Walk On

Walk On

Author             : Blue Rhey (@ratnariia13)

Main Cast        : Lee Jinki, Song Yejin (imaginary cast)

Support Cast   : Kim Kibum

Length             : Stand Alone (contain 1578 words)

Genre              : Sad, Romance

Rating             : PG-15

Summary         : Teruslah melangkah. Jika kau berhenti melangkah karena aku, maka aku akan terluka.

A/N                 : 23 September 2012 . Wuhoo… ini fiction akhirnya lahir setelah membebaskan imajinasiku berjalan tanpa batas. Kurang yakin juga sama genre nya, soalnya kurang begitu mengerti masalah genre. Kalau ada yang bertanya kenapa judulnya ‘Walk On’, itu soalnya waktu nulis sambil dengerin lagunya Orange Range yang judulnya Walk On.

Walk On

Hari hampir gelap ketika seorang yeoja berjalan menyusuri pantai di kawasan Incheon itu sendirian. Tangannya berusaha memeluk sendiri tubuhnya sementara rambutnya berkibar tertiup angin. Yeoja itu berjalan dan terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Perlahan air matanya luruh menganak sungai membanjiri wajahnya, tak lama kemudian dia menjerit histeris. Tubuhnya ambruk, kakinya sudah lelah berjalan dan kini dia membiarkan air asin itu membasuhnya.

Tangan yeoja itu gemetar ketika dia mencoba meraih tas yang disandangnya. Air asin itu sudah membasahi tasnya dan juga hampir seluruh tubuhnya yang masih terduduk di tepi pantai. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru, membukanya dan tersenyum getir. Sebuah cincin, foto seorang namja yang tersenyum lebar dan sebuah test pack. Ketiga benda itu membuatnya kembali pada masa yang membuatnya sangat bahagia dan juga ke dalam masa paling menyedihkan dalam hidupnya.

Flashback

“Yejin-ah, menikahlah denganku.”

Seorang namja tengah berlutut dihadapan yeojachingunya sambil membuka sebuah kotak berisikan cincin emas putih yang cantik. Yeoja bernama Yejin itu tersenyum dan tersipu malu membuat pipinya bersemu merah. Kemudian yeoja itu meminta namja itu berdiri.

“Ne, Jinki oppa. Aku mau menikah denganmu.” Yejin kemudian mencium pipi namjanya setelah mengatakan jawabannya.

Jinki tersenyum dan kemudian menenggelamkan yeoja mungil itu kedalam pelukannya. Malam itu mereka habiskan berdua dan merancang masa depan bersama.

Flashback end

Yeoja itu kemudian memakai cincin yang ada di dalam kotak itu. Dia kemudian berdiri dan menatap langit yang sudah berubah warna menjadi kelabu kehitaman. Telunjuknya teracung ke atas, tatapan matanya menunjukkan sorot frustasi yang sangat dalam. Dia kemudian berteriak sambil terus mengacungkan telunjuknya ke langit.

“Apa salahku sehingga Kau begitu jahat padaku? Mengapa Kau mengambil semua yang kumiliki? Apa Kau puas sekarang melihatku sendiri seperti ini? Kembalikan tunanganku! Kembalikan Jinki oppaku!”

Yeoja itu kembali jatuh terduduk, napasnya memburu setelah meneriakkan rasa frustasinya. Tepat hari ini, dua tahun lalu seharusnya dia menikah dengan Lee Jinki, tunangannya, di tempat ini. Tapi segalanya berubah. Belum sempat mereka mengukuhkan cinta dalam janji pernikahan, Jinki meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas ketika sedang dalam perjalanan menjemputnya dari pusat kota Seoul menuju Incheon untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Yejin tentu saja begitu terpukul. Dia bagaikan kehilangan separuh jiwanya. Bahkan ada sesuatu yang belum sempat dia sampaikan pada tunangannya itu. Hal yang sangat penting.

Yejin kembali histeris. Dia memeluk lututnya sambil terus menangis. Dilepaskannya cincin itu dan kembali dimasukkannya ke dalam kotak. Tangannya kemudian meraih test pack bergaris dua itu.

Flashback

Yejin kembali merasakan mual. Sudah lebih dari dua minggu ini dia terus mengalami ini. Dia mulai curiga, apakah ini morning sick yang biasanya dialami oleh orang hamil?

Hamil sekarangpun tak masalah, toh bulan depan aku akan menikah dengan Jinki oppa, bagaimanapun juga ini kan buah cinta kami, kata Yejin dalam hati. Yeoja itu kemudian membuka laci meja riasnya. Dua buah test pack ada di sana. Diambilnya satu dan kemudian kembali lagi ke kamar mandi. Senyumnya terkembang saat mengetahui ada dua garis yang  muncul di sana. “Aku kan memberitahunya setelah upacara pernikahan kami” kata Yejin kepada dirinya sendiri. Tetapi ternyata takdir tak berpihak padanya. Seminggu sebelum pernikahan yang telah mereka rancang bersama itu akhirnya tak pernah terlaksana karena kecelakaan fatal yang terjadi pada Jinki dan membuatnya meninggal di tempat, tak ada luka di tubuhnya, hanya saja hantaman keras pada dada kirinya cukup untuk raga terpisah dari jiwanya.

Yejin tidak menangis ataupun berteriak histeris ketika mendengar berita itu. Dia hanya diam, terlalu shock dengan kepergian tiba-tiba dari namja yang telah memberikan kebahagiaan dan melangkah bersamanya lima tahun terakhir.

Namja itu bahkan telah pergi sebelum dia tahu bahwa dalam rahim yeojanya telah tumbuh benih yang telah ditanamnya.

Yejin seperti kehilangan kesadarannya. Tatapan matanya kosong, dia bahkan nyaris tidak makan, minum dan berbicara selama hampir tiga hari lamanya sampai pertahanannya runtuh, akhirnya dia menjerit histeris dan pingsan.

Setelah siuman, Yejin kembali menjerit histeris memanggil nama Jinki. Karena takut Yejin akan berbuat nekat, keluarganya tidak memberitahu Yejin bahwa abu kremasi Jinki sudah ditaburkan di pantai yang rencananya akan menjadi tempat mereka mengikat janji setia.

Berhari-hari Yejin menjalani kehidupannya seperti zombie. Dia benar-benar tertekan dan kehilangan. Dia bahkan lupa bahwa dirinya tengah mengandung. Sampai suatu hari dia merasakan perutnya begitu sakit sampai dia tak sanggup berdiri. Darah kemudian mengalir diantara kedua kakinya. Yejin menjerit sebelum akhirnya pingsan. Satu lagi nyawa terenggut dari kehidupannya.

Flashback end

Yejin tergugu mengingat semua kejadian itu satu persatu. Tubuhnya bergetar hebat. Tangisnya meledak. Dia menjerit tak terkendali. Pertama dia kehilangan namja yang telah membawa separuh jiwanya, kemudian dia kehilangan bayi yang bahkan belum sempat dia lihat wajahnya. Semuanya terlalu menyesakkan bagi Yejin. Pernah terbersit dalam pikiran Yejin untuk menghentikan langkah kakinya dan menyerah. Tetapi ketika pikiran itu datang, dia seperti mendengar Jinki berbisik di telinganya memintanya untuk terus berjalan dan melanjutkan hidupnya. Hanya itu yang selama ini menjadi kekuatannya untuk terus berjalan, untuk terus memiliki asa. Tetapi hari ini semuanya kembali terasa berat untuk dilalui.

Yejin masih terus terduduk membiarkan air asin yang semakin lama semakin dingin terus membasahi tubuhnya yang mulai menggigil. Dia tengadahkan wajahnya ke atas melihat langit yang mulai menampakkan bintang. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di pasir basah. Matanya menatap jauh ke arah bintang-bintang yang berpendar. Ada dua bintang yang bersinar paling terang.

“Kau kah itu oppa? Apakah kau bertemu dengan anak kita? Bagaimana rasanya mati itu? Apakah menyakitkan?” Yejin bertanya sambil terus menatap bintang tersebut. Yejin merentangkan kedua tangannya seperti berusaha meraih bintang-bintang itu. Ombak kembali mengantarkan air asin membasuh tubuhnya yang mulai mendingin. Angin malam yang dihantarkan oleh lautan membuatnya semakin merasa dingin.

Tangan Yejin kembali turun dan kini memeluk tubuhnya sendiri. Dipejamkan matanya. Bahkan dalam keadaan sadar seperti ini kilasan-kilasan kejadian itu masih terasa sangat nyata. Kejadian saat Jinki memintanya menjadi kekasih, saat pertama kali mereka berkencan, saat Jinki melamarnya, saat mereka bercinta untuk pertama kalinya di hari ulang tahun Jinki. Semuanya masih terlalu lekat dalam ingatan Yejin. Semakin keras dia mencoba melupakan, semakin berat hatinya untuk melepaskan. Dan kilasan kejadian yang paling mengguncang jiwanya itu juga kembali berputar dalam ingatannya. Bagaikan roll film yang diputar, semuanya seperti terlihat nyata di depan mata. Entah dari mana asalnya, air mata itu terus tumpah.

“Oppa bogoshiposo. Oppa nan jeongmal saranghaeyo. Kajimayo oppa.” Bisik Yejin pelan.

“Aku tak pernah pergi Yejin-ah”

Yejin membuka matanya mendengar suara seseorang yang sangat dicintainya. Dia menolehkan kepalanya ke kanan, di dapatinya namja itu terbaring di sebelahnya dan kini tersenyum sambil memandangnya.

“Nado bogoshiposo. Nado saranghaeyo. Uljima, aku tak akan pernah pergi Yejin-ah. Aku selalu ada di sini, di hatimu.” Namja itu tersenyum kemudian melanjutkan kata-katanya, “Sekarang sudah waktunya kau berjalan sendiri, tanpa aku. Sekarang saatnya bagimu untuk melanjutkan langkahmu, tanpa aku. Waktuku untuk mendampingimu sudah berakhir. Sekarang waktunya bagimu untuk melepaskan segalanya tentangku. Sekarang waktunya bagimu untuk membebaskan dirimu dari kungkungan masa lalu. Berjanjilah untuk terus melanjutkan langkahmu. Jangan pernah berpikir untuk berhenti, karena aku akan terluka jika kau berhenti karena diriku. Aku mencintaimu Yejin-ah, aku mencintaimu selamanya.”

Yejin diam, dia mencoba meraih namja yang kini berbaring di sampingnya, tapi sia-sia. Tak ada siapapun di sana.

“Aku tak menyalahkanmu karena kau kehilangan bayi kita, karena kau bahkan tidak memberitahuku tentang bayi yang kau kandung itu. Ini semua takdir, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Takdir yang mengharuskan kita seperti ini.”

Suara namja itu kembali terdengar, kali ini dia berbaring di sisi sebelah kiri Yejin.

“Oppa mianhae…”

“Aku tak menyalahkanmu Yejin-ah. Sekarang lepaskan aku agar aku juga bisa melanjutkan langkahku. Kau juga harus melanjutkan langkahmu, tunjukkanlah padaku tempat yang belum sempat kita lalui bersama selama kita melangkah bersama. Ketahuilah, aku tak pernah meninggalkanmu. Aku selalu ada di hatimu. Mungkin kau tak akan lagi bisa melihatku, tapi nanti ketika angin bertiup hangat, tandanya aku sedang mengunjungimu. Saranghaeyo Song Yejin, annyeong… ”

Perlahan bayangan namja itu memudar dan lenyap. Yejin kembali memeluk dirinya sendiri. Untuk beberapa saat dia kembali memejamkan matanya. Membulatkan tekad untuk melepaskan semua kenangannya bersama namja itu. Diambilnya kotak biru itu. Ditatapnya sekilas foto Lee Jinki, namja yang begitu dicintainya. “Saranghaeyo oppa…” kata Yejin sebelum menutup kotak itu. Yejin kemudian bangkit berdiri, berjalan pelan ke arah air yang bergulung pelan ke tepian. Dia berhenti setelah setengah tubuhnya telah terendam air. Diciumnya kotak biru yang menyimpan sejuta kenangan bersama dengan kekasihnya itu. Dengan sekuat tenaga dilemparnya kotak biru itu ke tengah laut. Berharap bahwa semua kenangan yang telah dilepaskannya akan membuatnya semakin mudah untuk kembali melangkah.

Kotak itu sudah tak tampak lagi dari tempat Yejin berdiri. Perlahan dia melangkah menjauh. Wajahnya tak lagi tertunduk seperti sebelumnya. Ada satu titik cahaya yang menjadi tujuannya kini. Setelah melepaskan semua kenangan itu, langkahnya terasa lebih ringan. Kakinya terus melangkah menuju sumber cahaya di depannya. Di sana telah menunggu seorang namja yang selalu menjadi tempatnya bersandar dua tahu terakhir ini. Seorang namja yang dengan sabar membimbingnya melangkah lagi, seorang namja yang dengan besar hati mau menerimanya dengan segala masa lalu yang dimilikinya. Namja itu dengan sabar menungguinya tanpa sedikitpun mengusiknya menikmati kesendirian yang membuatnya merasa utuh. Namja itu masih di sana, dengan sabar menantinya kembali. Yejin mempercepat langkahnya. Langkah kaki itu kini berubah lebih cepat, dan akhirnya Yejin berlari menghampiri namja bermata kucing itu, Kim Kibum. Yejin terus berlari dan akhirnya menjatuhkan tubuhnya yang lelah dan basah itu dalam pelukan Kibum. Kibum tersenyum dan terus memeluk Yejin, berharap pelukannya bukan saja menghangatkan tubuh yeoja yang dicintainya itu, tapi juga menghangatkan hatinya.

Yejin berjinjit pelan dan memeluk leher Kibum dengan kedua tangannya yang dingin dan basah.

“Aku akan terus melangkah Kibum-ah, maukah kau menemaniku?” bisik Yejin di telinga Kibum.

Kibum tersenyum dan mengangguk. Perlahan Yejin menautkan bibirnya ke bibir Kibum. Keduanya saling melumat pelan, sebelum akhirnya mereka pergi menjauh dari pantai itu dan melanjutkan langkah bersama.

TAMAT

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Walk On”

  1. Wah sumpah smpai nagis bcanya nggk k bayang orang yg kita cintai pergi untuk selamanya
    k tggu karya selanjunya msh dgan cast jingki oppa y thor

  2. semuanya makasih udah baca fiksi tulisan saya. Terima kasih untuk admin sudah mengijinkan fiksi saya publish di sini #terharu
    Untuk semua komentarnya terima kasih, saya akan berusaha untuk menulis lebih baik lagi.

    regard

    Rhey

  3. Waaaowh,,,,,

    ceritanya buat aq nangiss,,,,
    daebak thor,,,

    buat tentang minho and taemin dooong,,,,,
    aQ tunGghu yaaaach…..

  4. song yejin..
    knp cewe marga song selalu pas dgn kim kibum ya? hahahaha

    aduh aku baru baca n ini bikin mewek /nangis meluk jinki/

    td awalnya aku mikir kibum itu nolong yejin klo mau bunuh diri di pantai itu.. tp ternyata nggak.. hahaha

    suka pendeskripsian kimkibum yg sesabar itu /cipok kibong/

    keren thor pendeskripsiannya secara keseluruhan
    keep writing

  5. Feelnya ngena daleeem banget. Penggambarannya berasa jelas dalam bayanganku, jarang2 ada yg kayak gini ._.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s