Love Rain

Tittle:  LOVE RAIN

Author: cha minki a.k.a kicha

Main Cast: – park minra, choi minho

Length: Oneshoot

Genre: Romance, Angst, sad

Rating: PG-13

A/N:  Cerita ini terinspirasi dari lagunya Utopia yang judulnya hujan, aku suka banget lagu itu makanya mencoba bikin dalam bentuk cerita. Oh ya, Tulisan yang dicetak miring itu artinya flashback, sedangkan yang normal bererti masa sekarang. Check this out yoo~~

—This is the story—

Rintik-rintik rinai hujan membasahi bumi nan gersang ini. Aku menatap rintik-rintik kenangan itu dengan haru. Sebuah rangkaian kenangan indah  kembali terukir di balik hujan. Kenangan antara engkau dan aku, kenangan kita saat bersama. Aku selalu tersenyum menatap sang penyejuk langit itu.

Saat semua orang membenci hujan, aku sendiri disini selalu mengagumi keindahan karya cipta sang pelukis nan agung itu. Saat semua orang selalu menggunakan payungnya saat hujan, entah kenapa aku selalu ingin terus-terusan berada dibawah guyuran hujan yang bagiku terasa begitu menyejukkan .

Aku mengadahkan tanganku dibawah gerimis itu. Sapuan lembut nan sejuk terasa nyaman ditelapak tanganku. Harmoni hidupku kembali muncul saat aku merasakan aliran hujan, meski saat ini kusendiri. Mungkinkah ini karena hujan kembali mengengingatkanku tentang kenangan kita? Kenangan terindah yang tak kan pernah dan tak akan bisa untuk kulupakan.

Bagiku, melihat hujan yang turun bagaikan menatap wajahmu yang tak pernah terlupa itu. Bagiku, saat merasakan guyuran hujan bagaikan merasakan sejuknya kasih sayang yang pernah kauberi dalam hidupku. Bagiku, saat mendengar melodi indah sang penyejuk bumi itu bagaikan mendengar suaramu yang selalu hadir dalam cintaku. Kau ingin tau kenapa? Karena hujan adalah awal kisah kita.

 

Aku berjalan setapak demi setapak melewati jalan setapak  itu. Kulirik sejenak jam tangan biru yang melingkar anggun di pergelangan tanganku, sudah pukul 5 sore. Ini berarti sudah 3 jam aku terlambat pulang dan tentu saja karena rapat OSIS yang sungguh melelahkan.

Tes…tes..tes….                              

Rintik-rintik hujan mulai membasahi wajahku. Aku mengadah kelangit, sang awan nampak muram keabu-abuan. Aku terus berlalu tanpa peduli dangan rintik-rintik hujan itu. Selang beberapa menit, awan nan muram itu kini telah berubah menjadi sesosok langit yang mulai menangis. Air matanya mulai membasahi seluruh tubuhku. Sial, bahkan aku lupa membawa payung disaat segenting ini. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti disebuah halte yang berada tak jauh didepanku sekarang. Dan disaat itulah aku untuk pertama kalinya bertemu denganmu.

Deegh……

Aku terpaku menatapmu. Entah iya atau tidak , tapi baru kali ini aku melihat orang yang begitu bahagia menatap hujan. Aku melihatmu yang tersenyum menatap hujan sambil mengadahkan kedua tanganmu menampung hujan yang turun dengan lebat.

Aku terus menatapmu. Entah kenapa saat pertama melihatmu aku merasa kau berbeda. Kurasa kau lelaki yang berbeda dan entah kenapa jantungku berdetak kencang  saat menatap wajahmu. Padahal baru pertama kali aku melihatmu. Sedang kau terus menatap hujan.

“ Kau suka hujan?” Tanpa sadar aku memulai percakapanku denganmu. Percakapan pertama kita. Wajahmu yang sejak tadi terpaku menatap hujan itu kini tertegun sejenak dan kemudian kau menatapku. Matamu yang kecoklatan itu mulai mengenggelamkan aku.

“ Ya… aku sangat suka hujan.” Kau tersenyum kepadaku, membuat jantung ini kembali bergejolak. Aku pun mengalihkan pandanganku kepada hujan yang mulai reda sedikit demi sedikit.

“ Kenapa kau suka hujan?” Tanyaku lagi, kali ini tanpa menatapmu. Aku takut dadaku bergemuruh lagi.

“ Entahlah… aku juga tak tahu kenapa, namun entah kenapa aku selalu bahagia saat hujan turun. Saat semua orang tidak suka dengan hujan, aku selalu betah untuk berlama-lama berdiri dibawah guyuran hujan. Saat semua orang berpikir bahwa hujan adalah tanda bahwa langit sedang menangis sedih, aku selalu berpikir bahwa hujan adalah tanda bahwa langit sedang bahagia hingga mengeluarkan air mata kebahagiaan.” Ujarmu sambil terus mengadah kelangit. Aku tertegun menatapmu, jika boleh jujur aku sangat benci dengan hujan karena suara hujan sangat mengganggu .   Namun, saat ini kau mampu mengubah paradigmaku tentang hujan.

Kau terus menatap langit dan aku terus dengan pikiranku sendiri. Sejenak kita terdiam.

“ Namamu siapa?” Ujarmu tiba-tiba  sambil mengulurkan tanganmu. Aku menatap tangan itu kemudian ganti menatapmu. Ragu-ragu kusambut uluran tanganmu itu. “ Namaku Kim minra.” Ujarku.

“ Namaku choi minho.”

Dan itulah awal dari semua kisah kita.

Hufffth…….

Hujan itu menjadi semakin lebat. Membuat bayanganmu menjadi jelas dan semakin jelas dipikiranku. Saat kita tersenyum, tertawa, menangis bersama. Aku ingat itu semua , membuat relung hatiku semakin tersayat-sayat. Akankah kau kembali kepelukanku wahai kasih?

Tiada jawaban, yang ada hanya suara derai hujan yang turun menemani sepiku. Kumohon beri aku sedikit tanda-tanda kehadiranmu, hanya itu yang ku ingin.

Tes…tes…tes……

            Hujan itu kembali menetes sedikit demi sedikit menemani kisah kita. Setelah sekian lama waktu berjalan , akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Aku tak menyangka kau akan menyatakan cintamu dibawah rinai hujan itu tepat ketika ulang tahun ke 17 ku , 10 july 2010. masih teringat olehku saat kau mengucapkan sebuah kalimat yang selalu kunanti dalam setiap helaan nafasku. “ Minra, Saranghae.… maukah kau menjadi kekasihku?” kata-kata itu adalah kata-kata terindah yang pernah kuterima dalam hidupku. Dan dengan mantap pun aku mengangguk seraya berkata. “ Aku juga mencintaimu Minho.” Dan kemudian kau langsung memelukku erat membuat jantungku kembali berdegup kencang dan semakin kencang. Dan Rinai hujan menjadi saksi awal kisah cinta kita.

            Hari demi hari kulalui denganmu, penuh dengan sukacita, tawa , canda dan masih banyak lagi. Dan itulah yang membuat hidupku terasa lebih berwarna.

            “ Chagi, jika suatu hari aku pergi meninggalkanmu, bagaimana perasaanmu?” tanya mu disuatu sore yang jingga saat kita sedang duduk-duduk di taman. Aku menatapmu, pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja aku tak akan sanggup.

            “ Hmmm…… bagaimana ya? Aku juga tak tahu, masalahnya hal itu kan belum terjadi.” Ujarku singkat. Kau tersenyum sambil mengacak-acak rambutku yang berpotongan pendek itu. “ Jadi kau ingin hal itu terjadi?” tanyamu lagi.

            Bodoh… bodoh…bodoh….. kenapa kau begitu bodoh Minho? Tentu saja aku tak ingin hal itu terjadi. Aku akan sakit jika itu terjadi. “ Hmmm…..menurutmu bagaimana?” aku balik bertanya.

            Kau mengerucutkan bibirmu seraya berpikir dan kemudian kau menatapku. “ Hmm…. Menurutku kau tak akan pernah sanggup. Karana  aku yakin bahwa akulah lelaki terkeren yang pernah kau miliki.” Katamu dengan bangganya. Aku tertawa melihat tingkahmu, tak kusangka kekasihku ini sangatlah percaya diri. “ Ya…. Kenapa kau sangat percaya diri ??” ucapku sambil tertawa-tawa kecil.

            “ Tapi benar kan?”

            “ …………………………..”

            “ Iya kan?”

            “ …………………………”

            “ kuanggap itu tandanya kau setuju.

            “ Tidak…..!!!!” teriakku sambil menjulurkan lidahku.

            “ Awas kau ya!!!” Kau mengejarku yang sudah duluan berlari kesekeliling taman, membuat pengunjung lainnya menatap kita dengan pandangan tak mengerti. Namun aku tak peduli dengan itu semua, yang pasti kenangan denganmu adalah hal terindah yang pernah kurasakan.

 

Aku sudah tau jawaban dari pertanyaanmu waktu itu. Aku sakit. Aku sangat sakit sekarang. Saat kau tak lagi disisiku, hati ini terasa tersayat. Hati ini tak pernah lagi tenang. Tahukah kau, semenjak hari itu, air mata ini tak pernah berhenti mengalir setiap malam. Hari itu, adalah akhir dari kisah kita. Disuatu malam penuh bintang . tepat saat ulang tahunku ke-18.

Aku menatap wajahku yang terpampang jelas dicermin oval kamarku. Sebuah gaun tanpa lengan dengan panjang selutut terbalut anggun ditubuhku. Kubiarkan  rambutku yang panjangnya sebahu itu tergerai lurus ,tanpa lupa kusemprotkan sedikit hair spray. Kemudian kutaburkan sedikit bedak baby kewajahku dan kuoleskan sedikit lipgloss bening ke permukaan bibirku. Almost perfect! Aku yakin hari ini akan menjadi ulang tahun terindah dalam hidupku.

            Teet… teet… teet…..

            Handphoneku yang sedari tadi tergeletak diatas single-bed ku kini berdering nyaring. Sebuah pesan masuk ke kontak pesanku. Segera kuhentikan kegiatan dandanku dan segera kuraih handpohone ku itu.

            From : Minho

Chagi…. Kau sudah siap? Aku yakin sudah siap!!! Aku yakin kau sudah tak sabar menungguku kan? Hehehehe…. Ya sudah kau tunggu aku dirumahmu ya? Aku akan segera datang…

            Saranghae……

           

            Pipiku terasa memanas membaca isi pesan itu. Setelah satu tahun aku menjadi kekasihmu, inilah kali keduanya kau mengatakan kata cinta kepadaku . Apa hanya karena hari ini adalah hari ulang tahunku? Entahlah, hanya engkau yang tau.

           

2  jam kemudian…….

            Aku masih menunggu dan menunggumu, kau masih tak datang. Kulirik sejenak jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku.’Tenanglah minra, yakinlah Minho pasti akan datang’. Aku akan terus menunggumu.

3 jam kemudian…….

 Aku mulai mondar mandir disekeliling kamarku. Entah kenapa perasaanku mulai tak tenang lagi. Aku terus meremas remas jemariku sendiri demi menenangkan hatiku. Namun , hati ini terus bergejolak.

‘ tenanglah minra, dia pasti akan datang’ bisikku mencoba menenangkan hatiku sendiri.

4 jam kemudian……

Aku masih mondar mandir kesekeliling kamarku. Sejenak kulirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku. Pukul 9 malam! Kenapa kau selalu seperti ini? Kenapa kau selalu membuatku menunggu tanpa kepastian? Apa kau hanya mencintai hujan? apa kau tak mencintaiku? Harus berapa lama lagi aku menunggumu.

Aku terduduk sambil menekuk kedua lututku. Air mataku pelan-pelan mengalir disudut mataku dan kemudian menjadi sebuah tangisan yang pecah. Aku sangat benci kau ! aku sangat benci dengan lelaki yang bernama Minho. Kenapa kau selalu membuatku menunggu disini ? tidakkah kau tahu ? Tidakkah kau menganggap hari ini adalah hari yang special bagi kita?
aku sangat benci kau Minho!!!!!!!

Teet….teet…..

Bunyi dering handphone menghentikan tangisanku. Segera kuseka air mataku yang masih mengalir deras dikedua pipiku itu. Setelah air mata itu berkurang, segera kusambar handphoneku yang tergeletak  diatas tempat tidurku. Sebuah nomor tak dikenal. Aku mengerenyitkan dahiku sejenak. Siapa ya yang menelponku malam-malam begini?

Segera kupencet tambol OK diponselku itu.

‘ Yobseyo….’ Suara ku terdengar sedikit serak, namun aku tak peduli.

‘Apakah kau yang bernama Park minra?’ sebuah suara seperti suara yeoja terdengar jelas ditelingaku. Aku mengerenyitkan dahiku, aku tidak kenal suara wanita ini.

‘ ya… ini saya sendiri. Nuguseo ?’ tanyaku penasaran.

‘ Nanti akanku jelaskan siapa aku. Namun sekarang cepatlah datang ke rumah sakit di Seoul, Minho oppa kecelakaan.’

Petir bagaikan menggelegar keras diatas kepalaku sendiri.  Minho kecelakaan?  ‘ Baik….baik…. aku akan segera kesana …..’

Segera kusambar kunci mobilku dan kemudian segera kuberlari menuju garasi. Aku tidak peduli dengan dandananku yang sudah awut-awutan. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Itu saja.


aku masih menatap hujan yang makin lama makin deras itu. Hati ini kembali terasa sakit. Memori yang menyakitkan itu kembali terulang dipikiranku. Andaikan saat itu kau tidak menjemputku, andaikan saat itu kau tak pergi, mungkin takdir ini tak kan pernah terjadi.

Namun takdir tetaplah takdir. Semua tela terjadi dan aku tak bisa lagi untuk mengembalikan takdir.

Aku masih berlari dan berlari di sepanjang koridor rumah sakit itu. Aku tak peduli lagi dengan banyak pasang mata yang menatapku dengan pandangan aneh. Mungkin mereka menganggapku sebagai orang gila yang pergi kerumah sakit dengan menggunakan gaun. Aku tak peduli, aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku tak ingin hal lain.

            Aku terus berlari dan berlari hingga aku sampai di ujung koridor rumah sakit. Dari jauh kulihat siluet seorang yeoja manis yang terduduk lemas di atas bangku yang terdapat disepanjang koridor itu. Aku berjalan mendekatinya dan bagai mengetahui kehadiranku, yeoja itu mengangkat kepalanya dan kemudian menatapku. Matanya nampak memerah seperti sehabis menangis. Tak lama kemudian wanita itu langsung menghambur kepelukanku. Tangisnya mulai pecah dibalik pelukanku .

            “ Minra eonni, Minho oppa sudah pergi.” Ujar yeoja itu disela-sela tangisannya.

            Aku tertegun. Sebuah gelegar petir serasa menyambar keras diatas kepalaku. Aku melepaskan pelukanku dari yeoja yang tak kukenal itu.

            ‘ bu.. busun mariya ? ‘ gumamku sambil menatapnya tak mengerti.

             Yeoja itu kembali mengeluarkan air matanya dan kini semakin mengalir deras. Aku masih menatapnya tak mengerti dan memang aku sungguh tak mengerti.

            ‘ Minho oppa sudah pergi. ‘ ulang yeoja itu disela tangisnya. ‘ Dia sudah tiada !!!’            

Aku menatap yeoja itu tak percaya.‘ Tidak mungkin, tidak mungkin Minho meninggal. ‘ Gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku cepat-cepat.

            ‘  aku tidak bohong, Minho oppa meninggal akibat pendarahan diotaknya.’ Jawab yeoja itu cepat. Aku tak percaya begitu saja ! aku yakin kau masih hidup ! aku yakin….

            ‘ Tidak !!!!!! kau pembohong !!! tidakk mungkin Minho meninggal !! kau tau apa tentang minho ??? aku kekasihnya sedangkan kau ? ‘ teriakku sambil menatapnya. Dasar yeoja pembohong ! aku tak akan langsung percaya dengan perkataannya.

            ‘ Aku  tidak bohong !’ jawab yeoja itu. ‘ Aku adiknya Minho oppa dan kalau eonni tidak percaya, eonni bisa lihat sekarang kedalam’ . Gadis yang ternyata adikmu itu menarik lenganku menuju sebuah ruangan yang sejenak kulihat bertuliskan KAMAR MAYAT.

            Aku menatap kesekeliling ruangan itu dengan tajam. Aku tak kan pernah percaya bahwa kau akan memasuki ruangan seperti ini. Aku yakin kau akan menjemputku dan kemudian mengajakku jalan-jalan untuk merayakan satu tahun hari jadi kita. Aku yakin itu.

            ‘ Eonni bisa lihat sendiri. Ini adalah minho oppa, oppaku dan juga kekasih eonni.’ Ujar yeoja itu dengan serak. Aku menatap jasad yang terbujur kaku itu dan tak kupercaya itu adalah kau.

 Tidak mungkin, tidak mungkin kau. Aku yakin ini bukan kau . Bukankah kau berjanji akan menjemputku dan mengajakku pergi merayakan hari jadi kita ?

            ‘ Tidak !!!! Tidak mungkin !!!! ‘ Teriakku sekeras mungkin. ‘ Tidak mungkin Minho meninggal !! Minho ayo bangun, aku yakin kau hanya bercanda ! Aku yakin kau ingin memberiku kejutan kan ? aku sudah tau semuanya. Ayo bangun Minho !! ‘ Aku mengguncang-guncang tubuhmu yang takkan pernah kuyakini bahwa itu adalah dirimu itu dengan kuat. ‘ cepat bangun Minho !!!!!’ teriakku. Namun kau tak pernah bergeming. Kau masih terbujur kaku sambil menutup matamu.

            ‘ MINHOOO !!!!!!!!!’

 

Aku masih menatap hujan yang semakin deras dan deras itu. Air mata ini kembali mengalir dengan deras. Akankah kau kembali kasih ? Bahkan hanya sekali saja, takkan pernahkah ?. Tidakkah kau mengerti aku disini tersiksa sendiri ? Aku tau, kau takkan pernah mengerti perasaanku karena kau takkan pernah kembali lagi.

Aku berjalan pelan menuju ke halaman rumahku itu. Kini kubiarkan tubuhku basah kuyup karena guyuran hujan yang semakin lama semakin deras itu. Kubiarkan air mataku kini melebur dengan aliran air hujan yang membasahi wajahku ini. Aku cinta hujan, sebagaimana aku mencintaimu. Maka dari itu, biarkanlah aku menikmati guyuran hujan ini hanya untuk sekali saja. Kumohon izinkan aku menangis dibawah guyuran hujan ini hanya untuk sekali ini saja. Percayalah, setelah ini aku akan terus tersenyum menatap hujan, karena hujan adalah awal kisah kita dan aku yakin kisah ini takkan pernah berakhir selama hujan masih ada, karena hujan adalah dirimu dan kenangan kita.

Because my love just for you and the rain……

 

————–THE END————–

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Love Rain”

  1. apa krna lagi musim ujan ato apa yah. tp bnyk ff yg temya hujan nih. hehhe..
    cara nulis’y bgus bngt, masa lalu en masa kini nya pass alurnya..suka deh 🙂

  2. ffnya sedih 😦 apercaya ato gk? Aku nangis krn bca ff ini. Beneran deh ._.v

    Cuman, pas minho meninggal tuh masih abu2 gtu. Knp dia meninggal? Pendarahan otaknya itu krn apa? Itu doang sih yg masih blm jelas tpi overall, sgla mcam jalan crta, alur, pmlihan kata, dll smuany almost perfecto!

    Intiny sih itu aja. Trus brkarya ya thor! Fighting! ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s