Seven Cousins [1.2]

Title    : Seven Cousins

Author : qL^^ (wp: mystorymyfictionworld.wordpress.com)

Main Cast (Tokoh Utama) : Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Song Jisun, Choi Minho, Park Hyeki, Lee Taemin.

Support Cast (Tokoh Pembantu) : Goo ahjusshi, pelayan, dr. Jung, Lee Donghae

Length : Two shoot

Genre : Family, Bromance, Drama

Rating : General

Summary : Tujuh orang sepupu saling menyayangi dan saling peduli. Cinta menyebabkan ketegangan dan konflik mulai mewarnai hubungan persaudaraan mereka yang damai. Lalu apa yang akan mereka lakukan?

Seven Cousins

Part 1

Suara musik yang berdentum keras dan riuh rendah suara manusia di dalam bar terasa sangat memekakkan telinga, tapi tidak bagi Minho. Telinganya seakan mati rasa. Tidak bukan hanya telinga, tapi seluruh organ tubuhnya. Yang diinginkannya hanyalah alkohol yang sedari tadi diteguknya dapat mengembalikan rasa di seluruh organ tubuhnya.

“Ini sudah gelas yang ke berapa, oppa?” suara seorang yeoja tepat di telinganya. Minho menoleh, samar-samar mengenali wajah imut yeoja yang kini menatapnya galak.

“Oh, apa yang kau lakukan di sini, Hyeki-ya? Jinki hyung akan memarahimu kalau tahu kau di sini,” tanya Minho sambil memalingkan wajahnya dan meneguk kembali sisa wine-nya.

Hyeki duduk di samping Minho. “Harusnya aku yang bertanya begitu,” jawab Hyeki ketus. Dia sedikit berjengit melihat banyaknya botol wine kosong di meja Minho dan betapa kacaunya penampilan Minho sekarang.

Minho kelihatannya tidak mendengar dengan jelas jawaban Hyeki dan tidak sadar Hyeki memperhatikannya. “Kau mau ikut minum?” tanyanya sambil menyodorkan gelas berisi wine yang baru diisi kembali pada Hyeki.

Hyeki balas memandang dengan tatapan kesal campur jijik. “Oppa menawari anak di bawah umur untuk minum? Jinki oppa akan menambah hukumanmu,” ujar Hyeki dingin. Dia menyingkirkan gelas wine itu dari jangkauan Minho dan meminta bartender agar tidak memberikannya lagi pada Minho.

Minho tidak mengomel atau marah. Dia sudah minum terlalu banyak, hingga nyaris tidak punya tenaga lagi. “Lalu apa yang dilakukan anak di bawah umur di bar? Bagaimana kau bisa masuk?” tanya Minho dengan suara setengah sadar.

“Kibum oppa menjaminku dan aku di sini untuk memaksa oppa pulang,” jawab Hyeki pendek.

“Kibum? Pulang? SHIREO!!” pekik Minho tiba-tiba. “Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Minho lagi. Kepalanya diletakkan di atas meja bar.

Hyeki menutup telinganya, jengah dengan suara musik yang membuat kepalanya sakit. “Aku menelpon Jisun eonni dan bertanya padanya,” jawab Hyeki.

Wajah Minho yang tadinya mulai kehilangan kesadaran kini kembali sadar penuh. Kepalanya tegak dan matanya menatap Hyeki tajam. “Jangan sebut-sebut nama itu lagi di hadapanku,” ancam Minho.

Hyeki balas menatap dengan berani. “Waeyo? Oppa takut pada Jisun eonni?” tantang Hyeki.

Neo!! Aku bilang jangan menyebut namanya lagi!!” teriak Minho emosi. Sejujurnya, Hyeki sedikit takut mendengar Minho berteriak seperti itu.

Waeyo? Takut pada namanya tidak akan membuatmu merasa lebih baik oppa,” balas Hyeki setengah berteriak.

“ARRRRGH!!!” Minho menggeram marah dan menggebrak meja kasar, membuat botol-botol wine yang kosong jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Hyeki menganga. Matanya melebar. Shock melihat Minho lepas kendali di bawah pengaruh alkohol. Tangan Minho hampir saja mencelakai Hyeki, namun Minho tiba-tiba ambruk dan tertidur karena terlalu banyak minum. Tubuh Hyeki gemetar, ketakutan melihat reaksi Minho beberapa menit yang lalu. Dengan tangan gemetar, Hyeki menelepon Kibum.

O-opOppa, Minho oppa tertidur. Tolong bantu aku membawanya ke mobil,” ucapnya dan Kibum langsung menyanggupi.

* *  *

Jinki menyibak gorden kamar Minho, membuat sinar matahari menerobos melalu jendela kaca dan membuat si pemilik kamar bangun. Minho mengeliat beberapa kali sebelum benar-benar sadar kalau Jinki ada di kamarnya.

“Oh, hyung. Sedang apa kau di sini? Bukannya kau masih harus mengurus klien di Jepang?” tanya Minho santai sambil duduk di tempat tidurnya.

Jinki berdiri di hadapan Minho dengan tangan bersedekap. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, datar namun berkesan dingin. “Kekacauan yang kautimbulkan semalam membuatku terpaksa meninggalkan klien di Jepang bersama Jonghyun,” jawab Jinki tenang.

Wajah Minho berubah kelam. Jinki tahu dia berbuat onar? Minho tahu hukumannya sudah menunggu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau tidak punya pembelaan? Bagus! Sekarang mandi, aku akan menunggumu untuk sarapan di bawah,” ujar Jinki lagi, lalu melangkah keluar kamar Minho.

Mwo? Aku tidak mau ke kantor hari ini,” protesnya pada Jinki.

Jinki menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Minho. “Tidak ada cuti walau bagaimanapun suasana hatimu, ini hukuman atas keonaran semalam,” ujarnya masih dengan nada tenang sembari menyunggingkan senyum polosnya. “Tidak ada alasan menolak sarapan, kau berhutang maaf pada seseorang yang sedang sarapan karena semalam,” tambahnya lagi saat melihat Minho membuka mulut untuk membantah.

Berhutang maaf? “Nugu?” tanya Minho bingung. “Aaah, arra. Hyeki?” tanya Minho.

Jinki mengangguk. “Kau memarahinya semalam, membuat Hyeki shock. Padahal seharusnya kau berterima kasih pada Hyeki. Karena dia, kau selamat dari amukan Kibum,” jelas Jinki.

Minho tahu itu, dia sendiri heran kenapa Kibum tidak langsung menghampirinya semalam, malah membiarkan Hyeki sendirian. Tapi Minho sadar sekarang, dia akan babak belur kalau yang menemuinya adalah Kibum, bukan Hyeki. Minho juga tahu semalam dia marah pada Hyeki setelah mendengarnya menyebut nama yeoja yang paling tidak ingin didengar Minho seumur hidupnya lagi. Mengingat namanya saja sudah memberikan sensasi pedih di hati Minho.

“Baiklah, urusanku membangunkanmu sudah selesai,” putus Jinki lalu melanjutkan langkahnya berjalan keluar kamar Minho. Minho menatap punggung Jinki yang menghilang di balik pintu kamarnya dan menit berikutnya dia bergegas menuju kamar mandi.

* * *

Minho menuruni tangga dari lantai dua, samar-samar bisa mendengar suara tawa dan celotehan dari arah ruang makan. Minho melangkah menuju ruang makan dan tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

“Selamat pagi,” sapanya lalu duduk di kursinya di samping Kibum.

“Selamat pagi hyung,” balas Taemin penuh semangat. Sementara yang lain membalas dengan gumaman.

Ruang makan itu diisi oleh meja makan persegi panjang dengan tujuh kursi. Tepat di ujung meja ada kursi Jinki. Di sebelah kiri Jinki, ada Kibum, Jisun dan Hyeki, sedangkan di sebelah kanan Jinki ada Jonghyun, Minho dan Taemin. Tapi saat ini hanya ada Jinki, Taemin, Hyeki dan Kibum di ruang makan.

Begitu Minho duduk, Hyeki menggeser kursinya ke belakang dan bangkit berdiri. “Aku sudah selesai dan akan berangkat sekarang,” ujarnya sambil mengambil ransel yang disodorkan pelayan.

“Duduklah kembali. Sarapanmu belum habis,” nasehat Jinki sambil menatap Hyeki, tapi Hyeki sudah menggeleng. “Baiklah, ferrari-mu sedang diservis. Jadi kau harus memilih berangkat dengan siapa. Atau kau mau berangkat bersama Goo ahjusshi saja?” tanya Jinki.

“Kalau begitu, aku berangkat bersama Taemin saja,” jawab Hyeki yang masih berdiri sambil memakai ransel.

“Tapi aku belum selesai sarapan,” ujar Taemin.

“Duduklah sampai Taemin selesai sarapan,” kali ini Kibum ikut menasehati, tapi Hyeki sudah menggeleng lagi.

“Aku akan mengambil buku yang tertinggal dulu di atas,” ujar Hyeki lalu berjalan keluar ruang makan dan menuju kamarnya di lantai dua.

Jinki menghela nafas sementara Minho sedari tadi hanya mematung mendengar percakapan itu. Kibum melirik Minho tajam, sedangkan Taemin mempercepat laju makannya.

“Dia marah padaku?” tanya Minho pada akhirnya.

“Menurutmu?” tanya Kibum galak. Dia bangkit dari kursi dan merapikan dasinya. Pelayan sudah menunggu sambil menyerahkan tas dan kunci mobilnya. “Aku berangkat duluan hyung. Tidak tahan berlama-lama di sini,” omelnya sambil meninggalkan ruang makan.

Jinki hanya mengangguk tenang dan menoleh menatap Minho. “Itu hukuman tambahan atas keonaranmu semalam,” ujarnya.

Taemin rupanya juga sudah menyelesaikan sarapannya. “Aku juga berangkat sekarang hyung, kasihan Hyeki terlalu lama menunggu,” ujarnya sambil mengambil ransel yang disodorkan pelayan dan kunci mobilnya.

“Hati-hati di jalan,” pesan Jinki dan Taemin mengangguk sekilas sambil meninggalkan ruang makan.

“Habiskan sarapanmu setelah itu kita berangkat,” perintah Jinki pada Minho yang masih mematung.

Ne,” jawab Minho pelan. Tapi pikirannya sama sekali tidak fokus dengan apa yang dimakannya. Jadi Hyeki marah padanya karena sikapnya semalam dan sekarang dia menghindari Minho dengan berbagai cara. Bagaimana caranya Minho bisa minta maaf?

“Kau masih berhutang maaf pada Hyeki,” ujar Jinki tiba-tiba. Dia sudah menyelesaikan sarapannya dan sekarang sedang membaca koran.

“Aku tahu. Tenang saja, aku akan minta maaf,” dumal Minho. Jinki hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Minho.

* * *

“Berapa lama kau akan ngambek dengan Minho hyung?” tanya Taemin sambil menyetir.

Hyeki yang sedari tadi hanya memandang jalanan, berganti menatap Taemin. “Siapa bilang aku ngambek?” tanya Hyeki heran.

“Apalagi namanya kalau tidak mau bicara dengan Minho hyung seperti tadi pagi?” Taemin balik bertanya.

“Aku tidak ngambek. Aku hanya tidak ingin dekat-dekat Minho oppa sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” jawab Hyeki keras kepala sambil kembali memandang ke depan.

Taemin terkekeh. Dasar keras kepala, batinnya.

“Dia mengerikan,” desis Hyeki pelan.

“Huh? Nugu?” tanya Taemin.

“Minho oppa,” jawab Hyeki cepat. “Aku ingat dengan jelas saat dia berteriak padaku dan hampir memukulku hanya gara-gara aku bertanya apakah dia takut pada nama Jisun eonni,” jelasnya.

“Ah, itu kan karena dia sedang mabuk,” ujar Taemin menenangkan Hyeki.

“Tapi dia belum pernah begitu sebelumnya. Dia –kalian semua– tidak pernah berteriak padaku sebelumnya,” bantah Hyeki pelan.

“Lupakan saja Hyeki-ya. Minho hyung sedang banyak pikiran,” ujar Taemin sambil lalu.

“Tapiiii….” bantah Hyeki lagi.

“Tapi apa?” tanya Taemin, sedikit melirik Hyeki untuk melihat ekspresi yeoja itu.

“Tapi menyedihkan sekali. Kita bertujuh bersepupu dan sekarang malah terlibat pertengkaran seperti ini,” jawab Hyeki dengan suara bergetar. Dia mengigit bibirnya, menahan bulir-bulir air yang sudah membuat matanya berkaca-kaca.

Taemin mengangkat satu tangannya dari setir mobil dan meletakkannya di puncak kepala Hyeki, mengusapnya perlahan. “Sudahlah, kau dan Minho hyung kan tidak bertengkar,” ujar Taemin.

“Kami bertengkar di bar dan Minho oppa dan Jisun eonni juga bertengkar sebelumnya,” ujar Hyeki dengan suara serak.

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang mereka, Hyeki-ya. Itu bukan urusan kita,” jawab Taemin sambil terus mengusap puncak kepala Hyeki untuk menenangkannya. Hyeki tidak menjawab dan Taemin sadar itu. Dia yakin sekali, Hyeki sedang menangis tanpa suara dan menyembunyikannya darinya.

* * *

Jonghyun memasuki ruang kerjanya dengan wajah lelah. Dia baru kembali dari Jepang dan tadi harus melapor dulu pada Jinki. Seharusnya perjalanan bisnis ke Jepang itu dilakukannya bersama Jinki, tapi Jinki harus pulang karena dongsaeng mereka bermasalah. Dia mengerti, tentu saja, Jinki adalah yang tertua di antara mereka bertujuh, jadi otomatis hanya Jinki yang bisa diandalkan dalam keadaan seperti itu. Lamunan Jonghyun buyar ketika pintu ruang kerjanya tiba-tiba dibuka dan wajah si dongsaeng bermasalah muncul di pintu.

“Oh, Minho, ada apa?” tanya Jonghyun ringan.

“Kau sudah pulang hyung?” tanya Minho heran sambil mendekati Jonghyun.

Jonghyun terkekeh, “tentu saja, buat apa aku lama-lama di Jepang tanpa Jinki hyung,” ujarnya. “Ada apa denganmu, Minho-ya? Kau mabuk semalam?” tanya Jonghyun.

Minho mengusap tengkuknya. “Entahlah hyung, kepalaku sakit dan organ tubuhku mati rasa, kupikir alkohol bisa membantuku,” jawabnya.

“Alkohol tidak akan pernah membantu, bukankah aku sudah sering memberitahumu?” Lalu apa yang kaulakukan pada Hyeki? Kenapa kau marah-marah padanya?” tanya Jonghyun.

“Aku lepas kendali hyung. Salahkan wine sialan itu,” gerutu Minho.

Jeongmal? Hyeki menangis karena ulahmu,” ujar Jonghyun sambil mengangkat bahu.

Menangis? Minho tidak tahu itu. Jinki tidak mengatakan apa pun padanya. Apa sikapnya saat marah-marah sangat kasar? Minho menelan ludah. “Tidak ada yang bilang begitu padaku,” ucap Minho tak percaya.

Well, kalau begitu, yang lain menutupinya,” jawab Jonghyun ringan. “Sudah, kembalilah ke ruanganmu, Minho-ya. Jinki hyung tidak akan senang kalau kau tidak bekerja dengan baik setelah berbuat onar semalam,” goda Jonghyun.

Minho merengut, lalu berjalan meninggalkan Jonghyun di ruangannya sendiri.

* * *

Di saat yang sama, Kibum sedang duduk bersama Jisun, menikmati teh hangat dan cupcakes di kedai kopi langganan mereka. Kibum meluangkan waktu coffeebreaknya di kantor hanya untuk berbicara dengan Jisun.

“Jadi kau tidak akan kembali pada Minho?” tanya Kibum tanpa basa-basi. Jisun sedikit tersentak, tapi  dia sudah hafal kebiasaan Kibum sejak kecil dan itu membantunya untuk tidak terlalu kaget.

“Tidak bisa dan tidak mungkin,” jawab Jisun, lalu menyesap tehnya.

“Bisa dan mungkin itu hanya masalah waktu, Jisun-ah. Bukan jawaban seperti itu yang kuinginkan,” ucap Kibum serius.

“Tapi memang itu yang bisa kuberitahukan untuk saat ini,” jelas Jisun putus asa.  Kibum terdiam, mengangkat cangkirnya dan menyesap tehnya juga.

“Bagaimana keadaan Minho?” tanya Jisun.

“Dia tidak baik-baik saja, kau tahu. Emosinya mudah terpancing dan dia tidak fokus sama sekali ketika bekerja. Tapi semalam memang untuk pertama kalinya dia mabuk setelah berpisah denganmu,” jelas Kibum panjang.

“Apakah terjadi sesuatu pada Hyeki semalam?” tanya Jisun khawatir.

Not physically, she’s fine, you know. But, a little bit shock,” jawab Kibum. “Waeyo?”

Aniyo, hanya saja, aku dengar dari Taemin, Minho mengamuk dan meneriaki Hyeki. Aku menelpon Hyeki semalam, tapi tidak diangkat,” jelas Jisun lagi. Yeoja yang sebaya dengannya itu menghela nafas pelan.

“Dia tidak apa-apa, tapi Minho memang membuatnya takut dan sekarang dia sedang menjaga jarak dengan Minho,” ujar Kibum.

“Aku tahu aku menyakiti Minho dan membuat hubungan persaudaraan kita berantakan seperti ini. Mianheyo, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk merubahnya,” ujar Jisun penuh rasa bersalah. Kibum tersenyum dan menggenggam tangan sepupunya itu.

Gwaenchana, semuanya akan kembali seperti semula, tapi semua itu butuh proses dan dalam prosesnya pasti akan ada hal-hal seperti ini, Jisun-ah,” ujar Kibum menyemangati.

Gomawo,” Jisun tersenyum lemah.

Kibum tersenyum lebih lebar, lalu melirik arlojinya. “Time to go back to the office,” ujarnya. “Aku pergi dulu, berbahagialah Jisun-ah,” pamitnya pada Jisun.

Jisun mengangguk dan melambai. Tersenyum bahagia karena dia punya sepupu yang selalu mendukungnya.

* * *

Sore itu Minho memarkirkan BMWnya di parkiran kampus Hyeki. Untuk menebus kesalahannya, Minho berniat menjemput Hyeki dan meminta maaf. Dia sudah bertekad akan melakukan apa pun yang diminta Hyeki selama dongsaengnya itu mau memaafkannya.

Minho merapikan jas kantornya dan masuk ke pekarangan kampus Hyeki. Matanya mencari-cari sosok Hyeki di antara kerumunan mahasiswa. Sesekali Minho merasa yeoja-yeoja terpekik kaget melihat kehadirannya, tapi dia tidak peduli. Dia sudah tidak melihat yeoja manapun selain Jisun. Ah, kenapa aku selalu memikirkan yeoja itu? umpatnya dalam hati.

“Hyeki-ya!” panggilnya saat melihat sosok Hyeki sedang membahas sesuatu bersama temannya. Yeoja itu menoleh dan senyumnya menghilang saat melihat Minho melambai ke arahnya.

“Aku pergi dulu,” pamit Hyeki pada temannya dan mendekati Minho.

Annyeong~” sapa Minho ceria yang dibalas dengan tatapan datar dan dingin dari Hyeki. Bibir dongsaengnya itu terkatup rapat. Harusnya Minho tahu, Hyeki tidak akan menyambutnya dengan ramah.

“Aku kemari untuk menjemputmu,” ujar Minho lagi saat Hyeki tidak kunjung memberikan respon.

Hyeki akhirnya buka mulut dan menjawab singkat, “aku akan pulang dengan Taemin.”

“Taemin tidak bilang apa pun padaku,” respon Minho bingung.

“Memangnya Taemin harus melapor semua hal pada oppa?” tanya Hyeki kesal. Alisnya terangkat tinggi dan ekspresinya wajahnya masih tetap dingin. Harusnya Minho tahu, Hyeki mempunyai sifat sama seperti Jinki, tidak akan bisa dibujuk kalau sedang marah. Hanya Jinki dan Kibum yang bisa memenangkan perdebatan dengan Hyeki yang marah.

“Pulanglah, oppa datang sia-sia,” ujar Hyeki dingin, lalu membalik badan.

Minho mencengkram lengan Hyeki, mencegah yeoja itu kabur. “Hey, Hyeki-ya. Oppa datang kemari untuk minta maaf, apa begitu sulit untuk memaafkan oppa?” mohonnya.

Tiba-tiba Hyeki mengibaskan tangan Minho yang mencengkramnya. Wajahnya memutih dan tubuhnya bergetar. Cengkraman Minho tadi mengingatkannya pada insiden pecahnya botol wine di bar. Dia ketakutan. Sementara Minho memandangnya tak mengerti. Kenapa Hyeki tiba-tiba begini?

Taemin berlari mendekati Hyeki, merangkul sepupu sebayanya dengan erat. “Hyung, apa yang kaulakukan di sini?” tanya Taemin heran melihat Minho muncul di kampus.

“Aku mau menjemput Hyeki. Ada apa dengannya?” tanya Minho heran melihat Hyeki yang memucat di pelukan Taemin.

Mollaseo. Aku akan membawanya naik mobilku hyung, kau duluan saja,” ujar Taemin sambil membimbing Hyeki menuju parkiran.

Minho yang ditinggalkan Taemin hanya terpaku. Sementara mahasiswa yang melihat kejadian tadi mulai berbisik-bisik. Minho tersadar dan berlari menuju mobilnya.

* TBC *

A.N: Annyeoong yeorobeun~ Huft, kali ini aku ngirim FF lagi ke SF3SI. Mungkin gak sebagus yang sebelumnya, tapi aku selalu berusaha maksimal, hehe. FF ini lebih bertema keluarga dan aku nyelipin beberapa SHINee moment, kayak Jjong-Ho, 2min, dll. Di part selanjutnya akan lebih banyak SHINee moment. Adakah yang bertanya-tanya, ada apa dengan Minho dan Jisun? Tunggu kelanjutannya di part 2 yaa. Sampai jumpaa #lambai

 

Comments and likes are loved #bow

Regards, qL^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

20 thoughts on “Seven Cousins [1.2]”

  1. qL-ssi, mau dong sodaraan sama Shinee 🙂 apalagi kl pacaran sama Jinki :-D. sesama sepupu wajar aja kl ada masalah, saudara kandung aja kadang2 ada masalah juga.. lanjutt qL-ssi..

  2. qL-ssi, mau dong sodaraan sama Shinee 🙂 apalagi kl pacaran sama Jinki :-D. sesama sepupu wajar aja kl ada masalah, saudara kandung aja kadang2 ada masalah juga.. lanjut qL-ssi.. 😉

  3. Ada hubungan apa sih Jisun sama Minho sampe dia depresi begitu?? Jangan-jangan tiitittttt…….
    Thor ini kaya cerita cinta bersaudara(?) Apa deh pokoknya…
    Suka sama bad boynya minho waktu di bar, semua member SHINee keliatan beda 🙂

  4. Yaaaaa…. Aq bertanya ada apa sama Jisun-Minho… Terus add kah hubungannya sma Hyeki N Kibum…… Seven cousin… Aq tertarik baca FF-ny dr judulny… Kayak pernah baca tuh judul dimana gitu…hehehehe

    pasti seneng deh klo sepupuan sm namja ganteng itu… Jinki jadi sodara tertua? Ohhohohoho pas banget lah… Dan Key? Ditakutin sm Minong… Takutin appnya coba…hahaha

    ditunggu lanjutannyaaaa….

  5. ya ampuuun, udh publish ternyataaa #dance.
    mian yaa semua reader, mgkn part 2nya akan muncul agak lama, soalnya kmrn aku cuma ngirim satu part padahal dua2 partnya udh jadi hehe. dan baru bisa aku krm mnggu dpn. mianhe juga , soalnya ff yg aku krm ke sf3si itu ga aku post d wp pribadiku hehe.
    diharap sabar menunggu yaaa.
    makasiih komennya 🙂 mian blm sempat dibalas satu2 #huug

  6. Daebak! ^w^

    Nggak sabar nunggu kelanjutannya… Btw, Minho kasihan banget._. Kalau aku jadi Hyeki, dia nggak minta maaf juga udah aku maafin~ Ganteng gitu~ kk~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s