I Want You To Be My Only One – Part 4

I Want You To Be My Only One

Author                         : RahmaRiess

Main casts                   : Park Jihyun, Lee Jinki

Support casts               : Kim Kibum, Leeteuk, Kang Sora, Jihyun’s parents

Length                         : Sequel

Genre                          : Romance, Friendship

Rating                         : PG-15

A.N                 :

Beberapa part di cerita ini pernah ada yang saya pake di FF saya yg lain, jd kalo ada yg menemukan kemiripan, kemungkinan besar itu ulah (?) saya sendiri ko… hehe

Happy reading… n_n

Jinki’s POV

Aku kembali ke apartemen dengan sisa-sisa senyum di wajahku. Membayangkan ekspresi Jihyun sesaat sebelum aku pergi tadi membuat senyum itu tak mau luntur. Ia jelas terlihat sangat manis saat wajahnya memerah tadi. Ku baringkan tubuhku di tempat tidur. Kedua tanganku terulur ke udara. Ini adalah tangan yang tadi menggenggam tangan Jihyun. Tangan yang sangat lembut dan hangat. Aku menempatkan tanganku itu tepat di dadaku, merasakan debaran jantung yang bersemayang di dalamnya. Debaran yang sangat kuat setiap kali aku mengingatnya.

Baiklah, biar ku ingat-ingat alasan aku bisa sangat menyukainya seperti ini. Hmmm… mungkin hanya satu, yaitu karena dia satu-satunya gadis yang tidak meleleh karena pesonaku. Atau mungkin karena dia juga memiliki otak yang sangat encer. Dan satu lagi, dia satu-satunya gadis yang tidak ambil pusing dengan masalah penampilan dan dengan percaya diri tampil apa adanya. Hmmm… Oke, satu lagi. Dia bukan tipe wanita yang mudah untuk di taklukan. Tunggu, kenapa banyak sekali???

Setelah berpikir semalam suntuk, akhirnya aku berhasil memantapkan hatiku untuk melakukannya hari ini juga. Hari ini, aku akan menyatakan perasaanku dan memintanya menjadi kekasihku.

Kibum berjanji mau membantuku dengan satu syarat. Katanya, “kau harus berjanji untuk menjaganya, menyayanginya, mencintainya, selamanya. Jangan pernah kecewakan dia, menyakiti hatinya, apalagi sampai mengkhianatinya. Bahagiakan dia selamanya, kalau sekali saja aku melihat dia meneteskan satu saja air matanya karena dirimu, aku tidak akan segan-segan membunuhmu.” Namja yang merupakan sahabat baik Jihyun itu mengucapkan kalimat tersebut dengan hanya 2 kali tarikan nafas… Heuuu… Aku mengucapkan beribu-ribu kata janji sebelum pada akhirnya Kibum bersedia membantuku.

Saatnya tiba. Ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi, aku segera melangkahkan kaki ke luar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku berjalan menuju ruang musik tempat sebuah piano klasik tersimpan di dalamnya. Aku berrencana untuk menyanyikan sebuah lagu sebagai perwakilan ungkapan perasaanku. Ya, aku memang bukan pria yang pandai merangkai kata-kata romantis untuk bisa melelehkan hati seorang gadis. Apalagi gadis ini Jihyun, gadis yang sepengetahuanku tidak mudah di buat terpesona.

Deritan pintu terdengar saat aku mendorong pelan pintu ruang muasik ini. Disini gelap, sangat gelap dan memang itu yang aku inginkan. Aku menyalakan lampu senter yang sudah ku persiapkan untuk alat penerangan yang membantuku menyiapkan keperluanku. Beberapa batang lilin yang ku tata di  dua buah meja kecil di kanan dan kiri piano. Di meja yang paling dekat dengan pintu, aku meletakan setangkai mawar putih, Kibum bilang ini bunga kesukaan Jihyun.

Semuanya sudah siap. Lilin dan bunga sudah ada di tempatnya. Aku sudah menempati sebuah kursi di hadapan piano berwarna hitam metalik ini. Seharusnya kurang dari lima menit lagi Kibum mulai bergerak untuk membawa Jihyun ke ruangan ini. Tanganku meraba bagian dada kiriku, dan disana aku kembali merasakan jantungku berdegup dengan sangat kencang.

Jihyun’s POV

“Kau mau membawaku kemana?” Kibum menarik tanganku yang masih bergerak membereskan buku yang berhamburan di meja.

“Ikut saja.” Hanya itu yang keluar dari mulut sahabatku ini. “Shhhh… kau ini seperti keong saja. Kenapa lama sekali???” Namja itu mengambil alih pekerjaanku membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tasku.

“Memangnya kita mau kemana? Tunggu.. Tunggu… kenapa kau membawaku kesini?” Kami berjalan menuju lantai dua gedung seni.

“Kau bawel sekali. Ikuti saja aku.” Kata Kibum sambil terus menyeretku.

Kibum masih belum melepaskan tangannya dariku. Dan saat kami sampai di depan sebuah pintu hitam besat dengan tulisan ‘Music Room’ kami berhenti dan ia membalikkan tubuhnya.

“Masuklah.” Katanya.

“Apa? Untuk apa?” Aku menautkan kedua alisku.

“Kau masuk saja ya… Ku mohon, percaya padaku! Aku pergi dulu…” Kibum meninggalkan aku yang masih mematung di depan ruang musik itu.

Dari pintu yang baru ku buka sedikit, aku bisa melihat kegelapan dari dalam sana. Ku buka pintunya sedikit lebih lebar dan lebih lebar lagi. Di salah satu sudut ruangan aku melihat beberapa cahaya yang berasal dari nyala lilin. Aku memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh dan lalu menutup kembali pintunya.

Saat pintu itu tertutup sempurna, dentingan suara piano menggema dari sudut ruangan yang jugamerupakan sumber cahaya itu. Disana aku melihat sesosok orang yang sedang memunggungiku dan memainkan piano. Dan lagu itu, One, salah satu lagu favoritku.

Aku berjalan mendekati pemain piano itu. Sesaat kemudian ia mulai mengeluarkan suaranya untuk menyanyikan bait-bait lirik lagu yang sangat indah ini. Dan betapa terkejutnya aku saat indra pendengaranku menangkap suara yang belakangan ini sangat familiar untukku. Jinki, aku yakin ini suara Jinki.

Achim haetsari geudaewa gatayo

Jogeum yuchihagetjyo

Geuraedo nan ireon ge joheun geol

Nareul kkaeweojun geudae yeope ramyeon

Deo baralke eopgetjyo

Ireohke geudael bogo shipen geol

(The morning sunlight is like you

It might be a little childish, but I like it

If I’m by your side when you wake me up

I have nothing more to wish for

I want to see you)

Sarangi eoridago mothal geora

Saenggakhaji marayo

Nareul deo neutki jeone

Na deo kkeugi jeone jabajul su itjyo?

(Don’t think that we can’t love because we’re young

Before it’s too late

Before I grow older, can you hold onto me?)

Saranghaeyo geudaemaneul jeo haneulmankkeum

Jeongmal geudaeneun naega saneun iyuin geolyo

Geudaereul aju manhi geudael michidorok anajugo shipeo

Ajin manhi ppareungeojyo geureongeojyo

(I love you only, as much as the sky

You truly are the reason I live

I really, really, I want to hug you like crazy

We’re still going too fast, right?)

Nae maeumi geudael japgo nohjil anhjyo

Geudaedo neukkyeojinayo

Nareul Oh deo neutgi jeone

Na deo kkeugi jeone jabajul su itjyo?

(My heart will catch you and not let you go

Can you feel it as well?

Before, oh, it’s too late

Before I grow older, can you hold onto me?)

Ajik geudae maeumi nae gyeote

Ol su eopneun geol arayo geunde

Geudae hanaman naeui hanarago

Bulleodo dwenayo

(I know that your heart

Cannot come by my side yet

Can I just call you my one?)

Urigati One, two, three, oh! Ja shijakhaeyo

Geudaen naeui hanajyo Naeui jeonbuin geolyo

Geudaereul aju manhi, Geudael michidorok saranghago shipeo

Ijeneun geuraedo dwejyo geureongeojyo

Ijeneun geuraedo dwejyo geureongeojyo

(Let’s all together one, two, three, let’s begin

You are my one, my everything

I really, really, I want to love you like crazy

I can do that now, right?

I really, really, I want to love you like crazy

I can do that now, right?)

Aku berada tepat di samping kanannya saat ia menyelesaikan lagunya. Mataku masih lekat menatap jemari tangannya yang tadi menari dengan indah diatas tuts-tuts berwarna hitam putih itu. Dan suaranya… aku akui kalau suaranya benar-benar sangat indah…

Ia tersenyum lalu berdiri menghadap ke arahku. “Jihyun-ah…” suaranya persis seperti yang ku dengar kemarin malam, suara yang membuatku merinding.

Aku menatap lurus ke dalam manik matanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Jihyun-ah… Aku…”

Dugeun~ Dugeun~ Dugeun~

Baru mendengarnya menyebut namaku saja hatiku sudah seperti ini. Jantungku berdegup kencang tak karuan, tanganku dingin dan ku yakin wajahku sudah sangat memerah. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Jinki selanjutnya. Yang jelas aku sudah sangat malu dan bingung harus berbuat apa saat ini.

“Ah… Jinki-ah… ehehe… apa yang kau lakukan disini… emh… oh iya, aku tidak tahu kalau kau…” Jinki meletakkan telunjuknya di bibirku.

“Shhh… ku mohon, jangan merusak suasana romantis yang sudah ke bangun dengan susah payah ini. Kau dengarkan saja baik-baik apa yang akan ku katakan.” Katanya dengan wajah tanpa ekspresi.

Aku hanya menggangguk. Perlahan telunjuknya menjauh dari bibirku.

“Park Jihyun…  I don’t know how to express my feelings to you. Now, I just want you to know that I want you to be my only one… I love you…”

Rasanya seperti mendengar alunan melodi paling indah sedunia, lantunan suara paling merdu sejagat raya. Rasanya seperti memeluk dunia… bahagiaaaa… sekali…

“Hey…” Jinki menyadarkan aku dari lamunan tentangnya.

“Ah, ne?” Kataku. Jihyun pabo, kau bilang apa barusan???

“Jadi… Bagaimana?” wajahnya berubah sangat lembut.

“Ne, aku juga.” Kataku sambil menundukan kepalaku.

“Kau juga? Kau juga apa?”Aku menegakkan kepalaku seketika.Apa dia tidak mengerti maksudku? Haruskah aku mengatakan secara eksplisit kalau aku juga mencintainya?? Aahhh… tapi aku malu…

“Yaa… Aku… Aku juga…. Aku…”

Jinki terlihat seperti sedang mengulum senyumnya. Sekarang aku sadar kalau ia hanya sedang menggodaku dan sebenarnya ia mengerti maksudku. “Kau jahat…” aku memukul pelan perutnya.

Ia tertawa. Tangannya terangkat seperti hendak merangkulku namun terhenti seketika. Aku mengerti, mungkin ia ragu untuk memelukku.Dan entah mendapat kekuatan dari mana, aku memajukan tubuhku, menjatuhkannya di pelukan Jinki dan membenamkan wajahku yang pasti sudah sangat merah ke dalam dada bidangnya.

“Saranghaeyo…” bisiknya tepat di telingaku yang membuatku semakin merinding.

“Nado…” kataku pelan. Entah ia mendengarnya atau tidak, yang penting aku yakin kalau hatinya tahu kalau aku juga sangat mencintainya.

***

Hari ini adalah tepat 25 tahun usia pernikahan kedua orang tuaku, maka disinilah aku, DDM, bertiga dengan Eeteuk oppa dan Sora eonni aku mengelilingi pusat perbelanjaan ini untuk membeli hadiah untuk Eomma dan Appa. Kami bertiga telah menyiapkan pesta perayaan untuk mereka. Rencananya nanti malam kami akan membuat acara makan malam keluarga di sebuah restaurant. Dan berhubung jarak dari DDM dan restaurantnya tidak terlalu jauh maka kami memutuskan untuk sekalian bersiap ke acara intinya. Maka dari itu, kami berbelanja dengan sudah mengenakan gaun pesta kami. Kalau orang lain memandang kami aneh, biarkan saja…

Aku sudah mengantongi hadiah yang akan ku berikan pada dua orang tersayangku itu. Sepasang jam tangan silver yang sangat cantik. Demi mendapatkan hadiah ini aku harus menguras hampir separuh isi tabunganku. Eeteuk oppa dan Sora eonni memilih sepasang hanbok (pakaian tradisional korea) sebagai hadiahnya.

Entah sudah berapa kali oppaku berjalan bolak-balik sambil terus memandangi jam di tangan kanannya. “Eonnimu mana sih? Masa ke toilet saja lama sekali?”

Kami sedang duduk di sebuah meja di salah satu sudut sebuah café sambil menunggu Sora eonni yang sedang ke kamar kecil. “Yaa… namanya juga yeoja oppa.” Kataku.

“Jihyun-ah, kau kenal namja yang memakai jaket hitam itu. Ku perhatikan berkali-kali dia melihat ke arahmu.” Kata Eeteuk oppa sambil membujukku untuk melihat kearah yang di tunjukannya.

“Ah… paling hanya orang iseng Oppa.” Kataku tanpa menoleh sedikitpun.

“Aku serius coba kau lihat dulu, dia tidak seperti orang iseng yang suka curi-curi pandang pada seorang gadis Jihyun-ah. Mungkin kau kenal…” Dia keukeuh memaksaku untuk melihat sedangkan aku keukeuh berpendapat kalau orang itu mungkin hanya orang iseng.

“Ada apa Oppa?” Eonniku kini berdiri di samping suaminya.

“Itu disana, anak namja yang dari tadi melihat ke arah sini. Ku kira temannya Jihyun.”

“Yang mana?” Sora eonni menelusuri seisi kafe mencari orang yang di maksud. “Oh, Jinki-ssi…”

Seketika aku memutar kepala dan mendapati si Mr. America itu berjalan kearah kami.

“Anyeonghaseo…” Ia membungkuk. Andai kau bisa merasakan debaran jantungku saat ini. Oh Tuhan, tolong aku… Ini pertama kalinya kami bertemu setelah kami resmi menjadi sepasang kekasih kemarin. Aku juga tidak mengerti, kenapa setelah resmi menjadi pacarnya aku malah merasa canggung saat berhadapan dengannya. Mungkin karena jantungku yang selalu tiba-tiba berdetak 3 kali lebih cepat saat berada di dekatnya.

“Anyeong… kenalkan Oppa, ini Jinki, muridku di sekolah. Jinki-ssi, kenalkan ini suamiku, kakaknya Jihyun.” Dua namja yang berdiri di hadapanku saling mengulurkan tangan dan berkenalan.

Aku masih mematung dalam posisiku. Bingung dan tak tahu harus berbuat apa.

“Sepertinya kalian akan menghadiri acara yang sangat penting.” Sepertinya Jinki menyadari penampilan kami yang memang terlihat tidak umum bagi orang-orang yang hanya mau berbelanja. Eeteuk Oppa tampak gagah dengan setelan jas berwarna hitam sedangkan sang istri terlihat sangat anggun dengan gaun panjang berwarna keunguan. Dan aku sendiri, setelah mendapat magic touch dari Sora eonni, dengan percaya diri aku menggunakan dress selutut berwarna pastel. Asal kau tahu, sangat jarang aku mau berpenampilan seperti ini…

“Ne, kami akan makan malam untuk merayakan ulang tahun pernikahan orang tua kami.” Kata Eeteuk oppa.

“Wah, sampaikan ucapan selamat dariku kalau begitu.” Kata namja itu.

“Ah, bagaimana kalau kau menyampaikannya sendiri.” Eeteuk oppa berkata sambil melemparkan pandangannya pada eonni yang lalu di sambut anggukan mantap dari istrinya itu.

“Oppa…” aku yang sedari tadi hanya menjadi penonton ikut angkat suara pada akhirnya.Bukan… aku bukan bermaksud menghindarinya , menjauhinya, mencuekkannya atau apapun itu yang ada dipikiranmu Jinki… aku hanya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

“Tidak apa-apa kan? Jinki-ssi kan murid eonnimu, dia juga pasti temanmu kan?” ketiga orang itu kini sedang menatapku.

“Yaa… Ya sudah.” Jinki melemparkan senyum genitnya saat aku menyetujui tawaran oppaku. Dan akhirnya Jinki bergabung bersama kami untuk pergi ke restaurant tempat perayaan ulang tahun orang tahunku di gelar.

Saat kami tiba di tempat yang sudah kami pesan sebelumnya itu, ternyata Eomma dan Appa sudah tiba duluan. Keduanya tersenyum saat melihat kami datang.

Aku langsung berhambur kepelukan keduanya sambil menaruh tas kertas berisi hadiah untuk mereka di atas meja. “Eomma… Appa… Happy anniversary yaa… Jihyun sayang kalian…” kataku sambil mengecup pipi Eomma dan Appa bergantian.

Setelah aku melepaskan pelukanku, sekarang giliran Oppa dan Eonni yang memberi selamat dengan memeluk mereka secara bergantian, tentu dengan gaya yang lebih elegan, tidak grasak grusuk sepertiku tadi.

“Emh…” Eomma ternyata sudah sadar dengan kehadiran ‘orang asing’ bersama kami.Bukan… bukan orang lain, dia namjacinguku eomma… bisikku dalam hati.

“Anyeonghaseo, Lee Jinki imnida. Tuan Park, Nyonya Park saya ucapkan selamat ulang tahun pernikahan.” Meski dengan wajah yang menyiratkan kebingungan, Eomma dan Appa menerima ucapan selamat dari Jinki dengan terbuka.

“Jinki-ssi ini muridnya Sora Eomma, temannya Jihyun juga, kami tidak sengaja bertemu jadi aku mengajaknya bergabung.” Eeteuk oppa secara sukarela menjelaskan sebelum ada yang bertanya.

“Oh, baiklah kalau begitu. Mari Jinki-ssi silakan duduk, kita mulai saja makan malamnya.” Aku sedikit kaget melihat penerimaan yang sangat terbuka dari kedua orangtuaku. Biasanya mereka tidak suka ada orang lain di acara keluarga, apalagi seorang namja. Tapi kenapa tidak berlaku pada namja ini. Hmmmp… tapi, kalau boleh jujur aku merasa lega dan senang melihat sikap positif yang di tunjukan orang tuaku pada Jinki… ups… apa yang ku pikirkan barusan???

Acara makan malam berlangsung lancar. Semua makanan yang dihidangkan di restaurant ini benar-benar lezat, dan karena itulah aku kembali tidak bisa mengontrol posri makanku sendiri. Benar-benar makan besar aku malam ini… hehehe…

Saat menikmati hidangan penutup, kami terlibat dalam perbincangan yang cukup seru. Berkali-kali Eeteuk oppa mengeluarkan lelucon yang membuat kami tertawa dan yang membuat tawa kami semakin deras adalah kenyataan bahwa Jinki jugaternyata memiliki selera humor yang sama dengan oppaku sehingga mereka terlihat sangat kompak mengocok perut kami.

Disaat kami masih menikmati hiburan gratis dari dua namja itu, tiba-tiba Eeteuk oppa bertanya padaku. “Jihyun-ah, kau terlihat aneh hari ini. Tumben kau tidak banyak bicara seperti biasanya. Kau baik-baik saja?”Pertanyaannya itu sontak membuat semua orang menatapku.

“Ah, ani… Aku baik-baik saja… sungguh…” Kataku dengan sedikit canggung.

Suasana kembali seperti semula saat Jinki mengajukan pertanyaan konyol yang di jawab dengan jawaban yang sama konyolnya oleh Eeteuk oppa. Sampai tiba-tiba…

“Emh… Tuan dan Nyonya Lee, bolehkah aku menanyakan sesuatu hal?” Aku melemparkan tatapan penuh tanya padanya yang duduk tepat di hadapanku.

“Tentu, nak. Tanyakan saja.” Kata eomma.

Jantungku berdegup saat menebak-nebak pertanyaan apa yang akan diajukannya.

“Begini, aku hanya penasaran saja. Apa pendapat kalian jika putri kalian ini memiliki seorang kekasih?”

DHUARR~

Apa maksudnya bertanya seperti itu?

~To be continue~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “I Want You To Be My Only One – Part 4”

  1. Akhirnyaaaa~ stlah menunggu brapa ya? Pkoknya sgtu.plaaak
    dtg jg nih ff..
    Aigoo~ jinki so sweet gtu nyatainnya…
    Brntung kau jihyun..
    Itu scene trakhr bikin aku ngakak…
    Thor,klanjutanny cptin ya.hehe

  2. Apaahh,, onew oppa dibikin kocak karakternya.. Sayang gak dijelasin kocaknya kyk apa..
    Hehe
    abiss,, biasanya dia Nyangtae sih..
    Kekeke
    *dilempar ayam sm MVPs*

    lanjuuttt….

  3. Kyaaa….. eommmaaaa….. andweee…..

    Demi semut2 merah yg berbaris di dinding…
    tuh ‘tembakan maut” bikin meleleh….
    dan “pertanyaan” itu… OMG…
    Bikin shock dan… penasaran…
    Jawaban apa yg bakal dikasih ortu Jihyun?
    Apa Jinki bakal mau ngaku kalo dia kekasih Jihyun saat ini???

    Tapi kyaknya ortu Jihyun suka ma kepribadian Jinki
    dan Jinki juga bisa ‘bawa diri’ dengan baik ditengah2 keluarga Jihyun…
    Good job… That’s my smart jinki….
    #dilempar sendal MVP…

    RahmaRiess…
    kok sampe sini aja ceritanya….
    tuh udah November 2012…
    sekarag udah Juni 2013…
    Udah 7 bulan…
    lama bener updatenya….
    buruan ya….

    Annyong….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s