aku!” ucap Seo jin.

“Ooh, jadi kau yang membuatnya seperti itu! Ya! Kau dengar ya! Aku-sama-sekali-tak-menyukaimu! Jadi, berhentilah bertindak konyol seperti ini!!! kalau kalian mengulangi hal ini lagi, aku akan melakukan hal yang sama yang kalian lakukan padanya. Arasseo??!!”

“Baiklah, jika itu membuatmu bahagia. Tapi, asal kau tahu saja, aku benar-benar menyukaimu.” Ucap Seo jin lirih. Kini dia mengalah, dan sadar kalau Minho sama sekali tak menyukainya.

“Gomawo kau sudah menyukaiku, bagaimana kalau kita berteman?” kata Minho sembari tersenyum. Seo jin pun mengangguk senang. Onew dan Kyung mi yang mendengarnya pun hanya tersenyum.

“Lalu, kau?” Tanya Minho pada So yeon. So yeon pun mengangguk, walaupun dia hanya mengikuti sahabatnya itu.

“Heeem…aku tidak tahu nama kalian, dan kau, aku lupa.” Kata Minho sembari menunjuk Seo jin.

“Jung seo jin imnida. Jangan sampai kau lupa lagi ya!” Minho hanya mengangguk.

“Kang so yeon imnida.” Lagi-lagi Minho hanya mengangguk.

“Oh iya, kalian tidak mau memperkenalkan diri?” Tanya Minho pada Kyung mi dan Onew.

“Aah, ne. Lee kyung mi imnida. Mianhae sudah menampar kalian tadi.” Ucap Kyung mi sembari membungkukkan badan.

“Gwaenchana, seharusnya kami yang minta maaf, karena…”

“Ya! Kenapa kita harus membicarakan ini lagi?” kata Minho yang memotong pembicaraan So yeon. Mereka pun hanya tertawa.

“Lee jinki imnida, panggil saja aku Onew.”

“Ne…” ucap Seo jin dan So yeon bersamaan.

***

Jiyeon P.O.V

Aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam rumah, tapi, aku menghentikan langkahku saat mendengar tangisan eomma. Wae? Kenapa eomma menangis? Apa karena appa? Apa yang appa lakukan pada eomma? Aisshh!!!

“Ya! kenapa kau selalu menyakiti perasaanku?! Sekarang, aku sudah tidak bisa bersabar. Kau pilih aku atau yeoja itu?!!” kata eomma sembari mengeluarkan air mata. Kenapa jadi seperti ini? Kenapa keluargaku berantakan seperti ini? Ini semua karena yeoja sialan itu! Dia sudah merebut appa dari eomma.

“Aku memilihnya, aku lebih memilihnya. Kau tahu kenapa aku begini? Kerena…kerena kau tak ada waktu untukku, kau selalu memikirkan kerja. Kerja. Dan kerja!”

“Baik, jika itu pilihanmu. Maka, sekarang juga kita akan bercerai!!!” kata eomma yang membuatku shock. Kini kakiku lemas, dan aku sudah tidak dapat menopang tubuh lagi. Aku pun terduduk di teras.

“Ya! bagaimana Jiyeon?” Tanya appa.

“Dia akan ikut bersamaku.” Kata eomma.

“Tidak bisa. Kau tidak boleh egois. Aku juga ingin bersama anakku.”

“Baik, kau maunya bagaimana?”

“Aku ingin sebulan, Jiyeon dirumahku dan sebulan dirumahmu. Arasseo?!”

“Ne, arasseo.” Ucap eomma.

Kini aku tidak tahu harus bagaimana. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Kini aku kembali mengeluarkan airmata. Aku pun berlari, walaupun aku tidak tahu aku mau kemana. Yang jelas, aku bisa bebas dari mereka. Aku tidak mau bersama appa, aku pun tidak mau bersama eomma. Aku hanya ingin tinggal bersama mereka berdua. Tetapi, mereka yang menyenangkan. Bukan yang seperti ini!

Aku terus saja berjalan dengan keadaanku yang seperti ini, kepalaku pusing wajahku yang dibasahi oleh airmata. Sampai akhirnya aku melihat kendaraan beroda empat melaju kearahku dengan kecepatan tinggi, aku pun tidak bisa menghindarinya.

“AAAAA!!!” Aku hanya bisa berteriak dan semuanya menjadi gelap.

***

Key P.O.V

Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ya, memang seperti biasanya aku selalu seperti ini.

Ciiiiitttt….

Aku mengerem mobilku mendadak, karena aku merasa aku telah menabrak seseorang, aku benar-benar sangat panik. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku pun segera keluar dari mobil untuk memastikan keadaan orang yang aku tabrak tadi.

“Jiyeon-ah?! Ya! pabo! Kenapa aku menabraknya? Jiyeon-ah, ileona!!!” kataku sembari mengguncang-guncangkan pundaknya. Aku sangat terkejut saat kulihat siapa orang yang aku tabrak. Badanku benar-benar lemas, lututku lemas seketika dan aku terduduk di sebelahnya, aku memeluknya yang bercucuran darah. Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan? Ya, sebaiknya aku membawanya kerumah sakit.

Aku pun menggendongnya dan memasukannya ke dalam mobil, aku mengendarai mobil dengan kecepatan sangat tinggi, aku tidak mau Jiyeon kenapa-kenapa. Aku sangat sayang padanya, lebih baik aku saja yang begini daripada dia. Akhirnya aku sampai di rumah sakit terdekat. Dokter pun segera menanganinya, aku sangat merasa bersalah, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa pada Jiyeon.

Ya, lebih baik aku menelepon orangtuanya. Aishh…aku kan tidak punya nomor telepon orangtuanya. Bagaimana ini? Aku harus memberitahu siapa? aah, Minho! Ya, lebih baik aku memberitahu Minho saja.

“Yeoboseyo Minho-ah. Jiyeon…Jiyeon…” kataku terbata.

“Mwo? Jiyeon kenapa?”

“Dia…dia kecelakaan. Palli kau kesini! Kalau bisa, bersama orangtuanya ya!” kataku.

“Ne.” katanya sembari menyudahi pembicaraan kami.

Kini kepanikkanku muncul lagi. Aku khawatir dengan keadaannya. Apa yang terjadi? Apa dia baik-baik saja? Aah, Key pabo! Kenapa kau mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi? lihat! Lihat! Yeoja yang kau sukai sejak dulu jadi seperti ini. Bagaimana ini?

“Key! Bagaimana keadaannya?” Tanya Minho.

“Ya! kau…kau yang menabrak Jiyeon, iya?!!” kata seorang yeoja, yang tak lain adalah eomma Jiyeon.

“Mi…mianhae, ahjumma.” Kataku gugup. Ya, ini memang salahku. Jadi, biarlah aku dimarahi.

“Mworago?! Lihat apa yang sudah kau lakukan!”

“Ahjumma, sudahlah. Dia kan sudah bertanggungjawab dan minta maaf.” Kata Minho. Aku tersenyum kepadanya. Dia sudah menolongku. Aah, gomawo Minho-ah.

“Tapi, jika terjadi apa-apa dengannya, tak akan aku maafkan!!”

Krek !

Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. Aku pun segera menanyakan tentang keadaan Jiyeon.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku, Minho dan eomma Jiyeon bersamaan. Kenapa aku jadi deg-degan begini ya? Aku takut terjadi sesuatu terjadi padanya. Aish…kau ini bicara apa Key?!!

“Dia banyak mengeluarkan darah, sehingga saya membutuhkan darah yang sama dengannya. Dan sebaiknya dia dirawat disini.”

“Aku bisa mendonorkan nya.” Kata Minho di iringi anggukanku.

“Ne, aku juga.”

“Golongan darah kalian sama?”

“Ne, aku sama dengannya.” Ucapku, tapi tak diikuti Minho. Sepertinya, golongannya berbeda.

“Baiklah, mari ikut saya!” aku pun segera mengikuti langkahnya.

Jiyeon P.O.V

Mataku terbelalak saat melihat sekelilingku. Ini bukan kamarku. Aish…ada dimana aku? Kenapa kepalaku di perban? Mwo? Apa aku ada di rumah sakit? Aah, aku ingat, sebelum aku terjatuh dijalan, ada sebuah mobil yang menabrakku. Kulihat Key, Minho dan juga eomma berjalan kearahku.

“Aissshh…” kataku kesakitan saat mencoba bangun dari tidurku.

“Ya! kau mau apa? Kau belum pulih.” Kata Key yang membaringkanku kembali. Aku menatap sesuatu di lengannya.

“Kau kenapa?” tanyaku bingung.

“Igeo…ah sudahlah, tidak usah kau pikirkan.” Aku pun sudah tidak memikirkan hal itu, kini mataku menatap eomma. Aku kembali teringat kejadian itu. Apa eomma dan appa sudah bercerai? Apa mereka sudah berpisah? Apa tidak terlalu cepat? Lalu, dimana appa? Apa dia tidak memikirkanku? Apa appa sudah tidak peduli padaku? Aaarrgghhh…kenapa Tuhan tidak adil padaku? Kenapa aku diberikan keluarga seperti ini?!!

“Apa eomma…dan appa…sudah…” kata-kataku terputus, aku tak sanggup menanyakan ini pada eomma. Airmataku pun sudah tak bisa ku bendung lagi di pelupuk mataku. Perlahan airmataku mengalir, mulai membasahi pipiku. Minho dan Key keluar dari ruangan, lalu dengan segera eomma memelukku dengan erat. Eomma berusaha menenangkanku, tapi tak segampang itu bagiku.

“Belum, Jiyeon-ah. Tapi, appamu sedang memprosesnya. Mianhae, Jiyeon-ah. Eomma tak bisa menjadi eomma yang baik untukmu, eomma sudah membuat kau menangis terus menerus. Jeongmal mianhae, Jiyeon-ah.” Eomma pun tak bisa menahan airmatanya, airmata eomma pun mengalir membasahi bajuku dan aku pun begitu.

“Anniya, bukan eomma yang telah membuatku menangis. Tapi, appa! Appa ! kenapa appa seperti ini pada eomma? Aku benci appa!!! Sangat membencinya! Kini aku sudah tak punya appa! Aku menganggap appa sudah meninggal!” Eomma melepas pelukkannya dan menatapku.

“Ya! kau ini bicara apa? Bagaimanapun juga, dia itu tetap appa-mu! Appa kandung-mu, Jiyeon-ah.”

“Anni, appa sudah tidak ada!” ucapku dengan nada meninggi sembari membalikkan badanku dan berusaha untuk tidur. Tapi percuma, aku tak bisa tidur, yang ada aku malah menangis.

Krek !

Suara pintu terbuka, sepertinya eomma sudah keluar dari ruangan ini. Aku tidak sanggup jika harus seperti ini, aku tidak sanggup melihat eomma menangis. Aku pun sebenarnya tidak ingin menangis hanya karena namja itu! Ya, kini aku sudah tidak mengenalnya. Kini aku tidak mempunyai seorang appa. Dan aku berjanji, aku tidak akan menangis lagi hanya karena namja itu! Walau sulit bagiku, tapi aku akan berusaha. Dan aku juga tidak ingin melihat eomma menangis lagi. Aku pun akan berusaha agar eomma tidak menangis lagi hanya karena dia.

Minho P.O.V

Kasihan sekali dia, di setiap hari-harinya, dia selalu menangis. Dia buang waktunya hanya untuk menangis. Tidak tahu kenapa, rasa ini muncul. Aku akan berusaha membuatnya tersenyum.

Aku memperhatikannya yang sedang terbaring lemah, kondisinya lemah sekali. Mungkin, jika aku berada di posisinya sekarang, hidupku sudah sangat kacau sekali. Tapi dia? Ya, aku salut dengannya. Dia seorang yeoja yang tegar dan berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya.

Matanya yang sembab, wajahnya yang pucat pasi, kepalanya yang diperban. Membuatku tak sanggup melihatnya seperti ini. Lebih baik dia yang dulu, yang selalu bertengkar denganku. Yang tidak takut dia sedang berhadapan dengan siapa. Jujur, aku lebih ingin, melihatnya yang seperti itu, dibanding yang seperti ini. Terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit, dan tak bisa melakukan apa-apa. Tak tahu mengapa, aku memegang tangannya yang dingin. Lama aku menggenggam tangannya, lalu aku menyelimutinya.

Sudah tiga jam aku menunggunya disini, karena ahjumma dan Key harus pulang, jadi aku yang menunggunya disini. Tapi, dia tidak juga membuka matanya.  Karena lelah, aku pun memejamkan mataku, dan terlelap disamping tempatnya berbaring.

~ To Be Continued~

P:S : Makin gaje yah ceritanya? Komen yah?! Sarannya juga boleh. Author tunggu ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

10 thoughts on “Broken Home VS Broken Heart – Part 9”

  1. Annyeong,
    mianhe,,
    aq kog agak lupa sm ceritanya..kekek
    alur yg di RS itu agak kecepetan kyknya ya?
    But overall, aku suka FF ini,;)

    next part ya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s