The Sweet Summer – Part 12

The Sweet Summer (Part 12)

Tittle                : The Sweet Summer (Part 12)

Author             : Ichaa Ichez Lockets

Main Cast        : Shin Hye Rin, Shin Eun Kyo, Lee Taemin, Kim Ki Bum (Key), Choi  Minho, Kim JongHyun (Jjong), Lee Jin Ki (Onew).

Genre              : Friendship, Romance, Family.

Length             : Series (Chaptered)

Rating             : PG

Desclaimer      : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

            “Sebenarnya kita mau pergi kemana Unnie?” tanya Hye Rin penasaran saat Eun Kyo tiba-tiba mengajaknya tanpa memberi tahu kemana mereka akan pergi.

            Eun Kyo hanya tersenyum lalu menoleh sekilas ke arah Hye Rin yang duduk disampingnya. Tak ada jawaban, membuat Hye Rin mengerucutkan bibirnya yang mungil.

            Kemudian keduanya kembali diam sementara kebisingan penumpang lain didalam bus yang mereka tumpangi terdengar sangat berisik.

            “Nah sudah sampai.” Seru Eun Kyo lalu menggandeng doangsaengnya turun dari bus.

            “Eh? Unnie? Kenapa kau membawaku kemari?” Hye Rin menggaruk kepalanya saat melihat puluhan toko serta ribuan pelanggan memenuhi jalan setapak tepat didepan matanya. Suasana ini sama persis seperti terakhir kali Hye Rin kemari bersama Key seminggu yang lalu.

            “Unnie…”

            “Mwo?”

            “Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tiba-tiba mengajakku kemari?” tanya Hye Rin di tengah keramaian.

            “Ehm apa salah kalau Unnie ingin mengajakmu jalan-jalan? Lagipula kita sudah lama sekali tidak jalan-jalan seperti ini bukan?”

            Hye Rin diam sambil berfikir. Sepertinya ucapan Eun Kyo ada benarnya juga. Sudah lama sekali mereka tidak berjalan-jalan seperti ini sejak kedatangan ketiga namja itu di sanggojaenya. Dan bahkan Hye Rin lebih sering pergi bersama Taemin atau Key ketimbang unnienya sendiri.

            “Masuk kesini yuk, saeng.” Ajak Eun Kyo seraya menggandeng Hye Rin ke dalam toko pernak-pernik yeoja.

            Begitu masuk, Eun Kyo langsung menyambar rak yang penuh berisi jepit rambut serta beberapa aksesoris lain. Sedangkan Hye Rin justru geli melihat keadaan disekitarnya yang berbau pink.

            “Saeng, mana yang lebih bagus?” tanya Eun Kyo sambil menunjukkan dua buah jepit rambut ditangannya. Yang satu berwarna biru muda dan yang satu lagi berwarna purple cerah.

            Hye Rin mengerutkan dahi kemudian mengambil jepit rambut berwarna hitam dari atas rak, “Kurasa yang ini lebih bagus.” Ucapnya.

            Eun Kyo langsung tertawa melihat pilihan Hye Rin. Dia tahu benar kalau Hye Rin memang bukan konsultan yang tepat dalam hal ini.

            Setelah puas membeli barang di toko pertama, akhirnya mereka pindah ke toko kedua. Disana Eun Kyo tampak jeli melihat  deretan baju yang tergantung rapi disisi dinding. Beberapa kali ia mengambil baju itu, menempelkannya pada Hye Rin, kemudian mengembalikannya lagi. Sampai pada sebuah dress yang ia pikir cukup menarik.

            “Sepertinya ini cocok untukmu, saeng.”

            Hye Rin yang tadinya melamun langsung menggeleng. “Andwae! Aku tidak suka memakai baju seperti ini.”

            “Tapi kau terlihat cantik jika memakai baju ini. Persis seperti saat kau berdandan waktu itu.” Eun Kyo mencoba membujuk Hye Rin.

            “Aku tidak suka menjadi cantik, unnie!” Ucap Hye Rin tegas. “Aku sudah berjanji kalau aku tidak akan menjadi cantik lagi!!”

            Hye Rin sendiri tidak tahu kenapa ia bisa berkata sepedas itu. Benar-benar sebuah kalimat yang mampu membuat Eun Kyo mendadak kecewa mendengarnya.

            “Ya sudah, tidak pa-pa jika kau tidak mau. Maafkan unnie jika ini justru membuatmu marah. Tapi unnie hanya ingin membelikanmu sesuatu. Itu saja.”

            Mendengar ucapan Eun Kyo, Hye Rin jadi mendadak menyesal telah mengatakan kalimat tadi. Jika saja ia diberi kesempatan, Hye Rin benar-benar ingin menariknya kembali. Setidaknya hanya untuk membuat Eun Kyo tidak kecewa seperti ini.

            “Ehmm…” Hye Rin mencoba berfikir sambil menatap Eun Kyo dalam. “Jika unnie ingin membelikanku sesuatu, maka es krim lah yang terbaik.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.

            Eun Kyo sempat terdiam. Tapi sejurus kemudian senyum manis terkembang di wajahnya. “Ne~ Kajja!” ajaknya seraya mengapit lengan Hye Rin keluar toko.

***

            “Bagaimana? Apa eskrimnya enak?” tanya Eun Kyo yang hanya dibalas oleh anggukan cepat oleh Hye Rin.

            “Apa kau mau lagi?”

            Hye Rin menggeleng, “Tidak usah. Lagipula ini sudah es krim yang ke empat. Kekeke. Gomawo unnie.”

            “Cheonmaneyo saeng.” Ucap Eun Kyo sambil tersenyum. Kemudian ia mencoba merenggangkan tubuhnya di sandaran kursi kedai untuk mengurangi rasa lelah karena berjalan kaki selama beberapa menit sebelumnya.

            “Saeng…”

            “Hem?”

            “Apa unnie boleh bertanya sesuatu?”

            “Mwo?” tanya Hye Rin masih asik dengan jilatan es krimnya.

            “Menurutmu, Minho itu namja yang seperti apa?”

            GLEK! Hye Rin tiba-tiba terdiam. Moodnya berubah. Tanpa ekspresi ia membalas tatapan Eun Kyo yang duduk di seberang mejanya.

            Minho? Kenapa Eun Kyo tiba-tiba bertanya tentang Minho? Apa Eun Kyo tidak tahu kalau Hye Rin sangat sensitive ketika mendengar nama namja itu?

            “Saeng?” tanya Eun Kyo lagi.

            Hye Rin tak menjawab.

            “Apa kau juga berfikir kalau Minho itu sangat tampan?” Eun Kyo masih saja meneruskan ucapannya. “Minho juga baik hati. Dia sangat dewasa… dan juga perhatian. Hanya saja terkadang sulit mengungkapkan perasaannya secara langsung…”

            Apa lagi ini? Kenapa Eun Kyo bisa tahu sekali sifat Minho? Sifat yang bahkan Hye Rin sendiri tidak pernah mengetahuinya.

            Baik Eun Kyo maupun Hye Rin sama-sama terdiam sekarang. Eun Kyo terlihat sibuk mengaduk kopi pesanannya. Sedangkan Hye Rin justru melamun memandangi cone ice cream yang sekarang sudah mulai meleleh membasahi jari-jarinya yang dingin.

            Hye Rin benar-benar tidak menyangka Eun Kyo bisa mengatakan hal seterus terang ini. Tanpa diungkapkan pun Hye Rin tahu kalau nyatanya Minho memang lebih dekat dengan Eun Kyo daripada dirinya. Tapi bisakah Eun Kyo menjaga perasaannya sedikit saja? Bukannya malah membuat hatin Hye Rin semakin terasa sakit seperti ini.

            “Ehm… sepertinya Minho memang namja yang sempurna.” Lanjut Eun Kyo tanpa memperdulikan ekspresi wajah Hye Rin yang sudah berubah masam. “Kalo menurutmu sendiri, bukankah Minho terlihat cocok jika menjadi …”

            “Sebaiknya kita pulang.” potong Hye Rin sebelum En Kyo sempat menyelesaikan kata-kata terakhirnya. Tanpa diucapkanpun Hye Rin tahu pasti ujung-ujungnya Eun Kyo hanya akan menceritakan tentang hubungannya dengan Minho.

            Sebelum emosi Hye Rin meledak lagi, sepertinya pergi secepat mungkin adalah pilihan yang tepat.

            “Eh? Tapi kau belum menghabiskan es krim mu Hye Rin.”

            Hye Rin tak menanggapi teriakan Eun Kyo. Ia justru pura-pura tidak mendengarnya sambil berjalan keluar kedai tanpa mengajak Eun Kyo serta.

            “Chakkaman! (tunggu).” Panggil Eun Kyo. “Ada apa Hye Rin? Kenapa kau tiba-tiba mengajak unnie pulang seperti ini?” Eun Kyo mencoba mengekor Hye Rin yang tampak cuek melintasi trotoar.

            “Ani. Aku hanya baru teringat kalau ada pesanan kue yang harus segera diantar.” Ucap Hye Rin tergesa sambil menyeberang melalui zebra cross.

            “Um.. tapi bukankah…”

            TIIIINNNN! Saat itu juga terdengar suara klakson dari sebuah truk yang akan melintas. Dengan cepat Hye Rin menoleh ke arah unnienya yang berdiri ditengah jalan – tepat beberapa meter dari ujung truk itu.

            “Unnie! Awas!!” teriak Hye Rin keras.

***

            Tanpa dikomando, tempat itu langsung dipenuhi orang-orang yang ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Begitu ramai, dan terlihat jelas kepanikan menyertai langkah mereka saat berjalan mendekat.

            “Gwenchanayo, Hye Rin-ah !?!?” tanya Eun Kyo panik sambil meraih pundak Hye Rin.

            Hye Rin tak menjawab. Bahkan kedua matanya tertutup, membuat tangis Eun Kyo seketika pecah.

            “Saeng… mianhaeyo…” Eun Kyo tampak begitu sedih sekaligus khawatir akan keadaan Hye Rin.

            “Gwenchana, unnie. Aku baik-baik saja.” ucap Hye Rin akhirnya.

            “Joengmal?”

            Hye Rin mengangguk pelan. “Unnie juga tidak papa kan?”

            “Ne~.” jawab Eun Kyo dengan nada bicara yang bergetar. Tangis yeoja itu justru semakin keras.

            Hye Rin jadi tidak tahan jika harus melihat unnienya menangis seperti ini.

            Perlahan tangan Hye Rin mulai melingkar di bahu Eun Kyo kemudian memeluknya. Meski Hye Rin sempat merasa kesal hingga hatinya terasa begitu sakit saat Eun Kyo menceritakan bagaimana hubungannya dengan Minho, tapi nyatanya Hye Rin tetap rela mengorbankan nyawanya untuk Eun Kyo – unnie semata wayangnya ini.

            Setidaknya Hye Rin tahu, bahwa ia akan memberikan apa saja untuk kebahagiaan Eun Kyo walau perasaan Hye Rin sendiri yang harus menjadi korbannya.

***

            “Kau benar-benar tidak apa-apa kan saeng?” Eun Kyo terus menanyakan hal yang sama hingga mereka berdua kini sudah mencapai bibir pintu sanggojae.

            “Ne~ unnie. Lihat, tubuhku tidak ada yang terluka.” Ucap Hye Rin meyakinkan.

            “Syukurlah kalau begitu…”

            “Eum, tapi tolong jangan katakan hal ini pada mereka ya unnie.”

            Dahi Eun Kyo bertaut. “Waeyo saeng?”

            “Pokoknya jangan beritahu apapun. Aku tidak ingin membuat mereka cemas lagi. Sudah cukup waktu itu aku membuat mereka khawatir karena maag sialanku ini kambuh. Lagipula aku juga baik-baik saja.”

            Eun Kyo terdiam sejenak, menghela nafas kemudian mengangguk.

            Hye Rin pun akhirnya tersenyum sambil membuka pintu sanggojae. Namun anehnya siang itu sanggojae tampak begitu sepi. Tak ada tanda-tanda kehadiran orang disana.

            “Annyeong! Aku pulang!”

            Tak ada yang menyahut.

            “Annyeong!” teriak Hye Rin lagi. Kali ini ia mulai berjalan mendekati sanggojae dan perlahan menggeser pintu ruang keluarga yang tampak tertutup.

            “SURPRISE!”

            Hampir saja Hye Rin melompat saking kagetnya saat mendengar teriakan keras begitu pintu ruang keluarga terbuka. Mulut Hye Rin menganga sementara kedua matanya melotot lebar. Ia tak percaya akan apa yang baru saja dilihatnya diruang itu.

                        ‘Aigoo~ sebenarnya ada apa ini?’ batin Hye Rin heran.

-To Be Continue-

            Wowowow, kira-kira ada apa ya yang terjadi di dalam ruang keluarga? Pasti pada nebak2 nih! Ayo2 yang tebakannya bener bakal author kasih ucapan selamat (?)

            Kekeke~ mian ya, part ini lagi-lagi masih nyembunyiin member SHINee yang lain. ^^v

            Tapi author janji next part bakalan keluar semuanya dalam satu part! Hahahaha *ketawa ala kentung (?)

            Etsss, jangan lupa komennya ya~

GAMSAHAMNIDA SEMUANYAA~ *hug all readers*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “The Sweet Summer – Part 12”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s