I’m Not Him – Part 2

imnothim2

Title : I’m Not Him Part 2

Author : AltRiseSilver

Cast : Kim Kibum Shinee, Ahn Min Hye, Shinee’s member

Genre : Romance, Sad

Rating : PG17

CIT!

GUBRAK!

“Key-a!!”

Peluh membasahi seluruh tubuhku saat aku terbangun dari mimpi burukku. Perlahan aku mengatur nafasku dan mengusap pelan keningku yang berkeringat lalu beranjak keluar kamar untuk mengambil segelas air minum.

“Kau baik-baik saja Kibum-a?” suara ibu mengejutkanku. Kulihat ia sekilas lalu mengangguk pelan sambil melangkah menuju kamarku lagi.

“Kau bermimpi tentang Key?” tanya ibuku sebelum aku membuka pintu kamarku. Aku terdiam dan terpaku di tempatku.

“Ternyata sejauh apapun jarak kami, aku masih bisa merasakan sakitnya ia saat mengalami kecelakaan itu eomma,” jawabku akhirnya setelah kami terdiam. “Apa dia mengenalku?” aku berbalik dan mendapatkan ibu tengah memandangiku dengan raut terkejut.

Dia tidak menjawab namun aku bisa menangkap sebuah jawaban dari raut wajahnya. “Baiklah, kembali tidur eomma,” ucapku dingin sambil mengontrol emosiku dan memasuki kamarku.

Kubaringkan tubuhku diatas kasur dan mencoba terlelap lagi namun bayangan kecelakaan itu masih membayangi kepalaku. Kubuka mataku lagi dan bangkit dari posisiku. “Kau tidak mengenalku selama ini Key?” tanyaku lirih dan hampir terdengar seperti bisikan.

Tanpa terasa airmataku mengalir begitu saja mendapat kenyataan bahwa saudara kembarku sendiri bahkan tidak mengenaliku. “Lalu apa gunaku dilahirkan?” ucapku lagi pada udara. Isak tangisku mulai terdengar namun aku menahannya agar ibu atau siapapun tidak mendengarkannya.

Kutelungkupkan kepalaku ke bantal dan mengeluarkan semua tangisku disana, menghabiskan malam yang indah dengan sebuah tangisan tak berharga.

**

“Key-a, semenjak kedatanganmu di kampus ini sepertinya aku merasa sedikit terkenal,” Jinki membuka pembicaraannya saat kami duduk di kantin kampus. Aku mengerutkan keningku bingung, “Maksudmu?”

Jinki menyeruput minumannya lalu memandangku lagi hendak menjawab. “Kau ini begitu terkenal dikampus dan karena hanya aku yang dekat denganmu disini sepertinya aku juga ikut terkenal dan di lirik oleh gadis-gadis itu,” kata Jinki sambil menunjuk kerumunan gadis-gadis yang tengah memandang kearah kami.

Aku tersenyum sinis. “Memangnya aku setampan itu?” tanyaku sambil mengusap daguku percaya diri membuat tawa Jinki pecah. “Aku jelas lebih tampan darimu,” ucap Jinki percaya diri. Aku menaikkan alisku lalu ikut tertawa dengannya.

Tawa kami kemudian usai saat ponselku berdering. “Yeobeoseyo?” sapaku.

“Kibum, kau dimana?” Suara di ujung telepon terdengar begitu panik membuatku beranjak dari dudukku dan menjauh dari Jinki yang memandangku bingung. “Aku di Seoul. Ada apa?” tanyaku tak kalah panik.

“Jonghyun. Kim Jonghyun mencarimu keseluruh Mokpo,” jawabnya. Aku termenung mendengar nama Jonghyun disebut, pria itu. Dia sudah keluar dari penjara ternyata. “Kapan ia keluar dari penjara?” tanyaku lebih terdengar tenang daripada sebelumnya.

“Dari berita yang kudengar ia bebas dua hari yang lalu kemudian mencarimu,” tuturnya membuatku berdecak kesal. Tidak seharusnya pria itu keluar dari penjara saat aku seperti ini. Benar-benar merepotkan.

“Jangan sampai ia tahu aku ada di Seoul. Tolong kau juga jaga nenekku disana,” ucapku kemudian menutup sambungan telepon dengan pria tadi. Kutekan tombol ponselku memencet nomor telepon sahabatku di Mokpo. Minho.

“Kemarin dia memang menemuiku,” Minho akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Jonghyun. “Dia ingin balas dendam,” lanjutnya membuatku membulatkan mataku tak percaya. Pria itu sudah masuk penjara lalu ingin membalaskan dendamnya padaku? Dasar gila.

“Key, kau masih mau terus disitu? Sepuluh menit lagi kelas kita masuk,” suara Jinki yang berteriak dibelakangku membuatku menoleh lalu mengangguk padanya. “Akan ku telpon kau lagi nanti,” ucapku sebelum memutuskan telepon dengan Minho sepihak.

**

Pikiranku masih berkutat oleh cerita Minho di telepon tadi dan melupakan kehadiran Min Hye disampingku. “Kau tidak mendengarkan ceritaku ya Oppa?” tanyanya membuat lamunanku buyar. Aku menoleh menatapnya yang memandangku dengan sedih, aku jadi merasa bersalah mengabaikannya namun masalah Jonghyun jauh lebih penting dari dirinya saat ini.

“Ah Mianhe aku sedang banyak pikiran akhir-akhir ini,” ucapku merasa bersalah. Min Hye mendenguskan nafasnya keras, aku yakin dia marah sekali padaku.

Oh Tuhan apa yang harus kulakukan saat ini. Aku tak pernah tahu bagaimana caranya menangkan wanita yang sedang marah, punya pacar saja aku tidak pernah membayangkannya. “Hmm Minnie-ya kau tidak benar-benar marah kan?” tanyaku.

Gadis itu tidak bersuara, dia hanya memandang lurus tatapannya. Aku berdehem, aku lelah berpura-pura manis seperti Key. Aku Kibum! Bukan Key! Jeritku dalam hati. “Kau bukan seperti Oppaku yang aku kenal selama ini,” ucap Min Hye tiba-tiba.

Aku menoleh cepat kearahnya. “Kau berubah Oppa,” lanjutnya lagi kali ini sambil menatapku dengan bola matanya yang indah. “Setiap manusia pasti harus berubah,” timpalku seenaknya hingga aku merutuki kalimat bodoh itu keluar dari mulutku sendiri.

“Aku tahu tapi aku tak menginginkan perubahan yang seperti ini Oppa,” ucapnya.

“Maksudmu?”

“Perubahanmu terlalu drastis. Aku seperti tidak mengenal dirimu yang sekarang,” jawabnya.

Kuhempaskan nafasku berat setelah mendengar jawabannya. Gadis ini, entah apa yang dibuat Key sampai ia tahu semua hal tentang saudaraku itu. “Apa ada gadis lain dihatimu Oppa?” tanyanya kemudian.

Aku menggeleng cepat. “Aku hanya memilikimu,” jawabku.

Kali ini giliran gadis itu yang menghempaskan nafasnya dan tidak lagi berbicara. Sejenak diantara kami tak ada lagi pembicaraan, aku lebih memilih bungkam dibanding harus berbicara dan membuat masalah semakin runyam.

“Kau benar-benar berubah,” gumamnya membuatku sedikit kesal karena ia mengungkit masalah itu lagi. “Kau tidak pernah tahan diam seperti sekarang,” lanjutnya lagi.

Aku bangkit dari dudukku dengan geram lalu menatapnya. “Satu tahun itu perjalanan yang panjang. Jadi wajar kalau aku sedikit berubah jadi kumohon jangan merasa heran pada sikapku!” ucapku sedikit membentaknya.

Tatapan mata Min Hye berubah. Raut kesedihan pias sekali diwajahnya bahkan bisa kulihat genangan airmata di pelupuk matanya. “Kau jahat Oppa,” Min Hye berlari meninggalkanku sendirian di tengah taman dan memandang kepergiannya dengan penuh penyesalan. Ah Key, apa kau selalu mengalami hal seperti ini?

**

“Apa yang kau lakukan pada Min Hye?” pertanyaan dari pria tua saat aku memasuki rumah mengoyakkan telingaku. Nada bicaranya yang seakan menuduhku membuatku muak. “Aku tidak mungkin melecehkannya,” jawabku sekenanya membuat pria itu mendekatiku dengan berang.

Kalau saja ibu tidak menahannya mungkin sekarang aku akan mendapatkan pukulan keras di wajahku. “Kibum-a, apa yang terjadi denganmu dan Min Hye?” tanya ibuku sambil tetap menahan gerakan ayahku. Aku menatapnya sekilas lalu membuang muka. “Itu urusanku,” setelah itu aku melangkah masuk kedalam kamarku dan menguncinya.

Kuambil telepon di kamarku lalu mencoba menguhubungi nenekku di Mokpo. “Yeobeoseyo?” suara nenek yang kurindukan terdengar setelah nada sambung beberapa kali. “Halmeoni,” sahutku girang.

“Ah Kibum-a bagaimana kabarmu disana?” tanya nenekku membuat kesenanganku memudar. “Tidak baik. Ah sudahlah aku tidak mau membahasnya, ada hal penting yang harus kukatakan,” ucapku mengalihkan pembicaraan.

Kudengar nenek tertawa diujung telponnya. “Ada apa Kibum?”

“Jonghyun. Dia sudah keluar dari penjara dan mencariku, mungkin untuk beberapa hari ini rumahmu akan di awasi oleh teman-temanku agar Jonghyun tidak melakukan hal macam-macam padamu,” jelasku.

Kudengar nenek mendesah pelan. “Kau ini, kenapa senang sekali membuat ulah?”

“Bukan aku yang membuat ulah halmeoni. Dia yang sudah keterlaluan menghajar sahabatku hingga hampir mati,” lanjutku tak mau disalahkan. Nenek tak menjawab, kami berdua sama-sama terdiam.

“Aku tidak betah disini,” ucapku akhirnya memecahkan kesunyian kami berdua. Wanita tua itu tidak mengatakan apa-apa selain menyuruhku bersabar dan tetap bertahan. Baiklah, mungkin aku bisa bertahan jika harus mendengar ocehan pria tua yang harus kupanggil ayah namun jika aku harus berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri, aku juga tidak akan tahan!

Kututup gagang telepon setelah nenek mengucapkan ada hal lain yang ingin ia kerjakan. Aku menatap langit berwarna jingga diluar sana lalu menghela nafas berat. Hidupku sudah berat dan sekarang menjadi semakin berat lagi.

“ARGH!!” kubanting benda yang ada disekitarku dengan geram kelantai menciptakan bunyi pecah yang menggema di kamarku. Kulirik benda yang kuyakini sudah hancur itu, pigura Key. Aku berdecak. Pria itu, karena pria itu hidupku sekarang semakin berantakkan.

Ponselku berdering kencang, segera kuraih dan mengangkatnya. “Oppa,” terdengar suara parau seorang gadis yang kukenal. “Min Hye-a,” gumamku. Kudengar isakan kecilnya, ada perasaan bersalah pada diriku saat mendengar tangisannya.

Gweanchana?” pertanyaan bodoh!

Aku mengumpat dalam hati menanyakan hal seperti itu, ia menangis dan aku malah menanyakan itu? Pria macam apa kau ini Kim Kibum!

“Bisa datang kerumahku? Aku… Aku… Terkena luka bakar,” ucapnya sambil sesenggukkan. Aku tercekat ditempatku, perasaan khawatir merambat cepat dihatiku. “Tunggu, sepuluh menit lagi aku sampai disana,” ucapku lalu menutup telepon dan berlari keluar rumah, mengambil kunci motorku lalu melaju cepat menuju rumah Min Hye.

**

Sampai dirumah Min Hye, aku tercengang dengan penampakan dapurnya. Berantakkan sekali. Kuhampiri gadis itu dibangku meja makan yang masih menangis sesenggukkan sambil memegangi lengannya. “Oppa,” gumamnya saat melihatku.

Aku mengambil kursi disampingnya lalu duduk dihadapannya sambil meraih tangan kanannya. Beruntung sekali luka bakarnya tidak terlalu besar. Aku menyuruhnya berdiri dan kupapah ia ke wastafel, kuulurkan tangan kanannya yang terkena luka bakar dibawah guyuran air dingin.

Ia sempat menarik tangannya lagi namun kutarik lagi tangannya agar luka bakarnya tidak menimbulkan bekas nantinya. Wajahnya sedikit meringis saat air mengenai lukanya. “Sakit,” lirihnya.

Kulirik dia sekilas lalu meneruskan lagi kegiatanku mengobatinya. Setelah kurasa cukup kutarik tangannya lalu membalutnya dengan kain yang juga sudah kusiapkan tadi. “Oppa.”

Tak kuhiraukan panggilannya, aku malah menyuruhnya duduk sedangkan aku mengambil kotak obat. “Hmm, bisa kau beritahu dimana kotak obatnya?” tanyaku sesaat berhenti dari pencarianku. Min Hye menatapku heran lalu menunjuk sebuah lemari tak jauh dari tempatku. Segeraku raih pintu lemari dan mengambil kotak obat didalamnya kemudian duduk dihadapannya.

Kubuka kain yang menutupi lengannya lalu mengambil sebuah salep dari dalam kotak tersebut. Kuoleskan perlahan salep tersebut diatas luka bakarnya, aku sadar sejak tadi aku mengucurkan air ditangannya ia terus memperhatikanku namun aku tidak mempedulikannya.

“Selesai,” ucapku setelah berhasil mengolesi luka bakarnya. Aku hendak berdiri namun tangannya menahanku. Kuletakkan kembali badanku di atas kursi dan menatapnya. “Gomawo,” ucapnya lirih.

Entah perasaan apa hingga membuat tanganku menyentuh wajahnya dan mengusap lembut wajah itu. “Tidak usah berterimakasih pada kekasihmu,” ucapku lembut membuatnya tersenyum.

Kusunggingkan senyumku lalu beranjak dari dudukku meninggalkannya sendirian. Jantungku berdebar dengan kencang saat menyentuh wajahnya tadi dan yang kulakukan sekarang mengalihkan perhatianku agar aku tak larut dalam perasaanku sendiri.

Oppa, apa kau masih ingin berdiam menghindariku? Apa perkataanku tadi siang membuatmu benar-benar marah,” suaranya mulai terdengar membuatku menoleh.

“Aku justru memikirkan kesalahan yang kuperbuat. Aku benar-benar merasa bersalah,” ucapku. Min Hye berdiri lalu menghampiriku kemudian memelukku membuat organ paling penting dalam tubuhku bekerja lebih cepat dari biasanya. Aku ingin menolak pelukan itu namun tanganku malah bergerak mengelus kepalanya dan menaruh daguku dipuncak kepalanya.

Wangi rambutnya tercium masuk dihidungku membuatku nyaman. Oh Key, apa ini yang kau rasakan pada gadis ini selama bertahun-tahun?

“Kumohon Oppa jangan bersikap kasar lagi padaku,” isaknya dipelukanku. Aku mendekapnya semakin kencang berusaha menenangkannya. “Mianhe, Jeongmal Mianhe.”

“Aku mencintaimu Oppa. Aku benar-benar mencintaimu.” Aku terdiam meresapi kalimat yang keluar dari bibirnya barusan. Aku ingin mengatakan aku juga mencintainya atas nama Key namun hatiku berat melakukannya. Boleh kubilang, aku tidak ingin mengatakannya karena Key tapi karena hatiku sendiri.

Oke, bisa anggap aku gila namun itulah yang kurasakan saat ini. “Aku juga mencintaimu Minnie-ya,” ucapku akhirnya entah untuk mewakili Key atau atas dasar perasaanku sendiri. Aku tidak mengerti.

Sekali lagi Key, maafkan aku…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “I’m Not Him – Part 2”

  1. Jong-Key jadi musuh?? Biasanya akrab nih pasangan 😉 AltRise-ssi, sepertinya Key lg galau, bukan Key yg biasanya.. -_- Sini deh Key, nuna kasi tau apa itu Cinta.. 😀

  2. Yaaahh tbc deh..
    Lucu jg liat kelakuan kibum..
    Mau ga mau akhirnya suka jg sama yochin nya Key..haha
    Lanjut thor..
    Jgn lama2 yaa 🙂

  3. wah udah mulai berkonflik nih.. nice.. masalah penulisan masih sama kayak komenku di part satu.. kayaknya authornya juga udah kirim part ini sebelom aku komen.. 😆
    ada yang sedikit bikin aku merasa janggal sedikit sih.. mungkin emang kibum udah pelajarin seluk beluk kehidupan key sebelom dia gantiin posisi key, tapi waktu dia ke rumah minhye dia bawa motor sendiri, dengan waktu singkat yang berarti ngebut.. jadi dia udah tau jalanan kota seoul dong walau pun dia belom pernah ke seoul sebelomnya? .___.
    itu perasaanku aja sih thor.. btw, tetep kutungguin lanjutannya.. hwaiting 😉

  4. Annyeong….
    Aku udah baca di blog lain, kalo gak salah di IFK.
    Tetep menarik walo udh dibaca berulang kali.
    ^^V

    anyway, tetep ditunggu next part-nya ya Author-ssi…

  5. Aigo key oppa.. Wkwwk sm aja dirix dgn kibum.. Kr” nnti min hye sm sp y?? Ah sm aja lah orgx to sm.. Hahahaa.. Key oppa mna?? Di rs?? Apa udh meninggal?? Krng tanggap

  6. hanya satu pertanyaanku. apa yang membuat kibum mau disuruh pura-pura kayak gitu? aku sih dunia akhirat ogah banget #terlalu menghayati, jadi kesel sendiri.

  7. Key nya koma kah? gara2 kecelakaan lalu lintas? hemm… masih belum terungkap soal Key di part ini.
    Tuh kan bener klo Kibum jg suka sma Min Hyeri.
    Oh iya, ada yang sedikit janggal nih buatku.
    pas scene Kibum ngobatin tangan Min Hye. dijelasin abis nyuci tangan Min Hye, dia ngebalut tangan Min Hye pake perban. Udh gitu baru ngambil kotak obat dan ngolesin salep. bkannya harusnya itu ngolesin salep dlu yh bru dipakein perban.

    Nah, di luar kejanggalan itu. Plot-nya oKEY punya banget! Dan aku harus langsung ke part berikutnya 😉

  8. Aku malah gak ngeh kalo ada yg janggal, hha..
    Saking mnikmati ceritanya kali ya, hhe..
    Key kclkaan, apa dia koma, ato emg udh gak ada?
    Next paarttt, cuzz

  9. nah loh, key msh jadi misteri di part ini. key meninggal atau koma nih stlh kecelakaan? trs kenapa minhye bisa gak tau kalo key kclkaan? dan sbnrnya apa nih modusnya eomma & appa nyembunyiin keadaan ttg key dr dunia luar?

    jiah~ si bang dino jadi badboy kah? omooo… dia nyeremin bngt smpe msk penjara 😯

    cpt atau lambat kyknya si kibum bakal suka beneran sm minhye, dan di saat itu pula minhye bakal tau kalo itu bukan key tp kibum *bahasanya-_-”

    next chapter~ 😀

  10. eh? udh selesai ya part 2-nya? gk kerasa bgt bacanya, saking terbawa alur cerita hehe 🙂
    sampe sekarang masih penasaran sama keberadaan Key dimana??

    hemmm… tugas Kibum bener-bener berat disini, selain dia harus tetep pura2 jadi saudara kembarnya, Key. dia jga harus pinter menutupi perasaan yg sebenarnya. tanpa disadari, jika yeoja yg dicintainya saat ini adalah kekasih saudara kembarnya sendiri dan dia hanya bisa mengutarakan perasaan-nya sbg Key, bukan sebagai dirinya sendiri. Wah miris deh ngeliatnya 😦

    lanjut ke part berikutnya~ ^^

Leave a Reply to diyret Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s