Hunter atau…Tukang Palak??

Hunter atau…Tukang Palak??

 

Author             : Papillon Lynx aka Saika Kurosaki

Main Cast        : Lee Shin You (OC), Kim Yurra (OC), Choi Yoo Jin (OC)

Support Cast    : Lee Jinki (SHINee), Kim Jaejoong (TVXQ), Choi Minho (SHINee)

Genre              : Friendship, Humour, a bit Freak Romance, adu mulut *genre baru

Length             : Oneshoot

Rating              : General (siapa saja yang siap “menggila” boleh membaca ff ga puguh ini)

AN                   :

Dari dulu pengin banget saya bikin ff ga puguh gini. Tapi ngga kesampean mulu. Semoga kali ini bisa dapet feel humor nan hancurnya. Oh, iya. Mianh, kalo kurang lucu. Wkwkwk.. Tapi semoga bisa menggilakan readers semua. Oke, lanjuuuuttt!!

 

ALL POV IS AUTHOR’S POV

 

Pagi yang indah di kota Seoul. Pagi yang indah bagi beberapa orang yang memang benar-benar merasakan keindahan itu. Seperti, indahnya menghirup bau embun dan oksigen di pagi hari sambil merentangkan kedua tangan tinggi-tinggi ke atas di depan rumah, membaca koran dengan secangkir teh atau kopi yang nikmat atau bersiap-siap berangkat ke sekolah untuk menuntut ijazah—bukan ilmu—dengan semangat ’45 pejuang Indonesia yang konon katanya sangat tersohor itu—sekali lagi aku katakan, ‘katanya’.

Beberapa umat muslim yang menetap dan tinggal di sana pun mulai sibuk melakukan segala aktifitas setelah melakukan sholat Shubuh berjamaah dengan keluarga—bagi yang memiliki, dan munfarid—bagi yang sebatang kara hidup sendiri. Apalagi sekarang telah memasuki bulan Ramadhan, bulan puasa bagi para muslim untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan ke depan berturut-turut, kecuali bagi muslim perempuan yang sedang berhalangan pagar tetangga.

Namun sepertinya tidak seindah bagi beberapa orang—tepatnya siswa-siswa—sekolah menengah atas yang satu ini. SEKOLAH HUNTER. Bayangkan saja! Ya, khusus dan diperuntukkan hanya untuk hunter—keturunan hunter, entah itu hunter ayam, hunter motor, dst-dst . Entah apa tujuan atau visi-misinya pemerintah Korea Selatan mendirikan sekolah hunter seperti itu. Yang jelas, anggap saja dan percaya saja kalau sekolah yang sedang dikisahkan ini adalah sekolah hunter. Cukup bayangkan saja! ^^v

Kembali ke siswa-siswa yang tidak beruntung di pagi yang indah itu. Dan bagaikan bencana besar bagi mereka yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja karena mereka akan terancam menderita busung lapar sebentar lagi. Bagaimana tidak? Baru saja mereka melewati gerbang utama sekolah yang begitu megahnya itu—berhiaskan permata, emas dengan dilapisi cat yang konon katanya mahal, tapi aku bohong—tiga gadis cantik yang tak terkalahkan kecantikannya—jika dilihat dari Gurun Sahara—langsung menghadang mereka di pintu masuk gedung sekolah.

Tak ada yang tidak mengenal mereka. Kecantikan mereka sungguh tersohor dan begitu “luar binasanya”. Hingga siapapun yang melihat mereka pasti akan terserang ayan, gangguan percernaan, kejang-kejang dan kram mulut!! Mereka lah Lee Shin You, Kim Yurra dan Choi Yoo Jin yang biasa disebut sebagai TRIO PALAK! Dan pasti sudah bisa kalian duga, aktifitas sehari-hari mereka juga sama seperti siswa-siswa yang lain. Yaitu, menuntut ijazah dan sampingannya memalak teman-temannya. Apapun mereka palak. Uang, pernak-pernik yang dipakai temannya, makanan basi dan makanan sisa teman-temannya, mereka rebut dengan paksa. Seolah semuanya memang milik mereka.

Kalian pasti penasaran bagaimana cara mereka memalak teman-temannya, bukan? Begini,  pertama, meminta uang dari teman-temannya dengan cara baik-baik dan murah senyum, dan yang kedua dan terakhir adalah, jika teman-temannya itu enggan memberikan uang pada mereka maka mereka akan meminta uang dari teman-temannya dengan cara paksa sambil menodongkan pistol milik mereka yang konon katanya berisi peluru-peluru yang terbuat dari emas yang akan menembus tanpa ragu melewati otak mereka! Tapi harus diingat. Ini hanya ‘katanya’. Saya sendiri sih, juga tidak tahu.

Seperti yang sudah dijelaskan dan diceritakan di atas, TRIO PALAK benar-benar melancarkan aksinya pagi ini, seperti rutinitas mereka sebelumnya. Mereka tersenyum maniissss sekali, seperti cokelat kadaluwarsa milikmu yang telah kau simpan bertahun-tahun di dalam lemari pendingin, di rumahmu.

“Permisi. Maaf mengganggu waktu kalian sebentar.” Ucap salah satu dari ketiga anggota TRIO PALAK itu yang terlihat begitu anggun dengan penampilannya yang serba berwarna ungu. Sampai rambut panjangnya pun, ia warnai dengan warna ungu. Dia, yang bernama Lee Shin You.

Siswa-siswa yang sedang tidak beruntung tadi sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh TRIO PALAK pada mereka dan apa yang akan mereka alami sebentar lagi. KELAPARAN!! BUSUNG LAPAR! KEJANG-KEJANG!! AYAN! Dan mereka hanya bisa menundukkan kepala dengan tubuh yang bergetar ketakutan. Alhamdulillah, satu pun dari mereka tidak menunjukan adanya gejala ayan, kejang-kejang. Dsb. Hanya sepertinya kram mulut mulai melanda. Mendadak, mulut mereka terkatup sangat rapat seperti dilem.

“Bolehkah kami meminta kalian untuk menyerahkan uang kalian sekarang pada kami??” tanya Shin You dengan lembuuuut sekali selembut softener so klin sutra. Shin You memasang puppy eyesnya. Dan mengedip-kedipkan kedua matanya seperti ada ketep di sana.

 

Lee Shin You. Cantik, manis, sedikit genit, cerewet, maniak warna ungu dan sangat mencintai Choi Minho, kakak laki-laki Yoo Jin. Dia selalu galak dan tidak mengacuhkan namja lain, selain Minho. Bego olahraga, tidak seperti Minho yang ‘katanya’, olahraga apapun pasti namja itu bisa. Kalau bicara, suka bertele-tele. Ngelantur panjang-lebar-luas-keliling, terus habis itu dia lupa inti pembicaraannya apa. Shin You itu pelupa. Dan sering sekali mempermalukan dirinya sendiri, terlebih di depan Minho. Jadi, secara otomatis, namja itu ilfeel sama dia. Tapi, dengan segala cara dan usahanya, Shin You selalu ingin menjadi yeoja yang perfect untuk seorang Choi Minho. Dan keberuntungannya adalah, kakak laki-lakinya, Lee Jinki, adalah hyung terbaik bagi Minho. Walaupun Jinki dikenal dengan ke-garingannya, tapi Minho sangat menghormati Jinki. Namun tidak pada adiknya.

“Ka-ka-kami tidak punya u-uang le-lebih…” lirih salah satu dari mereka yang terbebas dari penderitaan kram mulut beberapa saat yang lalu. Ia tersendat karena takut.

“Heh! Kalo gitu kasihin aja duitnya. Ngga usah pake duit lebihnya, Dodol! Cepet! Ngga pake lama.” sentak Kim Yurra, anggota kedua dari TRIO PALAK, yang menyukai segala hal yang langsung pada intinya. To the point! Dia benci dengan yang namanya basa-basi. Kabar mencengangkan tentang Kim Yurra yang lain adalah, ia pernah kerasukan jin jahat—jin yang dikirim para siswa korban palakannya untuk balas dendam padanya—sehingga ia lupa dan kalap hingga pernah memakan makanan basi di rumah Yoo Jin—member ketiga TRIO PALAK. Dan yang terpenting, Yurra adalah tipe orang dengan tipologi 1. Tindakan adalah prioritas utamanya. Info lainnya: menyukai warna hijau dan merah dan akan langsung seperti orang kesetanan jika melihat kedua warna itu dalam waktu dan tempat yang sama secara bersamaan! Dan Kim Yurra memiliki seorang kakak laki-laki bernama Kim Jaejoong, yang sebenarnya adalah musuh bebuyutannya sejak kecil. Karena namja itu selalu usil padanya dan membuatnya marah.

“Ho’oh. Repot amat. Sini, kasih ke gue!” Timpal Yoo Jin. Choi Yoo Jin. Anggota TRIO PALAK termuda yang terobsesi dengan hal-hal berbau yaoinisme (?), tapi ‘katanya’ setelah mendapat ceramah panjang-lebar-luas-keliling dari Yurra, yeoja itu sudah mulai insyaf dari ‘kegilaannya’. Apalagi sekarang sedang bulan puasa. Ia benar-benar menekan rasa hausnya terhadap yaoinisme. Tapi tidak dengan memalak. Info lainnya tentang Choi Yoo Jin: satu, suka warna merah menyala ; dua, kadang bisa bersikap boyish, kadang bisa bersikap feminim (berkepribadian ganda) ; tiga, makannya banyak ; empat, sumber kebangkrutan kedua noonanya à Shin You dan Yurra ; lima, memiliki kakak laki-laki bernama Choi Minho yang tampan dan pintar berolahraga. Dan yang terpenting, kakaknya itu tidak tertular kegilaannya.

“Ma-ma-maaf.. Tapi, ka-kami benar-benar tidak pu-pu-pu-pu-pu-“

“Mau sampai kapan loe gagapnya, woy!?” potong Yoo Jin sambil maju selangkah dan menatap tajam siswa yeoja yang baru saja tergagap ria. “Gini aja, loe yang milih.” Yoo Jin merogoh dan mengambil sesuatu dari dalam saku rok seragamnya, yang terlihat aneh jika dipandang dari luar. “Loe pilih, kasih duit ke kita dengan cuma-cuma atau…” Yoo Jin menodongkan pistolnya di dahi yeoja itu dengan seringaian liciknya, membuat Shin You dan Yurra tersenyum tipis melihatnya. Yoo Jin memang magnae mereka, tapi justru lebih ganas dan agresif dibanding mereka. Dan terkenal memiliki kepiawaian menggunakan pistol air apapun. Para siswa itu pun semakin bergidik ngeri di tempat. Tubuh mereka menegang. “Atau.. Loe-loe pada beli bakwan sama lontong buatan emak gue?”

Tik tok tik tok tik tok!

Krik krik krik krik… (Bunyi jangkrik pekarangan kosong sebelah sekolah sampai terdengar saking sunyinya)

Hening. Dan semua orang yang ada di tempat itu, tak terkecuali Shin You dan Yurra, menatap Yoo Jin dengan mulut menganga se-menganga-nya (?).

Nguuung.. Nguuung…

Masih dengan bibir ‘sueksi’-nya yang terbuka lebar, Yurra reflek menepuk jidatnya yang baru saja dihinggapi nyamuk yang tergoda dengan bau darahnya yang segar (?).

“O-oke deh. Kalo gitu, beli bakwan sama lontong dagangan kamu aja. Iya ngga, Temen-temen?” kata yeoja tadi yang sedikit sembuh dari penyakit gagapnya dan bertanya pada teman-teman senasib-sepenanggungan dengannya, yang ada di belakangnya. Mereka yang dimintai pendapat langsung mengangguk cepat layaknya boneka plastik berbentuk kucing yang biasa nangkring di toko-toko orang cina sambil angguk-angguk dan dadah-dadah itu.

Senyum selebar-lebarnya langsung terukir di bibir Yoo Jin. Yoo Jin menatap pelanggan-pelanggan baru dagangan emaknya dengan tatapan berbinar. Langsung saja ia memasukkan pistolnya ke dalam tas dan mengambil dagangan emaknya—yang sudah diamanatkan padanya oleh emaknya untuk segera dijual di sekolah—yang langsung diserbu hingga habis tak bersisa oleh siswa-siswa yang kembali mendapatkan kemujuran di hari itu. Yoo Jin menerima uang bayaran hasil dagangannya dengan bangga dan sedikit pongah.

“Ah, kamu ngga asyik, ah.. Licik banget caranya cari duit. Kok bisa sih kamu malah banting setir dari tukang palak jadi tukang bakwan sama lontong?” sungut Yurra setelah siswa-siswa itu pergi dan hanya menyisakan mereka bertiga. Yoo Jin terkekeh geli, lalu memasukkan semua uangnya ke dalam bajunya seperti embok-embok jamu yang suka di pasar atau jualan ke rumah-rumah.

“Iya, nih. Bagi-bagi dong uangnya. Masa mau kamu embat sendiri? Bahil (pelit) amat.” Cibir Shin You sambil berusaha merebut uang-uang Yoo Jin, namun gagal.

“Insyaf, Noona. Bulan puasa, nih. Cari pahala, cari rezeki yang halal. Hehe.. Ayo, kreatif donk kaya aku.” jawab Yoo Jin sambil melengos pergi, meninggalkan kedua noonanya yang semakin heran padanya.

***

Noona, loe mimisan!!” seru Yoo Jin saat melihat Shin You, kakak seperguruannya dalam TRIO PALAK, meneteskan cairan merah pekat itu dari kedua lubang hidungnya. Yoo Jin kaget. Bagaimana tidak? Ia yang sedang memakan bakwan yang hari ini ia bawa sebagai bekal makan di sekolah dengan tenang dan lahapnya, tiba-tiba hampir tersedak melihat Shin You bisa seperti itu. Namun Shin You yang mengalami tragedi seperti itu malah senyum-senyum tidak jelas dan terus menatap ke satu arah. Menatap seorang namja yang terlihat begitu berkarisma di matanya.

“Ya amploooppp.. Tuh, oppa kamu cakep banget ya? Kereeen…!! Lihat senyumnya. Aduh, bikin aku lumer. Ah, tidaaakk..” cerocos Shin You lebay. Mau tak mau membuat Yoo Jin mengikuti arah pandang Shin You dan merasa kesal sampai gemas dan menggigit kotak bekal di tangannya—bukan bakwannya.

“Tembak aja. Dari dulu dianggurin mulu, entar keburu digaet cewek lain lho, Noona.” Saran Yoo Jin setelah meredam rasa kekesalannya pada Shin You.

“Oke!” Shin You bangkit berdiri.

SRET!

CEKREK!

Shin You mengambil senapan panjang milinya dari dalam tas ungunya dan langsung membidik Minho yang berada beberapa meter di depannya, yang tengah bersemangat berlatih melakukan lompat tinggi di sana. Seorang hunter juga memerlukan kemampuan melompat yang baik dan saat ini kelas Minho sedang diajarkan pelajaran itu.

Yoo Jin hampir saja tersedak kotak bekalnya begitu kedua matanya mendapati Shin You yang dengan polosnya—atau memang bodoh—tengah membidik Minho, kakak cinta pertama dan terakhir dalam hidup Yoo Jin, dan kini Shin You sedang bersiap-siap akan menarik pelatuknya.

Ya! Noona!! KAU SETENGAH WARAS, HUH?!” pekik Yoo Jin tepat di telinga kiri Shin You membuat Shin You kaget dan terlanjur menembakkan pelurunya.

DORR!!!

Oppaaaaaaa….!!” teriak Yoo Jin dramatis dengan gaya slow motionnya di udara.

 

“Lagi pada ngapain sih?? Heboh amat??”

Yoo Jin yang sedang berteriak dan hendak berlari dengan gaya slow motionnya, seperti kaset VCD yang baru saja dipause, langsung terhenti begitu saja sambil menengok ke samping kanannya.

1 detik… 2 detik… 3 detik…

Krik krik..

GABRUK!

Barulah Yoo Jin mendarat dengan mulus dan mencium tanah lapangan olahraga itu. Shin You terkekeh melihatnya.

“Minho Oppa, bagaimana bisa kau ada di sini? Apa kau ingin menemuiku?” tanya Shin You sambil memasang wajah semanis mungkin di depan Minho yang kini berdiri di hadapannya. Shin You merangkul lengan Minho manja.

“Eh? Bukan mahram, tahu!” Minho mengernyitkan alisnya. Lalu melepaskan tangan Shin You dari lengannya. “Aku cuma mau lewat aja, kok. Ge-er!” Jawab Minho enteng sambil berjalan melewati Shin You dengan tampang polosnya yang membuat Shin You syok dan terpaku di tempat. Wajah Shin You memerah padam.

“HAHAHAHAHA!!!” tawa Yoo Jin yang menjadi saksi kekonyolan Shin You, membuat Shin You mengepalkan tangannya dan berpura-pura meninjunya dengan wajah kesal setengah hidup. “Lagian Noona telmi, sih. Disuruh nembak bukan pake senjata, tahu! Tapi pake pernyataan cinta. Ya ampuuunn, malu banget pasti ya? HAHAHAHA!!” tawa Yoo Jin lagi yang hampir menangis saking bahagia nan sejahteranya.

“Kamu yang baka (bodoh). Emangnya ini di film laga Indos**r yang banyak adegan dramatis pake slow motion kaya kamu tadi apa?? Eh, itu tadi kotak bekal makannya beneran udah ketelen semua? Wah, daebak!” jawab Shin You polos.

MWO??!! Uhuk.. Uhuk..” Barulah Yoo Jin sadar kalau ia baru saja menelan kotak bekalnya sendiri dan berusaha memuntahkannya sebelum ia kesulitan buang air besar nanti. Eh, bukan! Bukan ia yang kesulitan. Tapi ia takut klosetnya jadi mampet!

***

“KIM YURRAAAA!!! I LUPH YOUUUU!!!” teriak sebuah suara merdu seorang namja di ujung koridor kelas tahun ketiga, membuat Yurra yang baru saja hendak masuk ke dalam kelasnya, langsung terpaku di ambang pintu kelas. Yurra menatap namja yang kini mendekat ke arahnya dengan tatapan bingung. Namja itu justru membalas tatapan bingungnya dengan senyum selebar-lebarnya.

“Panjenengan niku sinten, nggih (Kamu itu siapa, ya)?” tanya Yurra dengan basa Jawa alus dan dialeknya yang terdengar kental dan luar binasa di telinga Jinki. Namun apapun Yurra, Jinki tetap mengagumi dan mencintai yeoja itu sampai setengah sekarat!

Namja itu, Jinki, langsung tertohok hatinya. Dia, salah satu namja populer di sekolah, yang memiliki prestasi akademik yang sangat tinggi, bisa sampai tidak dikenal oleh Kim Yurra? Mengenaskan! Atau.. Penghinaan??

“Ini aku. Pangeran berkuda ponimu. Lee Jinki.” Kata Jinki sambil mengibaskan poninya ke kanan dan ke kiri, membuat kepala Yurra ikut bergerak ke kanan dan ke kiri karenanya. “Aku adalah calon ayah dari anak-anakmu.” Jawab Jinki sambil memperkenalkan dirinya. Yurra mendengus. Sinting! Batinnya.

“Ngga nafsu sama kuda ponimu. Lagian, ini jaman apaan sih mesti naik kuda? Andong(delman) gitu? Ih, ngga level! Gue pakainya limmossine. Terus juga, kuda poni ‘kan cebol. Aku sukanya Pegasus!” cibir Yurra sambil melengos dan masuk ke dalam kelasnya. Jinki sedikit kecewa mendengar tanggapan Yurra, namun tetap mengekor gadis itu seperti seekor anak anjing yang kelaparan. Baginya, Yurra itu jinak-jinak burung merpati. Kalau mau didekati harus hati-hati. Karena gadis kaya gitu sukanya main tarik-ulur tambang.

“Kalo gitu, sama pemilik kudanya nafsu ngga??” ledek Jinki sambil duduk di samping Yurra dan tersenyum nakal. Yurra bergidik ngeri.

“Idiiih… Ternyata kamu yadong ya? Ilfeel deh jadinya. Eh, awas! Jangan deket-deket! Bukan mahram!” Jawab Yurra tak acuh sambil mengeluarkan buku-buku dalam tasnya dan memperbesar jarak dengan Jinki yang menatapnya bingung.

“Lho, Eonni, Jinki Oppa, kok kalian bisa duduk berdua?” tanya Shin You yang baru masuk ke kelas dan melihat kebersamaan Yurra dengan oppanya.

Oppa?? Kamu kenal sama namja yadong ini?” tanya Yurra. Shin You mengangguk.

“Lah?? Jinki Oppa kan kakakku.” Jawab Shin You polos. Yurra kaget, namun tak lama langsung  berdecak malas.

“Pantes aja sama yadongnya. Heh, aku kasih tahu ya sama kamu. Adikmu itu kalo udah lihat Minho, Choi Minho, murid kelas tahun ketiga yang katanya ganteng banget itu, pasti langsung mimisan, kalo engga, pasti dia kejang-kejang kaya orang yang sakit ayan.” Terang Yurra sambil menunjuk-nunjuk Jinki dengan ujung pensilnya yang runcing.

“Benarkah??” Jinki justru terlihat antusias, bukannya heran. Yurra mengernyit, merasa konyol telah menceritakan hal itu pada Jinki. Toh, Jinki sekarang malah sedang menyalami adiknya dan tertawa bangga. “Teruskan, Saeng! Oppa bangga padamu! Cinta memang harus diperjuangkan! Oppa akan membantumu.” Lanjut Jinki sambil menepuk-nepuk punggung Shin You membuat yeoja itu terbatuk-batuk.

Arrasseo. Sekarang Oppa balik ke kelas, sono! Udah mau bel nih. Nanti Oppa ketahuan Saem, terus dimarahin, terus disuruh berdiri di depan kelas, disuruh nyanyi, dipermaluin, nanti gimana sama prestasi Oppa coba?? Nanti Oppa malu, aku juga, Eomma-Appa juga. Semuanya. Terus nanti Yurra Eonni juga ngga mau deket-deket sama Oppa….”

 

Yurra yang dari tadi hanya menjadi pendengar, makin lama kupingnya mulai panas karena mendengar ocehan Shin You yang tidak penting dan bertele-tele.

“Terus, terus, nanti Oppa—“

 

“Ya! Lee Shin You! Kamu nyerocos terus, kapan namja sinting ini balik ke kelasnya, huh?!” omel Yurra, seperti biasa, to the point. Sontak Shin You dan Jinki diam dan menatapnya.

“Hehehe.. Oh iya ya.. Ya udah, jadi tadi intinya aku mau ngomong apa ya?” ENEG! YURRA ENEG SAMA SHIN YOU! Ngomong sendiri, lupa sendiri intinya. Jinki yang menyadari perubahan ekspresi wajah Yurra yang seperti sedang menahan sesuatu di perutnya—mau BAB kali—langsung minggat kocar-kacir dari kelas itu.

“Sinting semua!” gumam Yurra kesal.

***

Hari ini adalah hari dimana Yoo Jin mendapat giliran bermain ke rumah Yurra. Setiap hari dalam seminggu, Shin You dan Yoo Jin memang bergantian berkunjung ke rumah Yurra. Untuk apa? Tak ada alasan khusus. Cuma main aja. Ngobrol, baca komik, main monopoli, atau yang terpenting bagi Yoo Jin itu bisa memandangi sosok Jaejoong, kakak Yurra, dengan bebas, selama yang dia inginkan, tanpa ada yang bisa menginterupsi, dan yang pasti sampai ngiler juga dia bakal i don’t care.

 

Noona!!” seru Yoo Jin yang tidak tahu sopan-santun langsung masuk ke dalam kamar Yurra tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Ya! Ketuk dulu, bisa ngga sih?” omel Yurra yang kaget karena merasa terusik dengan kegiatannya yang sedang berganti pakaian.

“Ah, whatever lah. Lagian sama-sama cewek, inih.” Gamblang Yoo Jin sambil meloncat ke atas kasur Yurra. Yurra mendengus dan duduk di kursi di depan meja belajarnya, lalu sibuk menyalin sesuatu. Yoo Jin yang merasa penasaran lalu mendekat dan mengintip dari balik punggung Yurra, tanpa sepengetahuan Yurra.

“Hei, nyontek peernya Shin You Noona lagi, ya?” bisik Yoo Jin tepat di telinga Yurra yang membuat Yurra terlonjak di tempat.

Ya!! Kau mengagetkanku!” marah Yurra lagi.

“Oh, ayolah, Noona. Berhentilah menggerutu dan berteriak di depanku.” Yoo Jin ikut kesal.

TOK TOK!

Pintu kamar Yurra yang memang tidak ditutup saat Yoo Jin datang tadi, diketuk oleh sesosok namja yang langsung membuat Yoo Jin hampir saja oleng, menjatuhi Yurra yang duduk di sampingnya. Yurra dengan sigap langsung menahan Yoo Jin dari samping dengan kedua tangannya.

Aiish! Gitu aja teler..” ejek Yurra sambil mendorong tubuh Yoo Jin hingga bisa berdiri tegak seperti semula.

Yoo Jin terperangah. Takjub. Terpukau. Terkesima. Ter.. Ter.. Ter.. lainnya. Di hadapannya, seperti waktu yang bergulir lambar, Jaejoong melangkah mendekat dengan senyuman mautnya yang bisa menghantarkan Yoo Jin ke liang lahat, yang membuat Yoo Jin kembali meneteskan air liurnya tanpa dengan  sadar.

Jaejoong, namja terkeren, terganteng, menurutnya, kini dengan balutan kaos lengan panjang berwarna abu-abu, yang pada bagian dadanya tampak sedikit terbuka, menunjukkan betapa kerennya dada bidang miliknya di mata Yoo Jin. Namja itu memakai celana panjang yang kedodoran dengan sandal rumahan yang membuatnya tanpak manis dan lucu.

“Mau apa?” tanya Yurra, seperti biasa, to the point, dan kali ini dengan sewot.

“Kamu dipanggil Eomma, tuh. Katanya suruh ambil cemilan sama minum buat Yoo Jin. Kasihan Yoo Jin, selalu menjadi tamu yang terabaikan.” Kata Jaejoong, menyindir Yurra, namun dengan senyum manis yang ia tujukan pada Yoo Jin. Jujur saja, Jaejoong juga memiliki rasa pada Yoo Jin. Hanya saja ia tidak tahu kalau Yoo Jin juga menyukainya. Bukan suka lagi, maniak malah!

Ne. Aku mau menyelesaikan ini dulu.” Jawab Yurra terpaksa kalem. Melihat Yurra yang sibuk, Jaejoong mulai merasa penasaran dan melihat apa yang tengah disalin oleh adiknya itu.

Ya! Kamu nyontek ya?? Ih, ngga banget. Ngga bagus ditiru.” Cibir Jaejoong sambil menoyor kepala Yurra dari samping. Yurra menoleh dan menatap Jaejoong tajam.

Waeyo? Rese!” kesal Yurra sambil kembali fokus pada pekerjaannya.

“Otak kamu buat apa kalo ngga dipake buat mikir, hm?” cibir Jaejoong lagi. Kali ini sambil berkacak pinggang. Namun Yurra memilih diam. Jaejoong mendengus karena tidak diacuhkan. “Kamu kalo nyontek ngga pernah mikir dulu ya??” kata Jaejoong, mencoba menarik perhatian Yurra—menyulut emosi Yurra, lagi. Sedangkan Yoo Jin hanya mematung dan memperhatikan kedua makhluk setengah manusia itu dengan tampang blo’on. Namun ia tetap mempertahankan keterpukauannya pada Jaejoong. Bahkan menurutnya, Jaejoong lebih terlihat keren saat sedang memarahi Yurra. Ingat! Hanya Yurra!

Yurra yang mendengar pertanyaan konyol Jaejoong, hanya bisa menggeram tertahan, sampai Yoo Jin tersentak melihat pensil yang ada di tangan Yurra yang kini patah menjadi dua bagian.

Oppa tahu ngga sih apa definisi dari menyontek itu?? Menyontek itu menyalin. Atau menduplikasi sesuatu yang persis sama. Artinya, ngga perlu mikir dulu kalau mau nyontek.” Kesal Yurra. Jaejoong diam. Tapi ia tak kehabisan akal untuk menganggu Yurra.

“Lho? Kok kamu ikutan sewot? Marah?” tanya Jaejoong. Pertengkaran memanas. Yoo Jin yang menyadari situasi itu langsung turun ke bawah, mengambil camilan untuknya yang seharusnya diambil oleh Yurra dan membawanya ke atas, kembali ke kamar Yurra, untuk bekal menonton drama yang dimainkan oleh Jaejoong dan Yurra yang masih setia beradu mulut.

Yurra bangkit berdiri dan kini kakak-beradik itu sudah berdiri berhadap-hadapan sambil menatap kedua mata lawan bicaranya dalam-dalam sedalam sumur. Tajam-tajam setajam sembilu.

“Ya jelas aku marah. Karena Oppa itu nyebelin! Rese! Usil! Apapun yang aku lakuin pasti dikomentarin.” Jawab Yurra tak mau kalah.

“Terus, Noona! Terus! Jangan mau kalah.” Yoo Jin justru memprovokasi. Jaejoong yang merasa iri karena yeoja yang disukainya justru membela Yurra, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perang.

“Tuh kan, kamu marah. Kamu terima aja kalau aku lagi marah atau usil sama kamu! Ngga perlu protes. Ngga perlu tanya. Ngga perlu bales marah!” balas Jaejoong.

“Ayo Jaejoong Oppa, lanjutkan! Jangan mau kalah sama Yurra Noona!” seru Yoo Jin yang kini menjadi pengkhianat di mata Yurra. Yoo Jin hanya terkekeh sambil mengunyah cemilannya bak menonton film di bioskop.

“Iya! Tapi marah kan ada sebabnya!”

“Ya ngga perlu pake sebab atau alasan kalo udah marah sama kamu!”

“Lho? Kok gitu?? Jelas aku ngga terima!”

“Kan udah aku bilang, terima aja! Kapanpun aku marah, kamu terima aja!”

“Tapi harus ada alasannya!!”

“Ngga perlu pake alasan, aku bilang!!”

Yoo Jin tertawa terpingkal-pingkal melihat Yurra dan Jaejoong yang mulai adu kekuatan. Yurra menarik kaos yang dipakai Jaejoong, sedangkan Jaejoong mengacak-acak ikatan rambut Yurra dengan kasar. Seperti anak kecil.

“HAHAHAHAHAHHA!!” tawa Yoo Jin menggelegar di siang hari yang bolong itu.

“Dasar namja aneh, siang-siang dandanannya kaya mau tidur!” cibir Yurra.

“Eh? Terserah aku dong! Kamu itu, tukang nyontek!! Memalukan!”

Dan berlanjutlah pertengkaran heboh ala drama di tivi-tivi itu karena tidak ada seorang pun yang mau melerai. Tapi justru hanya ada satu orang yang justru terus-terusan memprovokasi mereka. Dia.. Choi Yoo Jin. The Evil Magnae of TRIO PALAK.

***

Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan juga berlalu. TRIO PALAK masih berkuasa dengan aksi malak-memalaknya, yang sejujurnya tidak diketahui sama sekali oleh ketiga kakak laki-lakinya. Entah mereka yang memang terlalu percaya pada adik-adiknya, masa bodoh dengan desas-desus yang terdengar, atau memang sama sekali tidak pernah mendengar berita tersebut karena TRIO PALAK sendiri melarang dengan keras para korbannya untuk mengumbar cerita tentang mereka. Jadi, sebenarnya TRIO PALAK tak seterkenal itu karena kakak-kakaknya saja tidak tahu tentang aksi penindasan mereka terhadap para siswa.

Dan ini adalah akhir dari semester kedua. Setiap kelas, dari kelas tahun pertama sampai tahun ketiga, akan mendapatkan tugas untuk menjadi hunter dengan misi tertentu guna naik ke kelas berikutnya. Setiap misi dibagi menjadi misi kelompok yang terdiri dari tiga orang siswa dari tingkatan kelas yang sama, yang dipilih secara acak. Dan entah keberuntungan atau kesialan bagi Kim Yurra, karena TRIO PALAK bergabung menjadi satu tim. Mereka hanya perlu melepaskan predikat “tukang palak” mereka selama menjalankan dan menyelesaikan misi mereka untuk naik ke kelas tahun ketiga dengan amat sangat sukses!

Sedangkan kakak-kakak mereka, kebetulan juga disatukan dalam satu tim, walaupun Jaejoong berada di kelas teratas—tahun keempat—tapi, ia memiliki hak khusus untuk memilih timnya sendiri karena hampir semua guru sudah sangat percaya pada kemampuannya sebagai hunter. Jadi, ya.. Benar. Kim Jaejoong memang diistimewakan dan sedikit di-anak-emas-kan. Itu juga yang membuat Yurra dongkol, karena, walaupun dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengan Kim Jaejoong, tetap saja, ia tidak pernah diistimewakan oleh para guru. So poor… Jujur saja, Yurra tidak terlalu percaya pada kemampuan Yoo Jin dan Shin You. Sifat Yurra yang penuh dengan ambisi untuk mendapatkan sesuatu muncul lagi di saat-saat seperti ini.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua tim sudah mendapatkan amplop berisi surat yang bertuliskan apa misi mereka dan kemana mereka harus pergi. Setiap tim pun mendapat fasilitas masing-masing tim yaitu 1 mobil sport demi kelancaran misi mereka. TRIO PALAK yang diketuai oleh Yurra—karena Yurra sendiri yang ingin dan memaksa menjadi ketua tim—langsung melesat ke tempat tujuan. Sedangkan Shin You dan Yoo Jin terima-terima saja apa yang diinginkan oleh Yurra tanpa banyak komentar. Mereka memang sudah sangat mengenal dan tahu dengan jelas bagaimana tabiat yeoja penuh ambisi itu.

Namun betapa terkejutnya TRIO PALAK saat mereka sampai di tempat tujuan dan melihat ketiga kakak mereka telah terikat dengan tali dalam posisi duduk melingkar di atas kursi masing-masing. Mulut mereka pun tertutup rapat dengan plester hitam membuat mereka tak bisa berkata dan berteriak dengan jelas.

Oppa!!” pekik Shin You pada Minho, namun yang menoleh justru Jinki, sang kakak. Jinki langsung menggerak-gerakkan badannya yang terikat dengan gelisah, memberkan isyarat pada Shin You dan teman-temannya untuk segera membantu mereka. Shin You dan Yoo Jin hendak berlari mendekat, namun Yurra langsung menahan lengan mereka.

“Ini jebakan.” Desis Yurra di telinga Shin You dan Yoo Jin bersamaan. Shin You dan Yoo Jin terkejut lalu tercenung. “Pihak sekolah telah mengatur ini semua. Pihak sekolah sengaja menyatukan kita bertiga ke dalam tim yang sama. Begitu juga dengan mereka.” Kata Yurra lirih sambil mengedikkan dagunya ke arah Jaejoong, Minho dan Jinki. Bisa juga disebut dengan Trio JiEmJi.

“Kau bodoh, Noona. Kalau itu kami juga sudah tahu, kali.” Jawab Yoo Jin polos.

PLETAK!

“Aku belum selesai bicara.” Protes Yurra setelah menjitak kepala Yoo Jin. Yoo Jin meringis kesakitan.

“Tapi tadi kau berhenti bicara.” Kata Shin You membela Yoo Jin, membuat Yurra semakin emosi.

Aiish!! YA! Bukan itu maksudku. Lupakan! Intinya, kita harus waspada sebelum kita menolong mereka. Pihak sekolah tahu kalau kita akan langsung menolong mereka begitu kita melihat mereka dalam keadaan diikat seperti itu. Makanya, berhati-hati saja.” Yurra sebagai ketua memberikan nasihat dan saran pada kedua anggotanya. “Siapakan senjata kalian. Dan pastikan headset chip yang menempel di telinga kalian itu aktif.” Titah Yurra sambil menjauh dari kedua temannya sambil menunduk dan berkata lirih kepada teman-temannya melalui chip suara yang terpasang di kerah seragam sekolahnya. Shin You dan Yoo Jin mengikuti perintahnya dan mulai menyiapkan senjata mereka. Yoo Jin mulai menyiapkan obat bius dan bom asap di balik jaketnya, Sedangkan Shin You langsung menarik pisau daging lipat yang diselipkan di balik punggungnya dan memegangnya kuat-kuat agar dalam situasi apapun yang terjadi nanti, pisau itu tidak akan terlepas dari tangannya.

Shin You mendekat ke arah Minho perlahan-lahan. Membuat Jinki kesal dan ingin protes karena yeoja itu tak menolong kakaknya terlebih dahulu. Yurra dan Yoo Jin mengawasi Shin You dari belakang sambil memperhatikan ke sekeliling mereka yang terdiri dari tembok yang lusuh dan mulai retak dimana-mana. Namun masih cukup kokoh untuk tidak ambruk dan membunuh mereka berenam.

Perlahan-lahan… Namun pasti…

Dan.. Ya!

AMAN.

Shin You langsung memotong ikatan di sekitar tubuh Minho dengan pisau lipatnya dan melepas plester hitam di mulut namja itu dengan secepat kilat, yang tentunya membuat Minho takjub dan tak lagi memandang Shin You dengan belakang sebelah mata. Minho tersenyum.

Gomawo!” kata Minho dengan senyuman manisnya membuat Shin You terlena sesaat. Namun saat Shin You hendak akan melepas ikatan Jinki, Jinki dan Jaejoong sontak bangkit secepat kilat dan menodongkan pistol ke arah Yurra dan Yoo Jin!! Shin You tergeragap kaget namun kedua tangannya telah dikunci oleh satu tangan Minho, membuat Shin You tak dapat berkutik.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” sentak Yurra pada Jinki, namja yadong dalam ingatannya.

“Kami bertiga hanya berusaha menjalankan misi kami. Benar bukan, Jaejoong Hyung?” kata Jinki sambil terkekeh.

Oppa, apa maksudnya?” tanya Shin You lirih, yang tentunya masih dalam tawanan Minho.

“Kalian ingin tahu? Awalnya kami juga kaget begitu melihat kalian bertiga lah yang datang ke sini. Yang itu artinya, tiga oang perempuan yang dikenal dengan nama TRIO PALAK adalah kalian dan kalian adalah target kita dalam misi kali ini.” Jelas Jaejoong, menggantikan Jinki untuk menjawab pertanyaan Shin You. Yoo Jin tersentak.

“Tapi, bagaimana bisa??” racau Yoo Jin. “Kita satu sekolah. Kita kakak-beradik kandung, kenapa kita harus saling memburu seperti ini??”

“Ya. Itu memang menjadi pertanyaan yang melintas di benak kita saat ini. Hajiman, jika memang benar kalian adalah TRIO PALAK yang telah merugikan banyak murid di sekolah, itu artinya kami bertiga memang harus memburu kalian dan menyerahkan kalian ke kantor polisi.” Ucap Minho setengah sedih, setengah bingung, setengah senang karena ia yakin misi kali ini mereka lah yang akan menang.

“Sial! Kita benar-benar telah masuk perangkap! Seharusnya kita bisa mengira kalau saudara sendiri pun bisa menjadi musuh!” kesal Yurra sambil menjambak rambutnya.

“Sudahlah, ini akan mengasyikkan. Mari kita bertarung. Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama dan terakhir kita bertarung melawan saudara kandung kita sendiri.” Kata Jaejoong sambil menyeringai ke arah Yurra.

“Oke. Mungkin akan lebih mengasyikkan daripada beradu mulut saja di rumah!” Dan detik itu juga Yurra langsung mengangguk ke arah Yoo Jin—memberikan isyarat—untuk ikut mengambil tindakan bersamanya. Dan Yurra langsung berlari secepat yang ia bisa ke arah Jaejoong, kakaknya. Yurra mengepalkan tangannya dan bersiap melepas tinjunya ke wajah Jaejoong namun Jaejoong berhasil menghindar dan menangkap tangan Yurra saat itu juga.

Sedangkan Yoo Jin, ia langsung berlari menghampiri Minho dan Shin You dengan santai. Tidak seperti Yurra. Minho, Jinki dan Shin You hanya melongo melihatnya.

“Kau tidak berlari juga seperti Yurra?” tanya Minho polos. Pertanyaan dengan nada biasa layaknya seorang kakak pada adiknya. Bukan seperti pada musuhnya.

“Sudahlah, buat apa lari-lari begitu? Buang-buang tenaga saja. Ini kan hanya permainan. Lagipula aku tidak ingin menyakiti saudaraku sendiri.” Jawab Yoo Jin sambil tersenyum tulus pada Minho. Minho tersentak, dan jadi merasa terharu. “Keundae…

SROT! SROT! SROT!

“… Aku juga ingin memenangkan misi ini, Oppa!” lanjut Yoo Jin cepat.

“AUUUWWW!! PERIH!” Minho mengeluh kesakitan dan menutup kedua matanya yang terasa perih karena tanpa diduganya Yoo Jin malah menyemprotkan gas air mata padanya. Detik itu juga, Minho melepaskan Shin You dari tangannya dan Yoo Jin langsung membekap Minho dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Minho pingsan. Dan saat Jinki akan menembak Yoo Jin, Shin You justru menghalangi sehingga peluru itu menancap tepat di dada Shin You.

DORR!!

Bruk!

Shin You terjatuh ke tanah sesaat setelah peluru itu mengenai dadanya dan muncul cairan merah pekat dari sana. Jinki mendelik kaget begitu melihat Shin You yang menjadi sasaran pelurunya. Mata Shin You mulai terpejam rapat.

“SHIN YOU!!” Jinki langsung membuang pistolnya dan langsung mendekap tubuh Shin You yang tak berdaya. Jinki menangis tersedu-sedu di sana.

As usual, kau memang sangtae, Oppa..”

CEKREK!

Shin You bangun dan langsung menodongkan pistol ke pelipis Jinki. Jinki terkesiap.

“Shin You-ah..” gumam Jinki tak percaya. “Kau..”

“Aku juga ingin menang, Oppa. Sama seperti Yoo Jin dan Yurra. Dan sepertinya, kau belum mengenal dengan baik yeodongsaengmu ini.” Shin You terkekeh. “Oke, akui kalau kau kalah, dan aku tidak akan benar-benar menembakmu.”

Jinki mendengus kesal. Terutama saat menyadari kalau cairan merah pekat tadi hanyalah darah buatan, alias saos tomat busuk yang baunya sangat amis, hampir menyerupai bau darah, ‘katanya’.

Arrasseo. Aku kalah.”

Sedangkan di tempat lain. Tangan Yurra masih terkunci oleh tangan Jaejoong. Yurra meringis menahan sakit.

“Kau benar-benar menyakitiku, Oppa!” protes Yurra.

“Ini pertarungan. Tentu saja aku akan melakukannya, meskipun dengan adikku sendiri.” Jaejoong terkekeh. Yurra meronta namun percuma.

“Kau.. Kenapa kau selalu membuatku kesal dan marah, huh??”

“Karena kau mengesalkan!”

“Tapi kenapa?? Aku bahkan tak pernah lebih dulu menganggumu. Selalu Oppa yang pertama kali mengangguku.”

“Marah ya marah. Itu intinya. Jadi jangan banyak protes.”

“Tapi marah harus ada sebabnya!”

“Tidak perlu ada sebabnya kalau marah sama kamu!”

“Aku tidak terima!”

“Apalagi aku!”

“Kau menyebalkan!”

“Apalagi kau!”

Kakak-beradik itu kembali pada kebiasaan mereka. Bukannya bertarung, malah beradu mulut seperti biasa. Hal itu menarik perhatian keempat manusia lainnya tanpa Jaejoong dan Yurra sadari. Jinki, Shin You, Minho, Yoo Jin, hanya mematung menonton mereka.

“BAIKLAH! Aku akan mengadukanmu pada Eomma dan Appa!” ancam Yurra yang masih belum bisa berkutik karena satu tangan Jaejoong masih mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat.

“Dasar tukang ngadu!”

“Biarin!”

Ya! Kau menyebalkan!!”

“SUDAHLAH, HYUNG!!”

Sontak Jaejoong dan Yurra menolehkan kepala mereka dan terkejut begitu melihat keempat manusia itu justru sedang mengadakan piknik bersama. Lengkap dengan tikar bermotif kotak-kotak merah dan putih, keranjang makanan, buah-buahan, dan juga juice. Dengan tampang tak berdosa, mereka melahap makanan yang ada di tangan mereka sambil memperhatikan Yurra dan Jaejoong yang juga memperhatikan mereka dengan sangat SHOCK! Apa?? Coba ulangi. SHOCK!!!!

“Sudahlah Hyung, sini. Kita piknik saja. Bertengkarnya dilanjutkan di rumah saja.” Kata Minho yang sudah sadar dari pingsannya sejak lama.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN? KITA SEMUA SEDANG DALAM TUGAS MENJALANKAN MISI!!” kata Jaejoong masih bersikap waras.

“Kami sudah kalah. Shin You dan Yoo Jin sudah menaklukan kami.” Jawab Jinki dengan mulut yang penuh dengan pancake.

“Ja-ja-jadi kalian…??” Yurra tak sanggup melanjutkan pertanyaannya setelah mendapat anggukan kepala serempak dari keempat manusia innocent itu. “Ja-jadi…” Yurra menoleh pada Jaejoong, begitupula dengan Jaejoong sambil menunjuk Yurra dan dirinya sendiri. Mereka berdua shock seberat-beratnya!

“KALIAN SINTING!!” koor Jaejoong dan Yurra bersamaan.

THE END

Hancur hancur hancur ffku. Hancur ffku!! T.T

Wakakakak.. Inilah hasil dari kegalauan saya. Bagaimana? Mengocok perut anda?? 😀 Ya sudah, berikan komentar. Jika suka, jangan lupa dilike. Gomawo! ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Hunter atau…Tukang Palak??”

  1. wah…mian author, aku ga bisa ketawa.bukan dikarenakan FFnya gag lucu, selera humorku lagi payah T.T
    bagus author, cuma kebanyakan hal-hal yang dilucukaan #maksundya apa?# #agak tahu#
    aku akan bca lagi kapan2, tunggu mood naik T.T
    abaikan saja diriku

  2. Haaha please deh thor ini ff somplak… Apalagi pas yurra ngomong basa jawa ama jinki LOL

    bagus sih tapi agak dipaksakan lucunya aku bilang #eh #disate author
    Tapi somplak! !! #author : maksud lo apa yongie?#aku : .___.v

    like it hehe ^^

  3. Aku nggak baca sampai akhir… Jujur saja, ini lucunya agak maksain. Sebagai org yg demen sm FF crack aq cuman mau share beberapa point ajj disini kebanyakan pendeskripsian yang malah bikin lucunya tuh ngilang. Dan add beberapa adegan yang dipaksain konyol dan aq belum nangkep perannya Minho sm Jinki disini sbg apa, but over all udd bagus kok. Harus di sadari bikin FF humor tuh susahnya minta ampun. Yang perlu diingat, saat bikin FF humor biarin ajj kegilaan mengalir. Wkwkwkw Good luck!!! Ganbatte!!

  4. Bagus kok thor..
    Hm,tpi agak maksa lucu.a kurang lepas…
    Tpi ak suka klo yurra lgi brantem…
    Oh iya thor,ak pingin tw lanjutan hubungan yurra & jinki dkk…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s