Him In The Mirror [2.3]

Title: Him in the Mirror [2 of 3]

Author: Bella Jo

Main Cast (Tokoh Utama) : Key, Kareen White (OC)

Support Cast (Tokoh Pembantu) : Imelda White (OC)

Length : sequel

Genre : romance, tragedy, fantasy

Rating :  PG-15

Summary : Dan di saat bersamaan kau akan memberinya hidup hanya untuk satu hari lagi. Semua energi hidupnya akan terhisap olehmu… Nikmati rasa sakit itu, Key!!!

 

A.N:  Yups, here is the second part. I hope you’ll enjoy it. This story is original by me. Key is not mine, he’s belong to SM and his family. Not copy it without my permission. And the most important thing is your comment is my oxygen, guys. (sorry for the typos)

HIM IN THE MIRROR [2 of 3]

Kenapa warna matamu merah?” Tanya Kareen suatu saat. Ia membaringkan tubuh di depan cermin. Key melakukan hal yang sama, tentu dengan arah yang berlawanan. “Kenapa? Apa menurutmu mataku jelek?” Tanya Key dengan nada canda terselip di suara beratnya. Kareen menggeleng pelan, “Hanya ingin tahu saja. Pasti ada alasan khusus kenapa matamu tampak… Indah dan sangat berbeda…”

Indah?

“Y..ya… Kau tahu, matamu bisa menenggelamkan seseorang di dalamnya saat sedang menatapmu…,” jelas Kareen dengan nada gugup. Key termenung mendengarnya. Ada rasa senang menyelip masuk ke hatinya.

Bukankah matamu juga begitu?” Balas Key, “Aku berani bertaruh, banyak lelaki akan jatuh tenggelam di matamu saat bertatap langsung dengan kedua mata jernihmu…”

“Aku?” Bingung Kareen.

Yup, Ms. White. Kau. Siapa lagi?” Ujar Key sambil memutar bola matanya. Tapi Kareen malahtertawa geli menanggapinya, tawa yang perlahan terdengar seperti tangisan. Key yang keheranan mulai bangkit duduk dan menatap aneh tubuh nyata Kareen di seberang cermin. Kenapa Kareen malah tertawa? Apanya yang lucu?

“Kau pandai melucu, Key…,” tawa Kareen mereda, “Itu konyol. Kata-katamu seakan mengatakan kalau aku seorang gadis cantik….” Key menaikkan sebelah alisnya, “Tentu saja. Kau memang cantik, baby boo!” Ucapnya pasti, namun tawa Kareen semakin keras. Key hanya bisa menghela nafas dan melipat tangan di depan dada, “Kenapa tak kau jelaskan saja alasan kau tidak merasa begitu, Ms. White?”

“Karena aku sendiri merasa jelek, Key,” jawab Kareen langsung tanpa ragu sedikitpun, membuat Key terkejut. Dilihat dari sudut manapun, Kareen gadis yang sangat cantik. Kenapa ia sendiri malah merasa jelek? Ini sangat tak masuk akal!

“Aku jelek, Key. Setidaknya itulah yang dikatakan keluarga dan orang-orang di sekitarku… Aku tak boleh merasa canttik…,” sambung Kareen lagi. Gadis itu menatap langit-langit kamarnya dengan mata sayu, berusaha mengingat kembali masa lalunya. Ia menghela nafas panjang dan mulai bercerita, “Dulu, aku punya kakak perempuan yang umurnya lebih tua tujuh tahun dariku. Imelda, kakakku, terlahir dengan rupa yang amat cantik. Kulitnya putih kemerahan tanpa cela, rambutnya hitam mengilat, matanya hijau bak Emerald, hidungnya mancung, dan bibirnya merah merekah… Ayah dan ibu begitu menyayanginya, memperlakukannya seperti batu permata yang perlu dilindungi dan terus diasah agar semakin indah…

“Kedua orang tuaku mengharapkan anak perempuan yang lebih cantik saat aku lahir. Sayangnya aku jauh dari harapan mereka walau aku terus tumbuh dan berubah setiap waktunya,” Kareen melirik Key dengan mata birunya, ia tersenyum miris, “Aku tidak diinginkan. Aku dan rupaku.”  Barulah Key sadari bahwa di bawah mata gadis itu terdapat garis halus bekas aliran air mata.

“Imelda selalu mendapat pujian dan perhatian dari semua orang. Semua memujanya, membuat mereka lupa pada kehadiranku yang masih sedarah dengannya. Tidak, mereka masih mengingatku sebagai bahan ejekan, pelampiasan mereka akan ketidakpuasan bentuk rupa mereka yang jauh di bawah Imelda. Jujur saja, Imelda selalu membuatku iri. Ia selalu mendapatkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri sepenuhnya, termasuk kasih sayang orang tua…” Kareen kembali menghela nafas. Ia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, menghadap Key yang ia harap bisa menjadi tempat mencurah hatinya. Dengan kening tertempel pada cermin, Kareen melanjutkan, “sampai akhirnya puncak dari semua itu tiba. Seorang lelaki yang sebelumnya dikenal amat memuja Imelda beralih padaku, lelaki yang diam-diam amat dipuja Imelda dengan hidup matinya.

“Lelaki itu mengejarku, memintaku menjadi gadisnya, memujaku dengan ribuan kata cinta, rayu, dan puji. Dialah orang pertama yang mengatakan langsung kata ‘cantik’ padaku. Rasanya seperti mimpi, seperti ada satu kehangatan dan kebahagiaan yang mengisi diriku selain semua kesepian dan kehampaan yang selama ini kurasakan…

“Namun aku tak mau terlalu tenggelam dalam pujiannya. Hidup melatihku sebagai gadis keras yang tidak murahan. Aku tak mengindahkan permintaannya, tak mau menjadi gadisnya. Tapi keputusanku tadi malah menyulut api lain dalam hidupku. Mengetahui penolakanku itu, Imelda menggila. Ia mencaci makiku dengan semua kata kasar yang bahkan tak pernah keluar dari mulutnya. Ia bahkan mulai mengganggu hidupku. Ia melakukan banyak hal buruk dan menimpakan semua kesalahannya padaku. Ia menimpakan semua kebencian dan kesengsaraan hidupnya padaku, kehancuran yang kebanyakan disebabkan oleh rasa cintanya yang berlebihan pada lelaki itu.

“Konyolnya lagi, Ayah dan Ibu membelanya. Mereka ikut mencaciku habis-habisan, seakan aku adalah bencana besar yang dapat menghancurkan berlian indah kesayangan mereka, Imelda.” Nafas Kareen mulai sesak begitu mengucapkannya. Semua rasa sakit hati dan kecewa itu serasa kembali menusuk dirinya seperti hujan tombak yang menyakitkan. Dadanya nyeri sementara amarah membakar dirinya. Ia memang tak pernah menyukai memori masa kecilnya. Semua kenangan buruk itu selalu menyulut api kebencian pada keluarganya sendiri.

Key hanya mampu terdiam. Sungguh pun ia sangat ingin memeluk dan menenangkan gadis itu saat ini, ia tidak mampu karena ia tak bisa menyentuh dan memberikan kehangatan yang diperlukan gadis itu. Key juga tak dapat membayangkan betapa hancurrnya hati Kareen saat itu. Orang tua seharusnya menyayangi dan mengayomi anak-anaknya, setidaknya itulah yang dirasakan Key sebelum ia terrkurung di dalam cermin.

Setittik air jatuh dari pelupuk mata Kareen saat ia berusaha melanjutkan ceritanya. “Mereka berkata sambil menunjuk di depan wajahku, ‘Kau!! Kau itu jelek, kau tahu?! Tak ada yang mencintai makhluk jelek sepertimu!! Tak ada yang mau!! Bahkan jika kau begitu ingin secantik dirinya, kau takkan pernah bisa!! Camkan itu baik-baik! Kau jelek, Kareen!! JE-LEK!!'” Tangis Kareen menderas bersamaan dengan emosinya yang membumbung tinggi, “Tentu aku tak dapat melakukan apapun saat mereka mengatakan hal itu. Tapi aku masih bisa bertahan, mengingat laki-laki yang menganggapku cantik masih ada… Lelaki itu dan kata ‘cantik’ yang keluar dari bibirnya…,” ia mendongak dan tangisnya mereda, berubah menjadi segaris senyum damai, walau air mata tetap menuruni pipi berisinya. Key masih menatapnya kaku.

Perlahan senyum Kareen kembali pudar, berubah menjadi ekspresi marah yang lebih mengerikan. Dadanya naik turun sementara nafasnya memburu. Tangannya tergenggam erat menghantam lantai. Key tersentak dengan peubahan tingkah Kareen yang serba tiba-tiba itu. Mata biru Kareen mengilat tajam, membuat Key tahu kalau kelanjutan cerita gadis itu takkan berakhir indah.

“Tapi semua di luar dugaanku…,” bisik Kareen, “…lelaki itu…lelaki sialan itu…,” suaranya mulai bergetar, “dia hanya mengejarku agar Imelda terang-terangan mengejarnya, berlutut dan mengemis demi cintanya. Aku hanya menjadi bahan percobaan untuk menguji perasaan Imelda padanya. Tanpa membelaku sedikit pun, ia langsung kembali ke pelukan Imelda. Dengan seringaiannya ia bahkan berkata padaku kalau aku hanya boneka, mainannya! Aku sama sekali tak berharga untuknya! Ia juga menarik semua kata-kata pujiannya, termasuk kata ‘cantik’ yang tadinya ditujukan padaku. Sejak saat itu aku mengutuk semua orang, mengutuk kata ‘cantik’ yang menyiksaku semumur hidup, dan mengutuk cermin yang memantulkan bayanganku di permukaannya!! AKU BENCI SEMUANYA DAN AKU MENGUTUK MEREKA SEUMUR HIDUPKU!!!!” Jerit Kareen emosi.  Key hanya tertegun dengan nafas tertahan. Air mata Kareen semakin deras. Hatinya kembali terobek-robek mengingat kejadian itu, kejadian yang ia anggap paling menyakiti dirinya. Kejadian yang membuktikan kesia-siaan rasa percayanya pada orang-orang yang paling ia sayang. Justru merekalah yang menyakiti gadis itu secara langsung, menyebabkan luka besar menganga di relung hati dan jiwa gadis berambut hitam kemerahan itu. Kareen mulai terisak keras, menjerit-jerit tanpa kendali. Inilah kali pertamanya melepaskan beban hatinya yang satu itu, kali pertamanya bercerita dan menangis puas di depan orang lain.

Key tak sanggup lagi membiarkan Kareen terus terisak. Sadar akan kenyataan bahwa ia tak dapat merengkuh langsung gadis itu, Key pun merengkuh bayangannya. Sontak Kareen merasakan sengatan pelan di sekujur tubuhnya sementara tubuh nyatanya seakan melayang separuh di udara, bertitik tumpu pada hal yang tak nyata. Tangis gadis itu mulai redam, meninggalkan nafas yang agak sesak saat ditarik masuk paru-parunya. Key mengeratkan rengkuhannya, merasa amat bersalah pada gadis itu.

“Maaf…”

 

“U..-hiks- untuk apa minta -hiks- …maaf?”

“Maaf karena membuatku harus menceritakan hal ini… Seharusnya aku menghentikanmu bercerita kalau saja aku tahu kau akan terluka seperti ini… Maafkan aku, Kareen….”

Kareen menghapus aliran air mata di pipinya. Ia berusaha tersenyum walau Key takkan bisa melihat senyum itu. Ia menggeleng, menikmati sengatan pelan di sekujur wajahnya saat ia melakukan itu. Ia begitu menikmati suara berat Key yang terdengardalam, begitu pula ekspresi khawatir lelaki itu yang dapat dilihatnya dari cermin. Namun ia sadar ia harus menenangkan kecemasan itu.

“Kau tidak salah, Key. Lagi pula aku lega menceritakannya padamu. Kau tak tau kelanjutan nasib mereka kan? Mereka semua mati saat berlibur di luar kota untuk merayakan terjalinnya hubungan mereka berdua. Mereka semua mati, ayahku, ibuku, Imelda, dan lelaki bajingan itu…,” tutur Kareen dengan nada penuh kepuasan. “Tentu saja aku sempat sedih saat itu. Namun rasa legaku jauh lebih besar. Mungkin karena selama ini Imelda dan kecantikannya menjadi beban bagiku. Aku begitu lega, merasa begitu bebas. Lalu aku pindah ke sini dan bertekad memulai hidup baru… Jadi, kau sama sekali tidak salah, Key. Jangan khawatir…!”

“Menangislah.”

“Eh?”

Key menghela nafas dan mengeratkan pelukannya. Kareen kembali menahan nafas begitu sengatan yang ia rasakan terasa menusuk dalam, memeluk sekujur tubuhnya. “Kau tak pernah mengatakan ini pada orang lain seelumnya, kan? Menangislah. Aku tahu kau selalu menanggung beban berat di hatimu. Walau mungkin untuk kali ini saja, keluarkan semua beban itu. Berbagilah, bagilah semua beban itu padaku mulai saat ini. Kita akan memikul semua beban itu bersama. Ok?” Ujar Key panjang lebar. Ia terus membelai pelan rambut Kareen, berusaha semampunya untuk memberi kehangatan bagi gadis itu. Sekarang ini mereka hanya memiliki satu sama lain. Mereka akan menjadi lebih kuat bersama.

Isak Karen mulai terdengar perlahan dan akhirnya tumpah ruah begitu saja. Satu ruangan itu dipenuhi suara tangisnya. Sementara itu Key tetap diam, memberi kesempatan bagi Kareen untuk meringankan hatinya, membuang semua beban yang membeeratkan hidupnya bertahun-tahun, entah karena apapun itu.  Sekuat apapun gadis itu terlihat dari luar, secuek apapun dia, ia tetaplah manusia yang memiliki masalah dalam hidupnya. Ia tetap membutuhkan teman untuk mencurahkan isi hatinya. Ia juga memerlukan kasih sayang yang siap memeluk dan menghangatkan hatinya di saat ia sedih dan butuh perhatian. Ia bukanlah patung batu yang hidup hanya untuk diam dan pura-pura bahagia. Dan sekarang Kareen mendapatkan orang yang tepat sebagai tempatnya mencurahkan perasaan.

“Kau gadis yang cantik, Kareen, amat cantik.  Jangan percaya pada omong kosong yang mereka katakan. Kau cantik. Kau harus percaya itu!”

Kareen mengangguk pelan. Isakannya mulai reda. Ia mengulas segaris senyum lebar di bibir merah mudanya. Akhirnya ia sadar, yang ia perlukan adalah orang seperti Key. Ia tak perlu mendengarkan ucapan orang lain lagi. Senyum Kareen semakin lebar. Yang ia perlukan adalah Key dan ia sudah mendapatkannya, walau belum sepenuhnya.

“Terima kasih, Key… Terima kasih…”

Waktu berlalu. Mereka berdua masih belum bergerak dari posisi mereka. Keduanya merasa sangat nyaman dengan posisi itu, walau tidak benar-benar menyentuh satu sama lain. Key menerawang jauh, sesekali menatap bayangan Kareen yang masih dalam pelukannya. Rasa nyaman itu mulai berganti menjadi gelisah. Ia tau perasaannya ingin lebih tapi tentu saja ia tak dapat melakukannya. Jikapun ia bisa bebas dari kutukan itu dan bisa memeluk tubuh nyata Kareen di seberang cermin sana, semua kebahagiaan itu takkan bertahan lama. Ini pertama kalinya ia merasakan kehangatan bersama seorang gadis dan ia tidak ingin merusaknya. Lebih baik ia terkurung dalam cermin itu selamanya atau lenyap sekaligus dari pada harus menghancurkan gadis itu pada akhirnya.

“Ehm…,” deham Key dengan maksud agar Kareen melepaskannya. Namun dehamannya yang berat itu hanya seperti gumaman di telinga gadis yang tengah memakai piyama coklat itu. Kareen tidak mengendurkan pelukannya, ia hanya menatap kosong ke arah cermin.

“Key…,” panggil gadis itu, “bisakah aku menyentuhmu…?”

 

“Sen..tuh?”

“Ya,  selama ini…kau hanya menyentuh bayanganku… Kau tak pernah menyentuh tubuh nyataku…,” gumam gadis itu masih dengan tatapan kosong ke arah cermin. Tiba-tiba bangkit dengan wajah antusias, melepaskan pelukan Key dari bayangannya. “Benar! Mungkin saja kau bisa keluar dari sana jika ia benar-benar saling bersentuhan!” Tukas Kareen lagi dengan posisi tubuh menghadap cermin besar itu.

Tapi…Kareen...,” ragu Key. Ia tak sanggup mengucapkan kalimat lanjutannya. Ia tahu, cara itu takkan berhasil. Hanya ada satu cara untuk melepasnya dari dalam sana.

“Ayolah! Kita coba saja!” Paksa Kareen, “Nah, kemarikan tanganmu!”

Key menghela nafas panjang, entah untuk ke berapa kalinya seharian ini. Dalam sekejap mata, semua pantulan bayangan yang tadinya mengisi cermin itu langsung hilang, meninggalkan dirinya yang seperti berada dalam ruang kosong. Kareen mengerjap kagum. Ternyata Key mempunyai kemampuan semacam itu.

Kareen menempelkan tangannya ke permukaan cermin dengan penuh harap sementara Key melakukan hal yang sama dengan gerak enggan. Keduanya bagai hanya berbataskan selapis tipis benda transparan. Kareen berharap ia bisa merasakan kehadiran Key lebih dari biasanya dengan melakukan hal itu. Kareen menempelkan keningnya ke arah cermin, berharap akan memberikan hasil yang berbeda. Namun yang dapat Kareen rasakan masih hanya dinginnya cermin. Ia tak dapat merasakan apapun, tak ada sengatan atau setitik kehangatan. Tidak ada apapun.

Tapi Key justru merasakan perbedaan yang amat besar. Indera perabanya yang biasa hanya dapat menyentuh tanpa bisa merakan suhu ataupun halus-kasar benda mulai dapat merasakan hal yang berbeda. Tangannya merasakan sengatan pelan menjalar dari kaca yang disentuhnya, seakan berasal dari sentuhan tangan Kareen. Terlalu takjub dengan keadaan itu, Key menelan ludah dan mendekatkan keningnya ke cermin pula. Benar saja, sengatan itu berubah menjadi semacam aliran listrik yang menyengat sekujur wajah dan telapak tangannya. Ya, akhirnya ia bisa merasakan betapa nyatanya gadis yang ada di hadapannya itu. Key merasa jauh lebih hidup dari sebelumnya, ia merasa masih berada di dunia. Key masih ingin lebih. Ingin sekali dirinya bisa menyentuh langsung kulit hangat gadis itu, merasakan derasnya aliran darah di balik lapisan kkulit itu. Dan jika hal itu memang bisa terjadi, ia ingin waktu terhenti, memberikan kesempatan lebih lama baginya untuk bersama gadis istimewanya itu…

“Sayang sekali…,” gumam Kareen kecewa, “sepertinya tak ada apapun yang terjadi… Aku bahkan tak dapat merasakan apapun…” Gadis itu melepas sentuhannya, otomatis memutus sengatan yang dirasakan Key. Key menelan kekecewaannya, namun ia tetap tersenyum, “Ya… Sepertinya kau benar… Tak ada yang terjadi…

Kareen menghela nafas panjang. Ia membalik badan bersandar pada cermin. Key melakukan hal yang sama, berharap ada bagian kulitnya yang menyentuh Kareen lagi. Keduanya lagi-lagi hanya berbataskan lapisan tipis kaca untuk kesekian kalinya. Kareen memandang langit-langit, mengingat saat ia menangis dalam pelukan semua Key tadi. Senyum mengembang di bibirnya. “Kau tahu, Key, apa alasanku menceritakan semua hal itu padamu? Kau benar, aku tak pernah menceritakan hal itu sebelumnya… Kau tahu kenapa?”

Key menggeleng pelan, menikmati sengatan pelan yang berasal dari tangan Kareen yang menempel di cermin. Matanya terpejam rapat, “Tidak, baby boo… Aku tidak tahu…

Kareen tersenyum manis, menarik segaris kehangatan dengan bibir merah mudanya. Ia mennyandarkan kepalanya semakin rapt ke arah cermin, seakan ingin menembus benda itu. “Karena aku mempercayaimu, Key… Aku percaya kau mengerti perasaanku… Aku percaya kau akan berada di sisiku… Aku percaya kau akan bisa menjadi pelindungku, penyemangatku bahkan walau kau masih terkurung di dalam sana….,” jelas Kareen penuh keyakinan, “Dan aku percaya itu takkan berubah untuk selamanya… Aku mempercayaimu…”

Seketika Key tersentak dan ingin hatinya menangis. Ia menyesali rasa percaya yang tumbuh untuk dirinya itu. Ia menyesali rasa sayang yang tumbuh di antara mereka berdua. Jika saja ia dapat melawan egonya untuk mengenal gadis itu lebih jauh, jika saja ia bisa meredam nafsunya untuk menyingkirkan semua kehampaan yang membungkusnya selama ratusan tahun, ini semua takkan terjadi. Ya, jika saja Key pernah merasa takut untuk jatuh cinta, ini takkan terjadi.

Jangan, baby boo… Kumohon jangan…

Buang semua rasa percayamu padaku…

Hilangkan semua rasa untukku dari hatimu

Ini demi dirimu, baby boo… Demi hidupmu…

 

***

 

Key memeluk lututnya sambil menatap kamar nyata di seberang cermin sana. Kamar itu kosong, padahal malam sudah semakin larut. Ini memang tak biasa tapi Key berusaha maklum. Tadi pagi Kareen berkata bahwa ia akan mengikuti pesta perayaan ulang tahun perusahaan tempat ia bekerja. Tak heran Kareen masih belum pulang selarut itu. Namun Key tetap gelisah, terlalu cemas dengan pikiran-pikiran buruk akan keadaan Kareen di luar sana. Bagaimana kalau Kareen kecelakaan? Bagaimana jika ia tiba-tiba merasa sakit dan pingsan di jalan? Bagaimana kalau ada orang jahat yang mengganggunya? Atau mungkin saja ia diserang binatang liar yang tak jelas asalnya? Ah, semua pikiran itu membuat Key semakin khawatir.

Tak lama kemudian Key bangkit dari duduknya. Ia bisa merasakan kehadiran Kareen dari suara pintu depan yang terbuka dan ditutup kembali. Tak butuh waktu lama sampai Kareen muncul di depan pintu. Key tertegun di tempatnya. Ada yang berbeda dengan Kareen. Gadis itu tersenyum dengan wajah merah yang aneh. Langkahnya terseok-seok, tasnya ia lemparkan asal ke sudut ruangan. Kemudian Kareen menatap Key yang wajahnya masih terpahatkan rasa terkejut. Senyumnya makin lebar. Gadis itu melangkah cepat menuju cermin seakan hendak memeluk Key. Namun langkahnya terhenti saat kakinya tersandung buku yang terletak sembarangan di lantai. Dengan sigap Key menangkap bayangannya sebelum gadis itu sempat jatuh.

“K..-hik-..Key…,” ucap Kareen mabuk. Key menatapnya cemas dan gadis itu memaksa untuk melangkah semakin dekat ke arah cermin. Mau tak mau Key mengikuti gerak Kareen. Tubuh keduanya merosot dan akhirnya terduduk di lantai. Kareen menggapai cermin dengan tangan tertuju pada wajah Key yang terpahat sempurna. Ia tertawa pelan.

Baby boo, apa yang terjadi padamu?” Tanya Key dengan alis berkerut. Ia memperbaiki posisi tubuh Kareen sehingga berada penuh di pelukannya. Kareen cegukan kembali, hasil dari kemabukannya. Gadis itu kembali tertawa pelan, “Hahaha… Key…-hik- tadi ada perayaan pertunangan teman kerjaku..-hik-” Kareen tersenyum dan semakin menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Key. Perlahan senyumnya berubah sedih, “Aku hanya iri, Key…terlalu iri… Bukankah sangat bahagia bisa mendapatkan pasangan hati dan dapat memiliki pasangan kita itu sepenuhnya…,” ucapnya.

Key mendengar dengan jantung berdebar kencang. Ucapan Kareen seakan membicarakan rasa inginnya untuk memiliki Kareen sepenuhnya. Lelaki itu hanya bergumam pelan dan membelai kepala bayangan Kareen lembut, “Aku tahu bagaimana perasaanmu, baby boo…”

“Tidak, Key,” potong Kareen, “mungkin kau tidak tahu…-hik- kau mungkin tidak tahu bagaimana perasaanku… Melihat mereka tersenyum satu sama lain, saling bertatap dengan mata penuh cinta, saling bergandeng tangan dan bergelayut mesra, merasakan kehangatan satu sama lain… Aku melihat langsung semua itu, Key, dan aku merasa amat iri pada mereka….”

 

“Kenapa, baby?” Key menelan ludahnya memikirkan pertanyaan yang akan dilontarkannya, “Apa sudah ada seseorang yang mengisi hatimu? Lelaki yang ingin kau ajak berbahagia seperti itu?”

 

Kareen mengangguk lemah. Key bisa merasakan nafasnya tertahan. Ada seseorang yang ada di hati Kareen dan itu tidak mungkin makhluk semu seperti Key. Lelaki itu mengepalkan tangannya, menelan bulat-bulat rasa cemburu yang menusuk hatinya. Key menenggelamkan kepalanya dalam cekungan leher bayangan Kareen, menutupi rasa sedihnya.

“Tapi sepertinya aku tidak bisa mendapatkannya, Key… Dia terlalu jauh untuk dijangkau. Perhatiannya kadang membuat harapanku semakin besar. Aku selalu ingin menggenggam tangannya, merasakan dirinya langsung di sampingku… Tapi ia terlalu sulit dijangkau, Key… Bahkan aku tidak tahu apa isi hatinya…”

“Siapa lelaki beruntung itu, baby boo?” Tanya Key berusaha menekan kesedihannya, “mungkin saja aku bisa membantumu menggapainya… Bukankah kau percaya aku selalu berada di sisimu?”

“Benarkah?” Kareen tersenyum lagi, kali ini lebih damai. “Terima kasih, Key… Kau selalu menjadi yang terbaik untukku…”

Seandainya saja kau menyadari hal itu setiap saat…

“Kalau begitu, kau harus mendengarkannya baik-baik, Key…,” ujar Kareen kemudian. Key semakin menenggelamkan wajahnya di leher bayangan Kareen, berharap tak bisa mendengarkan apa yang akan dikatakan gadis istimewanya itu. Tidak, Key seharusnya menerima ini. Segala ketakutannya akan berakhir begitu Kareen menambatkan hati pada lelaki lain. Namun di saat yang sama pula Key akan merasakan sakit yang begitu mennyiksanya. Jika penyihir itu masih hidup dan melihat betapa menderitanya Key saat itu, ia akan tertawa jahat dengan puasnya. Bagaimanapun Key harus menerima hal ini, menerima Kareen sudah jatuh cinta pada…

“…aku mencintaimu, Key… Bukankah kau memang sulit diraih? Tapi …aku …tetap mencintaimu….,” bisik Kareen dalam sebelum kesadarannya hilang.

Seketika Key mendongakkan kepalanya. Matanya membelalak tak percaya. Hatinya yang merasa terkejut bukan main bisa merasakan secercah kebahagiaan. Namun semua kebahagiaan itu berganti dengan ketakutan saat ia kembali mengingat satu hal, caranya keluar dari cermin itu.

Kau hanya bisa keluar dari sana jika manusia yang kau cintai juga berbalik mencintaimu… Cintanya itu harus terungkapkan dengan kata-kata…

 

“Oh, Kareen… Tidak…”

 

Dan di saat bersamaan kau akan memberinya hidup hanya untuk satu hari lagi. Semua energi hidupnya akan terhisap olehmu… Nikmati rasa sakit itu, Key!!!

 

“Kareen….”

Tbc…

ngatan h�”br��~�~ kali ia rasakan namun ia tahu rasa itu takkan bertahan lama. Semua akan kembali dingin saat Kareen tak ada lagi di sisinya.

 

“Maaf karena kebohonganku padamu, baby boo… Aku hanya ingin melindungimu… Aku ingin kau jadi orang yang dimaksud oleh penyihhir sialan itu, tapi aku juga tidak mau…” Key kembali meringis dan menutup matanya, “Terdengar bodoh? Hahaha… Aku hanya ingin kau tetap hidup, walau suatu saat nanti mungkin aku juga akan menyaksikan kematian menjemput hidupmu…..”

Tbc….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

Advertisements

87 thoughts on “Him In The Mirror [2.3]

  1. Pingback: Apa Manfaatnya Petinggi CIA Masuk Islam Namun Tetap Membelakangi Tuhannya? | Universal Religion
  2. Pingback: Pesan Twitter Paus Benediktus | Universal Religion
  3. Ah apa ini ?!?!
    Tidak bisa seperti ini, aku benci sad ending, jangan sampai ada yg pergii..
    Kenapa syarat’a harus serumit itu..

    Fell’a sumpah dapet banget, aku beneran terbawa ama kisah’a..
    #NgacirLagiKePartSelanjutnya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s