The Silently Love [2.2]

THE SILENTLY LOVE

Author            : Blue Rhey (@ratnariia13)

Main Cast       : Choi Minho, Kim NaNa (Imaginary), Song Yejin (imaginary)

Support Cast   : Shin Yeseul, Lee Jinki, Kim family, Lee Taemin

Length           : Twoshot

Genre            : Friendship, Romance, Family.

Rating           : General

Summary   : Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding cinta diam-diam terhadap sahabatmu sendiri.

A/N                 : This is another triangle love story. Ini cerita udah aku bikin agak lama, awal tahun ini seingatku. Nyempil diantara file skripsiku yang ga kelar-kelar TT__TT. Ceritanya mungkin standar banget, pasaran dan sebagainya tapi ini murni dari otak saya yang sedang dipenuhi jurnal audit #cries. Sudah pernah dipublish di blog pribadiku decemberblue.wordpress.com dengan nama tokoh dan setting tempat berbeda dan judul berbeda pula. Mengubah nama tokoh dan setting tempat itu ternyata tidak mudah ya meskipun itu cerita karangan sendiri *crying again.   Warning : typo, ceritanya standar, bahsanya campur aduk.

Part 2.2

Seoul 8 Juli 2011

Minho POV

Seminggu lagi aku dan Yejin akan menikah. Aku dan dia semakin disibukkan dengan segala tetek bengek persiapan yang rumit dan menguras pikiran. Saat seperti ini selalu membuatku merindukan seseorang yang selalu menemaniku di masa sulit selama bertahun-tahun. Kim NaNa. Aku merindukan sosok itu. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah jalan dengannya lagi. Seingatku terakhir kali pergi berdua dengannya adalah saat aku memberitahunya bahwa aku akan menikah dengan Yejin. Itu berarti 3 minggu yang lalu. Pantas aku merasa kehilangan sosoknya.

Kuambil ponselku dan mencoba untuk meneloponnya. Tidak ada jawaban diseberang sana. Kucoba berkali-kali, hasilnya masih sama. Hey girl, what happen with you..gumamku dalam hati. Kubulatkan tekad, aku harus bertemu dengannya malam ini juga.

Di sinilah aku sekarang, menyetir mobilku sendirian penuh tanya. What’s wrong with you my old friend? Tanyaku dalam hati. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Mengacuhkan setiap teleponku dan tidak pernah mencariku lagi. Ada apa sebenarnya? Dari dulu aku sulit memahami jalan pikiran gadis itu. Dia terlalu rumit. Sulit ditebak. Tapi entah mengapa aku sangat nyaman berada di dekatnya.

Akhirnya mobilku berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup mewah. Kos-kosan NaNa. Aku turun dan membuka pintu depan kost tersebut. Kudapati sosok yang ingin aku temui sedang terduduk lesu di teras sambil memandang bintang.

“Na-ya~,”bisikku pelan.

Dia menoleh, ada ekspresi terkejut diwajahnya. “Minho-ya, ngapain ke sini?” tanyanya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Kulangkahkan kakiku mendekatinya, kemudian duduk di sampingnya. Wajahnya kian kuyu, tak ada sinar ceria dimatanya. Ini bukan Kim NaNa yang kukenal selama ini.

“Bogoshiposo Na-ya. Kamu kemana aja tiga minggu ini? Aku telepon ga diangkat, aku SMS juga ga dibalas. Kamu kenapa sih sebenarnya?” tanyaku kemudian.

Yeoja itu hanya menundukkan kepalanya. Dia menghela napas panjang yang terdengar berat dan sarat beban. Kemudian setelah beberapa menit kami terdiam dalam pikiran masing-masing, NaNa angkat suara. “Minho-ya, kita ke taman deket sekolah kita dulu yuk. Aku pengen main ayunan.”

Aku menganggukkan kepala. Kami lalu berdiri dan berjalan menuju mobilku yang terparkir di luar gerbang. Hening, tak satupun dari kami buka suara. Tidak biasanya kami begini. Biasanya bagaimanapun keadaannya, kami selalu larut dalam tawa. Ada saja yang kami bicarakan. Tapi kali ini keadaan berubah drastis. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Aku tidak tahan menghadapi perubahan sikap NaNa kemudian kutepikan mobil lalu bertanya.

“Na-ya~, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi. Sebenarnya ada apa?”

“Aku juga bingung Minho-ya, aku juga nggak ngerti sebenarnya ada apa.” jawab gadis itu “bisa ga kita berhentinya di taman deket sekolah aja?”lanjutnya.

Aku hanya mendesah mendengar jawabannya. “Kamu berubah Na-ya, aku kaya ga kenal kamu yang sekarang” kataku padanya. Dia hanya tertunduk sambil sesekali menyelipkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinga. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. “Oke kalo kamu belum bisa cerita, aku ga akan maksa lagi.” ujarku kemudian sembari kembali melajukan mobilku.

Akhirnya kami sampai di taman itu. Taman tempat kami selalu menghabiskan waktu bersama sejak sekolah dasar. Tidak ada yang berubah dari taman tersebut, hanya saja sekarang tampak lebih kecil dan tertata. Ayunannya pun masih sama, hanya berganti warna dari biru menjadi merah bata. Kami melangkah menuju ayunan tersebut, lalu duduk di ayunan favorit kami masing-masing. NaNa lalu mulai berayun, sambil berayun dia berkata “Minho-ya, kamu inget ga, aku pernah bilang sama kamu gini ‘orang yang paling penting terkadang kehadirannya tidak disadari’? kamu masih inget kan?”

“iyalah, gimana bisa aku lupa, aku selalu inget hal itu. Kata-kata itu kaya mantra sakti yang lo ucapin waktu aku putus sama SooJung.”jawabku.

NaNa tersenyum, dia menghentikan laju ayunannya lalu berdiri memandangi langit. “Minho-ya, aku rasa aku juga seperti itu buat kamu, ketika aku ada di sampingmu, kamu bahkan tidak menyadari kalo aku ada. Tapi liat sekarang, tiga minggu kita ga ketemu secara personal, kamu udah bingung.”

“Aku bukannya gak menyadari kehadiran kamu Na-ya, hanya saja aku udah terbiasa dengan kamu. Terbiasa melakukan banyak hal denganmu.”jawabku.

NaNa hanya tersenyum mendengar jawabanku. Senyum yang sulit kuartikan. Dia tak pernah tersenyum seperti itu sebelumnya. “Kita udah sama-sama sejak lahir NaNa-ya. Bahkan hampir seumur hidup kita. Makanya aku udah terbiasa dengan hadirnya kamu di hidup aku. Kamu itu pasangan jiwaku Na-ya, my partner in everything.” Lanjutku.

“Tapi kenapa kamu ga pernah bisa ngertiin aku Minho-ya? Selalu aku yang harus cerita, baru kamu akan ngerti. Kenapa?” tanyanya. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya, memang benar, selama ini aku tak pernah bisa mengartikan setiap tatapan matanya, senyumnya, bahkan kata-kata yang dia ucapkanpun kadang sulit untukku mengerti. Seperti hari ini, aku tidak mengerti sama sekali apa yang akan diucapkan gadis itu selanjutnya. Kenapa kamu terlalu sulit kupahami Na-ya, keluhku dalam hati.

“Aku pengen ngomong sesuatu Minho-ya. aku ga mau ngebohongin hatiku lebih lama.” kata NaNa kemudian. Aku masih tak mengerti arah pembicaraan gadis itu. Dia memang sulit ditebak, tapi tidak pernah berbicara memutar seperti hari ini. Aku hanya diam, tak menjawab perkataannya. Kuhampiri dia dan kutatap wajahnya. Tiba-tiba dia memelukku. Kami memang sudah biasa saling memeluk, toh kami kan sahabat. Pelukan persahabatan dong ya namanya. Tapi tak pernah dia memelukku dengan segenap rasa seperti saat ini. Setelah beberapa detik, dia melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajahku, “Mungkin buat kamu selama ini aku cuma sahabat, tapi enggak buat aku. Rasa yang aku miliki buat kamu lebih. Dan kamu tau Minho-ya, ini bukan cuma setahun atau dua tahun aku rasain. Aku udah memendam perasaan ini selama 12 tahun!”

Aku ternganga mendengar pengakuan NaNa. “Kenapa baru sekarang…”ucapku padanya. “Aku belum selesai, jangan dipotong dulu.”sahut yeoja itu memotong kata-kataku sebelum aku sempat menyelesaikannya. “Aku tau, ga seharusnya aku ngomong kaya gini menjelang pernikahan kamu sama Yejin. Tapi aku udah ga sanggup Minho-ya. Hatiku sakit tiap kali liat kamu mesra-mesraan sama mantan-mantan kamu dulu, apa lagi sekarang sama yeoja yang aku anggap sebagai dongsaeng. Aku ga rela Minho-ya, tapi aku bisa apa. Buat kamu, aku ga lebih dari sekedar teman masa kecil yang selalu ada buat nemenin kamu.” NaNa kemudian terdiam, ada lapisan bening di matanya. Oh, Tuhan…akankah kali ini dia menangis, tanyaku dalam hati. Dia tak pernah menangis di hadapanku sebelumnya, baru kali ini kulihat dia begitu rapuh. Saking kuatnya, terkadang aku lupa dia seorang yeoja. Lapisan bening itu sekarang menjelma menjadi sungai kecil yang membanjiri wajahnya. Ingin kuraih yeoja yang selalu ada untukku itu, tapi dia menepis tanganku.

“Aku cuma mau ngasih tau kamu aja, Saranghaeyo Choi Minho. Dan aku tulus sayang sama kamu. aku ga berharap kamu juga bilang ‘ne, nado saranghaeyo Kim NaNa’, aku tau diri, udah ada Yejin di hatimu saat ini.” dia terdiam sejenak seakan merangkai kata-kata yang akan diucapkannya lagi. “Aku sayang sama Yejin, aku ga mau dia tersakiti karena perasaanku. Ini perasaanku sendiri, dan aku ga mintamu buat mempertanggungjawabkan perasaan ini. Kamu udah punya hati yang harus dipertangungjawabkan, hatinya Yejin.” NaNa menghela napas panjang, kemudian melanjutkan perkataannya “Aku lega Minho-ya, akhirnya aku berani ngungkapin perasaanku. Jagain Yejin untukku.”

Kurengkuh yoeja itu dalam pelukanku, dia hanya diam. “Maafin aku NaNa-ya, aku ga peka. Sudah selama itu kamu tersakiti karena ketidakpekaanku. Mianhae NaNa-ya, aku ga bisa membalas cintamu. Tapi aku janji, persahabatan ini ga akan pernah berakhir.” kataku sambil mengusap lembut rambutnya.

Dia melepaskan diri dari pelukanku. “Udahlah, ga usah dipikirin lagi. Sekarang aku udah lega, ga ada beban lagi.” ujarnya sambil tersenyum. Dia lalu mengacungkan jari kelingkingnya “Always be a friend of mine?” tanyanya

“Always be a friend of yours”sahutku sambil menautkan jari kelingking kami.

Kami tertawa. Tenyata itu yang selama ini menjadi bebannya. Dia mencintaiku selama itu dan aku tidak pernah menyadarinya. Aku malah selalu bercerita tentang gadis-gadis yang mengejarku, gadis-gadis yang berhasil mencuri cintaku dan gadis-gadis yang membuatku patah hati. Dan bodohnya lagi, aku tidak tahu kalau selama ini dia selalu terluka karena sikapku ini. Oh Tuhan, sahabat macam apa aku ini. Setelah dia selesai dengan pengakuannya, ada sedikit rasa canggung yang kurasakan. Dia agak memberi jarak. Namun tetap saja ada banyak hal yang ingin kami bicarakan sambil mengenang masa kanak-kanak kami. Kami berbincang di taman itu sampai hampir tengah malam. Sebelum pulang, dia bercerita kalau setelah pernikahanku dan Yejin, dia akan pindah ke Busan. Ada pembukaan cabang baru di sana dan dia yang dipercaya untuk mengawasinya.

“Tenang aja, ini bukan karena aku mau lari dari kamu dan Yejin. Ini murni untuk karirku.” kata NaNa melihat tanya di mataku.

“iya, aku tau.” jawabku sambil tersenyum dan mengacak rambutnya.

Aku mengantarnya pulang, kupeluk dia sebelum masuk ke kosan. Jujur, aku merasa bersalah telah membiarkannya menanggung sakit sendirian selama ini.

“Aku baik-baik aja, pulang gih. Istirahat. Jangan sampe pas kawinan ntar kamu malah sakit.”katanya.

Aku tersenyum, lalu kulambaikan tangan. Setelah dia masuk, ku lajukan mobilku menuju rumah. Betapa hebatnya yeoja itu menyimpan semua beban. Bahkan aku yang hampir selalu di sampingnya tak pernah tahu isi hatinya.

Seoul 12 Juli 2011

Tiga hari menjelang pernikahan, Yejin dan Minho semakin disibukkan dengan segala macam persiapan. Mulai dari dekorasi, persiapan pemberkatan nikah, dan lain sebagainya. Untuk membantu persiapan, keluarga NaNa yang ada di Semarang sudah berkumpul di rumah Yejin sejak kemarin. Yejin juga sudah mulai mengambil cuti untuk persiapan pernikahannya. Semuanya sibuk, suasana rumah Yejin yang biasanya sepi kini ramainya minta ampun. Appa, eomma, Sangjun dan istrinya Lee Hanbyul serta si kecil HaNa, dan Sanghee serta istrinya Im Nami dan tentu saja NaNa sudah 2 hari terakhir ini menemani Yejin mempersiapkan segala keperluan pernikahannya. Eomma bahkan menjahit sendiri gaun yang akan dikenakan Yejin untuk resepsi. Katanya sih, kan ini mantu anak perempuan yang pertama, harus istimewa, nah, yang paling istimewa nanti kalau si sulung yang keranjingan kerja itu nikah. NaNa hanya tersenyum mendengar kata-kata eommanya. Sambil memeluk eommanya dari belakang dia berkata “Masih lama eomma, sekarang aku aja tidak punya namjachingu.”.

“Eonni sih terlalu gila kerja. Coba deh sekali-kali dateng ke acara kencan buta, atau mau aku siapin blind date?” tanya Nami.

“Iya, bener tuh. Kalo NaNa eonni mau, biar aku sama Nami yg nyariin buat eonni. Bagaimana? Tidak apa-apa kan?” sambung Hanbyul.

Lagi-lagi NaNa hanya mengulas senyum. Dia mengibaskan tangannya dan berujar “Kalo aku belom kawin juga sampai umur 32, carikan aku calon suami..hehe”

“I’m serious eonni. Eonni mau nunggu sampe kapan?” tanya Nami gemas.

“Sudah Nami-ya, nanti kalo udah mentok dia larinya juga ke kita kok.” sahut Sanghee menengahi.

“Nah, itu dengerin suamimu.” sambar NaNa sambil melenggang ke dapur.

Malam itu rumah benar-benar terasa ramai. Banyak teman dan kerabat yang datang bergantian. Yejin merasa benar-benar memiliki keluarga, terlebih karena keluarga Kim sudah menganggapnya sebagai anak bungsu. Saat dia sendirian dikamarnya, dia menangis sambil memeluk foto kedua orangtuanya. “Appa, eomma, tiga hari lagi aku menikah. Seandainya saja appa dan eomma masih hidup, pasti kebahagiaanku akan semakin lengkap.” gumamnya disela-sela tangis. Nyonya Kim kemudian masuk kamar Yejin. Melihat yeoja itu menangis sambil memeluk foto kedua orang tuanya, tentu saja membuat Nyonya Kim, trenyuh. Dihampirinya yeoja itu dan dirangkulnya. “Yejin-ah, kalau mau menangis, menangislah, jangan ditahan lagi. Eomma tahu kesedihanmu. Eomma juga pernah mengalami apa yang kamu alami sekarang. Tapi kamu harus ingat, calon pengantin tidak boleh sedih. Nanti cantiknya hilang.”

Yejin menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Nyonya Kim, ditumpahkannya segala kerinduan akan kedua orang tuanya pada wanita itu. Nyonya Kim hanya mampu memeluknya dengan penuh cinta, kemudian dia berbisik pelan “Meski appa dan eommamu tidak bisa mendampingi kamu, kamu masih punya kami. Dan satu lagi yang harus kamu ingat, appa dan eommamu pasti mendoakanmu dari sana. Mereka tidak pernah pergi dari hatimu.”. Yejin menghapus air mata yang masih saja terus mengalir itu, lalu dijawabnya perkataan Nyonya Kim. “Ye eomma, Yejin percaya appa dan eomma pasti selalu menjaga dan mendoakan Yejin dari sana. Gamsahabnida eomma, sudah menjadi sosok eomma yang selama ini Yejin butuhkan. Yejin sayang sama eomma, appa, eonni dan oppa semuanya.”. Mereka kemudian berpelukan. Dari luar kamar, ada enam pasang mata yang mengawasi kejadian mengharukan tersebut. Air mata mereka meleleh melihat kejadian di dalam kamar tersebut. Trenyuh, mendapati si calon pengantin wanita yang merindukan kehadiran orang tuanya.

Akhirnya hari yang dinantikan itupun tiba. Kamis 14 Juli 2011, bertepatan dengan ulang tahun NaNa yang ke 28, Minho dan Yejin akan mengikat perjanjian untuk sehidup semati di hadapan Tuhan dan keluarga. Mereka berdua sengaja memilih tanggal tersebut untuk selalu mengenang NaNa yang telah menjadi sandaran keduanya selama ini. NaNa tentu saja hanya bisa tersenyum pahit mendengar alasan klise mereka. Tak tahukah kalian itu malah akan semakin membuatku sakit, bisik NaNa pelan dalam hati.

Kim NaNa POV

Hari ini mereka menikah. Dan hari ini pula aku melewati ulang tahun paling kelabu dalam hidupku. Aku harus tetap tersenyum karena aku tak ingin merusak momen bahagia dua orang yang kusayangi. Biarlah saat ini aku terluka sendirian, asalkan mereka berdua bisa bahagia. Cukuplah aku saja yang mengorbankan hatiku.

Aku masih dikamar rias saat tiba-tiba sepasang manusia menghampiriku. Shin Yeseul dan Lee Jinki. Mereka menatapku penuh arti. Banyak rasa yang terbaca melalui mata keduanya. Aku merasa ditelanjangi oleh tatapan mereka. Hanya kepada mereka berdualah selama ini ku tumpahkan segala sakitku. Kupeluk yeoja mungil itu sambil mengangis tertahan. Dia hanya mengelus pelan punggungku, seakan takut sentuhannya sanggup membuatku hancur. Hanya mereka berdua yang tahu, betapa rapuhnya aku. Kim NaNa, Manajer Marketing sebuah restoran ternama yang semasa kuliah menyandang gelar Ice Princess, karena keangkuhannya kepada setiap laki-laki yang mendekatinya, ternyata hanyalah gadis yang mudah terluka dan sangat rapuh.

Puas menumpahkan segalanya dalam pelukan Yeseul, aku berucap, “Aku pasti bisa. Thanks udah ngertiin aku selama ini. Kalian yang terbaik.”

Mereka berdua hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Yeseul kemudian berujar, “Kamu tau kan kemana harus mencari saat butuh seseorang yang bisa mendengar semua ceritamu? Kamu pasti nemuin seseorang yang lebih dari Minho NaNa-ya, yang bisa memahami kamu sepenuhnya.”

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Kemudian dia kembali berkata, “Sini aku rapiin make up kamu. Kamu sih pake nangis segala, luntur deh itu maskaranya.”

Aku tergelak mendengar ucapannya. Tak sampai lima menit, Yeseul sudah bisa memperbaiki make up ku yang berantakan. “Nah, gini kan cantik…hahaha”ucapnya.

Author POV

Gereja kecil itu sudah mulai dipenuhi orang-orang yang akan menjadi saksi pernikahan Yejin dan Minho. Nyonya Kim dan anak-anaknya serta cucunya sudah duduk dibarisan paling depan. Tuan Kim masih ada di ruang pengantin wanita bersama Yejin dan NaNa. Sementara itu Minho sudah menunggu di depan altar dengan hati yang berdebar. Yang ditunggupun akhirnya tiba. NaNa masuk ke dalam gereja membuka jalan bagi si pengantin wanita yang digandeng oleh ayahnya. Yejin kemudian memasuki gedung gereja dengan langkah pelan dan hati berdebar. Digenggamnya erat lengan laki-laki di sampingnya. Laki-laki itu memengang lembut jemari Astrid memberikan penguatan, lalu diberikannya tangan gadis itu kepada lelaki yang menunggunya di depan altar.

Janji suci pernikahan itu kemudian diucapkan oleh keduanya. Semua menangis haru melihat kebahagiaan kedua anak manusia yang telah berhasil menemukan pendamping hidup. Hanya NaNa yang melihat kedua orang di depan altar tersebut dengan berbagai rasa yang bergumul dihatinya. Sedih, kecewa, tapi juga bahagia melihat kedua orang tersebut. Tiba-tiba ada sepasang tangan mungil menggenggam tangannya. Dia terkejut kemudian menoleh ke arah si pemilik tangan. Yeseul, si pemilik tangan mungil tersebut, memandangnya. Tatapan matanya memberikan NaNa penguatan. NaNa tersenyum, kemudian melalui matanya dia ucapkan nan gwenchana.

Selepas pemberkatan nikah yang penuh haru, pesta megah untuk merayakan pernikahan Yejin dan Minho pun digelar. Kerabat dan teman sejawat mereka datang untuk memberikan ucapan selamat dan doa. Semua bahagia, demikian pula halnya dengan NaNa. Ini adalah hari terakhirnya berkumpul bersama semua keluarga dan teman di Seoul, karena mulai besok pagi dia harus terbang ke Busan untuk bekerja dan menyembuhkan luka dihatinya.

Kemudian keesokan harinya, saat semua masih lelah dan ingin kembali terlelap, NaNa sudah bersiap untuk ke bandara. Pesawatnya akan berangkat pukul 10.15 KST, itu berarti masih ada waktu 3 jam lagi. Dia sudah berpamitan kepada orang tuanya dua hari yang lalu, begitupun dengan dongsaengnya. Kini dia tengah menunggu taksi yang akan membawanya menuju bandara. Dia sengaja tidak ingin diantar oleh siapapun. Padahal Minho, Sangjun, Sanghee dan Jinki sudah berkeras ingin mengantarnya ke bandara. Tapi ditolaknya. Dia ingin sendirian. Akhirnya ke-4 laki-laki itu mengalah.

Akhrirnya taksi yang di tunggupun datang, semua keluarganya termasuk Yejin dan Minho sudah bersiap di depan rumah. Dipeluknya satu-satu mulai dari appa, eomma, Sangjun, Sanghee, Hanbyul, Nami, keponakan kecilnya, Yejin kemudian Minho. Kepada Minho, NaNa membisikkan sesuatu “Aku bukan lari, tapi mencari apa yang aku butuhin. Aku titip Yejin. Kalo sampe aku denger dia nangis gara-gara kamu, aku yang akan bikin kamu mati.”. Minho hanya terkekeh mendengarnya. “Jaga diri kamu baik-baik, pastikan saat kita ketemu lagi, kamu udah bisa nyembuhin luka dihatimu.” Sahut Minho pelan ke telinga NaNa.

NaNa kemudian masuk ke dalam taksi yang akan membawanya ke bandara, pergi menjauh untuk sementara dari semua kenangannya bersama Minho.

15 Juli 2011, Kedatangan domestik Bandara Internasional Gimhae, Busan

NaNa berjalan menyeret kopernya sambil sibuk memasang earphone ditelinganya. Dia tidak menyadari jaketnya terjatuh dan terus saja berjalan mencari orang yang sudah ditugaskan perusahaan untuk menjemputnya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Dia menoleh. Diturunkannya sunglasses yang bertengger manis diwajahnya. Dia terpana melihat namja yang menepuk pundaknya.

“Agashi, ini tadi jaketnya jatuh.” Kata namja itu sambil tersenyum hangat.

NaNa terpana melihat senyumnya, kemudian menerima jaket itu dan berkata “Gamsahabnida.”

“Sama-sama, lain kali hati-hati ya, untung ini cuma jaket yang jatuh. Oh iya , perkenalkan joneun Lee Taemin imnida.” Kata namja yang bernama Lee Taemin itu sambil mengulurkan tangan.

“NaNa, Kim NaNa.” Sahut NaNa sambil menyambut uluran tangan Taemin.

Setelah berjabat tangan, Taemin kemudian berlalu sambil melambaikan tangan dan tersenyum. NaNa membalas lambaian tangan tersebut dan kembali berjalan. Kemudian dihampirinya laki-laki yang membawa papan nama bertuliskan namanya. Tak lama kemudian laki-laki tersebut mengangkat satu papan nama lain bertuliskan nama Lee Taemin, Quinncy Resto Jeju. NaNa hanya mengernyitkan dahinya, karena ia baru saja bertemu dengan laki-laki bernama Lee Taemin, dan sekarang orang yang menjemputnya juga menjemput orang lain yang bernama Lee Taemin. Suatu kebetulan bukan?

Tak sabar kemudian ditanyainya laki-laki yang menjemputnya tersebut, Park Jungsoo namanya. “Tuan Park, Lee Taemin yang kita tunggu itu siapa?”

“Orang yang akan mendampingi Manajer Kim untuk mengelola cabang yang di Busan ini.” jawab Park Jungsoo.

NaNa hanya tersenyum, dia lalu duduk dikursi yang tak jauh dari tempat Tuan Park menunggu orang yang bernama Lee Taemin itu.  Karena kelelahan, dia terlelap sesaat. Kemudian ada yang mengguncang bahunya sambil berkata ”Manajer Kim, mari saya antarkan ke hotel, Tuan Lee Taemin sudah tiba.”

NaNa membuka mata, menyadari dirinya terlelap, dia kemudian menganggukan kepalanya menanggapi perkataan Tuan Park. Dilihatnya seseorang yang berdiri di belakang Tuan Park sambil tersenyum. Dia tak asing melihat wajah itu. Mulutnya ternganga, “Lee Taemin-ssi?”tanyanya.

Namja itu tersenyum dan berkata, “Hai, ternyata kita bertemu lagi. Mohon kerja samanya ya.”

NaNa hanya tersenyum, dalam hati dia berkata “Minho-ya, belum juga satu hari aku di Busan aku sudah menemukan seseorang yang sepertimu…”

TAMAT

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “The Silently Love [2.2]”

  1. Hwaaaa…
    Akhirnyaaa,, baby Taemin dapet part jugaaaa..
    Meski sedikit, malah berkesan lho..

    Awalnya aku sempet bingung, aku kirain teh FFnya Rhey oen bakalan si baby yg jd main casts-nya.
    Skrg aku tau knp, Oenni ga mw bikin uri Taemin jd gak peka kan.
    Kekeke~

    hwaiting Rhey Oen!

  2. Ah… Happy ending 🙂
    Meskipun Nana sakit hati gara” Minho nikah sama Yejin..
    Eh akhirnya dia nemuin orang yg cocok..
    Mudah”an tetem menyadari perasaannya *apadeh*
    Goof job thor…
    Lain kali buat ff yang tetem jadi maincastnya thor *banyak bacot*
    *dibunuh author*
    /(^_^)\

  3. Nana eonni jgn ambil taemin oppa ne? Taem milikku.. #ngarep#.. Aku cuma baca part ini doang,… Nice FF..
    Keep writing!

  4. waaa happy
    akhirnya nana ktmu pengganti minho jg
    jdi ga lama” deh sedihnya
    ga kebayang gmn sakit hatinya dia ngliat minho nikah

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s