My Love

My Love

Author : Jung Jira

Main Cast :

-Kim Kibum as Kim Gwiboon

-Lee Jinki

Genre : Romance, School life

Rating : PG

***

 

-Gwiboon pov-

Namaku Kim Gwiboon. Aku siswi dari suatu SMP yang cukup terkenal di Seoul. Saat ini, aku duduk dibangku kelas VIII.  Aku menyukai seorang namja tampan. Namanya Lee Jinki.

Aku dan Jinki sudah satu kelas sejak dikelas VII. Awalnya aku sangat membencinya. Tetapi entah sejak kapan, bahkan sampai detik ini aku menyukainya. Sangat…menyukainya…

-flashback kelas VII-

“ Ya! Lee Jinki! kembalikan buku IPA ku. Sesudah istirahat ini akan ada ulangan!”

“ Ini buku ku. Memang buku kita sama, tapi apa kau yakin ini milikmu?” ujar namja tampan itu sambil mengoyang-goyangkan buku yang sedang dipegangnya.

“ Kembalikan!!!” aku pun mulai mengejarnya.

“Ambil kalau kau bisa~ :p” tantang Jinki.

Aku pun mengejarnya sampai tikungan dekat WC wanita. Dia pun terjatuh dengan posisi tengkurap.

“Aduh”

“Hahahahaha. Kualat kamu. Kembalikan buku ku!” tapi entah kenapa, saat itu,aku tidak benar-benar ingin tertawa. Malah aku ingin membantunya.

“Ini. Pinggangku sakit sekali >.<” keluh Jinki.

“Dasar pabbo namja. Lantai itu kan licin, siapa suruh kau lari disitu”

“Karena kau mengejarku. Tolong bantu aku berdiri.” Dia pun mengulurkan tangannya.

Aku meraih dan menarik tangannya untuk membantunya berdiri. Saat menggenggam tangannya, dada ku berdegup sangat kencang. Seperti dunia berhenti sesaat. Saat itu aku menyadari satu hal. Aku…menyukainya.

-flashback end-

Hari ini ulangan akhir semester 1. Aku dan Jinki berbeda ruangan. Dia diruang 1 dan aku diruang 2.  Hari ini aku belum melihat dia sama sekali. Sebelum bel masuk, memang aku berada dikelas terus, saat istirahat juga aku berada dikelas. Saat pulang, salah seorang chingu ku memberitahuku kalau saat istirahat Jinki dijemput eomma nya karena ia sakit. Hatiku terasa aneh saat mendengar hal itu.

Aku pun menuju kantin menemui ahjumma yang lumayan dekat denganku.

“ahjumma… gebetanku sakit”

“oh yang sakit itu gebetanmu? Tadi eomma nya sempat berbincang denganku” ujar seorang pemilik warung dikantin.

“Ne? Apa katanya?”

“gebetanmu tidak enak badan. Dia menelfon eomma nya untuk minta dijemput”

“ohhh…” aku cuek, tapi jantungku berdegup kencang.

“oh ya. Eomma nya bilang, katanya dia rencana untuk sekolah di Jepang”

Deg… jantungku rasanya berhenti berdetak saat mendengar hal itu.

Aku pun mengambil tas ku dan bergegas pulang. Pikiranku kacau. Aku tidak ingin dia pergi. Aku takut rasa kehilangan saat dia pergi sama dengan rasa saat aku kehilangan eomma dan appa ku…untuk selamanya.

Esok harinya sesaat sebelum bel masuk berbunyi, eomma nya Jinki datang ke sekolah. Eomma nya Jinki lalu berbicara kepada Jonghyun, namja teman dekatnya Jinki. Saat melihat hal itu,aku penasaran. Aku takut ada hal buruk yang terjadi pada Jinki.

Saat bel masuk berbunyi,aku menghampiri Jonghyun.

“Jonghyun-ssi, apakah tadi eomma nya Jinki mengatakan sesuatu kepadamu?”

“ne…wae?”

“ani,aku hanya ingin tau saja. Apa yang dia katakan?”

“Jinki masuk rumah sakit. Dia kecapean dan kurang istirahat sehingga kondisinya drop”

Tidak tau kenapa, dadaku berdegup kencang. Rasa sedih, cemas, khawatir, dan tidak percaya kembali mendominasi perasaan hatiku.

“Gwiboon.. kenapa mukamu jadi pucat? Kau menyukai Jinki yaa?” kata Jonghyun.

“aniya. Aku… aku Cuma khawatir dengannya.”

“jangan bohong. Kalau tidak suka, mana mungkin kau akan secemas ini. Mukamu saja sampai pucat seperti itu”

“ah sudahlah” aku pun kembali ke kursi ku.

Aku tidak bisa konsentrasi saat mengerjakan soal ujian yang ada dihadapanku. Pikiranku hanya tertuju pada seorang namja yang sedang dirawat di rumah sakit, Lee Jinki… Aku khawatir keadaan namja itu memburuk.

Saat istirahat,aku menceritakan hal ini kepada teman-temanku, Cho Taerin, Park Minra, dan Gil Raim.

“Mwo? Jinki masuk rumah sakit? Kok bisa?” Taerin setengah kaget.

“ Ne.. tadi eomma nya Jinki bilang sendiri ke Jonghyun.”

“sakit apa?” tanya Minra

“ katanya sih kecapean dan kurang istirahat”

“Kau ingin menjenguknya?” Pertanyaan Raim mengejutkanku. Aku memang ingin menjenguknya,tapi aku malu >///<

“pengen sih…tapi aku malu”

“ngapain malu, kan ada kita” kata Minra.

“kita jenguknya abis ujian aja” kata Taerin

“kelamaan. Nanti keburu dia udah keluar dari rumah sakit” kata Raim.

“sudahlah. Masalah itu kita bahas nanti, ayo belajar” ucap ku.

Di perjalanan pulang, pikiranku melayang entah kemana. Aku sempat melamun sampai saat menyebrang jalan raya yang cukup ramai, aku hampir tertabrak mobil mini van.  Dalam lamunanku, aku memikirkan kondisi Jinki memburuk.

Sampai dirumah, aku langsung mandi. Saat mandi pun aku masih memikirkannya. Usai mandi, aku langsung menyetel lagu “The Name I Loved”. Itu salah satu lagu kesukaan Jinki yang akhir-akhir ini selalu terngiang di telingaku.

* * *

“mwo? Besok dia keluar dari rumah sakit?” aku kaget mendengar ucapan Jonghyun.

“Ne… sebenarnya dia belum sembuh betul,tapi dia minta pulang.”

“cepat sekali…”

“jangan-jangan benar yaaa, kau menyukainya…” Jonghyun kembali menanyakan hal itu.

“Ani… aku hanya khawatir” aku mengelak.

“suka atau tidak suka itu juga hak mu”

“sudahlah…gomawo atas informasinya^^”  aku pun meninggalkan Jonghyun.

Hari ini,aku merasa aku tidak enak badan. Kepala ku pusing sekali. Aku baru sadar terakhir kali aku makan kemarin siang. Tetapi…

Tes…tes…tes…

Darah segar mengalir dari hidungku. Aku segera mengambil tissue dan mengelap darah yang keluar dari hidungku.

“Gwiboon! Kamu mimisan!! Kamu sakit?” Taerin lalu mengamati hidungku.

“ tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kecapean”

“tapi akhir-akhir ini mukamu sering pucat. Apa tidak sebaiknya kamu  periksa ke dokter?” usul Taerin

“akan kupikirkan nanti.” ucapku

*Jinki pov*

“Tadi eomma tanya ke dr.Lee. Katanya kau boleh pulang besok” ucap eomma ku sambil membereskan barangku

“ah ne. Aku juga sudah bosan berada disini. Aku ingin masuk sekolah”

“tapi ingat. Kau harus banyak istirahat, belum boleh terlalu capek. Terutama bermain bola” eomma mengingatkan.

“iyaaaaa” jawabku malas.

Sudah 3 hari aku dirawat disini. Rasanya bosan. Tidak dapat sekolah, bermain dengan teman-teman. Dan tidak dapat melihat…Kim Gwiboon. Ya, yoeja cantik yang akhir-akhir ini ku perhatikan. Dan sepertinya, aku menyukainya.

~esok harinya~

‘Ahh… home sweet home^^’ Batinku saat sampai dirumah. Aku langsung menuju ke kamarku. Tidak lama kemudian, Jonghyun datang menjengukku.

“Bagaimana kondisimu? Sudah baikan? Kapan masuk sekolah?” tanya Jonghyun.

“sudah baikan. Mungkin besok aku mulai sekolah”

“oh… eh iya. Ada yang nyariin tuh”

“siapa?” aku penasaran.

“Kim Gwiboon. Sepertinya dia menyukaimu.” Jawab Jonghyun sambil mengunyah jeruk.

“hah? Masa sih? Bukannya dia menyukai Minho anak kelas IX-1 itu?” dadaku berdegup kencang saat mendengar itu.

“bukannya Minho sudah punya yoejachingu? Kemarin saat tau kau masuk rumah sakit, mukanya memucat. Selama kau tidak masuk, dia juga sering melamun. Tapi sepertinya kau juga menyukainya. Iya kaaaann?” Pertanyaan Jonghyun membuatku kaget.

“hah? Kamu tau darimana…” Aku bingung mau jawab apa.

“tidak tau. Aku hanya menebaknya^^ Tapi apa kau benar menyukainya?” tanya Jonghyun.

Aku hanya terdiam sambil mencerna kata-kata Jonghyun. Karena sudah jam 8 malam,Jonghyun pamit pulang. Aku pun segera tidur karena besok aku mulai masuk sekolah.

~keesokan harinya~

“eh  Jinki. Akhirnya kau masuk sekolah juga. Bagaimana keadaanmu?” Minra menyambutku.

“seperti yang kau lihat sekarang. Aku sudah baikan. Kemana yang lain?”

“siapa? Gwiboon? Paling sebentar lagi dia juga datang”

“kan aku bilang yang lain. Bukan dia saja” ucapku.

“hahaha mianhae. Habis selama kau dirumah sakit, dia yang sangat khawatir denganmu” ucap Minra.

Tidak lama, Gwiboon datang memasuki kelas. Saat melihatku, Gwiboon sontak kaget. Mukanya memerah. Entah kenapa jantungku berdegup kencang saat melihat pipinya yang memerah.

Bel masuk pun berbunyi. Sekarang jam pelajaran olahraga. Karena aku baru sembuh sakit, jadi aku hanya mengikuti pelajaran olahraga dari pinggir lapangan. Saat yang lain sedang berlari mengelilingi lapangan,tiba-tiba… BRUK!!

“Kim Gwiboon!!!” Gwiboon jatuh pingsan. Aku langsung berlari ke tengah lapangan untuk menyelamatkannya. Aku dan teman-teman yang lain pun mengantarkannya ke ruang kesehatan. Setelah itu, kami kembali ke lapangan.

Sudah sekitar 30menit berlalu, tapi Gwiboon tak kunjung sadar. Petugas ruang kesehatan pun mengantarkannya ke rumah sakit.

Saat pulang sekolah. Aku, Jonghyun, Taerin, Minra dan Raim pun pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya. Saat tiba dirumah sakit, Taerin, Jonghyun, Minra dan Raim masuk ke ruang perawatan Gwiboon. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dokter dengan tantenya Gwiboon.

“Kim Gwiboon mengidap leukimia. Kondisinya saat ini sudah cukup parah.” Dunia seperti berhenti saat aku mendengar penyakit yang diderita Gwiboon.

Saat aku masih berusaha mencerna kata-kata dokter barusan, Jonghyun menyusulku…

“Jinki? Kau kenapa?”

“ani. Kajja kita masuk” aku menyembunyikan hal ini dari Jonghyun.

“kajja,” aku dan Jonghyun pun masuk.

Saat masuk kedalam ruang perawatan, aku melihat Gwiboon yang mukanya pucat pasi. Muka nya kembali memerah saat dia melihatku. Dan hatiku kembali berdegup kencang.

“bagaimana kedaanmu?” tanyaku.

“baik.” Jawabnya singkat.

“sebenarnya kau sakit apa sih?” tanya Minra.

“aku hanya kecapean. Tidak perlu khawatir” dia menyembunyikan penyakitnya? Apa memang dia belum tau?

-Gwiboon pov-

“sebenarnya kau sakit apa sih?” tanya Minra.

“aku hanya kecapean. Tidak perlu khawatir.” Sebenarnya aku telah mengetahui penyakitku. Tapi aku tidak ingin  teman-temanku tau dan aku hanya merepotkan mereka nantinya.

“apa kau tau siapa yang tadi menolongmu saat kau pingsan?” tiba-tiba Jonghyun bertanya seperti itu.

“tidak. Memangnya siapa?”

“apa kau benar-benar tidak tau?” Jonghyun melirikkan matanya ke arah Jinki. Muka Jinki memerah, begitu juga mukaku.

 “cieeeeeee…….” Jonghyun, Minra, Taerin, dan Raim pun bersorak. Membuat mukaku dan Jinki tambah memerah.

Sudah sekitar 45 menit mereka berada disini. Waktu sudah menunjukan pukul 4.30 sore, mereka pun pamit pulang. Tapi saat yang lain meninggalkan ruangan ku, Jinki mendekatiku dan mengucapkan sesuatu kepadaku.

“sebenarnya…aku tau apa penyakitmu. Tadi aku tidak sengaja mendengar kata-kata dokter.” ucap Jinki.

Aku tidak tau harus ngomong apa. Mukaku memanas. Air mataku sudah mulai membasahi pipiku.

“mianhae…” Jinki lalu meninggalkan ruanganku.

***

Sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah. Hari ini, Taerin kembali menjengukku.

“bagaimana keadaanmu? Kapan kau masuk sekolah?”

“sudah lebih baik. Belum tau” jawabku

“sebenarnya…aku dan yang lain sudah mengetahui penyakitmu. Kemarin Ibu Guru Lee memberitahu kami. Tapi sepertinya Jinki sudah mengetahui hal itu sebelum Ibu Guru Lee memberitahu kami”

“aku tidak ingin merepotkan kalian” jawabku.

“apa kau tau, akhir-akhir ini Jinki tidak seaktif biasanya. Dia lebih banyak diam dan melamun” ujar Taerin.

Aku hanya terdiam…

-Jinki pov-

“aku dengar katanya akhir bulan ini dia akan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan sekolah.” Kata-kata Taerin membuatku kaget.

Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar hal itu. Air mata juga sudah membasahi pipi kananku.

“ini. Tulislah surat untuknya. Aku akan memberikan ke dia” Taerin memberikanku selembar kertas dan sebuah pulpen.

“Gomawo.” Aku mulai menulis surat untuknya.

Seminggu kemudian…

“apa kau yakin ingin sekolah di Jepang?” tanya Jonghyun saat aku sedang membereskan bajuku.

Aku terdiam… aku tetap membereskan baju ku.

“apa kau yakin akan meninggalkan aku dan teman-teman yang lain?”

Aku tetap terdiam dan tetap membereskan baju ku.

“Apa kau yakin… kau akan meninggalkan Gwiboon?” pertanyaan Jonghyun membuatku menghentikan kegiatanku.

“aku…tidak tau”

“apa kau tidak ingin memberika semangat untuknya agar dia cepat sembuh?”

Aku kembali terdiam. Malam harinya…

“apa kau sudah siap untuk berpamitan  kepada teman-temanmu besok?” tanya eomma.

“ne…aku sudah siap” jawabku mantap.

“apa kau sudah berpamitan dengan temanmu yang dirawat dirumah sakit?” saat mendengarnya, aku tersentak.

“darimana eomma tau?”

“eomma tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Jonghyun tadi siang.”

“sudahlah,aku ingin tidur” sebenarnya,aku tidak bisa tidur. Gwiboon memenuhi pikiranku.

~keesokan harinya~

“selamat tinggal teman-teman. Aku tidak akan melupakan kalian. Aku akan kembali 2 atau 3 tahun lagi”

Setelah berpamitan, aku pun menuju mobil untuk ke bandara. Pesawat tujuan Jepang akan take off 1 jam lagi.

“Jinki! Tunggu! Ada yang ingin aku sampaikan” Taerin menghentikan langkahku.

“ada apa?”

“ada yang menitipkan ini untukmu.” Taerin memberikan secarik surat dengan amplop berwarna peach.

“surat? Dari siapa?”

“bukalah ketika kau sudah samapi di Jepang. Itu yang disampaikan penulisnya”

“ne… gomawo.”

“sama-sama. Sampai bertemu 2 tahun lagi” Taerin lalu meninggalkanku.

2 tahun kemudian…

Aku pun tiba di Seoul, kota yang 2 tahun lalu aku tinggalkan untuk meneruskan sekolah di Jepang… Aku langsung menuju rumahku. Sesampainya dirumah, aku melihat Jonghyun yang memakai seragam putih-abu menungguku di depan rumah.

“Lee Jinki. Apa kabar?” sambut Jonghyun.

“baik. Kajja kita masuk kedalam” ajakku. Kita pun melepas rindu (?)

“bagaimana kabarmu? Yang lain apa kabar?” tanyaku sambil menuangkan teh ke cangkir Jonghyun.

“baik. Taerin dan Minra masuk sekolah musik. Raim dan aku masuk sekolah yang sama.”

“bagaimana dengan…Gwiboon?” pertanyaanku membuat Jonghyun terdiam.

“apa kau ingin bertemu dengannya?” tanya Jonghyun dengan muka serius.

“tentu saja. Aku ingin menyatakan perasaanku padanya” ucapku.

“Kalau kau ingin bertemu dengannya, aku tunggu di sekolah kita dulu jam 9 pagi. Jangan lupa memakai baju hitam dan bawa 16 tangkai bunga mawar putih.”

“buat apa?” aku bingung dengan permintaan Jonghyun.

“sudah,turuti saja.” Setelah itu,Jonghyun berpamitan pulang.

Keesokan harinya tepat di ulang tahun Gwiboon yang ke 16. Aku datang kesekolah lama kami. Aku mengenakan kemeja tangan panjang dan celana panjang bahan berwarna hitam,sesuai kata Jonghyun kemarin. Disana sudah ada Jonghyun, Taerin, Minra, Raim. Taerin, Minra, dan Raim memakai dress warna hitam dan Jonghyun memakai kemeja dan celana panjang bahan berwarna hitam. Mereka membawa 16 tangkai bunga mawar putih, begitu juga denganku. Aku juga membawa surat yang diberikan Taerin sebelum aku berangkat ke Jepang 2 tahun lalu.

Kami menuju ke suatu tempat. Tapi…sepertinya ini arah menuju ke tempat pemakaman umum. Dan benar saja.  Kami telah berdiri di depan sebuah pusara.

“mengapa kita disini? Mana Gwiboon?” aku semakin tidak mengerti.

“disinilah dia” kata Jonghyun. Raim, Minta, dan Taerin tak kuasa menahan tangis. Aku semakin tidak mengerti.

“apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” aku meminta penjelasan dari mereka.

Jonghyun mendekati nisan yang ada di pusara itu…

“Annyeong Kim Gwiboon… Lihat siapa yang datang.” Jonghyun sambil mengusap nisan itu.

Aku melihat ke tulisan yang ada di nisan itu. Nama “Kim Gwiboon” terukir dengan tinta perak diatas nisan berwarna putih itu.

Aku hanya terdiam dan berlutut disebelah kanan pusara itu. Tidak terasa kedua pipiku sudah basah dengan air mata.

Lalu aku membuka surat yang Taerin berikan kepadaku sebelum aku berangkat ke Jepang 2 tahun lalu…

Dear Lee Jinki

 

Apa kau ingat dengan buku IPA milikku yang kau akui sebagai milikmu? Apa memar di pinggangmu sudah sembuh?

Aku tidak tau apa kau masih ingat dengan dua hal itu atau tidak. Yang jelas,aku tidak akan pernah melupakannya.

Jujur, dulu saat awal masuk SMP, aku sangat membencimu. Tapi entah sejak kapan,bahkan hingga saat kau membaca surat ini, aku…sangat…menyukaimu.

 

Apa kau ingat saat kau masuk rumah sakit waktu Ujian Semester? Saat itu aku sangat khawatir. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk terjadi kepadamu. Aku selalu mancari tau kabar terbaru tentangmu dari Jonghyun. Saat itu aku ingin sekali menjengukmu, tapi aku malu. Tapi saat aku sudah berani ingin menjengukmu, kau sudah keluar dari rumah sakit.

 

Saat mendengar rencanamu yang akan melanjutkan sekolah di Jepang, dunia seakan berhenti untukku. Aku tidak ingin kau pergi. Aku takut rasa kehilangannya akan sama seperti rasa kehilanganku saat eomma dan appa ku pergi untuk selamanya. Saat aku tau aku terkena leukimia,yang pertama kali aku pikirkan adalah kau,Jinki. Aku takut aku tidak bisa melihat wajahmu lagi. Hal itu memburuk saat kau tau apa penyakitku. Aku tidak ingin merepotkanmu dan yang lain.

 

Jujur, aku sangat menyukaimu. Aku sangat takut kehilanganmu. Aku sangat takut kau tertarik dengan  yoeja lain. Aku ingin kau hanya menjadi milikku. Memang aku egois dan berlebihan, tapi aku sangat menyayangimu.

 

Aku berharap, saat kau di Jepang nanti, kau tidak akan pernah melupakanku. Aku berharap kau kembali ke Korea hanya untukku. Aku berharap saat kau kembali, statusku bukan hanya menjadi teman sekelasmu, tapi berubah menjadi yoejachingu mu. Hahaha…memang permintaanku terlalu berlebihan. Tapi jujur, hanya itu yang ku inginkan saat ini.

Kim Gwiboon

 

 

Tidak terasa,air mataku sudah mengalir deras saat aku membaca surat dari Gwiboon yang biasanya aku baca sambil tersenyum. Aku sangat merasa bersalah kepada Gwiboon. Mengapa aku tidak menjadikannya yoejachinguku sebelum aku berangkat ke Jepang? Kenapa aku tidak jujur ke Gwiboon kalau aku meyukainya? Aku adalah namja paling bodoh!

“selama kau di Jepang, Gwiboon menjalani kemoterapi setiap seminggu 3 kali. Harapannya hanya satu. Sembuh dan bisa menjadi yoejachingumu. Sempat beberapa kali semangatnya meredup. Tapi kalau dia mengingatmu, semangatnya kembali memuncak. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Hari ini adalah peringatan ulangtahunnya yang ke-16 sekaligus peringatan 1 tahun kematiannya. Aku yakin sekarang dia sedang tersenyum melihatmu datang mengunjunginya” Kata-kata Minra membuatku semakin bersalah.

“apa kau ingin tau apa kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum dia pergi?” tanya Raim sambil mengusap airmatanya.

Aku hanya terdiam…

Raim melanjutkan kata-katanya

“kalau dia sembuh nanti, dia ingin melanjutkan SMA nya dan masuk kuliah kedokteran. Dia ingin menyembuhkan orang-orang sakit sepertinya agar dapat menunggu orang yang dicintainya datang untuk menyatakan cinta kepadanya”

“Gwiboon… aku disini. Aku datang untuk menyatakan cintaku kepadamu. Aku ingin kau menjadi yoejachinguku. Aku ingin hanya menjadi milikmu. Aku ingin selalu berada disisimu…” ucapku sambil terus menitikkan air mata.

7 tahun kemudian…

Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Aku mendatangi makan Gwiboon. Hari ini tepat ulang tahunnya yang ke 23 tahun dan peringatan 8 tahun kematiannya. Aku membawakan 23 tangkai mawar putih untuknya. Aku memakai kemeja tangan panjang dan celana panjang bahan berwarna putih,dilengkapi dengan jas dokter yang juga berwarna putih.

“Gwiboon-ya, aku datang lagi. Mianhae aku terlambat. Tadi banyak pasien yang harus aku tangani. Sekarang aku telah mewujudkan mimpimu, menjadi dokter untuk menyembuhkan orang-orang sakit agar dapat menunggu orang yang dicintainya datang untuk menyatakan cinta kepadanya.  Tapi sampai saat ini, aku masih sangat merasa bersalah terhadapmu. Aku tidak bisa mewujudkan satu mimpimu yang lain, yaitu menjadikanmu orang yang selalu ada disisiku. Tapi percayalah. Sampai saat ini, hanya kau yang ada dihatiku. Tidak ada seorang yoeja pun yang bisa menggantikan posisimu dihatiku. Aku selalu mencintaimu, Kim Gwiboon…”

*~~~*

NB: FF ini dibuat dari tanggal 12 Desember 2011. FF ini pernah di publish di wordpress lain. Mianhae kalo FF nya jelek atau ngebosenin bahkan kesinetron-sinetronan. Maklum,ini FF pertama saya^^ Maaf kalo ada beberapa pihak yang tersinggung/gak suka dengan kata-kata dalem FF ini. Ini cuman imajinasi saya aja kok. Makasih banyak buat yang udah ngeluangin waktu berharganya buat baca FF ini^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “My Love”

  1. ceritanya bagus… biar udah ketebak endingnya sih… hehe. tapi masih banyak typo. alurnya juga kecepatan menurutku *atau aku yg bacanya kecepetan yah? dilempar*

    untuk ff pertama udah bagus kok ^^ keep writing!

  2. aku jadi lupa kalo gwiboon tuh Kibum. hahaha… ketawa apa nangis? ngak dua-duanya. aku sedih tapi nggak nyampe nangis. # orang gila. nanya sendiri jawab sendiri.

  3. menyedihkan.. 😦 aku aja sampe nangis..
    tapi sifat jinki di situ beda dr biasanya ya (mksdku bda dr aslinya, kan dia sangtae).. hehehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s