I’m Not Him – Part 3

imnothim

Title : I’m Not Him Part 3

Author : AltRiseSilver

Cast : Kim Kibum Shinee, Ahn Min Hye, Shinee’s member

Genre : Romance, Sad

Rating : PG17

Aku menarik selimutku lebih tinggi lagi menutupi selimutku saat Min Hye datang dan merusak mimpi indahku. “Oppa ayo kita pergi,” rengeknya manja membuatku merubah posisi tidurku dan menutup wajahku dengan selimut.

Gadis itu tidak kehilangan akal, ditariknya selimutku hingga wajahku tak lagi bisa ditutupi apapun. Terpaksa, aku bangkit lalu menariknya dalam pelukanku dan kembali tidur. Min Hye tertawa riang sambil meronta dalam pelukanku. Aku tak peduli, dia sudah mengganggu tidurku dan dia harus merasakan akibatnya.

Oppa aku tidak bisa bernafas,” ucapnya sambil mengangkat tangan kiriku. Aku mengalah, suaranya terdengar benar-benar tersiksa.

Kami berdua kemudian bangkit dari tempat tidur. Kulihat ia merapikan rambutnya yang berantakkan, matanya yang kecoklatan terkena sinar matahari membuatnya terlihat semakin menarik. Ku majukan wajahku mendekati wajahnya secara spontan, ia menoleh kearahku tepat saat wajahku sangat dekat dengannya membuat kami membeku dan saling bertukar pandangan.

Kubenarkan posisi badanku saat organ jantungku berdegup makin tak karuan lalu mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Kurutuki diriku sendiri atas tindakan yang kuperbuat, Kim Kibum, sejak kapan otakmu jadi yadong seperti ini?

Kubuka semua pakaian yang melekat ditubuhku sebelum membasahi seluruh badanku dengan air dingin pagi ini.

**

Bolehkah kubilang kalau Key adalah pria paling dan sangat beruntung didunia ini?

Ia mendapatkan semuanya, kasih sayang orangtuanya, kehidupan layak dan cinta yang Min Hye berikan. Beribu kali aku cemburu pada kehidupannya tidak sama saat aku cemburu dan menyadari cinta Min Hye hanya untuk Key.

Gadis itu terlalu baik untuk kubohongi seperti ini –ralat, orangtuaku yang membohonginya. Aku hanya melakoni peran sesuai kemauan mereka. Min Hye mengeratkan genggaman tangannya padaku saat kami memasuki arena taman bermain. Aku menatapnya penuh keprihatinan. Aku takut wajah riang itu tidak akan hadir lagi saat ia mengetahui semuanya.

Oppa, kau terlihat tidak semangat,” ucapnya dengan nada dan ekspresi pura-pura marah membuatku tersenyum. “Aku hanya sedikit mengantuk,” jawabku.

Min Hye melepaskan genggaman kami lalu berjalan mendahuluiku menuju stand kopi yang tersedia di arena bermain itu. Tak lama ia kembali dengan tangan yang penuh dengan dua gelas kopi hangat.

“Ini,” ucapnya sambil menyerahkan gelas ditangan kanannya kearahku. Aku menatapnya lalu mengambil gelas itu. Jawaban mengantukku sebenarnya hanya alasan agar dia tidak bertanya lagi namun aku tak menduga ia akan memberi perhatian kepadaku seperti ini.

“Itu untukmu?” tanyaku berbasa-basi sebelum menyeruput kopi milikku.

Dia mengangguk, “Udara menjadi semakin dingin. Apa musim gugur akan segera datang?” gumamnya. Aku tak menjawab, kulihat langit yang cerah dan kebiruan. Dulu aku menyukai musim gugur yang dingin dan tak bersahabat namun kali ini aku seperti tidak ingin musim panas cepat berakhir.

Oppa, kau sedang melihat apa diatas sana?” tanya Min Hye lembut sambil mengikutiku melihat keatas. Aku menurunkan pandanganku dan tertawa melihat tingkah polosnya. Key, kau temukan dimana gadis polos ini huh?

“Kenapa?”

Aniyo. Kau begitu lucu,” ucapku gemas sambil mencubit pipinya.

Min Hye pasrah dicubit olehku. Terlihat ia mengerucutkan bibirnya sambil mengelus pipinya yang kemerahan sehabis kucubit. “Sakit ya?” tanyaku pura-pura. Min Hye mengangguk tanpa melepas tangannya yang mengelus pipi itu.

Kurangkul bahu gadis itu dan membawanya ke semua arena bermain yang ia inginkan. Disaat yang tak diinginkan, Minho menelponku dan mengatakan kalau Ji Young, teman organisasiku ditemukan tewas disebuah gudang tua tak terpakai.

Tak ada sidik jari yang mengidentifikasi siapa pembunuhnya membuat polisi susah menyelidikinya. Kuperhatikan seksama penuturan Minho dari telepon dan melupakan keberadaan Min Hye disampingku.

“Kau bisa kembali ke Mokpo? Organisasi membutuhkanmu,” tuturnya sekali lagi. Aku mendesah ringan, ingin sekali sekarang juga aku berangkat ke Mokpo untuk menolong teman-temanku namun masih ada banyak yang harus kukerjakan di Seoul.

“Aku akan kembali kesana secepatnya. Percayalah,” ujarku. Minho hanya membalasnya dengan desahan nafas berat. “Baiklah. Kuhubungi kau lagi nanti,” ucapnya lalu memutuskan sambungan.

Kuletakkan kembali ponselku kedalam sakuku lalu menoleh ke Min Hye yang duduk disampingku dengan wajah heran. “Nuguseyo Oppa?” tanyanya.

“Sahabatku di Mokpo.”

“Mokpo?”

Aku mengangguk.

“Sejak kapan kau pernah mempunyai teman di Mokpo?” tanyanya. Mulutku bungkam, aku yakin sekali Key tidak pernah pergi ke Mokpo apalagi mempunyai sahabat disana. “Hmm itu.. beberapa kali aku berkunjung kesana saat waktu luang jadi aku mempunyai teman dekat disana,” jawabku asal. Kepala Min Hye mengangguk, entah karena mengerti atau tidak percaya.

“Ah! Minnie-ya, ada penjual permen kapas. Kau mau?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan kami. Kutarik tangan Min Hye menuju gerobak penjual permen kapas lalu memesankan dua permen kapas.

Kening Min Hye berkerut saat kuserahkan permen kapas berwarna pink itu kepadanya. “Waeyo?”

Oppa tidak ingat kalau aku tidak suka permen kapas sejak kecil?” Min Hye menatapku dengan tatapan yang….. tidak kumengerti. Otakku berputar mencari alasan yang tepat namun suara Min Hye mencengangkanku, “Mungkin aku memang tidak sepenting itu hingga kau melupakan semua tentangku Oppa,” ucapnya sambil berlalu dari hadapanku.

Kutahan pergelangan tangannya membuatnya berhenti lalu kembali menatapku. “Aku tidak melupakanmu sedikitpun,” ucapku mencoba meyakinkannya. Kening gadis itu berkerut. “Kalau begitu coba beritahu aku bunga apa yang tidak kusukai Oppa?” tanyanya.

Aku terdiam. Eomma memberitahu semua tentang kesukaan Min Hye namun tidak memberitahuku apa yang tidak disukai gadis ini. Otakku berputar mencari jawaban yang kira-kira tepat. “Hmm mawar?” terkaku.

“Mawar apa?” tanya Min Hye lagi.

“Merah,” jawabku. Min Hye masih menatapku dengan tatapan yang sama. “Mawar putih Oppa, aku tidak suka mawar putih,” ucapnya kesal lalu menghempaskan genggaman tanganku dan pergi. Aku mencoba mengejarnya lalu mencengkram tangannya lagi. “Min Hye dengarkan aku dulu,” cegahku.

Min Hye menghentikan langkahnya lalu menghempaskan cengkraman tanganku lagi. Dia menatap mataku lekat seakan mencari sesuatu disana. Nafasnya terdengar memburu. “Jelaskan apa yang perlu kau jelaskan Oppa,” ucapnya.

Aku terdiam, jujur aku tak tahu harus menjelaskan apa padanya. Aku memang tak mengenalnya jadi wajar kalau aku tidak paham apa yang dia sukai atau tidak. “Maafkan aku Minnie-ya. Aku bukan melupakannya tapi.”

“Tapi kau memang melupakannya kan?”

Aku tak menimpali ucapannya lagi. Gadis itu mendesah ringan lalu menatap kearah lain. “Antarkan aku pulang sekarang Oppa,” ucapnya kemudian berlalu tanpa menatapku.

Maafkan aku Min Hye tapi, aku memang bukan Key-mu.

**

Malam semakin larut, sepulang dari rumah Min Hye aku enggan keluar dari kamarku. Aku menyesal menyetujui permainan kedua orangtuaku sendiri dan aku benci pada halmoeni yang terang-terangan memaksaku mengikuti kemauan mereka.

Argh! Rasanya aku ingin berteriak atau menghancurkan barang-barang disekitarku. Sebuah ketukan di pintu kamarku membuatku terpaksa bangkit dari dudukku. “Makan malam,” ucap ibu saat aku membukanya.

Dengan malas kulangkahkan kakiku dari kamar dan menuju meja makan. Kulirik ayah sekilas lalu duduk di salah satu bangku di sampingnya. Tanganku hendak meraih sendok nasi namun suara berat beliau menghentikanku.

“Tidak punya sopan santunkah kau Kim Kibum?” tanyanya.

Aku menurunkan tanganku lalu menatapnya. “Aku yakin nenekmu mengajarkan sopan santun padamu,” lanjutnya. Aku tak menimpali ucapannya sedikitpun karena tak mau mengacaukan acara makan malam yang disiapkan ibu. Setidaknya, aku menghargai usaha ibu untuk mengajakku makan.

“Aku tidak tahu kau tumbuh seperti apa di Mokpo dan bagaimana teman-temanmu memperlakukanmu tapi ketika kau masuk dirumah ini kau harus menghargai aku dan ibumu,” ucapnya lagi. Aku menghela nafasku kesal, disebrangku ibu mencoba memberi isyarat agar aku tidak membantah perkataan suaminya itu.

“Jangan mengaturku,” timpalku akhirnya setelah beberapa saat mengontrol amarahku.

Ayah berhenti menyuapi makanan kedalam mulutnya lalu menatapku tajam. “Aku orangtuamu jadi aku berhak mengatur kehidupanmu.”

“Apa membiarkan seorang anak tumbuh diluar sana tanpa kasih sayang dari kedua orangtuanya sendiri bisa dikatakan sebagai orangtua?” tanyaku dengan nada lebih tinggi. Kedua mata kami bertemu dengan tatapan sinis. Aku tak peduli selera makan ayah hilang karena ucapanku.

“Aku menyesal menyuruhmu datang kesini,” ucapnya kemudian bangkit dan meninggalkan aku dan ibuku di meja makan. Aku menatap punggungnya yang perlahan menjauh kemudian bangkit dari dudukku. “Kalau begitu sudah saatnya aku kembali ke Mokpo,” ucapku seraya berlalu dari hadapan ibuku yang terlihat kaget mendengarnya.

Aku masuk kekamarku lalu mengemasi semua barang-barangku kedalam tas. Terdengar pintu kamarku terbuka. “Kibum, kau tidak akan pergi kan?” suara ibu terdengar pilu.

“Maaf Eomma tapi aku benar-benar harus pergi,” ucapku kemudian menenteng tas dan berlalu dihadapannya. “Lalu bagaimana dengan Min Hye?” tanyanya. Langkahku terhenti di ambang pintu.

“Sekali lagi maafkan aku Eomma, dia bukan kekasihku jadi itu bukan tanggungjawabku.” Setelah mengatakan itu kulangkahkan lagi kakiku keluar dari rumah tanpa memperdulikan teriakan ibuku memanggil namaku untuk kembali.

Key, selamat tinggal.

**

Matahari belum terbit dari tidur di singgasana miliknya namun mataku sudah terbuka lebar sambil menyeruput teh hangat yang kusiapkan sendiri. Halmoeni masih terlelap dikamarnya setelah memarahiku habis-habisan karena nekat kembali ke Mokpo.

Seperti biasa, ketika dia memarahiku habis-habisan seperti tadi aku akan tersenyum mengeluarkan aegyoku padanya hingga membuatnya tersenyum lagi. Aku tersenyum ketika mengingat ekspresi wanita tua itu melihat senyumku.

“Kibum Hyung,” suara seseorang dari arah luar rumah mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapatkan sosok Taemin berada diambang pintu sambil memegangi perutnya. Aku mendekatinya, wajah putihnya ternyata sudah dipenuhi luka lebam. Mulutnya perlahan terbuka namun tiba-tiba tubuhnya ambruk menimpaku.

Aku mencoba menahan tubuhnya kemudian memapahnya kedalam kamarku lalu menidurkannya diatas tempat tidur.

Kuraih ponselku lalu menelpon Minho. “Apa yang terjadi dengan Taemin?” tanyaku panik lalu berjalan keluar kamar. Kulihat Halmeoni baru keluar dari kamarnya dan menatapku bingung. Aku meraih tangannya dan menunjukkan keadaan Taemin yang tertidur di kamarku.

“Jonghyun datang ke markas dan mengacak-acak seluruh markas. Ia juga menghajar habis-habisan beberapa orang di markas, termasuk Taemin. Eh? Apa Taemin mengejarmu ke Seoul?” tanya Minho dengan bodohnya.

“Aku di Mokpo sekarang, Taemin ada di rumahku sekarang. Setelah membereskan luka Taemin aku akan pergi ke markas,” ucapku.

Kumatikan sambungan telepon tanpa mendengar ucapan Minho lagi. Kuhampiri Taemin yang wajahnya sekarang di bersihkan oleh Halmoeni. “Siapa yang melakukan ini Kibum-a?” tanyanya.

Aku hanya berdehem tak menjawab ucapannya. “Jonghyun?” terkanya. Aku mengangguk.

“Aku akan segera pergi ke markas. Tutup dan kunci semua pintu sampai aku kembali nanti. Aku yakin dia akan kesini nanti,” ucapku.

**

“Jadi apa yang membuatmu kembali ke Mokpo?” sapa Minho saat melihatku berjalan memasuki markas. Kulihat beberapa orang membenahi ruangan. Aku menghampiri sahabatku itu lalu menariknya masuk kedalam sebuah ruangan favorit kami untuk mengobrol.

“Ceritakan dulu padaku kenapa Jonghyun bisa datang kesini?”

“Sudah kubilang dia mencarimu,” jawabnya.

Aku mendesah ringan. “Sekarang ceritakan padaku bagaimana kau bisa kembali kesini?” pancing Minho lagi.

“Mereka mengusirku,” jawabku sekenanya.

Kening Minho bertaut tak percaya. “Setelah memintamu berpura-pura menjadi Key sekarang mereka mengusirmu?” tanyanya penasaran. Aku menganggukkan kepalaku mencoba meyakinkannya, hey! Itu kan memang kenyataannya.

Tiba-tiba pintu diketuk seseorang, aku bangkit dan membuka pintu. “Jonghyun dan teman-temannya membuat onar di kota,” ucapnya.

Aku dan Minho segera keluar dari markas diikuti anggota lainnya kemudian mengambil motor kami. “Kim Jonghyun, aku kembali.”

**

Ditempat lain~

Min Hye berulang kali menelpon kekasihnya namun tak kunjung mendapat sahutan. Setelah mengetahui kalau kekasihnya itu pergi ke Mokpo ia langsung mengendarai mobilnya dan pergi ke Mokpo.

Ia tak peduli dengan larangan kedua orangtua kekasihnya untuk menyusul Key, yang ia inginkan hanya bertemu dengan kekasihnya itu sekarang juga.

Laju mobil Min Hye mulai menurun saat memasuki wilayah Mokpo. Asing. Itu yang ada diotaknya. Ia benar-benar buta wilayah Mokpo. Dari jauh terdengar suara deburan motor yang dipacu kencang. Degup jantung Min Hye berdetak saat beberapa motor itu menghalangi jalannya.

Salah satu yang dirasa Min Hye pemimpin mereka turun dari motornya dan menghampiri mobil Min Hye. Ia mencengkram sudut kausnya karena ketakutan. “Nona bisa buka kaca mobilmu?” tanyanya. Min Hye menelan ludahnya ketakutan lalu dengan gemetar ia membuka kaca mobilnya.

“Selamat siang nona manis,” sapanya dengan senyum seringai membuat Min Hye merapatkan tubuhnya di jok mobil.

To Be Continued

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “I’m Not Him – Part 3”

  1. Penasaraaan penasaraan
    kenapa sama key? kenapa tiba tiba kibum langsung disuruh jadi penggantinya key??
    bahasanya bagus 😀
    tapi ada yg masih typo..
    kurang ppanjang min, hehe
    ditunggu nextnya yaaa ^^

  2. hayo…
    kibum udah mulai jatuh cinta nih!
    trs penasaran kibum ikutan organisasi apaan ya?
    gimana nasib min hye ya?
    lanjut part berikutnya, jangan lama-lama ya thor

  3. wah thor makin seru ceritanya, aku suka part ini dibanding 2 part sebelumnya, berasa konfliknya dan cara nulisnya jauh lebih rapih dan kata2nya jauh lebih bagus.. sayang masih ada beberapa typo, apalagi langsung di kalimat pertama, jadi bikin bingung padahal baru mulai baca..

    aku pengen kasih kritik sih soal teknis penulisan, tapi karena aku liad di schedule ff kamu udah sampe tamat di kirim ke sini, so aku simpen dulu kritiknya sampe aku selesai baca part akhir ff ini karena tampaknya cara nulis kamu makin berkembang kok dr part ke part.. 😉

  4. Makin seru!
    ngomong2 organisasi apa sih yang diurusin Key, Minho, dan Taemin? penasaran banget.
    Udah gtu ga kebayang klo Jjong jdi berandalan yng kriminal gtu.kekekek. ^^v
    wah, jgn2 yang nyegat Min Hye itu geng-nya Jjong lagi.
    Ah! aku ga sabaran sama part selanjutnya nih~
    Pokonya FF ini seru deh, seriusan! ^^b

  5. Oh God.. Andweee.. Itu pasti minhye di ganggu klompokx jjong oppa trs pas key sm minho oppa dtg, nnti jjong oppa kr minhye yeojax key dan dy diskiti.. Andweee.. Chingu cpt post part 4x please.. *doa komat kamit*.. Jeballl.. Ffx makin seru n bagus..

  6. Demi apaahh, FF ini seru..
    Dibaca berulang kali pun tetep seru !
    #efek udh baca di sana-sini
    Tinggalin jejak yaa…

  7. udh pernah lht ff ini di blog lain.. tp blm pernah bc.. eh.. klo g slh smpt bc part 1 doang.. n klo g slh jg beda sm ini deh.. klo g slh yg di blog sblh, key nya ada.
    ah au ah… yg ptg.. lanjutkan yg ini… hahaha

    eh eh… kibum punya organisasi apa? geng motor? ato.. organisasi jubah hitam? hahaha

    kok jd agak sebel sm minhye ya.. lol…

  8. Haish, knp d buka cb kca mobilnya..
    Mgkn minhye mnja gtu krna setaon dah gak brhubungan kali yaa sm key..
    Jd dy pgn dpet prhatian gtu…
    Organisasi apa nihh?
    Duhhh,, pnsran bnyak hal d ff ini…
    Lanjuuutttt

  9. baca part 3 baru part 1 dan 2..haha
    emang kerasa perkembangan nulisnya… 😀

    aa, aku suka cerita beraura seperti ini. walau nemu bbrpa kejanggalan krna emg gak dijelaskan detail kayaknya, brhubung alurnya dibuat cepat. tpi gapapa, ceritanya ttp asyik menurutku.
    dan aura kibum mnjadi key di sini waaw banget menurutku. kalau diangkat jadi mini drama mrka pasti keren..haha.. #ngayalbebas

    yang bikin aku syok itu, taemin baru muncul tapi udah lebam2, doooh~~ #panik
    harus nunggu kelanjutannya!

  10. omooo~ kehidupan di mokpo keras banget ya? mrk semua jadi gangster masaaa.-. kasian uri taeminnie… part ini kan debutnya dlm ff ini, ehh langsung babak belur T T

    woah itu si minhye pasti ketemu jjong deh <<< sok yakin dia-_-"

  11. lagi-lagi TBC-nya bikin penasaran! masih belum nemu jwban-nya.

    aigooo~ kehidupan di Mokpo ternyata banyak gangster yak? sampe2 markas Kibum sering jadi inceran gengster Jjong. sebenernya markas Kibum sering dijadiin perkumpulan apa yah? hhe *I’m so curious

    ohooo min hye dicegat sma Jjong nih kyknya.
    Wah klo diganggu gangster kyk Jjong kgk ada acara takut, yg ada malah terpana hhahaha *hadeuuhhh bakal ada pertempuran antara Jjong n Kibum nih sepertinya.. 🙂 😀

    gk bisa ditunda lagi buat bwt bca next chapter! ^^~

  12. miris banget jadi kibum. disuruh gantiin key stelah ga sesuai disuruh pergi. tega banget ortunya. key kmna sbenernya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s