Inter Sexual – Part 7

Disclaimer  : We don’t own the character, they are belong to themselves.

Genre  : Teen Romance/Hurt/Comfort

Warning  : Gender bender, OOC, OC, elseword, typo dan misstypo, authorfic ^^.

Rated  : T

.

.

Aiesu © Chiyo Rokuhana

.

.

sHyning soHee collab with Eun bling-bling and Lynda

proudly present

I.S [Inter Sexual]

Lee Taemin (as boy), Lee Taehee (as girl), Choi Minho, and Lee Jieun (IU)

.

.

 

Bagian Ketujuh

 Her and His

Setiap aku bertanya pada eommaku.

“Kenapa tubuhku begitu aneh?”

Ia selalu diam.

Dan hanya tersenyum kearahku.

Aku sangat yakin dalam senyuman itu—

terselip rasa kesedihan.

“Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak.”

***

“Uh! Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya! Kata teman-temanku film ini sangat bagus lho!” Ujar Hara, matanya berbinar menatap tiket di tangannya.

Minho tersenyum, kepalanya menoleh dan mendapati Jung Hara yang masih enggan menjauhkan pandangan dari si tiket. Matanya menyipit, bermaksud mempertajam penglihatannya pada dua lembar kertas yang digenggam Hara—memastikan bahwa dugaannya salah.

‘Bu-bukankah film ini yang akan kutonton dengan Taehee waktu itu?

Gambaran Lee Taehee yang merobek tiket tengah berputar dengan cepat di memori otaknya. Emosi pemuda itu meluap, tangannya menggenggam kuat stir mobil yang ia kendarai.

“Batalkan!” Minho berujar tinggi, Hara menoleh dan melempar pandangan bingung pada cowok di sebelahnya.

“Lain kali saja!” Lanjutnya kemudian. Minho membanting stirnya ke kanan, membuat mobil yang mereka tumpangi berbalik arah.

“Ke-kenapa?” Gadis itu bertanya.

Di dalam otaknya, Jung Hara tengah mempertanyakan kenapa pemuda di sebelahnya ini tiba-tiba meledak. Choi Minho yang selama ini dikenalnya bukanlah tipe pemuda emosional.

Oppa! Apa ada yang salah? Kenapa tiba-tiba oppa membatalkan acara nonton kita? Apa ada sesuatu yang tertinggal?” Racaunya cepat.

Aniya. Aku hanya tidak suka filmnya,” sahut Minho dingin dan terus terang saja sedikit membuat gadis di sampingnnya itu bergidik.

“Kenapa? Oppa bilangkan tak masalah dengan film yang akan kita tonton?”

“Aku tidak suka!”

“Apa oppa pernah menontonnya? Atau tidak suka dengan pemainnya?”

“Aku hanya tidak suka!”

“Iya, tapi kenapa? Setidaknya jelaskan alasa—”

“AKU BILANG TIDAK SUKA YA TIDAK SUKA!” Teriakan Minho membuat Hara mematung, ia tak menyangka kalau Choi Minho akan sekasar ini padanya.

Seolah ada permen lengket yang menyumbat tenggorokannya seiring penglihatannya yang mulai mengabur. Jung Hara terperangah melihat Minho yang masih menatap lurus ke depan. Tangannya mengepal, menahan sesuatu yang akan keluar dari balik matanya. Ini pertama kalinya bagi seorang Jung Hara dibentak. Terlebih yang melakukannya adalah Minho, pemuda yang selama ini ia kagumi. Pemuda yang selalu melindungi dan mengerti dirinya. Choi Minho yang selalu dikenalnya sebagai pria yang bersikap lembut. Tapi malam ini, anggapan itu tidak berlaku lagi. Sisi lain Minho yang tak ingin dilihatnya naik ke permukaan.

Oppa… Aku hanya ingin sebuah penjelasan!” Mati-matian Hara menahan suaranya agar tidak bergetar, “Sebenarnya apa salahkusampai oppa meneriakiku?Jika memang tak berniat untuk menemaniku menonton, sebaiknya oppa menolak dari awal! Pinggirkan mobilnya!” Lanjut Hara, tangannya dengan tangkas melepas seatbelt.

Seperti mendapat tamparan keras saat Minho menyadari sikapnya terlalu kekanakan. Dengan bodohnya ia membuat Hara menangis.

Sekarang gadis mana lagi yang kau buat menangis Choi Minho?

“Hara! Maaf, aku tidak bermaksud. Aku han— “

“Aku tidak butuh penjelasanmu! Turunkan aku di sini!”

“Tidak! Mian, mianhae. Salahku, seharusnya aku tidak membentakmu seperti tadi.”

“Berhenti sekarang atau aku akan melompat!” Ancam gadis itu. Mata Minho membulat.

Kesal melihat Minho yang sama sekali tak menggubris ucapannya, gadis itu dengan cepat meraih handle pintu dan bersiap membukanya. Minho menggeram sebelum menginjak pedal rem kuat-kuat. Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal memenuhi jalanan yang lenggang tersebut. Kedua tangan Hara dengan sigap menahan tubuhnya agar tak membentur kaca di hadapannya, mengingat seatbeltmiliknya telah ia lepas.

Gwanchana?” Ujar Minho panik. Tangan besarnya meraih bahu Hara, namun segera ditepis kasar oleh sang pemilik. Hara segera turun dari mobil dan berjalan dengan cepat menyusuri trotoar.

“Hara! Tunggu!” Minho segera menyusul gadis mungil itu. Ia meraih kedua bahu Hara dan membuatnya menghadap ke arahnya.

Hara menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba menyembunyikan jejak air mata yang sempat menghiasi pipinya barusan.

“Maafkan aku. Ku mohon. Maaf, maaf, maaf,” Minho menarik tubuh mungil Hara dalam dekapannya. Mulutnya tak henti-hentinya melafalkan kata maaf.

Kening Minho berkerut saat merasakan bahu Hara bergetar. Bukan, bukan karena gadis itu menangis tapi karena tertawa. Minho segera melepas pelukannya, menatap wajah Hara yang memandangnya lucu.

“Hara? Gwan... chana?” Tanyanya ragu, takut kalau gadis itu mengalami gangguan mental. Bukannya menjawab, tawa Hara malah semakin menjadi. Kaki gadis itu menghentak-hentak di tanah dan kedua tangannya memeluk perut.

“Hara? Sebaiknya kita ke psikolog!” Tandas Minho. Tangannya menyambar bahu Hara dan mengajaknya kembali ke mobil.

Oppa! Aku tidak gila! Tenanglah!” Ujar Hara kemudian, membuat Minho menghentikan aksinya.

“Lalu? Kenapa kau tiba-tiba tertawa?” Minho masih menatap Hara khawatir.

“Aku…” tunjuknya pada dirinya sendiri, “Aku hanya merasa lucu dengan tingkahmu yang terus-terusan mengucapkan kata maaf!” Kembali Hara tertawa mengingat tindakan Minho beberapa menit yang lalu. Alis Minho bersatu, merasa tidak ada yang lucu dari tindakannya tadi. Apa Hara benar-benar sudah gila?

“Sudahlah oppa! Lupakan! Aku sudah memaafkanmu kok!” Ujar Hara lagi, “Sekarang aku lapar! Bisakah kita ke cafe atau restoran?” Lanjut si gadis, membuat Minho mengembangkan senyum. Ia segera menepuk puncak kepala Jung Hara.

Kajja! Aku akan mentraktirmu sebagai tanda permintaan maafku!” Ajaknya masih dengan senyuman.

Hara terhenyak sebentar sebelum menggeleng pelan dan mendahului Minho masuk ke dalam mobil. “Sudah seharusnya kan? Seorang namja harus membayar makanannya ketika kencan?” Ucap Hara ketika Minho telah memasuki mobilnya.

“Eh?” Minho menoleh dan melempar pandangan bingung. Namun ketika melihat gadis itu tersenyum manis, ia segera membalas senyumnya dan mengangguk.

***

“Silakan dinikmati!” Ujar Taemin ramah pada pelanggan di hadapannya, ia membungkuk sopan sebelum beranjak meninggalkan mereka.

Tubuh langsingnya berjalan menuju dapur dan menghampiri sang chef yang sibuk berkutat dengan berbagai masakan.

“Mereka belum keluar?” Tanya Taemin. Yumi mengikuti arah pandangan Taemin, kemudian mengangguk. “Sampai kapan mereka akan seperti itu?” Yumi hanya mengendikkan bahunya pertanda tak tahu.

“Dasar, mau makan gaji buta apa?!” Taemin berjalan menghampiri toilet khusus pegawai.

Tok...tok...tok

“Hei, mau sampai kapan kalian terus mengurung diri?” Pekik Taemin.

“Sampai mereka pulang!” Teriak Heamin dan Sohee berbarengan, membuat Taemin memutar bola matanya.

“Mereka sudah pulang!” Bohong Taemin, berharap keduanya mau percaya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.

“BOHONG!” Tampik keduanya, “Ini baru jam 7.30! Mereka pulang jam 08.00!” Tambah Sohee, “Kau tidak bisa membohongi kami!” Susul Heamin kemudian. Taemin mendengus kesal.

“Oh ya? Kalau tidak percaya lihat saja sendiri!”

“TIDAK MAU!”

“Dasar!”

Kesal, Taemin menendang pintu di depannya, membuat penghuninya menyeyumpahinya. Takut umpatan mereka semakin menjadi, Taemin memutuskan untuk menjauh. “Mau makan gaji buta apa? Merasa malu hanya karena hal sepele begitu? Dasar!” Keluh-kesah terlontar dari bibirnya. Sepanjang perjalanan ia habiskan dengan mengomentari tindakan kedua soenbaenya tersebut.

Namun langkahnya terhenti ketika Taemin mendapati seseorang tengah memasuki ruangan manajernya. Matanya menyipit, memfokuskan pandangan pada sang objek. Otaknya kemudian mulai mencerna apa yang dilihatnya. Pemuda yang meminta bertemu dengan manajernya, kalau ia tak salah ingat. Taemin melangkahkan kakinya pelan, ketika melihat si pemuda berhasil memasuki ruangan Eunhee.

“KELUAR!”

Taemin tersentak mendengar teriakan Eunhee saat dirinya baru sampai di ambang pintu. “Ada apa?” Gumamnya penasaran.

Apakah ia mengenal pemuda itu? Jika pelanggan biasa tidak mungkin Eunhee akan sekasar itukan?’ Batinnya.

“Kumohon! Dengarkan penjelasanku!” Terdengar suara lelaki menyahut.

“Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu! Sekarang juga… keluar dari ruanganku!” Eunhee menyahut dingin. Taemin semakin menekankan telinganya agar mendengar jelas percakapan mereka. Merasa penasaran apa yang membuat sang manajer yang terkenal dengan sifat ceria dan bawelnya itu menjadi dingin dan kasar seperti ini.

“Kau salah paham! Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Percayalah!?” Ujar Minwoo meyakinkan.

“Diam! Jika kau tak mau keluar! Lebih baik aku yang keluar!”

“Eunhee…”

Tidak ada percakapan yang terdengar, Taemin kemudian bertanya-tanya, kenapa Eunhee tidak membalas perkataan Minwoo. Ketika sedang sibuk berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Kemudian sosok Eunhee keluar meninggalkan ruangannya.

Taemin mengerjapkan matanya, masih mencerna apa yang terjadi. Minwoo menatap Taemin yang mematung di samping pintu, sebelum mulai menyusul kekasihnya.

***

Minho menepikan mobil hitamnya. Pandangannya menyapu seluruh penjuru area parkir. Begitu banyak mobil yang terparkir di sini. Beruntung ia masih mendapat lahan yang cukup untuk memarkirkan mobilnya.

“Hara, Maaf! Seharusnya kita ke bioskop bukan malah pergi kemari,” sesal Minho. Hara menghentikan tangannya yang akan membuka seatbelt lalu menatap bingung pemuda itu.

Gadis bermarga Jung tersebut tertawa kecil, “Gwanchana oppa! Kita bisa menonton film lain kali! Aku juga tidak bisa memaksa oppa untuk menonton film itu kan?”

“Tapi aku merasa bersalah padamu! Bagaimana kalau kita kembali ke bioskop untuk menontonnya? Bukankah masih sempat?”

Hara menggeleng, “Aniya, aku bisa menontonnya besok. Kurasa Hyein mau menemaniku! Hehe… sudahlah oppa! Kajja turun! Aku lapar!” Minho tersenyum geli mendengar celotehan sahabat kecilnya tersebut. Gadis ini sudah berubah.

“Kenapa menertawakanku? Apa aneh?” Hara mengembungkan pipinya. Minho menggeleng singkat. Sebuah senyuman terpatri di paras manis Hara.

***

“Selamat datang!” Senyuman ramah menyambut mereka ketika memasuki cafe Starbucks.

“Selamat malam! Ini daftar menunya. Silakan dilihat!”

“Kau ingin pesan apa?” Minho bertanya pada Hara yang sibuk membuka-buka buku menu.

“Entahlah oppa. Aku bingung! Semuanya terlihat enak!” Sahut Hara yang tak melepas pandangannya dari buku menu.

“Hm, kami pesan makanan terenak di sini saja!” Putus Minho sambil menyerahkan buku menu pada pelayan yang menghampiri mereka.

Kening Minho berkerut, ia memandang penuh minat terhadap sosok di depannya. Ia merasa begitu familiar dengan pemuda yang berstatus sebagai pelayan ini. Sepertinya ia pernah bertemu, tapi entah dimana.

“Maaf!” Tegur si pelayan sopan ketika Minho tak kunjung melepas buku menu.

“E-eh, Maafkan aku!” Minho menyahut kikuk menyadari kebodohannya. Hei, berapa lama ia menatap pemuda barusan?

Sebelum pemuda itu menghilang, Minho sempat menatap sekilas tag namenya.

“Lee Taemin,” gumamnya pelan.

Ne?” Tanya Hara, seperti sebuah jentikan tangan yang menyadarkannya dari lamunan singkat.

“Eh? Gwanchana!”

Oppa pernah kemari sebelumnya?” Gadis itu mengedarkan pandangannya. Sepertinya ia sangat tertarik dengan desain ruangan cafe tersebut.

“Eh! Tidak, ini pertama kalinya!”

“Desain ruangannya bagus! Tidak seperti cafe lainnya!”

“E-eh! Benarkah?” Sahut Minho, matanya kembali mengarah pada si pelayan yang telah menghilang di balik dapur.

“Ya, klasik tapi juga menimbulkan kesan modern! Oppa, Bagaimana kalau “ Hara menoleh pada sosok Minho yang sekarang menghilang entah kemana.

Oppa!” Panggilnya.

Pandangan gadis itu mengedar, berusaha mencari sosok jangkung yang ia kenal sebagai Choi Minho. “Mungkin pergi ke toilet!” Putusnya kemudian setelah melihat ponsel dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja tempat Minho duduk tadi.

***

Minho melongok ke arah dapur, berusaha mencari sosok pelayan bernama Lee Taemin tadi. Sosok pemuda itu entah kenapa berhasil membuat Minho penasaran setengah mati.

“Mencari siapa?” Tegur seseorang, ia menoleh cepat. Matanya menangkap seorang gadis cantik bertampang datar. Lidahnya terasa kelu, dan mulutnya serasa dihujam beribu jarum. Gadis itu masih setia menunggui jawabannya.

“E-eh, toilet?” Sahutnya gugup.

Apa yang kau takutkan Minho? Tingkahmu seperti penjahat yang tertangkap basah mencuri saja.

“Bukan di sini! Ini dapur! Toilet ada di sebelah sana!” Gadis bertag name Lee Jieun itu berujar sambil menunjuk arah toilet.

“Oh, Gomawoyo!” Ucap Minho sambil berlalu pergi, meninggalkan gadis berwajah datar tersebut.

***

“Kenapa Minho dan Hara bisa berada di sini? Gawat jika mereka sampai mengenaliku!” Taemin melangkah cepat. Kepalanya terus menoleh ke belakang hingga tanpa sadar menabrak seseorang.

Ya! Lee Taemin! Perhatikan jalanmu!” Pekik Sohee menahan kesal pada orang yang baru saja menabraknya.

Mianhae! Ini pesanan meja sembilan! Aku mau ke toilet dulu!” Taemin berujar cepat sembari menyerahkan kertas pesanan Minho pada Sohee.

“Ada apa dengan anak itu?” Kening Sohee berkerut menatap tubuh Taemin yang semakin menjauh.

Braakkkk

“Dari beribu-ribu cafe yang ada di Seoul, kenapa mereka harus memilih makan di sini? Tch!” Gumam Taemin kesal. Tangannya menekan pinggiran wastafel.

“Dan untuk apa ia bersama Hara? Apa mereka mempunyai hubungan khusus?” Tanyanya pada pantulan dirinya di cermin.

Takkk.

Ia memukul pinggiran wastafel keras, hingga menimbulkan rasa ngilu pada telapak tangannya.

“Untuk apa aku peduli? Minho juga bukan siapa-siapaku kan?”

Taemin menghela nafas panjang, pikirannya kacau seketika. Beribu pertanyaan bermunculan di benaknya. Dan sialnya ia tidak tahu jawabannya. Tentu saja karena untuk mendapatkan jawabannya ia harus bertanya pada Minho bukan?

***

“Hah, apa sekarang kita tutup saja?” Saran Sohee yang kini bergiliran menjaga counter, ia menumpu  wajahnya dengan satu tangan. Sohee menatap Taemin yang juga melakukan hal yang sama.

“Sudah jam sembilan malam, dari tadi hanya beberapa pengunjung yang datang ke sini,” Taemin hanya merespon dengan anggukan kecil dan hal tersebut membuat Sohee menghela nafas pasrah.

Pandangannya menyapu ke setiap penjuru ruangan cafe, atensinya menangkap dua orang pengunjung yang menyesap vanilla coffee float yang tersaji di sebuah cangkir bening. Kadang keduanya tertawa senang atau bahkan dengan tak tahu malunya mereka mengumbar kemesraan. Ia mencibir. Dasar pasangan muda. Sekali lagi ia menghela nafas. Entah itu karena bosan atau iri dengan pemandangan sepasang kekasih yang menebar kemesraan di depannya.

“Aneh, bukankah hari ini termasuk weekend? Biasanya beberapa pasangan akan mengunjungi cafe untuk menghabiskan acara kencan mereka!” Akhirnya Taemin buka suaranya. Sohee menatap bosan kearahnya.

“Mana kutahu! Sekarang saja aku tak ingat hari ini hari apa. Aaaarghhh, ini gara-gara tugas kuliahku yang menumpuk!” Sohee mengacak rambutnya frustasi. Bahkan karena ulahnya ini ada beberapa pengunjung menatapnya aneh. Ia balas menatap pengunjung dengan tatapan mematikan.

“Heh! Ada apa dengan kalian?” Sebuah suara familiar menembus gendang telinga mereka, refleks keduanya mengalihkan pandangan ke arah dua gadis yang baru keluar dari dapur. Heaminsang penegur, nyengir melihat tampang Sohee dan Taemin yang berwajah madesu. Di sebelahnya, Jieun perlahan melangkahkan kakinya menuju counter. Ia menaruh dua buah kantung plastik besar di sana.

“Tadi, kami disuruh manajer untuk belanja!” Satu alis Taemin tertarik. “Katanya, kita diminta lembur un—“

Mata Taemin dan Sohee melotot bersamaan. Heamin yang belum menyelesaikan ucapannya sudah dapat mengetahui bagaimana respon sahabatnya dan pemuda yang baru saja diterima bekerja beberapa bulan yang lalu itu.

“Arrrgh! Lagi-lagi masalah datang!” Sohee berteriak frustasi, ia mengacak rambutnya yang sudah agak berantakan.

“Sohee, kalau kau tidak mau dikira semua pengunjung di cafe ini sudah gila, segeralah perbaiki dandananmu!” Saran Heamin seraya mengibas-ngibaskan tangannya agar Sohee cepat pergi. Tanpa kata-kata Sohee dengan gesit berlari menuju ruangan loker.

“Apa menurut kalian, ada yang aneh dengan sifat manajer akhir-akhir ini?” Tanya Heamin memulai.

Taemin yang melihat-lihat isi kantung plastik mengangguk antusias. Jieun yang jarang sekali berbicarapun merasa tertarik mendengar percakapan antara seonbae dan hobae di hadapannya.

“Haaaah, benar dugaanku…” satu alis Heamin tertarik ke atas, “Apa jangan-jangan manajer sedang patah hati? Atau ditolak seorang pria?” Heamin berasumsi, ia menghenyakkan pantatnya disebuah kursi kayu berpernis. Taemin mengendikkan bahunya sementara Heamin menatapnya bosan, “Dasar tidak berguna!” Lanjutnya.

Sebenarnya Taemin tahu sebabnya, kenapa gadis cerewet itu akhir-akhir ini bersikap aneh. Pasti ada hubungannya dengan pemuda yang mencari Eunhee kemarin. Karena ia tak mau memperpanjang masalah, maka Taemin hanya perlu bersikap pura-pura tak tahu. Apalagi ia kenal betul dengan perangai Park Heamin, si gadis tukang gosip.

“Hah, sepertinya besok kita harus lebih berusaha!” Ujar Taemin seraya meneguk minuman berkarbonasi yang baru saja dibeli. Kedua gadis di sekitarnya menatapnya dengan wajah bosan.

“Ya, ya, ya. Apa katamu lah,” Heamin menyahut tak berminat, “Mulai besok, aku akan mengambil shift malam weakend saja. Jadi, berusahalah wahai hobae-hobaeku!”

“Tidak adil. Sudah memakan gaji buta masa mau memotong shift!” Protes Taemin yang masih kesal tentang kejadian si kembar Jo dan markas toilet. “Heh, apa katamu? Tentu saja aku berhak! Asal kau tahu, aku sudah memulai debut di sini sejak tempat ini masih sebesar biji jagung!” Tampik Heamin tak terima.

“Memang eonni mau kemana?” Kali ini Jieun yang menimpali. Heamin tersenyum-senyum aneh sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.

“Rahasia!”

-To Be Continued-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Inter Sexual – Part 7”

  1. Sudah lamaa aku nunggu FF ini. Aih, kenapa nggak ada 2min moment lagi? Kurang panjaang :0

    Ditunggu next part.nya. Jujur aku belum tau arah cerita ini kemana, hoho 😀

  2. Ahhh setelah sekian lama, akhirnya ff ini muncul jg.
    Udah hampir jamuran tau min, nungguin part ini.
    Eumm tp kependekan nihh min. part ini blm bs mnjawab prtnyaan² di kepalaku..
    tp gpp lah next part nya jan kelamaan ya thor 😉

  3. lama juga lanjutan ff ini, jadi agak2 burem sama cerita sebelumnya. aah masih belum ke inti ya, entah kenapa kurang greget kayak part sebelumnya. kalo menurut aku berhubung pemeran utamanya taemin jieun minho, lebih di fokusin ke mereka aja. next part ditunggu.. fighting!

  4. Setuju sama comment diatas. Karena udah lama nggak baca FF ini jadi agak lupa sama part sebelumnya._. Tapi untungnya setelah baca, inget lagi, meskipun masih agak bingung.

    Dan lagi, sama seperti comment diatas. Masih belum tahu pasti cerita ini mengarah kemana… Kukira Taemin sama Minho bakal ketemu di toilet, ternyata nggak. Fiuh, padahal dikit lagi 2min moment tuh-_- #eh

    Ditunggu part selanjutnya, semoga lebih menantang dan bener-bener ada konflik yang jelas, bukan kayak yang Eunhee gitu.-.V

  5. Hampir lupa ma cerita sebelumnya saking lama publishnya,, tapi ga apa2 ceritanya paliiing di tunggu-tunggu..

    Habis nonton to the beautiful you trus baca ff ini jadi ngebayangin lee taemin itu goo jae hee.. Dan kalo versi cewenya suka inget ma sulli *plaaakk//abaikan*

    Next part..
    Fighting!!!

  6. Loooooo btw aq semakin bingung ama ffmu.hmmm aq kurang greget ama part yang ini.apa karnaa kelamaan?! But aq hargain kok,yang penting masih ada niat buat lanjutin! Padahal part2 sebelumnya aq suka looo cm untuk satu ini kurang.next aq tunggu yaaaaaaa!!! Fighting!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s