The Blue in You – Part 1

the-blue-in-you

Title : The Blue in You – Chapter 1 : The Broken Vow

Author : Lumina

Main Cast :

  • Jung Yoora (OC)
  • Choi Minho (Shinee)
  • Kim Kibum (Shinee)
  • Jung Yoogeun (ulzzang)

Support Cast : Kim Jonghyun

Rating : PG – 17

Genre : romance, family, drama

Ps : Sebenarnya, miris hati memilih cast untuk FF ini. Menempatkan Minho sebagai karakter yang *sensored*. Errr.. karena ff ini agak2 menjurus (biarpun belom sampai rating NC) tapi untuk yang masih di bawah umur, dengan kesadaran masing2 silahkan skip beberapa paragraf yang menjurus itu, atau kalau pun mau baca, ingat FF ini sebenernya punya pesan moral yang gak boleh diabaikan. Enjoy🙂

Disclaim : -Don’t take any part of this fiction without permission-

 ====================================

 

Matahari bersinar cerah di atas cakrawala, menguasai langit di akhir musim panas yang terik. Cahaya jingganya menembus rimbunnya daun-daun, mencari celah agar berkas-berkas sinarnya dapat menjangkau sudut-sudut gelap yang tersembunyi di bawah rindangnya pohon. Cahaya yang sama menyinari kaca-kaca jendela yang berdiri berjejeran di gedung sekolah menengah atas di Seoul. Menembus kaca bening tak bertirai dan membuat debu-debu yang melayang di baliknya tampak berkilau seperti bubuk permata.

 “Uhmm..” gumam Yoora pelan ketika bibir Minho melumat bibirnya semakin dalam. Mata Yoora terpejam, menikmati setiap sentuhan bibir Minho di bibirnya. Ada sedikit rasa geli ketika Minho mulai memainkan lidahnya dan berusaha memperdalam ciuman mereka.

Kelas telah usai hampir satu jam lalu. Lampu ruang kelas telah dimatikan. Penerangan dalam kelas kini hanya mengandalkan satu-satunya cahaya yang tak pernah pudar dari mentari di atas sana—yang sinarnya menembus jendela-jendela kaca di sisi kiri kelas.

Minho duduk di atas meja kayu setinggi pinggang. Kaki-kakinya yang panjang masih dapat menyentuh lantai putih ruang kelas. Tanpa membuka matanya, tangan kanan Minho menaikkan dagu Yoora sedikit lebih tinggi, sedangkan tangan kirinya masih dengan erat memeluk pinggang ramping Yoora yang berdiri di hadapannya—agar gadis itu tetap berada pada jarak yang cukup dekat dengannya.

Minho berusaha memaksa Yoora membalas ciumannya, bukan hanya membiarkannya bermain sendiri dengan bibir mungil gadis itu. Digigitnya pelan bibir bawah Yoora sehingga gadis itu perlahan memberi celah di antara bibirnya. Minho tak menyiakan sedetik pun waktu, lidahnya segera menyusup ke dalam mulut Yoora dan bermain semakin dalam.

“Engg..” erang Yoora ketika lidah Minho dengan lembut telah mengerayangi rongga mulutnya, memaksa lidahnya untuk ikut bergerak. Gadis itu dengan perlahan mendorong dada Minho menjauh—cukup pelan untuk sebuah kode agar Minho menghentikan aktivitas mereka.

Minho tak menggubris dorongan pelan tangan Yoora di dadanya—bahkan dada bidangnya mungkin hampir tak merasakan dorongan itu. Pada akhirnya Yoora menyerah ketika ia hampir kehabisan oksigen dan membuat dadanya terasa sesak. Yoora menarik kepalanya ke belakang seraya mendorong Minho sedikit lebih kuat.

Wae?” tanya Minho begitu bibirnya menjauh dari bibir merah muda milik gadis di hadapannya. Kedua tangannya dilingkarkan di pinggang Yoora seerat mungkin, mencegah gadis itu beranjak sebelum memberinya jawaban.

“Jangan diteruskan lagi,” pinta Yoora lirih, “Kau semakin berbahaya, Minho-ya.”

Minho mengangkat sebelah alisnya, “Berbahaya seperti apa maksudmu?” bisiknya di telinga Yoora, membuat gadis itu terkekeh geli ketika nafas hangat Minho menggelitik permukaan daun telinganya.

Tanpa menunggu jawaban Yoora, Minho kembali memajukan tubuhnya dan mengecup kilat pipi halus Yoora, “Kuantar kau pulang.”

***

Minho melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping Yoora dari belakang. Tangannya yang lain memegang gelas berisi wine yang berkilau ungu kemerahan di bawah terpaan cahaya lampu kristal di atas ruangan pesta.

“Kau.. cantik,” bisik Minho di telinga Yoora.

Kata-kata itu bukan sekedar pujian gombal yang diucapkan Minho. Malam itu Yoora memang tampil sangat mempesona. Tubuh rampingnya terbalut one shoulder dress selutut berwarna hitam. Kakinya yang jenjang bertahta di atas heels silver setinggi sepuluh sentimeter. Anting-anting perak panjang menghiasi telinganya, memantulkan cahaya berkilau yang berhasil menyusup melewati rambut hitamnya yang berombak. Wajah Yoora tampak segar dan cantik berkat make-up natural dengan pipi yang merona merah muda.

Seperti takut seseorang akan merebut Yoora jika ia lengah, Minho tidak pernah melepaskan pandangannya dari Yoora. Sekali pun lengannya tidak selalu terlingkar di pinggang gadis itu, namun matanya tidak pernah melepaskan sosok menawan Yoora. Bahkan Minho selalu memastikan gadis itu tetap berada dalam jarak pandangnya ketika ia berbincang dengan teman-temannya.

Yoora dengan cemas melirik jam pada ponsel dalam clutch warna hitam yang dibawanya. Sudah hampir jam sepuluh malam, sedangkan tidak ada tanda-tanda bahwa pesta akan usai. Bahkan Yoora bisa melihat tamu-tamu pesta masih berbincang akrab satu sama lain. Jumlah tamu yang berada dalam ruang pesta tidak kunjung berkurang dan hal itu membuat Yoora mulai berkeringat dingin.

Ditariknya ujung lengan semi jas yang dikenakan Minho. Biar bagaimana pun, Minho harus membawanya pulang saat ini juga. Yoora berhasil datang ke pesta menemani Minho dengan alasan belajar bersama di rumah salah satu teman sekelasnya. Dan saat ini bahkan sudah terlalu malam untuk acara belajar bersama yang tak kunjung berakhir.

Wae?” tanya Minho ketika merasa ujung semi jasnya tertarik, ia sedikit berbalik dan membungkuk ke arah Yoora.

“Kita harus pulang, sekarang,” ujar Yoora dengan penekanan di akhir kalimatnya.

“Tapi pesta belum berakhir,” balas Minho setengah berbisik, “Tidak sopan jika kita pergi begitu saja. Setidaknya, tunggulah kami selesai mengobrol dan aku bisa pamit pada teman-temanku, ne?”

“Ta..” Kalimat Yoora terputus ketika Minho kembali menghadap ke arah teman-temannya dan membelakangi Yoora.

Yoora menghembuskan nafas gusar. Mengetuk-ngetukkan ujung heelsnya pelan. Menghitung detik demi detik yang terasa berlalu sangat lama.

Waktu menunjukkan pukul 10.42 ketika akhirnya Minho mengakhiri perbincangan dengan teman-temannya. Yoora segera menarik lengan Minho, berjaga-jaga siapa tahu ada topik yang terlewat sebelumnya dan membuat namja itu tertahan lebih lama lagi.

“Kalian mau pulang?” tanya seorang namja yang tadi diperkenalkan oleh Minho dengan nama Jonghyun.

Minho tersenyum sambil mengangkat alisnya, “Ne, kurasa sudah malam. Aku harus mengantar yeojachinguku pulang. Kami duluan,” ujar Minho sambil mengangkat salah satu tangannya yang masih menggenggam gelas wine—tangan lainnya masih digenggam erat oleh Yoora.

“Menginaplah di rumahku. Sudah terlalu malam. Lagipula besok hari Sabtu dan sekolahmu libur,” tawar Jonghyun.

Yoora mengernyit mendengar tawaran yang baru saja terucap dari mulut Jonghyun. Ia segera menarik tangan Minho lebih keras. Yoora tak ingin berlama-lama lagi di tempat ini. Ia ingin segera pulang, tentu saja ia harus mulai memikirkan seribu alasan yang akan diutarakannya kepada kedua orang tuanya.

Minho baru saja ingin menolak halus tawaran Jonghyun ketika Yoora menarik lengannya. Tarikan yang tiba-tiba membuat Minho terkejut sehingga tanpa sadar menumpahkan sisa wine yang berada dalam gelas di genggamannya.

“Aaah,” seru Yoora ketika merasa sesuatu tumpah di atas gaunnya.

Dengan gugup Minho segera mengangkat gelas wine yang miring di tangannya. Matanya tertuju pada bagian dekat pinggang gaun Yoora yang basah terkena tumpahan wine.

Mian, gwenchana?” tanya Minho ragu ketika melihat Yoora sudah sibuk memperhatikan bagian gaunnya yang terkena wine.

Yoora terlalu fokus pada kecelakaan kecil yang baru saja dialaminya. Ia tak benar-benar tahu percakapan seperti apa yang terjadi di antara Minho dan Jonghyun. Ia hanya merasa terkejut dan bingung ketika Minho menarik tangannya untuk berjalan mengikuti Jonghyun.

“Masuklah, aku akan menyuruh pelayanku membawa pakaian bersih untuk yeojachingumu. Kurasa ukuran tubuhnya tak berbeda jauh dari adikku,” ujar Jonghyun seraya membuka pintu sebuah kamar di hadapan Minho dan Yoora.

Jonghyun mempersilahkan Minho dan Yoora masuk ke dalam kamar yang cukup luas. Di dalam kamar terdapat satu tempat tidur double size dengan dua nakas kecil di sisi kiri dan kanannya. Sebuah lemari kayu berwarna coklat huzzel menjulang tinggi di salah satu sisi dinding kamar. Ada sebuah pintu berwarna putih di dalam kamar—yang nampaknya adalah pintu kamar mandi.

Yoora sedang memperhatikan detail kamar saat terdengar suara pintu diketuk dari luar dan seorang pelayan masuk membawakan pakaian untuknya. Pelayan tersebut meletakkan pakaian di atas tempat tidur, lalu pamit dan menutup kembali pintu kamar rapat-rapat.

“Ganti dulu pakaianmu,” ucap Minho seraya mengangkat pakaian yang dibawakan pelayan tadi dan mengulurkannya ke arah Yoora. Matanya melirik sebuah pintu putih—yang nampaknya adalah pintu kamar mandi—yang berada di belakang punggung Yoora.

Yoora menerima pakaian yang diulurkan Minho. Ia segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Yoora segera melepaskan gaunnya yang terkena tumpahan wine. Ia menyalakan keran washtafel dan membasuh pinggangnya yang sedikit lengket karena terkena resapan wine.

Dikenakannya pakaian yang dibawakan pelayan untuknya. Sebuah simple dress berwarna broken white dengan sederet tipis lace di bagian bawahnya. Setelah memastikan pakaiannya sudah dikenakan dengan baik, Yoora melangkah kembali ke dalam kamar sambil membawa gaun hitam di tangannya.

Minho menunggu Yoora sambil duduk di tepi tempat tidur. Ia segera menoleh ketika mendengar suara decitan pintu terbuka. Minho tersenyum ke arah Yoora yang keluar dengan simple dressnya.

“Apa sebelumnya aku pernah bilang bahwa kau cantik apapun yang kau kenakan?” puji Minho. Yoora tersipu malu mendengar pertanyaan Minho yang lebih tepat dikatakan sebagai pujian.

“Kurasa, belum,” jawab Yoora singkat seraya berjalan ke arah Minho.

Tangan kekar Minho segera menarik Yoora ke dalam pelukannya ketika gadis itu tiba di hadapannya. Yoora terhuyung sehingga tubuhnya jatuh terduduk di pangkuan Minho.

“Kalau begitu,” ucap Minho lebih seperti berbisik, “..aku akan mengatakannya sekarang. Kau sangat menawan,” lanjut Minho disertai ciuman singkat yang mendarat di bibir Yoora.

“Malam ini kau terlalu memujiku. Entah sudah berapa kali kau memujiku. Kau ingin aku terbang ke angkasa?” cibir Yoora tanpa melepaskan pandangan matanya dari Minho.

Minho mendaratkan satu lagi ciuman singkat di bibir mungil Yoora, “Karena malam ini kau memang pantas mendapatkan semua pujian dariku.”

Hal pertama yang saat itu rasanya hampir terlupakan, bahwa seharusnya saat ini Yoora telah berada di dalam mobil Minho dan sedang berkendara pulang ke rumahnya—bukan berada di dalam kamar seperti yang sekarang mereka lakukan. Dan hal kedua yang mungkin Yoora ingat—namun  tanpa alasan yang jelas, ia memilih untuk melupakan sejenak hal itu—adalah larangan berpacaran dari orang tuanya karena ia masih di bawah umur. Lantaran siapa yang peduli? Sorot mata teduh yang terpancar dari kedua bola mata Minho, serta kelembutan setiap ciuman yang mendarat di bibirnya nampaknya mampu membuat gadis itu melupakan seisi dunianya.

Tangan Minho merengkuh tengkuk Yoora, menarik gadis itu mendekat agar ia dapat menyatukan bibir mereka dengan nyaman. Tanpa aba-aba, Yoora memejamkan mata lalu balas mengalungkan kedua lengannya di leher Minho ketika tangan namja itu telah beranjak turun memeluk pinggangnya.

Minho mencium bibir Yoora dengan penuh kelembutan. Yoora merasa kehangatan bibir Minho telah menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga kepersendian dan ke setiap nadinya. Perlahan tapi pasti, Minho memperdalam ciumannya. Dengan lembut ia melumat bibir mungil Yoora.

“Uhmm..” Yoora mendesah pelan ketika lidah Minho kembali memaksa menyusup masuk ke celah bibirnya. Yoora bukan gadis yang agresif. Selama ini ia selalu membiarkan Minho lebih banyak bermain sendiri, sedangkan ia hanya menikmati bibir Minho dalam diam. Namun kali ini, Yoora merasa sedikit keberanian mendesaknya untuk membalas ciuman Minho.

Minho membuka sedikit matanya. Bibirnya masih tidak melepaskan bibir Yoora. Tangan Minho bergerak, memutar tubuh Yoora yang berada di pangkuannya hingga jatuh ke atas tempat tidur yang terasa lembut dan nyaman.

Yoora sedikit terkejut ketika tubuhnya terhempas ke atas tempat tidur. Gadis itu membuka matanya dan berhenti membalas ciuman Minho.

“Aa..” Kalimat Yoora terhenti ketika bibir Minho kembali melanjutkan aktivitas yang sempat terpotong. Yoora kembali memejamkan matanya ketika tangan kanan Minho membelai lembut pipinya.

“Engg..” Yoora berusaha mendorong tubuh Minho yang berada di atas tubuhnya dalam jarak yang sangat dekat.

Mengerti bahwa Yoora mulai kehabisan nafas, Minho melepaskan bibir Yoora. Menjauh sejenak lalu membuka matanya. Tatapan Minho bertemu dengan tatapan mata Yoora, membuat jantung keduanya berdesir oleh perasaan yang tak mampu mereka ungkapkan.

Minho mengecup pipi Yoora lembut, lalu mengecup ujung hidung gadis itu. Yoora terkekeh geli mendapat perlakukan seperti itu. Melihat Yoora tampak menyukai kecupannya, Minho kembali mengecup pipi Yoora singkat lalu mulai turun mengecup pangkal lehernya.

Yoora mengangkat tangannya, mengalungkan kedua lengannya melingkari leher Minho yang masih menciumi wajahnya hingga ketengkuknya.

“Geli, Minho-ya. Hentikan,” ucap Yoora sambil terkekeh pelan.

Dalam jarak sedekat itu, mustahil telinga Minho tak mendengar ucapan Yoora, namun ia tak berniat berhenti. Tangannya mengelus lengan Yoora yang melingkar di lehernya, lalu turun hingga meremas pelan bahu gadis itu, sedangkan bibirnya masih menikmati setiap inchi kulit halus Yoora yang beraroma wangi.

Saranghae, Yoora-ya. Sekarang dan sampai selamanya,” bisik Minho pelan ditelinga Yoora sebelum mengecup pelan daun telinga gadis itu.

Naddo,” balas Yoora lirih sebelum akhirnya benar-benar larut dalam buaian asmara dan melupakan segala sesuatu dalam dunianya, kecuali namja yang dicintainya. Satu kalimat dari Minho, bahwa namja itu mencintainya sekarang dan selamanya telah mampu membuat Yoora menyerahkan segalanya. Gadis itu hanya diam, menikmati setiap sentuhan hangat yang semakin memanas seiring berputarnya jarum jam, hingga Minho menyatukan tubuh mereka dan merenggut apa yang seharusnya Yoora jaga.

***

Key mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja. Sudah beberapa menit sejak bel pulang sekolah berbunyi ia terlihat gusar. Matanya mengawasi pintu kelas, harap-harap cemas menunggu seseorang kembali ke dalam kelas.

Setelah sepuluh puluh menit menanti, akhirnya Yoora—sosok yang ditunggunya, tampak berjalan melewati pintu kelas. Key segera bangkit berdiri dan menghampiri Yoora yang berjalan ke bangkunya—dua bangku di depan Key.

“Kau kemana saja? Mengapa ke toilet begitu lama? Kau tahu tadi Han Songsaenim mencarimu dan menanyakan hasil tugas kelompok kita?” tanya Key beruntun.

Yoora menghela nafas, tangannya masih memegangi perutnya yang terasa mual sejak beberapa waktu lalu.

Mianhae, Key. Sepertinya aku kurang enak badan. Lalu bagaimana tugas kelompok kita?” tanya Yoora dengan suara pelan seperti kehabisan tenaga.

Key menatap Yoora cemas melihat keadaan gadis itu yang sepertinya lemah. Diperhatikan wajah Yoora yang nampak pucat.

Gwenchana?” tanya Key tanpa menjawab pertanyaan Yoora.

Yoora mengangguk pelan, “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing dan.. mual.”

“Mau kuantar pulang?” tawar Key tulus dengan nada cemas.

Gomawo, tapi tidak perlu,” tolak Yoora halus, “Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Sama sekali tidak merepotkan,” elak Key begitu Yoora menyelesaikan kalimatnya.

Yoora hanya membalas ucapan Key dengan senyuman tipis. Ia mengambil tasnya dan bangkit berdiri dari kursi, “Nanti aku akan menghubungimu untuk tugas kelompok kita. Mianhae, sudah menyusahkanmu.”

Key memperhatikan sosok Yoora yang berlalu dari hadapannya dan menghilang di balik pintu. Matanya masih terpaku menatap pintu kelas beberapa saat ketika sosok Yoora telah lenyap. Seperti tertarik magnet yang begitu kuat, pandangan mata Key tidak kunjung dapat beralih jika telah memperhatikan gadis yang diam-diam ia sukai itu. Namun apa daya, gadis itu telah memiliki kekasih dan Key bukanlah tipe namja yang suka merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain—termasuk Yoora yang telah menjadi kekasih Minho.

***

Rasa mual lagi-lagi menyergap. Yoora merasa perutnya seperti dikocok hingga ia memuntahkan isi perutnya keluar.

Yoora menyalakan keran air untuk membasuh bibirnya. Dipandangnya cermin yang tergantung di hadapannya. Batinnya bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya? Ia tidak merasa sakit. Kecuali rasa pusing dan mual yang sering muncul tiba-tiba.

Dengan agak gontai, Yoora kembali masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di sisi tempat tidur. Matanya melirik kalender yang tergeletak di atas nakas. Yoora teringat sesuatu. Diingatnya hari-hari yang ia lalui di bulan lalu, Ia ingat benar ia tidak sedang haid ketika orang tuanya mengajaknya berkunjung ke rumah kerabat mereka. Pikirannya melayang ke satu bulan sebelumnya, dan ia tidak dapat mengingat bahwa ia juga mendapatkan tamu yang datang setiap bulannya itu. Jika ia tidak salah hitung maka sudah dua bulan lebih beberapa hari sejak kali terakhirnya mendapatkan haid.

‘Andwe,’ batin Yoora ketika sebesit pikiran negatif terlintas di kepalanya. Tanpa banyak membuang waktu, Yoora segera menyambar jaket dan dompetnya. Ia harus memastikan bahwa pikirannya salah.

***

Tubuh Yoora bergetar ketika melihat dua buah garis merah terpampang jelas di atas testpack kehamilan yang ia beli di minimarket dekat rumahnya. Yoora menggelengkan kepalanya seolah menolak kenyataan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia yakin pasti ada kesalahan. Mungkin saja alat itu rusak.

Diambilnya testpack lain dari dalam kantung plastik. Yoora harap-harap cemas ketika testpack tersebut mulai bereaksi membentuk sebuah garis merah dan diikuti satu garis merah lagi tepat di sebelah garis pertama.

Seketika tubuh Yoora terasa lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi rumahnya. Digigitnya kuat-kuat bibir bawahnya yang bergetar. Kali ini ia sadar, alat itu tidak rusak. Ia sadar perkiraannya tidak salah. Rasa pusing dan mual yang belakangan ini sering ia alami. Haid yang tidak kunjung datang. Dua garis merah yang terpampang pada testpack. Semua hal itu sudah cukup membuktikan bahwa ada sebuah nyawa baru tumbuh dalam rahimnya. Ia mengadung. Ya, kenyataan yang tidak ingin ia terima. Namun suka atau pun tidak, ada seorang bayi yang saat ini bertumbuh dalam rahimnya. Bayi itu adalah bayinya dan Minho.

***

Langit-langit kamar berwarna broken white terpantul dalam bola mata Minho selama berjam-jam berbaring di atas tempat tidurnya dengan mata memandang kosong, sedangkan pikirannya telah mengudara jauh menembus cakrawala, mencoba mencari cahaya di antara kumpulan awan-awan mendung yang gelap. Hanya kesunyian yang menemani raganya dengan sesekali terdengar suara hembusan nafas panjang dari paru-parunya.

Pikiran Minho tertuju pada seorang gadis—kekasihnya, Yoora. Bukan. Ia bukan sedang merindukan kekasih hatinya itu. Minho memang seorang namja yang baru menginjak usia 19 tahun, namun ia sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa berpacaran tidak berarti hanya ada kau dan dia dalam dunia ini sehingga kau harus terus merindukan kekasihmu. Bukan perasaan rindu yang menyebabkan Minho terus memikirkan Yoora, namun perasaan cemas pada keadaan gadis itu. Sudah beberapa hari ini Yoora tak masuk sekolah dan juga tak menghubunginya. Ia telah mencoba mengirim pesan pada gadis itu, berkali-kali menelpon, namun semuanya tak terbalas.

Minho membuka mata, lagi-lagi memandangi langit-langit berwarna broken white. Ia menarik nafas sebanyak mungkin hingga paru-parunya seolah mau meledak kemudian menghembuskannya kembali dengan kasar.

“Aghh!” pekiknya keras seraya mengacak rambutnya ketika kesabarannya sudah habis. Minho melompat dari tempat tidur. Tangannya dengan cepat menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas nakas. Satu hal yang memenuhi pikirannya, ia harus menemui Yoora dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

***

Minho tiba di depan gerbang rumah Yoora bersamaan dengan sebuah ambulance dengan sirene yang menyala. Minho memutuskan menghentikan mobilnya beberapa meter di belakang mobil ambulance. Diperhatikannya dua orang petugas berseragam putih turun dari mobil membawa tempat tidur rumah sakit yang dilengkapi roda. Kedua petugas tersebut dengan tergesa masuk ke dalam rumah Yoora.

Menit demi menit berlalu, kedua petugas rumah sakit tersebut keluar membawa seorang pasien di atas tempat tidur yang mereka dorong bersama. Minho memicingkan mata untuk melihat tubuh yang terbaring di atas tempat tidur tersebut. Perhatiannya tiba-tiba teralih ketika melihat Yoora keluar dari gerbang rumahnya. Rambut panjangnya sedikit berantakan dan wajahnya terlihat merah karena menangis. Yoora berjalan beriringan dengan Nyonya Jung—ibunya.

Minho baru saja hendak turun dari mobil untuk menghampiri Yoora, namun ia terpaksa mengurungkan niatnya ketika melihat Yoora dan Nyonya Jung naik ke dalam mobil ambulance, menyusul pria yang terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur, yang ternyata adalah Tuan Jung.

Minho kembali memakai seatbeltnya lalu menghidupkan mesin mobil. Perlahan tangannya bergerak memasukkan gigi mobil diikuti gerakan kakinya menginjak pedal gas. Dengan hati-hati ia mengikuti mobil ambulance yang telah melaju lebih dulu beberapa meter di depannya.

***

Aroma khas rumah sakit menusuk indera penciuman hingga membuat Yoora merasa agak mual. Ia mencoba tak menghiraukan rasa mualnya dan memusatkan perhatiannya ke pintu Unit Gawat Darurat tempat ayahnya sedang diperiksa saat ini. Sesekali Yoora melirik Nyonya Song, ibunya, yang terduduk lemah dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir di kedua pipinya.

Semua ini adalah kesalahannya. Ia yang telah menyebabkan ayahnya kini terbaring di dalam ruang UGD, juga membuat ibunya menangis sambil terus berdoa dan berharap agar ayahnya baik-baik saja.

Yoora memegang pipinya yang tiba-tiba kembali terasa panas. Tamparan keras yang dilayangkan ayahnya seolah baru saja diterimanya beberapa detik lalu. Tamparan yang sudah sepantasnya ia terima karena perbuatannya yang telah menyebabkan aib bagi keluarganya.

Waktu memang tak pernah berputar mundur. Apa yang telah terjadi tak dapat lagi ia tolak. Harusnya ia tak pernah melanggar larangan kedua orang tuanya dan menjalin hubungan diam-diam dengan seorang namja tanpa sepengetahuan orang tuanya. Harusnya ia bisa menahan diri untuk tidak terjerat terlalu dalam pada cinta buta yang tak berakal sehat. Namun, apalah arti penyesalan saat semuanya sudah terlambat seperti sekarang? Ia mengandung. Ada seorang bayi yang sedang tumbuh dalam rahimnya.

Bodoh? Ya, mungkin itu kata yang tepat ditujukan baginya. Yoora tak merasa dirinya sedikitpun akan melawan semua makian yang ditujukan padanya. Ia merasa dirinya pantas menerima semua makian tersebut, termasuk makian yang dilontarkan ayahnya—yang terus terngiang di telinganya.

“Hamil?!” pekik Tuan Jung setelah mendengar pengakuan Yoora, tangannya terangkat dan melayangkan satu tamparan yang keras di pipi kiri Yoora, “Kau.. Kau sungguh anak tak tahu diri! Setelah sekian lama aku dan ibumu membesarkanmu, apa ini balasan yang kau berikan pada kami? Mencoreng wajah dan nama baik kami! Membawa aib bagi keluarga!”

Yoora menyesal karena telah membawa aib bagi keluarganya. Lebih dari itu, kesehatan ayahnya ternyata tak cukup kuat untuk menerima berita memalukan—kehamilannya. Yoora tak sempat lagi merasakan nyeri di pipinya akibat tamparan yang diterimanya begitu melihat ayahnya jatuh dengan tangan memegang dada kirinya yang terasa sakit.

Pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter berpakaian serba putih keluar dari dalam ruang UGD ditemani seorang suster. Nyonya Jung segera mengangkat kepalanya. Dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Nyonya Jung berdiri menghadap dokter yang berjalan ke arahnya. Yoora perlahan mendekat dan berdiri di samping ibunya dalam diam.

“Maaf, kami telah berusaha sebaik mungkin,” ucap dokter dengan nada setenang mungkin, berbanding terbalik dengan raut wajah Nyonya Jung memucat pasi, “Suami anda telah tiada.”

Untuk sesaat, Yoora meragukan pendengarannya. Tidak mungkin ayahnya meninggal. Tidak. Dalam hati ia berharap kali ini ia memang salah dengar atau mungkin dokter di hadapannya salah bicara. Bagaimana mungkin ia harus menanggung beban seberat ini?

BRUKK! Tubuh Nyonya Jung terkulai lemah hingga jatuh ke lantai.

Eomma!” teriak Yoora seraya berlutut dan mengangkat kepala Nyonya Jung yang telah tak sadarkan diri. Suster yang sejak tadi berada di samping dokter segera memanggil suster lainnya dan bersama-sama mengangkat tubuh Nyonya Jung ke atas tempat tidur lalu mendorongnya menuju kamar pasien.

Yoora baru saja hendak berlari menyusul Nyonya Jung ketika langkahnya tertahan oleh seseorang yang berdiri di depannya. Seseorang yang sangat ia kenal dan ia cintai. Seseorang yang harusnya juga turut bertanggung jawab atas apa yang saat ini harus ia alami.

***

Dengan kedua matanya, Minho terus mengawasi Yoora dari balik dinding koridor yang membatasi mereka. Berkali-kali ia menahan dirinya untuk beranjak dan menemui Yoora serta memeluk tubuh gadis yang sangat ia rindukan itu. Namun ia memilih untuk mengamati situasi.

Minho terkejut ketika tubuh Nyonya Jung terjatuh ke lantai setelah mendengar kabar yang disampaikan dokter. Melihat perawat membawa Nyonya Jung, Minho memutuskan untuk melangkah maju—membiarkan Yoora menyadari kehadirannya.

“Kau,” gumam Yoora pelan dengan suara agak serak karena habis menangis.

Tanpa kata-kata, Minho mengulurkan tangannya, menarik tubuh Yoora dalam pelukannya, “Bogosippo, Yoora-ya.”

Tangan Yoora terangkat, memukuli dada Minho sekeras yang ia bisa. Berkali-kali pukulan dilayangkan. Minho tak mengerti mengapa Yoora memukulinya, ia beranggapan bahwa gadis itu sedang emosi akan berita kematian ayahnya. Sedikit pun Minho tak berniat melepaskan pelukannya, malah sebaliknya, tangannya semakin erat mendekap tubuh Yoora dalam pelukannya.

Setelah puas meluapkan emosinya, tangan Yoora berhenti memukuli dada Minho. Gadis itu sekarang justru berusaha mendorong tubuh Minho menjauh agar melepaskan pelukannya. Yoora sadar, ia tak boleh lagi terbuai dalam perasaannya pada Minho. Tidak, karena ada satu hal yang lebih penting yang harus ia katakan.

Melihat Yoora berusaha mendorongnya, Minho perlahan melepaskan pelukannya. Ia berdiri tertegun memandang ke arah Yoora dan menunggu gadis itu bicara.

“Aku hamil,” ucap Yoora dengan kedua mata menatap lekat mata Minho.

“Apa yang barusan kau katakan?” tanya Minho ragu seolah kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Yoora tidak terdengar dengan jelas di telinganya.

Yoora mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Matanya menatap mata Minho lekat-lekat sebelum kembali membuka mulutnya untuk mengulangi perkataannya. Butuh keberanian lebih untuk mengucapkan hal yang sama dua kali, “Aku hamil.”

Senyuman canggung perlahan terukir di sudut bibir Minho, “Kau serius?”

“Maksudmu aku berbohong tentang hal semacam ini?”

Minho menatap mata Yoora intens. Mencoba mencari kemungkinan bahwa gadis di hadapannya mungkin hanya sedang bercanda. Tapi akal sehatnya mengatakan tidak mungkin gadis itu bercanda dalam suasana berduka seperti ini. Minho menduga-duga apakah hal inilah yang membuat Tuan Jung terkejut dan akhirnya meninggal karena serangan jantung?

 “Aku tidak percaya kau benar-benar.. hamil. Aku tidak siap,” ucap Minho datar.

Jantung Yoora seperti ditikam sebilah pisau tajam. Ia hanya berkata bahwa ia hamil dan bahkan belum sempat menyinggung masalah pertanggungjawaban yang harus ditanggung oleh Minho, namun namja itu telah berkata lebih banyak daripada apa yang dipikirkan dalam kepalanya.

Aku-tidak-siap. Kira-kira apa arti dibalik tiga kata itu?

Minho mengalihkan pandangannya dari Yoora. Matanya memandang entah kemana sementara pikirannya bergelut dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Hamil? Bayi? Ia akan menjadi seorang ayah dalam usia semuda ini? Tidak, bahkan usianya baru sembilan belas tahun.

“Yoora, aku sungguh tidak siap menerima kenyataan bahwa.. kau hamil,” ucap Minho lagi tanpa memandang Yoora, mungkin ia berkata pada udara dingin rumah sakit di sekitarnya dan meminta mereka menyampaikan pesan ke telinga Yoora.

Yoora menatap Minho lekat, memperhatikan setiap gerakan yang dibuat namja itu dengan gugup, “Tapi aku hamil. Anak kita. Anakku dan juga kau,” tegas Yoora dengan penekanan pada setiap kalimatnya. Kenyataan bahwa ayahnya baru saja meninggal dan Minho yang nampaknya menolak bertanggung jawab membuat emosi Yoora meninggi.

Mata Minho kembali tertuju pada gadis itu. Sorot matanya penuh kebingungan dengan bola mata yang bergetar pelan, “Aku tidak siap, Yoora. Aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah.”

“Lalu bagaimana denganku? Apa kau kira aku siap menjadi seorang ibu?” tanya Yoora mulai menaikkan nada bicaranya.

Minho meraih bahu Yoora, meremas kedua bahu gadis itu dengan tangannya, “Kau menginginkan bayi itu?”

‘Bayi itu?’ batin Yoora. Mengapa terdengar seolah bayi dalam kandungannya adalah sebuah barang yang berada di etalase toko dan ia bisa membuat keputusan menginginkan barang itu atau tidak?

“Aku tidak berencana menggugurkannya, jika itu yang ingin kau tanyakan,” tegas Yoora menyimpulkan sendiri makna dibalik ucapan Minho.

Minho mendesah pelan, “Aku tidak menyuruhmu melakukan hal itu.”

Yoora menunggu Minho melanjutkan kata-katanya, namun waktu bergulir begitu saja dalam diam. Tak ada satu kata pun terucap dari mulut Minho.

“Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya Yoora pada akhirnya ketika sudah tidak bisa menahan diri dalam kebisuan.

Minho melepaskan tangannya dari bahu Yoora. Matanya menatap lurus koridor panjang rumah sakit, “Entahlah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

Dilayangkannya tatapan tajam ke arah Minho sebelum gadis itu menyinggung sesuatu yang seharusnya menjadi topik utama perbincangan kali ini, “Tidakkah kau memikirkan sesuatu mengenai tanggung jawab?”

Minho tersentak mendengar pertanyaan Yoora. Bukan karena ia tidak memikirkan soal pertanggungjawaban yang seharusnya ia pikul di punggungnya, namun karena ia sungguh-sungguh tidak ingin kata itu mendesak posisinya saat ini. Ia merasa sangat tidak sanggup melakukan satu hal itu.

“Aku..” gumam Minho, “..kau tahu, orang tuaku ingin aku bersekolah keluar negeri dan menjadi seorang dokter.”

Jawaban Minho sudah dengan sangat jelas membuktikan bahwa namja itu tidak ingin bertanggung jawab atas bayi dalam rahim Yoora. Air mata mendesak keluar di sudut mata gadis itu. Perlahan mengalir menuruni pipinya yang terasa beku karena hawa dingin yang menusuk permukaan kulitnya..

 “Apa kau tidak mencintaiku?” tanya Yoora dengan suara lirih dengan menahan kata ‘lagi’ di ujung tenggorokannya. Ada sebuah keraguan besar yang menyelip ke dalam relung hatinya—bahwa Minho pernah benar-benar mencintainya dengan tulus seperti yang sering diucapkannya.

Minho dengan ragu menundukkan kepalanya, menatap wajah Yoora yang kini telah basah karena air mata yang terus mengalir. “Aku mencintaimu, Yoora-ya,” jawabnya masih dengan penuh keyakinan, “Namun ini semua sangat berat bagiku.”

Yoora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menangis tanpa henti mendengar pengakuan Minho. Bagaimana mungkin namja itu berkata mencintainya sedangkan ia dengan tega membiarkan Yoora menanggung semuanya seorang diri.

Mian,” ucap Minho tertahan. Tangannya hendak merengkuh tubuh Yoora yang menangis di hadapannya. Ia sadar, berita kematian Tuan Jung telah menjadi pukulan berat bagi gadis itu dan kini apa yang ia lakukan justru menambah beban di hati Yoora. Akan tetapi Minho terlalu takut untuk mengambil keputusan yang sangat berat dan akan mengubah hidupnya. Minho menarik kembali tangannya yang terulur, mengepalkan tangannya di samping tubuhnya sebelum berbalik dan berlalu dari hadapan Yoora.

Yoora berjongkok di atas lantai koridor rumah sakit, membenamkan wajahnya di antara lututnya dan menangis. Minho telah meninggalkannya tanpa sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia peduli terhadap hidup Yoora. Menit demi menit berlalu, namun Minho nampaknya memang tak berniat untuk kembali.

Hati dan jiwa Yoora bak dihempaskan ke jurang yang sangat dalam dan kelam. Dingin dan penuh dengan belukar yang perlahan menyayat perasaannya hingga berdarah. Yoora memegang perutnya yang masih datar. Walau tangannya tidak dapat merasakan apa pun, namun perasaannya dapat merasakan ada sesuatu di dalam rahimnya. Anaknya. Hanya anaknya—bukan lagi Minho. Perlahan Yoora membangun kembali tembok keberanian dan tekadnya untuk tetap berjuang demi nyawa kecil yang saat ini berada di dalam tubuhnya.

***

Musim panas telah berakhir. Angin dingin musim gugur mulai berembus menerbangkan daun-daun kering dari ranting-ranting pohon. Permukaan jalan mulai tertutup oleh tumpukan daun kering kecoklatan yang sesekali bergerak tertiup angin.

Yoora memandang langit biru berhiaskan awan putih dari balik kaca jendela kamarnya. Sudah dua minggu berlalu sejak pemakaman ayahnya. Sudah selama itu juga, ia hanya mengurung diri dalam kamar, tak beranjak keluar rumahnya barang selangkah pun.

Kepergian Tuan Jung telah membawa luka yang dalam baginya dan juga bagi ibunya. Nyonya Jung seringkali tampak murung dan melamun sendirian di sofa ruang tengah, tempatnya biasa berbincang dengan Tuan Jung. Melihat keadaan Nyonya Jung, terkadang timbul rasa bersalah dalam hati Yoora karena semua ini terjadi akibat kesalahannya.

“Yoora, seseorang datang mencarimu,” ujar Nyonya Jung dari balik pintu.

Lamunan Yoora terhenti. Dengan ragu ia menatap ke arah daun pintu kamarnya. Yoora meraih cardigan yang tergantung di pintu lemarinya. Dikenakannya cardigan warna cream itu seraya kakinya melangkah menuju pintu kamarnya.

“Key?” gumam Yoora pelan ketika melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk menunggunya di sofa ruang depan.

“Ah, Yoora-ssi,” sapa Key seraya berdiri sebagai bentuk kesopanannya.

“Ada apa?” tanya Yoora tanpa basa-basi. Tangannya digerakkan membentuk isyarat untuk mempersilahkan Key kembali duduk, kemudian ia ikut duduk di sofa lain yang bersebelahan dengan sofa yang diduduki Key.

Key merogoh tas yang dibawanya, “Aku ingin menunjukkan hasil laporan tugas kelompok kita. Maaf, karena kau tidak masuk sekolah beberapa minggu ini, aku telah lancang mengerjakannya sendiri tanpa diskusi dulu denganmu.”

“Ah, gwenchana. Justru harusnya aku yang minta maaf karena tidak membantumu membuat tugas itu,” ucap Yoora cepat.

Key mengulurkan buku laporan tugas kelompok ke arah Yoora, namun gadis itu hanya menerimanya lalu meletakkannya di pangkuan tanpa membukanya. Mata Key mengamati wajah Yoora yang tampak lebih kurus dengan kedua pipi yang lebih cekung dan kantung mata yang menghitam. Perasaannya sedikit sesak melihat keadaan gadis di hadapannya.

“Uhm, Yoora-ssi,” panggil Key ketika melihat Yoora terus terdiam.

“Ah, ne?” tanya Yoora pelan sambil memandang sejenak ke arah Key dengan tatapan hampir kosong.

“Mau menemaniku jalan-jalan keluar sebentar?” tanya Key dengan sopan, “Uhm, maksudku kau mungkin bosan di rumah. Lagipula aku sedang ingin jalan-jalan tapi aku tidak punya teman yang bisa kuajak.”

Yoora terdiam. Matanya menatap Key yang dengan tulus tersenyum ke arahnya dan menunggu jawabannya. Yoora menatap buku laporan tugas kelompok di tangannya. Ada sedikit rasa bersalah mengingat Key telah bekerja keras menyelesaikan tugas kelompok mereka seorang diri. Pada akhirnya, ia mengangguk pelan menyetujui ajakan Key.

***

“Kau akan keluar sekolah?” tanya Key tidak percaya ketika Yoora memberitahunya bahwa gadis itu akan mengundurkan diri dari sekolah dalam beberapa waktu ke depan, “Wae?”

Yoora terus berjalan perlahan, meninggalkan Key yang terpaku pada posisinya beberapa saat lalu di belakang. Matanya memandang batas jalan di kejauhan.

“Yoora-ssi?” panggil Key seraya melangkah cepat mengejar langkah Yoora yang telah beberapa langkah meninggalkannya. Key berjalan perlahan, mengimbangi langkah Yoora.

“Key, ternyata berjalan seorang diri di jalan yang begitu panjang rasanya sangat melelahkan,” ucap Yoora tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan panjang yang membentang di hadapannya.

Nde? Apa maksudmu Yoora-ssi?” tanya Key tak mengerti.

Yoora menggeleng pelan. Dalam diam ia terus melangkah. Key menatap Yoora yang berjalan di sampingnya sambil berulang kali mengingat kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir gadis itu.

“Apa karena Minho-ssi pindah sekolah ke Amerika?” tanya Key ketika mengingat bahwa akhir minggu lalu Minho dikabarkan telah keluar dari sekolah untuk melanjutkan sekolahnya ke Amerika.

Nde?” Yoora menghentikan langkahnya mendengar ucapan Key, “Minho.. ke Amerika?”

“Apa dia tidak memberitahumu?” tanya Key bingung. Bukankah Yoora adalah kekasih Minho? Mana mungkin Minho pergi tanpa memberitahu Yoora terlebih dulu?

Wajah Yoora berubah menjadi pucat secara tiba-tiba. Ia merasa tubuhnya melemah hingga hampir saja terjatuh jika saja tangan Key tidak dengan sigap menahan tubuhnya.

Gwen.. gwenchana, Yoora-ssi?” tanya Key cemas.

Jeongmal?” gumam Yoora sambil tersenyum pahit, “Rupanya ia benar-benar pergi meninggalkanku.”

Key tertegun melihat air mata tiba-tiba mengalir di pipi Yoora sedangkan tubuh gadis itu bergetar dalam topangan lengannya.

“Yoora-ssi, kau kenapa? Memangnya ada apa sebenarnya?” tanya Key sambil menunduk, mencoba memahami ekspresi Yoora.

Yoora menggelengkan kepalanya pelan, “Ia tak pernah benar-benar mencintaiku, ne?” tanya gadis itu seraya menatap mata Key, namun pandangan matanya kosong seolah ada lubang yang sangat dalam di sana.

“Apa? Aku tidak mengerti maksudmu, Yoora-ssi,” ucap Key bingung.

“Minho memang berengsek,” rancau Yoora seolah bicara pada dirinya sendiri.

Key mengerutkan dahinya. Ia semakin bingung dengan setiap kalimat yang diucapkan Yoora. Namun ia yakin ada sesuatu yang besar telah terjadi antara Yoora dan Minho.

Yoora melingkarkan tangan di perutnya. Perlahan tubuhnya bergerak turun hingga terjongkok di jalan. Key mengikuti gerakan Yoora dengan matanya. Ia segera merendahkan tubuhnya dan berlutut di jalan, “Kau kenapa?”

“Dia pergi,” ucap Yoora, “Dia pergi setelah membuat hidupku hancur. Ia bahkan tak peduli akan nasib bayi yang kukandung ini.”

Mata Key membulat karena terkejut mendengar ucapan Yoora, “Kau mengandung?”

Yoora hanya menangis dan tidak menjawab pertanyaan Key. Kepalanya tertunduk dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.

“Katakan padaku, Yoora-ssi. Kau mengandung.. anak Minho?” tanya Key seraya memegang kedua bahu Yoora dan memaksa gadis itu berhadapan dengannya.

Key tak kunjung melepaskan cengkraman tangannya hingga akhirnya ia melihat Yoora mengangguk pelan. Dilepaskannya bahu Yoora. Tangan Key terkulai lemah di samping tubuhnya. Otaknya hampir tidak bisa menerima informasi yang baru saja disampaikan oleh saraf-saraf sensoriknya.

Yoora mengandung anak Minho. Sebuah kenyataan yang mampu memukul perasaan Key hingga jatuh berkeping-keping. Di satu sisi, ia mencintai gadis itu. Namun di sisi lain, gadis itu kini tengah mengandung benih pria lain dan ironisnya pria itu justru telah pergi meninggalkannya.

Mata Key terus memandang Yoora yang tak berhenti menangis. Hati Key seolah ditusuk pisau mendengar setiap isakan yang keluar dari bibir gadis itu. Key mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Mungkin ini adalah ide sekaligus keputusan yang paling gila yang pernah terlintas dalam kepalanya.

Key mengulurkan tangannya, dengan perlahan ia mengangkat dagu Yoora agar memandangnya. Ditatapnya kedua mata Yoora yang kosong dan sembab karena air mata. Key menahan nafasnya sebelum mengutarakan perasaannya, “Yoora-ssi, biarkan aku yang bertanggung jawab mengantikan Minho.”

***

—5 Tahun Kemudian—

Cahaya hangat matahari menembus kaca jendela, menyinari sebuah ruangan dapur yang penuh dengan peralatan masak. Beberapa butir cerry merah tergeletak di atas meja dapur. Didekatnya berdiri sebuah kue coklat yang terlihat manis dan membuat air liurmu menetes hanya dengan mencium aromanya.

Yoora dengan hati-hati menyemprotkan cream gula berwarna putih ke atas kue coklatnya. Kemudian tangannya mengambil potongan-potongan cerry dan menempatkanya di atas masing-masing cream gula. Yoora hendak meletakkan potongan terakhir buah ceri di atas kuenya ketika suara seorang bocah laki-laki hampir saja membuatnya menjatuhkan cerry di tempat yang salah.

EOMMAAA!!”

Dengan terpaksa Yoora membatalkan niatnya untuk meletakkan cerry terakhirnya di atas kue. Ia menegakkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangan di pinggangnya, “Yoogeun-ah, sudah berapa kali Eomma katakan, jangan berteriak dan berlarian di dalam rumah.”

Bocah yang dipanggil Yoogeun itu langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar omelan ibunya. Dipamerkannya gigi susunya yang berwarna putih, tersenyum lebar hingga matanya menyipit dan hampir lenyap, “Mianhae.”

Yoogeun berjinjit, melongok ke atas meja yang berada di belakang tubuh Yoora, “Apa itu kue ulang tahunku, Eomma?”

Nde?” Yoora menoleh ke belakang dan baru teringat kue coklatnya yang belum selesai, “Yaa, siapa yang memberitahumu bahwa Eomma sedang membuat..”

Yoora tak perlu menyelesaikan pertanyaannya karena seorang pria telah muncul di hadapannya dan berdiri di belakang Yoogeun.

Mianhae, Yoora-ya,” ucap Key sambil tersenyum merajuk.

Issshh,” gerutu Yoora, “Harusnya aku tahu bahwa kau tidak pernah bisa menyimpan rahasia dari Yoogeun.”

Yoogeun berbalik dan langsung memeluk Key yang berdiri di belakangnya, “Key Appa!”

Tangan Key langsung terulur dan mengangkat Yoogeun dalam gendongannya, “Yoogeun-ah, sepertinya Eomma sedang marah padaku karena aku memberitahumu rahasianya.”

“Key!” seru Yoora ketika mendengar ucapan Key kepada Yoogeun, “Yaa, kau jangan mencari pembelaan pada Yoogeun. Aku menyuruhmu menjemputnya dari sekolah, bukan untuk memberitahunya bahwa aku sedang menyiapkan kue ulang tahunnya.”

Key tertawa mendengar omelan Yoora, “Benarkan, Eomma sedang marah. Padahal Appa sudah rela meninggalkan pekerjaan di kantor untuk menuruti perintahnya,” ujar Key lagi dengan gaya berbisik di telinga Yoogeun namun tetap mengeluarkan suara keras hingga Yoora dapat mendengarnya.

Dengan gemas Yoora mengangkat pengocok telur yang berada di dekatnya. Key membulatkan matanya melihat Yoora dan pura-pura berekpresi ketakutan, “Yoogeun-ah, bahaya, ayo kita pergi!” ujar Key seraya berbalik badan dan berlari meninggalkan dapur membawa Yoogeun yang tertawa dalam gendongannya.

-TBC-

Author’s Note:

Gomawo udah baca ff ini sampai abis. Err, gak tau apa ff ini cukup memuaskan di hati readers ato gak. Biar gimana pun, Lumie bukan main author. Bikin ff juga iseng2. Jadi ala kadarnya aja, demi mengisi kekosongan. Untuk next part, bagi yang mau baca, doakan saja dalam 1-2 minggu akan kelar, berhubung Lumie ini punya penyakit males ngetik ff. *diinjek rame2*😆 Komentar, kritik, saran akan diterima dengan terbuka😉

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

132 thoughts on “The Blue in You – Part 1

  1. Minho kebangetan disini… Udah berbuat gak mau bertanggungjawab
    Usia muda dijadiin alesan… Udah tau muda msh ngelakuin sesuatu yg
    melampaui usia… Tuh, namanya, nafsu!!! #getok Minho….
    Untung ada Key yg dengan lapang dada mau menerima Yoora dan merawat Yoogeun
    dgn ikhlas… Key kerrennnn!!!!

    Thor, aku suka ff ni.
    Bukan cuma krn cerita dan konfliknya yg bagus ,
    tapi jg karena isinya padet, alurnya cepet tp jg gak terasa
    kayak diburu… (emang harimau Sumatera, diburu)

    Aku k part selanjutnya ya…

    1. hahahaha, masih ada yang baca ff ini.. haduh jadi malu.. makasih udah suka.. iya, alurnya mungkin cepet karena konflik aslinya bukan di masa remaja mereka.. ini cuma bagian depannya aja dari cerita yang pengen aku garap sebenernya..😆 makasih udah baca dan makasih udah suka..😉

  2. Ahhh…. ff nya bikin aku penasaran, aku tahun ini udah nyampe beberapa chapter, tapi aku mau baca dari awal-akhir… Gomawo~ …

    Tapi mian ne eonn kalo aku gak bisa comment tiap chap, paling selang seling gitu

    1. Wahh, gpp.. baca aja dengan tenang.. fyi, chapter terakhir ff ini sedang dalam pengerjaan setelah aku “berhenti” nulis hampir satu setengah tahun..

      Jadi santai aja bacanya yaaa.. wkwkwk :p

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s