Forward – Part 5

Title: Forward

Author: HeartLess & Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Heera
  • Kim Jonghyun

Length: Multi Chaptered

Genre: Romance, Life, Psychology

Rating: PG-15

Note:

The story is written all based to Author’s POV

Disclaimer:

We don’t own all idols/artists. They are belongs to God, their family, and their agency. We put their names only for the purposes of this fanfiction.

 

***

 

Tuesday, 23 rd August 2011. At 06.00 KST

“Bagaimana semalam? Dor!” Heera menodongkan telunjuknya ke kening Jonghyun begitu namja itu membuka pintu kamarnya. Lekuk telunjuk dan jempol Heera saling menyiku, menyerupai bentuk pistol.

Susah payah ia menahan air matanya dan memilih memasang wajah dingin. Ia bukan hanya tak ingin menangis di hadapan Jonghyun, tetapi juga tak sudi air matanya tumpah untuk namja itu. Sesaat sebelum beranjak mendekati Jonghyun, air matanya telah tertarik gravitasi bumi, melebur bersama ubin persegi yang melapisi lantai hotel. Beberapa jam yang lalu, seorang Kim Heera berubah menjadi seseorang yang bermusuhan dengan pepohonan alam, belembar tisu tanpa ampun dihajarnya, sobek lalu digumpalkan dan bertebaran di seluruh penjuru kamar yang dihuninya. Heera tak lagi berpikir berapa banyak pohon yang dihabiskan demi memproduksi tisu, sebuah benda yang lantas terbuang setelah dipakai sekali. Sempat Heera berpikir, andaikata Jonghyun berjenis kelamin yeoja dan dirinya seorang namja, maka kisahnya akan berbeda. Heera mungkin akan jatuh iba pada Jonghyun, tisu-yang-terbuang-setelah-tersobek-tercabik!

Kenyataannya Jonghyun adalah namja, yang tidak akan terdeteksi walau berulang kali mencabik mutiara tak ternilai harganya. Jonghyun tak ubahnya harimau buas, yang gesit menikam begitu daging terhampar. Heera benci kenyataan itu. Benci mengapa Jonghyun begitu mudahnya tergoda. Benci dirinya terkalahkan oleh ahjumma sialan itu. Benci mengapa Jonghyun begitu kental dengan image-nya sebagai pria, penuh hasrat bernoda. Dan dua hal yang paling Heera benci adalah, mengapa dirinya begitu mencintai Jonghyun, mengapa dirinya harus mengambil jalan menyakitkan dengan sengaja membuntuti Jonghyun. Tololnya lagi, pagi ini naluri ganas mendorongnya untuk menghampiri Jonghyun. Semua kebencian itu terpusat, seperti ada pusaran air dahsyat yang memutar dan menyeretnya hingga lubang pesakitan terdalam. Dasar samudra kepedihan tertahan.

“Kau?” Semua kosakata yang Jonghyun tahu, mendadak hilang ketika mendapati kejutan buruk itu.

“Aku? Wah, rugi sebenarnya. Semalam seharusnya aku menyusun laporan kegiatan organisasi, namun nyatanya aku justru menginap di kamar sebelah itu.” Satu alis kiri Heera terangkat, bersamaan dengan tertariknya ujung bibir pada sisi yang sama kearah atas. “Aku menjelma menjadi stalker semalam. Mau melarang?” tanya Heera setengah menantang. Hati kecilnya kembali memberontak, mengajaknya pulang segera meninggalkan tempat dengan sejuta kebusukan yang ditawarkannya.

Jonghyun membisu, ia hanya bisa tertunduk sembari menggulum bibirnya ragu. “Kita sudah putus, ‘kan?” Akhirnya ia bersuara.

“Memang, lalu? Aku tidak melarangmu bermain bersama ahjumma itu, ‘kan? Memangnya aku bertanya apa? Aku sedang iseng bertanya tentang kisahmu semalam. Mau berbagi, Jjong?”Heera menyilangkan tangannya di dada, matanya sedikit pun tidak lepas dari wajah Jonghyun.

Yadong. Kau sungguhan ingin tahu?” Jonghyun mendekatkan wajahnya, mendekati sepasang mata mantan kekasihnya itu. Merasa tertantang sekaligus ingin menyembunyikan rasa perihnya.

Kalau boleh merinci detail hal apa yang sebetulnya ingin Jonghyun lakukan, maka Jonghyun sudah mulai melakukan tahapan pertama. Ia ingin membungkuk di hadapan Heera sebagai bentuk permintaan maafnya, lalu ia akan menarik tubuh yeoja itu ke dalam pelukannya—meredakan pilu sang kekasih. Yang terakhir, ia ingin mengelus lembut puncak kepala Heera, ingin bidadarinya itu tahu bahwa besarnya cinta itu sama sekali tak terkikis.

Tapi semua itu tidak akan mengembalikan hubungannya dengan Heera. Namja itu merasa dirinya sudah tak layak lagi bersanding dengan yeoja istimewa seperti Heera. Di sisi lain, yeoja yang tahu bahwa namjanya sudah menghabiskan bed time semalam bersama orang ketiga—maka semua gerbang untuk kembali akan tertutup sesegera mungkin.

Maka Jonghyun memilih bersandiwara dengan berpura-pura tegar dan menanggapi kalimat Heera dengan sarkatis. “Kau ingin juga, Baby?” Ia mengerling nakal, mencolek dagu Heera mesra.

Plakk!

Heera menyingkirkan tangan Jonghyun dengan kasar. “Hhh, aku tidak tahu kau melakukannya karena uang atau kau memang pria yang diam-diam menyimpan nafsu besar. Dan kau benar, putus memang pilihan bijak.” Mulai ada getaran halus mencampuri suara Heera, pertahanannya perlahan runtuh.

Pria di depannya memilih untuk memalingkan wajah, seolah ingin lari menjauh. Seperti ada rasa gatal yang tak terbendung, tangan Heera bergerak tanpa aba-aba, mencengkram dagu Jonghyun dan memaksa wajah namja itu menghadap padanya. Entah apa tujuannya, Heera sendiri tak menemukan apa makna dari tindakannya itu.

Sejenak ia termenung, menjuruskan tatapan kosongnya pada pria tampan yang sampai detik ini masih menjadi raja—mungkin sudah bukan lagi duduk gagah di atas singgasana emas, melainkan raja yang siap berpaling langkah menuju kamar selirnya.

Sedetik kemudian pusaran air yang sebelumnya menggila itu, perlahan memelankan tariannya, memberikan sedikit ketenangan permukaannya. Seketika danau hijau bertabur bunga-bunga indah terhampar bak karpet yang senantiasa membalut pantat manusia dari kejamnya suhu yang membekukan tubuh.

Di depan matanya, Heera menangkap setitik bening—sangat kecil—merangsek keluar dari ujung mata indah milik Jonghyun. Lamat-lamat Heera menghujamkan seluruh fokusnya pada wajah yang telah mengobarkan peperangan pagi ini, detik itu juga hati kecil Heera membisikkan mesra ‘dia tidak sejahat yang kau pikirkan, Heera-ya’. Namun pada menit selanjutnya, sang otak mengambil penuh kuasa, hati hanya mampu terkapar tak berdaya. Pusat kendali manusia itu lalu berteriak lantang ‘jangan beri ampun pada sang pengkhianat!’.

“Kembalikan ponselku,” pinta Jonghyun pada akhirnya. Ia memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mencekam ini. Ia tak sanggup lagi beradu pandang dengan permaisuri hatinya. Jonghyun tahu Heera mulai melemah, telinganya begitu terlatih menangkap getaran suara yeoja itu. Jonghyun tahu betul seperti apa suara normal Heera, bahkan cara Heera menghembuskan napasnya kini pun terdengar janggal di telinganya—Jonghyun tahu Heera begitu terluka, lebih terpuruk daripada yang tampak.

“Ini. Lain kali mintalah ponsel yang lebih bagus pada yeoja barumu. Oh ya, kau pakai pelindung? Kalau tidak, berhati-hatilah dengan HIV,” sindir Heera seraya menjulurkan benda elektronik tanpa kabel tersebut dengan cepat—tak ingin getaran tubuhnya tertangkap mata Jonghyun lebih jauh.

Heera buru-buru membalikkan badan lalu melangkah cepat meninggalkan Jonghyun dan kisah pilu yang mengiringinya. Belum sampai lima langkah, air mata tak mampu lagi ia larang untuk keluar. Beberapa tetes akhirnya berhasil merangkak, lalu merambati pipinya yang sudah terasa berminyak.

Jonghyun berjalan di belakangnya, meratapi punggung yang dipaksakan agar tetap tegak oleh pemiliknya itu. Tak tahan melihat pemandangan semacam itu, akhirnya Jonghyun mempercepat langkahnya agar bisa melewati Heera.

Good bye,” desis Jonghyun ketika posisinya nyaris sejajar dengan Heera. Tanpa menoleh sedikitpun, dua kata itu melesat kilat dari mulutnya. Kemudian Jonghyun berlari, sekejap mata menghilang dari pandangan Heera.

Bye, Jjong,” balas Heera ketika Jonghyun menghilang di balik tikungan lorong hotel.

Lorong tersebut menjadi saksi bisu, tak mampu menceritakan kembali tentang kelam pagi ini. Ia hanya bisa memberikan tubuhnya untuk dijadikan sandaran oleh Heera, membentangkan hamparan putih bertimpakan cahaya neon dramatis, bersama puing-puing perasaan hasil terpaan badai semalam. Hembusan angin buatan benda mulia bernama AC, terasa begitu menyiksa tulang belulang dengan dinginnya yang terasa menggila.

Seorang pelayan yang bertugas merapihkan lorong lewat—lengkap dengan alat penyedot debu di tangannya. Ragu-ragu ia mendekat, menawarkan bantuan adalah kewajibannya. “Nona, maaf mengganggumu… ada sesuatu yang bisa kubantu?”

***

 

Thursday,25 th August 2011. At 13.22 KST

 

“Jinki-ya,  apa kau bersedia menceritakan hal apa yang sebetulnya mengusikmu beberapa hari belakangan?”

Jinki terdiam, sekalipun di hadapan terapisnya, ia tak sanggup bertutur mendetail.

“Katanya, orang sepertiku tidak boleh jatuh cinta ya?”tutur Jinki ragu.

“Siapa yang mengatakan? Ayahmu? Adikmu?” Dengan tenang, terapis itu menanggapinya, temponya sengaja diperlambat.

“Nggg, wanita manapun tidak menginginkan pria sepertiku. Di luar sana begitu banyak pria lain yang lebih menarik. Jadi katanya, aku tidak berpeluang,”timpal Jinki.

Terapis muda bernama Kim Jaejoong itu menyimak penuturan Jinki sampai ia benar-benar berhenti. Baru kemudian Jaejoong menanggapi, “hmmm, Itu perkataanmu sendiri. Aku yakin, tidak ada orang yang pernah mengatakan semua yang kau utarakan tadi. Bukankah tidak ada orang lain yang mengetahui kondisimu selain ayahmu, adikmu, dan aku?”

Jinki terkesiap. Memang tidak ada. Yang mengatakan itu semua adalah bayangan dirinya di cermin kamar mandi, tidak lain adalah dirinya sendiri. Jadi, semua itu hanya prasangkanya? Lagi-lagi Jinki mengubah arah kursi putar yang sedang didudukinya, tertunduk memainkan kuku.

“Ada lagi yang ingin kau ceritakan?”pancing Jaejoong dengan penuh kesabaran.

Jinki kembali menghadapkan wajahnya pada Jaejoong. “Yeoja itu… aku suka semua yang ada dalam dirinya. Dia pintar, cantik, peduli pada orang lain…,”

Masih menunggu lanjutannya, Jaejoong memilih untuk tidak memotong. Ia ingin Jinki bercerita lebih banyak. Tugasnya di sini adalah, memancing Jinki untuk meluapkan segalanya.

“Dia, juga… nggg, peduli juga padaku, mungkin. Eh, tapi dia… sudah punya kekasih.”

“Tidak ada yang salah dengan statusnya yang sudah memiliki kekasih. Belum tentu mereka berjodoh, ‘kan?”Jaejoong memajukan tubuhnya hingga tulang punggungnya, ia tersenyum sembari menatap Jinki tanpa ekspresi wajah yang menyiratkan isi pikirannya. Jinki hanya mengangguk sekali, itupun jelas terlihat ragu-ragu.

“Jinki-ya, bagaimana hubunganmu dengan gadis itu? Kau senang bicara dengannya?” Jaejoong kembali bertanya sebelum Jinki menjawab, pasiennya itu masih tampak berpikir.

“Ooo, kau benar juga. Jadi… aku masih punya peluang? Tunggu, kujawab dulu pertanyaanmu. Ya, tentu. Manusia mana yang tidak senang berbincang dengan orang yang dicintainya.”Nada bicara Jinki tak lagi selemah di awal pembicaraan.

“Bagus. Berarti sebenarnya dia memang tidak menaruh benci terhadapmu. Lalu, apa yang biasanya kalian bicarakan?” Jaejoong kembali tersenyum. Ia sedikit bersyukur, saat ini fisik Jinki tidak sedang berontak. Ia dengan mudahnya memancing Jinki.

“Kami berbincang mengenai pengetahuan. Tidak pernah yang lain. Aku tidak suka mendiskusikan hal lain dengannya.”

“Wah, sayang sekali. Padahal kau punya kesempatan banyak untuk mencari tahu bagaimana pandangannya terhadap dirimu. Mengapa tidak coba membicarakan hobi dan kesenangan?”

“Eh? Mmm, aku tidak punya hobi lain kecuali membaca. Jadi, apa yang bisa kubahas selain pengetahuan?” Jinki tampak berpikir.

“Ada. Kaitkan dengan pemikiranmu, dengan begitu secara tidak langsung kau menceritakan tentang dirimu. Kau lihat reaksinya bagaimana nanti.”

“Aku tidak suka membicarakan tentang diriku, tidak ada yang menarik, semuanya hanya kisah menyedihkan,” balas Jinki, separuhnya diliputi kegetiran.

“Mau mencoba caraku? Anggaplah satu hari hidupmu sebagai karunia Tuhan, pikirkan bahwa itu semua adalah kebahagiaan. Hari ini kau dapat duduk di hadapanku dalam keadaan sehat pun merupakan suatu kebahagiaan, bukan? Kau masih bisa makan, kau masih bisa berjalan, kau masih bisa mendengar, melihat, dan berbicara. Itu semua merupakan nikmat. Lalu, kisah mana yang menurutmu menyedihkan?” Di akhir kalimatnya, Jaejoong berupaya memancing lebih dalam. Ia yakin, masih banyak faktor yang membuat pasiennya ini terus merasa depresi sejak beberapa bulan yang lalu.

“Kisahku, semua yang melekat di dalam tubuhku. Apa menurutmu, dengan semua takdir yang terjadi di masa laluku, aku masih bisa tersenyum memandang dunia?” Tangan Jinki meraih pulpen yang ada di tempat alat tulis di atas meja Jaejoong, lalu menggoreskan tinta membentuk bentuk tanya ke atas telapak tangannya.

“Tentu ada. Aku ingin bertanya, boleh? Apa alasanmu tetap memilih bertahan hidup sampai saat ini? Kau pasti punya faktor pendorong yang kuat hingga bersusah payah bertahan.”

Jinki tidak langsung menjawab, ia lebih dulu bangkit dan mengalihkan pikirannya pada sebuah lukisan sekumpulan bocah yang sedang bermain air dengan tersenyum di tengah kobaran api. Jinki tersenyum kecil setelah menebak-nebak makna di balik lukisan tersebut. Hatinya membenarkan apa yang ia tangkap dari kanvas indah yang terpajang di dinding ruang kerja Jaejoong.

“Alasan? Tentu ada. Aku punya harapan, dan aku berusaha. Semua itu hanya akan tercapai jika aku menjadi orang yang super jenius sehingga nantinya orang tak peduli seberapa cacat tubuhku.”

“Bagus. Menurutku kau orang yang luar biasa, Jinki-ya. Kau pasti bisa menjadi seperti anak-anak dalam lukisan yang barusan kau perhatikan.”

“Aku? Sayangnya aku berbeda dengan mereka.” Tawa melesat dari mulut Jinki, volume-nya semakin mengeras hingga akhirnya ia harus memegangi bagian perutnya, “kau lucu. Ah, pernyataanmu yang lucu,” lanjutnya.

“Ya, kau orang luar biasa, kau tidak merasa? Bukankah di luar sana banyak orang sepertimu yang sudah putus asa di awal? Tapi kau tidak. Lalu, mengapa kau tidak membangun impianmu tentang cinta? Bukankah kau masih bisa menaklukkan yeoja itu dengan kelebihanmu?” Jaejoong mulai merasa satu pintu telah terbuka, ia mulai berhasil mengarahkan Jinki.

“Apa menurutmu aku punya kelebihan?”

“Tentu, semua orang punya kelebihan. Kau bisa mulai dengan menjadi teman yang baik untuknya. Perlahan kau akan tahu apa yang dia butuhkan dan apa yang sanggup kau berikan untuknya. Mau dicoba? Mulailah berbicara tentang dirinya jika kau memang tidak suka membahas tentang dirimu.”

***

Friday, 26 th August 2011. At 11.00 KST

Hentakan suara sepatu itu begitu menggema ketika si penggunanya berjalan dengan ritme cepat dan diwarnai dengan letupan emosi yang semakin memuncak, sesekali bahkan terdengar decitan yang timbul karena gesekan sepatu dan lantai keramik. Rupanya sang pemilik kaki sedang tidak bergairah, sekalipun hanya untuk melangkah dengan benar.

Ia yang dikenal begitu ramah dengan sapaan hangatnya pada setiap orang—mendadak menjelma menjadi sosok yang kental dengan image ‘basa-basi’ karena senyumnya yang begitu dipaksakan muncul pagi ini.

Kalau saja Jonghyun tahu, namja itu mungkin akan tertawa geli. Bagaimana tidak? Seorang yang begitu menjaga kebersihan seperti Heera, pagi tadi sama sekali tidak tertarik mengizinkan sabun untuk melumuri tubuhnya. Ia hanya menggosok gigi, memandangi kaca wastafel untuk memastikan matanya tidak terlihat sembab setelah peristiwa menyakitkan kemarin.

Ia sama sekali tidak menyisir rambut panjangnya, hanya mengikatnya asal membentuk cepol yang berantakan. Ah, ia tidak peduli lagi apakah Jonghyun akan menertawakan atau mengejeknya, karena nyatanya semua kekacauan ini bersumber dari satu makhluk bernama Kim Jonghyun itu.

Oh, tidak, bukan hanya itu. Pagi tadi—sebelum berangkat ke kampus—ia bahkan masih harus mendengar ocehan Key yang mengatakan bahwa sikapnya itu berlebihan. Seolah dalam hidup ini hanya ada satu pria, dan seolah hidup itu milik cinta semata. Sebelum namja itu menuntaskan petuahnya, Heera sudah beranjak pergi dengan sentuhan akhir berupa daun pintu yang berdebam keras.

Semua masalah itu diseretnya hingga ke kampus, berimbas pada kekacauan konsentrasinya saat harus mengikuti rapat umum untuk acara kompetisi daur ulang kreatif yang digawangi oleh organisasinya.

Sebelum beranjak ke koridor menuju ruang kelasnya, ia sempat berdiam diri di sebuah bangku yang terletak tidak jauh dari sana. Bukan kalimat Jonghyun yang terngiang di telinganya, melainkan kalimat Key kemarin—yang berhasil memunculkan sedikit semangat untuk bangkit, minimal berhasil mendorongnya untuk muncul hari ini dengan statusnya sebagai mahasiswi setelah tiga hari keterpurukannya mengurung diri di rumah.

Nuna, masalah atau bukan, tergantung pada cara kau memandangnya. Kau mau dengar sebuah cerita? Suatu hari, sebuah perusahaan sepatu membuka lowongan pekerjaan karena ingin membuka sebuah pabrik baru di negara miskin. Pelamar pertama ditanya apakah ia siap menjadi manajer jika nantinya pabrik tersebut didirikan di negara yang terbelakang—yang tidak disebutkan secara spesifik apa nama negaranya. Setelah diberi waktu untuk berpikir, akhirnya ia menjawab, ‘aku tidak siap. Negara miskin ya? Jangankan membeli sepatu, untuk makan pun mereka pusing’. Beda halnya dengan pelamar kedua. Ia justru menjawab, ‘oh yes! Aku siap’. Kau tahu apa alasan pelamar kedua tadi? Ia berpikir bahwa negara miskin identik dengan jumlah penduduknya yang membludak. Mereka selama ini hanya berikir tentang makanan. Hei, coba lihat, rasanya akan banyak orang yang belum punya alas sepatu. Andaikan perusahaan sepatu itu bisa menawarkan beberapa persen saja sepatunya, bukankah itu sebuah kemajuan?

Lihat Nuna. Bagi pelamar kedua, itu adalah sebuah jalan, bukan masalah. Kau juga, berpikirlah positif.Terkadang keberanian itu berat untuk dijalani. Eh, tapi aku heran. Sebenarnya, apa yang begitu menghantui pikiranmu sampai kau terpuruk dan enggan pergi kuliah seperti itu? Ayo Nuna, bangkit!

 

“Heera-ya!” Bersamaan dengan munculnya suara itu, Heera merasakan pundaknya ditepuk seseorang dari samping. “Wah, kau berjodoh sekali dengan Jinki. Tiga hari kemarin kalian sepakat tidak masuk ya?” canda Airin, salah satu teman sekelas Heera.

Yeoja cantik itu hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat iseng temannya. Ia sedang tidak tertarik menanggapi. Hari ini, entah mengapa, dirinya begitu muak setiap kali mengingat seonggok tubuh bernama pria. “Ah kau terlalu berimajinasi. Hubunganku dengannya tidak sedekat itu sampai-sampai janjian bolos,” tanggap Heera seadanya.

Mendadak Heera merasa sangsi. Apa betul hubungannya dengan Jinki selama ini bisa disebut teman? Atau ia saja yang terlalu terobsesi, berharap Jinki menganggapnya teman juga? Hubungannya dengan Jonghyun yang dinilai harmonis dan baik-baik saja pun ternyata palsu, tidak semulus yang dirasakannya. Hubungan seperti itu saja bisa runtuh dalam hitungan hari, lalu bagaimana hubungannya dengan Jinki yang memang sejak awal tidak pernah sesuai harapannya?

“Ah, bahkan mungkin aku dan dia bukan teman. Benar begitu?” gumam Heera dengan pandangannya yang terlempar ke arah barisan semut yang merambati dinding di seberangnya dengan tenang dan teratur. Semut begitu setianya berjalan beriringan membentuk barisan. Teman yang belakang meniru jejak dengan berbekal hormone khas—bernama feromon—yang ditinggalkan semut di barisan depan.Tak akan ditinggalkan terlalu jauh, sarat dengan kesetiaan.

Airin sedikit terkejut mendengar penuturan temannya itu. Ah, tidak, ini bukan temannya. Sebelumnya ia tak pernah melihat sorot mata begitu redup dari wajah Heera. Airin tahu, temannya ini bukan tipe orang yang mudah menyerah dalam menggapai sesuatu, termasuk dalam meraih hubungan pertemanan. Sesuatu yang salah pasti telah terjadi.

“Hei? Kalian baru bertengkar? Bukankah selama ini kau begitu peduli padanya? Sekarang kenapa mendadak mengatakan kalian bukan teman?”

“Aku hanya bilang ‘bisa jadi’, belum tentu benar. Maksudku, aku mungkin menganggapnya teman. Tapi dia? Oh, dia bahkan tidak mau menerima bantuanku sekalipun dia sedang sakit,” balas Heera dengan malas. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan akan topik pembicaraan mereka saat ini.

“Ckck, memang tidak salah yang kau katakan. Tapi, aku rasa kau sedang punya masalah sampai pengakuan seperti itu terlontar dari mulutmu. Oh ayolah, ini tidak tampak seperti dirimu yang kukenal!” Airin berusaha menyadarkan temannya ini dari ‘alam tidurnya’.

“Terlepas dari kau sebenarnya tahu berapa banyak tentang diriku, aku memang mengakui kalau saat ini kondisiku sedang tidak baik. Setegar-tegarnya wanita, ia tetaplah makhluk yang lebih rapuh dari pria, dan memiliki risiko depresi dua kali lipat dari pria.”

Sontak Airin terbahak mendengar jawaban Heera. Ia tahu ini bukan respon yang tepat, tapi memang ia menangkap sesuatu yang lucu dari temannya ini. “Kau tahu kenapa aku tertawa? Kau ini lucu. Aku tahu, kau sedang punya masalah. Tapi kau masih sempat menyelipkan teori dalam isi curhatanmu. Oh, ayolah. Ceritakan masalahmu dengan cara yang lebih manusiawi dan mudah dipahami. Pada siapapun, tidak mesti padaku. Sudah, sebentar lagi kelas dimulai, kajja!”

Airin bangkit, meninggalkan Heera dengan melangkah santai terlebih dahulu. Sementara, Heera masih melemparkan tatapan bingung, otaknya masih belum mencerna hal lucu yang dilontarkan Airin. Apa yang lucu? Teori?

“Sudah, jangan melamun lagi. Ayo ke kelas!” Teriakan Airin masih diwarnai tawa, berbalik mendekati Heera tapi kemudian kembali meninggalkannya setelah ia melesatkan tepukan ringan di pipi kawannya itu.

Heera patuh, gerak tubuhnya otomatis terpancing setelah otaknya tidak berhasil menemukan kesimpulan. “Hei, tunggu aku!”

***

Hyung, ini enak. Kau masih tidak berselera melahapnya?” Sekali lagi Minho meraih sumpit dan memasukkan untaian-untaian ramen ke dalam mulutnya. Ia begitu menikmati santap siangnya.

Lampion-lampion bergelayut di beberapa titik atap, tirai pink bermotifkan kelopak-kelopak sakura yang berguguran menghiasi pojok-pojok kusen pintu setiap area. Restoran Jepang favorit Minho itu terdiri dari beberapa ruangan dengan konsep yang berbeda. Area pertama mengusung tema kerajaan yang berarti identik dengan lukisan-lukisan kuno yang menghiasi dindingnya. Area kedua mengusung konsep modern, satu-satunya area yang disediakan bagi pengunjung yang lebih suka duduk di kursi. Area ketiga sama dengan area pertama, mengusung konsep meja santap tatami. Bedanya, area ketiga ini terkesan ringan, hanya berhiaskan beberapa lukisan bertemakan wanita berkimono.

Jonghyun hanya tersenyum sekilas, menggeser posisi duduknya meninggalkan bantal tipis yang sejak tadi didudukinya. Kedua telapak tangannya masih setia menutupi bagian mulutnya, punggungnya terpaksa membungkuk karena meja yang ada di hadapannya tidak cukup tinggi.

Sejak tadi ia hanya memandangi Minho, sesekali melemparkan pandangannya pada sebuah lukisan wanita jepang yang sedang berdiri mematung di depan sebuah pohon sakura. Lagi-lagi sosok wanita itu berganti menjadi tampak samping tubuh Heera.

Hyung, kau menghamburkan makanan. Sudah terlanjur kupesan, apa salahnya kau makan?”

Jonghyun berdecak sekali, mengetukkan jarinya ke permukaan meja dengan menggunakan tangan yang satunya. “Aku tidak lapar, salah siapa memaksaku datang ke tempat ini?”

Aigoo, aku tidak tahan melihatmu melamun di tepian jendela sambil melihat langit seperti itu. Sungguh menggelikan, terlalu melankolis. Hyung, dengar, aku tahu kau merindukanku hingga mengutarakannya pada hamparan awan siang. Tapi, bukankah akan lebih praktis kalau kau menghantarkanya lewat pesan singkat?” Sepasang sumpit mendarat di kepala Jonghyun, cukup keras hingga membuat Jonghyun merutuki pelakunya yang kini sedang terkekeh.

“Ya! Kau tidak sopan sekali, huh! Yang paling penting, sumpit itu sudah kau pakai makan dan kau membuat kepalaku kotor.”Jonghyun mengibaskan rambutnya, meskipun tidak banyak tetesan kuah ramen yang tertinggal di sana.

“Bukankah sejak dulu aku sering melakukan hal serupa? Ckck, sejak kapan kau menjadi seseorang yang sangat bersih? Sepengetahuanku, kau orang yang cukup kotor, Hyung!” Minho terbahak puas, merasa telah berhasil mencuri kesempatan untuk melontarkan sebuah ledekan penuh candanya pada Jonghyun, berharap sahabatnya itu terpancing sehingga tak lagi menampakkan wajah datarnya.

Ne, aku memang kotor, kau tidak salah. Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Pandangan Jonghyun meredup seiring dengan bibirnya yang kembali terkatup.

“Hei? Kau sedang demam? Atau terlalu lelah?” Minho bergegas bangkit dan meraba dahi Jonghyun, namun tangannya segera tertepis tak lama kemudian.

“Aku sehat, tak ada yang salah. Faktanya aku memang terlalu kotor,” tandas Jonghyun begitu melihat wajah bingung Minho. “Cepat katakan sekali lagi bahwa aku kotor! Cih, memang benar, aku menularkan kekotoranku pada orang di sekitarku. Jadi berhati-hatilah, Choi Minho!”

“Ya! Hyung, aku hanya bercanda, mengapa kau anggap serius? Kau tentu bukan orang kotor, tidak sama sekali.” Minho menekankan kalimat terakhirnya, memastikan betul bahwa Jonghyun tidak akan salah mendengar.

“Andai, aku memang kotor, apa yang akan kau lakukan? Choi Minho, di dunia ini tidak ada orang yang bisa sepenuhnya kau percayai, termasuk sahabatmu. Kau tidak pernah bisa tahu apa saja yang kulakukan selama 24 jam. Lalu bagaimana bisa kau meyakini bahwa aku tidak kotor?” Nada bicara Jonghyun semakin meninggi, urat wajahnya menegang dan tampak guratan kemarahan di paras tampan itu.

“Hei… andaikan, jikalau, seandainya, apapun itu bentuk pengandaiannya, ketika aku mendapati dirimu yang kotor itu suatu saat nanti, aku akan mengganti kacamataku. Sebutlah kacamata ajaib yang mampu menyamarkan noda menjadi kilauan cahaya. Aku percaya kau, karena kau sahabatku. Itu cukup bagiku.” Minho berusaha memasang ekspresi wajah santai, mengimbangi mimik wajah Jonghyun yang tampak memendam emosi.

“Omong kosong,” tukas Jonghyun sinis, menggebrak meja dengan keras hingga pengunjung lainnya spontan melirik.

“Dengar, sekalipun nantinya kau seorang koruptor, pencuri, perampok, maka pintuku selalu terbuka dan aku akan membawamu pulang untuk memintamu menjadi dirimu yang sebelumnya.” Minho mulai merasa tak habis pikir, bagaimana bisa Jonghyun berpikir aneh seperti ini?

“Bagaimana jika aku memang telah menjadi penjahat? Cukup tidak usah dijawab. Aku lelah, sudahi dulu pertemuan kita ini.”

***

Kelas usai, dengan segala keriuhan para mahasiswa yang membicarakan tentang tugas yang baru saja diberikan dosen. Bola mata Jinki bergerak kilat, mencari satu sosok yang biasanya duduk di sampingnya namun hari ini absen untuk yang kesekian kalinya.

Wajah itu akhirnya ditemukan—tengah termenung di barisan terbelakang—menyedot seluruh fokus Jinki dan mengacaukan keberanian yang sejak perkuliahan tadi telah susah payah dikumpulkan. Mendekat, tidak, mendekat, tidak, mendekat?

Untuk yang pertama kalinya, Jinki menghampiri Heera lebih dulu. Yeoja itu tampak sendu dengan sorot matanya yang begitu kosong, tangannya menyiku vertikal di atas meja , menumpu dagu.

“Hai,” sapa Jinki kikuk. “Kenapa tidak duduk di situ?” tanya Jinki dengan telunjuk yang mengarah pada bangku barisan depan.

“Kau sendiri? Mengapa kemari?” Heera menyelipkan rambut ke belakang telinganya dengan malas.

“Hanya ingin… berbicara. Boleh?” Nyali Jinki sedikit menciut setelah melihat respon Heera.

“Ooo, duduklah,” tanggap Heera asal, meraih ponsel dan mengelus-elus touch screen-nya. “Bicara saja. Bicara tidak perlu teman, ‘kan? Lain cerita kalau kau mengatakan ingin berbincang.”

“Ooo, sepertinya kau sedang tidak ingin diganggu? Kalau begitu aku pulang saja.” Ludah terasa semakin pekat dan ingin ditelan. ‘Mengapa? Mengapa Heera seperti ini di saat aku telah membuka diri?’. Pertanyaan yang sama terus berputar di dalam pikiran Jinki. Ia mulai kehilangan keberaniannya perlahan, memerintahkan raga untuk berbalik arah.

Tertahan, suara Heera mengurungkan gerak tubuhnya, “kau tidak akan menggangguku, tentu, asalkan kau menjadi pendengar yang baik. Kau tidak keberatan untuk menemaniku seharian ini? Bercerita, mmm?”

“Boleh.” Jinki menggangguk pelan, mengambil posisi duduk di bangku sebelah Heera.

Yeoja itu mendesah panjang, ia memainkan telunjuknya untuk menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Kau… namja, bukan?” lontar Heera setelah melamun beberapa saat.

“Aku? Tentu. Mengapa kau bertanya demikian?”

“Apa kau tahu, katanya pundak seorang namja itu begitu hangat, menentramkan. Boleh aku meminjamnya sebentar?” Mata Heera kembali basah, membayangkan Jinki adalah Jonghyun dengan pundak berisinya.

Rasa gemetar menghantui Jinki. Mengizinkan seorang yeoja bersandar padanya? Haruskah? Otaknya menolak penuh. “Aku hanya berjanji akan menjadi pendengar yang baik. Jadi, apa boleh aku tidak meminjamkan tubuhku padamu? Bukankah kau masih punya seorang namjachingu untuk itu?”

Seakan tersudut sejenak. Lalu berkutik patah-patah, “dia… sedang tidak ada. Apa aku tidak boleh berpaling sejenak? Bukankah para namja juga begitu, sesekali melabuhkan hatinya pada yeoja lain? Mengapa aku tidak boleh? ”

“Aku tidak mengatakan tidak boleh, hanya… tidak padaku.”

“Mengapa tidak boleh? Ketika seorang teman berada berada titik terlemahnya, apa bahumu tak bisa sedikit saja melunak memberikan izin?” Heera mulai tergelitik memancing, ia teringat ucapannya sendiri yang ia lontarkan pada Airin, ‘ah, bahkan mungkin aku dan dia bukan teman. Benar begitu?’

“Heera-ya, bukankah kau yeoja yang sangat kuat? Mengapa kau begitu memaksaku untuk memberimu sebuah sandaran? Aku sejujurnya sedikit kecewa,” timpal Jinki pelan. Kakinya tanpa sadar mundur satu langkah.

“Kenapa mundur? Mengapa pula kau harus kecewa?” Heera tertawa tertahan, separuhnya merupakan sindiran untuk Jinki. Ternyata, dia tak menganggapku sebagai temannya.Dia mundur hanya karena ini. Memangnya ada yang salah jika aku begitu ingin menyandarkan tubuh lelahku pada seseorang? Sungguh, aku tak pernah ingin bersandar pada siapapun sebelumnya. Tapi kali ini, aku butuh seseorang untuk berbagi duka.

“Bersandar, seorang yeoja memintanya secara terang-terangan, aku kecewa mendengarnya. Heera-ya, tidakkah terdengar begitu murahan?” Dadanya diam-diam bercicit memekakkan, ucapannya barusan cukup kasar untuk dilontarkan pada seorang wanita. Tentu saja Jinki tidak berpikir bahwa Heera adalah wanita murahan. Jinki hanya berkelit, mencari jalan untuk menutupi rasa ketidaknyamanannya.

Mwo? Kau menyebutku wanita murahan? Jinki-ya, tidak heran kau tidak punya teman. Kau bahkan tidak mau tahu temanmu sedang merasakan apa. Kau sadar tidak, ucapanmu barusan sangat bodoh. Aku tidak marah, tentu. Aku bukan wanita murahan, jadi aku tidak perlu merasa marah.”

“Lalu, saat ini kau sedang berpikir apa hingga tempo bicaramu begitu menggebu?”

“Kau tahu, andaikan orang yang berdiri di depanku ini Jonghyun, dia pasti berinisiatif menawarkan pundaknya untuk menumpu kepalaku. Jonghyun, dia bahkan tak perlu mendengar kata dari mulutku untuk bisa tahu apa yang kurasakan. Ia bahkan tak perlu bertanya untuk tahu aku sedang sehat atau tidak. Dia, dia…ah shit!” Terhenti, berakhir dengan isak tangis. Terlalu tak mampu untuk melanjutkan, terlalu indah untuk dikenang, dan terlalu menyesakkan untuk mengingat akhir kisahnya.

Gerakan bergelombang kecil terlihat dari leher bagian depan Jinki. Raganya terkunci mati di sudut ruang pikiran yang bergejolak hebat. “Jangan samakan aku dengan Jonghyun,” ucapnya beberapa detik kemudian setelah mencerna semuanya. Kali ini ia benar-benar membalikkan tubuhnya dan melangkah.

Heera menahan kasar tangan Jinki, memaksa tubuh itu kembali menghadap padanya. “Lalu jangan pula kau samakan aku dengan wanita murahan! Aku benci disebut seperti itu. Aku bukan pelacur! Aku sangat membenci pelacur! Perusak moral, penghancur kesucian, memborbardir dengan nafsunya. Aku benci pelacur, pengeruk harta orang, menyedot cinta murni dan mengubahnya menjadi permainan busuk. Aku, benci pelacur! Merusak semua manusia yang tak berdosa, termasuk penderita AIDS yang jumlahnya semakin banyak! Aku benci pelacur, sahabat setia setan yang berkeliaran turun dari neraka! Aku benci pelacur, aku juga benci kau—yang seolah mengatakan bahwa aku mirip pelacur.” Merosot bak kertas tak bertulang yang tertarik gravitasi bumi, Heera terduduk di lantai. Terisak menutupi wajah, suaranya mengeras tanpa perlu komando.

Pelacur, dia baru saja menghina kebusukan manusia sejenis itu. Jonghyun, tidakkah pria yang sangat dicintainya itu juga seorang pengedar abu neraka—agen mulia dari setan-setan penghuni sana? Oh, bukan lagi penjaja seks kelas rendahan yang bermain panas di hotel kumuh. Pria itu, mengkhianatinya dengan mudah, tergoda oleh wanita berumur. Apa masih bisa disebut ‘hati Jonghyun telah berpaling’?  Atau hanya raganya yang terseret masuk dalam kubangan hitam pekat? Gigolo? Tidak tidak, Heera tidak sepenuhnya yakin bahwa Jonghyun melakukan perbuatan hina itu demi seonggok harta.

“Tidak, jangan salahkan pelacur semata untuk urusan HIV. Heera-ya, tidak semua penderita AIDS terpapar virus HIV karena bercumbu dengan seorang pelacur. Baik, katakan aku manusia tak berhati, tidak peka pada perasaan yeoja, apapun. Nyatanya aku memang tidak tertarik untuk peduli. Katakan pula aku gay yang hanya bersimpati pada namja tampan, anggap saja aku seperti itu. Permisi, aku pulang, kau masih punya kaki untuk bangkit sendiri, ‘kan?”

To Be Continued

Dear all, maaf lama lanjutannya *bow*

Semoga masih pada inget cerita sebelumnya. Kalo engga, baca lagi #plakkk

Oya, ini part terakhir yang kutulis bareng Vero Eon. Mulai part depan Vero eon engga ikutan lagi karena manusia yang satu ini ceritanya  sibukbukbuk…

Trus yang cerita tentang pabrik sepatu itu sebenernya cerita dosenku, aku kutip dengan beberapa perubahan.

Mohon kritik sarannya ya? Aku udah lama engga nulis, jadi berasa kayak baru nulis pertama kali lagi nih…heuheuu

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

46 thoughts on “Forward – Part 5

  1. Waaaaa……
    Abiss baca ini…mood ku jd ikut2an redup…biru…huaaaa… serasa ikut ngerasain feelnya heera, jjong, jinki yg lg suram…
    Bib, tanggungjawab…..hehe

    Apa jinki terinfeksi HIV ?dr donor drh mgkin?aaaaa…tuh kan aku mulai nebak2 jd nya??….moga aja salah….aaaaa…ga rela
    Tp biar ga rela…lakukan apa yg tbaik mnurutmu bib…aku akan menerima jinki apa adanya….#ehhhhh

    Fighting nglanjutin nya… Bib ^^

    1. seriusan eon feel-na berasa? Aku H2C krn udh lama ga nulis, semacem bingung lagi mau ngetikin apa gitu…
      Wuooo, knp eon nebak2 begitu? Tebakan eon suka sadis, satu dua ama Rahmi eon. Tapi-tapi, bukan masalah ‘ada apa dgn Jinki’ yang nantinya dibahas, hehe…
      Iyap, makasih buat semangatnya. Tau aja aku lagi loyo buat nulis

      Datanglah kembali ke part 6 ^^
      Semoga bisa selesai sebelum 2 minggu ~
      Makasih eonni ^^

  2. aish kok jadi ribut gini sih. Jinki pernah ngalamin apa sih di masa lalunua? Oh ya thor sebelumnya username saya Park Min Gi, sekarang diganti. Ditunggu lanjutannya.

  3. itu jinki benar2 y,,ada yeoja yg minta bntuannya mlah dtggal pergi,.mana dsuruh bgkit sndiri lgi,.ckckck..
    sbnarnya apa sih masalalu jinki?????
    hehe

    dan aku msh bgung sbnarnya apa yg mbwt jong mgmbil plhn itu,apa krna uang smata???

    aish,bnar2 crita yg g bsa ktebak..keren..!
    next part dtggu~,.dan jgn lama…🙂

    1. Hihi, tp ada kok manusia macem Jinki yang bener2 ga peka sma cewe. Aku pnah nemu yang lebih astajim daripada itu, rasanya…pingin kutelen!!

      Hehe, ditunggu aja ya lanjutannya… semoga bisa cepet ^^
      Makasih ya udah baca n ninggalin jejak ~

  4. Kyaaaaaaaaaaahhhh wae?wae?wae?selalu gemezzz sama alur cerita forward,,,keren banget,,,ga keraba endingnya,,,aku tunggu sampe end ni ff ,,,

    1. Hihi, gemes ya? Aku juga gemes pingin cepet namatin ep ep ini. Sayang hidupku lagi kacau balau ama yang namanya tugas. Ditunggu aja ya… semoga part depan bisa nyusul dlm hitungan minggu aja, ga sampe bulan ^^
      Makasih udah mampir😀

  5. aku jadi ikut galau baca ini.
    bisa ngerasain jadi heera gimana. Sok dingin dihadapan jonghyun padahal hatinya rapuh banged. jonghyun terlalu mengerti apa yang terjadi sama heera disitu.
    part disini emang lagi galau semua
    aku penasaran ada apa sebenarnya sama jinki?
    tentang masa lalunya itu yang pas ngomong-ngomong sama jaejoong.

    bibip eon, puas aku sama part ini. tapi lebih puas kalo udah kebongkar semua masalahnya masing2😄
    ahh… vero eoni udah gak bisa ikut nerusin ff ini lagi to…
    tapi gak apa apa deh tetep semangat walau sendiri.
    kalau bibip eoni yang ngerjakan sendiri bisa lebih cepet gak post selanjutnya?😄

    itu ajah deh eon. selama aku baca gak ada typo sama sekali.

    thanks ya eon

    1. Banyak typo kok cha ^^
      iya kayakna bisa cepet cha. Smoga deh ya… aku jg ga suka nunda2 kok
      syukurlah kalo part ini memuaskan…tp aku ngerasa ada sesuatu yang aneh di part ini…entah aku jg ga tau apa itu…

      makasih ya cha udah setia bgd nunggu ff ini…^^

  6. Ah… Jinki, kenapa jadi begini sih? Sepertinya dia emang begitu kompleks ya, sampai part 5 masih bertahan dengan labirin yang ia ciptakan untuk mencegah orang lain masuk terlalu jauh ke dalam dunianya.

    Hubungan ketiga orang ini: Jonghyun – Heera, Heera – Jinki sepertinya berada di titik kritis, nih.

    Entah kenapa, aku merasa Heera ini cewek yang tegar dan memegang teguh prinsip, tapi ia tidak/kurang memiliki kelembutan khas wanita. Atau dengan bahasa lain, logikanya menang jauh dibandingkan perasaannya. Jarang-jarang juga aku menemukan karakter kayak dia di cerita lain. Namun, hal ini juga yang terkadang memicu salah paham dengan Jonghyun dan (khususnya) Jinki.

    Pas ketemu Jonghyun, nadanya langsung sarkas, mungkin kalau dia tidak sesarkas itu, Jjong juga tidak akan mengeluarkan mekanisme pertahanan diri seperti itu, pura-pura sudah terbiasa dengan dunianya sekarang dan menjadi ‘penjahat’ yang sesungguhnya. Meskipun, yah, di cerita ini dijelaskan bahwa Jjong tidak jadi meminta maaf dan memeluk Heera karena merasa tidak pantas menjadi namja-nya Heera, aku merasa pemicu awalnya ya itu, ucapan yang agak sarkas tadi.

    Pas ketemu Jinki, (mungkin karena Heera lagi banyak masalah), dia malah mengatakan sesuatu yang menciutkan nyali Jinki. Padahal Jinki juga baru membuka diri, maklum kalau dia kesulitan untuk menemukan kata yang tepat. Memang sih, gagalnya pembicaraan mereka karena Jinki ‘salah ngomong (lagi)’ dan pemikirannya tentang wanita (khususnya Heera) yang tidak sesuai ekspektasi, sehingga dia kembali menolak Heera (mekanisme pertahanan diri lagi).

    Heera sendiri juga punya mekanisme serupa, sehingga ketika ia terluka, dari luar, ia tetap terlihat tegar, ya mekanismenya dengan berkata agak sarkas itu, nggak jauh beda dengan Jinki dan (kadang-kadang) Jonghyun. Jonghyun agak lebih lunak dibandingkan dengan Jinki dan Heera, sepertinya.

    Ah, maaf, analisis amatiran, bukannya bermaksud menyalahkan Heera sih, ya, intinya masalah mereka itu berawal dari kesalahpahaman. Jinki mikir A, tapi ngomong B, Jonghyun juga seperti itu. Kalau Heera sih lebih cenderung berkata sesuai dengan yang dipikirkannya, tetapi pada situasi tertentu, sikap seperti itu tidak tepat juga, ada yang harus ‘dipoles’ agar tidak terlalu menyakitkan untuk didengar.

    Uhuk, dan adegan Minho – Jonghyun itu sesuatu, padahal Minho ingin mencairkan suasana, eh, malah mengingatkan Jonghyun tentang perbuatannya.

    Oya, aku kurang paham bagian ini, maksudnya apa ya?: Sedetik kemudian pusaran air yang sebelumnya menggila itu….dari kejamnya suhu yang membekukan tubuh.

    trus ini: …detik itu juga hati kecil Heera membisikkan mesra ‘dia tidak sejahat yang kau pikirkan, Heera-ya’. >> mungkin lebih pas kalau kalimatnya : .. hati kecil Heera berbisik mesra,’…’ (aku ragu, apa tanda koma harus diletakkan sebelum tanda petik tunggal atau nggak🙂 )

    Baru kemudian Jaejoong menanggapi, “hmmm, Itu perkataanmu sendiri. >> “Hmm, itu perkataanmu sendiri.”

    ia harus memegangi bagian perutnya, “kau lucu. >> …,”Kau lucu.

    Hei, coba lihat, rasanya akan banyak orang yang belum punya alas sepatu >> alas kaki / sepatu

    makhluk yang lebih rapuh dari pria, dan memiliki risiko depresi dua kali lipat dari pria. >> dari –> daripada, trus sebelum ‘dan’ mungkin tanda koma bisa dihilangkan karena merinci dua hal saja.

    ‘modern’ kalau nggak salah sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, jadi nggak perlu dicetak miring.

    trus ‘tatami’, setahuku ‘tatami’ itu adalah sejenis tikar yang juga menjadi standar pengukuran luas ruangan di Jepang, bukan meja santap. mungkin bs diubah sedikit >> meja santap beralaskan tatami. kalau meja pendek untuk makan itu namanya ‘chabudai’

    memborbardir >> membombardir

    Oya, di part ini, ada beberapa kalimat yang diapit tanda petik, tetapi tidak diawali huruf kapital. Trus ada juga yang kelupaan spasi setelah tanda petik dua akhir, seperti ini: “…”katanya.

    Oke, sekian (wow, terlalu panjang ternyata, maaf ya bib). Kutunggu lanjutannya😀

    1. amiiii, aku paling demen komen sepanjang kereta gini. Bentar aku balik lagi kalo otak_mataku udah ga sepet yak… sekalian direvisi.
      Makasih bgd ya mi masukannya… nanti aku ulas lagi kl udah kurevisi, hehe

    2. Yup bener, Heera sering kalah sama otaknya, meskipu mood dia sering terseret hati jg. Dan emang bener mi, semua karakter utama di sini cenderung ‘mempertahankan diri’, ‘jaga image’. Hingga nanti ada titik balik yang perlahan membuat mereka ‘runtuh’. Masuk akal ga mi cara mereka mempertahankan diri?
      Trus ini:
      Sedetik kemudian pusaran air yang sebelumnya menggila itu… Seketika danau hijau bertabur bunga-bunga indah terhampar bak karpet yang senantiasa memanjakan manusia dari kejamnya suhu yang membekukan tubuh.
      Kalimat itu semacem pertentangan dari kalimat yg ada di beberapa paragraph sebelumnya: Semua kebencian itu terpusat, seperti ada pusaran air dahsyat yang memutar dan menyeretnya hingga lubang pesakitan terdalam. Dasar samudra kepedihan tertahan.
      Kan awalnya Heera itu maraaah, bgd ama jjong, emosi setengah idup. Eh tau tau pas bener2 ngeliatin wajah jjong, pusaran air yang menggila (ini konotasi buatanku, intinya itu tuh luapan emosi) jadi melunak mi, mendadak merasa dunia sekeliling indah begitu menatap scr mendalam ke wajah jjong. Intinya lagi, aku mau bilang klo sebenci2nya heera, dia masih terpesona dan punya sisi ‘lemah’ dalam menghadapi Jonghyun, semacem karena cinta gitu mi. Bingung ga dgn penjelasanku? Aneh ga mi?

      Yang tentang berbisik, kayakna bener yang ami. Sip, aku ganti. Tapi bentar, kalo yang ini:
      Baru kemudian Jaejoong menanggapi, “hmmm, Itu perkataanmu sendiri. >> “Hmm, itu perkataanmu sendiri.”
      Aku ragu yang betulnya gimana mi. Soalnya sebelum petik itu ada keterangan yang menyiratkan tindak-tanduk Jae mau ngomong. Di beberapa novel kasus macem itu ga capital. Tapi ada juga yang capital. Aku ga tau yang bener yang mana, hehe…
      Yang lainnya ami bener, makasih banyak ya mi buat koreksinya…
      Tentang spasi, itu juga keteledoranku. Udah diengetin ama beta readernya, tpdasar aku aja yg lagi kacau pas ngedit lagi. Untuk capital di dalam petik, ini aku mau tanya ke ami. Jadi kalo tanda petik satu (‘) itu diikuti dgn capital y klo isi di dalam petiknya berupa kutipan pernyataan orang? Atau gimana maksu ami? Aku kurang ngeh -___-a
      Sekali lagi thanks ya Mi komennya…. Ini berguna banget buat kupikirin. Sori ya balesnya lama, aku baca ulang dulu ff ini soalna dan liatin satu2 masukan2 ami

      1. Wahhh…udah dibales! Nggak apa-apa kok telat🙂

        Yang cara mempertahankan diri itu masuk akal, kok, di dunia nyata juga ada🙂
        Yang bagian konotasi itu, akhirnya aku ngerti, mungkin akunya yang nggak ngeh, kalau dipikir-pikir nyambung kok dengan paragraf selanjutnya.

        Kalau yg “hmm, Itu perkataanmu sendiri…” barusan aku cek EYD, semua kalimat yg diapit tanda petik diawali huruf kapital (walaupun sebelumnya si penutur melakukan kegiatan tertentu atau nggak). Yang nggak pake huruf kapital kalau yg diapit tanda petik itu berupa kata/frasa.

        Kalau untuk petikan dalam petikan yg diapit tanda petik tunggal (‘…’) nggak perlu diawali huruf kapital, bib, hehe, *baru ngecek EYD* *getokpala*, untuk yang tanda petik (“…”) aja. Tapi, sebelum tanda petik tunggal, tetap diawali tanda koma.

        misalnya: Pusat kendali manusia itu lalu berteriak lantang, ‘jangan beri ampun pada sang pengkhianat!’. (eh, tapi aku ragu ini mesti pake petik atau petik tunggal, soalnya indikasi penggunaan petik tunggal itu cuma 2, mengapit petikan dalam petikan, atau mengapit terjemahan/makna/penjelasan kata asing)

  7. Bibiiiib…..
    Jangan bilang Jinki itu Venustraphobia.
    Glek. Nelen ludah. Baca dialog Jinki yg paling terakhir, OOT banget Jinkinya.

    Bibib, kecurigaanku di part sebelomnya, Ahjumma2 yg nyewa Jjong itu Umma-nya Minho bukan ya?

    Dan aku curiga ini bakalan jadi calon very long long FF.
    Kkk~
    gak papa asal dikelarin.

    Bibib, Fighting!
    ^^9

    1. et dah eon, bahasanya nyewa, wkwkwk, berasa jjong itu komik.
      jinki…bukan itu, tapi…
      ga akan panjang bgd kok, kayakna masih di bawah 15 part.
      Iyooow, fighting (9 ‘ 0 ‘)9
      makasih eonni buat supportnya ^^

  8. ya! Ya!
    Ada apa dgn jinki..? Sikapnya seperti maju mundur.. Seringkali dia terlihat kurang bisa menyampaikan apa yang diinginkannya.. Apa dia memiliki trauma??
    *mianhae kalo analisaku ngaco.. Hehe
    Heera yg nampak tegar di hadapan jjong, tiba2 dia melemah di hadapan jinki..
    Melihat minho bercericau ceria di hadapan jjong yg suram bagai dunia terbalik.. Hhe.. Dan ku sudah menebak kalau kata ‘kotor’ itu langsung menohok jjong..
    Aku amat sangat penasaran dgn alasannya melakukan itu..
    Next..

    1. Ya yaya! Jinki kamu kenapa sih?
      kenapa? macem2.
      Jjong…ah, alasan jjong sederhana aja sebenernya…hehe

      makasih eonni buat kunjungannya…
      next part ditunggu aja yahhh…

  9. mau ngakak pas baca ini:
    “Kau… namja, bukan?”
    haahahahaa
    bukan kenapa2… tp lucu aja gitu..

    iiiihhh jinki… knp gitu sih.. gak peka bgt… tp kata2 heera yg nyebut2 penderita HIV jg nyinggung jinki sih… yaaa tapi kan heera gak tau jinki menderita itu….
    truuuuss siapa yg salah doooong (o゚ロ゚)┌┛Σ(ノ´*ω*`)ノ *tendang pantat key*

    lanjut aja lah klo gitu…
    makin seru dan menegangkan….

    1. *selametin Key dulu*
      yayaya, ga sopan tendang2 Key. Ntar Key ga mau eonni selingkuhin lagi lohhh…

      sesungguhnya aku ga tau eon mau nanggepin komen eonni ini kayak apa -_-a
      makasih ya buat kunjungannya eon ^^

      masa sih menegangkan eon?
      btw jadi inget aku utang poster ama eon. Weekend aku usahain. Aku jg masih punya 4 utang poster lainnya, lepiku sampe malem dipake ngerjain tugas mulu, jadi keburu berat dipake buka photoshop krn udah digedor seharian or setengah hari… mian eon *bow*

      1. gak usah bingung klo mau nanggepin komen gajeku ini… hahaha
        tanggepin seadanya saja.. hahahaha

        santai aj bib.. posternya bukan buat ff kok.. hehe

  10. Hyaaaa!! Akhirnya..
    Ya ampun Bibib aku hampir lupa jalan cerita ff mu yg 1 ini.
    Hwaa koq makin nyesek yaa hiks Jjong ㅠ.ㅠ
    Eeh abis baca part ini aku jg berpikiran yg sama kyak niek. Kyaknya pemikiranku ttg Jinki yg sebelumnya salah. Aigo tp semoga yg ini jg salah.
    Aahh Bibib ff mu ttp daebak koq. Feel nya dapet ㅣ, aku kayak ngerasain gimana nyeseknya Heera & Jjong ya ampunn hiks hikss
    Next part di tunggu yaa! Fighting p(^0^)q

    1. Hyaaa, akhirny kita bersua kembali eonni ^^
      mian ya eonni, aku ngejer ujian semacem UN-ny anak SMA gitu dulu, jadi sebulan ada kayakna vakum

      aigooo, niek eon nih meracuni orang dgn perkiraannya…. tp eonni yg satu ini beberapa kali bener sih maen tebak2annya…

      seriusan nih eonni feelnya berasa? awalnya scene jjong heera itu hambar. Untung beta readernya jujur bilang ke aku, jadi aku tambahin lagi scene itu, hehe…

      yap, part berikutnya ditunggu aja yawww
      makasih eonni udah berkunjung…

    1. Jinki…mmm, emg iya ya terkesan jinki berusaha dapetin heera?
      bulan puasa masih lamaaa..jd jjong blom tobat2 noh #plakkk

      makasih yaw atas kunjungannya ~

  11. sebulan? hmm pantes aja, lumayan lama km vakum. But gwenchana🙂

    Jinja?! Tebakanku yg mana yg bener? Klo yg si ajhumma jelek itu aku udah yakin banget klo dia eomma nya Minho. Huh kasian bnget Minho punya eomma kayak gt. Mana Jjong lg yg jadi korbannya >,<
    Yahh aku sedikit terpengaruh sihh ama komennya niek. Tp td aku balik baca part 3 & sekarang aku bingung. Kayaknya apa yg aku pikirkan sebelumnya ada kemungkinan bener. Tp hhh molla.. hanya tuhan & bibib yg tau apa yg sebenarnya trjadi & yg akan terjadi. kkk~

    Okey pasti ditunggu😉
    Oiya klo 'Namja' gimana kabarnya(?) aku jg penasaran dgn yg 1 itu..

  12. onnie, kok galau bgt? Kasihan sekali hidup Heera. Jinky nya kok jg gitu sih? Apa salahnya minjamin pundak sebentar, mana ngomongnya kasar bgt lagi, ngesalin ah! Heera (╥﹏╥)
    OMO Jae pasti ganteng bgt (ʃƪ♥ﻬ♥) (?)
    Apa ya nanti reaksi Minho pas tau Jjong gitu? Penasaran onnie, next chap asap ya, hwaiting! ><

  13. Ngulang ini dari awal, udah lupa bgt sm alurny hoho.
    Nih ya ampun, mesti gelng berkali” liat kelakuan ma husband jinki. Kalo ad manusia yg perawakanny macam jinki tp sifatny macam gitu, tunggulah saya santet biar klepek” sm saya. *oke, out of topic
    It endingny agak gimana ya, bayanginny jinki esmosi batin pas hiv diungkit. Pensarn bget, si jinki kena aids ya. Ato trauma semasa kecil, ato atooo. Wah, daebak bgt bikin saya mesti bingung menduga” ap yg sebenarny trjadi. Okelah, nextttt~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s