Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 8A

Naega Saranghae Season Two (Our Marriage) – Part 8A

nsst part 8

Author: Papillon Lynx aka Ervina H

Major Casts:

  • Kim Shin You (Imaginary Cast) covered by Jung Eun Ji APink
  • Choi Minho SHINee covered by Choi Minho SHINee
  • Kim Jonghyun SHINee covered by Kim Jonghyun SHINee
  • Aita Rinn (Imaginary Cast) covered by Kim So Eun
  • Kim Kibum aka Key covered by Kim Kibum aka Key SHINee
  • Lee Jinki covered by Lee Jinki SHINee
  • Lee Jura covered by Lee Jinki SHINee
  • Han Nhaena (Imaginary Cast) covered by Son Naeun APink
  • Han Yurra (Imaginary Cast) covered by Kim Taeyeon SNSD
  • Lee Taemin covered by Lee Taemin SHINee
  • Jang Hyunseung covered by Jang Hyunseung B2ST
  • Hwang Suji covered by Han Ga In

Minor Cast:

  • Jinki and Minho’s Eomma
  • Lee Won Ssi
  • Shin You and Jonghyun’s Eomma
  • Kim Junsu
  • Lee Soo Man
  • Tuan Han
  • Nyonya Han
  • Nyonya Kim
  • Pengacara Hwang
  • Park Sera
  • Manager Hyung

Genre:

  • Romance
  • Sad
  • Life
  • Friendship
  • Marriage Life

Length: Sequel

Rating: PG-13 until PG-16

 

Summary        :

Our marriage was a mistake. However, what if love begins to grow between us over time? We don’t know. But, if that happens, as much as possible I will continue to maintain our beautiful love.

 

A.N:

Setelah menjalani masa-masa sulit dan juga UKK, akhirnya sekarang aku bisa balik lagi bawa ff yang mungkin ditunggu-tunggu kapan the end-nya. Hehehe.. Masih inget ngga cerita di part kemarin? Masih penasaran sama kelanjutannya? Oke deh, langsung aja. Check it out!😉

 

NOTE :

KATA-KATA YANG BERCETAK miring ADALAH KATA-KATA YANG DIUCAPKAN OLEH KARAKTER DALAM HATI DAN BAHASA ASING (KOREA DAN INGGRIS) YANG DIGUNAKAN DEMI KEPERLUAN ALUR CERITA

 

Review Last Part

 

Yeobo, aku sangat merindukanmu. Aku mengkhawatirkanmu selama aku di Paris. Aku ingin cepat pulang dan sekarang kau sudah berada dalam dekapanku. Jebal, jangan tolak aku. Aku menginginkanmu.”

 

@@@

Seminggu telah berlalu. Memang cepat. Tapi cukup lama bagi seorang istri menunggu kedatangan sang suami pulang dari kerjanya. Dan jarak yang membentang di antara sepasang suami-istri itu tak dekat. Seoul-Perancis. Hal itulah yang sekarang dirasakan oleh Han Yurra. Ya.. Menunggu kepulangan sang suami, Lee Jinki, seorang artis yang tengah naik daun dengan banyak fans yang mengaguminya karena kepiawaiannya berakting di setiap drama yang diperankannya. Bahkan dalam waktu sebulan ini, ini adalah kali kedua Jinki terbang ke negeri Perancis dengan alasan akan menyelesaikan syuting CF terbarunya di sana. Setidaknya, itulah yang Yurra tahu. Itulah yang Yurra dengar dari bibir suaminya.

Merasa tak ingin terus-menerus merasakan sakitnya merindu, akhirnya Yurra memilih untuk bangun dari tidur siangnya –walaupun Yurra sebenarnya tak benar-benar bisa tertidur saat itu. Yurra melangkahkan kakinya menuju ke depan cermin besar setinggi tubuhnya, dan menyisir rambut pendeknya dengan perlahan. Pandangannya kosong, hanya mengikuti gerakan tangan kanannya yang secara perlahan tengah merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

DRRT.. DRRT..

Yurra menoleh. Ponsel berchasing merah kesayangannya, bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidur. Sebuah panggilan telepon untuk pemiliknya. Yurra pun segera mengangkat panggilan itu tanpa membaca nama penelepon di layar ponselnya.

Yeobsseoyo..” Terdengar sengau suara sapaan Yurra di telinga lawan bicaranya sehingga penelepon di seberang sana mengernyitkan alisnya heran.

“Yurra-ssi, ini aku. Gwenchanhaseyo? Apa kau sedang flu?” tanya si penelepon tanpa menjawab sapaan Yurra yang terdengar mengkhawatirkan untuknya.

“Oh, Manager Oppa. Nan gwenchana. Hanya baru bangun dari tidur siang saja.” Dusta Yurra sambil tersenyum. Entah tersenyum pada siapa karena tak mungkin Manager Oppa bisa melihat senyumannya. Benar, bukan?

Aigoo.. Kau mengagetkanku saja. Ah geurae, dimana Jinki? Aku ingin bicara dengannya sekarang juga.” Sontak kedua alis Yurra berkerut, merasa bingung dengan pertanyaan Manager Oppa yang terdengar konyol di telinganya. “Dasar, bocah itu.. Aku menghubunginya beberapa kali sejak setengah jam yang lalu, tapi ponselnya tidak aktif. Pasti ia tidak ingin diganggu karena kalian sedang menghabiskan waktu kalian bersama-sama, bukan??” tanya Manager Oppa lagi dengan nada mencibir. Dan tentu saja, hal itu semakin membuat Yurra bingung dan kini perasaan bingung itu telah berubah menjadi perasaan was-was.

“Tunggu, Oppa. Apa yang kau maksud sebenarnya? Aku tidak mengerti.” Ucap Yurra lirih seraya menggelengkan kepalanya pelan. “Jinki Oppa.. Ia.. Ia.. Tidak bersamaku saat ini.” Suara Yurra bergetar. Kini giliran Manager Oppa di seberang sana yang menautkan kedua alisnya. “Bahkan sejak seminggu yang lalu.” Lanjut Yurra yang tanpa sadar satu tangannya tengah meremas ujung atasan piyama tidurnya.

MWO??! Uhuk! Uhuk..” Manager Oppa yang ternyata tengah menyantap makan siangnya di seberang sana langsung tersedak dan terbatuk ketika mendengar kalimat terakhir Yurra. Raut wajah Yurra bertambah cemas ketika mendengar Manager Oppa terbatuk. Dan setiap detiknya, derajat kecemasan Yurra semakin bertambah. Bukan lagi karena Manager Oppa yang tersedak, tapi karena kata hatinya yang terus berbisik bahkan sekarang berteriak mengatakan kalau ada sesuatu yang tidak beres yang tengah terjadi saat ini. “Oppa, gwenchanhaseyo?” tanya Yurra setelah hening sebentar.

“Oh, mianhaeyo. Aku hanya sedikit tersedak saja.” Selera makan Manager Oppa pun hilang seketika. Namja tampan yang selalu terlihat mengenakan kacamata dengan kemeja yang pada bagian kedua lengannya selalu ia gulung itu, mendorong piring makannya yang masih berisi setengah makanan pesanannya menjauh dari hadapannya. Itu menandakan ia tak ingin melanjutkan aktifitas memberi makan cacing-cacing dalam perutnya saat ini. “Benarkah.. Jinki tidak bersama denganmu sejak seminggu yang lalu??” tanya Manager Oppa ragu-ragu. Yurra diam. Yurra kembali berpikir.

Eoddiseoyo?” tanya Yurra pada akhirnya. Yurra tak menjawab pertanyaan Manager Oppa, namun Yurra justru melontarkan pertanyaan yang membuat Manager Oppa heran.

“Di sebuah restoran kecil yang berjarak tak jauh dari kantor agensi. Waeyo, Yurra-ssi?”

Mwo?! Ah.. Anniyo. Maksudku, aku bertanya, tepatnya Oppa sedang berada di negara mana sekarang? Korea atau Perancis?” Dahi Manager Oppa berkerut.

“Perancis?? Tentu saja aku sekarang berada di Korea. Korea Selatan. Seoul.”

DEGH!

Yurra tersentak. Satu tangannya langsung mencengkeran pinggiran meja kecil di hadapannya. Kakinya terasa lemas. Hampir saja ponselnya jatuh jika ia tak segera mengeratkan pegangan tangannya di ponsel kesayangannya itu.

Mussun issuriyeosseo??” tanya Manager Oppa cemas. “Kenapa kau bertanya seperti i-“

Manager Oppa! Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau bersama Jinki Oppa pergi ke Perancis? Bukankah ada pengambilan gambar untuk CF terbarunya di sana?” tanya Yurra  bertubi-tubi, cepat, bahkan dalam satu tarikan nafasnya saja. Manager Oppa bangkit dari duduknya karena menyadari ada rasa kekhawatiran yang sangat besar yang terdengar dari setiap kata-kata Yurra. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Batin Manager Oppa.

 

Mwo? Geurae anniyo. Setahuku, bulan ini Jinki tidak menerima tawaran pekerjaan seperti itu. Apa Jinki yang berkata seperti itu padamu?” Manager Oppa tak bisa berdiam diri. Kini ia sudah keluar dari restoran setelah sebelumnya meninggalkan sejumlah uang di atas mejanya. Manager Oppa masuk ke dalam mobil sportnya yang berwarna hitam mengkilap dan duduk di atas kursi kemudi.

Ne. Lalu, kemana Jinki Oppa pergi?” Yurra mulai terisak. Manager Oppa semakin bingung dibuatnya. Jinki tak mungkin berbohong padanya dengan mengatakan bahwa ia ingin cuti selama 1 minggu dan beristirahat di rumah. Namun kenyataannya, tak hanya ia yang didustai oleh Jinki, tapi Yurra juga telah menjadi korban kebohongannya. Jinki telah berbohong pada istrinya sendiri kalau ia pergi ke Perancis untuk pengambilan gambar CF terbaru di sana dan itu sudah terjadi sejak seminggu yang lalu.

Jadi, mana yang benar? Jinki sedang cuti bekerja dan berdalih ingin beristirahat di rumah selama 1 minggu namun kenyataannya Jinki tak ada di rumah sekarang atau Jinki memang benar menerima tawaran pekerjaan untuk menjadi model di CF terbaru yang Yurra katakan dan terbang ke Perancis karena hal itu? Tapi tak mungkin sebagai seorang manager, Manager Oppa tak tahu tentang hal itu. Semua tawaran pekerjaan yang ditawarkan pada seorang artis, terlebih artis terkenal seperi Jinki, sudah seharusnya melewati manager yang bersangkutan terlebih dahulu. Ditampung, setelah itu baru ditanyakan pada artis dan agensinya, apakah artis dan agensinya itu mau menerimanya atau tidak. Jika iya, juga harus disesuaikan terlebih dahulu dengan jadwal dan schedule kerja yang sudah ada. Semuanya membutuhkan proses. Jadi, apa alasan Jinki membohongi mereka?

Manager Oppa langsung menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat setelah ia mendegar tangis Yurra yang tiba-tiba saja menghilang dari indra pendengarannya dan digantikan dengan bunyi khas telepon telah terputus yang terdengar monoton. Manager Oppa melempar ponselnya asal ke kursi penumpang di sampingnya dan langsung membawa mobilnya melaju menuju ke apartemen Jinki saat itu juga dengan kecepatan di atas rata-rata.

“Kau yakin kau tidak apa-apa? Jangan memaksakan diri, Yurra-ssi. Biar aku saja yang mencari dimana keberadaan Jinki. Kalau perlu, aku akan berangkat ke Perancis sekarang juga. Aku tak yakin kau bisa.” Manager Oppa menahan lengan Yurra setelah melihat Yurra keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah koper besar dengan mata yang sembab. Manager Oppa yang semula hanya duduk di atas sofa ruang tengah, merenung dalam diam, langsung bangkit begitu melihat istri dari namja yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu membawa koper besar keluar dari kamarnya.

“Tidak. Aku tak bisa berdiam diri, Oppa. Aku harus mencarinya juga. Ini semua aneh. Dan aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Jinki Oppa. Lagipula, jika Jinki Oppa tak segera kembali atau ditemukan hari ini juga, maka karirnya bisa hancur. Bukankah seharusnya Jinki Oppa sudah harus kembali pada rutinitasnya mulai besok? Aku yakin kau tidak bisa terus-terusan berdalih untuk membatalkan semua tawaran pekerjaan yang sudah kalian terima untuk menutupi kepergian Jinki Oppa, bukan??”

Manager Oppa mendesah. Terdengar berat di telinga Yurra. “Baiklah. Lalu, kau akan pergi dengan siapa? Kau ini seorang yeoja. Kau tidak boleh berpergian sendiri.”

“Aku ini wanita dewasa, Oppa. Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Nan gwenchana. Aku akan terus  memberimu kabar. Aku mohon padamu, tolong bantu aku menyelesaikan masalah yang ada di sini. Na ka (Aku pergi). Apartement ini aku titipkan dulu padamu sementara . Annyeong!” Manager Oppa membiarkan Yurra melepas genggaman tangannya di lengan yeoja itu. Guratan kecemasan di wajah Manager Oppa masih belum hilang meskipun sekarang Yurra telah menghilang dari jarak pandangnya.

Manager Oppa menghampiri sofa itu lagi dan duduk di atasnya dengan perlahan. Hembusan nafasnya terasa berat seiring dengan banyaknya dugaan-dugaan perihal menghilangnya Jinki yang membuatnya dan Yurra bingung setengah mati. Manager Oppa terus berpikir, hal pertama apa yang harus ia lakukan besok jika Jinki belum menampakkan batang hidungnya juga.

@@@

BRUK!!

Ya! Ya! Ya! Neo wae irrae?? Pikyeo!” seru Nhaena begitu melihat Key masuk ke dalam kamar hotel mereka dan langsung saja merebahkan tubuhnya di tengah-tengah tempat tidur mereka. Key hanya diam saja, tak mempedulikan seruan Nhaena.

Key akhirnya mengiyakan permintaan Nyonya Kim untuk berbulan madu ke Perancis bersama Nhaena. Kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya sadar kalau tak seharusnya seorang nampyeon tak mempedulikan anaenya sendiri. Dan dengan ini, Key ingin menebus kesalahannya pada Nhaena juga untuk merubah sikap buruknya.

Mata Key terpejam. Ia merasa lelah. Tidak, lebih dari itu. Perjalanan menggunakan pesawat dengan jarak tempuh 7 jam yang megharuskannya terus duduk di pesawat, membuat seluruh tubuhnya terasa kaku dan seakan remuk.

Nhaena hanya mendesah sambil memutar kedua bola matanya sebal. “Key-ya! Pikyeo! Aku juga ingin tidur. Kau kira hanya kau saja yang lelah? Na ddo..” rengek Nhaena yang kini sudah berdiri di samping sisi tempat tidur menghadap tubuh Key yang masih belum berkutik sedikitpun. Nhaena jengah. “YA!! AIISH!” Seketika itu juga Nhaena naik ke tempat tidur dan mendorong tubuh Key semampu yang ia bisa hingga Key sedikit terguling ke samping. Key tak mengelak ataupun marah diperlakukan seperti itu oleh Nhaena. Ia tak ingin beradu mulut dengan Nhaena di saat semua bagian tubuhnya seakan mati rasa sekarang.

Kini posisi mereka berdua bersebelahan. Namun bedanya, Key tidur dengan posisi tubuh telungkup. Walaupun wajahnya menempel tepat pada permukaan tempat tidur, tapi Key merasa nyaman-nyaman saja. Bahkan hembusan nafasnya terdengar teratur. Hal itu yang membuat Nhaena heran dan membuka matanya lagi yang semula terpejam.

Ya! Apa kau tidak sesak nafas tidur dengan posisi seperti itu?” tanya Nhaena dengan nada mencibir. Nhaena sedikit menolehkan kepalanya ke arah Key.

Anniyo. Aku bahkan sudah sering tidur dengan posisi puncak kepalaku berada di bawah dan menyangga tubuhku.” Jawab Key asal dengan nada suara yang terdengar malas. Nhaena berdecak.

“Haha.. Lucu.” Komentar Nhaena malas. “Michyeo. Kau kira kau ini kura-kura ninja?” Ejek Nhaena. Key tersenyum sekilas.

“Hei, apakah itu tidak lucu? Aku sedang berusaha menghiburmu sebagai nampyeon yang baik.” Key bangkit dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Nhaena tak bergeming.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Oppa? Kau salah makan obat? Akhir-akhir ini sikapmu melembut padaku. Kau juga tak pernah lagi membalas ejekanku atau membentakku.” Baru setelah selesai mengucapkan kata-katanya, Nhaena mengekor Key untuk duduk. Nhaena menatap Key lekat. Ia harus tahu apa penyebab perubahan sikap dan sifat Key. Key membalas tatapan Nhaena dan tersenyum. Sejurus kemudian, Key mengusap lembut pipi Nhaena membuat jantung Nhaena ingin melompat keluar saat itu juga.

“Malam ini kita makan malam bersama di luar, ya? Jangan lupa, berdandanlah yang cantik.” Sekali lagi Key tersenyum. Tulus.. Lalu bangkit menuju kamar mandi setelah mengajak Nhaena untuk makan malam di luar bersamanya. Nhaena hanya bisa mematung di tempatnya dengan bibir yang terbuka dan tertutup kembali. Heran, namun juga melayang.

Neo eoddisseo?” tanya Nhaena pada penelepon di seberang sana. Kini Nhaena tengah mematut dirinya di depan cermin, memastikan apakah dirinya sudah terlihat cukup cantik di mata seorang Key. Sebentar lagi ia akan berangkat menemui Key di restoran yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Key sebelum Key tadi lebih dulu berangkat ke tempat itu. Mereka memang memutuskan untuk tidak berangkat bersama-sama karena Key berkata ia ada urusan penting yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.

“Aku dalam perjalanan menuju tempat pertemuan kita. Kau sudah siap?” suara tenor milik Key terdengar di seberang sana. Karena merasa sedikit kesulitan berdandan sambil menelepon, Nhaena meletakkan ponselnya di atas meja rias dan mengaktifkan loudspeakernya.

Eoppseoyo. Aku masih di hotel. Kidaryeo, sebentar lagi aku akan berangkat, Key-ah.” Jawab Nhaena sambil memasang anting di telinganya.

Ne. Jangan terburu-buru. Kau tahu tempatnya, kan? Tunjukkan saja alamat yang sudah aku tulis di kertas tadi pada supir taksi. Arra?” Nhaena mengangguk, walaupun Key tak mungkin melihat anggukkan kepalanya.

Arrasseo. Aku bukan anak kecil lagi yang harus terus-menerus kau ingatkan.” Key terkekeh.

Joa. Berhati-hatilah di jalan. Annyeong!”

BIPP!

Dan seulas senyum manispun tersunggir di bibir Nhaena tanpa ia sadari saat itu.

Key menepikan mobil Lexusnya di pinggir jalan tepat di depan restoran bergaya Itali bernama Moratti’s. Mobil Lexus hitam itu dapat dengan mudah didapatkannya karena ia memiliki kenalan seorang teman di Perancis yang memang menyewakan mobil-mobilnya. Dan malam ini adalah malam yang special untuk Key dan Nhaena, sehingga Key berinisiatif untuk menyewa mobil tersebut. Key berencana, setelah makan malam nanti, ia akan mengajak Nhaena mengelilingi kota dengan mobil tersebut. Ia ingin menyenangkan hati Nhaena. Tentu saja.

Key membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana. Key menutup pintunya santai dan menekan salah satu tombol di remote kunci mobil itu untuk memastikan bahwa mobil sewaannya malam itu aman dan terkunci. Namun ketika ia berbalik, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya tengah bersama seorang yeoja berpakaian seksi sambil berjalan bergandengan keluar dari dalam Morrati’s.

Key menyipitkan kedua matanya, mencoba mengamati lebih jelas siapa orang yang dicurigainya itu. Dan ternyata benar! Key tersentak begitu ia yakin 100% bahwa orang itu adalah dia. Dia, ya benar dia! Lee Jinki! Dan rahang Key pun bergemelatak begitu melihat Jinki mencium mesra gadis berpakaian seksi itu, dengan mata kepalanya sendiri.

Key langsung menghampiri mereka dengan langkah lebar-lebar dan..

BUGH!

Jinki tersungkur dan meringis ketika satu pukulan keras mendarat dengan mulus mengenai pipinya. Tentu saja semua orang yang berada di sekitar mereka tersentak dan memekik ketakutan. Tak terkecuali yeoja berpakaian seksi tadi yang sekarang sedang membantu Jinki untuk bangkit berdiri.

“Kim Kibum?” Key mengernyit heran melihat wajah tak berdosa yang diberikan Jinki di hadapannya. Kedua tangan Key terkepal kuat di samping tubuhnya. “Sedang apa kau di sini, Key-ah?” Dan cukup sudah bagi Key untuk bungkam.

“SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA PADA DIRIMU, HYUNG! SEDANG APA KAU DI SINI BERSAMA WANITA JALANG INI??!!” sentak Key dengan emosi di puncak kepalanya.

Bukannya mendengarkan kata-kata penyesalan, Kibum justru mendengar jawaban terkonyol yang pernah di dengarnya dari seorang Lee Jinki. Dan senyuman Jinki yang mengawali namja itu untuk menjawab pertanyaan Key, membuat Key merasa ada yang berubah dari seorang Jinki. Tidak, bukan berubah. Tapi berbeda. Dan hal itu membuat Key ingin menonjok wajah Jinki sekali lagi.

Naega?” Jinki terkekeh sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. “Aku sedang bersenang-senang, Key-ah. Wae? Kau tak suka??” Jinki terkekeh lagi sambil memeluk yeoja yang bersamanya sejak tadi dengan erat. Sudah barang tentu, setiap gerak-gerik Jinki yang tertangkap di mata Key saat ini membuat tingkat emosi yang ada dalam diri Key bertambah menjadi berlipat ganda.

“HAH! Bersenang-senang katamu?? Maksudmu, dengan wanita bayaran ini, Hyung?!” Key mencoba menahan emosinya sambil mengedikkan dagunya ke arah wanita di samping Jinki. Namun raut wajah Jinki berubah keras mendengar kata-kata Key yang mencela gadisnya.

“KAU! Dia bukan wanita bayaran! Dia gadisku! Kekasihku!!” seru Jinki membuat Key tak percaya dengan namja di hadapannya.

HYUNG, SADARLAH!! Kau sudah beristri! Kau sudah menikah dengan Yurra Noona! Aku tahu kalau kau menikah dengannya karena terpaksa, begitupula dia. Tapi tak seharusnya kau menyakitinya seperti ini!!” Emosi Key kembali terpancing.

Aiish! Persetan dengan apa yang kau katakan! Aku tak mencintai wanita itu! Dia membosankan! Dan sejak awal, hanya ada Hwang Suji di hatiku. Pikyeo!!” Jinki mendorong tubuh Key ke samping dengan keras. “Urus saja wanita membosankan itu! Dan katakan padanya, setelah aku kembali ke Seoul aku akan segera mengirimkan surat perceraian kita.” Jinki terkekeh lebih keras bersama wanita dalam pelukannya dan pergi meninggalkan Key yang mematung, yang terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi dan apa yang baru saja didengarnya dari bibir seorang Lee Jinki. Sejauh ia mengenal Jinki, ia tak pernah tahu kalau seorang Lee Jinki tidak lebih dari seorang pengkhianat dan nappeun namja.

Oppa..”

DEGH!

Key mendengar suara seorang yeoja yang tak asing lagi di telinganya walaupun sudah lama ini ia tidak bertemu dan mendengar suara yeoja itu. Dan ketika ia berbalik, Yurra berada di sana. Ya, yeoja malang itu. Key yakin semua percakapannya dengan Jinki tadi sudah didegar dengan jelas oleh Yurra. Dan Key hanya bisa pasrah akan apa yang sebentar lagi akan terjadi.

Key melihat Yurra berlari melewatinya dengan tergopoh-gopoh sambil menarik koper besarnya dan mengejar kepergian Jinki. Dan benar saja..

PLAAAAK!!

Key melihatnya dengan jelas, Yurra menampar pipi suaminya itu dengan sangat keras sambil terisak. Kedua bahunya terlihat terguncang, namun tak ada satupun orang di sekitar mereka yang berani melerai Jinki dan Yurra ketika Yurra mulai memukuli dada suaminya itu sekuat yang ia bisa dengan kedua tangannya yang terkepal kuat. Tangis Yurra semakin keras, dan masih belum ada juga yang mau menolong. Bahkan Jinki hanya diam saja dan membiarkan dirinya dipukuli oleh Yurra tanpa ada ekspresi bersalah sedikitpun di wajahnya.

Benar. Ini salah. Dan Key tak tahan untuk diam mematung, melihat kejadian memilukan yang sedang dialami yeoja yang dincintainya sedetik lebih lama lagi—tunggu, Key tidak tahu apakah ia masih memiliki perasaan khusus itu pada Yurra sekarang, setidaknya setelah Yurra menikah dengan Jinki, setelah ia menikah dengan Nhaena, dan setelah ia memutuskan akan mencoba menerima Nhaena dan mencintai yeoja itu sebagai pasangan hidupnya mulai dari sekarang.

Key melangkahkan kakinya lebar-lebar dan menarik Yurra ke sisi tubuhnya dengan satu gerakan cepat tangannya. Yurra terkesiap dan mendongak menatapnya.

“Key-ah..??” lirih Yurra yang baru menyadari kehadiran Key. Lalu Yurra kembali menatap Jinki dengan tatapan yang menyiratkan perasaan sakit dan kecewa yang teramat dalam. Namun Jinki tetap terlihat tenang, justru melayangkan senyuman sinis yang menohok hati Yurra. Tidakkah Jinki Oppa merasa bersalah dan ingin menjelaskan ini semua? Batin Yurra.

“Dengan begini jalanku untuk menceraikanmu semakin mudah. Terima kasih atas tamparannya, Han Yurra. Akan selalu kuingat.”

NYUT!

Perkataan Jinki sungguh membuat Yurra hampir saja kehabisan nafas. Sesak, perih, sakit. Yurra hanya bisa menutup mulutnya yang setengah menganga tak percaya. Jinki, seorang Lee Jinki, namja sekaligus suami yang berjanji akan mencintainya, mencoba mencintainya dan pernah berkata tidak akan mencari wanita lain untuk menggantikan posisi Yurra, kini justru meninggalkannya sendiri, meninggalkannya di dalam pelukan Key, membiarkan Yurra terisak keras dan namja itu justru pergi bersama wanita lain yang tak pernah Yurra lihat dan kenal sebelumnya.

Inikah yang namanya pengkhianatan? Inikah sakitnya didustai oleh seseorang yang sangat kau cintai selama ini dan kini menusukmu dari belakang? Setelah apa yang kau lakukan padanya, setelah apa yang kau korbankan untuknya, bahkan kesucianmu, seluruh jiwa ragamu, pantaskah kau mendapat balasan seburuk ini? Sebenarnya, apa arti cinta itu? Bukankah cinta itu indah? Tapi mengapa tidak bagi Yurra? Mengapa menyakitkan untuknya? Mengapa memilukan?? Mengapa?! Teriak Yurra dalam hati.

Noona, sssttt.. Uljimayo. Dwaesseo, air matamu terlalu berharga untuk menangisi namja itu. Sudah, sudah. Ada aku di sini.” Key memeluk Yurra erat, menyalurkan kehangatan tubuhnya dan berharap dengan hal itu Yurra bisa tenang. Dan terbukti, isak tangis Yurra mereda setelah beberapa saat mereka saling berpelukan. Key tersenyum samar kepada Yurra ketika Yurra menarik diri dari dekapan Key.

Gomawo, Key-ah. Aku tak tahu kenapa kau juga ada di sini. Tapi kebetulan ini membuatku merasa sangat tertolong. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika tak ada dirimu di sini sekarang. Mungkin sekarang aku sudah berlari dan bunuh diri.” Key tersentak.

Noona!” bentak Key. Key marah? Tentu. Ia tak pernah melihat seorang Han Yurra sepesimis itu. “Jangan sia-siakan hidupmu hanya karena cinta. Pernikahan kalian memang sudah salah sejak awal. Pernikahan atas dasar tanpa cinta takkan bisa bertahan lama. Kita mengalami hal yang sama. Aku pun menikah karena terpaksa. Nhaena bukanlah yeoja yang aku cintai, Noona. Dangsineun (Sebenarnya), yeoja yang selama ini mengisi hatiku adalah kau.”

DEGH!

Yurra tercenung sesaat. Kedua mata mereka bertemu. Dan Key menatap kedua mata Yurra lekat-lekat. Sedetik kemudian, Yurra tersadar. Yurra memalingkan wajahnya, dan tak sengaja melihat jalanan di samping kirinya. Betapa terkejutnya Yurra ketika ia melihat Nhaena berdiri di sana dan jelas sekali air mata menetes deras dari kedua mata gadis berambut hitam panjang itu.

“Nhaena-ah..” gumam Yurra tak sadar. Key mengernyitkan dahinya. Bukan kata-kata itu yang Key harapkan sebagai jawaban Yurra atas pengakuan cintanya yang tiba-tiba. Tapi, tatapan mata Yurra yang terus tertuju dan terpaku pada satu titik di balik punggungnya, membuat Key mengikuti arah tatapan Yurra dan membalikkan badan.

“Nhaena-ah!” pekik Key begitu ia sadar ada Nhaena di sana dan kini istrinya itu telah berlari menjauh. Key panik. Key berharap Nhaena belum lama berdiri sana. Dan belum cukup tahu apa yang telah Key katakan pada Yurra tadi.

Noona, kidaryeo (tunggu aku)!” kata Key cepat sambil menepuk pelan pundak Yurra dan ia langsung berlari mengejar Nhaena yang sudah terlalu jauh dari jarak pandangnya.

“NHAENA!!” panggil Key lagi dengan lebih keras. Key berlari menerobos orang-orang yang tengah berjalan dan berlalu-lalang di sekitarnya dengan tergesa-gesa. Wajahnya panik. Nafasnya mulai terengah, namun Key tak menghiraukannya. Yang ada di pikirannya saat ini, ia merutuki dirinya yang telah bersikap bodoh dan lupa diri seperti tadi. Tak seharusnya ia melupakan Nhaena, bukan? Lalu, apa bedanya ia dengan Jinki sekarang jika ia juga berani mengatakan cinta pada wanita lain di depan istrinya sendiri??

GREP!

“Nhaena-ah!!” Key berhasil menangkap pergelangan tangan Nhaena dan membuat yeoja itu menghentikan larinya. Nhaena berbalik dan betapa terkejutnya Key melihat pipi Nhaena yang begitu basah karena air mata. Dan air mata itu Key lah yang telah menciptakannya. Kejam, bukan?

“LEPASKAN AKU!!” ronta Nhaena, masih dengan menangis. Key melihat ke sekeliling, semua orang yang berjalan melewati mereka, terus memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik. Dan Key bersyukur ia tak memahami bahasa mereka sehingga ia tak perlu tahu apa yang mereka katakan tentang dirinya yang telah sukses membuat seorang perempuan menangis hingga terisak keras seperti itu.

Changkkaman! Aku akan menje-“

“Pergi!! Kau telah berselingkuh dengan Yurra Eonni, Key!” sentak Nhaena memotong perkataan Key. Nhaena menghapus air mata di pipinya asal dengan punggung tangannya. Namun percuma, karena air mata yang lain terus menetes.

“Aku hanya tak sengaja bertemu dengannya. Dan aku berusaha untuk menghiburnya saja. Percayalah..” Key kehabisan kata-kata. Hanya itu yang bisa ia jelaskan pada Nhaena sekarang. Key bingung dan terjepit dalam situasi seperti ini. Key masih mencengkeram kuat pergelangan tangan Nhaena. Namun tak cukup kuat untuk membuat Nhaena kesakitan. Tapi tetap saja, Nhaena terus meronta meminta untuk dilepaskan.

Geotjimal (Pembohong)! Kau sengaja ingin menghancurkan bulan madu kita!” tuduh Nhaena. Dan tuduhan Nhaena membuat Key naik darah. Tentu saja. Tak pernah terpikirkan dalam benak Key kalau semua ini akan terjadi. Dan tak ada niatan sedikitpun untuk merusak bulan madu mereka. Bahkan ia sedang berusaha sangat keras untuk mencintai dan menerima Nhaena. Tidakkah yeoja itu mengerti? Tidakkah yeoja itu menyadarinya? Tidakkah Nhaena merasakan ketulusan hati Key? Sedikitpun, apakah tidak?

Key diam. Namun tanpa ia sadari, kedua matanya mulai berkaca-kaca. Sakit rasanya mendengar apa yang telah Nhaena tuduhkan padanya. Key tak tahu kenapa. Seharusnya ia tidak, oh bukan, seharusnya Key belum merasakan hal sesakit ini pada Nhaena karena ia belum memiliki perasaan apapun pada Nhaena. Tunggu sebentar, apakah Key cukup yakin ia belum merasakan apapun pada Nhaena? Key segera membuang lamunannya. Ia tak berani memikirkan hal itu sekarang. Dan apakah tepat memikirkan dirinya telah memiliki perasaan pada Nhaena atau belum dalam keadaan dan situasi seperti ini? Tidak. Nhaena telah menyakiti hatinya. Seumur hidupnya, Nhaena lah orang pertama yang terang-terangan tak ingin mempercayai Key. Key cukup teriris hatinya. Dan lagi-lagi, Key merasa bingung kenapa ia bisa merasakan sakit seperti ini? Apakah benar ia…?

Key tertawa miris. Perlahan, ia melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Nhaena. Dan saat itu terjadi, kehampaan mulai menjalari ruang hati Nhaena. Mungkin sedetik yang lalu, ia sangat ingin Key melepaskan tangannya. Tapi sekarang? Kenapa ia merasa tak rela? Dan ia merasa kekosongan telah memenuhi hatinya ketika matanya bertemu dengan mata Key yang menyiratkan keputus-asaan pada kisah mereka berdua.

“Terserah apa katamu! Geurae, aku memang mencintai kakakmu. Kau puas?” Dan Key pun berpaling, berjalan meninggalkan Nhaena yang masih mematung di tempatnya, membiarkan Nhaena menatapi punggungnya yang semakin dan semakin jauh saja dari jarak pandangnya, membiarkan Nhaena kembali terisak.

@@@

BRUK!

“Ah, jwesonghamnida. Jwesonghamnida, Agasshi.” Kata seorang yeoja sambil membungkuk beberapa kali sesaat setelah ia sadar ia telah menabrak seseorang. Yeoja itu mendongak dan kedua mata mereka bertemu.

Gwenchana.” Jawab Aita singkat. Aita lalu membereskan barang belanjaannya yang berserakan di tanah dan memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik. Yeoja itu langsung berjongkok dan membantu Aita. Sesaat kemudian, mereka bangkit berdiri bersamaan. “Gomawoyo..” Aita tersenyum ramah.

Ne, cheonmaneyo. Sudah seharusnya aku membantumu. Karena aku yang telah menabrakmu.” Kata yeoja itu sambil tersenyum.

Aita menatap yeoja itu dari kepala sampai kaki, lalu kembali lagi ke kepala. Rambut yeoja itu panjang, bergelombang dan berwarna hitam legam. Wajahnya cantik dan terlihat keibuan. Matanya besar dan kulitnya putih kekuningan. Dan di mata Aita, yeoja itu seumuran dengan dirinya. Juga.. Sempurna.

Merasa ditatap terus-menerus, yeoja itu pun mengibaskan satu tangannya pelan di depan wajah Aita. “Agasshi, Agasshi. Gwenchanhaseyo?” tanya yeoja itu sedikit cemas. Aita sontak tersadar dan menggeleng pelan.

“Kau.. Siapa namamu?” tanya Aita yang tak diduga oleh yeoja itu. Yeoja itu mengernyit heran.

Nde??”

“Siapa namamu? Dan.. Bolehkah kita berkenalan?” Aita tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya. “Choneun, Aita Rinn imnida. Wa neo (Dan kamu)?”

Meskipun ragu dan masih merasa bingung, yeoja itu pun memutuskan untuk menyambut dan menjabat tangan Aita. Yeoja itu tersenyum simpul. “Hwang Suji imnida.” Yeoja itu kembali tersenyum membuat Aita membalas senyumannya.”Sepertinya kau bukan keturunan Korea asli, benar?”

Dan ada satu hal yang membuat Aita yakin setelah ia berkenalan dengan yeoja bernama Hwang Suji itu. Sesuatu yang mungkin saja bisa mengubah keadaan menjadi lebih mudah. Menurutnya..

Sebulan kemudian..

 

Aita dan Taemin keluar bersamaan dari ruangan dokter yang sudah sebulan ini menjadi dokter yang merawat Aita atas rekomendasi Jonghyun. Raut wajah kesedihan melekat di wajah kakak-beradik itu. Keduanya sama-sama menundukkan kepala mereka dan tak ada dari mereka yang ingin membuka mulut. Sampai terdengar suara dering ponsel Taemin yang menarik mereka dari lamunan mereka.

Yeobsseoyo, Hyung?”

“…”

“ Ah, ne. Kita baru saja selesai check-up, Hyung.”

“…”

“Oke, kita bertemu di café biasa saja ya, Hyung? Sekalian saja kita makan siang bersama. Hyung, bisa, kan?”

“…”

Joa. Sampai bertemu nanti. Annyeong!”

BIPP!

Taemin baru akan memasukkan ponselnya ketika Aita bertanya. “Jonghyun?” Taemin mengangguk.

Ne. Aku mengajaknya makan siang bersama dengan kita di café biasa. Noona mau, kan?” Taemin berusaha tersenyum dan ceria seperti biasa. Ia juga tak ingin mengingat-ingat perkataan dokter tadi tentang keadaan dan perkembangan penyakit yang diderita noonanya itu. Dan yang paling penting, ia ingin membuat Aita bisa melupakan kenyataan pahit itu walau hanya sebentar saja.

“Makan siang bersama? Em.. Ne. Kedengarannya menyenangkan.” Aita tersenyum pada Taemin.

Cha, ayo kita pergi, Noona. Perutku sudah keroncongan.” Taemin menggandeng tangan Aita namun Aita segera menahannya, membuat Taemin tak meneruskan langkahnya dan berbalik ke arah Aita.

“Tunggu, Taemin-ah.”

“Ada apa, Noona?” tanya Taemin polos.

“Aku mohon padamu, jangan katakan pada Jonghyun tentang apa yang dokter katakan tadi tentang penyaki kistaku ini.” Aita memalingkan wajahnya sedih.

Mwo? Itu tidak mungkin, Noona. Jonghyun Hyung berhak tahu. Jonghyun Hyung adalah suamimu. Dan jika saja hari ini Jonghyun Hyung tak ada rapat penting di kantornya, maka Jonghyun Hyung lah yang akan mengantar dan menemani Noona ke dokter. Dan dia juga tetap akan tahu apa yang dikatakan dokter, bukan?” terang Taemin panjang-lebar. Aita mendesah, lalu mengangguk, membenarkan perkataan Taemin. Taemin hanya bisa menatap Aita dengan sedih.

Aita adalah seorang kakak yang sangat baik. Meskipun ia bukanlah kakak kandungnya, hanya kakak angkatnya saja, tapi Taemin takkan melupakan jasa-jasa Aita yag begitu besar pada dirinya dan juga hidupnya. Dan Taemin akan melakukan apapun untuk membahagiakan Aita. Bukan hanya untuk membalas semua kebaikan Aita, tapi juga karena ia sangat menyayangi Aita sebagai satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini. “Kkaja, Noona!” Taemin menarik lagi dan menggandeng tangan Aita, namun sekali lagi Aita menahannya. Taemin berbalik.

“Dengarkan aku baik-baik! Tidak ada yang bisa kita lakukan selain mencarikan istri untuk Jonghyun, Taemin-ah.” Akhirnya, kata-kata itu bisa terlontar dengan mulus juga dari bibir Aita. Sebenarnya sudah sejak sebulan ini, Aita memikirkan hal itu. Ya, mencarikan seorang yeoja yang mau dan bersedia untuk dinikahkan dengan Jonghyun. Namun, Aita masih merasa ragu. Ia merasa.. Tak rela. Berhakkah Aita memiliki perasaan seperti itu atas Jonghyun?

“Tapi, Jonghyun Hyung tidak mungkin akan-“

“Cukup! Operasi pengangkatan kista itu juga akan mengangkat rahimku. Aku tetap tidak akan pernah bisa memiliki anak, Taemin-ah. Mengertilah.. Aku tetap akan membuat Jonghyun bersedia menikahi Suji-ssi.” Sela Aita cepat. Ya, Aita berpikir, tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu sementara pernikahannya dengan Jonghyun adalah kesalahan. Berawal dari kesalahpahaman dan atas dasar tanpa cinta.

Mwo?! Maksud Noona, yeoja asal Perancis yang bernama Hwang Suji itu?” Aita mengangguk. “Tidak! Aku tidak setuju. Di kedua mataku, aku melihat yeoja itu bukan sebagai yeoja yang baik, Noona. Jonghyun Hyung juga pernah menolak ide Noona ini, bukan? Yeoja itu bukanlah yeoja yang baik. Apa kau tidak menyadarinya?” Taemin mulai kesal. Taemin menganggap Aita terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Taemin beranggapan, Aita mulai putus asa sehingga Aita gegabah hingga memilih seorang Hwang Suji.

“Taemin-ah..” Ekspresi wajah Aita mengeras. Ia sebenarnya tak ingin. Tapi ia harus memaksa. “Jika kau memang tak ingin mendukungku dan tetap tidak setuju dalam hal ini, maka tak apa. Aku saja yang akan mengurusnya.” Taemin tersentak dan hendak protes, namun Aita sudah meninggalkannya dengan langkah yang lebar-lebar.

“Noona, tunggu!” Dan Taemin pun hanya bisa mengejar Aita yang sudah melangkah jauh di depannya.

@@@

 

TBC

 

Oke, ini part 8a. Aku cut dulu sampai segini. Mianh, buat part 8b nya belum bisa aku lanjutin. Sebenernya, ide cerita udah ada, tapi ngga tahu kenapa aku lagi pengin hiatus dulu #readers: jiaah.. hiatus lagi..

 

Yap, mianhae. Keundae, semoga part ini bisa menghibur dan memuaskan (?) para readers yang masih setia menunggu #kalo masih inget sama cerita ff ini, hehe..

 

Dan terakhir, jangan lupa untuk memberikan komentar, kritik dan sarannya. Gomawoyo.. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 8A

  1. Ya thor knapa bgitu bnyk konflik,pdahal q dah senang tu key ama nhaena dah rkun eh mlah bertengkar lgi…..
    Cpat d share 8bnya smoga konfliknya udah selsai thor oh ya thor minho kabarnya gmana ni thor……

  2. ceritanya makin rumit aja. tapi makin daebak!!! aku suka sm ff ini. tapi shinyou sm minho kemana? hehe kangen deh sm mereka. *peluk minho* #ditabok shin you# hehe. next part jangan lama2 ya eonni😉

  3. lah.. makin lama aq jd bingung loh. kok konfliknya byk bener ya? yakin nih author bisa nyelesainnya dgn lancar? kyknya lama buat nyelesain konfliknya ya?

    pokoknya yg penting key hrs berakhir bahagia! titik! kekeke dan jjong mau dinikahin ama cwek murahan? yg bener aja….

  4. Makin ribet ajah ni crita

    Tapi daebak buat author soalnya dah bisa bikin aku nangis pas yura di tinggal ma jinki gadungan

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s