Shocking Nightmare

Shocking Nightmare

Shocking Nightmare

Author : dhila_kudou

Title :     Shocking Nightmare

Cast :     Kim Kibum as Kibum

                Kim Jonghyun as Kibum’s Hyung

                Lee Taemin as Kibum’s Friend

                Choi Minho as Taemin’s Friend

                Lee Jinki as Paman Jinki

Genre : Mystery, Humor, Friendship

Rating : G

Length : Oneshot

Note : Semua plot adalah dari sudut pandang Kibum. Fanfiction ini sebenarnya sudah diposting di blog pribadi aku, tapi sudah lama banget. Dan pas aku baca ulang, banyak typo dan penulisannya masih kacau. Alhasil kurombak dan aku ganti cast-nya jadi anak2 SHINee. Kalau masih nemu kecacatan, maafin yaa. Namanya juga FF cacat. LOL.

Hope you like this ^o^/

——–

“Cepetan Kibum!!! Dah jam 4 kurang seperempat niiih..!!!”

“Iya, bentaar!” jawabku sambil mengunci pintu kamar yang terletak di lantai dua. Perasaan aku tiap pagi jam 7 berangkat biasa aja tuh, apalagi ini..dah sore. Telat 5 menit ? So what laah.

“Woy, Kibum!”

“IYAAAAAAAAA..!!!”

Aku pun sampai ke depan pintu utama dan mengambil sepasang sepatu yang terletak di rak sepatu yang terletak di sudut ruangan.

“Kamu ini tiap hari telat terus kayak gini ya perginya? Disiplin doong!” ujar Jonghyun, hyung-ku.

“Ya elah, Hyuung..Belajar Pe-Ka-eN juga. Nggak datang pun tak papa, gurunya baik pun..,”

“Ah…terserahlah.”

————————————————————-

Jarak rumah ku dengan kampus sekitar 300 meter. Jadi aku tidak terlalu cemas untuk telat. Tapi, hyungku, karena baru pertama kali ke kampusku (dia mengikuti kelasku di semester ini) (anggap sajalah begitu, aku aja bingung kenapa hyungku ikut ama aku), dia cemas kalau kami telat. Bisa-bisa…

“Hei, Kibum!”

Aku menaikkan wajahku ke arah orang yang menyapaku, ”Eh, Paman Jinki. Kenapa ke sini?” tanyaku spontan. Wajarlah, dia kerabat keluargaku yang biasanya tinggal di kampung halaman. Lha, ini dah sampai ke Seoul saja. Hyungku tidak ikut menyapa karena dia emang nggak terbiasa untuk beramah tamah seperti itu.

“Iya. Mau jenguk Eomma di rumah sakit. O, iya, ada yang mau Paman bicarakan. Tunggu sebentar ya!”

Dia melanjutkan obrolannya yang terhenti akibat kemunculanku dengan orang lain. Ternyata dia tak sendiri di sana. Spot-nya di depan warung, kira-kira 50 meter lagi untuk mencapai kampusku. Aku mulai cemas. Kulihat abangku jalan di tempat sambil menatap tajam ke arahku. “Ngapain kamu ladenin Om-om itu, HAH?” begitu lah arti tatapannya.

Akhirnya, setelah menunggu, yaa..nggak tau berapa lama, yang jelas bikin keki deh, akhirnya Paman Jinki melanjutkan pembicaraannya kepadaku.

“Begini, bilangin sama Ayahmu. Leeteuk Ahjussi lagi di Rumah Sakit Berharap Sehat sekarang. Dia di rawat karena Diabetes. Maaf kalau tak menghubungi kerabat terlebih dahulu,”

Ya, begitulah kebiasaan kami. Berembuk dahulu ke keluarga sebelum mengambil keputusan untuk dirawat. Ribet juga siih, tapi untuk keharmonisan yaa, dijalankan saja.

“Ya, jangan lupa ya! Oke?! Nah, Sekarang kamu mau kemana?”

Aku mulai menahan emosi yang bergejolak di jiwa, menusuk dada. “Hanya itu doang? Woy, hape lu kan keren pada tuh…! Napa nggak telepon aja langsung bapakku sono?!” bentakku dalam hati. Wajah Jonghyun, hyungku, tak kalah merah padam dengan wajahku. Ketukan sepatunya ke jalanan semakin keras.

“Kalau gitu, permisi dulu, PA-MAN!” Aku menekan setiap suku kata ‘paman’ untuk melampaiskan kekesalan dan bergegas ke kampus.

—————————————

Setibanya di gerbang, waktu sudah menunjukkan 4 lewat 5 menit. Waduw..Telaat..!!! Ya, so what laah. Tapi , tu satpam napa mejeng di dekat gerbang? Tumben mau panas-panasan.

“Hyung deh yang masuk duluan,” pintaku memelas ke arah Jonghyun.

“Kamu dong yang duluan! Ini semua salah kamu. Kamu yang bikin telat. Kalau kita pergi 30 menit lebih cepat, kita tak bakalan ketemu ama Om-om itu…!” bisik Jonghyun. Fiuwh, se-berandal-berandalnya diriku, aku masih takut ama satpam tauk!

Akhirnya, penyelamat pun datang. Yap, temenku. Sering telat juga siih.

“Taemin…Kita barengan nyook…,” rayuku di depan gerbang. Sang satpam dari tadi tidak berhenti melepas pandangannya ke arah kami. Padahal, lumayan banyak juga orang lalu lalang di dekat gerbang. Wong dah kelar kuliah atau mau masuk kuliah.

Taemin menyetujuinya. Aah, teman yang satu ini emang paling baik dan paling polos dari seabrek teman yang aku punya. Ia pun melangkahkan kakinya lebih dahulu.

 Setelah posisi kami sejajar dengan pohon di sisi aula fakultas…

“WOY…SINI DULU!!!”

Yup, benar sekali. Satpam tadi yang memanggilku. Yuplaah..Sabar. Didenda mau gimana lagi. Walaupun sebenarnya ada juga sih temenku yang pernah didenda karena telat, tapi aku tak tau kisarannya berapa.

Kami bertiga menghampirinya.

“Kalian tak tahu sekarang jam berapa?” tanyanya garang. Widiw, biasa aja kali Pak.

“Jam 4 lewat 8 menit, Pak,” ujarku. Si Jonghyun masih berusaha meredakan emosinya.

“Kalau gitu, ke Gedung Dekanat dulu. Ambil surat terlambat dan bayar denda. Oke?! Kalau tidak, kalian tidak boleh mengikuti kegiatan perkuliahan hari ini,”

Dia pun sertamerta menggiring kami masuk ke dalam gedung dekanat yang terletak di depan aula. Aku menatap ke arah aula. Pasti dosen lagi asyik mengajarkan kuliah Otonomi Daerah-nya. Tapi, lebih lumayan aku disiksa di aula dari pada di siksa di gedung dekanat ini!

Kami masuk ke ruangan kemahasiswaan. Di sana telah berkumpul orang-orang yang sama nasibnya dengan kami bertiga.

Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Perasaan nih ya, mana ada kata telat lalu didenda kalau udah kuliah. Ini SMA ato kampus??? SMA-pun tak ada mengenal kata denda kalau telat tuh.

“Semuanya! Letakkan tas dan barang bawaan kalian di atas meja!” ujar salah satu pegawai. Jonghyun menatapku bertanya-tanya. Aku hanya menaikkan bahuku.

Demi apa di kampus ada razia beginian?!

Yah, aku menurut sajalah.

Beberapa pegawai menggeledah tas-tas tersebut. Aku memperhatikan orang yang menggeledah tasku. Untunglah aku tak membawa laptop dan barang yang tidak terlalu diperlukan, tapi aku cemas dengan satu hal…

“Ha! ini dia!” Salah seorang pegawai mengambil flashdisk ku.

Aku panik. Bukan karena aku menyimpan video bokep di sana. Tapi flash disk itu banyak permainan dan film. Dan kutekankan lagi, itu tidak bokep. Plus, Aku adalah sekretaris BEM. Jadi ada data rahasia BEM di sana. Kalau sampai mereka mengetahui data tersebut, disebarluaskan, tamatlah riwayatku.

“Ini flashdisk siapa?” tanyanya sambil mengacung-acungkan barang itu. Aku menunjuk.

“Yang tinggi..!!!” teriaknya.

“Iya..iya..,” Aku mendengus sebal.

“Colokkan ini, Mbak!” ujarnya garang dengan senyuman kemenangannya. “Yes, aku dapat makanaaan…” begitulah kira-kira isi pikirannya.

“Kau sajalah yang mencolokkan, aku lagi fesbukan bentar,”

Brr, harusnya kantor ini yang digeledah..Menggunakan fasilitas kantor dengan hal-hal yang tidak perlu KORUPSI..!!!

“Cepetaaan..!” teriak pegawai itu.

“Iya, iya!” Dengan setengah hati dia menggeledah.

Setelah satu menit…

“Tidak ada apa-apa,”

“HA? Yang bener?” tanya pegawai itu.

Ya elah Paak! Dirimu berarti yang mesum. Kalau nggak ada ya mau gimana lagi? Kalaupun ada, mau kau colokkan flashdisk mu? Mau kau copy? Mau kau tonton di rumah? HAAH?!

Maaf pak, kalau aku pake kata ‘kau’. Emosi ni Pak..EMOSI..!!!

Ya, tapi aku tidak bisa berteriak. Bisa-bisa ini hari terakhirku menginjakkan kaki di kampus ini.

“Ya deh..emang nggak ada. Tapi flashdisk ini ku tahan!” ujarnya menyeringai ke arah ku.

What the…

———————-

 

“Bagi yang sudah diperiksa tasnya, silakan pergi ke meja sana!” kata salah seorang pegawai sambil menunjuk meja yang terletak di dekat pintu keluar. Ya, mungkin di situ kami mengambil kertas yang tertulis angka yang harus kami bayar.

Denda terlambat.

Abangku, si Jonghyun, hanya mengekoriku. Dia terheran-heran, tak mengerti dengan semua ini. “Hei, Fakultas kamu aneh ya?” bisiknya.

“Mana ku tau? Kali aja mereka ‘butuh gaji cepat’” jawabku.

Perhatikan sodara-sodara. Butuh-Gaji-Cepat. Mengerti kan maksudku?

Buktinya, mana ada di kampus lain orang di denda karena terlambat? Trus, kenapa sasaran mereka kepada orang yang ngampus di sore hari? Kalau pagi hari, mungkin masih wajar. Tapi yang ini tidak! Lagian, ini bukan kelas wajib bagiku. Bisa saja aku memilih bolos kan? Tapi kenapa aku terlanjur ke sini? Berarti aku harus rela uang jajanku di ambil.

Tapi, seberapalah denda yang akan kutanggung. Paling 1000-an kayak denda perpustakaan. Semoga…

Akhirnya tibalah giliranku. Salah seorang pegawai memberikan kertas yang tertulis angka-angka. Semacam tabel lebih tepatnya. Tertulis lama terlambat dan bayarannya.

“Kamu telat berapa menit?”

“5 menit, Mbak..,”

Yup, aku yakin 5 menit. 5 menit kan? Itung sendiri sudah berapa lama kalian baca cerita ini. HA! HA! HA!

“Jarak dari rumah ke sini?” tanyanya lagi sambil mencoret-coret sesuatu. Beda tipis dengan siswa taman kanak-kanak sedang belajar menulis.

Aku menjawab sambil mengambil dompetku di saku celana, “300 meter Mbak,”

Huft, aku merasa sedikit gembira. Wong setelah kubaca, dendanya cuma 500 perak. Berdua dengan abangku, ya seribu perak..!!! Hoho, lebih murah dari denda perpustakaan ternyata. Membuang-buang waktu dan tenaga saja. Huh!

Aku menyerahkan seribuan ke tangan Mbak itu. Dia menatapku bingung.

“Seribu berdua dengan abangku,” jawabku sambil menunjuk orang di belakangku. Jonghyun ‘say hello’ ke arah mbak itu.

Mbak-mbak itu mendesah, “Kamu denda seratus ribu!”

JDERRRRRRRRRRR!!!!!!

PATS!

Waktu terasa berhenti setelah kata itu terucap.

SERATUS RIBU? 100.000 RUPIAH? LEMBAR MERAH ITU HARUS AKU SERAHKAN KE PEGAWAI INI?

NO WAAY!!!!

Itu uang jajanku selama seminggu, Kawan. Mana mungkin hanya karena telat LIMA MENIT denda SERATUS RIBU?????

“LHO? Kenapa bisa begitu Mbak?” ujarku sambil meneguk ludah.

“Coba kamu baca judulnya dengan teliti…”

1 menit = Rp 100,-

NB : Denda dihitung per-3cm dari rumah.

 

PERATURAN MACAM APA PULA INI?!!!

Per tiga senti? Woy! Kalian masih waraskah???

“Itu masih untung loh…Harusnya kalian berdua denda satu juta. 300 meter..hmm, kira-kira 30.000 senti. 30.000 bagi 3 sama dengan 10.000. 10.000 kali 500 rupiah sama dengan 5 juta. Hah, lima juta sebenarnya,”

Aku dan abangku terhenyak. Mau pingsan, tapi malu…

“Tapi kini kami korting menjadi 200 ribu berdua, baik kan?” ujarnya dengan watados.

“Mbak,tapi…”

“Ini sudah peraturan dari atas,” jawabnya seolah-olah membaca pikiranku.

Atas mana? Atas genteng???

“Kalian bisa menyicil sampai besok. Tapi kalian tidak boleh mengikuti perkuliahan sebelum membayar denda ini. Silakan ambil tas kalian,”

Oke, aku akui mbak ini cukup pintar merayuku. Dia mengetahui kalau fakultas ini merupakan fakultas tersulit. Fakultas Kedokteran. Dia sangat tau betapa berartinya setiap kuliah yang diadakan, walau kuliah tambahan seperti pendidikan kewarganegaraan yang tidak berhubungan sekalipun.

Aku terkulai lemah duduk di kursi dengan hyungku.

“Bagaimana ini?” tanyanya.

“Mana kutahu? Uangku udah tinggal 100 ribu. Dengan apa aku beli makanan seminggu ini? Pakai uang Hyung dulu deh,”

“Hyung lupa bawa dompet. Tinggal di kosan. Ayolah..pliiis…Kamu mau Hyung ngulang kelas lagi gara-gara absen???” ujarnya memohon.

Halah, itu salah hyung sendiri. Kenapa dulu malas ngampus. Aku mah nggak peduli amat. Aku baru pertama kali nggak hadir kuliah ini. Tapi kalau tidak bayar denda, aku tidak bisa mengikuti kuliah ini lagi dan kuliah wajib.

“Matilah aku!” rutukku dalam hati.

Mahasiswa lain yang berada di ruangan terkutuk ini menatapku heran.  Salah satunya menghampiri kami.

“Sudahlah, bayar saja. Kami sudah biasa membayar denda ini berkali-kali,” ujarnya.

Berarti, peraturan ini… benar-benar ada?

Aku harap ini hanya mimpi.

Tak lama kemudian, Taemin, temanku yang sama naas denganku saat ini, mengajukan solusi kepada ku.

“Katanya kan bisa dicicil sampai besok. Ya sudah, kita masuk kelas aja diam-diam,”

Benar juga kata Taemin. Emang mereka nyatat nama aku? Dia tidak tau kalau aku sekretaris BEM bagian Kesejahteraan Mahasiswa? Bisa saja aku mengadukan hal korupsi ini ke Dekan. Aku tau ini bukan peraturan dari ‘Atas’. Ini hanya program mereka saja, buat mendapat Gaji-Dengan-Cepat.

Aku melangkah keluar bareng Jonghyun, hyungku yang setia, dan Taemin.

“Ingat, besok kau harus bayar denda kau ke sini!” ujar pegawai yang menggeledah flashdisk- ku tadi.

Baru aku teringat dengan flashdisk-ku. Aku kembali menatap Bapak-bapak yadong itu. Dia sedang memutar-mutar tali flashdisk ku yang digeledahnya tadi. Oh, dia lagi balas dendam kepadaku gara2 umpatan kau tadi. Padahal kan cuma dalam hati.

Aku hanya mendengus sebal.

————————————–

Kami pun berjalan masuk ke arah aula, tempat kuliah diadakan. Di fakultasku ini, para mahasiswa tidak belajar di kelas, Tapi belajar secara massal. Aneh juga.

5 menit berlalu.

Aku merasa ngantuk. Ngantuk yang tak tetahankan lagi. Bagaimana tidak? Tadi aku secara paksa dibangunkan oleh hyungku. Dan harus mengikuti prosedur gila dari pegawai-pegawai itu. Plus pelajaran yang boring seperti ini. Aku harus beristirahat. Toh, aku sudah mengisi absen kehadiranku. Aku menatap hyungku untuk terakhir kalinya sebelum aku tertidur. Dia terlihat serius mendengarkan ceramah ini.

Dan aku pun terlelap

“Bertahan satu Ciiiiiiiiiiiiiiiintaaaaaa”

“Bertahan sati Ce I En Te AAA”

Ponselku berdering, mampuslah aku. Aku lupa mengubah hape-ku ke modus silent. Dan, dering hape ini..Bisa-bisa martabatku jatuh!

“Haloo! Woy, Kibum! Kau tak ikut kuliah sekarang? Dah jam setengah empat nii. Bukannya kau mau mengurus surat dulu ke BEM sebelum kuliah?” ujar orang di seberangku dengan bertubi-tubi.

“HAH? Setengah empat? Bisa-bisa aku di denda kalau terlambat!”

“Denda apa pula yang kau maksud ini?” tanya temanku, Minho, yang menelpon ku.

“Wae? Kalau telat kan di denda?” tanyaku.

“Apa lah yang kau bilang ini. Cepat lah!” Dia memutuskan sambungannya.

PATS…!!!

Baru aku menyadari aku masih di kamar kosan ku. Aku melihat sekeliling.

Kamar kos?

Aku tertidur?

“Brarti tadi itu mimpi? Syukurlaaaah…!” Aku mengusap-ngusap dadaku. Bahagia. Tak lupa, Aku memanjatkan puji syukurku.  Lalu lompat-lompat ria di atas kasur.

“Uangku tak jadi lenyaaap!” teriakku girang.

Aku pun bersiap-siap menuju kampus. Walaupun sudah sore, tapi panas matahari tidak berkurang intensitasnya. Namun, tetap dibarengi dengan angin yang sepoi-sepoi. Pantas saja aku bisa terlelap.

———————————–

Di tengah perjalanan, aku merenung. Kenapa aku tidak terpikir kalau itu semua hanyalah mimpi?

Mulai dari berangkat kuliah. Bagaimana mungkin Jonghyun ikut ngampus denganku. Fakultas dia kan lagi mengadakan UAS. Mana kepikiran dia ke fakultas aku sore-sore begini. Boro-boro ikut kuliah.

Kedua, mana mungkin ada warung di jalan menuju kampusku?

Ketiga, mana mungkin satpam memarahi mahasiswa yang terlambat datang. Yang biasanya memarahi itu kan dosen.

Keempat, mana ada pegawai yang peduli dengan jam sore? Bukannya mereka sudah pulang?

Kelima, sejak kapan peraturan denda itu ada? Kalau mau bolos, bolos saja. Mau telat, telat saja sendiri. Terserah mau lulus atau tidak.

Keenam, mana ada yang namanya razia di kampus. Palingan pas ospek doang, itupun yang melakukannya senior. Dunia kampus kan sudah bebas (kata orang -.-)

Ketujuh, aku aja heran dengan suasana aula. Biasanya aulaku seperti tempat seminar. Tapi kenapa bentuknya seperti tribun-tribun tempat menonton bola basket?

Analisis mimpiku pun terhenti saat kakiku sampai di bawah naungan gerbang kampus. Suasana tetap sama dengan di mimpi, bedanya satpam lagi berdiam diri di Pos-nya. Dia sedang berkipas-kipas sambil mendengarkan radio bututnya. Dan aku hanya sendiri ke kampus, tidak dengan abangku.

Tak lama, aku pun disambut Minho dan Taemin dari arah depan.

“Mana suratnya?” tanya Minho. “Kita harus meminta stempel itu sekarang!”

“Hmm, belum aku print, Minho. Sorry…” kataku menggaruk-garuk kepala.

“Kamu ketiduran ya? Aish, deadline-nya besok. Bagaimana siih? Kalau begitu, mana flashdisknya?” tanyanya sambil menjulurkan tangannya ke arahku.

“Iya, ketiduran, dan mimpi buruk sekali,” jawabku dalam hati.

Flashdisk..flashdisk..flashdisk.

Mana flashdisk-ku?!  Kok nggak ada?!

Aku mengaduk-ngaduk isi tasku. Bagaimana ini? Nggak mungkin tinggal di kosan. Aku tidak membongkar-bongkar isi tasku sejak pagi.

“Nggak ada Minho.”

“Kau iniii!!! Aku juga tak menyimpan soft copy-nya. Coba kamu ingat-ingat dulu.”

Kibuuum, jangan panik..tenaang..tenaang…

Aku mulai berpikir. Otakku berusaha menyusun kronologi beberapa jam yang lalu.

Tadi dari sekre BEM, aku ke warnet, gara-gara komputer di sekre BEM rusak. Tiba di warnet, ternyata petugas warnetnya bilang kalau lampu lagi mati. Jadi tak mungkin ketinggalan di warnet. Trus aku kepikiran kalau satu-satunya tempat yang aku tau pakai genset adalah gedung dekanat. Aku kesana, dan mengedit surat itu.

“Berarti di gedung dekanat…!!!” ujarku.

Sebentar…

Dekanat?!

Tempat pesakitan ituu???

Aku pun menoleh ke arah gedung dekanat itu. Lalu beralih menatap Minho dan Taemin dengan tatapan sendu.

“Ke sana?” tanyaku tak percaya.

“Ya iyalah! Harus pula kutemani???” tanya Minho. Taemin yang berdiri di sebelahnya mengangguk-angguk semangat. Aku memutar bola mataku sebal. Mereka berdua memang tak terpisahkan, kecuali di mimpiku tadi.

Aku pun berbalik arah dan berjalan menuju Gedung Dekanat.

“KIBUUUUUM..!!!”

Aku mengedarkan pandanganku. Ada yang memanggilku dari…dari arah gedung dekanat?

Aku memfokuskan penglihatan ku…

Bapak-bapak itu…

Flashdisk ini punya kamu kaan???” ujarnya dengan memutar-mutar tali flashdisk-ku. Persis dengan adegan di mimpiku tadi. Bapak-bapak yang sama. Baju yang sama. Potongan rambut dan kumis yang sama. Jiwa yang sama. Yadong yang sama mungkin.

“Oh NOOOOOOOOOOOOO…..!!!!”

——————————————–The End———————————————

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

25 thoughts on “Shocking Nightmare”

  1. wahahahahaha..
    Ternyata mimpi.. Gila kalo ada denda macam begitu.. Wkwkwk..
    Yak! Jinki jadi ahjussi.. Hahaha.. Cucok dch..
    Keep writing!!

  2. agak bingung tuh bener mimpi apa nggak. kok bisa flashdisknya di bapak itu?
    tapi kok nggak ada yang di belas sih komen di atas?!!!

  3. Eh maap ya lagi sliwer nih! jadi ngepost dua kan. lagi sensi banyak yang nggak bales komen. ikut admin lagi ngambek….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s