Inter Sexual – Part 8

Disclaimer  : We don’t own the character, they are belong to themselves.

Genre  : Teen Romance/Hurt/Comfort

Warning  : Gender bender, OOC, OC, elseword, typo dan misstypo, authorfic ^^.

Rated  : T

.

.

Aiesu © Chiyo Rokuhana

.

.

sHyning soHee collab with Eun bling-bling and Lynda

proudly present

I.S [Inter Sexual]

Lee Taemin (as boy), Lee Taehee (as girl), Choi Minho, and Lee Jieun (IU)

.

.

 

Bagian Kedelapan

 Memorhythm

Setiap aku bertanya pada eommaku.

“Kenapa tubuhku begitu aneh?”

Ia selalu diam.

Dan hanya tersenyum kearahku.

Aku sangat yakin dalam senyuman itu—

terselip rasa kesedihan.

“Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak.”

***

Hiks…

Hiks…

Gadis cilik itu berusaha meredam suara tangisnya. Atensinya mengarah ke sekitar, sambil sesengukan ia berusaha menyembunyikan dirinya di balik batang pohon besar. Takut, jikalau seorang guru di sekolahnya menangkap basah wajahnya yang dibanjiri airmata. Si guru pasti akan menjejalinya dengan berbagai pertanyaan seputar bagaimana ia sampai menangis di sini.

Walaupun ia memasang topeng agar orang-orang di sekitarnya berpikiran bahwa dirinya adalah gadis yang kuat dan tegar, faktanya ia bukanlah sosok gadis dewasa sempurna seperti kisah-kisah masa muda ibunya dulu. Ia sama seperti gadis kecil lainnya, menangis jika hatinya merasa sedih, menangis jika hatinya disakiti, dan menangis jika di tinggalkan oleh seseorang yang berarti dalam hidupnya.

Tangan mungilnya menyeka pipi merahnya, tapi tetap saja basah lantaran mata bulatnya tak hentinya menyediakan pasokan air bening. Ia kesal pada kenyataan bahwa dirinya selemah ini.

Ibunya bilang bahwa ia harus menjadi gadis yang kuat, “Eomma… hiks!” Gumamnya sesengukan.

Kenapa harus Ibunya? Kenapa tidak Ayahnya saja? Pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam batinnya.

Ibunya yang setiap malam mendongengkan kisah-kisah manis tentang masa mudanya, setiap pagi selalu berkata ‘hati-hati’ ketika ia berangkat sekolah, Ibunya yang selalu tersenyum menyambut kedatangannya, pelukan Ibunya yang hangat ketika ia menangis, tatapan matanya yang lembut ketika berkata ‘kau akan baik-baik saja’, dan kini semua itu tidak akan pernah terjadi lagi untuk hari ini, esok, dan seterusnya.

Kenapa Ibunya itu tidak berpikiran untuk mengucapkan kalimat ‘selamat tinggal’ ataupun meninggalkan sepucuk surat di atas meja belajarnya. Pikirannya kacau, apa Ibunya menganggap bahwa ia bukan orang yang terpenting dalam hidupnya? Dengan mudahnya ia meninggalkan dirinya dipelukan pria berhati dingin yang sering dipanggilnya Ayah.

Eomma tidak sayang lagi padaku!’

Gadis itu menggeleng kuat, berupaya menyingkirkan prasangka buruk yang berjejal merasuki otaknya. Ia tahu, Ibunya adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang akan selalu menyayanginya.

Tapi tetap saja, tanpa Ibunya ia hanyalah seekor kelinci hitam di tengah gerombolan kelinci-kelinci putih yang menertawainya. Dalam bayangannya, mereka  seolah berteriak kencang menyerukan kalimat yang paling ia takuti seumur hidup, ‘kau sendirian dan tak akan ada lagi yang peduli denganmu!

Sendirian—sebuah kata yang berarti seorang diri, dan bagi gadis itu sendirian memiliki banyak makna yang artinya takkan ada lagi yang menuntunnya, takkan ada lagi yang membantunya berdiri di saat ia terjatuh, dan yang paling buruk adalah perlahan-lahan memorinya akan melupakan bagaimana manisnya kasih sayang seorang Ibu.

“Hei!” Terdengar suara cempreng menegur dirinya.

Tak ada respon, si penegur kembali bersuara kali ini dengan volume yang naik satu oktaf.

Merasa ada yang menyapanya, si gadis mendongak. Ia mendapati sosok anak kecil sebayanya tengah berkacak pinggang. Mata bulat anak itu membesar ketika menyadari wajah sembab miliknya.

“Kau menangis!” Serunya panik. Jemarinya dengan cekatan merogoh saku rok rimple hijaunya.

Sambil tersenyum ia menyodorkan saputangan oranye, “Ini, pakailah!” Ujarnya kemudian.

Si gadis hanya diam, maniknya bergantian menatap saputangan dan penyodornya. Merasa kalau si penyodor adalah makhluk teraneh seseantaro planet.

Kesal, anak itu mengibas-ngibaskan tangannya pelan, “Haloooo~ apa jiwamu masih berada di sini? Apa alien sudah menculik jiwamu? Hei, coba jawablah!”

Gadis itu tersentak, menyadari betapa dekatnya wajah mereka kini. Ia dapat melihat bola mata obsidian yang menatapnya khawatir. Tatapan yang begitu familiar baginya. Anak itu kemudian menegakkan tubuhnya, selanjutnya menghela nafas pelan.

“Syukurlah, kau baik-baik saja. Ku kira jiwamu disedot oleh sekumpulan alien jahat,” ujarnya dengan nada riang. Melihat gadis sembab di hadapannya masih saja tak bereaksi serta merta alisnya terpaut dan keningnya berkerut.

Sambil bersedekap kesal, ia melanjutkan, “Kata eommaku ya, kalau seseorang mengkhawatirkan keadaanmu, seharusnya kau mengucapkan kata—“

Ceramah kilatnya terpotong akibat gadis di hadapannya itu kembali menangis, bahkan lebih kencang. Bingung, ia menggigiti bibir bawahnya sendiri, mencoba memikirkan cara menghentikan seseorang yang menangis.

“Ya ampun, tolong berhentilah. Namaku Han Soohyeon,” ujarnya panik, “Aku tidak bermaksud mengejekmu atau apalah itu yang sekarang sedang kau pikirkan. Karena kau sendirian di sini, kupikir kau butuh teman!” Nafasnya kini tersengal-sengal.

Si gadis menghentikan tangisannya, mata bulatnya agak sedikit melotot. Soohyeon yang merasa gadis di depannya ini memiliki kepribadian ganda hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Err… apa kata-kata ku tadi membuatmu mar—“, sebuah lengan mungil tiba-tiba saja melingkar dipinggang Soohyeon, “—ah?”

Ia merasakan bahu gadis itu bergetar, Soohyeon berasumsi si gadis menangis lagi. Ia hanya membiarkan gadis itu memeluknya, menangis di bahu mungilnya. Tangannya yang kecil bergerak naik, menyentuh surai hitam milik sang gadis. “Gwaenchana…” ujarnya berusaha menenangkan dengan kata-kata yang sering ia dengar dari mulut Ibunya.

“Aku kesepian, hiks! Aku tidak mau eomma pergi meninggalkanku! Aku sendirian, hiks!” Racau gadis itu, membuat Soohyeon mengerutkan keningnya. “Kau mau menemanikukan?” Tambah gadis itu, masih terisak.

Ne,” sahut Soohyeon tanpa ragu. Tangan mungilnya masih setia mengelus mahkota hitam milik si gadis. Ia tak tahu kenapa bibirnya bergerak dengan mudahnya melafalkan kalimat persetujuan, bahkan ia baru pertama kali mengobrol dengannya—walaupun ia memang sekelas dengan gadis tersebut.

Ada yang salah dengan dirinya. Ia bukanlah tipe yang senang mengakrabkan diri dengan orang di sekitarnya. Tapi kali ini, rasanya sungguh berbeda. Gadis yang selalu diliputi dengan aura yang menyenangkan, gadis yang kuat dan tak pernah menangis, ternyata semua sifat itu hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi rasa kesepiannya. Soohyeon memejamkan matanya pelan.

“Jika kita bersama, kau tidak perlu takut sendirian lagi, Jieun!” Bisiknya lembut.

‘Karena hanya aku yang akan mengeluarkanmu dari rasa kesepian yang terus kau pendam!

Dan pada hari itu…

Di musim panas di bulan Agustus…

Sebuah ikatan abadi itu…

Terhubung…

***

“Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan dan aku hanya percaya pada sebuah takdir. Itulah alasannya kita bisa bertemu.”

“Tak masalah, kita memiliki ikatan darah atau tidak. Tetapi, hanya aku satu-satunya orang yang paling mengerti rasa kesepianmu.”

“Kau tahu kenapa seorang kakak itu dilahirkan pertama kali? Karena ia bertugas untuk melindungi adiknya  yang dilahirkan setelahnya. Dan bagiku kau seperti adik kecilku.”

Lee Jieun terlonjak dari tempat tidurnya, pupilnya membesar ‘mimpi itu datang lagi.

Seorang anak perempuan yang memiliki senyuman yang menenangkan. Gadis kecil itulah orang pertama yang membuat ikatan persahabatan dengannya, dan fakta yang paling mengerikan ialah penyebab insiden itu terjadi.

‘Andai takdir tak mempertemukan kami, pasti Soohyun masih di sini,pikirnya pahit.

Jieun menyandarkan tubuhnya di punggung tempat tidur. Matanya terpejam, mencoba merekonstruksi memorinya yang paling terdalam. Hal pertama yang dapat ia ingat adalah dua orang gadis kecil yang saling menautkan jari kelingking. Senyum tak henti-hentinya terpatri di wajah keduanya. Tak ada yang namanya kesepian. Oh, andai ia memiliki pembalik waktu, ia akan rela mengubah dirinya menjadi gadis berumur enam tahun selama-lamanya.

Kesan pertama ketika Jieun bertemu dengan gadis itu, ia sangat percaya bahwa hanya Soohyeonlah yang dapat merubah takdirnya. Ia tidak mengerti bagaimana pemikiran itu muncul ke permukaan, ia hanya mengikuti kata hatinya. Seperti keajaiban, gadis itu mampu menghapus seluruh rasa kesepiannya. Gadis yang polos, tetapi bertindak sangat dewasa. Ia memiliki senyuman yang menenangkan, dan Han Soohyeon itulah yang mengajarinya apa arti kebahagiaan.

Bercerita tentang mimpi di masa depan, yang membuat Jieun tertawa lepas ketika Soohyeon mengungkapkan bahwa ia ingin menikahi semua tokoh idolanya. Berbagi cerita ketika di masa kecil—yang mengakibatkan keduanya meneteskan air mata.

Gara-gara hal itu Jieun mengetahui sedikit fakta mengenai Soohyeon. Kehidupan Soohyeon lebih berat daripada yang ia alami. Karena ia bukan anak yang diharapkan ada. Kedua orang tuanya selalu saja memperdebatkan masalah Soohyeon. Hingga pada suatu hari, kedua orang tuanya memutuskan Soohyeon akan tinggal dengan Kakek dan Neneknya.

Jieun tidak pernah sedikit pun melihat rasa sakit yang tersembunyi di balik manik cemerlang Soohyeon, yang ada hanya raut kebahagiaan yang asli, bukan seperti miliknya dulu, palsu. Pernah tak sengaja Jieun menanyakan apa arti orang tua baginya, ia hanya merespon “Kadang manusia tak menyadari arti dari seseorang yang berharga untuk mereka. Tetapi ketika mereka kehilangan sosok itu, maka mereka baru menyadari seberharga itulah orang tersebut.

Manik Soohyeon berkilat sesaat, Jieun termangu menatapanya. Kemudian ia berpaling menatap untaian gradasi oranye-merah lagi.

“Aku bahagia, walaupun itu sedikit menyakitkan. Karena aku memiliki tiga orang yang akan selalu ku lindungi. Itulah yang membuatku menjadi kuat,” senyuman bahagia terpatri di wajah manis Soohyeon.

Memorinya mengarah pada semester awal yang baru saja dimulai, dan itu artinya mereka yang telah menyelesaikan pendidikan dasar harus melanjutkan ke tingkat menengah. Soohyeon yang berjanji akan selalu menemani Jieun memutuskan untuk masuk sekolah yang sama dengannya.

Pada musim semi, di tahun kedua. Pertama kali di dalam hidupnya, Jieun memiliki orang yang ia sukai. Entah rasa suka karena karakteristik namja tersebut atau karena sebuah perasaan lain yang dinamakan cinta. Ia belum mengerti apa itu jatuh cinta, tetapi setiap kali berdekatan dengan namja tersebut, jantungnya selalu terpompa cepat. Bahkan Jieun tak berani menatap lama mata hazelnya yang bersinar. Tapi anehnya, dirinya seperti terbang di hamparan padang bunga. Apa seperti ini, rasanya menyukai seseorang? Perasaan ini berbeda ketika ia menyukai sosok Soohyeon.

Di tahun ketiga ia berani menyimpulkan bahwa ia mencintai namja itu. Nalurinya mengatakan ia harus memiliki namja-nya. Di bulan Agustus, musim panas yang merupakan musim favoritnya, ikatan sepasang kekasih dikukuhkan.

Ia ingat jelas, bagaimana raut wajah Soohyeon ketika mendengar berita tersebut. Soohyeon menangis, ia tak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Tanpa diduga Soohyeon mengucapkan kalimat yang membuat hatinya membeku. Aku senang, akhirnya sudah ada yang menggantikanku untuk melindungimu,” sebuah senyuman singkat, sebelum sosok itu pergi jauh meninggalkannya di halte. Ia tak sadar bahwa kalimat itu yang membuat jarak di antara mereka terpisah jauh.

Jieun tak tahu bagaimana menyikapinya, ketika ia melihat Soohyeon tersenyum senang, berbagi candaan dengan seorang gadis yang bukan dirinya. Ia tak tahu, apakah ia menyesal atau marah dengan keputusannya. Tetapi di saat kedua manik mereka bersibok, ia dapat merasakan keduanya seolah-olah mengatakan ‘Gwaenchana’ dan diakhiri dengan senyuman menenangkan. Ah, ia percaya bahwa Soohyeon akan selalu mendukung apa keputusannya.

Di bulan Desember, salju putih berguguran. Di saat namja itu mengatakan hubungan mereka berakhir. Di saat itu juga air bening berjatuhan. Bukankah namja itu juga mencintainya? Kenapa ia mengatakan ‘hubungan kita berakhir’?Ah, ia ingat, sebuah ikatan pun walau tali yang mengikatnya sangat kuat, lama-kelamaan akan mengendur dan terpisah jauh. Ia benci menghadapi kenyataan bahwa ia tak ingin orang yang ia cintai pergi meninggalkannya—lagi.

Tanpa ucapan selamat tinggal, ia berlari meninggalkan sosok namja yang selamanya tidak akan pernah lagi ada di kehidupannya. Jieun butuh seseorang yang akan selalu ada untuknya, dan jawaban itu tertuju pada sosok gadis bernama Han Soohyeon.

Matanya terbuka, ia menggeleng kuat. Jieun tak mau mengingat memori di bagian cerita masa kelamnya. Walaupun ia sudah berusaha untuk menguburnya dalam-dalam, tetapi memori itu terus melekat kuat.

Memori di saat insiden itu terjadi seperti potongan-potongan film rusak. Di sebuah halte, semua pasangan saling menautkan jemari mereka, salju berguguran dengan lebat, dan seorang gadis dengan jaket krem tebal, menunggu dengan setia.

Tanpa disadari, air mata itu mengalir dengan sendirinya. Jieun mencoba menyekanya, tapi tetap saja tak berhenti. Setelah kepergian Han Soohyeon, segalanya menjadi buram. Seperti menatap langit biru, namun perlahan warna abu-abu yang muncul dari satu titik menyebar dan merubah langit menjadi kelam.

Tersesat, ia tak tahu harus ke mana kakinya berpijak. Pikirannya seolah berteriak, ‘dimana cahaya yang dulu selalu menuntunnya?’. Cih, sungguh menyedihkan terjebak dalam dunia monokrom macam ini.

Dunia yang penuh kegelapan.

Dunia yang penuh dengan kesunyian.

Kalimat ‘Gwaenchana’selaluterngiang-ngiang di benaknya dan acap kali merasuk ke dalam mimpi-mimpi semunya. Tangannya mencoba meraih, tapi tetap saja ia tak bisa lepas dari kehampaan. Ketika saat itu terjadi, seolah cahaya yang di kejarnya melebur bersama kegelapan. Dan sosok itu kembali meninggalkannya sendirian.

Jieun tak pernah berpikir untuk berlari menemukan cahaya baru dan menyingkirkan dunia abu-abunya. Ia takut, pada kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya keabadian. Tapi, saat kepalanya mendongak menatap angkasa malam, sesosok pria menyodorkan tangan padanya.

“Lee Taemin,” gumam Jieun.

Sebuah senyum kecut terpatri di paras cantiknya. Ia belum siap memiliki ikatan dengan orang lain. Akan tetapi, pemuda itu sangat mirip dengan sahabatnya. Di sisi lain, ia tak mau insiden di bulan Desember kembali terulang.

‘Tapi aku tidak mau terus terjebak di dalam dunia ini.’

***

Lee Taehee mencoba memfokuskan dirinya ketika seongsangnim menjelaskan tentang hereditas dan segala tetek bengeknya. Dan sialnya, pikirannya tak bisa diajak berkompromi. Otaknya seakan dipenuhi oleh bayangan Choi Minho dan Jung Hara,  menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Memang ini berlebihan, buat apa ia repot-repot mengurusi kelakuan si pemuda jangkung itu. Dan sialnya lagi, hatinya seolah memperdaya dirinya. Jelas, Taehee sadar kalau ia bukan tipe manusia yang memiliki tenggang rasa berlebihan. Apa karena si Choi Minho itu membuat otaknya tersumbat dan buntu, hingga ia perlu peduli padanya? Memang siapa Choi Minho dan Jung Hara sampai mereka harus menyita seluruh pikirannya?

Taehee menghela nafas dalam, ia merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya. Hal pertama yang ia dapati adalah rupa seorang gadis yang kini sedang ia pikirkan, Jung Hara. Melihat ada sesuatu yang janggal dengan keadaan Taehee, gadis itu mengibaskan tangannya di hadapan Taehee.

“Hei! Taehee! Gwaenchana…?”

Lamunan Taehee buyar, wajahnya panik. Terang saja ia merasa malu mendapati dirinya menatap Hara tanpa berkedip—selama yang bisa ia ingat. Pasti gadis itu akan mencapnya orang aneh abad ini.

“Kau,” Taehee mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, tidak ada orang—kecuali mereka berdua— bahkan seongsangnim pun sudah tak ada lagi di tempatnya.

“Ada apa?” Tanya Taehee.

Gadis bermarga Jung itu tertawa, jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri, “Aku?”. Hara menghela nafas pelan dan menarik kursi di seberang Taehee sebelum melanjutkan. “Kau tahu, aku kerepotan menangani semua pertanyaan seluruh siswi di sini!” Wajah cantiknya terlihat masam, “Ya, karena hanya ada kau di kelas, yang kelihatannya terlalu serius dengan bacaanmu hingga tak sadar bel tanda istirahat sudah berbunyi. Maka apa kau tak keberatan menemaniku?” Tanya Hara penuh harap.

Gadis itu diam. Dirinya terlalu penasaran dengan pertanyaan yang diajukan seluruh siswi sekolah pada si Jung Hara ini.

“Hei, apa yang kau pikirkan?” Hara bertanya lagi, matanya tak lepas dari rupa Taehee yang membisu.

“Eh? Aniyo! Aku tidak sedang memikirkan apa-apa!” Taehee menyahut canggung.

Hara menghela nafas dalam, kemudian meletakkan wajahnya di atas meja dan menjadikan buku yang tadi dibaca Taehee sebagai alas, “Menurutmu apa aku dan Minho oppa terlihat seperti sepasang kekasih?”

Pertanyaan Hara barusan tentu saja membuat Taehee membulatkan matanya. Ia membisu menatap helaian rambut Hara yang jatuh menutupi wajahnya.

“Kami hanya teman! Bukan sepasang kekasih seperti yang dipikirkan murid-murid di sini!” Ungkap Hara yang membuat Taehee merasa lega tanpa ia sadari.

“Benarkah?” Lontar Taehee begitu saja.

“Ya, Minho oppa teman masa kecilku. Ia selalu menjaga dan memanjakanku. Mungkin, karena itu mereka berfikir kalau aku dan Minho oppa pacaran!” Sudut bibirnya terangkat, Taehee merasa lega dengan penuturan Hara barusan.

“Bagi Minho oppa aku adalah adik perempuannya, dari dulu…” Hara membuang nafas. Matanya yang sedari tadi menatap jari-jemarinya yang memain-mainkan rambutnya, perlahan menutup, “…dan selamanya,” lanjutnya lirih, jelas sekali terdengar nada kecewa dan sedih di sana. Tangannya perlahan bergerak menghapus jejak-jejak air mata di wajahnya.

Taehee tidak menyadari tangisan Hara, ia bahkan tidak mendengar apa yang Hara ucapkan. Lee Taehee terus menatap keluar jendela, seorang namja jangkung berwajah tampan sedang menjadi pusat perhatiannya. Saat ini pikiran dan matanya hanya tertuju pada satu orang. Dan orang itu adalah Choi Minho.

***

Eunhee mengedarkan pandangannya, menelusuri satu persatu orang-orang berseragam sama yang melewatinya, “Dimana dia?” Gumamnya kesal.

Ia merogoh ponselnya. Matanya berputar malas ketika melihat nama pemanggil yang tertera pada layar ponselnya, kemudian menekan tombol merah untuk menolak panggilan.

“Apa yang kau lakukan?” Sebuah suara dingin menegurnya, membuat Choi Eunhee sontak menoleh dan memukul bahu si penegur pelan.

“Taehee! Kau mengagetkanku tahu!” Eunhee lantas mengurut dadanya sementara si penegur hanya diam tanpa ekspresi.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Ulang Taehee.

“Aku mencarimu!” Eunhee tersenyum, ia mengamati sosok di depannya seksama. “Kau terlihat imut dengan seragam sekolah ini! Aigoo…. lucunya!” Seru Eunhee gemas seraya mencubit kedua pipi Taehee.

“Lepaskan! Kau kira aku boneka yang bisa kau cubit kapanpun kau mau apa!?” Protes Taehee kencang. Jemarinya melepas kedua tangan Eunhee yang masih setia mencubiti pipinya.

“Ck, wajahmu sangat tidak sesuai dengan sifatmu tahu! Harusnya kau hilangkan saja sifat pemarahmu itu!” Saran Eun hee yang sama sekali tak digubris Taehee.

“Ada perlu apa kau mencariku?”

“Aku butuh tempat sembunyi!”

Kening Taehee berkerut, “Tempat sembunyi?” Tanya Taehee meminta penjelasan lebih.

***

Taehee memutar knop pintu apartemennya. Kepalanya menoleh ke arah Eunhee yang masih saja celingukan memastikan keadaan. “Gadis itu!” Gumamnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Hei, Masuklah!” Perintah Taehee yang membuat Eunhee menoleh padanya dan masuk mendahului Taehee.

“Wohaaaaa, keren!” Matanya mengedar, memeriksa setiap sudut apartemen Taehee.

Taehee kembali menggelengkan kepalanya. Ia segera menuju dapur dan melihat isi kulkasnya. Ia kembali menegakkan tubuhnya, berfikir makanan apa yang akan ia sajikan untuk sang tamu. Sedangkan Eunhee, gadis itu mulai masuk ke dalam kamar Taehee tanpa pengetahuan si pemilik.

“Woohaaaa, kamarnya rapi sekali!” Pujinya.

Pandangan matanya menemukan sebuah bingkai foto yang terbuat dari kayu. Di dalamnya terdapat foto seorang wanita paruh baya yang sedang tersenyum ramah.

“Ini pasti ibunya! Cantik sekali! Rupanya beliau menurunkan kecantikkannya pada Taehee!” Serunya kemudian meletakkan kembali bingkai foto yang sempat ia ambil.

Pandangan matanya kembali ia edarkan, dan mendapati sebuah lemari yang cukup besar dengan banyak buku tertata rapi. Eunhee memperhatikan tiap judul buku yang ada dan merasa tertarik pada sebuah buku bersampul biru tua kemudian mengambilnya.

Intersexual?”

-To Be Continued-

15 thoughts on “Inter Sexual – Part 8”

  1. Ehh, komen apa ya? Keren lah walaupun pendek, hehe 😀

    Sebenernya aku masih bingung loh, beneran. Soal banyak hal di FF ini *abaikan*. Itu kenapa Eunhee cari tempat sembunyi? Eh, terus gimana kalo dia nemu buku tentang Inersexual? Nggak sabar nunggu part selanjutnya ^^

  2. Kren chingu! ^0^b
    Kra2 apa yg trjadi slnjut’a ya? Pnasarn! Di tnggu trus part slnjut’a, klo bsa jgn lma2 ya hehe 🙂

  3. Eh, tiba2 lupa Jieun itu siapa.
    Kkk~

    mianhe…

    Pendekkkk,, part ini pendek,, masih belom masuk ke masalah inti, moga2 part depan dh masuk..

  4. part ini banyak bagian Lee Jieun.nya. Masalalu Jieun ngenes, kasian.
    FF.nya bagus, tapi aku masih belom nangkep konfliknya, belom serem.lah ceritanya ._.v

  5. Eaaaaaa top markotop niiiih! Kiraa2 kaalo boleh memilih pengennya sih taehee jd taemin troz bersama jieun deh… Mulai penaasaraan tingkaat dewaaaaaa! Di tunggu kelanjuatannya yaaaa

  6. Sepertinya FF ini akan memakan banyak part ya._. mengingat sekarang aja part 8 dan kita masih belum tahu apa yang terjadi sama Soohyeon dan Eunhee sama Minwoo (bener nggak? Agak lupa2 gitu._.).

    Tapi setidaknya kita mulai tahu masalah Jieun. Kayaknya seru nih part selanjutnya… *ngelirik ending part ini*. K, i’m gonna wait the next part!^^/

  7. Lanjuuutttttt..
    Itu ntar taehee nya gimana???
    Eunhee juga bakalan tahu atau ngga ya tntang taehee yg sbenarnnya.. Penasaraaan bgt.

    Next part..
    Fighting!!!

  8. btw next partnya kapan yah??
    udh lama gak muncul next partnya nih min..
    ditunggu yah next part untuk ff ini 😀

  9. Lhaa?
    Jd penasaran ad kejadian apa di bulan desember pada jieun..
    Dan, skrg knp eunhee numpang sembunyi di apartemen taehee?
    Dan, kok rasanya ditekankan bgt marganya eunhee itu “choi”? Apa ia bersaudara ama minho?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s