Waiting For The Sun – Part 8

Waiting for The Sun – PART 8

Credit poster: yuyounji. Thanks eonni 

Authors : Dubudays and Nikitaemin

Main Cast : Lee Jinki, Cho Hyunsa (OC)

Support Cast : Cho Jiman (Hyunsa’s father), parents of Lee Jinki, Lee Ahra (Jinki’s stepsister)

Genre : AU, Romance, Family

Rate : PG-15

Length : chaptered (8/?)

Disclaimer : THIS FANFICTION BELONGS TO KAN AHRA AND SHIN MINKI!!

“Waaah seru sekali, ya di sini! Jinki, lihat ada Pororo! Aku mau foto sama Pororo!!” Hyunsa menarik lengan Jinki agar bisa mengejar badut Pororo yang dimaksud. Jinki mengerinyit tidak mengerti. Namun segera membidik Hyunsa dengan kamera instax yang dibawanya.

“Hyunsa, kamu ini kenapa, sih? Foto sama Pororo?? Yang benar saja!” Jinki mendengus melihat hasil bidikannya yang mulai terlihat jelas. Sedangkan yang diprotes hanya tertawa girang menatap hasil foto di tangan Jinki.

“Sebenarnya, sih aku lebih suka Loopy daripada Pororo. Jadi kalau tiba-tiba ada Loopy lewat bilang aku, ya! kekekeke.” Hyunsa mengambil hasil foto dari tangan Jinki dan memasukkannya ke dalam dompet.

“Hyunsa kamu kesambet, ya? aduh… cepatlah kamu kembali menjadi Hyunsa yang sebenarnya, ya.”

“Eii mwoyaaa! Eh, Jinki, naik carousel yuk!” Hyunsa menunjuk wahana permainan yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

“Hm? Ya sudah, ayo!” Jinki menggandeng Hyunsa, lalu iseng memasukkan tangannya dan Hyunsa ke dalam saku jaketnya. Hyunsa menunduk menatap tangannya yang berada di dalam saku jaket Jinki. Perlahan Hyunsa merasakan pipinya menghangat.

“Jagi, ada Loopy!! Mau foto dulu tidak?” Kali ini giliran Jinki yang memekik senang sambil menunjuk-nunjuk badut Loopy di dekat carousel yang sedang berpose bersama anak-anak kecil. Tanpa menunggu jawaban Hyunsa, Jinki segera menarik Hyunsa untuk mendekati badut Loopy.

“Jagi, ayo!” Jinki berdiri di kiri Loopy sedangkan Hyunsa di kanan Loopy. Dibantu Hyunsa, Jinki memosisikan kamera Instax agar dapat mengabadikan foto mereka bertiga.

Ckreek

“Sekali lagi, sekali lagi! Aigoo, Loopy-ya jangan pergi duluu!” Jinki menahan lengan Loopy dan kembali menekan tombol shutter pada Instax.

Ckreek

“Waaa, kamsahamnida Loopy-ya! Neomu kwiyowo! Annyeooong!” Hyunsa membungkuk pada badut Loopy yang kemudian balas membungkuk pada Hyunsa.

“Ah, pas sekali carouselnya berhenti. Ayo naik!” Jinki menarik lengan Hyunsa lagi. Hyunsa memilih duduk di atas kuda bersurai emas sedangkan Jinki di kuda bersurai hitam. Carousel mulai berputar diiringi lagu khas. Hyunsa menggoyang-goyangkan kakinya senang sementara Jinki iseng memotret Hyunsa dengan instax. Ekspresi alami Hyunsa saat senang persis seperti anak kecil dalam instax film yang segera Jinki sembunyikan di kantung belakang celananya.

Carousel berputar selama kurang lebih lima menit. Jinki juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan Hyunsa. Bahkan ikut-ikutan menggoyangkan kakinya dan memainkan surai kuda yang dinaikinya. Tanpa Jinki sadari, Hyunsa juga diam-diam memotret Jinki dengan kamera iPodnya. Sepulangnya ke hotel, Hyunsa akan langsung mengedit dan meng-upload ke Instagram.

“Ya, Hyunsa! kau memotretku, ya??!”

********

“Hei,” Hyunsa menepuk pundak Jinki yang baru saja mematikan sambungan teleponnya dengan seseorang. Hyunsa baru saja kembali dari toilet umum dan mendapati Jinki sedang asyik berbincang melalui ponsel. Untuk menghormati Jinki, Hyunsa sengaja menunggunya selesai berbincang.

“Oh, kamu toh. Eh, kebetulan tadi aku lihat ini, jadi kubelikan buatmu,” Jinki menyerahkan tas kertas ukuran sedang pada Hyunsa.

“Eh? Boneka Pororo dan Loopy? Ini serius untukku?” Hyunsa mengangkat kedua boneka ukuran sedang dan menggoyang-goyangkan di depan Jinki.

“Eung! Suka, kan? Katanya suka Loopy? Aku sukanya Pororo. Biar kamu ingat aku terus, makanya aku belikan Pororo.”

“Hehehe, gomawo! Jadi sebenarnya tadi kamu juga mau foto sama Pororo dong?! Huh, jaim!!”

“E..eh? Mwoyaa!!”

“Tanpa membelikan Pororo ini aku juga pasti akan mengingatmu, kok!” Hyunsa refleks berjinjit lalu mengecup pipi kiri Jinki. Namja itu mengangkat sudut-sudut bibirnya perlahan sebagai respon. Digandengnya tangan Hyunsa dan kembali memasukkan tangan mereka ke saku coatnya. Ditemani sinar bulan yang tampak bulat sempurna, mereka berjalan menuju halte bus.

“Tadi Ahra Noona yang menelepon. Dia menagih janjiku pergi ke Gwangmyeong bersama. Hmm, bagaimana kalau kau juga ikut?”

“Aku? Tapikan itu acara keluarga. Nanti aku menganggu.”

“Anio, tentu saja tidak mengganggu. Ajak saja Appamu. Appa mu kan sahabat baik Ayahku.”

Tepat saat mereka sampai di halte, bus dengan arah tujuan Chosun Hotel sedang berhenti. Mereka bergegas naik dan duduk di bangku paling belakang.

“Baiklaah, akan ku tanya Appa nanti. Tapi kamu benar-benar serius mengajakku? Aku jadi tidak enak.”

“Tentu sajaa. Hei, sini mendekat padaku,” Jinki merangkul Hyunsa lalu mendekatkan bibirnya di telinga Hyunsa. “Kalau semua berjalan lancar, kita bisa diskusikan rencana pernikahan kita,” bisik Jinki.

Mata Hyunsa membelalak kaget. “Me… menikah??”

“Ne! Apalagi yang harus kita bicarakan saat orangtua kita bertemu selain rencana pernikahan? Momennya pas sekali, kan?” jawab Jinki semangat. Matanya berbinar senang, sementara Hyunsa terpaku mendengarnya. Yeoja itu hanya tersenyum sebagai respon, lalu menyandarkan kepalanya yang mulai terasa lelah pada bahu Jinki. Matanya hampir tertutup saat Jinki membangunkannya. Rupanya mereka sudah sampai.

“Hyuun, ireonaa! Sudah sampai!”

********

CHO HYUNSA’S POV

Appa ternyata sangat menyetujui ajakan Jinki dan segera packing. Sejujurnya aku juga sangat senang bisa bertemu orangtua Jinki. Tapi, aduh.. aku jadi takut saat Jinki bilang akan mendiskusikan rencana… um.. pernikahan. Bukannya aku tidak mau menikah dengan Jinki, hanya saja setiap mendengar kata-kata itu aku selalu jadi tegang. ._.

Sekitar pukul delapan pagi, Jinki dan Ahra Eonni datang ke kamar hotel kami. Setelah semua barang diangkut bellboy, Jinki berdiri di hadapanku dengan kedua tangan berada di pinggangnya. Alisnya berkerut seperti sedang menganalisa sesuatu dari diriku.

“Wae? Ada yang salah?” tanyaku penasaran.

“Molla. Tapi aku merasa ada yang aneh.” Jinki masih mengerutkan keningnya berusaha berpikir keras.

“Apa? Bajuku? Atau rambutku? Atau wajahku?”

“Jamkamman. Kau pernah pakai rok, kan sebelumnya?”

“Pernah. Saat mengunjungi apartment mu untuk yang pertama kalinya.”

“Bisa ganti jeans mu dengan rok itu? aku rasa yang salah itu adalah jeans mu.”

“Nope. Rok nya kurang formal, Dubu. Itu terlalu santai.”

“Kalau begitu biar kupanggilkan Ahra Noona. Pinjam roknya saja.”

“Memangnya harus pakai rok? Aku tidak suka.”

“Mollaaaa. Tapi feeling ku bilang, sebaiknya kau pakai rok, Jagi.”

Aku mengedikkan bahu. Permintaan yang misterius dan aneh. Tapi tentu saja aku menolak. Ya Tuhan, aku tidak mau pakai rok lagii!!

********

“Ibu ayaaaahhh nan wasseooooo!!!!” Ahra Eonni berlari kecil menghampiri ayah dan ibu angkat nya yang sedang santai di kebun rumah. Woaahh jinjjaa, rumah Jinki besar sekali dan indah di pandang mata. Ada satu sudut dimana tersimpan berbagai jenis anggrek. Kata Jinki, itu milik ibunya. Lalu ada semacam pondok kecil yang didalamnya ada beberapa barang-barang seni yang langka. Itu tempat dimana ayah Jinki biasa membuat barang-barang seni dan terkadang membaca buku-buku sejarahnya.

Aku dan Appa menunggu tak jauh dari tempat keluarga Jinki ber-reuni kecil. Tak etis rasanya mencampuri reuni mereka.

“Ahra?? Ini benar kamu, nak? Astagaaaa, kapan sampai di Korea? kenapa gak bilang sama kami?” Ibu Jinki memeluk Ahra eonni erat sedangkan ayah Jinki berdiri di samping istrinya dan memandang Ahra eonni dengan bahagia. Mereka pasti bangga anak mereka sudah berhasil seperti Ahra eonni.

“Sengaja, bu. Aku ingin memberi kejutan untuk kalian. Kalian senang, kan? Aku sudah lulus sekarang,” jawab Ahra eonni sumringah.

“Ayah, ibu, Jinki pulang,” ujar Jinki dengan lembut. Ayah Jinki mendongakkan kepalanya dan membelalak senang.

“Aigoo, uri Jinki! kau pulang, nak? Ayah kangen sekali padamu.” Ayah Jinki—dengan caranya yang menurutku sangat cool—menepuk-nepuk pundak anak lelaki semata wayangnya. Setelah itu Jinki juga mencium tangan ibunya.

“Kalian kenapa tidak memberi kabar kepada kami, sih? Kalau begini kan kami bisa masakkan makanan kesukaan kalian,” protes ibu Jinki sambil tetap merangkul Ahra eonni.

“Yang penting kita semua sudah berkumpul, kan?” kata Ahra eonni.

“Ah! Aku juga bawa dua tamu spesial, Bu, Yah. Sebentar.” Jinki berjalan menghampiri aku dan Appa. dengan senyum-mata-bulan-sabitnya, Jinki mempersilahkan kami mengikutinya bertemu Ibu dan Ayahnya.

“Hei hei, sepertinya aku kenal pria ini. Kau…. JIMAN?? Hei, ini kau, Jiman?” Ayah Jinki berseru senang dan mendekati kami. Wajahnya masih tidak percaya karena bisa bertemu Appa.

“Tentu saja! Cuma aku yang punya wajah tampan seperti ini di dunia! Tidak mungkin orang bisa melupakan wajahku, Haesang-ah! Kau apakabar? Makin tua saja mukamu ini. Ck!” Appa menjabat tangan ayah Jinki dan menepuk-nepuk punggungnya.

“Aku tambah tua lalu bagaimana dengan kau, Jiman-ah? Bakat menyindirmu masih melekat, ya ternyata! Oh astaga! Ini putrimu?” Ayah Jinki menunjukku.

“Ne, keuromnyo! Ini Hyunsa, naui ddal.”

“Annyeonghaseyo, Hyunsa imnida.” Aku membungkuk dalam di hadapan Ayah dan Ibu Jinki

“Aaaah, jadi ini Hyunsa yang sering Jinki ceritakan? Waah, kamu cantik sekali, Hyunsa.” Ibu Jinki menghampiriku dan tersenyum. Tapi… kok senyumnya janggal, ya? mata Ibu Jinki menatapku dengan padangan yang aneh. Berkali-kali dia memperhatikan kakiku. Eh, memangnya kakiku kenapa?

“Ibu, ayo kita masuk! Aku kangen rumah.” Ahra eonni menggaet lengan ibunya dan berjalan masuk ke rumah. Ayah Jinki juga mempersilahkan Appa masuk. Sementara aku masih mematung. Perasaanku tidak enak terhadap pandangan ibu Jinki sedari tadi.

“Hyun, aku tahu sekarang apa yang mengganjal sedari tadi.” Jinki bersuara di sampingku. Nadanya datar. dan aku juga merasa Jinki juga tidak menatapku saat berkata tadi.

“Apa itu?” tanyaku juga dengan tidak melihatnya.

“Aku lupa kalau ibuku tidak suka wanita yang memakai jeans.”

********

From: Lee Ahra

Cepat masuk ke kamarku setelah selesai memasukkan
Barang-barangmu ke kamar tamu. URGENT!
Kamarku ada diseberang kamarmu persis.

Aku cepat-cepat meletakkan handbag-ku setelah membaca pesan dari Ahra eonni. ada apa, nih?

Kuketuk pintu kamar Ahra eonni beberapa kali. Dan akhirnya Ahra eonni keluar dengan tampang paniknya. Dia menarik lenganku agar masuk ke kamarnya.

“Eonni, ada apa?” tanyaku bingung.

“Apa kau sudah mengerti tatapan ibu tadi? Ibu jadi tidak suka melihat wanita yang kurang feminin.” Ahra eonni menggigit-gigit bibirnya panik.

“Tapi menurutku pakaianku hari cukup pantas disebut feminin, Eonni. aku hampir tidak pernah pakai baju begini sebelumnya.”

“Bukan bajumu, tapi bawahanmu. Kau lihat apa yang kugunakan? Ibu lebih suka wanita yang pakai rok ketimbang jeans.”

M..mwo????

“Err… jadi…?” tanyaku menggantung. Sungguh aku tidak mengerti. Rok kan masalah sepele.

“Jadi kau harus mengenakan pakaian-pakaianku. Kenapa? Karena aku tahu kau tidak membawa dan tidak menyukai pakaian-pakaian feminin. Aku tahu dari Jinki by the way.” Ahra eonni meninggalkanku sebentar, tenggelam dalam lemarinya yang besar-besar, dan kembali dengan dress-dress simpel berwarna lembut. Ada juga yang berwarna gelap.

“Igeo. Ini pakaianmu selama di sini. ada juga beberapa rok. Pakai yang baik, ya.” Ahra eonni menyodorkan pakaian-pakaiannya. Jujur, sekarang mulutku terbuka lebar.

“Ngghh, aku tidak suka pakai pakaian seperti ini, eonni. Aku minta maaf sebelumnya, tapi bukankah ini masalah sepele? M-maksudku—“

“Arasseo. Aku juga berpikir seperti itu. Ini untuk kesan pertama saja, Hyunsa. Please….”

Ah, masa iya mood ibunya Jinki bisa tiba-tiba berubah hanya dengan melihatku menggunakan rok? Hah, yang benar saja!!

“Please gunakan ini, ya. Kau terlihat cantik kok dengan semua dress dan rok ini. Seratus persen yakin!”

Demi Tuhan aku tidak suka dipaksa-paksa seperti ini. Oke ini sepele. Tapi ini pemaksaan. Aku tidak suka.
Tapi Ahra eonni menatapku dengan puppy eyes nya.

“Hhh… Oke. Hanya kesan pertama,” tekanku pada kata-kata kesan pertama. Ahra eonni tersenyum dan memelukku. Mungkin Ahra eonni terlalu sayang pada Jinki, ingin adiknya bahagia dan merasa direstui oleh kedua orangtuanya, makanya dia memaksaku seperti ini. Positive thinking, Hyunsa….

********

LEE JINKI’S POV

“Bu, jangan tatap Hyunsa seperti itu lagi. Hyunsa nya jadi tidak nyaman.” Kuhampiri Ibu yang sedang sibuk—atau berlagak sibuk di dapur. Ibu menghela nafas lalu membalikkan badannya.

“Jinki, kamu tahu, kan Ibu tidak suka wanita yang tomboy. Jadi wanita itu harus ayu, cantik, feminin.”

“Tapi Hyunsa gak tomboy, Bu. Hyunsa hanya tidak terbiasa memakai rok atau dress. Ibu tahu sendiri Hyunsa sudah ditinggalkan oleh Mamanya sejak remaja dan harus tinggal bersama ayahnya. Secara tidak langsung itu akan mempengaruhi psikisnya juga termasuk pilihannya dalam berpakaian.”

“Kalau memang kamu merasa dia wanita yang pantas untukmu, tunjukkan juga bahwa dia adalah wanita yang pantas untuk keluarga kita juga. Nanti malam kita makan malam bersama. Tunjukkan pada Ibu kalau Hyunsa memang gadis yang bisa Ibu percaya untuk jadi pendampingmu kelak.”

“Aigoo, Ibu kenapa aneh begini, sih? Baiklah, lihat saja nanti malam, bu.”

********

CHO HYUNSA’S POV

Kuambil salah satu dress yang Ahra eonni pinjamkan. Hmm, ini modelnya klasik tapi terkesan elegan. Cukup menarik. Hmm, Yeah.

Kukenakan dress itu dan mematut diri di kaca. Hfff, aku paling tidak suka melihat tubuhku tercetak jelas seperti ini. Padahal kata orang-orang—dan baru-baru ini Ahra noona, justru siluet tubuhku ini bagus. S- line katanya. tapi tetap saja aku tidak suka.

Sudahlah, tidak ada gunanya ngedumel seperti ini.

Kupoleskan BB Cream di wajahku secara merata lalu menggelung rambutku dengan menyisakan sedikit rambut di bagian kanan dan kiri. Terakhir, kupakai flat shoes yang memang kubawa untuk manggung di Denmark beberapa waktu silam. Untung saja warnanya cocok. Sekali lagi kupatut diriku di kaca. Hmmm, lumayan.

********

Dengan hati-hati aku melangkah ke ruang makan. di sana sudah ada Ibu dan Ayahnya Jinki juga Appaku. Mereka sedang berbincang-bincang sesuatu yang seru.

“Annyeonghaseyo, maaf aku terlalu lama bersiap-siap Ahjumma, Ahjussi.” Aku membungkuk sopan pada mereka dan menebar senyum lebar.

“Tidak apa-apa, Hyunsa. Oooo, aigooo, neomu yeppeo! Jinjjayo! ayo duduk di sini.” ibu Jinki menepuk kursi di sebelahnya. Aku mengangguk dan duduk di kursi yang ditepuk ibu Jinki tadi. Sumpah, aku takut Ibu Jinki masih bersikap sama seperti tadi siang.

“terima kasih, Eomoni. Semoga Eomoni suka dengan penampilanku malam ini.” Aku menunduk malu setelah mengucapkan kata-kata barusan.

“Aku suka sekali, sayang. Terima kasih sudah berdandan yang cantik untukku.” Ibu Jinki tersenyum manis dan… ikhlas? Serius nih?

“Eomoni benar-benar suka dengan penampilanku? Aku takut Eomoni tidak suka melihatku.”

“Iyaaa. Aku suka penampilanmu malam ini, Hyunsa. teruslah seperti ini, ya. Kau cantik. Cantik sekali.” Ibu Jinki membelai kepalaku lembut.

“Omoya! Ini, Hyunsa, bu?” Ahra eonni yang baru menampakkan dirinya terbelalak kaget melihatku.

“Tentu saja! dia cantik, kan? Sudah Ibu bilang, wanita dengan penampilan feminin akan semakin terlihat kecantikannya. Hyunsa jadi makin cantik, kan?”

“Iya, bu. Waahh, Hyunsa, kau benar-benar cantik malam ini!”

“Gomawo, eonni. ini juga kan karena eonni.” tersenyum malu.

“wuaaaa, sudah kumpul semua ternyata?” suara khas Jinki menyapa telingaku. Aaaa, apa reaksinya melihatku seperti inii? .__.

“Kau ini namja tapi dandannya lama sekali, Jinki. Ck!” Ahra eonni menyindir Jinki yang sedang menarik kursi untuk duduk tepat dihadapanku. Jinki hampir menganga lebar kalau tidak ingat ada banyak orang di hadapannya.

“Ya, Noona! Aku ketiduran tadi! Aku ngantuk sekali!”

“Jinki-ya, otteyo? Gadismu cantik, kan?” tanya ibu Jinki pada Jinki. Jinki menatapku tanpa berkedip lalu mengangguk perlahan.

“Neomu yeppeuda, Jagiya,” gumam Jinki tetapi masih bisa kudengar. Kyaaaaa, taruhan! Mukaku pasti sudah semerah tomat sekarang!

“Ja, karena semua sudah lengkap, ayo kita mulai saja makannya.” Ayah Jinki berkata dari ujung meja.

********

“Jinki, kau ajaklah Hyunsa berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah kita. Hyunsa belum sempat berkeliling rumah kita, kan?” sahut ayah Jinki. Jinki mengangguk lalu berdiri menghampiriku. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Kami keluar sebentar, Bu, Yah. Kalau kalian ada keperluan yang perlu dibicarakan tanpa kami, silahkan.” Jinki dengan sopan membungkuk lalu menuntunku keluar rumah.

“Kita ke paviliun saja, ya. di sana ada balkon yang cukup luas. Kita bisa lihat bintang-bintang lebih jelas dari sana,” ucap Jinki lembut. Aku mengangguk dan membiarkan Jinki memimpin jalan. Huuh, angin bertiup lebih kencang membuatku kedinginan.

Jinki membukakan pintu yang terhubung dengan balkon untukku dan… waaaahh!! Tempat ini begitu indah! Suasananya begitu nyaman dan menenangkan.

“Yeogi anjaseo, jagiya.” Jinki menarik tanganku untuk duduk di bangku panjang. Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat langit malam—yang katanya Jinki bisa terlihat lebih jelas dari sini. Hm, sayangnya mendung.

“Yaaahh, sayang sekali langitnya mendung. Padahal tempat ini adalah spot terbaik melihat langit—baik saat pagi, senja, ataupun malam.” Jinki menghela nafas pelan lalu menyandarkan tubuhnya pada meja panjang yang ada di belakang kami.

“Gwaenchana. Ini juga cukup menyenangkan. Setidaknya udaranya segar,” ujarku sambil tersenyum.

“Dulu saat aku baru pindah ke Korea, karena belum punya teman, aku selalu menyendiri di sini dengan partitur dan gitar. Aku bahkan bisa menghabiskan waktu seharian di sini. Kadang tertidur di ayunan itu sampai-sampai Ibu mencariku ke segala penjuru di rumah,” telunjuk Jinki menunjuk kearah ayunan besar yang terletak diujung balkon.

“Begitu mengasyikkan-kah tempat ini sampai-sampai kau lupa waktu? Lalu setelah Ahra eonni tinggal di sini apakah kau masih senang berlama-lama di sini?”

“Hmm.. kadang iya. Tapi karena aku selalu ingin memiliki saudara, makanya aku selalu berusaha dekat dengan Ahra noona. Yaa kau tahu, kan masa laluku dengan Jinhyung tidak lama? Dan aku sangat menyesalinya. Aku belum merasakan menjadi hyung yang baik.” ada nada sesal di dalam kalimat Jinki barusan.

“Eii, sudahlah. Sekarang kan kau punya saudara yang baik. Kau bisa jadi namdongsaeng yang baik untuk Ahra eonni. Kau juga punya Sungha yang sudah sangat dekat denganmu.”

“Hmm, keurae. Tapi yang terpenting adalah, aku memilikimu, Hyunsa. sekarang dan untuk selamanya.” Jinki langsung menatapku dan membuatku jadi gugup. Pipiku menghangat tiba-tiba. Jinki meraih tanganku dan menggengamnya lembut. Kehangatan dari tangannya segera menjalar ke seluruh tubuhku dan itu benar-benar membuatku nyaman.

“Ehm, Hyunsa, aku ingin minta maaf atas sikap Ibuku tadi siang,” ujar Jinki dengan suara rendah setelah beberapa lama hening. Jinki menundukkan kepalanya. Itu membuatku sedikit tidak nyaman.

“Gwaenchana, aku mengerti kok. Yang penting sekarang aku sudah mengerti apa yang Ibumu mau. Yaaah, meskipun jujur untuk sekarang aku merasa terpaksa dan aku tidak suka dipaksa menjadi apa yang bukan aku mau. Mianhae.”

“Arayo. Aku juga sudah menjelaskannya pada Ibu. Ibu ingin pembuktiannya dan kau berhasil. Lagipula, sebenarnya Ibu itu fleksibel. Tidak selalu memerhatikan penampilan luar. Kau tahu? Ibu menyukai segalanya tentangmu. Aku selalu menceritakannya pada Ibu—meskipun sebagian besar hanya melalui telepon.”

“Jinjja? Aku takut sekali Ibumu malah membenciku dan tidak merestui kita, Dubu.”

“Aniiii. Tenang saja, sayang. Ibu tidak akan separah itu. Oh ya, kau cantik sekali malam ini. Sungguh.” Jinki tersenyum manis dan menautkan jari-jarinya di sela jari-jariku. Aku merasa beban di pundakku terakngkat sedikit. Rasanya Jinki ikut menopang kegelisahanku dengan tautan jari-jarinya ini.

“Go..gomawo, Dubu.” Mau tidak mau aku tersenyum kecil atas pujiannya.

“Oh iya!” Jinki tersentak dan merogoh saku celananya. Dia menunjukkan sesuatu yang sudah tidak asing di mataku. Gelang rantai milikku yang kulempar ke dadanya beberapa waktu silam.

“Masih ingat ini, kan? Ini kukembalikan lagi padamu. Kau tidak boleh melepasnya sampai kapanpun. Aracchi?” Jinki segera meraih tangan kananku dan memasangkan gelang tersebut.

Tiba-tiba saja langit bergemuruh kencang, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Aku langsung menengadahkan pandanganku ke langit. Entah, tapi aku merasa lebih nyaman dengan suasana mendung—apalagi hujan.

“Jagi, sepertinya sebentar lagi hujan. Kau mau kembali?” tanya Jinki. Hujan? Aku paling tidak mau melewatkan hujan.

“Aniyo. Aku ingin melihat dan merasakan hujan,” jawabku lambat-lambat. Kupejamkan mataku dan membiarkan memori terindah berputar di dalam otakku.

“Aku… aku juga ingin merasakan hujan, Jagiya. jadi kita di sini saja, ya menunggu hujan.” Ujar Jinki perlahan. kurasakan tautan tangannya mengencang dan membuatku semakin nyaman. Telapak tangannya yang hangat dan membuatku tenang.

Brrrsssshhhh

Hujanpun turun. Awalnya hanya rintik-rintik yang tidak terlalu menganggu, namun lama-kelamaan semakin deras.

“Jagi, sebaiknya kita berteduh di ayunan itu saja. kita masih bisa melihat hujan di sana. Kajja!” Jinki langsung menarik tanganku tanpa menunggu jawabanku.

Kaki kami yang tidak terlalu terlindung atap ayunan menjadi sedikit basah. Aku tidak peduli, sungguh. Aku terlalu asyik memejamkan mataku dan menikmati saat-saat hujan ini. Hujan begitu berarti bagiku. Hujan membuatku dan Jinki mengungkapkan perasaan masing-masing. Hujan sukses membuatku selalu rindu padanya. Hujan membuat—

“Hyunsa…,” bisik Jinki lembut. Aku merasakan wajah Jinki yang berada cukup dekat dengan wajahku. Kubuka mataku perlahan dan mendapati Jinki menatapku dalam. Pandanganku dan seluruh indraku hanya tertuju padanya.

“Iya?” jawabku sambil menatapnya dalam. Tatapan Jinki jatuh tepat di bola mataku, membuat seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perutku.

“Saranghaeyo yonghwonhi. Aku hanya akan mencintaimu di sepanjang hidupku. Bahkan ketika aku mati nanti, hanya kau yang selalu ada di sini,” Jinki meraih tanganku dan menempelkannya di dada kirinya. Kami berhadap-hadapan, memandang satu sama lain dengan lembut dan intens.

“Nado saranghae, Jinki. Aku mencintaimu selamanya,” jawabku tulus. Kurasakan Jinki mendekap tubuhku erat. Kubenamkan kepalaku di lekukan lehernya dan menikmati kehangatan yang menjalari seluruh tubuhku.

Jinki melepas pelukannya dan kembali menatapku dalam. Ah, rasanya hanya dengan menatap satu sama lain, aku bisa menyampaikan segala perasaan cinta dan rinduku padanya. Aku benar-benar rindu padanya. Dengan dekapanya, dengan mata coklatnya yang begitu lembut menatapku, dengan aroma tubuhnya yang maskulin dan segar dan aku juga merindukan bibirnya yang dengan penuh cinta mengecupku. Aku benar-benar rindu segala hal tentangnya.

Tiba-tiba Jinki merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak berlapis beludru biru tua. Dibukanya kotak itu dan terlihatlah sebuah cincin emas putih bertahtakan safir berbentuk oval dan dikelilingi berlian-berlian kecil berwarna putih. Jinki meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Ayo kita menikah,” ujarnya dengan lafal jelas dan suara jernih.

Mungkin mataku hampir lepas dari rongganya mendengar apa yang dikatakan Jinki barusan. Itu bukan kata-kata lazim untuk melamar seseorang menurutku. Aku menatap matanya dalam-dalam—mencoba mencari celah kebohongan di matanya. Namun aku gagal total mencari kebohongan itu. Jinki masih menatapku dan menunggu jawabanku dengan sabar. Genggamannya di tanganku tidak mengendur, bahkan semakin kencang tanpa maksud menyakiti. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengalir dari sudut mata kiriku. Aku memalingkan wajahku cepat untuk menghapus cairan itu.

“Kau mendengarku? Ayo kita menikah! Kamu mau, kan menikah denganku?”

“Y..Yes I do, Lee Jinki.” Aku memeluk Jinki erat. Aku tidak mau Jinki melihat cairan bening ini keluar lagi. Jinki membalas pelukanku dengan erat dan begitu hangat. Kupejamkan mataku dan membiarkan airmata haruku menetes dan membasahi polo shirt Jinki.

“Kamsahamnida. Aku berjanji akan mencintai dan menyayangimu selamanya, Hyunsa-ya.”

“Ne. Na do, Jinki-ya.”

Jinki yang pertama kali melepas pelukannya. Ia meraih tangan kiriku lalu memasangkan cincinnya di jari manisku. Cincin itu pas sekali melingkar di jariku. Jinki menatapku kemudian mengecup punggung tanganku.

Hujan masih terus turun menemani kami. Aku menundukkan wajahku menatap cincin yang baru tersemat di jari manisku. Cincin yang sangat indah. Bahkan warna safir itu pun begitu indah dan membuatku tak bosan menatapnya.

“Hyunsa,” panggil Jinki setelah beberapa lama hening. Kuangkat wajahku untuk menatapnya.

“Aku rindu sekali padamu. Meskipun beberapa hari ini kita selalu bertemu, entahlah, rasanya aku kecanduan untuk selalu bersamamu, menatapmu.”

“Hm? Aku lebih-lebih merindukanmu. Aku juga selalu merasa sangat sangat butuh melihatmu, menatapmu, berdekatan denganmu,” jawabku tidak mau kalah.

“Kalau begitu aku lebih lebih lebih lebih merindukanmu.”

“Aku lebih lebih lebih lebih lebih lebih—“ Jinki meletakkan telunjuknya di bibirku. Aku mematung dan kembali menatapnya.

“Jangan menimpali begitu. Aku sangat merindukanmu,” ujarnya dengan nada tegas. Jinki meletakkan tangan kirinya di pipiku. Wajahnya perlahan tapi pasti mendekat ke wajahku. Jinki memiringkan kepalanya, matanya perlahan terpejam dan tanpa sadar aku juga menutup mataku. Menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

Chu~

Jinki mencium bibirku penuh perasaan. Bibirnya bergerak dengan perlahan dan lembut. Rasanya begitu manis dan membuat candu. Aku diam saja tanpa membalasnya. Aku mau menikmatinya untuk sementara.

Jinki belum berhenti mencium bibirku. Jujur, aku sangat menyukai cara Jinki mencium bibirku. Begitu lembut, tanpa ada nafsu. Aku tersenyum lalu mulai membalas ciumannya. Kurasakan Jinki juga tersenyum dan melanjutkan ciumannya.

Aku membuka mataku saat kurasakan Jinki menarik bibirnya. Wajahnya masih berada tepat di depan wajahku. Bibir kami hanya berjarak beberapa inchi saja. Jinki tersenyum manis sekali lalu kembali menciumku. Kedua tanganku perlahan naik ke tengkuknya dan mengusapnya lembut sebelum akhirnya kulingkarkan di leher Jinki. Aku merasakan tubuhku semakin hangat. Jinki memeluk tubuhku erat.

“JINKI! HYUNSA! KALIAN DIMANAAAA??” tiba-tiba suara cempreng Ahra eonni menginterupsi kami. Aku tersentak kaget dan segera melepas kontak kami. Oh waw, aku lupa kalau sekarang sedang hujan cukup deras.

“Jinki…,” lirihku. Jarak kami masih sangat dekat. Tanganku masih berada di tengkuknya.

“Biarkan saja. Biarkan kita begini sebentar lagi.”

“Tapi…”

“Aisshh, chuwo! (dingin!)” gerutu Ahra eonni. Aku menjadi tidak enak dan hendak menurunkan tanganku dari tengkuk Jinki, tetapi Jinki menahannya.

“sebentar lagi. Please.” Tatapannya seakan membuatku tidak bisa berkutik.

Dan bibir kami bertemu lagi dengan penuh cinta, lembut, dan begitu manis.

“Jinki? Hyunsaaaa? Kalian ada tidak ada di sini, ya? Huh, dimana lagi bocah dua itu?-.-“ Ahra eonni menggerutu dan langkahnya menjauh. Kami melepaskan kontak kami.

“Noona! Aku dan Hyunsa di sini!” serunya sambil melambaikan tangan. Jinki menatapku lagi dan tersenyum.

“Hyaaa! Kalian ini! Sudah kupanggil tetap saja tidak menyahut! Dingin tau!” Ahra eonni segera mendatangi kami dan menyerahkan payung besar warna hitam. Ahra eonni masih melayangkan pandangan kesal pada Jinki dan tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat jari manisku.

“Uwaaaa…, que l’anneau! Sie belle~ (uwaaaa, cincin itu! cantik sekali!) Jadi sebenarnya aku mengganggu acara kalian, ya? hehehhe.”

“Aiissh, Noona! Aku tidak mengerti bahasa prancismu itu! Dan iya! noona itu mengganggu! Kajja, katanya kedinginan!” Jinki merangkulku dan berjalan mendahului Ahra eonni yang masih nyengir tidak jelas.

“Hehehe, HEI MEMANGNYA APA YANG KALIAN LAKUKAN TADI??”

To Be Continued.
-ㄱ . ㅅ-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Waiting For The Sun – Part 8”

    1. Hahhaa makasiii:”’
      Iyanih Jinki ngelamar tapi kaya maksa(?)-_-wkwwk
      Ditunggu yaaa next partnyaa! Gomawo udh baca dan komen:D

    1. So sweeet~ hihihi makasih yaaa
      Iyaa ada pororo soalnya aku suka pororo :’o
      Gak romantis soalnya jinki cuma bisa romantis ke aku(?)Hahahah
      Makasi yaa udah baca dan komen;) tunggu lanjutannya;)

    1. Wuah makasih buanget ya! Serius juga loh ini hohohoho
      Bikin pengen? Pengen apa hayoooooooo ‘o’ kkkkk
      Makasi yaa udh baca dan komen:)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s