Archangel – Part 15

Archangel – Part 15

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : NC 17+

A/N                 : “Sebelumnya minta maaf dulu nih, part ini saya kasih rating NC 17+. Awalnya NC 17 ajh, tapi setelah dibaca lagi kayanya ini mendekati NC21. Saya juga ga tau ko jadi nya bisa gini nih NC nya? .kekekek. oKEY deh, into the story yaaah, jangan lupa saran dan kritik yang membangun sangat ditunggu😀 “

Hye ri kembali berdecak kesal, ia tak henti mondar-mandir di ruang tengah sambil memegangi ponsel flip ungu nya. Hati nya tidak tenang, ke mana pergi nya Key? Sudah pukul 23 malam, dan Key sama sekali  tidak memberinya kabar. Oh! apa ia mabuk lagi bersama Jinki? Tapi mereka tidak pernah selarut ini.

Disibakkannya lagi tirai jendela ruang tengah, matanya menjelajah ke jalanan yang hanya diterangi lampu redup. Mobil hitam itu masih belum juga melewati jalan itu. Hye ri kembali mondar-mandir di ruang tengah setelah menutup tirai.

Ia kembali men-dial ponsel nya, memanggil nomor yang entah sudah berapa kali ia hubungi. Dan hasil nya tetap nihil, ke mana pergi nya Key?

Hye ri menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa hijau, mendesah ringan sambil memejamkan kedua matanya. Sungguh! Ia benar-benar cemas, apa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Key? Seketika pikiran Hye ri mulai menerawang, membayangkan hal-hal aneh tengah menimpa Key. Apa perampok telah mencegat nya di tengah jalan? Atau ada mafia yang menculiknya? Atau mobilnya menabrak sesuatu? Oh! ya Tuhan!

Hye ri segera beranjak dan kembali mondar-mandir, tangan yang memegang ponsel ia gerak-gerakkan tak beraturan. Sementara ia mulai menggigit bibir bawahnya, perasaan cemas itu terus menyelimuti nya semakin erat.

Hatinya benar-benar merasa takut jika hal buruk tengah menimpa Key. Entahlah! Hye ri tidak mengerti mengapa ia begitu mencemaskan Key setiap kali namja itu pulang terlambat atau pergi ke suatu tempat tanpa sepengetahuan Hye ri.

Yeoja itu berlari saat seseorang menekan bel dari luar. Seperti biasanya, bau alkohol menyeruak tajam saat dua orang namja itu masuk. Hye ri segera memposisikan diri seperti biasanya, membopong salah satu lengan Key dan membawa nya ke kamar bersama Jinki.

Tidak seperti biasanya, kini Key terus meracau selama Hye ri dan Jinki memapahnya ke kamar. “Hahhh! Kau benar! Hidupku sangat berantakan!” membuat Hye ri dan Jinki saling berpandangan. Hye ri sempat berjengit saat menyadari bahwa Jinki tidak mabuk.

Keduanya menghempaskan tubuh Key ke atas ranjang, Key terlihat benar-benar kacau sementara mulutnya terus meracau tentang semua masalah-masalahnya.

Jinki segera menahan tangan Hye ri saat yeoja itu hendak mengambil sesuatu dalam lemari pakaian. “Aku tidak akan membantumu.” Membuat Hye ri tercengang.

“Kau istri nya, jadi kau yang harus merawat dan mengganti pakaiannya. Sampai jumpa.” Jinki melenggang begitu saja. Hye ri sempat mengejar dan memanggil-manggil nama nya, tapi pikiran Jinki sibuk dengan masalahnya sendiri bersama Kim Aeri. Ia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada Key dan Hye ri malam ini. Tugas nya sudah selesai.

***

Piyama itu dipegang nya erat-erat, sambil menggigit bibir bawahnya ia memandang Key ragu. Apa yang harus dilakukannya? Menggantikan pakaian Key? Jangan gila! Tapi jika ia membiarkan seperti itu hingga pagi… Aish!

Hye ri kembali berjalan mondar-mandir di hadapan Key, diliriknya lagi jam dalam ponsel nya. Nyaris pukul 24 malam, siapa yang bisa ia mintai tolong? Tetangga? Itu sama saja membongkar rahasia rumah tangga nya.

Piyama itu disimpan nya di samping tubuh Key, sekuat tenaga Hye ri berusaha membalikkan tubuh Key yang tertelungkup. Dasi yang sudah berantakan itu segera Hye ri lepaskan, kemudian mulai membuka kancing ketiga kemeja putih Key sambil menatap lantai.

“Oh! Min Hye ri…” Key membuka kedua matanya, kemudian ia terkekeh. Hye ri tidak mempedulikannya, dan terus membuka kancing kemeja Key, berharap ia segera sampai di kancing terakhir.

Kancing terakhir telah selesai ia buka, kini Hye ri mulai melepas kemeja Key sambil memalingkan wajahnya. Tidak mudah melepaskan kemeja Key, di mana namja itu terus bergerak.

Hye ri baru saja menarik kemeja Key yang berhasil ia lepaskan saat namja itu tiba-tiba menarik kedua tangannya. Mendekap Hye ri, membuat bau alkohol tercium pekat di hidung Hye ri.

Yeoja itu mendorong dada Key ringan, ia tidak berpikiran bahwa suaminya akan kembali menariknya kemudian dalam satu hentakan mendorong Hye ri ke atas ranjang. Membuat Key kini berada di atasnya.

“Apa yang kau lakukan?” Hye ri kembali mendorong dada Key, berusaha beranjak. Tapi namja itu menahannya, mencengkeram kedua tangan Hye ri di samping kepalanya. Minuman keras itu telah menguasai diri Key, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hye ri “Apa yang kulakukan?” Key memalingkan wajahnya sekilas kemudian terkekeh “…melakukan yang ingin kulakukan.”

Hye ri menahan nafasnya saat Key mulai menciuminya kasar, sementara kedua tangannya berusaha melepas cengkeraman Key. “Stop it Key! You are drink!” Hye ri memalingkan wajahnya.

Satu tangan Key segera menangkup wajah Hye ri agar kembali berhadapan dengannya, kemudian dengan terburu-buru ia kembali menciumi Hye ri, membuat yeoja itu mulai ketakutan.

“Hmppp… get away from…hmmpp…me!!!” Hye ri terus memalingkan wajahnya, sekuat tenaga tangannya berusaha lepas dari Key. Ciuman yang diberikan Key tidak lagi membuatnya terbuai, itu bukan ciuman lembut dan mesra seperti biasanya. Melainkan ciuman yang sarat akan nafsu.

Hye ri segera mendorong tubuh Key saat tangannya berhasil lepas.

Tenaga Hye ri cukup kuat, membuat Key nyaris tersungkur ke lantai. Ditatapnya Hye ri yang baru saja beranjak dari ranjang “Where are you going baby?” kemudian ia menarik tubuh Hye ri dan menyudutkannya ke dinding.

“Arrghht! Sakit Key!” yeoja itu meringis saat punggung nya membentur dinding.

Key tidak menanggapi Hye ri, ia terus menghimpit tubuh Hye ri ke dinding kemudian mulai membelai wajah Hye ri.

You are getting scared now, right?” Key mendekatkan wajahnya ke wajah Hye ri dan segera menciuminya dengan liar. Hye ri memukul-mukul dada Key sambil mengatupkan bibirnya. Tapi itu membuat Key semakin geram, berkali-kali Key mendesak lidahnya masuk ke dalam mulut Hye ri.

Tak kunjung mendapat respon yang diinginkan, kini tangan Key mulai beraksi. Satu tangannya mulai menjamah leher Hye ri, menuruni tubuhnya dan berhenti di atas dadanya. Yeoja itu semakin ketakutan, tubuhnya seperti merasakan sengatan listrik saat tangan Key menjamah bagian sensitifnya.

“Hentikan Key! Ahhh….” Desahan itu lolos begitu saja dari mulut Hye ri saat tangan Key mulai meremas dadanya, membuat nafsu Key semakin tersulut.

Key berhenti menciumi Hye ri, ditatapnya wajah yeoja itu kemudian menyeringai “Kau menginginkannya bukan?” kemudian menciumi Hye ri dengan liar, tangannya terus meremas dada Hye ri semakin kuat.

Key melepas ciumannya yang tak kunjung mendapat respon “ Oh! kau sudah melepas kemejaku Min hye ri. Nowit’s my turn baby.” Tangan Key yang lain mulai membuka kancing dress tidur Hye ri, sementara bibirnya berpindah pada leher Hye ri.

Hye ri segera membelalakkan kedua matanya, ini benar-benar membuatnya takut. Apa yang akan dilakukan Key? Didorongnya lagi tubuh Key sekuat tenaga, tapi itu tidak membuahkan hasil. Dan justru membuat Key semakin menjadi.

Key terus menjamahi tubuh Hye ri, membuat yeoja itu menggelinjang pelan, menahan desahan dari bibirnya. “Hhhentikan Key!” Hye ri menarik wajah Key yang masih menjelajahi lehernya, menatap Key dengan matanya yang mulai sayu. Perlakuan Key benar-benar membuat Hye ri kewalahan, ia tidak tahu mengapa sentuhan-sentuhan itu terasa bagai candu mematikan bagi tubuhnya. Membuat tubuhnya seolah menginginkan sentuhan yang lebih dari itu.

Key tersenyum melihat Hye ri yang mulai kewalahan “Berhenti menolakku Min Hye ri!” ia kembali membuat tanda cinta di leher istrinya.

Hye ri memejamkan matanya sambil menahan nafas, ini aneh! Ia benar-benar ketakutan, tapi di sisi lain tubuhnya benar-benar menginginkan sentuhan ini. Apa yang harus dilakukannya? Pikirannya mulai menerawang pada drama-drama di mana adegan seperti ini terjadi, dan berujung pada hal yang diinginkan Key.

SIRHEO!” Hye ri mengumpulkan kesadarannya, ini bukan Key! Key tidak akan menyentuhnya sekasar ini, Key bahkan tidak akan berani menyentuhnya. Didorongnya lagi tubuh Key agar menjauh, kemudian tangannya berusaha mengancingkan dress tidurnya.

Airmata Hye ri mulai menetes saat ia melihat Key menatapnya tajam, menatap dengan kedua mata merahnya yang dikuasai alkohol. Key melepas kaus dalamnya dan kembali menghimpit Hye ri ke dinding “BERHENTI MENOLAKKU!” ia berteriak di depan wajah Hye ri sebelum akhirnya kembali melucuti kancing dress tidur Hye ri kasar.

Andwae! Andwae Key! Hentikan!” airmata Hye ri jatuh semakin deras, baru kali ini Key membentaknya dan membuat hatinya sakit.

“Aku ingin kau menjadi milikku baby…” Key berbisik di telinga Hye ri, kemudian menatap wajah yeoja itu.

“…. Kau milikku.” Yeoja itu menggeleng-gelengkan kepalanya seiringan dengan airmata yang terus menetes.

Andwae…” kini hanya bisikkan kecil yang keluar dari mulutnya, tangisannya telah pecah.

Key terus menjamahi tubuh Hye ri, melampiaskan gejolak dalam dirinya. Nafasnya semakin memburu dan tak sabaran, sambil menciumi Hye ri, namja itu mulai menyisipkan tangannya ke dalam dress tidur Hye ri yang telah terbuka.

ANDWAEEE!!!” Hye ri menjerit ketakutan, ia mendorong tubuh Key lagi. Sambil mengacingkan dress nya, yeoja itu berusaha lari meninggalkan kamar.

Key tidak suka saat Hye ri terus menolaknya, ia menarik tubuh Hye ri saat yeoja itu hendak menggapai kenop pintu. Pintu kamar itu segera dikuncinya kemudian menghimpit tubuh Hye ri ke pintu.

Dicengkeramnya kedua tangan Hye ri “Sakit! Lepaskan!” Hye ri meronta-ronta sambil menundukkan kepalanya.

Nafas Key semakin memburu, ia menangkup wajah Hye ri agar menatapnya “BERHENTI MENOLAKKU MIN HYE RI! KAU MILIKKU! KAU MILIKKU! ARASSEO?!” teriak Key lagi.

Hye ri menatap Key dengan wajah mengiba “Andwae, andwae…” kalimat pendek itu segera terpotong oleh teriakkan Key yang memekakan telinga Hye ri “KAU MILIKKU MIN HYE RI!!! BUKAN MILIK NAMJA YANG SUDAH MATI ITU!!!!”

Plaaaakkkkkk!!!!

Entah kekuatan dari mana, kedua tangannya terlepas dari cengkeraman Key. Dan dalam satu gerakan tanpa perintah dari otak, ia menampar Key. Apa yang baru saja dikatakan Key? Namja yang sudah mati?

Key diam, ia masih memegangi pipi kirinya yang ditampar Hye ri. Tamparan itu membuat kesadarannya berangsur kembali.

Hye ri masih membelalakkan matanya, nafasnya sedikit memburu dan tubuhnya mulai gemetar. Ia tidak percaya bahwa tangannya telah menampar Key, ia benar-benar tidak bermaksud melakukannya. Tangannya bergerak begitu saja saat kalimat yang tidak pantas itu ditujukkan untuk Minho – orang yang paling dicintai Hye ri.

Perlahan Key mengangguk-anggukkan kepalanya, ia kemudian menatap Hye ri sambil terus memegangi pipinya yang mulai terasa panas.

Kedua mata Key mulai digenangi benda cair, pengaruh alkohol itu tidak sepenuhnya menguasainya lagi.

Key menatap Hye ri yang terlihat kacau. Pakaian yeoja itu amat berantakan dengan kancing yang telah terbuka, kedua matanya sembab dan air mata terus menetes. Sesaat Key mengutuki dirinya, apa yang baru saja dilakukannya pada Hye ri? Ia telah menyakiti Hye ri dengan membuat yeoja itu ketakutan.

Bibir Hye ri masih bergetar, ia berusaha mengucapkan sesuatu dengan sisa tenaganya “Hen…tikan…” kemudian kembali terisak.

Key memaksakan seulas senyum, hatinya benar-banar sakit. “Geurae.” Ia kemudian berjalan, meraih kemeja nya di lantai dan mengunci diri dalam kamar mandi.

***

Pukul 00 : 37.

Hye ri memaksakan diri berjalan menuju meja rias sambil mengancingkan bajunya. Ia kembali terisak saat menatap tanda merah menyebar di lehernya, itu sangat menakutkan. Dengan tangan gemetar ia meraih sisir di atas meja dan merapikan rambutnya yang berantakan.

Airmatanya terus mengalir selagi ia merapikan rambutnya, hatinya masih terasa sakit dengan perlakuan Key beberapa menit yang lalu. Ia masih tidak percaya jika alkohol bisa merubah Key menjadi seliar itu. Apa jadinya jika tamparan itu tidak pernah mendarat di wajah Key?

Hye ri kembali terisak. Itu wajar, mereka adalah suami istri dan sudah menikah hampir satu tahun. Tapi sungguh! Hye ri tidak bisa memberikan apa yang Key inginkan, ia tidak bisa membiarkan Key menyentuhnya. Hanya Minho yang boleh menyentuhnya.

Tangisan Hye ri akhirnya pecah, ia kembali mengingat perkataan Key. Benar! Minho adalah namja yang telah tiada. Sebesar apa pun rasa cinta Hye ri pada Minho, itu tidak akan membuat Minho hidup kembali. Tapi tidak seharusnya Key mangatakan kalimat menyakitkan seperti itu.

“Minho-ya, apa yang harus kulakukan?” bisik hye ri lirih.

Hye ri beranjak, mengambil selimut dari dalam lemari dan hendak memutar kenop pintu saat ia mendengar suara pecahan kaca dari dalam kamar mandi.

Ia tersentak! Key, apa yang terjadi? Hye ri melempar selimutnya sembarangan, berlari menuju pintu kamar mandi yang terkunci. Ingin sekali menggedor pintu dan berteriak untuk memastikan apa yang terjadi, tapi Hye ri masih ketakutan.

Dengan gelisah ia terus menyimak suara-suara dalam kamar mandi, tak ada suara lain selain kucuran air dari shower.

***

Key mengunci pintu kamar mandi, dipakainya kemeja putih yang baru ia pungut dari lantai sebelum akhirnya menyalakan shower.

Ia berdiri tepat di bawah shower, membiarkan kucuran air dingin itu mengguyur tubuhnya. Membuat kesadarannya semakin pulih. Key terus menggosok-gosok rambutnya, pikirannya sibuk memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Klise itu kembali berputar dalam ingatan Key, bagaimana alkohol itu menguasai dirinya dan membuatnya nyaris saja melukai Hye ri. Tidak! Ia telah melukai Hye ri dengan membuat yeoja itu ketakutan.

“Arrrgghhhttt!!!” Key mengerang pelan, mengutuki kebodohannya. Berkali-kali ia meninju tangannya ke dinding keramik kamar mandi, tapi itu tidak membuat perasaannya membaik.

Ia malah merasa semakin kacau saat mengingat apa yang selanjutnya terjadi. Hye ri menamparnya saat kalimat itu meluncur dari mulut Key, kalimat yang tanpa sadar ia tujukan untuk Minho yang tidak pernah bisa Hye ri lupakan.

Key mulai menangis, menyembunyikan airmatanya bersamaan dengan air yang mengguyur tubuhnya. Dada nya benar-benar sesak, perasaannya sakit. Akan berapa lama lagi ia harus membiarkan Hye ri teralarut dalam dunianya bersama Minho? Tidak adakah sedikit saja celah baginya?

Key bergerak perlahan, menatap wajah menyedihkannya dalam cermin kecil di samping shower. Hidupnya telah benar-benar kacau, ia tidak bisa membuat Hye ri mencintainya sedikitpun, bahkan setelah satu tahun pernikahan mereka.

Airmata Key semakin deras, ia semakin membenci dirinya yang gagal dalam menjalani hidup. Pikirannya mulai menerawang pada kejadian beberapa tahun silam, di mana ia begitu menginginkan sebuah kehidupan. Tapi sungguh! Ia tidak menginginkan kehidupan yang seperti ini.

Dada Key semakin sesak, ia tiba-tiba saja merindukan sosok eomma yang selalu menemani dan menjaganya. Melindungi dan tidak akan membiarkan Key terluka seujung jari pun. “Eomma…” gumam Key pelan, kini Key sangat terluka, lebih dari seujung jari. Luka itu begitu besar menganga dalam hatinya.

Praaanggggggg…..

Dalam satu gerakan Key meninju cermin yang memantulkan bayangan orang paling menyedihkan.

Serpihan-serpihan kecil cermin itu berserakan ke lantai keramik, diiringi warna air yang berubah menjadi merah.

Key menatap nanar darah yang terbawa air itu, mengapa? Mengapa luka di hatinya justru lebih menyakitkan dari luka yang baru saja ia buat di tangannya?

Ia tersenyum pahit. Seluruh janji yang telah ia buat pada Hye ri, Minho dan Jonghyun tak ada yang bisa ditepatinya.

Baik ia dan Hye ri tidak bisa bertahan lebih lama lagi dalam keadaan ini. Hye ri benar, alangkah baiknya jika ia mulai memikirkan bagaimana untuk menghilangkan penderitaan ini.

***

KLEK

Pintu kamar mandi terbuka, Key berjalan gontai. Ia telah mengganti pakaiannya dengan kimono handuk berwarna putih.

Hye ri segera beranjak dari duduknya di tepi ranjang, dengan ragu berhambur ke arah Key. Ia berjengit saat mendapati tangan kiri Key berlumuran darah.

Tes

Airmata itu jatuh lagi, Hye ri tidak takut dengan darah. Ia menangis karena Key telah melukai dirinya sendiri, dan dirinya lah penyebabnya.

Hye ri menarik Key perlahan, memaksa namja itu untuk duduk di ranjang. Key tidak menolak, ia duduk begitu saja seperti yang diinginkan Hye ri. Yeoja itu kemudian beranjak, mengambil sebuah kotak dalam cabinet.

Ia duduk di hadapan Key, dengan tangan gemetar membuka kotak itu. Mengeluarkan obat yang diperlukan dan dengan telaten mengobati luka di tangan Key sebelum akhirnya membalut tangan Key dengan perban.

Key hanya memandangi lukanya, rasa perih segera menyerangnya saat cairan berwarna kecoklatan itu dikucurkan Hye ri pada lukanya. Tapi itu tidak seberapa, luka dalam hatinya jauh lebih menyakitkan dari ini.

Airmata Hye ri tak henti menetes selama ia mengobati luka Key, apa yang dipikirkan namja itu? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang lebih buruk? Hye ri menjauhkan tangannya dari tangan Key, kemudian memandang namja yang sedang menangis itu.

Manhi apa?” tanya Hye ri serak. Key hanya memandang Hye ri, menahan airmatanya. Perlahan ia menaruh tangan kiri nya di dada seraya menganggukkan kepalanya “yeogi, manhi apa.” , memandangi Hye ri dengan wajah sendu.

Yeoja itu hanya menundukkan kepalanya sambil terisak. “Mianhae…” Bisik Key. Hye ri hanya diam, seharusnya dia lah yang meminta maaf. Dia yang menyebabkan semua musibah ini, karena keegoisannya membuat semua orang terluka.

Mianhae…” bisik Key lagi. Hye ri mengangkat wajahnya, menatap Key sambil menggelengkan kepala. “Mianhae, aku tidak bisa menepati janjiku padamu…” membuat Hye ri berhenti menggelengkan kepalanya. Ternyata Key meminta maaf untuk hal lain.

Key tidak bisa menahan airmatanya lebih lama, membiarkannya meluncur bebas ke atas seprai. “… pada eomma mu, pada Minho… dan Jonghyun…” lanjutnya, dan airmatanya semakin deras.

Bibir Hye ri bergetar, ia ingin sekali mengatakan bahwa ia lah yang bersalah dalam hal ini. Tapi nyata nya bibirnya tak mampu mengucapkan sapatah kata pun, hanya airmata pilu yang mewakilinya.

Key memejamkan matanya, membiarkan airmata menyakitkan itu rilis. Berharap kesakitannya jatuh bersama airmatanya. “Kita harus mengakhiri ini Min Hye ri.” Ucap Key begitu saja, hatinya begitu sakit saat mengucapkan kalimat itu.

Hye ri berjengit, ia sempat tertegun mendengar ucapan Key. Nyaris tak percaya Key mengucapkan kalimat itu padanya. “If we end this, there would not be pains,  tears and…. “ Key menundukkan kepalanya, tak kuasa melanjutkan kalimatnya.

“…You are able to love Minho, for the rest of your life. And I will not be waiting for the uncertain day anymore….” Lanjut Key, ia mengusap airmatanya dan memaksakan seulas senyum.

Deg!

Kalimat itu begitu menusuk hati Hye ri, memang ini yang diinginkan Hye ri sejak awal masa pernikahan mereka. Berpisah dari Key karena ia tidak pernah mencintainya. Tapi mengapa kalimat Key membuatnya sedih? Ada perasaan aneh yang melesat dan memenuhi dadanya, membuatnya sesak dan sulit bernafas.

Hye ri diam, memandangi Key yang masih menatapnya seolah menunggu jawaban. Hye ri tidak boleh egois, ia memang tidak mengerti dengan perasaan aneh yang membuatnya entah mengapa tidak rela mengiyakan perpisahan dari Key. Tapi jika itu artinya mengakhiri penderitaan Key, tidak ada yang perlu ia ragukan lagi.

We’ll end this soon.” Hye ri menganggukkan kepalanya, memaksakan seulas senyum meskipun airmatanya kembali jatuh.

Gomawo.” Key meraih kedua tangan Hye ri, memegang nya erat-erat seolah itu terakhir kalinya ia bisa memagang tangan Hye ri.

***

Hye ri berjalan menuruni tangga darurat, lift yang sedari tadi ditunggu nya tak kunjung naik ke lantai tiga. Dirapatkannya lagi coat ungu nya itu, angin yang berhembus melalui celah ventilasi benar-benar menusuk tulang nya.

“Min Hye ri.” Suara itu menahan langkah Hye ri, yeoja itu mendongakkan kepalanya.

Namja berambut coklat terang itu berjalan cepat menuruni tangga agar bisa menjangkau Hye ri, ia segera menggenggam pergelangan tangan Hye ri. Membuat yeoja itu menatap nya bingung.

Namja itu tersenyum “Ada sesuatu yang harus kita bicarakan.” Kemudian menarik Hye ri menuruni tangga. Ia menggenggam tangan Hye ri erat, seolah tak ingin melepasnya.

Hye ri tak mengatakan apa pun, ia membiarkan Key menariknya dan membawanya entah ke mana. Berharap Key membawa nya ke tempat yang menyenangkan, mungkin. Meskipun sebenarnya itu sangat tidak mungkin.

Key menepikan mobilnya di halaman sebuah rumah yang cukup besar yang didominasi dengan warna krem. Di samping rumah itu ada sebuah bangunan dengan tulisan ‘Pengacara Jung’. Hye ri melongokkan kepalanya dari jendela, mendesah ringan saat melihat tulisan itu. Kini ia tahu untuk apa Key membawanya ke mari.

Key tidak main-main dengan ucapan nya beberapa waktu yang lalu, ia benar-benar akan mengakhiri semuanya. Hye ri seharusnya senang, ini lah yang selama ini diinginkannya, tapi mengapa itu membuat dadanya sesak? Membuatnya kesulitan untuk bernafas.

Yeoja itu masih melamun saat Key menariknya ke luar mobil. Mengeratkan genggaman tangannya saat mereka menapaki halaman rumah pengacara Jung. Seorang pelayan segera membawa mereka ke salah satu ruangan tak jauh dari ruang tamu.

Hye ri hanya diam, hatinya merasa takut. Perasaan ini nyaris sama seperti saat ia dibawa ke ruangan Song seonsaengnim , sebelum akhirnya mereka memberiahu Hye ri bahwa Minho tidak terselamatkan.

Seorang namja bertubuh tinggi sedang segera menyambut mereka, menyalami keduanya dan mempersilakan duduk. Ruangan kerja nya cukup berantakan hari itu, beberapa dokumen berserakan di atas mejanya, sementara beberapa file besar terlihat tidak rapi di rak.

Ia memperkenalkan dirinya pada Hye ri, kemudian melempar pandang ke arah Key seolah mengatakan sesuatu.

“Jyaa. Hye ri-ya, Mr.Jung akan berbicara denganmu. Aku akan menunggu di luar.” Key tersenyum, ia kembali menggenggam tangan Hye ri sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.

Blam.

Pintu tertutup, seiringan dengan menghilangnya Key di balik pintu. Pengacara Jung menatap Hye ri, ia mengeluarkan sebuah map hitam dari laci nya.

“Mrs. Kim, kita bisa bicara di sana.” ia menunjuk sofa coklat kemudian berjalan ke sana. Hye ri hanya mengekor, pikirannya masih belum bisa mencerna bahwa Key akan benar-benar menceraikannya.

Pengacara Jung mulai menjelaskan bagaimana proses yang akan Key dan Hye ri lewati sebelum mereka bisa resmi bercerai. Tidak terlalu rumit, karena itulah spesialisasi Pengacara Jung. Membuat segala prosesnya lebih mudah dan cepat.

“Kalian hanya perlu menunggu satu bulan, dan semuanya akan selesai.” Ucap Pengacara Jung. Hye ri hanya diam, secepat itu kah?

“Mrs.Kim…” Pengacara Jung menutup map nya, kemudian memandang Hye ri lekat. Yeoja itu tidak menyahut, ia hanya memandang pengacara Jung seolah mengatakan ne.

“Bisa kutahu apa alasanmu ingin bercerai dari Mr.Kim? aku tahu setiap orang punya perspektif berbeda, tapi di mataku ia adalah namja yang sempurna.”

Hye ri diam, matanya memandang lantai marmer merah yang diinjaknya. Hye ri hendak mengatakan sesuatu saat Pengacara Jung kembali menyambarnya “Mr.Kim mengatakan kalian sudah tidak bisa bersama karena perbedaan prinsip hidup, tapi aku melihat cinta yang besar di mata nya.”

Pengacara Jung menatap Hye ri serius, ada segurat rasa iba yang terpancar dari mata nya. Hye ri hanya memandang Pengacara Jung yang mulai pudar karena genangan airmatanya. “Aku….” Digantungkannya kalimat itu, Hye ri berusaha untuk tidak menangis.

“…aku tidak mencintainya.” Lanjut Hye ri, suaranya serak dan begitu mengiba. Bibirnya mulai bergetar, dan airmata itu akhirnya menetes.

Pengacara Jung hanya diam, ini bukan pertama kalinya ia menangani kasus seperti ini. Ada banyak pasangan yang terpaksa harus berpisah meskipun mereka masih saling mencintai. Pengacara Jung tidak mengerti dengan setiap kehidupan rumah tangga orang lain, ia hanya melakukan tugasnya dan berharap bisa membantu setiap pasangan yang datang padanya.

Ia berdeham pelan, setidaknya ada hal lain yang bisa ia baca dari kasus kali ini. Yeoja ini pun terlihat begitu mencintai suaminya, mungkin tinggal satu alasan utama yang belum Pengacara Jung ketahui. Dan mungkin ia akan mengetahuinya sebentar lagi.

“Setelah semua proses nya selesai, kalian tinggal menandatangani surat perceraian yang kubuat dan semuanya akan selesai.”

Semuanya akan selesai… kalimat itu segera terulang dalam kepala Hye ri. Semuanya akan segera selesai, lalu harus seperti apa ia melanjutkan hidupnya?

KLEK

Pintu terbuka, Key segera beranjak dari sofa putih yang didudukinya. Hye ri berjalan ringan setelah membungkukkan tubuhnya pada Pengacara Jung.

Key berhambur ke arah mereka, mengucapkan terimakasih pada Pengacara Jung sebelum akhirnya menarik Hye ri meninggalkan rumah itu.

***

“Kau mau makan di mana?” tanya Key lagi, membuyarkan lamunan Hye ri. Yeoja itu terus melamun sejak meninggalkan tempat Pengacara Jung, ada beberapa hal yang mengganjal pikirannya.

“Oh! terserah kau saja.” Hye ri menatap Key yang masih menyetir mobil, memaksakan seulas senyum.

Key tersenyum, ia tidak mengatakan apa pun dan membawa Hye ri ke sebuah restoran kecil bergaya country side yang didominasi oleh kayu.

Yeoja itu tersenyum kecil, pikirannya memutar klise saat ia pertamakali mengunjungi tempat itu. Saat kencan pertamanya bersama Key, saat namja itu menyelamatkannya dari sebuah wagon hitam yang nyaris menabraknya.

“Kau tersenyum? Mengingat sesuatu?” Key menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hye ri. Sebenarnya ia pun jelas mengingat sesuatu di tempat itu, saat di mana untuk pertamakalinya Hye ri tak henti memandanginya.

Key ikut tersenyum, memori itu begitu indah dan seolah baru saja terjadi. Tapi senyum itu segera pudar saat ia mengingat bahwa tak lama lagi ia akan melepaskan Hye ri, berpisah dari yeoja itu dan membiarkannya bahagia dengan keinginannya untuk terus mencintai Minho.

Keduanya duduk di meja dekat jendela, menikmati makan siang sambil sesekali memperhatikan orang yang berlalu lalang di luar jendela, saling melempar canda kemudian tertawa.

Mereka tidak terlihat seperti sepasang suami istri yang akan bercerai. Siapa pun yang melihat mereka akan merasa bahwa mereka adalah pasangan yang baru menikah.

Tangan Key kembali mengusap pipi Hye ri, membuat yeoja itu tertunduk malu menyembunyikan rasa senang nya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Perasaan Hye ri begitu senang setiap kali Key memandangnya, menyentuhnya dan memberikan senyum yang entah bagaimana membuat jantung Hye ri berdebar.

Hye ri masih terkekeh hingga wajahnya memerah “Geumanhae!” seru Key pura-pura marah karena Hye ri baru saja menertawakan kebodohan kecil yang pernah dilakukan Key saat pertama kali bekerja di kantor.

Disodorkannya segelas air mineral agar Hye ri berhenti tertawa dan membasahi kerongkongannya yang Key yakin sudah mulai kering.

Hye ri meraih gelas itu dan meneguk isinya begitu saja. Ia masih terkekeh saat menaruh gelasnya, dan di saat yang bersamaan Key kembali mengusap pipi yeoja nya “Gwaencanha?” membuat Hye ri berhenti terkekeh.

Hye ri terus memandangi wajah Key, wajah tampan dengan segurat kekhawatiran. Dalam hitungan detik perasaan bahagia dalam hatinya segera berubah menjadi perasaan aneh yang membuatnya merasa sulit bernafas.

Senyum di wajah Key pudar saat yeoja nya kembali meneteskan airmata. Apa yang baru saja dilakukannya? Apa ia menyakitinya lagi?

Jari-jari tangan Key mulai mengusap airmata Hye ri, tapi airmata itu kembali menetes dengan cepat. “Waegeurae?” tanya Key ragu, ia tahu mungkin kedatangan mereka ke rumah pengacara Jung adalah alasan mengapa Hye ri menangis. Tapi bukankah seharusnya Hye ri senang?

Hye ri tersenyum dalam tangisan sunyi nya “Setelah kita bercerai, apa yang akan kita katakan pada kedua orangtua kita?” tangan Key berhenti mengusap airmata Hye ri.

Sesaat hati Key kembali terasa sakit, seperti ada bongkahan es tajam yang menancap di sana. Membekukan hatinya, dan membuatnya mati rasa. Sorot mata Key meredup, memancarkan kesedihan yang mendalam dari balik lensa kontak abu nya.

“Aku akan memikirkannya.” Kemudian tersenyum sebelum akhirnya menundukkan kepala, memalingkan wajahnya dari Hye ri. Tidak! Airmata itu tidak boleh ia tampakkan lagi di hadapan Hye ri.

***

Yeoja itu berjalan semakin cepat, ia menyadari namja dengan mobil putih itu terus mengikutinya sedari tadi.

Hatinya tak henti menggerutu kesal, ingin rasanya ia berlari ke suatu tempat dan menghilang di tengah kerumunan orang untuk menghindari namja itu.

Tapi sayang, kini ia tengah berjalan di trotoar sepi yang jauh dari keramaian kota. Ia menghentak-hentakan kaki nya, stiletto empat senti yang digunakan benar-benar menghambat langkahnya.

Namja itu kembali menekan klakson beberapa kali, ia tahu yeoja tinggi yang sedang berjalan di depannya menyadari keberadaannya.

Shin eun young menutup telinga dengan kedua tangannya, menunjukkan ia sangat terganggu dengan itu.

“Yaa! Shin eun young! Berhenti di sana!” Jonghyun kembali berteriak, ia mulai kesal dengan kelakuan yeoja yang sudah tiga tahun terakhir ini didekatinya.

Eun young menghentikan langkahnya, sementara Jonghyun segera keluar dari mobilnya, berjalan cepat menghampiri yeoja yang entah mengapa tiba-tiba menjauhinya.

Dengan geram Eun young berbalik, ia membeku saat Jonghyun telah ada di hadapannya. Hanya beberapa senti di depan wajahnya. Mata mereka saling bertemu, membuat jantung Eun young berisik tak karuan.

Eun young mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menjauhkan tubuhnya dari Jonghyun saat namja itu terus menatapnya tajam. “Mwoya?” tanya nya ketus.

Jonghyun tersenyum “Neon mwo hae?” ia malah balik bertanya kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, memelototi Eun young seolah Eun young adalah anak kecil yang tertangkap basah membolos sekolah.

Eun young menyipitkan kedua matanya, menahan tawa mati-matian dengan sikap Jonghyun yang selalu bisa mencairkan suasana. “Geumanhae! Aku mau pulang.” Eun young kemudian berbalik dan kembali berjalan.

Jonghyun terkekeh, sesaat ia masih memandangi yeoja itu sebelum akhirnya berlari kecil mengejarnya. “Arah rumahmu ke sana, Shin Eun young.” Jonghyun menahan satu tangan Eun young kemudian tersenyum licik.

Eun young menahan mulut nya yang setengah terbuka. Sial! Jonghyun benar, ia berjalan ke arah yang salah. “Terserah, aku mau ke arah mana pun bukan urusanmu!” kemudian hendak berbalik dan melangkah.

“Itu urusanku.” Jonghyun menarik tangan Eun young hingga yeoja itu kembali berhadapan dengannya, menatapnya tajam. Tidak ada lagi tawa atau pun kekehan kecil dari mulut Jonghyun.

Rasa kesal di wajah Eun young memudar, apa namja di hadapan nya tidak sedang menggombal? “Aku tidak suka namja tukang gombal!” tukas Eun young.

Tidak! Eun young bukan nya tidak mau pulang bersama Jonghyun, ia justru sangat merindukan namja itu. Tapi apa yang Eun young lihat beberapa waktu lalu sudah cukup baginya. Semua hal yang selama ini mencurigakan di mata nya benar-benar terbukti.

Min Hye ri, yeoja yang merupakan cinta pertama Jonghyun. Sepertinya Jonghyun masih menyukai cinta pertama nya meskipun yeoja itu sudah menikah. Eun young ingin sekali mengelak dari pemikiran itu, tapi sayang segala sesuatu yang ia lihat seolah membuktikan bahwa itu adalah kenyataan.

Yeoja yang baru sekali Eun young temui di hari pernikahan nya itu terlihat tidak mencintai suami nya. Pendeta bahkan perlu mengulang tiga kali hingga yeoja itu mau mengulang janji suci saat pernikahannya. Oh! dan satu lagi yang sangat menyebalkan. Yeoja itu bahkan sengaja membolos kerja hanya untuk mendatangi Jonghyun, kemudian menangis dalam pelukan Jonghyun. Menjengkelkan!

Neon waegeurae?” tanya Jonghyun, kali ini wajahnya benar-benar serius. Eun young hanya diam, ia tidak mungkin mengatakan apa yang membuatnya jengkel pada Jonghyun. Bisa-bisa namja itu tahu bahwa Eun young menyukainya.

Eoppseo.” Jawab Eun young setelah beberapa detik memandang mata Jonghyun. Oh! Eun young rasa ia sudah gila, bagaimana bisa sepasang mata itu selalu membuatnya kalah? Ia kemudian membiarkan Jonghyun membawa nya ke dalam mobil.

“Oh! Eun young-ah, lain kali gunakan flat shoes saat kau pergi bersamaku. Arra?” ucap Jonghyun saat mereka masuk ke dalam mobil, kemudian memandang stiletto empat senti Eun young yang sangat menyebalkan di matanya. Ia benci jika Eun young menggunakan sepatu dengan heels saat bersama nya, membuat Eun young lebih tinggi dari nya. Sial!

=TBC=

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “Archangel – Part 15

  1. hya..
    Hyeriii.. Gemes sama hyeri..
    Aha! Poor jjong.. Makanya kalo nyari yeoja sadar diri dunk.. Jgn yg tinggi2.. Masa pake stiletto 4cm langsung kalah..
    Hahaaha..

  2. Ada adegan NC, Sambil merem(?) bacanya,
    kkk
    dah mulai terharu pas partnya Key-Hye Ri, giliran scene-nya Jjong keluar malah ketawa-ketiwi..
    Kirain di part ini bakalan nyeritain Jinki-Aeri.
    Eun Cha mempermainkan perasaanku, kkk~
    -.-

  3. Key sama Hyeri cerai?!! ANDWAE!!! Jangan dong thor…
    Lama” jadi gregetan sama Hyeri gw, kurang apa Key coba? Cakep udah, tajir iya, cinta juga bejibun(?)

    Part ini feelna dapet banget, gw nangis thor! *lap ingus*

    nice FF ^^

  4. ahhh Hye ri, bukannya bikin gemes lg, tapi bikin Jengkellllll….
    meskipun Hye ri bikin jengkel karena sikapnya sam Key, jangan sampai Key-Hye ri cerai.
    part ini bikin Esmosi hehhe. ada sedihnya, lucunya jg ,,, wah ternyata yang waktu itu lihat Hye ri- Jjong pelukan bukan Key, tp Eun Young cwek yg di sukai Jjong.
    ditunggu part selanjutnya🙂
    semoga gx bikin Key sedih lagi .

  5. jiahhh,, geregetan ama sikapnya hyeri ih,, masi galau blum mau nyatain cinta ma key,, mau nya apa sihh,,
    jangan sampe cerai lah kan key blum tw klo malikt penjaganya itu si hyeri,,
    di tunggu part berikutnya

  6. kayak waktu hyeri sama ktemuan jong yang liat itu eun young nya deh
    duh makin gerem sama hyeri!
    key nya sudah gak bisa lagi dengan hyeri
    sampe ngajak hyeri kerumah pengacara
    jinki sama aeri gimana thor?
    ditunggu next partnya

  7. Aissh! Mau nangis wktu bca bagianya key T.T keren thor chukkae :’) so sweet bgt tp dramatis huhuhu jgn lama” ya thor lanjutnya. Penasaraaan

  8. Thor, lanjut dong FF nya. Ini nanggung.
    Adduh penasaran never end. T.T
    Yaaaa! Min Hye ri… ugh!!! Dia menyakiti key…😦

  9. haduh telat bgt bcanya. .
    langsung aja ya komen di part yg 15 . .hehe. . maaf. .

    4 jempol buat euncha-ssi. . walaupun gak ada sesuatu yg sempurna tapi buat aku ff ini daebakk, dri bhasa, setting, cerita, berasa liat film pas baca. . .
    keep writing. .
    FIGHTING. .

  10. thor kok,, part slanjut nya gak publish” aku coba cari part 16 ada di blog lollipop tapi di protect trus gimana mau baca nya,, plis segera di publish ya thor udah kelamaan nunggu nih jamuran saya.

  11. Ya ampyuunnn ini fanfics bagus lhooo….

    Kenapa gak di terusin min’ aku pernah baca tahun lalu, pas aku buka lagi, masih samaa….😦

    waaahhh ini bagus bangey buat di lanjutiinnn….🙂🙂🙂

  12. Gue pengen getok hyeri, boleh? HAHA kidding thor kebawa emosi sih hihihi :3
    Nyes bingit kalo ada diposisi key, yang menderita, mnyedihkan itu key bukan hyeri hiks key sayang ;;~~;;
    Akhirnya digugat cerai juga. Hahaha
    Oh jadi yang waktu liat jjong meluk hyeri itu eunyoung yah oh oh~
    Bikin gereget nih ceritanya QAQ lanjut baca

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s