Secret Wish – Part 2

Title                 : Secret Wish Part 2

Author             : Azumi Aozora dan Kunang Annalitha (KeyMi)

Main Cast        : Kim Mi Young, Kim Min Ah, Lee Tae Min, Jo Kwang Min, Jo Young Min

Support Cast   : Yesung, Kim Jae Joong dll

Length             : sequel

Genre               : Family, romance, life, friendship,

Rating              : PG-15

Summary        : Kim Mi Young dan Kim Min Ah adalah 2 yeoja yang jadi idola di Anyang High School. Mereka berdua sama-sama cantik dan berprestasi, tapi dalam diri mereka, mereka tidak puas dengan keadaan diri mereka. Min Ah dan Mi Young terlihat saling membenci satu sama lain, tapi dalam lubuk hati mereka sebenarnya mereka iri dan ingin bertukar posisi. Bagaimana kalau keinginan mereka terkabul? Check out! ^,^

Second Secret by Azumi

@bathroom kamar 797, The Shilla Resort and Spa Hotel, Jeju Island

07.30 am

======= Min Ah POV =======

Sudah selama 30 menit aku terus-menerus menatap pantulan diriku di cermin. “Apakah kau Kim Min Ah?” kataku sambil menunjuk cermin. Sosok Mi Young di cermin berbicara dan melakukan hal yang sama persis denganku.

Aku mengamati rambut ikalku yang agak berantakan. Ah.., bukan! Bukan rambutku, tapi rambut Mi Young – yang kini mau tak mau menjadi rambutku! Aku benci rambut ikal. Aku juga tidak terlalu suka mata yang terlalu bulat dan besar, atau bibir yang terlalu mungil seperti ini. Tapi aku tersenyum lebar. Penampilan luar bukan masalah! Karena kini aku akan menjalani hidup seperti yang selama ini kuinginkan.

Setelah mandi dan berdandan, sekali lagi aku memandang cermin. Mi Young sangat cantik. Tapi.., jujur saja aku lebih suka diriku. Menurutku, aku jauh lebih cantik. Hehehehe.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, bertekad dalam hati : inilah yang terbaik! Akhirnya aku bisa menjalani hidup seperti ini! Hidup seperti Mi Young! Aku tidak perlu lagi berpura-pura menyukai musik. Aku tidak perlu lagi diam-diam membaca text book di kamarku. Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!!!

Aku meraba wajahku. Masih tidak mempercayai penglihatanku. Ternyata mitos itu bukanlah isapan jempol belaka! Mitos itu benar-benar nyata! Keinginanku untuk menjadi Kim Mi Young terkabul!

Aku mencubit kedua pipiku. “Aaaawww.. Appo..” kataku sambil mengelus-elus pipi Mi Young (yang kini menjadi pipiku).

Aku keluar dari dalam kamar mandi secara diam-diam, kedua teman Mi Young masih tertidur dengan lelap. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua yeoja pemalas ini.

Aku harus segera bertemu Mi Young! Tidak mungkin kan Mi Young ada 2? Kalau aku berubah menjadi Mi Young, maka Mi Young pastilah berubah menjadi diriku.

Aku berlari menyusuri koridor hotel. Masih belum terbiasa berlari dengan tubuh mungil Mi Young. Ah.., seandainya kaki Mi Young jenjang seperti kaki-ku, pasti aku bisa berlari lebih cepat.

Kamarku terletak satu lantai di atas kamar Mi Young. Aku memutuskan untuk naik tangga saja, karena lift masih berada di lantai 1. Aku malas menunggu!

Aku menaiki dua anak tangga sekaligus, dan tanpa kusadari, aku menubruk seseorang yang turun dengan tergesa-gesa.

“Jeosong hamnida….” Kata orang yang kutubruk itu. Aku mengenal suara ini. Suaraku!

“Mi Young..?” kataku, tak percaya. Aku melihat wajahku, mataku, rambutku, tubuhku.

“Kyaaaaaa!!! Ternyata keinginanku benar-benar terkabul!!!” seru Mi Young heboh sambil memelukku erat. “Aku menjadi kau, dan kau menjadi aku. Huwaaaahhhh…, ternyata hal seperti ini bukan hanya dongeng ya? Kita benar-benar bertukar tubuh seperti dalam drama Secret Garden, dan seperti di komik-nya Hwang Mi Ree yang judulnya..mmm.., apa ya? Aku lupa.., pokoknya ada kata-kata fox-nya gitu.., aaahh aku inget! Judulnya The moment when a fox becomes a wolf. Untung aku bertukar tubuh denganmu, Min Ah. Aku tidak bisa membayangkan kalau harus bertukar tubuh dengan Young Min!!! Owww.., menjijikan! Hahahaha..” cerocos Mi Young.

Selama beberapa detik, aku terpana. Aneh sekali rasanya melihat diriku berbicara seperti itu. Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tidak suka nonton drama.” Kataku.

Mi Young mengerucutkan bibirnya. “Yah, tidak asyik!”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin bisa berbaur dengan yang lain sekarang. Mereka pasti akan langsung curiga.” Kataku, sambil mondar mandir. Kini kami berdiri di dekat tangga. Untung saja sepi, tidak ada orang yang lewat.

“Curiga kenapa?” tanya Mi Young polos.

“Ck..ck..ck.., tentu saja mereka akan curiga kenapa aku tiba-tiba jadi cerewet seperti kau!” tukasku cepat.

“Oooooohhhh…” Mi Young akhirnya mengerti.

“Kita harus menyusun rencana. Kita harus…..” kata-kataku terhenti. Mataku membelalak melihat seorang namja yang tiba-tiba muncul dan berjalan mendekati kami. Namja itu tersenyum hangat. Namun, sesuatu dalam matanya membuat namja ini terlihat sedikit misterius.

“Yesung seonsangnim….” Kataku sopan. Aku melirik Mi Young di sebelahku yang hanya mengerjap-ngerjap memandang Yesung seonsangnim. Terlihat sedikit ketakutan.

“Good morning, Min Ah, Mi Young…” sapa Yesung seonsangnim ramah sambil tersenyum lebar, membuat matanya yang sipit jadi menghilang.

“Terima kasih, Mi Young.., karena sudah menganggapku keren seperti tokoh komik.” Kata Yesung seonsangnim kepada Mi Young. “Kau juga tidak perlu takut, Mi Young. Aku bukan penyihir.” Yesung seonsangnim tertawa. Dia jelas-jelas berkata pada Mi Young. Tapi sekarang kan Mi Young berada di dalam tubuhku!!! Jangan… jangan…

“Anda bisa membaca pikiranku?” tanya Mi Young.

Yesung seonsangnim hanya tersenyum, sambil menatap aku dan Mi Young bergantian. “Tidak.” Jawabnya.

“Bagaimana mungkin Anda bisa tahu, seonsangnim?” tanyaku tenang.

“Tentu saja aku tahu, Min Ah.” Jawab Yesung seonsangnim tak kalah tenangnya. Di sebelahku, Mi Young membuka mulutnya tak percaya.

“Siapa Anda sebenarnya?” tanyaku sambil menatap Yesung seonsangnim lekat-lekat.

Yesung seonsangnim tersenyum tipis. “Aku jauh lebih tua dari takdir kalian. Tidak penting mengetahui siapa diriku. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana caranya agar kalian bisa tetap hidup. Ikutlah denganku…” Yesung seonsangnim berbalik, hendak pergi.

Ketika aku akan melangkahkan kakiku mengikutinya, Mi Young menahan tanganku. “Tunggu!” kata Mi Young. Aku menoleh padanya. “Seonsangnim!!!” panggil Mi Young. “Apakah Anda manusia?”

Yesung  seonsangnim tersenyum. “Pernah.” Dia membalikan badannya. “Yaaah…setidaknya, kini aku adalah manusia.” Yesung seonsangnim mengedipkan sebelah matanya, kemudian berjalan pergi.

“Ayo, Mi Young!” kataku.

“Tapiiiii…” Mi Young terlihat ragu.

“Di dunia ini memang banyak hal-hal aneh yang terjadi , Mi Young. Kau tidak usah takut.” Kataku, dengan segera menuntun tangan Mi Young dan berlari mengikuti Yesung seonsangnim.

====== end of Min Ah POV ======

@Restaurant

8.15 am

====== Young Min POV ======

Aku menatap hidangan di hadapanku dengan tidak berselera. Entah kenapa rasanya liburanku di Jeju jadi tidak mengasyikan lagi tanpa kehadiran Min Ah. Baru saja kepala sekolah kami (Eun Hyuk seonsangnim) memberitahu kami semua kalau Min Ah dan Mi Young pulang lebih cepat dikarenakan ada urusan keluarga. Aku bisa menebak, pasti mama-nya Min Ah yang over protective itu akan pergi ke luar negeri lagi, sehingga Min Ah harus pulang dan mengantar mama-nya. Hhhhh…, apa sebaiknya aku kembali ke Seoul juga?

Aku menusuk-nusuk lobster pedas manis-ku dengan garpu. Beberapa anak cewek dari regular dan musical class melirikku sambil cekikikan genit. “Hai, Young Min!” sapa salah satu dari mereka. Aku hanya menatap mereka datar, sama sekali tidak memedulikan cewek-cewek itu.

Kwang Min menghampiri meja-ku sambil membawa sepiring sandwich tuna. “Aku khawatir karena Mi Young sama sekali tidak bilang apa-apa padaku.” Kata Kwang Min. “Yah.., tapi sepertinya masalah Appa-nya lagi. Mungkin saja biola yang Mi Young sembunyikan di dalam kamarnya ketahuan oleh Appa-nya.” Kwang Min memakan sandwich-nya dengan lahap, lalu dia mencondongkan tubuhnya, mendekatiku, dan berbisik. “Ngomong-ngomong, sejak tadi pagi aku juga tidak melihat Taemin sunbaenim. Biasanya dia selalu berkeliaran, mengecek murid-murid.” Kata Kwang Min pelan.

Benar. Aku juga tidak melihat sang Ketua Taemin yang biasanya sok eksis itu. Bukannya aku iri dengannya, hanya saja aku sedikit tidak suka dengan senior kami yang satu itu karena beberapa alasan.

“Jangan – jangan…., Mi Young dan Min Ah pergi men-stalker Taemin sunbaenim?!!!!” ujar Kwang Min ngaco.

Aku memukul kepala kembaranku itu pelan, sambil tersenyum mengejek. “Mana mungkin Min Ah jadi stalker?! Kalau Mi Young siiih.., tidak tau ya.” Aku mengangkat bahuku, cuek.

Kwang Min tampak sibuk berpikir. Sandwich tuna-nya yang tinggal setengah dia biarkan tergeletak begitu saja di piring.

Aku menatap kembaranku itu. “Sudahlah. Kau kan masih punya aku, Kwangminnie…” kataku, sambil nyengir. “Kita nikmati liburan ini berdua saja.” Aku mengedipkan sebelah mataku. Kwang Min mengangguk pelan.

Hhhh.., sebenarnya aku juga tidak yakin. Sepertinya aku tidak akan benar-benar bisa menikmati liburan ini. Begitupula dengan Kwang Min.

======= end of Young Min POV ======

Tiga hari kemudian, @Anyang High School…

======== Min Ah POV =======

Bel jam pelajaran ke-3 baru akan berbunyi 20 menit lagi. Aku keluar lebih cepat dari dalam kelas Fisika, karena aku memang menyelesaikan ujian-ku dengan cepat. Padahal aku tidak belajar tadi malam. Untung saja aku masih ingat. Dulu aku pernah diam-diam membaca buku-buku text book Fisika dan Kimia di perpustakaan regular class.

Aku duduk di kursi kayu, di pinggir lapangan. Beberapa anak kelas musical yang kebetulan ada kelas di lantai 1 terlihat keluar-masuk kelas sambil menenteng berbagai macam alat musik. Aku tersenyum. Sekarang, aku tidak perlu lagi main piano dan biola.

Kwang Min berjalan menghampiriku. “Mi Young!!! Kau cepat sekali mengerjakan soal ujian-nya! Jangan-jangan…, tak ada satupun yang kau isi ya? Hahahaha…”

Aku tersenyum pada Kwang Min. “Aku yakin, aku akan dapat nilai 100.” Kataku percaya diri.

“Mwo?” Kwang Min membelalakan matanya, tak percaya. Lalu dia mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku akan traktir kau makan apa saja sesukamu kalau kau dapat nilai 100.” janji Kwang Min.

“Benarkah?”

Kwang Min mengangguk. “Hmmm.., tapi harus 100. Kalau kurang, bahkan 99 saja tidak boleh.”

Aku tertawa. “Hahahaha.  Tenang saja, Kwang Min. Siapkan saja uang yang banyak dari sekarang.” Kataku.

Kwang Min tersenyum jail sambil mengangguk-angguk. Sepertinya dia tidak percaya aku akan dapat nilai 100. Ah, benar juga! Mi Young tidak mungkin dapat nilai 100 di pelajaran Fisika. Tapi ini adalah aku. Tentu saja aku bisa!

“Aku ke toilet dulu ya!” kata Kwang Min.

Aku menatap Kwang Min heran. Mau ke toilet saja kenapa harus bilang-bilang?! Memangnya aku bos-nya?!

Aku kembali sendirian. Dari tempat duduk-ku ini, aku bisa melihat kelas di seberang sana. Kelas Young Min.

Pintu ruangan itu terbuka, seorang pemuda berambut pirang keluar dari dalam kelas sambil menenteng gitar listrik kesayangannya. Young Min!!! Aku hendak memanggilnya, tapi tidak jadi. Aku ingat siapa diriku sekarang. Young Min melihat sekilas ke arahku dengan tatapan datar, kemudian pergi entah ke mana. Aku menghembuskan napas pelan. Young Min tidak pernah menatapku dengan cara seperti itu. Kurasa sekarang aku bisa mengerti mengapa teman-temanku bilang Young Min itu galak dan jutek.

Aku membelalakkan mataku. Seorang gadis tinggi, bermata sipit tajam dengan bola mata abu-abu tua, rambut lurus-hitam-panjang se-pinggang, dan ber-kaki jenjang, berjalan menghampiriku sambil tersenyum lebar. “Good Morniiiing!!!!” sapa Mi Young ceria.

“Berhentilah memasang tampang konyol seperti itu, Mi Young! Aku tidak pernah tersenyum se-aneh itu!” tukasku ketus sambil menatap wajah cantik seorang gadis. Wajahku.

Kim Mi Young malah terbahak-bahak. Beberapa orang yang kebetulan lewat, melihat ke arah kami. Aku mendengus. Bagus sekali! Kehadiran Mi Young selalu saja menarik perhatian banyak orang, karena sikapnya yang heboh dan karena suara cemprengnya. Tunggu! Itu suaraku! Tapi setidaknya aku tidak pernah bicara secepat dan sekeras itu!

Mi Young merangkul pundakku, kemudian berbisik. “Berhentilah memanggilku Mi Young, Min Ah. Sekarang ini aku berada dalam tubuh Min Ah, jadi panggilah aku Min Ah. Orang-orang akan curiga…”

Aku menatap Mi Young selama sekian detik. Kaget, karena tumben sekarang otaknya bukan berada pada Pentium 1. Apa bertukar tubuh juga berarti bertukar otak dan kepintaran? ANDWAEEEE!!!! Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

“Mi Young, coba sebutkan apa saja nama unsur dalam tabel periodik golongan 4A!” bisikku pada Mi Young.

“Eh?? Eng..emmm,,, apa ya?” Mi Young berpikir keras. “Aku tidak suka Kimia! Mana aku hafal!!!!”

Aku tersenyum lebar. “Bagus!”

Mi Young menatapku tak mengerti. Aku tersenyum, lalu merapikan poni Mi Young (poni-ku) yang agak berantakan. “Fighting, Min Ah!!!! Kau pasti bisa menaklukan si Yang Choppin. Aku yakin kau pasti dapat nilai A!”

Mi Young nyengir. “Kau juga, Mi Young! Berusahalah! Aku yakin kau pasti dapat nilai 100 di ujian Kimia nanti siang.”

Kami berdua sama-sama tertawa. Aneh sekali rasanya saling memanggil nama sendiri.

Mi Young menatapku lekat-lekat. “Ngomong-ngomong …, aku lebih suka kalau rambutmu digerai. Lagipula aku tidak pernah sekalipun mengepang rambutku ke sekolah” Mi Young menyentuh rambutku yang diikat, lalu melepas kuncirnya. “Ada apa? Kenapa menatapku terus?” Tanya Mi Young.

Aku menggeleng. “Aku hanya terpesona pada wajahku sendiri. Sebelumnya aku tidak menyadari, ternyata aku benar-benar cantik.”

Mi Young mendengus, lalu tersenyum. “Aku juga. Aku lebih suka mata asliku yang besar. Matamu terlalu sipit.”

“Aku tidak suka rambut ikalmu. Rambut ini agak susah diatur, tidak seperti rambutku!” Kataku.

“Aku tidak suka matamu yang berwarna abu-abu. Seram.” Kata Mi Young.

Aku dan Mi Young tertawa. Benar. Karena sekarang ini aku berada dalam tubuh Mi Young, aku harus berdandan menyerupai Mi Young. Jika tidak, orang-orang pasti akan curiga padaku. Hhhh.., kurasa aku harus mulai menyukai rambut ikal ini.

*********

==== Still Min Ah POV ====

Saat jam istirahat, sebelum pergi ke kantin, aku dan Kwang Min diminta oleh Lee Jin Ki seonsangnim untuk pergi ke rumah kaca yang terletak di belakang gedung sekolah dan mengambil tanaman yang akan kami rawat. Aku meraih sebuah pot dengan tulisan nama “Kim Mi Young”, sementara Kwang Min mengambil pot dengan tulisan namanya.

Tak jauh dari rumah kaca, terdapat sebuah taman bunga dan rumput yang sering sekali dijadikan tempat nongkrong anak-anak, terutama anak-anak musical class. Aku memerhatikan Young Min yang sedang duduk di bangku taman, dekat sepetak bunga mawar putih, sambil memetik gitar acoustic-nya. Aneh sekali rasanya melihat Young Min dari jauh. Biasanya sahabat baikku itu selalu berada di dekatku. Di sebelahnya, Mi Young (yang berada dalam tubuhku) memegang biola sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama gitar Young Min. Mi Young terlihat sangat menikmati lagu yang Young Min bawakan.

“Mi Young…” Kwang Min menyentuh pundakku. Aku menoleh. Wajah Kwang Min dan Young Min benar-benar identik. Mereka serupa, tapi tak sama. Seperti aku dan Mi Young saat ini. Aku memiliki wajah dan tubuh Mi Young. Tapi aku bukanlah Mi Young! Meskipun fisik-ku berwujud Mi Young, tapi jiwaku tetaplah jiwaku. Kim Min Ah.

“Apa kau sakit?” Tanya Kwang Min.

“Eh?”

“Kau agak pendiam hari ini. Apa kau sakit perut lagi seperti waktu itu?” Kwang Min tersenyum jail. “Masa kau lupa? Dulu, saat junior high, kau pernah sakit perut sampai-sampai tidak mau bicara seharian. Hahahaha…”

Aku tersenyum kaku. Bagaimana ini? Baru juga 3 hari aku dan Mi Young bertukar tubuh, tapi Kwang Min sudah curiga seperti ini?!

Aku mencoba tertawa keras dan ceria seperti yang biasa Mi Young lakukan. “Hahahaahha.., kau lucu sekali, Kwang Min!” kataku.

Kwang Min memiringkan kepalanya, menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum manis. “Ini pertama kalinya kau menyebutku lucu.” Kata Kwang Min senang.

“Eh?” cepat-cepat aku pun berjalan pergi dari sana sambil menenteng sebuah pot kecil berisi bunga anggrek bulan yang cantik.

Kwang Min berlari mengejarku, “Aku senang kau jadi lebih bersemangat mengikuti pelajaran semenjak pulang dari Jeju, Mi Young.”

Aku tersenyum. “Liburan membuat otak-ku encer! Ya.., meskipun aku hanya 1 hari di sana. Hahaahaha…” Aku tertawa ala Mi Young, sambil mengagumi anggrek yang harus kurawat selama sebulan ke depan. Tugas biologi. Aaaah.., aku suka kelas reguler! J

======== End of Min Ah POV ========

@Taman belakang sekolah

==== Young Min POV ====

Ada yang aneh dengan semua orang hari ini! Dimulai sejak tadi pagi. Ketika aku dan Min Ah turun dari motor, kemudian tanpa sengaja kami bertemu dengan Kwang Min dan Mi Young yang baru turun dari mobil, aku merasa…, entahlah. Sepertinya si Mi Young bawel itu jadi tidak se-bawel biasanya.

“Young Min…” kata Mi Young lembut sambil tersenyum manis.

Aku terdiam. Tidak biasanya! Biasanya si nona cerewet ini selalu mengejek rambut pirangku. Atau mengoceh hal-hal tidak penting lainnya! Tapi kenapa pagi tadi dia bersikap sangat manis?!

Lalu Min Ah. Tidak biasanya dia terlihat sungguh-sungguh dengan musik. Sampai-sampai Seung Ho seonsangnim memujinya habis-habisan saat Min Ah diminta memainkan piano. Min Ah juga terlihat…., berbeda. Dia jadi tidak selembut dan se-perhatian biasanya. Hari ini Min Ah terlihat terlalu fokus dengan dirinya sendiri, dan musik. Bukan hal yang buruk sih, tapi tetap saja aku merasa aneh dengan perubahannya yang tiba-tiba.

Aku juga merasa aneh dengan Kwang Min. Saat kami berpapasan di koridor, di sela-sela pergantian jam pelajaran, Kwang Min sering sekali melirik ke arah Min Ah. Dan aku juga tidak bisa menahan keinginanku untuk menatap Mi Young. Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak pernah tertarik untuk hanya sekedar melirik si bawel Mi Young! Tapi sejak tadi pagi, aku merasa pembawaan Mi Young menjadi tenang dan anggun, seperti Min Ah.

Jadi, yang aneh sejak tadi pagi bukan hanya Min Ah dan Mi Young saja, tapi sepertinya aku dan Kwang Min juga ikut-ikutan menjadi aneh! Hhhhh.., aku tidak mengerti.

Lalu sekarang…, Min Ah tampak serius sekali memainkan biolanya. Harus kuakui, permainan biola Min Ah kali ini jauh lebih bagus daripada sebelum-sebelumnya. Begitu penuh penghayatan.., dan juga ambisi.

Aku menatap Min Ah lekat-lekat. “Apa Mama-mu sudah pulang dari Paris?” tanyaku, begitu Min Ah selesai bermain biola.

“Eomma?” Tanya Min Ah bingung. “Aaaahhh.., eomma.., hahaha. Belum. Kenapa?” Tanya Min Ah.

“Apa tadi malam Mama-mu menelepon lagi, dan menceramahi-mu tentang musik, pentas, konser?” tanyaku. Min Ah menatapku heran. Aku menghembuskan napas panjang, lalu menyentuh bahunya perlahan. “Tenang saja, Min Ah. Kau tidak perlu merasa tertekan. Aku yakin kau bisa. Seperti tadi. Seungho seonsangnim saja sampai memujimu. Itu bagus sekali, Min Ah.” Puji-ku tulus. Aku tidak pernah berkata manis pada yeoja lain selain Min Ah. Aku juga tidak pernah bersikap penuh perhatian pada yeoja lain selain Min Ah.

Min Ah tertawa keras. “Ternyata kau baik juga!” celetuk Min Ah dengan cuek-nya, lalu kembali memainkan biola-nya. Kali ini dia membawakan lagu SHINee – Hello.

“Sejak kapan kau suka SHINee?” tanyaku heran.

Min Ah nyengir. “Sejak dulu.” Jawabnya asal.

Aku memicingkan mataku. “Dan sejak kapan kau memanggil ibumu dengan sebutan eomma, dan bukannya mama?”

Min Ah berhenti bermain biola, lalu tertawa. “Tidak usah terlalu serius begitu, Young Min! Hahahaha. Saat ini aku sedang suka SHINee, jadi jangan heran kalau aku sering nyanyi lagu SHINee atau main piano, atau biola lagu SHINee. Dan soal mama-ku.., suka-suka aku doong mau manggil ibuku dengan sebutan apa! Wueeeekkkk…” Min Ah tertawa sambil menjulurkan lidahnya.

Aku hanya tersenyum. Aku ikut bahagia melihat Min Ah yang bahagia dan terlihat seperti tidak ada beban. Tapi sejak kapan Min Ah berubah plin-plan dan tidak serius? Justru karena kesungguhan-nya lah aku menyukainya. Ke mana perginya Min Ah-ku yang perhatian, lembut, baik hati, keras kepala, jutek pada cowok lain (selain aku), dan anggun?

Sepertinya liburan ke pulau Jeju (meski Min Ah hanya 1 hari berada di sana) membuat Min Ah lebih ceria. Itu bagus. Tapi entah kenapa aku merasa hatiku sedikit kosong. Terasa ada yang kurang. Terasa ada sesuatu yang seharusnya berada di tempatnya, tapi kini menghilang entah ke mana.

===== end of Young Min POV =====

@Ruang bawah Tanah, sebuah rumah antik di pinggiran kota Seoul

9.00 pm

======== Author POV ========

Seorang laki-laki muda tampan, dengan mata sipit, dan pipi agak chubby tampak asyik melihat-lihat foto hitam putih dalam sebuah album bersampul kulit yang tampaknya sudah tua. Sebagian sampulnya mengelupas, dan beberapa foto di dalamnya sudah terlihat menguning.

Pemuda itu tersenyum lembut. Matanya menerawang mengingat sesuatu. Tiba-tiba dia menatap pintu ruangan yang tertutup. Suasana hening. Tapi pemuda itu bisa merasakan aura seseorang yang sedang berdiri di balik pintu geser itu. “Masuklah…” kata pemuda itu.

Beberapa saat kemudian, seorang namja tinggi, berambut pendek, dengan double eyelid-eyes, dan berhidung mancung, masuk ke dalam ruangan itu sambil membungkuk sopan. “Maaf kalau saya mengganggu.”

Pemuda bermata sipit tersenyum hangat. “Kau sama sekali tidak menggangguku, Nak.” Kata pemuda itu. “Bagaimana perkembangan kedua yeoja itu?”

“Sejauh ini, mereka berdua tampaknya bisa beradaptasi dengan baik.” Jawab si namja jangkung.

Namja mungil dengan mata sipit mengangguk-angguk senang. “Bagus. Teruslah awasi kedua yeoja itu. Oh ya, bagaimana dengan ‘mereka’?”

Namja tinggi terlihat tidak senang membicarakan hal ini, namun dia berusaha menjawab pertanyaan si namja mungil dengan sopan. “Pergerakan mereka cepat. Tapi, mereka belum mengetahui semuanya, termasuk identitas kita.”

Namja mungil sipit itu tertawa keras. “Orang itu pasti tahu identitasku. Tidak mungkin dia tidak mengenaliku.” Namja itu menggeleng pelan. “Aku tahu seperti apa dirinya yang sesungguhnya. Dia tidak mungkin memberitahukan identitasku kepada sembarang orang, karena itu tidak penting, dan tidak berguna. Sekarang, yang paling penting adalah… kita harus menjaga Mi Young dan Min Ah. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa mereka. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.”

Namja tinggi membungkukkan badannya sopan. “Saya mengerti, Tuan.”

“Hahahaha, tidak perlu terlalu sopan, Nak. Aku sudah menganggapmu sebagai keluargaku.” Namja mungil sipit itu menepuk-nepuk pundak si namja tinggi. “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal ini di sekolah. Menjauhlah dariku saat kita berada di sekolah.”

“Saya mengerti.” Kata namja tinggi. Si namja sipit tersenyum puas.

***********

Sementara itu, di rumah keluarga Kim….

Seorang gadis berambut lurus tampak menikmati dan menghayati alunan nada yang keluar dari tuts piano yang dia mainkan. Sesekali gadis itu bersenandung riang.

Gadis itu menggeliat, meregangkan tubuhnya yang mulai kaku. Sudah 3 jam non stop dia bermain piano. “Huwaaaahhhhh…, asyiknyaaaaa aku bisa main piano sesuka hatiku!!!! Hehehehehe. Tiduran dulu aaahhh..” gadis itu pun merebahkan dirinya di atas sebuah tempat tidur besar ber-kelambu putih.

“Sepertinya aku akan mengganti tempat tidur ini. Modelnya jadul sekali. Memangnya kita berada di abad ke-18 apa?! Cat tembok kamar ini juga! Harusnya full color seperti kamarku.” Gadis itu memandang kamarnya sambil tiduran.

Di luar, angin bertiup kencang sekali. Terdengar bunyi “duk” pelan dari arah luar. Kim Mi Young, yang pada dasarnya memang seorang yeoja penakut, langsung saja parno mendengar suara itu. Dia menutupi wajahnya dengan guling. Mi Young menajamkan pendengarannya. Tidak terdengar apa-apa lagi. Perlahan, Mi Young mendekati jendela besar yang menghadap ke balkon, lalu merapikan gorden-nya yang sedikit terbuka. Setelah itu cepat-cepat dia berlari lagi ke atas tempat tidurnya, lalu meraih laptop-nya di atas meja. Baru saja tadi sore Mi Young dan Min Ah saling bertukar laptop (menjadi laptop mereka masing-masing). Tidak ada yang menarik di dalam laptop Min Ah.

Mi Young melihat Min Ah sedang online. Cepat-cepat ia mengirim instant message pada Min Ah.

Odette_princess: BUZZZZZZZZ

Odette_princess : Bolehkah aku menyingkirkan novel-novel misteri yg ada di kamar ini? Mengecat temboknya jd pink/biru, & mengganti tempat tidur yg mengerikan ini? Demi Tuhan, Min Ah!!! Kau ini hidup di zaman apa sih??? Tempat tidur ini terlihat seperti tempat tidur count Dracula!  >_<

White_Rose : Hahahahaha. Jangan mengeluh! Sebaiknya biarkan seperti itu saja. Kalau Oppa-ku mengunjungimu nanti, dia pasti akan curiga.

White_Rose : Ibuku & pembantu2ku mungkin memang tdk akan curiga, tp Oppa-ku berbeda. Dia orang yg paling dekat denganku.

White_Rose : ngomong2, kamarmu jg mengerikan, Mi Young! Aku mencari-cari novel, tapi adanya malah dvd2 drama dan komik! Bulu2 boneka di sini jg membuatku alergi!

Odette_princess : hohohoho…, aku rindu kamarku >_<

White_Rose : Kamar ala princess ini? Membuat mataku sakiiit!!!! =p

Odette_princess : besok bawa bbrp komik hwang mi ree + dvd dorama jpg k sklh. Kau mau kubawakan apa dari sini?

White_Rose : Hmmm.., novel2 Sherlock Holmes & Agatha Christie. Oh ya, novel breaking dawn jg. Sblm ak nnton film nya nanti, aku ingin baca lg novelnya.

Odette_princess : Oke J

Odette_princess : Breaking Dawn masih normal. Aku jg lumayan suka.

White_Rose : Kau hanya suka pemainnya. =p

Odette_princess : Hahahaha.. =D

Odette_princess : Seharusnya kau tempel saja poster Robbert Pattinson di sini, daripada menempel lukisan kastil aneh seperti ini. Bolehkah aku copot lukisan yg mengerikan ini? Spt kastil drakula! T_T

White_Rose : ANDWAEEEEE!!!!! Itu lukisan favoritku. Jgn mencopotnya, atw kau akan kena kutukan!

Odette_princess : Huwaaaaahhhh… T___T ..

Odette_princess : AKU TIDAK AKAN MENCOPOTNYAAAA!!!!

White_Rose : Hahahaha… aku hanya bercanda. =p

White_Rose : lukisan itu adalah warisan dari neneknya ibuku J

White_Rose : Aku off ya. Aku hrs mengerjakan PR Matematika.

Odette_princess :HAHAHAHA. Aku tidak perlu mengerjakan PR! YESSS!!!!!

Odette_princess : aku bermain piano sejak tadi. ^_^

White_Rose : Bagus sekali! Sebaiknya kau rekam video dirimu yg bermain piano, lalu kirimkan ke email ibuku. Dia pasti senang.

White_Rose : ayahmu senang saat tau aku (KAU) dapat nilai 100 utk ujian Fisika.

Mi Young berhenti sejenak, dan menatap layar laptopnya dengan sedih. Entah kenapa tiba-tiba saja terbersit perasaan bersalah di hatinya.

Odette_princess : Apakah Appa-ku tdk curiga?

White_Rose : sama sekali tdk. Bgmn dgn ibuku? Dia sudah menelepon?

Odette_princess : Sudah. Aku mengikuti apa katamu. Aku tdk banyak bicara.

White_Rose : Bagus! Thanks, Mi Young. J

Odette_princess : Gomawo juga, Min Ah.. J

Odette_princess : sampai ketemu bsk, Min Ah =)

Mi Young pun mematikan laptopnya, lalu menghembuskan napas panjang. Tiba-tiba saja dia merindukan kakak laki-laki semata wayang-nya, Jong Hyun Oppa. “Jong Hyun Oppa pasti belum bertemu Min Ah, soalnya akhir-akhir ini Appa sering berada di rumah.” Kata Mi Young, berbicara sendiri. “Appa.., kau senang kan sekarang? Mianhae, Appa. Seharusnya anakmu itu memang Min Ah saja sejak dulu. Aku juga. Aku harus membuat Mama-nya Min Ah bangga. Hoaaahhhmmm.., ngantuk!” Mi Young menguap lebar.

Tuk….tuk…

“Omo ~~ suara angin lagi ya? Ah! Aku harus mancoba jadi pemberani. Sebaiknya aku gosok gigi sekarang.” Mi Young pun masuk ke dalam kamar mandi.

************

Waktu yang sama, @balkon kamar Min Ah (yang sekarang ditempati Mi Young)….

Seorang pemuda bermantel hitam panjang masih berdiri di balkon, di depan jendela kamar. Walau kini gorden kamar itu tertutup rapat, tapi pemuda itu masih bisa melihat ke dalam kamar itu dengan jelas. Pemuda itu sanggup memandang menembus tembok yang tebal sekalipun.

Ketika gadis bermata abu-abu itu masuk ke dalam kamar mandi, si pemuda membalikkan badannya dan menatap rembulan yang terhalang awan. Angin dingin menusuk tubuh kurus pemuda tampan itu. Pemuda itu tersenyum ke arah langit. Kemudian, secepat kilat ia melompat dari balkon lantai 3 rumah itu, dan mendarat dengan mulus di jalanan yang keras. Sepertinya malam ini ia akan menikmati waktu luangnya.

“Tenang saja…, masih banyak waktu. Aku tidak akan tergesa-gesa.” Suara pria itu mengalun merdu. Ia berbicara kepada dirinya sendiri, sambil berjalan dengan kecepatan normal. Beberapa gadis berpakaian minim menatapnya penuh minat. Pemuda tampan itu hanya tersenyum sekilas.

“Apakah besok akan ada kejadian menarik?” pemuda itu berkata pelan sambil memandang bulan yang mulai muncul perlahan. Tanpa memedulikan sekitarnya, ia terus saja berjalan menembus dinginnya malam.

*********

Keesokan harinya……

“Agaesshi…, ayo bangun.., sudah pukul 6. Agaesshi harus siap-siap.” Kata Nyonya Han, salah satu pengurus rumah Min Ah.

“Tidak biasanya agaesshi bangun telat seperti ini. Sudah seminggu ini agaesshi bangunnya telat terus. Apa agaesshi begadang karena berlatih piano dan biola?” Tanya nyonya Han.

“Mmmmmmmm….” Mi Young mengerang. Membalikkan badan-nya ke samping sambil memeluk guling.

“Agaesshi.., ayo bangun.., Tuan Jae Joong baru saja datang. Tuan memasak banyak sekali makanan kesukaan agaesshi. Ayo.., agaesshi.., agaesshi harus siap-siap pergi ke sekolah.”

Mi Young langsung bangun, terduduk tegak. “Mwo??? Jae Joong???? Oppa-ku???”

Nyonya Han menatap Mi Young dengan pandangan aneh. “Ne, agaesshi.”

Mi Young mengucek-ngucek matanya. “Gomawo, Nyonya Han. Aku akan mandi dulu.”

Nyonya Han pun keluar dari dalam kamar.

“Huwaaahhhhh.., bagaimana ini???? Ini pertama kalinya aku akan berhadapan langsung dengan keluarga Min Ah!!! Saat ibunya Min Ah menelepon ke rumah ini sih… aku masih merasa agak tenang, karena dia tidak melihatku langsung! Huwaaahhhh.., bagaimanaaaaa???? Telepon Min Ah… telepon Min Ah.” Mi Young heboh sendiri. Cepat-cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi Min Ah. Terdengar nada sambung. “Ayooooo….cepat angkaaattt, Min Ah!!!” gerutu Mi Young kesal. Dia mencoba menghubungi Min Ah lagi, tapi tetap tidak di angkat. “Min Ah sedang apa sih? Mandi?” Mi Young melirik jam, “Huwaaaahhhhhhh…, aku harus segera mandiiiii….” Cepat-cepat ia melesat ke kamar mandi.

Setelah mandi, memakai seragam sekolah, dan berdandan rapi, Mi Young pun turun ke lantai 1. Seorang pemuda tinggi, berambut pirang dan agak gondrong terlihat sedang menata makanan di meja makan. Pria itu memakai celemek.

Mi Young menuruni tangga perlahan, sambil mengamati sosok pinggir pemuda itu. Kim Jae Joong. Oppa-nya Min Ah, dan sekarang menjadi Oppa-nya!

“Sebelum pergi ke sekolah, sebaiknya kau makan omelette favoritmu dulu, Min Ah. Oh ya, aku yang akan mengantarmu ke sekolah, aku sudah menelepon Young Min barusan.” Kata Jae Joong, tanpa menoleh ke arah Mi Young. Jae Joong masih menata makanan di atas meja.

Dengan ragu, Mi Young pun berjalan mendekati Jae Joong. “Oppa.., aku kangen sekali pada Oppa.” Kata Mi Young, dengan nada bicara Min Ah. Mi Young pun menarik kursi dan duduk. Mi Young meraih segelas susu cokelat, lalu meminumnya sedikit.

Kim Jae Joong menoleh, untuk pertama kalinya ia menatap mata Mi Young secara langsung. Mereka berdua sama-sama terdiam. Kemudian….

“Siapa kau?” Tanya Jae Joong. Wajahnya datar, tanpa ekspresi.

Mi Young membelalakkan matanya. ‘Huwaaaahhhhh…, bagaimana ini???? Masa aku langsung ketahuan?????!!!!!!!!!’ Kata Mi Young dalam hati.

Jae Joong menatap Mi Young lekat-lekat. “Siapa kau?” tanyanya sekali lagi.

–       TBC –

Jangan lupa komennya ya ^^v

*note : Min ho bakal jadi support cast yang cukup penting, buat Key, Onew dan Jonghyun bakal muncul juga >0<, author ga punya duit (?) banyak, jadi cuma bisa ngecast mereka bertiga jadi cameo ntar J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “Secret Wish – Part 2”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s