Destiny

Title           : Destiny

Author : Sherlockey

Main Cast        : Choi Minjin

Choi Minho

Support Cast :  Lee Jinki

Kai (Kim Jongin)

Song Jinhee

Length :            Oneshot

Genre :             Romance, Sad, Family

Rating :             PG-15

(*Bold Italic : Flashback)

Summary : Tidakkah akan lebih baik jika cinta itu tak pernah hadir jika keberadaannya hanya untuk mengecewakan

Sesak.  oksigen diruangan ini seolah menipis. Atau memang hanya aku yang merasa demikian. Jantungku masih berdegup cepat. Tapi mengapa aku tak dapat merasakannya. Air mata ini sudah tertahan sejak tadi, dadaku semakin terhimpit dengan kenyataan yang terpajang tepat dihadapanku sekarang.

Bisakah aku melakukan ini? menikmati rasa sakit yang kau berikan agar aku bisa mempertahankan senyum itu di wajahmu..

Oppa menurutmu yeoja yang cantik itu seperti apa?’
‘ Yeoja terlihat cantik dengan cara yang berbeda ‘
‘ Aish.. jawab saja ‘
‘ Hmmm… yeoja yang baik hati, kurasa akan terlihat cantik dimataku ‘
‘ Darimana kau bisa tahu dia baik atau tidak? ‘
‘ Molla, cuma dia dan tuhan yang tahu ‘
‘ Ya! oppa!! ‘
‘ Hahaha.. heei..jangan memukulku. Tubuhku bisa remuk semua ‘
‘ Biarkan saja, kau menyebalkan ‘
‘ Ckck, yeoja yang baik hati tak akan tega memukuli oppanya seperti ini ‘
‘ Oppa!! ‘

 

******

” Gwenchanayo? ” sebuah suara yang tak asing terdengar jelas berada disampingku. Kuabaikan pertanyaannya dan memilih untuk melanjutkan langkah meninggalkan orang itu.

” Jinja..apa yang terjadi padamu?! ” Sebuah tangan sukses meraih lenganku, memaksaku untuk mengangkat wajah dan menatap dalam kedua mata hitamnya ” Wae irae? ” lanjutnya tanpa peduli tatapan tajam yang coba kuberikan padanya

” Lepaskan aku “

Dia menghembuskan napas panjang ” Jangan seperti ini.. kau membuatku khawatir ” Kilatan dimatanya perlahan berubah melembut, entah sejak kapan kedua tangannya sudah melingkari tubuhku dan menarikku kedalam pelukannya ” Aku tahu ini berat. Tapi bertahanlah “

Pertahananku satu persatu mulai runtuh. Tanpa bisa kutahan bibirku sudah kembali bergetar dan air mataku tumpah begitu saja. Mungkin inilah batasnya, aku tak dapat memendamnya lagi.

Dapat kurasakan pelukannya yang semakin mengerat seiring dengan usapan lembutnya di punggungku ” menangislah.. jika itu akan membuatmu merasa lebih baik ” isakan demi isakan meluncur dari bibirku. Sedikitnya aku ingin meluapkan apa yangg selama ini menjadi bebanku, semua rasa sakit yang begitu menekan, kenyataan pahit yang selama ini membayangiku. Semuanya… aku ingin melepaskan itu saat ini

Waktu berlalu tanpa terasa, kembali kuatur nafas seraya menarik tubuh menjauh setelah merasa cukup puas membasahi jas miliknya, ia yang sadar melonggarkan dekapannya lalu menundukkan wajah mencoba untuk menemukan cara bagi matanya untuk bertemu denganku ” ia tak akan bahagia jika tahu kau seperti ini ” ibu jarinya terangkat untuk menghapus sisa air mata di pipiku. Senyuman tipis tergambar diwajahnya .

” Kau tak tahu apa yang kurasakan.. ” ucapku lemah dengan suara agak serak

” Memang tidak. Tapi aku mencoba… mencoba untuk memahami apa yang kau hadapi saat ini ” ia terdengar menghembuskan napas panjang saat menegakkan tubuhnya ” Pernikahan ini sudah terjadi. Kau tidak bisa mengubahnya “

Nafasku tercekat.. pernikahan. Kurasa wanita mana yang tak senang dengan hal itu, dan bukankah itu memang kodrat hidup manusia? Sesuatu yang paling membahagiakan.. bisa bersanding dengan orang yang kita cintai, mengucap janji sehidup semati. Terdengar indah bukan?

Mulai hari ini dia akan menjadi anggota keluarga kita ‘
‘ Geure.. mulai sekarang panggil aku oppa. ah iya, siapa namamu’
‘ Nee oppa.. namaku Minjin. Choi Minjin ‘

******

Keputusan bodoh. Tapi sungguh aku tak dapat mengelak saat namja itu menyeretku kembali untuk masuk kedalam ruang resepsi. Beberapa pasang mata nampak mengamati kami. Entah karena melihatku yang sedari tadi terus meronta penuh penolakan atau karena insiden menangis di balkon tadi. Rasanya tenagaku sudah tak ada lagi untuk sekedar melakukan perlawanan

” Minho-ssi shireoyo “  ucapku untuk yang kesekian kalinya. Matanya melirikku sekilas, tapi langkahnya tetap tak berhenti, menarikku paksa hingga mencapai ruangan itu lagi. Kugelengkan kepala berkali-kali meyakinkan bahwa tindakan ini tidak benar, aku tak sanggup melihat namja yang kucintai bersanding dengan yeoja lain.

Minho menghentikan langkah, alisnya bertaut seraya matanya yang menatapku dengan kilatan yang tak dapat kumengerti. Kutundukkan kepala saat kurasakan jari-jarinyanya terselip diantara jemariku membuatnya bertaut erat ” gwenchana, percaya padaku ” ia kembali menarik tanganku yang kini sudah terjebak didalam genggamannya. Setiap langkahku terasa semakin berat saat kami sudah bisa menangkap kedua sosok yang nampak tengah menebarkan senyum bahagia kepada para tamu undangan. Kepalaku kembali tertunduk, rasa sakit itu kembali terasa

” Hyung ” Aliran darahku terasa mengalir cepat saat Minho membuka suara untuk memanggilnya. Tuhan kumohon kuatkan aku

” Kalian kemana saja baru datang sekarang? “

Suara itu.. suara yang selalu menarikku dalam kenyamanan. Suara yang membuatku tak menyesal telah terlahir kedunia hingga bisa mendengarnya. Tapi kenyataan berbalik sekarang. Suara ini juga yang menghempaskan diriku jatuh ke permukaan, menyadarkanku akan pahitnya kenyataan. Untuk sesaat aku lupa cara bernapas. Oksigen diruangan ini seolah terkuras habis. membuatku sesak.

Separah itukah efek dari rasa ini? rasa yang selalu diagung-agungkan orang. Rasa yang membuatmu menyadari arti hidup. Inikah yang disebut cinta?
Naif. Mengapa semuanya terdengar begitu menjanjikan jika faktanya apa yang orang sebut dengan cinta justru menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Sakit…. itulah definisiku akan cinta

‘ Eomma, appa.. jangan pergi ‘
‘ Minjin uljima. aku disini ‘
‘ Kembalikan eomma dan appa. Kenapa mereka tega meninggalkanku? kenapa oppa? ‘
‘ Mereka tidak meninggalkanmu. Memang mereka tak berada disisimu sekarang, tapi percayalah.. mereka akan tetap menjaga, mengawasi serta menyayangimu’
‘ Jinjayo? ‘
‘ Nee.. aku juga sangat menyayangimu ‘
‘ Apa oppa akan meninggalkanku juga? ‘
‘ Aniya, sampai kapanpun aku akan ada di sisimu. Aku berjanji

 

Bukankah kau sudah berjanji? Kau akan bersamaku sampai kapanpun? kemana semua janji itu oppa? kau bilang akan melindungiku, menjagaku dari apapun. Tapi bagaimana jika itu justru kau.. kau yang menyakitiku sekarang. Apa yang akan kau lakukan jika tahu kau yang sudah melakukan ini semua padaku? Yang menghancurkanku menjadi sesosok gadis rapuh karena mengenal cinta.

******

” Mianhe hyung, tadi aku ada sedikit urusan. Kebetulan tadi bertemu Minjin juga diluar ” jelas Minho

Kuremas tangan minho pelan, ia yang sepertinya sadar akan perubahan suasana hatiku langsung mengeratkan genggamannya.

” Kalian ini bisa-bisanya terlambat di acara pernikahan oppa dan noona kalian sendiri “

Minho mengeluarkan tawa kecil atas gurauan namja didepannya, tapi lain halnya denganklu yang semakin menundukkan kepala. Menahan rasa sakit yang semakin bertubi-tubi.

” Minjin-ah gwenchanayo? kau sakit? “

Kutahan napas sejenak saat bibirnya menyebut namaku, kuangkat kepala sedikit untuk melihat wajahnya. Sebelah tangan namja itu rupanya sudah terulur untuk menyentuh dahiku, tapi dengan gerakan cepat Minho menahannya ” Aniya hyung, tadi Minjin bilang padaku kalau ia hanya sedang kelelahan ” jelas Minho

” Geure? ” namja itu kembali menarik tangannya, tapi aku masih bisa menangkap nada cemas dalam suaranya ” Istirahatlah kalau begitu, aku tak mau kau kenapa-kenapa. Minho jaga dongsaengku, pastikan ia sampai rumah dengan selamat “

Deg. Sebilah pisau tajam seolah dihujam persis ke jantungku. Dongsaeng. ya benar, aku adiknya. Perlukah ia mengingatkan itu lagi? belum cukupkah aku menerima kenyataan pahit dihadapanku sekarang. Sampai kapan kau ingin menyakitiku oppa? Jangan membuatku seperti ini..aku tak akan sanggup belajar untuk berhenti mencintaimu terlebih membencimu

” Arasseo hyung. Kupastikan ia akan beristirahat.. kalau begitu kami pamit dulu.Tolong sampaikan salamku untuk noona ” Minho kembali menarik tanganku untuk menjauh, tapi seketika kutahan namja itu agar tak beranjak dari tempat kami sekarang

Kutarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengangkat kepala untuk mempertemukan mataku dengan orang yang sudah menjadi oppaku selama ini ” Chukkae oppa.. haengbeokaseyo ” kuusahakan suaraku agar terdengar senormal mungkin walaupun pada kenyataannya bibirku bergetar menahan tangis. Kulihat senyum terpasang diwajahnya, membuat jantungku berdebar. Tapi sayangnya dalam cara yang berbeda, debaran ini terasa karena aku menyadari.. bahwa kedepannya.. aku tak akan bisa melihat senyum itu lagi. Ia akan memberikannya pada orang lain.

” Baiklah sebaiknya kita kembali sekarang.. ini sudah malam. Anyeong hyung ” tanpa sempat merespon, aku sudah mendapati diriku kembali dibawa oleh Minho. Kali ini untuk pergi meninggalkan tempat itu, kuberanikan diri untuk menengok ke belakang. Hanya untuk menyimpan sosok yang selalu kukagumi itu dalam ingatan terakhirku, melihatnya berdiri disana dengan tangan terangkat melambai kearah kami.

” Untuk apa kau melakukan itu? ” tanya Minho tepat setelah kami mencapai luar gedung

Kuperhatikan ekspresi serius diwajahnya lalu dengan senyum tipis kugelengkan kepala ” Molla “

Perlukah alasan bagiku untuk mengucapkan selamat baginya? tentu tidak. dia oppaku kan?

ah.. aku sudah mulai gila sekarang. Mianhe oppa, karena menjadi dongsaeng yang jahat. yang tak bisa berbahagia atas ‘pernikahanmu’

” Minjin-ah! ” Kutengokkan kepala saat mendengar suara yang familiar menyerukan namaku, sesosok yeoja berparas cantik menghampiriku dengan sedikit terengah karena berlari kecil dari tempatnya tadi

” Kau datang kemari? ” tanyanya dengan tatapan tak percaya

” Nee.. memangnya yang kau lihat seperti apa? ” tanyaku mencoba bergurau tapi tetap tak bisa menutupi luka yang terpancar dari caraku menyampaikannya

” Kau hanya menyakiti dirimu sendiri ” ucapnya pelan dan sedikit berhati-hati. Aku tahu ia sebisa mungkin tidak ingin mengungkit masalah ini.

” Dia oppaku Jinhee-ah… Lee Jinki itu oppaku. Salahkah sebagai dongsaeng aku menghadiri pernikahannya? ” tanyaku sarkartis. Tanganku terkepal kuat menahan berbagai emosi didalam diriku sekarang hingga ada sebuah tangan yang mengusap kepalaku pelan ” sudah malam, ayo pulang ” kulihat Minho menyunggingkan senyumnya.

” Mianhe, aku tak bermaksud .. “

” Dwesso ” potongku sebelum Jinhee sempat menyelesaikan perkataannya. ” Aku akan baik-baik saja.. percayalah ” ujarku

Jinhee mengangguk ” Nee, aku tahu kau yeoja yang kuat ” pandangannya beralih pada Minho ” antarkan dia pulang dengan selamat Minho-ya ” ujarnya

” Arasseo, kau juga. Mana Kkamjong? kau tak datang bersamanya? ” tanya Minho disusul dengan tawa pelan

” Aku datang bersamanya.. dia sedang ke toilet sebentar ” jawab Jinhee sambil terkekeh

” Keureom, kami permisi dulu kalau begitu “

” Nee hati-hati ” Jinhee melambaikan tangan singkat kearahku dan Minho sebelum akhirnya kami beranjak menuju mobil Minho yang terparkir diluar. Kutatap gedung yang menjadi saksi kebahagiaan kedua mempelai didalamnya dari balik kaca mobil.

Semoga kau bahagia oppa…

‘ Saengi, menurutmu Seohyun itu bagaimana? ‘
‘ Maksud oppa? ‘
‘ Apa… kau menyukainya? ‘
‘ Mwo? mana mungkin aku menyukai yeoja. aku ini normal oppa ‘
‘ Aisssh.. maksudku menyukainya sebagai… eonnimu?
‘ ….. eonni? ‘
‘ Baiklah. Jadi saat di kampus tadi Seohyun menyatakan perasaannya padaku ‘
‘ …… lalu? ‘
‘ Aku belum memberikan jawaban ‘
‘ Apa kau akan menerimanya ‘
‘ Sebenarnya ini sudah kupikirkan…. kurasa iya ‘

******

” Turunlah ” Kesadaranku kembali saat Minho membuka suara, kulihat keluar dan ternyata kami sudah sampai dirumahku. Rumahku dan oppa lebih tepatnya. Dulu.

Minho membukakan seatbelt dan menarikku keluar dari mobil hingga memasuki rumah. Begitu menyusuri ruangan demi ruangan,dadaku terasa sesak. Jutaan ingatan, kenangan seolah terputar dan terpampang dihadapanku saat ini. Mataku tertuju pada bingkai-bingkai foto yang terpajang rapi di setiap sudut ruangan

” Jinki oppa ” bisikku pelan

Tubuhku bereaksi lebih cepat dari otakku. Sebuah pigura sudah berada dalam genggamanku sekarang. Air mataku mulai mengalir begitu saja saat mengamati wajah yang berada didalam foto itu. Wajah namja yang akan selalu kurindukan. Orang yang selama ini mengisi hari-hari didalam hidupku. Dan kini ia pergi, dengan hanya menyisakan kehampaan bagiku.

” Istirahatlah ” Minho menaruh pigura dari tanganku kembali ketempatnya. Aku hanya menurut saat Minho membawaku ke kamar dan membaringkanku ke ranjang. Tangannya menarik sleimut menutupi tubuhku lalu ia menarik bangku dan duduk tepat di sampingku “

Aku akan disini sampai kau tertidur ” jelasnya seolah paham akan tatapan bingungku kearahnya

Kualihkan pandangan kelangit-langit kamar, pikiranku kembali melayang ” apa salah mencintai oppaku sendiri? ” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku

” Tidak ada yang salah jika menyangkut cinta. Hanya keadaan saja yang terkadang mempersulit ” jelasnya diselingi hembusan napas panjang

” Kenapa harus dia yang menjadi oppaku? kenapa perasaan ini harus muncul? kenapa aku tak bisa bersamanya? ” Tubuhku kembali bergetar, mataku seolah masih tak cukup puas hingga ingin kembali menumpahkan air mata. Kugigit bibir bawahku untuk meahan isakan walau nyatanya itu semua sia-sia.

” Manusia selalu dipermainkan oleh takdir. Tidak ada yang bisa mengelak saat diri kita sudah terseret didalamnya. Segala kemungkinan selalu ada, tidak ada kata mustahil dalam kehidupan ini “

Minho mengulurkan tangannya untuk menghapus air mataku yang masih saja mengalir ” Kau tahu.. aku juga telah dipermainkan oleh takdir. Hatiku sakit. Sangat sakit “

Kubiarkan kedua ibu jarinya mengusap permukaan wajahku, pandanganku masih kabur oleh air mata, tapi tetap kuarahkan pandangan kearahnya, senyuman serta tatapan lembutnya mengunciku sepenuhnya dalam kebisuan

” Kau tak tahu apa yang kurasakan saat melihat yeoja yang kucintai menangis untuk pria lain “

Tak ada yang bersuara setelahnya, kesunyian mendadak menyelimuti. Tubuh Minho beringsut mendekat, mataku seketika melebar saat merasakan bibirnya menyapu lembut bibirku tanpa izin. Hembusan napasnya terasa begitu hangat menerpa wajahku. Degup jantungku mendadak berubah cepat, berlomba-lomba dengan ritme tak beraturan. Yang bisa kurasakan hanyalah wajahku memanas bahkan setelah ia melepaskan kontak diantara kami.

” Minho-ss…”

” Saranghae ” potongnya tanpa mengalihkan pandangan dariku

Kutundukkan kepala, bingung dengan segalanya. Isi kepalaku bagaikan sebuah pita kaset yang berbelit dan sulit untuk meluruskannya kembali. Bagai puzzle yang mana kita harus menyusunnya dengan mata tertutup. Mudah tapi membingungkan.

” Besok aku akan pergi ke Rusia. Untuk melanjutkan kuliah disana. Mungkin akan memakan waktu cukup lama, dan sebelum itu aku ingin menyampaikan ini padamu ” Minho menyelipkan rambutku kesela telinga seraya menatapku dalam, senyuman lembut itu masih saja terkembang di bibirnya ” Aku tak tahu kapan perasaan ini terbentuk. Kapan aku merasa kehadiranmu bagaikan agenda rutin bagiku dan kapan aku bisa menghilangkanmu dari pikiranku. Itu semua ada begitu saja. Kau itu Toxin.. racun.. yang tak bisa disembuhkan ” lanjutnya sambil terkekeh seolah tak mempedulikan aku yang kini menatpnya tanpa berkedip.

” Mungkin ini akan memakan waktu. Bagimu dan juga aku. Tapi aku bersedia menunggu. Menunggumu agar bersedia menempatkanku di sisi terdalam hatimu. Dan kuharap kau juga bersedia untuk menungguku “

Mataku mengerjap beberapa kali, pikiranku seketika kosong. aku tak tahu apa yang terjadi. Seolah kata demi kata yang keluar dari bibirnya adalah mantra hipnotis yang membuatku bungkam seribu bahasa. Matanya begitu teduh, menenangkan.. mengapa aku tak pernah menyadari itu? menyadari ketulusan namja ini padaku. Bisakah aku melakukan ini untuknya? atau untuk diriku sendiri. Bisakah takdir berpaling padaku?

*******

5 Years later

Ruangan yang didominasi warna putih itu nampak indah dengan dekoras yang simpel tapi juga menarik mata. Tak jauh dari tempatku berdiri sekarang berdiri sepasang mempelai yang tengah tersenyum kearah para tamu undangan. Sang yeoja mengembangkan senyum lebar saat aku melangkahkan kaki mendekatinya

” Minjin-ah! ” tanpa sempat aku membalas seruannya, ia sudah lebih dulu memelukku erat

” Chukkae Jinhee-ah ” ujarku lalu beralih ke namja disampingnya yang tengah memasang senyum tak kalah lebar ” Chukkae Kai, kau terlihat tampan hari ini ” lanjutku lagi disertai tawa kecil

” Aku memang sudah terlahir tampan, makanya sahabatmu ini tergila-gila padaku ” tuturnya percaya diri yang membuahkan sebuah cubitan di perut namja itu

” Aih, Appo jagiya ” rengeknya dengan nada dibuat-buat kearah Jinhee.

Jinhee hanya memutar bola mata melihat namja yang baru saja resmi menyandang status sebagai suaminya itu ” Abaikan dia.. makhluk ini tingkat kepercayaan dirinya diatas rata-rata ” ujarnya yang disambut tawa dariku

” Tapi kau suka kan ” Kai mengedipkan sebelah mata kearah Jinhee yang disambut dengan pukulan kecil dibahu Kai ” Minjin-ah sebaiknya kau ke sana sekarang. Sebentar lagi acara melempar bunga ” ujar Jinhee tanpa mempedulikan Kai

Tanpa menunggu jawaban dariku Jinhee mendorong punggungku menjauh dan melambai kecil. Aku hanya bisa pasrah dengan perintahnya tadi, bukankah ini permintaan mempelai, artinya mau tak mau aku harus mengikuti.

Kulihat para yeoja yang nampak antusias menunggu buket bunga agar bisa mereka tangkap. Sebegitu inginnya kah mereka menikah? Oh baiklah itu pertanyaan bodoh.. siapa yang tak ingin menikah?

Kuedarkan pandangan ke sekeliling bangunan yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan ini. Ingatanku kembali tertarik ke masa 5 tahun lalu. Momen yang sama dengan perasaan yang jauh berbeda. Mungkin jika ada yang mengatakan waktu bisa menyembuhkan luka, aku sedikitnya mempercayai itu. Memang butuh proses, tapi terkadang manusia tak pernah mau menunggu untuk sesuatu yang tak pasti, layaknya aku.

Kulihat beberapa yeoja mulai membentuk kelompok didekatku, bersiap untuk menangkap bunga yang dilempar Jinhee. Aku hanya tersenyum kecil dan memilih untuk mengambil beberapa langkah menjauh. Kuperhatikan bunga melayang diudara setelah dilontarkan oleh Jinhee, Bunga itu melambung sebelum akhirnya terjatuh tepat kearahku. Dengan sedikit takjub, kuangkat kepala tak percaya. Terlebih saat mendapati ada tangan lain didekatku yang ikut memegang buket bunga itu.

Dengan cepat kualihkan pandangan kesamping, dan detik itu juga mataku melebar. Mungkinkah ini nyata, apa yang kulihat sekarang…

” Kita bertemu lagi.. apakah ini takdir? “

Suara itu. aku mengenalnya. Dia orang yang sama, dia orang yang kutunggu selama ini

” Minho-ssi ” ucapku menyuarakan pemilik nama itu

” Nee.. aku disini. Naega wasseo “

Kurasakan kedua tangannya sudah merengkuhkku lagi kedalam pelukannya bahkan sebelum aku sempat mencerna perkatannya. Hangat tubuh, aroma tubuh ini.. sejak kapan aku mulai merindukan semuanya.’

” YA!! yang menikah itu kami! kenapa kalian bermesraan disini! ” sebuah seruan membuatku mengangkat wajah, tapi tak berhasil mengendurkan pelukan Minho dariku

” Berisik kau Kkamjong!! ” balas Minho tak kalah keras

Aku tertawa dengan tingkah keduanya, Minho kembali memelukku lebih erat ” Kenapa tertawa? kau senang? “

” Nee.. jawabku sambil membenamkan wajah ke dada bidangnya. Sangat ” ucapku jujur

” Aku juga.. sangat “

Takdir… bolehkah aku berterima kasih untuk ini. Jalan hidupku memang sudah ditentukan. Dan permintaannku hanya satu. Jagalah dia untukku, aku ingin bersamanya. Satu-satunya nafasku.

END

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Destiny”

  1. Aww, so sweet~

    Jujur aja, awalnya aku nggak terlalu mudeng baca ceritanya, tapi ngikutin alurnya terus dan akhirnya mengerti. Hoho, nice fic ^^

  2. Ya ampun bahasanya… Dalem banget.. Keren… Indah.. Bagus… Mengalir… Enak dibaca… Nggak ribet..

    Pokoknya J to the J to the A to the N to the G >> JJANG~!

    VERY LOVE IT! Memang ada beberapa typo sih.. But, it’s okay. KEEP WRITING! I WILL SUPPORT YOU AUTHOR! ❤

  3. tuhkan..yang selalu aku lakuin pas baca ff-ff minjin pasti gigit bibir nahan nyesek…atogak senyum senyum sendiri. Minjin-ssi, kau menjungkirbalikkan perasaanku dengan karya-karyamu! *sobs*
    Nyesek nya ngena banget. Happy nya juga ughh kapan bisa nulis ff sedapet ini feelingnyaT_T

    Tapi emang bener ya, terkadang kita harus buka mata lebar-lebar. Siapa tau justru orang yg sayang kita justru gak pernah jauh dari kita. Terus jangan berlarut-larut kalo sedih:’ move on uyeeaaa hahah

    As always, aku selalu suka karya mu :* semangat bikin cerita yang lebih keren lagi!:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s