Him In The Mirror [1.3]

Title: Him in the Mirror [1 of 3]

Author: Bella Jo

Main Cast (Tokoh Utama) : Key, Kareen White (OC)

Support Cast (Tokoh Pembantu) : Imelda White (OC)

Length : sequel

Genre : romance, tragedy, fantasy

Rating :  PG-15

Summary : “Maaf karena kebohonganku padamu, baby boo… Aku hanya ingin melindungimu… Aku ingin kau jadi orang yang dimaksud oleh penyihhir sialan itu, tapi aku juga tidak mau…” Key kembali meringis dan menutup matanya, “Terdengar bodoh? Hahaha… Aku hanya ingin kau tetap hidup, walau suatu saat nanti mungkin aku juga akan menyaksikan kematian menjemput hidupmu…..”

A.N:  hey, I’m back with my second story. Still with same genres, by the way. This story is original by me. Key is not mine, he’s belong to SM and his family. Not copy it without my permission. And the most important thing is your comment is my oxygen, guys. (sorry for the typos)

 

 

HIM IN THE MIRROR [1 of 3]

 

 

 

 

Aku selalu menatapmu dalam bayang semu

Layaknya detik yang jatuh di tiap debar jantungmu

Dalam tiap gerak mata dan jarimu,

Aku melihatmu

 

 

Musim berganti bersamaan dengan pertukaran detik. Teriknya Matahari yang mulai tak tampak tertutup awan sejak musim gugur lalu semakin meredup begitu musim dingin tiba. Pepohonan tak lagi berdaun dan cerahnya warna bunga di musim semi lalu tertutupi timbunan salju. Daerah Brecon yang dekat dengan perbatasan antara Wales dan Britania Raya itu terasa semakin dingin dengan angin yang tak henti mengetuk jendela. Langit sudah benar-benar gelap dan itulah saat yang tepat untuk beristirahat.

Seorang gadis berusia dua puluhan melepas lapisan jaket tebalnya begitu ia menutup pintu masuk rumahnya.  Ia menghela nafas pelan menahan dingin yang serasa ingin membekukan tulang-tulangnya lalu segera berjalan menuju dapur rumahnya. Rumah tua yang sebagian bangunannya masih terdiri atas susunan papan itu telah disulapnya menjadi rumah bergaya modern-klasik. Pemilik sebelumnya dari rumah yang ia beli dua bulan lalu itu sempat mengatakan bahwa rumah tersebut sudah dibangun sejak abad ke enam belas dan sudah mengalami amat banyak perbaikan di sana-sini. Tak heran jika gadis itu bisa melihat cat yang terkelupas dan beberapa bagian papan dinding rumah yang sudah lapuk. Namun semua tak masalah baginya, toh ia bisa mendapatkan rumah besar di pinggir kota itu dengan harga murah.

Gadis itu menata secangkir teh hangat dan pocinya di atas nampan biru bersama dengan beberapa potong camilan lalu membawanya menuju kamar berwallpaper biru-putih yang suhunya lebih hangat. Ia meletakkan nampan tadi di atas meja dengan sembarangan, membuat pulpen perak yang biasa dipakainya terjatuh dari atas meja. Tanpa terlalu ambil pusing, gadis itu hanya berlalu dan menghidupkan mesin pemanas ruangan. Kemudian ia berganti pakaian dan menghapus riasan dari wajah putih pucatnya.

Di ruangan itu terdapat dua cermin. Salah satunya terpasang rekat dengan meja hias sementara yang satunya lagi adalah sebuah cermin besar yang mengisi salah satu sisi dinding ruangan tersebut, memantulkan dengan jelas seisi ruangan itu. Cermin tua besar berbingkai emas itu tentu sangat memudahkan si gadis untuk memeriksa penampilanya sebelum ia keluar rumah atau hanya sekedar keluar kamar. Di bidang samping cermin itu terdapat pintu yang menghubungkan kamar dengan sebuah kamar mandi yang berukuran kecil.

Si gadis sudah selesai membersihkan riasan wajahnya. Ia mengambil remote untuk menghidupkan televisi sambil beranjak menuju nampan yang ia bawa tadi. Matanya menatap pemandangan ganjil di samping nampan. Kedua mata biru itu terbelalak, nafasnya langsung tertahan saat melihat pulpen perak yang tadi jatuh tanpa ia pungut kini sudah terletak manis di samping nampan. Dengan gerak tergesa gadis itu mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Namun, ia tetap tak menemukan logika apapun yang dapat menjelaskan keanehan tadi. Keringat dingin mengucur di keningnya. Bibirnya berbisik lirih, “Lagi-lagi ini terjadi…”

****

Gadis itu bernama Kareen White, seorang yatim piatu yang bekerja sebagai penulis tetap majalah lokal di Brecon. Gadis berumur dua puluh tiga tahun itu memilih tinggal sendiri di pinggiran kota tersebut dengan alasan ketenangan. Rumah itu berhasil ia dapatkan tanpa tawar-menawar yang menyulitkan ataupun perdebatan panjang, dengan harga yang murah pula. Beberapa prabotnya merupakan peninggalan pemilik sebelumnya, termasuk cermin besar yang merekat di dinding kamarnya.

Kareen gadis yang tampak cuek namun sebenarnya cukup perhatian pada sekelilingnya. Kulitnya putih pucat dengan rambut hitam kemerahan panjang lurus dengan gelombang di ujungnya. Iris matanya berwarna biru,  lensanya sering dilapisi lensa kontak untuk membantu penglihatannya. Tubuhnya tinggi langsing, membuatnya tampil jauh lebih dewasa dari umurnya. Wajah cantik dan sikap cueknya dengan mudah membuat para lelaki jatuh hati dan penasaran akan dirinya. Sayangnya Kareen lebih suka menghabiskan waktu dan bekerja di rumah, membuat orang-orang yang tertarik padanya kehilangan kesempatan untuk dekat dan mengenal lebih jauh dirinya. Salah satu alasan Kareen bekerja di rumah adalah rasa sukanya berlama-lama menatap bayang dirinya lewat cermin besar di kamarnya.

Namun sesuatu yang aneh sering terjadi dan Kareen mulai menyadarinya. Ia tak lagi bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa karena hal aneh itu semakin sering terjadi. Awalnya ia hanya merasa ada yang menatapnya acap kali ia berada di kamar. Ia berusaha menghalau pikiran itu dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya perasaannya saja. Tapi barang-barang mulai berpindah. Awalnya hanya benda-benda kecil yangg ia letakkan sembarangan tiba-tiba sudah kembali ke tempatnya semula saat ia pulang kerja. Semua berlanjut dengan kamarnya yang ia tinggalkan dalam keadaan berantakan saat pergi bekerja malah ia temukan sudah rapi nan bersih begitu ia kembali. Pekerjaannya yang terhenti di tengah jalan karena ia tertidur di tengah pengerjaannya pun tiba-tiba sudah selesai saat ia terbangun keesokan harinya.

Kareen gadis yang realistik. Ia selalu mencari alasan logis untuk menjelaskan semua keadaan. Namun, semakin ia berpikir, ia merasa semakin gila. Ia mulai kehilangan semua alasan logis yang mampu menjelaskan keadaannya.  Walau demikian, ia tetap tak mau angkat kaki dari rumah itu sampai ia mengerti dan tahu apa penyebab kejadian-kejadian aneh bin ajaib itu. Di samping kenyataan bahwa rumah itu adalah rumah idamannya, perasaannya sudah terikat erat pada rumah itu. Terutama pada cermin besar di kamarnya.

****

Kau tak pernah tau saat aku menyentuhmu

Yang dapat kau rasa hanya angin lalu

Aku ingin merasakan hangat nafasmu

Namun aku hanya bagian dari bayang semu

 

“Semua semakin ganjil saja…,” gumam Kareen dengan nada seolah tak peduli. Ia membiarkan televisi menyala sementara pikirannya melayang entah ke mana. Matanya menatap kosong layar. Suhu ruangan terasa semakin dingin sehingga ia semakin merapatkan selimutnya. Otaknya kembali berpikir, berusaha menginngat apa ia memungut pulpen itu atau mungkinkah sebenarnya. Takada yang jatuh saat ia meletakkan nampannya tadi. Namun ia mengingat semua dengan jelas ingatannya itu tak sesuai dengan keinginannya. Sangat tidak mungkin pulpen perak itu bergerak sendiri!

“Ah! Aku bisa gila!!” Pekiknya lalu membaringkan tubuh di atas sofa. Kantuk mulai melayangkan pikirannya. Lama kelamaan ia kehilangan kesadaran, melepas penat dan lelah dalam nyenyak dunia mimpi.

TIK…TIK…

CKLEK

Pintu kamar yang tadinya dibiarkan terbuka kini tertutup dengan sendirinya. Beberapa detik kemudian, televisi yang merupakan satu-satunya sumber suara keras di ruangan itu pun kehilangan suara dan tampilan layarnya bersamaan dengan suara ‘BIP’ yang berasal dari benda itu sendiri. Suara ketukan angin dan gesekan ranting dengan jendela terdengar bersamaan dengkur halus Kareen. Perlahan tubuh berpostur tinggi itu melayang, terangkat dari tempatnya berbaring dan berpindah ke atas kasur, menciptakan suara derit kecil yang tenggelam dalam suara lain.

TIK… TIK….

Waktu terus berjalan tanpa dapat dihalangi siapapun. Kareen tetap terlelap tanpa sadar perpindahan letaknya. Pemanas ruangan bekerja dengan suhu yang perlahan berubah lebih tinggi. Beberapa saat kemudian sisi kanan kasur Kareen berderit, seakan ada yang menaikinya. Suasana tetap hening untuk beberapa saat lamanya.

“Kau tahu, kau amat cantik saat terlelap seperti itu…,” rambut Kareen bergerak perlahan seperti ada yang membelainya. “Aku ingin menyentuhmu langsung, bukan sekedar bayanganmu… Apa kau tahu, Ms.White?

Tiba-tiba Kareen membuka matanya dengan mimik kosong. Perlahan ekspresinya berubah begitu menyadari keadaan dirinya. Ia bergumam dalam hati, menyebut satu persatu keanehan yang ada, “Tubuhku di tempat tidur, ruangan yang semakin hangat, dan…,” mata Kareen membelalak lebar, sadar akan gerakan rambutnya yang tak wajar dan terarah seakan ada yang menyentuhnya.

“…ram…but…?”

Kareen langsung tersentak dan bangkit dari pembaringannya. Ia mencercah lantai dengan langkah gamang namun tubuhnya seakan tertahan benda tak kasat mata sesaat sebelum menyentuh lantai. Kareen kembali tersentak dan langsung menabrakkan punggungnya ke rak buku yang tak jauh darinya, membuat buku-buku yang terpajang di dalamnya bergerak jatuh. Matanya membulat saat buku yang seharusnya jatuh ke arahnya malah terpantul sesaat sebelum mengenai dirinya, seperti ada benda transparan yang menghalanginya. Padahal tak ada apapun.

“…Apa yang…sebenarnya…terjadi?” Ucap Kareen dengan nada bergetar.

Apa kau benar-benar ingin tahu?”

 

Nafas kareen langsung tertahan. Hanya ia yang tinggal di rumah itu. Jadi,  suara siapa itu? Kareen semakin merapatkan punggungnya ke rak buku saat suara berat tadi berubah menjadi tawa geli. Ia tak bisa berpikir jernih sekarang. Ingin rasanya ia masuk dan menyatu dengan rak tersebut saat itu juga.

“Kurasa kau tidak benar-benar ingin tahu…”

 

Suara laki-laki yang terdengar amat berat dengan logat Inggris yang amat kental itu kembali terdengar. Kareen mulai sesaak karena terlalu lama menahan nafasnya. Suasana berubah hening. Kareen mulai membulatkan keberaniannya. Ia mulai bernafas normal dan berdiri tegak seperti biasa. Pandangan matanya ia sapukan ke segala arah. Lagi-lagi mencari penjelasan yang mungkin ada. Tapi ia tetap tak bisa menemukannya.

“Kau masih belum siap untuk bertemu denganku, kau tahu?”

 

Kareen melangkah perlahan dengan selimut membungkus rapat tubuhnya. Matanya masih bergerak liar mencari wujud sumber suara. Ia menelan ludah saat masih tak bisa menemukan apa yang dicarinya.

“Jadi kau siapa?” Kareen membalas suara tersebut dengan lantang, “tidak, lebih tepatnya kau ini apa?” Tambahnya lagi.

“Ah, kau benar-benar siap untuk melihatku?”

 

“Kenapa tidak? Suaramu tidak terdengar menakutkan…,” sahut Kareen lagi. Rasa ingin tahunya sudah mengalahkkan semua ketakutannya. Ia mulai berdebar, sadar kalau ia akan menemui makhluk yang biasanya tak dapat diterima logika.

Apa kau yakin?” Gumam suara itu lagi.

“Ya,” jawab Kareen pasti. Gadis itu dapat mendengar suara helaan nafas panjang kali ini. “Lihatlah ke arah cermin besar!”

Kareen mengalihkan pandangannya ke cermin besar yang memantulkan dirinya. Perlahan ia melihat sebuah bayangan berupa sosok laki-laki bertubuh tinggi di cerrmin tersebut. Mata Kareen membulat, memperhatikan tampilan laki-laki itu dari atas ke bawah dengan cermat. Laki-laki itu berkulit putih, lebih pucat darinya. Rambutnya pirang emas –tertata lurus agak berantakan- dengan iris mata merah menyala dan bibir merekah kemerahan. Pakaiannya terkesan kuno dengan stelan jas dan celan tua serta topi tua panjang yang bernuansa hitam-coklat. Kemejanya sudah berwarna kekuningan namun bersih tak bernoda. Laki-laki itu bagaikan potret hidup lelaki Inggris zaman dulu.

Kareen membeku saat laki-laki itu mengulas senyum dengan bibir kemerahannya. Matanya yang sendu memandang Kareen ramah. Nafas Kareen kembali tertahan saat lelaki itu melambai ke arahnya.

“Hey, Kareen. Namaku Key,” ujar lelaki itu dengan suara. Yang terdengar berat dan dalam. “Ah, dan satu lagi, jangan pecahkan cermin ini hanya karena kau terlalu kaget melihatku, OK?”

***

 

Beberapa bulan berlalu dengan tenang. Musim dingin berlalu dan musim semi datang dengan cerianya. Kareen membawa nampan berisi camilan ke dalam kamarnya, ke depan cermin besar yang memantulkan keseluruhan isi ruangan itu. Kareen meletakkan nampannya di atas lantai, ia sendiri duduk di atas lantai tak beralas itu dengan punggung yang bersender pada cermin. Suhu ruangan itu masih agak dingin karena Kareen tak menghidupkan mesin pemanas ruangannya.

“Kau bisa memecahkan cerminku kalau kau bersandar seperti itu…”

 

Kareen mendongak dan mendapati sepotong selimut tebal melayang ke arahnya. Gadis itu tersenyum saat matanya menangkap sosok Key tengah membalut tubuhnya dengan selimut lewat tampilan cerminnya. Key juga mendudukkan dirinya tak jauh dari Kareen sambil menyandarkan tubuhnya ke cermin. Mereka seakan hanya terpisah dalam dua ruangan yang dibatasi selapis kaca. Namun, sebenarnya mereka bahkan terpisah dalam dua dunia yang berbeda. Nyata dan bayangan.

“Aku tidak seberat itu,” sahut Kareen, tangannya memasukkan potongan Cheese cake ke dalam mulutnya. Key hanya tersenyum jahil, “Yah, tak ada yang tahu kemungkinan buruk apa yang bisa terjadi karena tubuh jangkungmu, baby boo…”

 

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!”

Kenapa? Itu sebutan yang amat coocok untukmu, baby boo…,” Key mengubah posisi duduknya, memudahkannya menatap Kareen dan bayangan gadis itu dengan lebih jelas. “Bagaimana harimu tadi?

“Tidak buruk,” sahut Kareen lagi. Gadis itu tak hentinya mengunyah Cheese cake di piringnya. Key hanya bisa menggeleng pelan melihat gadis yang selalu cuek pada sekitarnya itu. Sesekali lelaki berjas hitam itu menyeka keju yang menempel di pinggir bibir Kareen, membuat tubuh asli Kareen dapat merasakan semacam sengatan listrik ringan karena sentuhannya. Gadis itu tersenyum manis yang dibalas dengan senyum khas Key yang tak kalah manis pula.

“Key?”

Mmm?”

“Ceritakan lagi tentang hal itu, cerita yang amat kusukai itu!”

Key menghela nafas panjang, “Apa kau tak bosan mendengarnya? Hampir setiap hari kau memintaku menceritakan hal itu…,” ujarnya malas. Kareen menatapnya dengan wajah memelas. Mata birunya ia bulatkan dengan sinar penuh harap, “Ayolah, Key! Kau tahu betapa aku menyukai ceritamu itu…,” rengeknya. Key mengalihkan pandangannya ke arah lain namun Kareen semakin mendekat dan memaksanya. “Key~~! Kumohon..!”

Oh, baiklah…,” gumam Key malas dengan suara besarnya yang menggema di seisi ruangan. Kareen bersorak riang lalu mengambil posisi duduk yang manis. Ia kembali menyandarkan tubuh ke arah cermin sambil memeluk lututnya dengan penuh antusiasme. Key memandang gadis itu dengan bola mata merahnya yang tampak teduh. Lelaki yang tampak amat rapuh itu menghela nafas sesaat lalu memulai ceritanya.

Dulu hidup seorang pria muda bersama keluarganya yang bahagia. Ia hidup tenang bersama teman-temannya yang menyenangkan. Lalu muncul seorang gadis yang mengaku menyukai pria muda itu. Gadis itu selalu berusaha mendapatkan si pria dengan segala cara. Namun pria muda itu sama sekali tak berkeinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan si gadis. Akhirnya pria itu menyatakan dengan jujur dan terus terang pada si gadis, bahwa dia sama sekali tak bisa membalas perasaan si gadis. Lelaki itu masih ingin hidup bebas sebebas jiwa mudanya.

 

“Gadis itu sangat tidak senang dengan pernyataan tersebut. Saat itu sihir berkembang luas dan gadis itu ternyata seorang penyihir tua yang menyihir dirinya menjadi muda kembali. Dengan penuh dendam penyihir itu mengutuk si pria sehingga ia terkurung dalam cermin. ‘Hiduplah bersama masa mudamu!!’ Ujar si penyihir marah saat itu. Penyihir itu mengatakan bahwa hanya ada satu cara untuk membebaskan si pria, sesuatu yang belum pernah dirasakan si pria dan mustahil dirasakannya dalam kehampaan dan dinginnya dunia cermin. Setelah kutukan itu, si pria mulai kehilangan orang-orang yang disayanginya satu per satu sampai ia benar-benar sendirian. Umurnya tak pernah bertambah tua dan ia tak bisa merasakan apapun. Ia menjadi bagian dari cermin dingin yang selalu memantulkan bayangan sementara ia adalah bayangan semu dalam cermin itu.”

Kareen menatap udara kosong di hadapannya sementara Key menyelesaikan cerita. Gadis itu bergumam, “Akhirnya tak pernah berubah, selalu gantung tiap kau bercerita. Apa cerita itu memang tak punya akhir atau kau hanya menyembunyikan akhirnya dariku?”

Cerita itu takkan pernah berakhir karena aku masih terkurung di dalam sini…,” jawab Key sambil ikut melayangkan pandangan entah ke mana.

“Kalau begitu, kita harus membuat akhir yang bahagia untuk ceritamu!” Tukas Kareen. “Katakan, bagaimana cara agar kau bisa keluar dari cermin itu. Bukankah tadi kau bilang ada caranya?” Tuntut Kareen semakin antusias. Ia tak sadar bagaimana pandangan mata lelaki yang kini berada di samping pantulan dirinya itu. Bibir merah Key tersenyum tipis, matanya terrpejam sesaat lalu kembali menatap Kareen dengan pandangan yang sama. Kareen mengerjap, masih menunggu jawaban pertanyaannya. “Cepat katakan!!” Tuntut Kareen lagi. Key menggeleng pelan.

Entahlah, aku tidak tahu…,” jawabnya sendu, “Aku tidak pernah tahu. Mungkin aku akan tetap terkurung di dalam sini selamanya…”

Kareen mendecak sebal dan semangatnya pudar seketika. Ingin sekali Kareen memukul bahu Key karena semangat hidupnya yang terlalu tipis. Tapi tentu saja ia tak bisa menyentuhnya walau Kareen bisa merasakan semacam sengatan saat Key menyentuhnya. Kareen hanya bangkit dari duduknya dan menghempaskan tubuh ke atas sofa. Wajah ovalnya tampak berpikir keras.

“Kita harus mencari tahu!” Ucapnya, “Aku pasti bisa mengeluarkanmu dari dalam sana! Pasti!!”

Key mendekati bayangan Kareen. Lelaki itu mengelus lembut rambut bayangan gadis itu yang tentu juga dirasakan tubuh nyatanya. Mata Kareen membelalak menerima sengatan pelan yang menjalar dari kepalanya, bahkan sengatan tersebut berubah menjadi aliran listrik pelan yang menjalar ke bagian lain dari dirinya yang tak pernah tersentuh lelaki lain sebelumnya. Hatinya.

Key mengecup pelan puncak kepala gadis itu, membuat Kareen terhenyak di tempatnya. Mata gadis itu semakin lebar menatap pantulan dirinya dan bayangan semu yang merengkuh erat dirinya itu. Key tersenyum manis. Sangat manis, sekaligus amat sedih. “Terima kasih, Kareen… You’re really my baby boo...,” bisiknya.

 

Sebenarnya aku tahu, hatiku enggan memberitahu

Karena semakin mengenalmu, kau semakin berrharga. Bagiku

Hidupmu,  nafasmu, dan tawa manismu

Semua terlalu berharga jika hanya untukku

***

Kaku. Dingin.

Hanya hal itu yang bisa dirasakan indera Key saat ini. Tidak, sebenarnya lelaki itu tak mampu merasakan apapun. Yang ada hanyalah kehampaan. Namun hatinya masih mampu merasa, terutama kebimbangan yang kini menghantui dirinya tiap kali sepasang mata merahnya menatap mata biru Kareen, bukan mata bayangannya. Ada kehangatan tersendiri yang merasuki kalbu Key saat gadis itu saat gadis itu tersenyum dan bercengkrama dengannya. Bukan hanya saat itu. Semua kebimbangan itu sudah dimulai sejak bayangan Kareen terpantul untuk pertama kalinya di rumah itu berbulan-bulan lalu. Namun Key tak mau berharap karena harapan yang baginya lebih semu dari dirinya itu dapat menghancurkan Kareen sekaligus dirinya sendiri.

“Mmmm…”

Key menoleh ke arah tubuh nyata Kareen yang bergumam pelan dalam tidurnya. Lelaki itu bergerak mendekati lapisan kaca yang memisahkan dunianya dan dunia Kareen, tangannya menyentuh kaca tersebut. Ingin rasanya ia keluar dari sana dan duduk di samping Kareen yang terlelap tenang. Ia meringis. Kehangatan semacam ini sudah lama tak mengisi hatinya, kehangatan yang ia harap bisa mencairkan lapisan dingin kaca itu. Dan kehangatan itu pula yang rasanya meremas kuat dada lelaki itu perlahan, memberi nyeri yang amat perih. Bahkan untuk tubuhnya yang buta akan rasa sakit ratusan tahun ini.

Key menempelkan bagian depan tubuhnya terus ke arah kaca, berharap ia bisa menembus lapisan tipis penuh laknat itu. Tapi semua itu tak berarti. Ia terlutut lemas, kembali mengutuk harapan yang tersimpan di hatinya.

Apa yang ingin kau lakukan, Key? Menggapainya? Bahkan jikapun ia berhasil mengeluarkanmu dari dalm sini, kau sendiri yang akan menghancurkan hidupnya! Rutuk Key dalam hati. Ia berbalik, duduk dengan punggung bersandar pada cermin. Otaknya mengulang kembali perkataan penyihir bejat yang mengurungnya dalam penderitaan itu.

“Kau akan menyesal, Key! Untuk semua hidup abadimu dalam cermin itu, kau akan menyesali keputusanmu menolakku!!” Bentak si penyihir ke arah Key yang memukul-mukul kaca yang mengurungnya. Seringaian muncul di bibir penyihir itu, “kau hanya bisa diselamatkan salah satu dari ‘mereka’, kaum yang selalu dihindari namun juga selalu didambakan kaummu! Sayangnya kaummu sendiri juga akan dihancurkan oleh ‘mereka’, begitu pula dengan kaumku. Lihatlah dari dalam sana dan tangisilah semua kebahagiaanmu yang terenggut oleh waktu! Setidaknya kau akan bahagia sesaat jika bersamaku, bukan? HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!”

 

Key memejamkan matanya sesaat lalu kembali menatap pantulan sinar bulan yang menyusup dari celah jendela. Ia kembali merenungkan kenyataan bahwa ini adalah kali pertama ia merasakan kehangatan yang begitu menyakitkan. Rasa sakit terkutuk itu menjalar cepat dari hatinya menuju ke seluruh tubuhnya. Menuju kulitnya, ujung-ujung jarinya, nadinya yang mengalirkan darah bekunya, dan menuju otaknya. Lagi-lagi ia meringis. Kehangatan itu baru pertama kali ia rasakan namun ia tahu rasa itu takkan bertahan lama. Semua akan kembali dingin saat Kareen tak ada lagi di sisinya.

 

“Maaf karena kebohonganku padamu, baby boo… Aku hanya ingin melindungimu… Aku ingin kau jadi orang yang dimaksud oleh penyihhir sialan itu, tapi aku juga tidak mau…” Key kembali meringis dan menutup matanya, “Terdengar bodoh? Hahaha… Aku hanya ingin kau tetap hidup, walau suatu saat nanti mungkin aku juga akan menyaksikan kematian menjemput hidupmu…..”

Tbc….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

36 thoughts on “Him In The Mirror [1.3]”

  1. Hey, ‘mereka’ itu siapa?
    Emg Key kaum apa?

    Brati umur Key dh tua bgt ya..
    Kkk~ sepertinya walo Key udh tua bakalan tetep ganteng..

    Cerita ini menarik!
    Beneran deh!
    Keep writing Author, next part-nya dh dikirim juga belom?

    1. wah, the first, niih…

      tentang kaumnya akan ttp menjadi rahasia sampai part terakhir…. hehehe…
      tenang aja, semua part udah dikirim, kok. tinggal diposting admins aja.^^

  2. BAGUS BANGET!
    akhirny dapat cerita fantasi yang hampir sama kerenny dengan Angel of Death!
    serius,ini KEREN FANTASTIS BADAAAI~

    jadi jadi, kisah yg diceritakan sama Keyitu mengenai hidupny yah, daebak!
    Saya kasih nilai 10 dari 10 deh untuk tema sama bahasany.KEREN!

    1. wah, keluar bahasa Sayharini-ny….

      gomawo atas komenny, author terharu banget…#ngelap ingus air mata, peluk reader#

      wah, udah dapat nilai segitu? author harap nilainya ttp segitu sampe akhir cerita 🙂

  3. Whoaaa…. Itu sebenernya masih ga ngerti aku dibagian kata kata kutukan si penyihiirr-_- tapi gapapaaa dgn ketidak mengertian ku pun ff ini tetep bagus kookk;) kkkk~ keep writing~ and FIGHTING!!

  4. Wahhh! akhirnya karya keduamu muncul yah, Bela. Setelah kemaren aku tergila2 bgt sama Devil’s Game. Dan FF ini, JUARA banget!! aku suka setting-nya, old England. ga kebeyang gmna kerennya Key ngomong pake logat British yg kental dan kostumnya kaya Van helsing *eh, pas baca pake topi tinggi yang usang ak langsung keingetan van helsing loh* .hha.

    Hemm, jdi Key itu kejebak di cermin gra2 penyihir yah?
    Apa mungkin kalo Kareen bisa nyelemetin Key, nantinya dia bakalan dibunuh sma penyihir itu? Ah! molla~ aku ga sabar buat baca next part-nya, semoga ga lama lgi publish.kekek.

    Sayangnya Kareen lebih suka menghabiskan waktu dan bekerja di rumah, membuat orang-orang yang tertarik padanya kehilangan kesempatan untuk dekat dan mengenal lebih jauh dirinya. Salah satu alasan Kareen bekerja di rumah adalah rasa sukanya berlama-lama menatap bayang dirinya lewat cermin besar di kamarnya. <– boleh tnya ga? ngomong2 pendeskripsian Kareen yg ini tuh diambil dari dirimu bukan, Bella? .hha. ga tau knpa wktu baca kalimat ini, aku berasa "Ih wow! gw banget!" .hha.

    oKEY deh, sekian dariku. komennya udah kepanjangan.
    Keep on writing yaa b^^d

    1. gomawo, Eun Cha eonni…*abis kyknya aku lbh muda*

      mian banget ga balas komen eonni d devil’s game, habisny udh g prnh dibuka lg page-ny yg itu…

      hehe… Bella juga ga tau gmn kalo Key ngmg British lancar plus logat aduhai(?)nya itu… pasti keren banget #peluk Key#
      si key mmg kejebak di cermin karena penyihir, tapi kalo Kareen berhasil nyelamatin Key…. ada, deh! mau tau~~~~ aja! #plaaak
      tinggal nunggu dipublish admin aja, kok. semoga eonni sabar menanti, y! hehehe…

      mmm… Kareen memang agak mirip sama aku soal lebih suka kerja di rumah, tapi kalo masalah suka di depan cerminnya yah aq masih blom seprah Kareen, kok… *berarti aq jg blm separah eonni, dong??hehe #dikejar Euncha eonni#

      tunggu next partny, y, eonn! *muach muach*

      1. A-yo, buka lagi dong Devil’s game yang part 3~ Ada pertanyaanku tuh, penasaran bgt.kekek.

        pasti keren banget! *ikutan peluk Key* abisan Key itu kn American English banget.
        huaaa, Bella bkin aku penasaran ajh nih. semoga wktu part 2 publish, ak blm nikah sma Key deh *plaaakkk*

        Nah kan bener, itu mirip sma kmu.kekek.
        iyh, parah bgt. Abisan di kamar ak jg pnya cermin yg lumayan gde dan betah ngaca terus ^^v kl ajh Key jg kejebak di cermin ak yh.hha. *khayalan tinggi*

        oKEY, Neneun neol gidarilke *nyanyi four season-SHINee*

        1. udah dijawab di Devil’s game part 3 tuh, eonn… semoga rasa penasarannya sedikit terobati~~

          part duanya udah dipost n kayaknya eonni blm nikah sama Key, deh…#rebut Key lagi#

          hehe… di rumah juga ada Cermin yg besar banget, hampir satu bidang dinding… gak salah kl jadi agak narsis, kn?? ^^
          saya juga berharap ada Key terjbak di situ… hhehehehe.. #ngarep tingkat dewa#

          hihi… sekarang tinggal nunggu part 3-nya aja, eonn~~

  5. fantasi banget. ini sangat menggelegar membahana badai. tapi kalo 3 part itu harusnya trilogi kan? bukan sequel? what everlah yang penting saya puas.

  6. wow bagus banget!! sampai chap 3 ya? seruuu!!

    oh jd itu cerminnya besar bgt ya? satu kamar ada bayangannya kan di cermin itu? #ngebayangin
    jadi key nyentuh kareen itu dr bayangan kareen di cermin? ohh baru ngeh aku. keren sumpah jalan ceritanya, jarang2 ada jln cerita kyk gini. pendeskripsiannya jg enak dibaca, hebat2 pokoknya 😀

  7. Ini authornya devil’s game dulu kan? Daebak thor , selalu suka sama ff bikinan author . Pemilihan katanya keren !!! author manzaaaeeeeee!!!!

  8. Hwaaa daebakkk
    Keren banget thor ^^)b
    Sebenernya gimana caranya biar Key bisa keluar?
    Eumm.. ‘mereka’ yg dimaksud penyihir itu kaum yeoja bukan sihh? ‘kaum’ key, para namja kh?
    trus knp Kareen bisa mati klo dia ngeluarin Key?
    Aigo penasaran. Lanjut next part thor!!

  9. Wow keren….jd ga sabar pengen baca next part nya….
    Keyyyyyy…..aku ngebayangin key pasti keren banget2an disini….aaaaaaaaaaaa
    Mata merah yg teduh…..

    Keep writing…. Bella^^

  10. Wooww DAEBAK..
    Ceritanya bikin penasaran,settingnya di England,trus bahasanya jg bagus..
    Serasa kita ada disana..haha *jd pihak ketiga doong 😀
    So,kalo Key mau keluar dari cermin,harus ada wanita yg suka ama dia,tapi akibatnya wanita itu bakal “hancur” ? Maksudnya hancur itu bukan mati kan?
    Please jangan dibikin sad ending yaa thor 🙂
    Ayoo dilanjuuttt 😀

  11. Waduuuuh nggak disangka ternya orng yang di dlm kaca adalah key! O.o anyway ceritanya mengasikkan nih,fantasi yaaaa tidak sedikit orng menganggap bahwa fantasi itu mengasikkan.alias pengen berharap yang bukan2,hahaha khayalan tingkat tinggi gitu! Lanjut thoooor!

  12. cetar membahana badai tornado…..
    super duper mega bagus /lebay bgt ini/ hahahaha

    itu kaum-kaum…
    kaum adam dan kaum hawa. trus kaum penyihir ya? #ngaco

    hmpir lupa klo ini 3 part.. hahaha
    ayo lanjutkan

  13. Dari tadi baca fantasi, dan ini bagus banget. aku suka sama permainan kata.y.
    “kau hanya bisa diselamatkan salah satu dari ‘mereka’, kaum yang selalu dihindari namun juga selalu didambakan kaummu! Sayangnya kaummu sendiri juga akan dihancurkan oleh ‘mereka’, begitu pula dengan kaumku. Lihatlah dari dalam sana dan tangisilah semua kebahagiaanmu yang terenggut oleh waktu!

    aku penasaran kaum ini maksud.y gimana? key serigala jadi2an seperti harry potter 3 itu atau vampir kayak twilight ya? hehe, efek nonton twilight masih terasa banget sih. next part jangan lama yah.

  14. idenya bagus, thor. gak biasa. aku kaget pas baca ceritanya, kok langsung selesai aja? padahal belum jelas tuh kaum yang dimaksud apaan. aku udah langsung mau minta sequel, eh baru nyadar kalo ini berchapter! hoho *curhatdikit

    settingannya keren nih, england~ hoho semoga next chapnya gak lama-lama yaa ^^b

  15. keren banget! aku jadi speechless, gak tau pengen bilang apa.
    fantasi.y main banget, narasi.y jg bagus banget, bikin aku bayangin key jadi orang inggris jaman dulu. next part ditunggulah.

  16. Wahh, suka banget ama FF bergenre fantasi gini, bisa bawa kita berhayal ke mana mana

    FF ini feel’a dapet banget, aku bener2 bisa bayangin gimana Key dlm cermin itu, bagus baguss
    Aku mau ngacir dulu ke part selanjutnyaaa~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s