Waiting For The Sun – Part 9 (END)

Waiting for The Sun – PART 9 (END)

Credit poster: yuyounji. Thanks eonni 

Authors : Dubudays dan Nikitaemin
Main Cast : Lee Jinki, Cho Hyunsa (OC)
Support Cast : Cho Jiman (Hyunsa’s father), parents of Lee Jinki, Lee Ahra, Jung Sungha
Genre : AU, Romance, Family
Rate : PG-15
Length : chaptered (9/9)
Disclaimer : THIS FANFICTION BELONGS TO KAN AHRA AND SHIN MINKI!!

CHO HYUNSA’S POV

“Ayah, Ibu, Jiman Sonsaengnim, Ahra Noona, setelah makan malam ini aku dan Hyunsa mau membicarakan sesuatu dengan kalian semua. Boleh?” Jinki memecah kesunyian diantara kami semua saat makan malam. Hari ini, setelah berpikir masak-masak, kami memutuskan untuk mengutarakan semuanya pada orang tua. Selagi semuanya sedang berkumpul dan dalam mood yang baik.

“Mau bicara apa, Jinki-ya?” tanya Ibu Jinki yang sedang memotong daging menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.

“Emm… nanti saja Jinki jelaskan, Bu. Sekarang kita makan malam saja dulu. Hehehe,” jawab Jinki cengengesan dan mencomot daging yang baru saja disajikan oleh Ibunya. Ayah Jinki hanya menoleh sekilas padaku—yang kebetulan duduk berdekatan dengannya–kemudian kembali menghabiskan makan malamnya.

Aku menatap kembali cincin berlian safir yang sudah tiga hari tersemat di jari manisku. Mungkin yang lain juga sudah melihatnya dan bahkan sudah mengerti gelagatku dan Jinki yang meminta waktu untuk berdiskusi nanti. Ibu Jinki menaruh beberapa lembar daging ke dalam mangkuk nasiku kemudian tersenyum.

“Makan yang banyak, Hyunsa-ya.”

“Oh, Ne, Eomoni. Kamsahamnida.”

********

Jinki menggenggam tanganku erat seolah memberi semangat. Semuanya sudah berada di ruang keluarga sementara kami berdua masih di ruang makan karena masih merapikan peralatan makan untuk selanjutnya dicuci oleh pelayan. Berulang kali aku mengatur nafas untuk tetap tenang, tetapi jantungku terus saja berdetak cepat sehingga aku menjadi kembali gugup.

“Jagi, kajja. Semuanya sudah menunggu,” ujar Jinki. Kukerjapkan mataku beberapa kali kemudian mengangguk.

“Ne, kajja.”

Di ruang keluarga, semuanya sudah menunggu dengan wajah penasaran mereka. Tanpa sadar aku mengelus batu safir yang tersemat di jari manisku. Semoga umur cincin ini di jariku bukan cuma untuk tiga hari. Tapi untuk selamanya. Kemudian kuraih tangan Jinki dan menautkan jari-jariku erat dengan jari-jarinya. Jinki menoleh ke arahku karena kaget tangannya tiba-tiba kutarik. Tetapi setelahnya Jinki hanya tersenyum dan mengeratkan tautan itu.

“Jadi, apa yang ingin dibicarakan, Jinki-ya?” tanya Ayah Jinki setelah aku dan Jinki duduk di sofa. Kontan, seluruh perhatian menjadi kearah kami berdua.

“A..aku.. pertama-tama aku ingin berterima kasih pada kalian semua yang sudah merawat dan menyayangiku dari aku kecil sampai sekarang ini. Terima kasih sudah melimpahkan kasing sayang kalian semua padaku. Dan juga aku sangat-sangat berterima kasih pada Jiman Sonsaengnim. Sonsaengnim sudah kuanggap sebagai orangtuaku juga. Sonsaengnim sudah sangat baik membagi segala ilmu Sonsaengnim padaku. Jujur aku merasa belum memberi kalian apapun untuk membalas semua kebaikan kalian. Malah kesannya aku selalu menuntut tanpa bisa memberikan balasan yang setimpal bagi kalian semua,” Jinki berhenti untuk mengatur kembali nafasnya karena gugup.

“Aigoo uri Jinki, wae keuraeyo? Kenapa jadi mellow seperti ini? Kau ini jarang sekali seperti ini. Ada apa sebenarnya, sayang?” sahut Ibu Jinki.

“Aku selalu berusaha membalas semua kasih sayang kalian semua meskipun aku selalu merasa itu tidaklah cukup. Dan sekarang, aku merasa aku juga harus memberikan kasih sayang pada seseorang di luar keluarga kita. I yeoja, aku merasa diwajibkan Tuhan untuk memberikan kasih sayangku padanya. Aku juga merasa turut bertanggung jawab atas Hyunsa.”

“ Jiman Sonsaengnim, tolong izinkan dan restui aku untuk menikahi Hyunsa. Izinkan aku menggantikan Sonsaengnim menjaga dan yang bertanggung jawab atas Hyunsa. Ayah, Ibu, dan Ahra Noona tolong izinkan dan restui kami juga untuk menikah.”

Jinki langsung menghela nafas untuk menghilangkan kegugupan tadi. Semua terdiam mendengar perkataan Jinki.Tanpa sadar aku Manahan nafas menunggu jawaban dari mereka semua.

Aku menatap satu-persatu wajah mereka dengan jantung yang berdebar kencang. Saat aku menatap Ibu Jinki, matanya berkaca-kaca kemudian tangannya segera menyeka ujung matanya. Seketika itu aku menjadi benar-benar gugup. Ujung-ujung jari kakiku terasa dingin tetapi punggungku terasa memanas.

“Jadi kalian mau menikah?” suara Appa memecah kesunyian.

“Ne,” jawabku dan Jinki berbarengan. Ayah Jinki kemudian menatap Ibu Jinki—yang masih sibuk menghapus airmatanya—dan kemudian menatap Appaku. Kemudian tiba-tiba saja Ayah Jinki dan Appaku tertawa terbahak-bahak.

“Ahahahaha aigooyaa, kenapa begitu kebetulan sekali? Ya, Jiman-ah! Aku tidak menyangka persahabatan kita akan benar-benar berlanjut menjadi besan seperti ini.” Ayah Jinki belum bisa menghentikan tawanya sementara tawa Appa sudah mereda. Ibu Jinki tertawa kecil disela-sela suasana harunya dan memandang kami dengan tatapan bahagia.

“Jinki, aku tahu kau anak yang baik dan bisa bertanggung jawab menggantikanku menjaga dan bertanggung jawab atas Hyunsa. Aku sangat senang dengan niat baik kalian dalam membuat hubungan kalian menjadi lebih serius. Aku sudah pernah mengutarakannya dulu, kan? Jadi, tentu saja aku mengizinkan dan merestui kalian,” jawab Appa dengan bijaksana. Rasanya tubuhku begitu ringan setelah mendengar jawaban baik dari Appa.

“Aku juga merestui kalian. Kalian sudah dewasa, bisa menentukan hal-hal yang baik untuk kehidupan kalian sendiri. Menikahlah, dan hiduplah bahagia sebagai sepasang suami istri,” sahut Ayah Jinki

“Ne, aku juga. Sudah saatnya kalian berdua memiliki kehidupan baru yang bahagia. Uri Jinki sudah dewasa sekarang. Aku bangga dengan keberanianmu, sayang. Aku selalu mendoakan agar kehidupan kalian selalu bahagia,” giliran Ibu Jinki yang berbicara.

“Aku siap kapanpun mendesain dan membuat gaun dan tuxedo untuk kalian. Juga untuk semua dekorasi yang kalian inginkan untuk pernikahan kalian. Hehehehe. Aigoo, nae Jinki! kau sudah besar sekarang! Noona bahagia sekali dengan apa yang sudah kau katakan. Noona akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan juga untuk Hyunsa,” kata Ahra eonni dengan suara cempreng khasnya.

“Kamsahamnida Appa, Ahra eonni, juga Jinki Eomoni—“

“Eii, belajarlah untuk memanggil kami dengan sebutan Ibu dan Ayah. Itu terdengar lebih nyaman di telinga kami ketimbang tadi. Itu terkesan seperti kau memanggil orangtua temanmu,” Ibu Jinki memotong kata-kataku.

“Eoh, Majayo! Dan Jinki, haissh, kau selalu memanggilku Sonsaengnim. Aku ingin kau memanggilku Abeonim. Itu lebih cool,” sahut Appa. Semua langsung tergelak mendengar kata-kata Appa.

Selanjutnya yang terjadi adalah gurauan-gurauan ringan yang menyenangkan. Bahkan aku hampir menganga saat Ahra Eonni dengan mudahnya menyanggupi semua keinginanku yang tidak bisa dibilang mudah. Padahal awalnya aku hanya bercanda mengatakan ingin memakai gaun pengantin dengan desain kombinasi kebaya dan hanbok, tapi Ahra Eonni langsung mencatatnya dalam note book bersampul kulit warna coklatnya. Daebaakk!!!

*******

NOVEMBER, 2015

Semua orang tampak sibuk di bagiannya masing-masing. Seorang gadis tengah duduk dan memejamkan matanya sementara orang-orang di sekelilingnya sedang sibuk merias wajah juga menata rambutnya. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu membuat semua perhatian dari gadis itu teralihkan.

“Permisi Ahra-ya, Aku hanya mau memberikan ini untuk Hyunsa. Kurasa ini cocok disematkan di rambutnya. Itu milik ibunya. Kebetulan jepitan itu selalu kubawa. Jadi yaa… kurasa Hyunsa cocok menggunakannya.” kepala orang—yang ternyata ayah dari gadis itu menyembul dari balik pintu. Gadis yang dipanggil Ahra itu segera meninggalkan gadis yang masih memejamkan matanya.

“Woah.. neomu yeppeuda! Kamsahamnida, Abeoji. Kebetulan sekali ini sangat cocok untuk Hyunsa. Kamsahamnida.” Ahra membungkukkan badannya beberapa kali kemudian kembali menutup pintu. Dihampirinya gadis yang masih memejamkan mata itu kemudian menepuk bahunya.

“Ya, Hyunsa! Igeot jombwa (look at this)! Appamu barusan memberikan ini untuk hiasan rambutmu. Cantik sekali!” Ahra menyodorkan kotak hitam yang didalamnya terdapat jepitan berbentuk kupu-kupu yang dihiasi dengan berlian-berlian kecil pada Hyunsa.

“E..eh? Ini milik Mama, kan? Appa memberikannya untukku?”

“Ne! Appamu selalu membawa jepitan itu. Kebetulan sekali warnanya cocok dan yaaa kau tahulah, ini juga salah satu warna kesukaannya Jinki, hehe. Sini, biar kupasangkan di rambutmu.” Ahra mengambil jepitan itu dari tangan Hyunsa kemudian menyematkannya di rambut Hyunsa yang sudah ditata menjadi fishtail braid yang terlihat rumit.

“Kkeut! (selesai!) Nah ayo sekarang pakai gaunmu! Waktu kita semakin menipis!” Ahra menarik perlahan tangan Hyunsa agar berdiri dan mengikutinya. Dengan segera, Ahra membantu Hyunsa melepaskan dress sederhananya dan menggantinya dengan gaun pernikahannya. Gaun dengan kombinasi kebaya dan hanbok seperti keinginannya begitu cantik melekat di tubuh rampingnya.

Hyunsa hanya mengikuti semua instruksi dari Ahra. Di dalam dirinya, Hyunsa terus berusaha mengatasi perasaan gugupnya yang amat sangat. Waktu begitu cepat berlalu semenjak hari dimana Jinki melamar dan juga meminta restu orang tuanya dan juga orang tua Hyunsa untuk menikahinya. Dan hari ini, kehidupan barunya menjadi Nyonya Lee akan segera dimulai.

“Hyunsa, pakai heelsmu. Lima belas menit lagi kau harus sudah siap dan duduk di sana menunggu waktu pemberkatan.” Ahra menunjuk suatu tempat yang sudah dihias dan diberi sofa kecil di tengahnya. Diletakkannya heels itu di lantai dekat kaki Hyunsa kemudian meninggalkannya.

Pikiran Hyunsa kembali lagi ke dunia nyata. Hyunsa duduk di bangku kecil kemudian mengambil beberapa plester untuk di tempelkan di kakinya. Kakinya belum terbiasa memakai heels dan takut akan lecet kemudian menganggu acaranya.

“Tolong berdiri, Hyunsa-ya! biar kurapikan gaunmu.”

“ Ah.. ne, eonni. Aduuh bagaimana ini? Aku tidak bisa mengontrol dirimu sendiri hari ini! Eonni aku takut!!”

“Aigoooo! Baiklah, sekarang ikuti aku. Tarik nafas… tahan… hembuskan…. Eottae?”

“Hhh, molla! Rasanya jantungku mau melompat keluar dari rongganya, Eonni. Eoddeohke eoddeohke?”

Ahra memutar otak mencari solusi untuk Hyunsa. “Ah! Tunggu sebentar, ya! aku akan segera kembali.”

Lim menit kemudian, Ibu Jinki mengetuk pintu ruangan dimana Hyunsa berada. Sudah waktunya Hyunsa bersiap duduk di tempat yang sudah disediakan untuk menunggu waktu pemberkatan. Sontak Hyunsa kembali panik dan gugup. Hyunsa memejamkan matanya erat-erat dan mengatur nafasnya supaya tenang. Ibu Jinki menuntunnya untuk duduk di tempat yang telah disiapkan.

“Hyunsa, kau pasti bisa. Semuanya akan berjalan dengan lancar. Hwaitiiing!” Ibu Jinki mencoba memberi semangat.

“Iya, bu.Terima kasih.”

********

“Ya Tuhan, kenapa jantungku ini susah sekali berkompromi? Kenapa daritadi aku tidak bisa tenang? Ini pertama kalinya dalam hidupku aku tidak bisa mengendalikan diriku. Eoddeohke?” batin Hyunsa. Kuku-kuku ibu jari dan telunjuk tangan Hyunsa terus-terusan bergerak tidak terkontrol dan menghasilkan bunyi ‘tik tik tik’ yang cukup kencang.

Tok tok tok

“Ma… masuk!” sahut Hyunsa. Ayahnya—yang ternyata mengetuk pintu—segera masuk dan menutup pintunya kembali. Ayahnya hari ini terlihat gagah dengan tuxedo yang dipakainya. Di tangan ayahnya terdapat sebuket bunga yang akan Hyunsa bawa nanti. Ahra masuk belakangan. Hanbok berwarna pastel sudah melekat di tubuhnya

“Appa!” Hyunsa sontak berdiri dan memeluk ayahnya erat-erat. Mungkin setidaknya, dengan pelukan hangat dari ayahnya, Hyunsa bisa sedikit tenang.

“Aigoo aigooo! Anak appa sudah cantik rupanya!” Ayah Hyunsa menuntun Hyunsa untuk kembali duduk di sofa. Tangan Ayah Hyunsa mengelus-elus punggung Hyunsa perlahan untuk menenangkan putrinya.

“Appa, aku gugup sekali sekarang! Apa yang harus aku lakukan?” suara Hyunsa tercekat—hampir menangis.

“Tenang sayaang. Appa akan selalu menemanimu.” Ayah Hyunsa mengecup dahi Hyunsa. Hyunsa melingarkan lengannya di punggung Ayahnya—mendekapnya erat.

“Sepuluh menit lagi kau akan menjadi Nyonya Lee. Aaaah, waktu berjalan cepat sekali.”

“Appaaa,” Hyunsa tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mendesak matanya untuk mengeluarkan sesuatu. Tidak! Tidak boleh menangis, Hyunsa! riasan sempurna ini tidak boleh hancur karena airmatamu!

“Hyunsa, berjanjilah untuk selalu bahagia bersama Jinki. Berjanjilah untuk Appa dan Mamamu. Hanya itu yang bisa membuat Appa benar-benar tenang melepasmu, sayang.”

“Ne, keurom! Aku akan bahagia dengan Jinki. Yaksok!”

Tiba-tiba jam dinding yang berada di dekat mereka berdentang cukup keras, membuat Hyunsa tersentak. Kegugupannya kembali datang. Rasanya kakinya terlalu lemas bahkan hanya untuk berdiri. Dari kejauhan, Hyunsa bisa mendengar dentingan piano yang mulai dimainkan Minki (sahabatnya ini dengan sukarela membantu dalam acara pernikahannya).

Hyunsa merasa akan segera pingsan.

“Sudah saatnya, Hyunsa! Ayo, kau pasti bisa!” Ahra turut membantu Hyunsa berdiri kemudian merapikan kembali gaun Hyunsa.

“Ahra, Hyunsa terlihat pucat. Kau yakin dia bisa melewati hari ini?” tanya Ayah Hyunsa khawatir sambil menggenggam erat tangan Hyunsa yang gemetar.

“Dia akan baik-baik saja, Abeoji. Masa iya dia mau pingsan di hadapan calon suaminya,” jawab Ahra bergurau. Ayah Hyunsa menyunggingkan senyum kecil kemudian kembali menatap Hyunsa. diserahkannya buket bunga yang sedari tadi di genggamnya pada Hyunsa. semerbak harum anggrek dan mawar segar menyeruak ke dalam indra penciuman Hyunsa.

“Kau akan baik-baik saja, Hyun. Appa akan selalu memegangmu.”

“Ne, Appa. Jangan biarkan aku tersandung dan jatuh.”

“Never.”

Ayah Hyunsa menuntun Hyunsa turun tangga. Tangannya menggenggam erat tangan Hyunsa yang gemetar. Hyunsa berkali-kali mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras agar sedikit tenang. Lututnya gemetar.

Dentingan piano semakin terdengar kencang. Suara riuh para tamu undanganpun mulai terdengar. Hyunsa benar-benar merasa dahinya akan segera menyentuh lantai. Tetapi tangan ayahnya yang menggenggam erat tangannya membuatnya sadar. Itu tidak akan terjadi.

Tinggal satu tikungan lagi dan mereka akan segera sampai di tempat pemberkatan. Ayah Hyunsa sengaja memperlambat langkahnya yang otomatis diikuti Hyunsa.

“Kau siap, Hyunsa?”

Hyunsa menghembuskan nafasnya dengan gemetar kemudian mengangguk.

********

Jinki melirik Boutonnière yang tersemat di kerah tuxedo putihnya. Mawar merah itu terasa cukup kontras dengan tuxedo dan kulitnya yang putih. Jinki menepuk-nepuk lengan tuxedo nya kemudian menatap pantulan dirinya di cermin besar. Hari ini penampilannya sungguh berbeda. Rambutnya yang sedikit gondrong, sudah ia potong rapi sesuai dengan model kesukaan Hyunsa.

“Ja, Lee Jinki, sebentar lagi kau akan punya kehidupan yang baru bersama wanita yang kau cintai. Huah, hwaiting!!” Jinki memberi semangat pada dirinya sendiri. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan yang digunakan Jinki untuk bersiap-siap.

“Ne, masuklah,” sahut Jinki. Pintu segera terbuka dan kepala Sungha menyembul dari balik pintu.

“Hyung sudah siap? Ini sudah waktunya pemberkatan.”

“Jinjja? Ck, kenapa waktu berjalan cepat sekali? Arasseo, aku akan segera keluar. Gomawo Sungha!”

Sungha hanya mengangguk kemudian menutup pintu kembali. Jinki kembali menatap bayangannya di cermin. Sekali lagi mengecek penampilannya.

“Lee Jinki hwaiting!!”

********

Semua mata tertuju pada Jinki yang mulai memasuki hall. Jinki membungkuk pada setiap orang yang dilaluinya dengan senyum lebar. Langkahnya terasa ringan meskipun tetap ada rasa gugup dalam dirinya. Di depan altar, Jinki membungkuk dalam pada pastur kemudian berbalik dan kembali membungkuk pada semua tamu undangan. Jinki menarik bibirnya membentuk senyuman lebar dan membuat mata bulan sabit itu terlihat jelas.

Musik yang dimainkan oleh Minki sudah berganti dan semua orang tiba-tiba berpaling menuju pintu masuk hall. Di sana telah berdiri seorang pria yang Jinki kenal sebagai calon Abeonimnya dan wanita yang akan menjadi istrinya. Hyunsa sedikit menunduk dan terlihat menggigiti bibir bawahnya. Langkahnya terlihat gugup dan gemetar. Namja itu tidak sedetikpun melepas pandangannya dari Hyunsa dan Ayah Hyunsa. Dan akhirnya pandangannya dan Hyunsa bertemu. Hyunsa menatap Jinki dengan pandangan seperti ingin menangis. Tetapi Jinki terus tersenyum padanya, seolah memberi kekuatan untuk Hyunsa agar kuat berjalan sampai ke depan altar.

Jinki membungkuk dalam pada Ayah Hyunsa yang sudah berdiri di hadapannya. Sekali lagi mata bulan sabit itu menghiasi wajah Jinki. Ayah Hyunsa membalas senyuman Jinki kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Hyunsa dan mengecup pipi kiri Hyunsa.

“Aku mencintaimu, anakku,” bisik Ayah Hyunsa lembut.

Ayah Hyunsa beralih ke Jinki yang masih memamerkan mata bulan sabitnya. “Ya Jinki! Kau harus pegang semua janjimu. Arasseo?” bisik Ayah Hyunsa.

“Ne, Abeonim. Aku janji. Keokjong hajimaseyo,” jawab Jinki sambil nyengir. Ayah Hyunsa mendengus kecil kemudian memberikan tangan Hyunsa yang sedari tadi digenggamnya pada Jinki.

Jinki menatap Hyunsa lembut. Ibu jari Jinki mengelus-elus punggung tangan Hyunsa perlahan agar yeoja itu sedikit tenang. Hyunsa menghembuskan nafasnya agak keras kemudian mengikuti tuntunan Jinki agar berdiri tepat di depan altar.

Acara dimulai dan pastur mulai memberikan beberapa pertanyaan sebelum Jinki dan Hyunsa mengikrarkan janji setia.

“Lee Jinki and Cho Hyunsa, have you come here freely and without reservation to give yourselves to each other in marriage?”

“Yes,” jawab Jinki dan Hyunsa bersamaan. Hyunsa masih belum bisa menguasai dirinya meskipun Jinki sudah mengelus punggung tangannya tadi.

“Will you honor each other as man and wife for the rest of your lives?”

“I will.”

“Will you accept children lovingly from God, and bring them up according to the law of Christ and his Church?”

“I will.”

“Since it is your intention to enter into marriage, join your right hands, and declare your consent before God and his Church.”

Jinki dan Hyunsa berhadapan dan saling menggenggam tangan kanan mereka. Ekspresi Hyunsa sedikit melunak dan secara tidak langsung membuat Jinki lega.

“I, Lee Jinki, take you, Cho Hyunsa, for my lawful wife, to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.”

Suara Jinki yang terdengar begitu jernih dan lembut, membuat Hyunsa jauh lebih tenang. Raut wajahnya sudah lebih rileks dari sebelumnya.

“ I.. I, Cho Hyunsa, take you, Lee Jinki, for my lawful husband, to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.”

“You have declared your consent before the Church. May the Lord in his goodness strengthen your consent and fill you both with his blessings. What God has joined, men must not divide.”

Kemudian sang pastur menyerahkan cincin kepada Jinki. Diraihnya tangan Hyunsa dan menyematkan cincinnya di jari manis Hyunsa. Hyunsa pun melakukan hal yang sama pada Jinki, lalu menatap namja di hadapannya.

Keadaan tiba-tiba terasa lebih sunyi—atau lebih tepatnya Jinki dan Hyunsa seakan terseret ke dunia mereka sendiri. Tidak ada para tamu undangan, tidak ada pastur, hanya ada Jinki dan Hyunsa. Jinki maju selangkah mendekati Hyunsa, mengulurkan kedua tangannya untuk menggengam jemari Hyunsa.

“Aku mencintaimu,” bisik Jinki. Dengan sedikit membungkuk, Jinki menyentuhkan ujung hidungnya pada pipi Hyunsa, lalu mencium bibir Hyunsa mesra. Bibirnya bergerak lembut sampai-sampai Hyunsa rasanya akan segera menangis. Hyunsa melepas genggaman tangan Jinki, membiarkan tangannya bergerak memeluk leher Jinki.

CHO HYUNSA’S POV

Dear Lee Jinki, kekasihku—ani, suamiku, hehehe. Kita sudah resmi sekarang, kan?

Apa kamu masih ingat awal perjumpaan kita? Rebutan gitar yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan. Kamu tahu alasannya, aku kidal. Sedangkan gitar itu untuk orang yang bermain dengan tangan kanan.
Dan akhirnya pertemuan kedua kita di café membuka kisah kita. Kamu yang suka mencuri-curi pandang menatapku saat kita berlatih untuk showcase pertamaku, kamu yang selalu menyanyikan lullaby kesukaanku saat rasa kantuk belum menguasaiku meskipun hari sudah sangat malam dan kamu sudah sangat mengantuk.

Dan di malam itu, saat kita merapatkan tubuh untuk berbagi kehangatan karena hujan deras, kamu menatapku begitu dalam hingga kupikir kamu telah masuk ke dalam diriku melalui mataku. Bibirmu mengucapkan semua kalimat-kalimat indah yang memang aku ingin dengar dari bibirmu. Ternyata dalam waktu satu bulan saja, aku sudah benar-benar terbuai segala yang ada pada dirimu. Aku rasa, kalau kamu belum juga mengungkapkannya, aku bersedia mengungkapkannya duluan.

Kini, dengan sumpah yang baru saja kita sama-sama kita ucapkan, kita sudah menjadi satu. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Tanganmu yang hangat meraih jemariku dan menggenggamnya erat, Bibirmu yang terasa manis setiap kali kamu menciumku. Aaah, aku merasa sudah tidak butuh apa-apa lagi kecuali dirimu.

Hidup akan terus berlanjut dengan berbagai dinamikanya. Bukan berarti dengan selesainya suatu masalah, tidak akan ada masalah lain. Tapi aku yakin, dengan hidup baruku bersamamu, dengan tangan hangatmu yang siap menopangku kapan saja, dinamika kehidupan yang akan kita hadapi akan jadi lebih mudah.

Berdua selalu lebih baik, kan, sayang?

*****

Sang Pastur tanpa sadar berdehem dan segera menyesali perbuatannya karena menginterupsi lovelybirds dihadapannya. Jinki menoleh, lalu tersenyum malu sambil mengusap leher belakangnya. Tangannya mencari-cari jemari Hyunsa dan menggenggamnya erat.

Dengan langkah ringan dan saling menggenggam, mereka melangkah meninggalkan altar,
menyongsong kehidupan baru secerah sinar matahari.

********

5 years later

Yeoja itu benar-benar diliputi rasa panik dan penasaran setelah beberapa menit yang lalu seorang laki-laki dengan setelan formal mendatangi rumahnya. Ia sedang sendiri di rumahnya saat ini dan dengan keadaan lemah. Semua orang menyuruhnya istirahat total karena tidak ingin kesalahan yang sama terulang. Orang itu menyerahkan sebuah amplop coklat ukuran sedang dengan logo instansi resmi dan beberapa saat kemudian pamit undur diri.

Rasa penasaran yang semakin membuncah membuatnya nekat membuka amplop yang sebenarnya bukan ditujukan pada dirinya. Tangannnya gemetar membuka lipatan surat yang juga dihiasi logo instansi resmi. Gerakan liar matanya saat membaca isi surat itu menyiratkan sesuatu yang luar biasa telah terjadi melalui surat itu.

Yeoja itu tampak membeku beberapa saat untuk bisa mencerna seluruh isi surat itu. Tangannya masih gemetar saat memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop coklat. Berusaha menguasai dirinya, yeoja itu melirik jam dinding. Assa! Waktunya sangat tepat!

Tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya yang masih lemah, yeoja itu—tanpa benar-benar berusaha mempercantik dirinya—tergesa mencari kunci mobil dan melesat menuju garasi. Amplop coklat itu ia letakkan di jok samping kursi kemudi, kemudian segera tancap gas menuju sekolah musik ayahnya.

Meskipun tergesa, yeoja itu masih mengontrol dirinya untuk tetap fokus menyetir bahkan dengan sabar mengantri mencari lahan parkir setelah sampai di sekolah musik ayahnya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, ia meraih amplop itu dan berusaha mempercepat langkah agar cepat sampai di lobby gedung sekolah musik. Namun baru beberapa langkah, yeoja itu sudah kelelahan.

Saat sampai di lobby utama, beberapa karyawan dan guru menyapa yeoja itu dengan ramah namun keheranan. Bukankah yeoja itu harus beristirahat total? Apa ia tidak takut kesalahan yang sama terulang?

“Eh, Mbak Hyunsa apa kabar? Sedang apa di sini? Bukannya sama Mas Jinki gak boleh ngajar dulu?” sapa lelaki paruh baya yang merupakan kepala security di sekolah musik ayahnya.

“Haahh… hahh… Pak, Jinki masih ada di sini, kan? Aku harus bertemu dia sekarang!” Hyunsa—si yeoja itu—mengatur nafasnya yang terengah. Tubuhnya terasa lebih lemah dari sebelumnya namun tetap ia paksakan untuk kuat.

“Masih, mbak. Saya belum lihat Mas Jinki turun ke lobby malah. Eh, mbak, jangan lari-lari kayak ngono, toh. Kasihan bayinya. Hamil muda itu rentan, mbak. Apalagi kata Mas Jinki kandungannya Mbak Hyunsa ini lemah.”

Hyunsa refleks mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Ya, jabang bayi yang sedang tumbuh dalam perutnya kini yang menjadi alasan mengapa tubuhnya menjadi lemah dan dilarang beraktivitas banyak.

“Mbak Hyunsa mau ketemu Mas Jinki? Saya panggilin, ya. Mbak tunggu aja di sini.” Kepala security itu hendak mempersilahkan Hyunsa duduk namun Hyunsa menolak.

“Nggak usah, Pak. Biar saya saja yang mencari Jinki. Terima kasih tawaran dan juga nasihatnya. Saya akan menjaga kandungan saya dengan baik,” Hyunsa tersenyum, mencoba meyakinkan kepala security itu. akhirnya dengan ragu, Kepala Security itu mengangguk mempersilahkan Hyunsa mencari suaminya.

Dengan langkah yang lebih hati-hati, yeoja itu memasuki elevator dan menekan lantai di mana seharusnya Jinki berada. Sekarang pukul dua siang, berarti harusnya dia masih di kelas 3.3

Pintu elevator berdenting dan terbuka saat mencapai lantai 3. Bersamaan dengan itu, Adelle, musuh lama Hyunsa hendak masuk ke dalam elevator. Seperti orang-orang di lobby, Adelle menatapnya heran.

“Hyunsa? kok kamu di sini?” tanyanya sambil menekan tombol elevator untuk menahan pintu agar tetap terbuka.

“Um.. yeah, aku mau bertemu suamiku. Apa dia masih di kelas 3.3?”

“Kurasa iya. Tidak bisa lepas dari suami, ya? cih, manja sekali!” Adelle masih seperti dulu, masih membenci Hyunsa dengan segala nasib baik yang melekat pada Hyunsa.

“Bukan urusanmu, Adelle cantik! Baiklah, sampai jumpa!” Hyunsa menahan diri untuk mengumpat pada Adelle. Jabang bayinya tidak boleh mendengar kata-kata kotor.

Hyunsa kembali melangkah agak cepat menuju kelas 3.3. Jantungnya bertalu-talu keras saat mengingat isi amplop coklat berhias logo instansi resmi di tangannya.

Kelas 3.3 terdengar agak sunyi. Hanya suara guru yang sedang memberikan materi yang terdengar. Hyunsa tidak bisa menahan diri untuk tidak mengetuk pintu kelas. Maafkan aku murid-murid tersayang. Tapi urusan ini lebih mendadak dan penting, batin Hyunsa.

Tok tok tok

Hyunsa hampir lupa bernafas saat menunggu seseorang membukakan pintu dari dalam.

“Ya? Ada yang bisa di—Hyunsa?! sedang apa kamu di sini?? Kan kubilang—“

Hyunsa mendesis—mengeluarkan nafasnya dari sela-sela giginya, lalu menarik wajah Jinki agar mendekati wajahnya. Jinki dapat melihat airmata menggenangi pelupuk mata Hyunsa. Dengan tampang bingung, Jinki hendak membuka mulutnya untuk bertanya, namun bibir Hyunsa keburu mengunci bibirnya. Namja itu benar-benar kaget hingga menjatuhkan spidol dari tangannya.

Murid-murid refleks menoleh saat spidol di genggaman Jinki menimbulkan bunyi. Rata-rata respon mereka sama, mereka terkesiap dan menutup mata malu.

“Hmmpp.. hhhh Jagiya! museun iriya?? Aigoo, ini tidak pantas dilihat mereka!” bisik Jinki panik saat berhasil melepaskan ciuman Hyunsa. Hyunsa tidak menjawab, hanya menarik tangan Jinki menjauhi daun pintu.

“Museun iriya?? Aigoo aigooo, jangan membuatku panik, Jagiya! ada apaaa? Dan kenapa kamu harus menyusulku? Apa sesuatu terjadi pada anak kita? Hyu..Hyun.. kenapa menangis?” Jinki super panik. Ia takut kejadian setahun silam saat Hyunsa keguguran terulang. Kejadian itu benar-benar membuatnya terpukul dan merasa bersalah karena membiarkan Hyunsa tidak terlalu banyak mengurangi aktivitasnya.

“Aniyoo… dia baik-baik saja sekarang. Aku… aku hanya tidak bisa menunggumu pulang untuk memberikan ini!” Hyunsa mengacungkan amplop coklat itu tepat di hadapan Jinki. Namja itu mengerutkan keningnya dalam-dalam sebelum mengambil amplop itu.

Mata kecil Jinki terbelalak saat melihat logo instansi resmi pemerintah di ujung kiri amplop. Matanya sempat melirik Hyunsa yang sedang menyandar, mengistirahatkan tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Namja itu masih cukup waras untuk menyadari kondisi istrinya yang lemah. Jinki segera mencari guru pengganti, lalu memapah Hyunsa menuju ruangan ayahnya yang kosong.

Setelah memastikan Hyunsa duduk dengan nyaman, Jinki membuka amplop yang diberikan Hyunsa tadi. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan segel amplop yang telah terbuka. Perlahan, dibukanya lipatan surat di dalamnya, lalu membaca dengan hati-hati.

“Hyun.. ini tidak bercanda, kan? Ah… aku….” Jinki melipat kembali surat dengan tangan gemetar. Surat itu berisi keputusan presiden atas pengajuan kewarganegaraan Indonesia yang ia ajukan kembali tiga bulan lalu. Butuh waktu hampir lima tahun untuk mengajukan pewarganegaraan itu. Syarat utamanya adalah Jinki harus tinggal di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun berturut-turun.

Setelah pernikahan mereka, Jinki kembali mengurus izin tinggal (visa) nya di Indonesia. Tidak seperti sebelumnya, Jinki kini mengganti alasan izin tinggalnya untuk pekerjaan, bukan liburan seperti pertama kali. Ayah Hyunsa akan mempekerjakan Jinki di sekolah musiknya agar izin tinggal itu menjadi konkrit. Dan batas visa itu adalah enam bulan, sehingga Jinki harus bolak-balik Jakarta-Korea untuk memperpanjang visanya.

Surat di tangan Jinki kini menjadi penentu, apakah ia masih harus bolak-balik Jakarta-Korea setiap enam bulan, atau menetap permanen di Indonesia.

“Hyunsa, kau masih sadar?” tanyanya hati-hati saat melihat Hyunsa memejamkan mata dengan wajah pucat.

“Ne, tenang saja. Aku hanya mengistirahatkan mataku sebentar.”

“Hyunsa, Presiden… menerimaku.”

F I N

HYAAAAAKKKKK

Alhamdulillahirobilalamiiiin, akhirnya selesai jugaaa!!
Makasih banyak yaaa buat eonni, oppa, dongsaeng, chingudeul yang sudah bersedia meluangkan waktunya membaca ff ini 😀 thanks a lot!!!

Maaf banget ya karena ff ini masih jauh dari sempurna, masih banyak typonya, kurang detailnya, dll. Dan juga memproses ff ini sampai akhirnya selesai sangaaaaaaaaattttt lama -___- maaf yaahT_T

Sekali lagi makasih banget buat dukungan kalian semua 😀 makasih buat komen-komennya. Yang gak komen juga makasih yaa karena udah baca hehehe. Kita gak marah kok kalo gak di komen, cuma pengen bacok aja. Eh, nggak nggaaak, bercandaaaa~~ kekeke serius bercanda wkwkwk

Sampai ketemu di karya yang lain~~!! ANNYEOOONG :* *bow bersama semua cast*

Eh tunggu tunggu!! Pengen ketawa banget niih! Aku menghancurkan image Jinki kayanya. MAS JINKI???? HAHAHAHAHA-.-

Dadaaaaah~ *bow lagi*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Waiting For The Sun – Part 9 (END)”

  1. Ahaha..
    Iya neh..
    Mas Jinki, mbak Hyunsa..
    Terdengar aneh gt..
    Kkk~

    uwooo… Akhirnya mrka berdua jd happy family juga..
    Sseandainya beneran Uri SHINee jd WNI semua..
    Kkk~

    1. Kekeke tapi lucu kaan? Cocok sama covernya~
      Mas Jinki~
      Kalo aku siih.. Buat ot5 mening tetep jadi orang korea, tapi sering kesini gituu heheh
      Makasih banyak yaa udh baca dan komeen:D

  2. Hwaa…
    Pengen nangis.. Tpi pengen ketawa juga..
    Feel-nya bener2 dapet..
    Yak! Jinki sempet2nya nyengir ketika semua orang gugup..
    Dan.. Mas jinki jadi WNI…
    Waa.. Chukkae..

    Ditunggu karya berikutnya..
    Fighting!

    1. Waahh jangan nangiiss cupcuup:”
      Awww seneng banget kalo cerita ini bisa menyentuh hati kamu:’ makasih yaa sudah membacanya dengan sepenuh hati(?)Kkkkk
      Hehehe justru Jinki nyengir supaya gak gugup;)
      Makasih makasiih, tungguin yaa! Semoga bisa berkarya lebih baik lagi o:)

    1. Hihihi kalo gitu baca dari awal yaaa:’
      Iyaa, mas jinki nya udh tinggal di indonesia:) permohonannya sudah dikabulin 😉 kkk
      Makasiiii yaaaa udh baca :””’

  3. Dubu-ssi dan Niki-ssi, saya baru mo mulai baca ff ini 🙂 saya suka ff yang castnya Jinki, makanya komen dulu sebelum baca ff dari part 1. Mogon ijin ya.. Gumawo.. 😀

    1. Dubu-ssi~ berasa onew(?) Kkkk
      Wetsss gausah izin juga monggo dibacaa 🙂 bacanya dari sequel pertama yaaa. Judulnya the guitarist 😉
      Makasi yaa udh mau bacaa:) selamat membacaa!kkk

  4. Maaf baru komen sekarang haha! Ini FF daebak bener! Kyaaaa>< aku mau lanjutannya. Tapi pake cast "Taemin" ceritanya anak Jinki sm Hyunsa wkwk ;p

  5. ketawa ngbayangin onew d panggil mas jinki
    ff ini yg plng lama aku baca kykny
    stlah 6 bulan bru nglanjutin baca smpe end

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s