The Silently Love [1.2]

THE SILENTLY LOVE

Author             : Blue Rhey (@ratnariia13)

Main Cast   : Choi Minho, Kim NaNa (Imaginary cast), Song Yejin (imaginary cast)

Support Cast   : Shin Yeseul, Lee Jinki, Kim family, Lee Taemin

Length           : twoshot.

Genre             : Friendship, Romance, Family.

Rating            : General

Summary         : Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding cinta diam-diam terhadap sahabatmu sendiri.

A/N                 : This is another triangle love story. Ini cerita udah aku bikin agak lama, awal tahun ini seingatku. Nyempil diantara file skripsiku yang ga kelar-kelar TT__TT. Ceritanya mungkin standar banget, pasaran dan sebagainya tapi ini murni dari otak saya yang sedang dipenuhi jurnal audit #cries. Sudah pernah dipublish di blog pribadiku decemberblue.wordpress.com dan dengan nama tokoh dan setting tempat berbeda dan judul berbeda pula. Mengubah nama tokoh dan setting tempat itu ternyata tidak mudah ya meskipun itu karangan sendiri *crying again*.

Part 1.2

“Aku akan menikah Na-ya~…dan aku mau kamu jadi pengiring pengantinku.” ucap namja itu.

Yeoja yang dipanggil Na-ya itu hanya tertegun mendengarnya, disunggingkannya senyum meskipun hatinya terasa sakit. “Wow, chukkae Minho-ya, kenapa baru memberitahu sekarang? Aku kan ga ada persiapan buat jadi pengiring pengantin” sahutnya dengan nada senormal mungkin.

“Yejin melarangku memberitahu siapapun sebelum semuanya fix, dan aku rasa sebelum semua orang tau, kamulah orang pertama yang harus tau berita ini” kata namja itu sambil memegang pundak yeoja di depannya “kamu adalah orang yang telah mempertemukan kami, meskipun itu secara tidak sengaja, jadi kami merasa kamu harus menjadi orang pertama yang mengetahui kabar ini dan menjadi pengiring Yejin.”lanjutnya.

“Jangan salahin aku ya kalau nanti aku terlihat lebih cantik dari Yejin..haha” jawab sang yeoja.

“hehehe…” namja itu hanya terkekeh mendengar jawaban yeoja di hadapannya.

Seoul, 14 Juni 2011

Kim NaNa POV

“Aku akan menikah Na-ya…dan aku mau kamu jadi pengiring pengantinku.”

Kata-kata itu terus terngiang ditelingaku. Hatiku remuk mendengar Minho mengatakan hal itu padaku. Aku telah sekian lama memendam cintaku pada Minho, sahabatku, semenjak masih kelas 2 Senior Highschool, ketika kami sama-sama tergabung dalam klub teater sekolah. Dan itu sudah berlangsung selama 12 tahun. Selama itu pula aku harus rela melihatnya berganti pacar entah sudah berapa kali. Dia memang tipe orang yang cepat bosan, aku tahu betul itu. Tapi aku bisa apa, Minho hanya bilang, “Mereka sudah semakin menyusahkan, belum kawin aja udah ngatur-ngatur, gimana kalo udah kawin.”. hanya itu yang selalu dia katakan saat aku menegur kebiasaanya itu.

Aku dan Minho sudah beteman sejak kami mulai bisa berjalan dan baru di senior highschool aku menyadari bahwa rasa sayangku untuk Minho bukan lagi sekedar rasa sayang kepada sahabat, tapi lebih. Tapi aku tak berani mengutarakannya karena aku takut dia malah akan menjauh. Setelah kupendam sekian lama ternyata ini yang kudapatkan, Minho akan menikah dengan sahabatku yang bernama Song Yejin. Aku hanya bisa menangis dikamarku, err kamar kosku maksudku. Yeah, aku tinggal di kos sejak orangtuaku memutuskan pindah ke Daegu lima tahun yang lalu (anggep aja di Seoul juga ada kos-kosan. :p). Aku ingin tetap di Seoul agar bisa terus bersama Minho, selain karena pekerjaanku. Ada sedikit penyesalan, kenapa aku harus membuat Minho bertemu dengan Yejin. Tapi setelah sekian lama kupikirkan hal ini, akhirnya aku menarik kesimpulan, aku hanya ingin kedua sahabatku itu bahagia. Meski aku harus mengorbankan perasaanku sendiri. Biarlah, asal mereka bahagia, asal mereka selalu tersenyum. Bagiku itu sudah cukup.

Malam itu aku menangis sampai tertidur. Kutumpahkan segala kesedihanku. Rasa cinta yang belum sempat tersampaikan harus kukubur dalam-dalam. Berkali-kali kukatakan pada diri sendiri, “it’s okay NaNa, you can get someone like him” untuk sekedar menghibur diri. Kupeluk erat foto Minho dan aku yang diambil setelah pementasan teater dipesta kelulusan kami. “Saranghaeyo Minho-ya, jeongmal saranghaeyo dan aku gak tahu apakah aku bisa menghapus cinta ini..”kataku sebelum akhirnya terlelap malam itu.

Keesokan harinya mataku bengkak. Tenggorokan serak dan kurasa aku agak demam. “Harusnya hari ini aku menemani Yejin fitting gaun pengantinnya, kenapa malah sakit gini sih” gumamku sambil memijit pelipisku. Minho kemarin memberitahuku bahwa hari ini Yejin ingin aku menemaninya fitting gaun pengantin yang akan dikenakannya di pemberkatan nikah. Kata Minho, Yejin ingin agar aku menjadi orang pertama yang melihatnya mengenakan gaun itu. Aku hanya tersenyum, getir, menanggapi perkataan Minho. Dan konyolnya permintaan Minho langsung ku iyakan. Aku merasa bodoh dengan segala tingkah lakuku ini. Kutepuk-tepuk wajahku di depan cermin sambil berkata “NaNa, kamu pasti mampu melalui semua ini.”. Setelah itu aku segera bergegas mandi karena Yejin sudah di jalan menuju kostku.

Song Yejin POV

Aku masih tak percaya, bulan depan aku akan menikah dengan Minho oppa. Laki-laki yang menjadi pacarku selama 2 tahun terakhir ini. Meskipun sebenarnya ada ganjalan yang kurasakan. Ini tentang NaNa eonni, sahabatku dan Minho oppa, atau bisa kubilang mak comblang kami. Sepertinya ada sesuatu yang dia tutupi dariku dan Minho oppa karena semenjak aku dan Minho oppa pacaran, sepertinya dia agak menjauh dariku dan juga Minho oppa. Namun setiap kali kutanyakan itu padanya, dia hanya menjawab, “Gak ah, siapa bilang? Ini buktinya aku nempel kan sama kamu.”.

Minho oppa juga begitu, dia hanya menjawab, NaNa sibuk mungkin Yejin-ah, dia kan baru saja diangkat jadi manajer. Hanya itu jawaban Minho oppa setiap kali kutanyakan perubahan sikap NaNa eonni. Akupun akhirnya diam, tak lagi bertanya pada NaNa eonni ataupun Minho oppa. Karena kutanyakan berkali-kalipun jawabannya pasti sama, tidak berubah, hanya kalimatnya saja yang dimodifikasi. Kalian pikir aku ini anak kecil karena usiaku yang terpaut 5 tahun dari kalian, itu  yang selalu ada dipikiranku setiap kali pertanyaanku ditanggapi seadanya oleh mereka.

Hari ini aku akan menjemput NaNa eonni untuk menemaniku fitting gaun pengantin. Aku mengajaknya bukan tanpa alasan. Dia adalah satu-satunya saudara yang kumiliki. Kedua orangtuaku meninggal saat aku masih kecil sehingga aku dititipkan di panti asuhan karena aku sudah tak memiliki saudara lagi. Dan ketika aku berumur 18 tahun, pengacara appa datang memberi kabar bahwa tabungan dan seluruh aset appa dan eomma sudah bisa kukelola sendiri meskipun itu hanya sebuah rumah mungil dan tabungan yang cukup untuk biaya kuliahku. Karena tak ingin terlalu tergantung pada semua peninggalan orang tuaku, aku memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Disitulah aku pertama kali bertemu dengan NaNa eonni. Dia sudah menjadi supervisor di restoran tempatku melamar kerja.

Flash back

“jadi kamu ingin menjadi part timer di sini?” tanya wanita itu yang kemudian ku tahu namanya Kim NaNa.

“Ye, sajangnim, saya bisa memasak dan juga bisa menyajikan makanan dengan baik. Saya juga orangnya sabar, saya yakin dapat melayani customer dengan baik.”. jawabku mantap.

“Lalu, apa alasan kamu ingin bekerja di sini? Bukankah kamu masih mahasiswa? Masih tingkat pertama pula.” Lanjutnya.

“Saya ingin meringankan beban orangtua sajangnim, saya ingin kuliah dengan uang yang saya hasilkan sendiri.” Jawabku berbohong, aku tidak mau diterima kerja hanya karena kasihan. Meskipun sudah menjadi yatim piatu, gengsiku masih tinggi. Aku tidak ingin orang lain mengasihaniku.

“baiklah, bisa kamu mulai kerja sore ini? Kebetulan kami kekurangan waitress. Kamu jadi waitress di shift 4, mulai jam 17.00-22.00. Sanggup menyediakan waktu jam segitu?” tanyanya kemudian.

“Sanggup. Gamsahabnida sajangnim.” Jawabku sambil mengangguk mantap.

“Oke, selamat bergabung dengan Quinncy Resto, by the way, jangan panggil saya sajangnim, panggil saja NaNa eonni, seperti yang lainnya” lanjut Kim NaNa sambil menyodorkan tangannya mengajakku bersalaman.

“Oh, ye sajangnim, eh..NaNa eonni. Gamsahabnida.” Sahutku sambil menyambut uluran tangannya.

Sejak saat itu aku dan NaNa eonni menjadi dekat. Saat tahu bahwa aku anak yatim piatu, dia memarahiku dan berkata “kenapa nggak bilang waktu wawancara kemarin? Kenapa baru ngasih tau eonni sekarang? Kau ini…”. Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Aku ga ingin orang mengasihani aku eonni. Lagi pula, sekarang aku punya NaNa eonni as my sister..hehe”. NaNa eonni hanya diam mendengar jawabanku. Dia kemudian memelukku,sambil mengusap lembut rambutku dia berkata “ iya, sekarang kamu gak sendirian lagi, kamu punya eonni, dan kamu juga berarti punya oppa  juga, soalnya eonni akan ngenalin kamu sama keluarga eonni. Biar kamu punya keluarga lagi.”. Aku tersenyum mendengar kata-katanya, “Gomawo eonni. Jeongmal gomawoyo.”

Tiga minggu kemudian NaNa eonni mengajakku ke rumahnya. Dia kemudian mengenalkanku pada appa, eomma, Sangjun oppa dan Sanghee oppa, kedua dongsaeng NaNa eonni yang terpaut. Mereka menyambutku dengan hangat seolah-olah aku adalah anak mereka yang telah lama terpisah. Setelah ngobrol dengan orangtua NaNa eonni, baru aku tahu kalau mereka dulunya adalah teman orang tuaku. Dan sekarang mereka malah menganggapku sebagai anak bungsu mereka. Senang sekali rasanya kembali memiliki keluarga.

Flashback end

Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang menuju kost NaNa eonni yang lumayan jauh dari rumahku. Aku sudah sering mengajaknya tinggal bersamaku, tapi selalu ditolaknya. Katanya dia sudah biasa hidup sendiri, lagipula hidup di kost lebih praktis. Selalu itu yang dikatakannya. Akhirnya aku bosan memintanya untuk tinggal bersamaku. “Terserah kau sajalah eonni, jalan pikiran eonni terlalu rumit buatku. Punya rumah, malah dikontrakan, sekarang malah kost. Apa alasanmu waktu itu? Sepi kan? Kesepian, ku ajak tinggal bersama malah menolak. Aku bingung sama jalan pikiranmu eonni.” Kataku waktu itu. Dia hanya tersenyum penuh kemenangan saat aku menyerah. “Kamu ga perlu mengerti jalan pikiranku Yejin-ah, kamu cukup jadi dongsaeng yang baik dan gak banyak tingkah. Itu udah cukup buat eonni.” Sahutnya. Tetap saja aku masih tak mengerti. Tidak mau mengerti alasannya tepatnya. Bahkan Minho oppa yang sudah bersahabat dengannya sejak kecilpun masih tidak mengerti jalan pikiran NaNa eonni .”Beritahu aku apa yang ada diotakmu yang rumit itu Na-ya~. Kau terlalu sulit untuk dibaca.” Itu yang dikatakan Minho oppa pada NaNa eonni waktu itu. Dan dia hanya tersenyum dan menggeleng. “biar ini jadi milikku sendiri, aku ga mau membebani kalian. Aku harap kalian mau ngerti. Untuk hal ini, biar jadi milikku sendiri.” itu jawaban NaNa eonni. Akhirnya kami menyerah, biarlah dia menemukan jawaban atas pencariannya sendiri, kami akan selalu ada setiap dia membutuhkan. Itu kan gunanya saudara?

Akhirnya, sampai juga aku di kostnya. Lumayan mewah sih kost itu, tapi tetap saja kan itu bukan rumah sendiri yang bisa dimodifikasi seenaknya. Harga sewanya juga tidak murah, 500.000 won perbulan. Sudahlah, itu sudah menjadi pilihannya. Aku kemudian turun dari mobilku. Kubuka pintu gerbang kost tersebut. Kulihat sosok yang ingin kutemui sedang duduk diteras sambil memainkan ponselnya. Dandannya tidak berubah, masih sama seperti enam tahun yang lalu. Kaos, jeans dan sneakers. Itu yang selalu dipakainya diluar kantor dan acara formal lainnya. Katanya capek harus pakai high heels tiap hari. Kusapa NaNa eonni, dia menoleh dan melambaikan tangan kemudian berlari menghampiriku.

“Lama banget sih, sampai kering aku nungguin kamu. Nih, sampai kaya keripik nih kulitku.” kata NaNa eonni sambil menunjukkan kulitnya.

“kering apaan, halus gitu. Mau pamer ya, mentang-mentang kulitnya lebih halus, lebih putih.”ledekku sambil memasang wajah cemberut.

“Pamer dikit, haha…. ya udah ayo, keburu siang.”jawabnya sambil setengah menyeretku ke mobil.

“Tunggu deh eonni, kok matanya agak bengkak sih? Eonni lagi sakit? Kalo sakit, kita tunda aja ya.” Kataku sambil menghentikan langkahnya dan mengamati matanya yang terlihat agak bengkak dan merah.

“Siapa bilang aku sakit? Cuma begadang aja semalem meriksa laporan yang harus disampaikan ke direktur senin lusa.” Jawabnya asal.

NaNa eonni memang selalu seperti itu, ada saja alasanya untuk menenangkan orang lain. Itu yang membuatku nyaman saat berbagi cerita bersamanya. Dia benar-benar memposisikan diri sebagai teman dan kakak yang baik. Selalu memahamiku, meski aku tak pernah tau apa yang ada dipikirannya. Tak pernah mengeluh dan selalu optimis. Itulah NaNa eonni yang kukenal selama enam tahun ini.

Author POV

NaNa dan Yejin akhirnya sampai ke butik tempat Yejin memesan gaun yang akan dikenakannya saat pernikahan. “Kenapa ga ngajak Minho aja sih Yejian-ah? Dia kan harusnya jadi orang pertama yang melihat calon pengantinnya memakai gaun itu.” Tanya NaNa. Yejin hanya tersenyum melihatnya, dia tahu, NaNa pasti bosan melihat pakaian di butik tersebut. NaNa tidak seperti Yejin yang feminin dan anggun, dia sangat tomboy, tapi meskipun tomboy, NaNa tetap tahu bagaimana memposisikan dirinya di tempat dia berada.

“Eonni, sini deh,” Yejin memanggil NaNa sambil melambaikan tangannya. NaNa berdiri ogah-ogahan, kemudian berjalan ke arah Yejin. “Ada apa sih dongsaengku yang cantik, yang sebentar lagi ngelangkahin eonninya ini?” sahut NaNa. Yejin tersenyum lebar sambil memamerkan gaun yang tengah dikenakannya. “Gimana? Kurang apa lagi nih?”tanyanya. NaNa tertegun, terpesona melihat sosok Yejin yang mengenakan gaun putih dengan manik-manik silver yang sangat cantik. Dia hanya sanggup mengacungkan kedua jempolnya. “Kamu akan jadi pengantin tercantik yang pernah ada Yejin-ah” katanya kemudian.

Yejin tersenyum mendengar perkataan NaNa, dia kemudian melambaikan gaun dengan warna senada, hanya saja tampilannya lebih minimalis. “Dan ini, gaun buat pengiringku…tada”

“Ini gaun buat aku” tanya NaNa sambil meraih gaun yang diangsurkan Yejin padanya. “Cantiknya…jangan salahin eonni ya kalo ntar malah eonni yang dikira pengantin wanitanya..hahaha” lanjut NaNa sambil menggoda Yejin. “Eonni kan emang lebih cantik, aku pengen eonni kelihatan cantik banget pas di pernikahan aku nanti. Biar cepet dapet calon suami, biar cepet nyusul aku sama Minho oppa.” jawab Yejin menanggapi godaan NaNa. NaNa hanya memonyongkan bibirnya yang mungil kemudian menjitak pelan kepala “adik perempuannya”. Yejin terkekeh melihat reaksi yeoja yang sudah dia anggap sebagai eonninya itu. Sambil mematut diri di cermin dan sesekali berbincang dengan sang perancang gaun, Yejin menunggu NaNa keluar dari kamar ganti. Akhirnya yang ditunggupun keluar. NaNa melangkahkan kakinya yang kini sudah terbungkus rapi dengan sepasang high heels cantik berwarna putih perlahan. Dia mengangkat sedikit ujung gaunnya. Dia terus saja memonyongkan bibirnya.

“Gimana nih? Pasti keliatan konyol banget kan? Ah, aku emang ga pernah cocok make yang beginian.” Kata NaNa sambil berjalan menghampiri Yejin dan si perancang busana. Yejin hanya ternganga melihat NaNa yang tampak sangat cantik mengenakan gaun tersebut. “Kalau seperti ini orang bakalan salah mengira bahwa eonni yang jadi pengantin wanitanya.” puji Yejin. NaNa yang dipuji malah mencibir, “Bilang aja kamu mau ngeledek aku. Mana ada aku terlihat cantik?” . Yejin hanya tersenyum menanggapi jawaban NaNa. Dia kemudian menarik NaNa untuk berdiri di sampingnya. “Lihat deh, eonni tuh cantik, hanya saja eonni tuh ga pede sama kecantikan yang eonni miliki. Aku aja iri sebenarnya, aku cantik karena make up dan perawatan salon, sedangkan eonni, cantik alami. Sampai kapan eonni akan terus menyangkal kecantikan yang dimiliki?” kata Yejin gemas. NaNa hanya terdiam. Dia hanya mematung menatap pantulan dirinya di cermin. Dia masih tidak percaya bahwa yang ada di cermin itu adalah dirinya. Oh Tuhan, ternyata aku cantik juga ya..gumamnya dalam hati. Tiba-tiba NaNa tersenyum, manis sekali. “Akhirnya, thanks God sudah menyadarkan eonniku ini betapa cantiknya dirinya .” seru Yejin sambil merangkul NaNa.

Seoul, 30 Juni 2011

Yeoja itu masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas dan sesekali mengetik dan mengamati monitor komputernya. Minggu ini akan menjadi minggu terberat yang dia alami. Dia harus kembali menata hatinya lagi setelah namja yang selama ini dia cintai akan menikah dengan seorang yeoja yang sudah dia anggap sebagai dongsaengnya. Pikiran yeoja itu kembali menerawang, namun secepat kilat ditepuknya pelan kedua pipinya untuk mengembalian konsentrasi pada berkas-berkas yang harus dia lengkapi untuk laporan di rapat dewan direksi besok pagi.

“Manajer Kim, mau pulang jam berapa? Ini sudah hampir jam 12 malam.”

“Oh, kamu Yeseul-ssi. Saya masih harus memeriksa beberapa berkas, setengah jam lagi mungkin. ” jawab NaNa.

“Kalau begitu, saya pulang duluan ya Manajer Kim, selamat malam.” Kata yeoja yang bernama Shin Yeseul itu.

Shin Yeseul adalah salah satu staf kepercayaan NaNa. Dia yang selalu menemani NaNa untuk lembur. Dia juga yang kadang menjadi teman curhat NaNa. Kadang NaNa merasa minder, karirnya melesat bak roket, tapi perjalanan cintanya nihil. Dia beberapa kali ganti pacar, tapi tak ada satupun yang berkesan di hatinya. Hatinya masih dipenuhi satu nama. Choi Minho, temannya semenjak kecil. NaNa sudah mencintai Minho sejak lama, tapi dia terlalu takut mengungkapkan cintanya, akhirnya sekarang dia menderita. Gadis kecil yang selama ini dianggapnya sebagai adik, akan menikah dengan orang yang bertahun-tahun menghiasi hari-harinya. Namun NaNa tetap bersikap biasa. Dia cemburu, tapi dia tak bisa berbuat banyak. Terlebih kedua orang itu sangat disayanginya. NaNa hampir berteriak frustasi. Dia menelungkupkan tangannya di meja, dan kemudian menundukkan kepalanya disana. Dia menangis, lagi. Tiba-tiba sepasang tangan mungil mengelus bahunya. “Na-ya~, kalau kamu mau nangis, jangan nangis sendirian. Aku akan selalu ada buat kamu.” kata si empunya tangan itu. NaNa menoleh, kemudian dipeluknya perempuan mungil yang bernama Yeseul itu. Tangisnya meledak dalam pelukan Yeseul. Yeseul hanya bisa memeluk dan mengelus perlahan punggung NaNa. Dia tahu betul kawannya ini sedang terluka. Dia tak bisa menyalahkan siapapun, tidak NaNa karena ketidakmampuannya menyampaikan perasaan pada orang yang dicintai, tidak Yejin karena ketidakpekaan terhadap orang yang selama 6 tahun terakhir telah dianggap sebagai kakak, tidak pula pada Minho, yang tidak menyadari bahwa sahabatnya telah memendam cinta padanya selama belasan tahun.

“Aku harus rela mereka menikah Seul-ah, udah saatnya Yejin menemukan kasih sayang dan kebahagiaan.” Kata NaNa setelah puas menumpahkan tangisnya dipelukan Yeseul.

“Apapun keputusan kamu, aku akan dukung Na-ya. Yang penting sekarang kamu jangan bikin aku khawatir lagi dengan bersikap bodoh seperti ini. Kerja ga kenal waktu. Apa kamu pikir dengan begitu sakit hatimu bakal hilang ha?” sahut Yeseul.

Yeseul yang tadinya hendak pulang kemudian mengurungkan niatnya. Dia menelepon suaminya dan berkata bahwa ada yang harus dilakukannya untuk seseorang. Suaminya paham betul siapa yang dimaksud. Ya, Lee Jinki, suami Yeseul memang mengenal NaNa. Mereka adalah teman satu jurusan semasa kuliah dulu. Hanya saja NaNa lebih beruntung karena dia diangkat jadi manajer sementara Yeseul masih berstatus sebagai staf. Tapi Yeseul tak pernah sedikitpun iri terhadap NaNa. Dia malah mendukungnya dan selalu ada disamping gadis itu setiap saat. Dia tahu betul NaNa hanya terlihat kokoh di luar, hatinya sebenarnya sangat rapuh. Dia juga tahu hubungan segitiga antara NaNa, Yejin dan Minho. Karena semenjak kehadiran Yejin disisi Minho, NaNa semakin menjadi-jadi. Dia memang seorang workaholic, tapi semakin menjadi sejak 3 tahun lalu. Saat dimana Minho mulai mengejar cinta Yejin yang saat itu masih jadi mahasiswa magang di kantor tempatnya dan NaNa bekerja.

Yeseul tahu, NaNa terluka saat itu. Tapi tak pernah tampak sedikitpun kesedihan dan kepahitan di wajahnya. Dia selalu tersenyum dan ceria seperti biasanya. Dan hal itu malah membuat Yeseul dan Jinki khawatir. Oleh karena itu Jinki selalu meluluskan permintaan Yeseul ketika istrinya itu hendak menghibur atau sekedar menemani NaNa yang kesepian di kosnya. Dia tidak ingin melihat orang yang sudah membuatnya menemukan belahan jiwanya itu menangis sendirian.

Seoul 4 Juli 2011

Sepuluh hari menjelang pernikahan Yejin dan Minho. NaNa melihat kalender di kamarnya dengan perasaan campur aduk. Hatinya sakit setiap menatap tanggal 14 Juli, tapi sudut hatinya yang lain juga senang akan penikahan kedua sahabatnya itu. Dan hari itu ada yang lebih mengejutkannya. Direktur memanggilnya ke ruangannya pagi tadi dan dia berkata bahwa NaNa akan dipindahtugaskan ke Busan untuk menangani pembukaan cabang baru Quinncy Resto di sana. NaNa memang merupakan salah satu pegawai senior di perusahaan jaringan restoran tersebut. dia telah mengabdi disana selama 8 tahun terakhir ini. Dia telah merasakan bagaimana rasanya menjadi pegawai kelas bawah sampai akhirnya dia menjabat sebagai marketing manajer sejak 2 tahun terakhir ini. Tanpa pikir panjang, NaNa langsung mengiyakan perintah atasannya tersebut.

Kim NaNa POV

Sepuluh hari lagi mereka menikah. Yejin mulai disibukkan dengan segala macam persiapan pernikahannya dengan Minho, demikian pula Minho. Aku jarang bertemu mereka akhir-akhir ini , selain untuk membahas konsep pernikahan dan segala macam hal lainnya yang berkaitan dengan itu. Hatiku sebenarnya sakit setiap kali menghadiri rapat keluarga itu. Tapi mau bagaimana lagi, Yejin sudah kuanggap sebagai dongsaengku sendiri dan dia tak punya keluarga lain selain aku. Jadi hanya aku tempatnya bergantung saat ini. Tentang kepindahanku ke Busan tanggal 15 Juli pun belum kukatakan pada siapapun termasuk kedua orang tuaku. Aku masih merahasiakannya, walau mungkin sekarang seluruh bagian marketing sudah mengetahuinya.

Aku memutuskan untuk menerima tawaran dari Tuan Han, direktur perusahaan,  yang memintaku untuk mengawasi perkembangan cabang Quinncy Resto di Busan. Beliau berkata bahwa sejak aku menjabat sebagai manajer marketing, perusahaan berkembang dengan pesat. Selama 2 tahun ini telah berhasil membuka 4 cabang di Seoul dan Daegu. Di kawasan strategis pula. Karena itu, beliau memintaku untuk terjun langsung pada pembukaan cabang di Busan sekaligus menjadi kepala cabang di sana. Tawaran yang menggiurkan. Aku bisa mengembangkan karirku sekaligus melupakan cinta pertamaku, Minho, yang sebentar lagi akan menjadi adik iparku.

Aku mengeluh pelan dalam hati, jika saja aku punya keberanian untuk mengatakan padamu Minho-ya. Tapi kukatakan sekarangpun tidak akan merubah keadaan. Dia tetap akan menikahi Yejin. Orang yang mampu menyembuhkan sifat play boy-nya.

Aku melewati malam ini nyaris tanpa memejamkan mataku. Otakku masih berputar tak menentu. Aku harus mengatakannya pada Minho. Itu keputusan yang sudah kubuat. Minho harus tau kalau aku mencintainya, meskipun nantinya hubungan kami akan memburuk. Aku tidak ingin pergi dengan beban.

Keesokan harinya aku sibuk mengurus berkas kepindahanku ke Busan. Semua staf marketing memandangku dengan gelisah. Hanya Yeseul yang yang berani menghampiriku untuk menanyakan perihal kepindahanku. siang itu aku menerima SMS dari Yeseul.

From : Shin Yeseul

Lunch bareng? Four season?

To : Shin Yeseul

Ok. Pick me up at my office J

Four Season Resto

Tempat ini merupakan tempat favorit kami, aku, Jinki, Yeseul dan teman-teman sekelas kami waktu kuliah dulu. Kami biasa makan siang di sini. Dan di sinilah aku dan Yeseul sekarang. Duduk diam sambil makan dengan khusyuknya. Merasa bahwa dia yang memiliki sesuatu untuk dibicarakan, Yeseulpun angkat suara.

“Kamu yakin pindah ke Busan? Direktur Han bilang SK kepindahan kamu udah siap, dan kamu tau,aku yang disuruh gantiin kamu. Aku ga sanggup Na-ya~.”

“Kamu pasti bisa Yeseul-ah, selama ini kan kamu udah biasa ngeliat gimana cara kerjaku, kamu pasti bisa lebih bagus daripadaa aku.”sahutku

“Bukan masalah itu aja NaNa-ya, tapi gimana sama Yejin dan Minho? Apa mereka udah tau?” tanya Yeseul kemudian.

“Aku pasti ngasih tau mereka kok, tapi nggak sekarang.” jawabku singkat.

Yeseul mendesah. Dia gemas melihat tingkah sahabatnya itu. “Terserah kamu aja deh NaNa-ya,” ujarnya kemudian “aku yakin kamu bakal nemuin seseorang di luar sana yang akan mengganti posisi Minho di hatimu. Jangan pernah tutup hatimu buat orang baru NaNa-ya” lanjut Yeseul.

Aku hanya mengangguk mendengar nasehat Yeseul. Aku kemudian mengalihkan pembicaraan kami. “Eh, kamu udah kawin 4 tahun tapi kok belom ada tanda-tanda pengen punya anak sih? Aku udah kebelet pengen punya ponakan dari kamu tau.” Candaku. Yeseul terdiam, dia kemudian tersenyum.

“Aku hamil.” bisiknya pelan

Aku membulatkan mataku yang sudah cukup bulat. “Seriusan?”tanyaku tak percaya.

“Ini masuk bulan ke empat Na-ya. Makanya aku bingung. Kalo kamu pindah, trus aku gantiin kamu, berarti 3 bulan kemudian aku cuti. Nah gimana dah tuh?” sahutnya memelas.

“ya bilang aja sama Direktur Han, dia kan pengertian. Pasti dia ngasih ijinlah.”

“Aku takut.”

“Gak usah takut, aku temenin kalo perlu.”jawabku.

Yeseul hanya memandangku kemudian tersenyum. “Oke baby” sahutnya kemudian. Kami lalu larut dalam tawa bersama sepanjang siang itu.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “The Silently Love [1.2]”

  1. seru nih…
    tp penulisannya diperbaiki ya.. sama itu kalau ceritanya gak terlalu penting, gak usah diceritain, lbh fokus ke cerita cinta segitiga itu.. hehehehe
    soalnya ada bbrp bagian yg menurutku.. menurutku ya, ada yg gak terlalu perlu diceritakan..

    oh ini kyknya kalimatnya blm selesai
    kedua dongsaeng NaNa eonni yang terpaut….. ????
    terpaut apa atau berapa?
    hehehe
    ditunggu next partnya.. hihihi
    btw mau dong punya suami kyk jinki yg pengertian gtu… wkwkwk

  2. Ceritanya bagus nih, bahasanya pun juga bagus gak terlalu ribet, udah bagus semua sih, cuman alur ceritanya gak to the point. But, I like it!
    Lanjutkan, ceritanya membuatku penasaran. 🙂

  3. semuanya makasih udah baca fiksi tulisan saya. Terima kasih untuk admin sudah mengijinkan fiksi saya publish di sini #terharu
    Untuk semua komentarnya terima kasih, saya akan berusaha untuk menulis lebih baik lagi.

    regard

    Rhey

  4. dilanjut yaaaa 🙂

    mau curhat dikit ah #plak

    Tidak ada yang lebih
    menyakitkan dibanding cinta diam-
    diam terhadap sahabatmu sendiri. —> ada loh yang lebih sakit. Unrequited love.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s