The Days In Memories [1.2]

The Days In Memories ( Part I )

Tittle                :  The Days In Memories

Author             : Lee Hana

Main cast        : Choi Minho, Kim Jaeshim ( Imaginary Cast )

Support Cast    : Choi Siwon, Jaeshim Eomma

Genre              : Romance and Life

Length             : Two Shoot

Rating              : PG-13

Summary         : Sungguh, aku selalu ingat! Karena aku mengingatnya di dalam  hatiku, bahkan ketika aku tidak dapat mengingat apapun lagi dan menjadi benar-benar gila.

Akhirnya setelah edit sana-sini, nambah sana, kurang sini, bolak balik, jungkir balik, jadi juga. Huft…. (usap keringet dari jidad) #LEBAY ABIESSSS…. yang penting-heppi(iklan dikit)

Ini FF pertamaku di sini. Jadi kalo ada salah-salah mohon mangap yaaaaa! #piece man!!! Ya udah dari pada ngomong mulu mending langsung baca aja.  CEKEDOT!!!

***

Udara dingin mulai berhembus bersamaan dengan matahari yang mulai tertutup oleh awan hitam, membuat tanah dan pepohonan kehilangan cahaya beserta kehangatan darinya. Dan cuaca saat ini sungguh mewakili suasana hatiku sekarang.

Aku terus berlari mengelilingi taman hiburan besar yang diberi nama Lotte itu. Tanpa membiarkan kakiku berhenti sesaat untuk beristirahat, karena aku sangat khawatir dan takut. Bahkan kini langit menjadi semakin gelap dan membuat perasaan ini menjadi tidak karuan saja.

“Dimana?” tanyaku sambil mengedarkan pandanganku, melihat ke setiap sudut tempat ini.

Ini lebih dari satu jam aku mencari dan aku mulai putus asa. Pada saat ini untungnya kepalaku masih bisa berpikir dengan baik. Aku pikir aku tidak menemukannya karena aku mencari di tempat ramai, sedangkan Jaeshim adalah gadis penyendiri yang tidak suka dengan kebisingan. Karena itu aku kembali mencari di tempat-tempat sepi.

Ternyata pikiranku benar. Tidak lama kemudian aku melihatnya tengah duduk sendirian di sebuah kursi panjang di sebuah taman. Aku melihatnya tengah menunduk dengan putus asa.

“Jaeshim-ya!” teriakku seraya berlari kecil menghampirinya.

Kim Jaeshim, Ia mendongakkan kepalanya ketika mendengar suaraku memanggilnya. Ia segera beranjak dan berlari lebih kencang ke arahku.

Ketika kami telah berhadapan. Aku melihat matanya berkaca-kaca dan air matanya hampir jatuh. Tidak pernah aku melihat air matanya sebelumnya. Aku tidak tahu arti air mata itu. Rasa takut, atau bahagia karena aku datang?

“Kau tidak apa-apa? Aku mencarimu kemana-mana. Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?!” tanyaku dengan sedikit kesal. Ah tidak! Ia benar-benar meneteskan air matanya sekarang. “ Mianhae! Aku tidak bermaksud membentakmu,” jelasku, tetapi ia malah berhambur kearahku dan memelukku.

Ia menangis. Kim Jaeshim menangis tersedu-sedu. Terdengar isakannya dengan jelas. Tetapi di saat seperti ini hatiku malah menjadi tidak karuan. Organ pemompa darah yang berada di dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Bukan karena aku yang baru saja berlari, tetapi karena dia.

Aku membalas pelukkannya perlahan, dan menikmati keadaan ini.

“Ponselku. Baterainya habis,” jawabnya parau, kemudian melepaskan pelukannya. “Minho-ya, sepertinya jantungmu berdetak lebih cepat dari yang seharusnya,” sambungnya lagi membuatku terkejut seraya melepaskan pelukannya.

Sepertinya, saat ia memelukku dan menyandarkan kepalanya pada dadaku, di saat itu ia mendengarnya. Ya, gadis ini memang pendek, bahkan tingginya tidak sampai seratus enam puluh senti meter. Karena itu kepalanya tidak dapat mencapai pundakku untuk di sandarkan. Kini ia menatap heran ke arahku. Oh tuhan! Kenapa dia harus mendengarnya?

Yaah! Aku habis berlarian kesana-kemari karenamu. Bagaimana jantungku tidak berdegup cepat? Bukankah itu yang terjadi setelah seseorang berolah raga?” omelku tiba-tiba untuk menutupi rasa malu dan salah tingkahku.

“Benar,” jawabnya membuatku sedikit lega.

“Tetapi kenapa kamu di sini sendirian?”

“Aku kemari bersama Siwon-ah. Mian, dia mengajakku berkencan sekarang. Dia bilang aku tidak boleh mengatakannya padamu,” jelasnya membuat darah ini mengalir naik dengan cepat kekepalaku.

“Wae? Kenapa dia mengatakannya padaku? Apa dia tahu perasaanku?” tanyaku dalam hati di sela rasa cemburu yang bergejolak hebat. “Lalu kemana anak itu?” tanyaku berusaha mengusai diri.

Jaeshim menggeleng. “Saat itu ia memintaku menunggunya di tempat itu, tetapi di sana aku melihat seorang gadis kecil tengah menangis sendirian, karena itu aku menghampirinya dan membantu mencari Ibunya untuk beberapa saat. Tetapi aku malah lupa jalan kembali.”

Jaeshim memang selalu begitu. Sangat ceroboh dan pelupa. Ia bahkan bisa tersasar di dalam sebuah mall. Ia tidak bisa mengingat jalan dengan sekali atau dua kali menelusurinya. Tetapi sikap pelupanya itu semakin lama semakin parah saja, dan itu membuatku sedikit khawatir. Bahkan, terkadang ia suka mengeluh padaku dengan sakit kepala yang ia rasakan.

Tiba-tiba hujan turun setelah mendung menguasai untuk beberapa lama. Air yang begitu deras turun mulai membasahi kami dan menyebarkan udara yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Di saat seperti itu aku justru melepas jaketku dan menjadikannya payung untuk melindungi kami dari air yang kini bahkan hampir membasahi seluruh kaus yang aku kenakan. Kami berlari dari sana dan mencari tempat berteduh terdekat.

Di sini, di sebuah gedung kecil. Kami berdiri di belakang orang-orang itu, menunggu berhentinya hujan yang terlihat mustahil untuk segera berhenti. Saat itu ia melihatku tengah menggosok-gosok lenganku, memberikan sedikit rasa hangat akibat gesekan dari telapak tanganku.

Ia segera melepaskan jaketku yang tengah menyelimutinya dan memberikannya padaku. Aku menoleh ke arahnya ketika melihat jaket itu telah berada di hadapanku. “Tidak apa-apa. Pakai saja,” tolakku.

“Kau bisa jadi beku nanti. Jangan coba-coba melakukannya hanya untuk terlihat keren di hadapanku! Ini bukan film romantis,” bantahnya.

“Tapi kau akan kedinginan.”

“Tidak apa-apa. Terkadang aku memang ingin merasakan suasana seperti ini, suasana ketika hujan turun serta udara dingin ini,” ujarnya sambil tersenyum manis ke arahku. Karena senyuman itu, aku tidak bisa menolaknya.  “Mian, aku menyusahkanmu. Memintamu datang ke sini. Itu karena ponsel Siwon-ah yang tiba-tiba saja mati.”

“Berhentilah menyebut namanya! Harusnya memang seperti ini. Jika kau punya masalah dan butuh bantuan, harusnya aku yang pertama kali kau hubungi, bukan dia,” omelku, tetapi ia malah tersenyum padaku. Wae?

 

Gomaweo jongmal Minho-ya!

Hampir setengah jam berlalu, tetapi kami hanya diam saja seraya melihat ribuan tetes air yang masih saja turun dengan derasnya, sama seperti setengah jam yang lalu. Dan kini aku kembali memandanginya, memandangi untuk kesekian kalinya. Entah kenapa kini bahkan lebih jeli melihat ke arah bibirnya yang mulai memucat.

Aku sebagai laki-laki tentu saja tergerak untuk kembali memberikan jaketku padanya. Menyampirkannya pada bahunya dengan tiba-tiba. Ia menoleh ke arahku, tetapi ia malah berusaha melepaskannya.

Aku mencegahnya dengan memegang kedua tangannya yang hampir saja melepaskan jaket itu kembali. Aku rasakan kedua tangannya begitu dingin. Kenapa begitu dingin? Dia memang benar-benar keras kepala. Kenapa harus menolak kebaikanku?

“Sudahlah! Berhenti sok kuat!” ujarku membuat wajahnya kecut.

“Bajumu basah. Kamu bisa kena flu nanti,” bantahnya.

“Aku laki-laki. Biarkan aku menjaga harga diriku! Bercerminlah! Wajahmu pucat,” balasku, kemudian menggosok-gosok tanganku yang kemudian aku tempelkan pada wajahnya beberapa saat.

Bukankah apa yang aku lakukan sekarang berawal dari sebuah niat baik? Tetapi ketika aku menyentuh wajahnya dengan kedua tanganku muncul sebuah niat lain yang terselip diantaranya. Kedua tanganku yang beberapa saat lalu hanya menempel kini mulai merengkuh wajahnya dan aling bertatap. Bersamaan dengan detak jantung yang kembali menggila, mendekatkan wajahku pada wajahnya perlahan. Sedangkan ia hanya diam mematung. Aku sungguh tidak memperdulikan orang-orang yang berada di hadapanku, meskipun tidak ada satupun diantara mereka yang menolah ke belakang dan memeperhatikan kami. Seketika udara menjadi terasa begitu panas untukku.

Tiga puluh centi, menjadi beberapa centi saja dan semakin dekat. Melihat bibirku yang hampir saja menempel pada bibirnya membuatku mulai menutup mata. Tetapi, gadis itu, Jaeshim malah mengulum bibirnya dan mengalihkan wajahnya sebelum mataku benar-benar tertutup dan bibir kami benar-benar menempel. Menolak sebuah ciuman yang ingin aku berikan padanya. Karena itu aku menjauhkan wajahku dan melepaskan tanganku dari wajahnya dengan kecewa.

Hujan berhenti, berganti dengan rintikkan air. Semua yang baru saja terjadi membuat suasana kaku. Membuat kami diam seribu bahasa hingga aku benar-benar mengantarnya dengan selamat sampai rumah.

“Jaeshim-ya!” panggil kedua orang tuanya seraya berlari memeluk anak semata wayangnya itu. Sedangkan Siwon, ternyata ia sedang berada di sana. Ia berdiri dengan wajah lega.

Setelahnya Jaeshim malah berjalan menghampiri Siwon yang terlihat masih merasa bersalah. “Mianhae. Kau pasti khawatir dan takut,” ujarnya seraya membungkukkan tubuhnya.

Siwon mengambil setangkai bunga mawar merah yang terselip di saku celananya, kemudian memberikannya pada Jaeshim. “Tadinya aku ingin memberikan ini padamu. Aku sungguh kecewa, tapi aku senang kau baik-baik saja. Aku juga minta maaf, harusnya aku yang membawamu kemari. Tapi ponselku jatuh dan rusak, aku bahkan sudah mencarimu begitu lama hingga aku benar-benar putus asa.”

Aku yang masih saja berdiri di depan pintu rumahnya kembali merasa cemburu melihat mereka berdua seperti itu. Apa aku benar-benar bertepuk sebelah tangan?

Malam ini. Aku membiarkannya istirahat lebih awal tanpa mengajaknya bicara melalui cendela, seperti yang biasa kami lakukan sebelum tidur. Dan jam ini, aku pikir dia pasti sudah tertidur sekarang, berbeda denganku yang bahkan tidak bisa memejamkan mataku meski kelelahan begitu aku rasakan. Kepalaku kini semakin keras berpikir. Aku bahkan bingung, sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan padanya besok di sekolah.

______

Pagi ini, tidak biasanya ia meninggalkan aku begitu saja. Kenapa pergi lebih dulu? Ini masih pagi. Kenapa begitu pagi? Atau ia memang sengaja menghindariku? Apa dia malu?

Di kelas. Ya, aku melihatnya di kelas. Di sana ia terlihat sibuk mencari sesuatu.

“Cari apa?” tanyaku ketika berada di sampingnya. Yaah, dia pergi meninggalkan aku begitu saja.

Di kelas, di kantin, dimanapun aku bertemu dengannya ia selalu berusaha menghindariku. Ini mulai mengusikku dan membuat salah pahamku terhadapnya berakhir. Salah paham? Tentu, aku kira dia malu padaku akibat apa yang ingin aku lakukan padanya kemarin, tetapi ternyata ia marah. Aku mengetahuinya karena sikapnya berubah padaku. Kini ia begitu ketus. Ini bahkan lebih mengganggu ketika ia mengacuhkanku, karena ia menghindariku sekarang.

“Bisa bicara sebentar?” tanyaku pada Jaeshim hati-hati.

“Apa?”

“Tapi tidak di sini. Bisa ikut aku sebentar!” pintaku hati-hati. Ya, saat itu Jaeshim tengah mengobrol bersama teman-teman yang lain. Jadi bagaimana bisa aku mengajaknya bicara hal seintim itu di sana.

“Tidak. Di sini saja,” tolaknya. Aku tahu ia bukannya tidak menangkap maksudku, tetapi ia sengaja melakukannya untuk menghindariku. Lagi?!

“Bisa tinggalkan kami sebentar!” pintaku pada beberapa siswi yang sejak tadi memandangi kami bergantian. Sepertinya mereka mengetahui bahwa diantara kami sedang ada masalah. Karena itu mereka mulai melangkah pergi dengan begitu pengertian.

“Kalian di sini saja!” perintah Jaeshim membuat perseteruan di antara kami semakin terlihat saja. Menghentikan langkah gadis-gadis itu dan membiarkan aku terlihat bodoh. Aku benar-benar marah sekarang. Karena itu aku segera meraih tangannya dan menyeretnya dengan telapak tangan yang begitu kuat mengikat pergelangan tangannya.

“Minho-ya! Sakit! Lepaskan tanganku!” perintahnya seraya menahan sakit dan memegangi lengannya, berusaha melapaskannya dari tanganku. Tetapi aku tidak memperdulikannya, dan terus berjalan tanpa sedikitpun mengendurkan genggamanku.

Sesampainya di sebuah tempat sepi. Tepatnya pekarangan di samping sekolah, aku melepaskan tangannya dan berhenti di sana.

“Kau mau memutuskan tanganku hah?!” omelnya padaku sambil memegangi pergelangan tangan kanannya yang merah.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?!” bentakku membuatnya sedikit terkejut dengan suaraku yang cukup keras.

“Apa yang aku lakukan?” tanyanya berpura-pura tidak mengerti.

“Seperti itu! Berhentilah seperti itu! Jangan pura-pura tidak mengerti dan tidak tahu! Jangan pura-pura tidak mengenalku! Jangan memperlakukanku seperti itu!” teriakku padanya semakin emosi.

Ia mendesah, kemudian menatapku dengan kesal. “Baiklah. Aku melakukannya karena apa yang kau lakukan.”

“Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan hal buruk padamu,” tanyaku tidak mengerti arah kata-katanya itu.

“Kenapa sekarang yang kau yang pura-pura tidak mengerti? Tentu saja karena saat itu kau mencuri kesempatan untuk men… men….. Sudahlah! Jangan harap aku mengucapkan kata-kata menjijikkan itu di hadapanmu!”

“Maksudmu menciummu? Itu bahkan belum aku lakukan,” protesku.

Yaaah! Jangan mengatakan hal itu di sini! Aku tidak mau anak-anak tahu. Lalu, apa maksudnya belum? Apa kau ingin mencobanya lagi?!” bentaknya semakin kesal.

“Jadi, itukah yang mengganggumu? Membuatmu menjauhiku dan bersikap ketus padaku? Jadi karena itu kau marah?”

Aniyo. Bukan karena takut mereka tahu, tapi karena aku takut kau mempermainkan aku. Kau kira kau siapa? Aku bahkan bukan isterimu, bukan juga pacarmu. Kau kira aku gampangan?!” protesnya dengan marah.

“Tapi aku menyukaimu!” ungkapku tiba-tiba membuatnya terdiam dan mematung. Mata Jaeshim terbelalak. “Mian, aku tidak bisa menahan diriku ketika menyentuh wajahmu dan melihat bibirmu,” ujarku begitu terbuka membuat Jaeshim memegang bibirnya dan memandangku takut seraya mundur beberapa langkah.

“Ka-kau ternyata sama saja!” teriaknya dengan terbata entah karena apa, kemudian berlari pergi dengan pipi merah.

“Ah! Kenapa bisa begini?” sungutku sambil mengacak-acak rambutku kemudian pergi dari sana. Tentu saja, untuk apa aku di sana sendirian? Ini benar-benar menyebalkan.

Sesampainya aku di kelas aku kembali melihatnya, melihatnya tengah menenggelamkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat di meja. Aku berjalan kembali ke arahnya, bukan untuk menemuinya, tetapi mengambil sebuah buku tulis yang berada di tas punggungku yang aku sangkutkan pada sebuah kursi yang terletak di sebelah kursi yang kini Jaeshim duduki.

“Jaeshim-ya!” panggilku, tetapi ia hanya diam. Apa dia tidur? Tidak mungkin. Ia baru saja bertengkar denganku. Tidak mungkin ia tidur secepat itu.

Yah, Kim Jaeshim!” panggilku untuk kedua kalinya. Kali ini aku naikan sedikit volume suaraku dan mencolek-colek lengannya. Tapi ia malah menarik lengannya dengan kasar hingga aku harus melakukannya berkali-kali dan membuatnya semakin terganggu.

Yaah! Kau tidak bisa membiarkanku tenang sebentar?!” bentaknya padaku dengan begitu kesal, seraya berdiri di hadapanku dengan mendadak. Membuat kursi yang ia duduki bergeser ke belakang dengan cepat, membuat suara lengkingan yang tidak kalah keras dengan suara seorang gadis dengan mata kecilnya di hadapanku, hingga membuatku benar-benar terkejut dengan degup jantung yang begitu cepat, seakan ingin jatuh dari tempatnya.

Aku menyodorkan sebuah buku tulis ke hadapannya. “Gomaweo!”

Jaeshim memandangnya dengan terkejut, kemudian segera mengambilnya seraya membuka-bukanya dan melihat dengan teliti, seperti memastikan bahwa buku yang berada di tangannya itu benar-benar bukunya. “Minho-ya, harusnya kau meminta izin pemiliknya lebih dulu jika ingin meminjam sesuatu. Aku mencari-carinya kemana-mana. Kau membuatku ketakutan,” protesnya kepadaku.

“Kim Jaeshim, aku sudah meminta izinmu,” bantahku dengan heran.

“Benarkah?!” tanyanya seakan tidak percaya, dan aku membalasnya dengan anggukan pasti. “Ok, mungkin aku tidak mendengarnya. Tapi seharusnya kau memastikan jawabanku. Tidak mengambilnya begitu saja setelah mengatakannya,” protesnya lagi.

“Kau sudah memberikan izinmu Jaeshim-ya. Saat itu kau sedang mengobrol dengan Park Eunhye. Kau tidak ingat?” tanyaku semakin heran.

Jaeshim terlihat berpikir keras kemudian memanggil-manggil Eunhye, teman baiknya itu dengan sedikit berteriak. Gadis itu terlihat sangat bingung sekarang.

“Eunhye-ya, apa saat kita mengobrol Minho meminta izin untuk meminjam bukuku dan aku mengizinkannya?”

Ne,” jawab Eunhye dengan wajah sedikit bingung.

“Kenapa aku tidak ingat sama sekali?”  gumamnya sambil memandangku dengan ekspresi takut. Kami saling berpandang. Dan aku benar-benar khawatir sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis yang begitu aku suka?

______

Apa kau tahu apa yang aku lihat? Kim Jaeshim. Gadis itu tengah mengayun-ayunkan ayunan yang ia duduki dengan kakinya yang pendek, dengan merunduk, memandangi daun-daun kering berwarna kuning keemasan itu dengan sedih.

Hari ini ia tidak masuk sekolah. Itu karena ia sakit, tetapi sakit apa? Wajahnya tak terlihat pucat, tetapi beraut muram. Aku berjalan menghampirinya tanpa berkata-kata. Dan ia sama sekali tidak menyadari kehadiranku, karena ia termenung sekarang.

Kini aku telah berdiri tepat di hadapannya, dan ia melihat kaki panjangku, karena itu ia mengangkat wajahnya, mendongakkan wajah untuk melihatku, dan memperlihatkan mata merahnya serta kelopak matanya yang bengkak. Sepertinya ia baru saja selesai menangis.

Kim Jaeshim. Gadis itu tidak berkata-kata, hanya memandangku beberapa saat kemudian kembali merunduk, kembali mengayun pelan ayunan yang aku buat bersamanya. Sebuah ayunan yang kita buat bersama menggunakan papan dan tali tambang bekas.

Aku tahu. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi padanya. Karena itu aku berjongkok dan memegangi ayunan itu agar tidak kembali bergoyang. “Ada apa?” tanyaku lembut padanya, tetapi ia tidak memberikan respon apapun. Ia tetap diam dan merunduk. “Kumohon! Bicaralah! Kim Jaeshim, ada apa?” tanyaku lagi tidak kalah lembut, tapi ia malah meneteskan air matanya kembali dalam tundukannya yang dalam.

Entah kenapa aku sakit melihat tetesan air itu jatuh dari mata kecilnya, membasahi pahanya yang sedikit terbuka karena celana yang pendek. Ini adalah kedua kalinya aku melihat air matanya.

Aku memberanikan diriku menyentuh wajahnya kembali, dan menyeka air matanya dengan lembut. Di saat itu ia baru mau menatapku. “Aku khawatir padamu. Tolong katakan ada apa!” pintaku lagi.

Ia menatapku dalam. “Aku takut Minho-ya,” ujarnya lirih menahan tangisnya dengan ekspresi ketakutan. Aku melihat tangan yang ia kepal kuat di atas pahanya, tangan yang bergetar karena begitu takutnya.

Aku memegang kedua tangannya. “Dingin. Dingin sekali,” pikirku kemudian memandang gadis di hadapanku yang masih menangis diam menatapku. “Katakan sesuatu! Katakan ada apa?!” tanyaku mulai panik.

“Aku, aku benar-benar takut. Aku benar-benar takut kalau aku akan …..” ujarnya tanpa menyelesaikan kalimatnya kemudian menangis tersedu, tidak berani melanjutkan kata-kata mengerikan yang ingin ia ucapkan. Tetapi mataku memaksanya melanjutkan kata-katanya setelah ia menatapku dengan pandangan penuh kekhawatiran. “Ma-mati,” ujarnya dengan suara bergetar kemudian segera memelukku erat, menangis semakin keras.

Aku tercenung. Aku begitu terkejut hingga tidak mampu bergerak beberapa saat, membisu, seperti patung batu. Aku hanya diam, menggerakkan tanganku perlahan dan membalas pelukannya, menutup mataku dan memeluknya dengan erat. Aku harap aku salah dengar. Aku harap semua itu tidak benar. Aku harap ini mimpi.

“Alzaimer. Aku mengidap alzaimer Minho-ya,” ujarnya parau di selingi suara isakan tangis yang tersedu-sedu.

Dalam pelukannya aku ingin menangis, kemudian memeluknya semakin erat seraya meneteskan air mataku yang sudah tidak bisa aku tahan. Aku, sungguh takut kehilangannya….

______

Kau tahu? Jika kau melihatku, kau pasti seperti melihat mayat hidup, karena aku merasa tidak mau hidup lagi. Aku tidak mau makan, aku hampir tidak bicara, dan selalu termenung sendirian dengan wajah muram, aku juga tidak pernah tersenyum lagi, apalagi tertawa beberapa hari ini. Ini karena Jaeshim.

Beberapa hari ini dia tidak terlihat. Ia tidak mau menampakkan dirinya selama tiga hari ini, karena itu aku begitu khawatir dan sedih. Ia tidak mau bertemu siapapun sekarang, bahkan aku. Karena itu jendela yang biasanya terbuka lebar kini tertutup rapat.

Aku duduk di ayunan ini. Mengayunkannya perlahan seperti yang terakhir Jaeshim lakukan di hadapanku. Tentu dengan raut muram yang belum lepas dari wajahku. Aku benar-benar putus asa dan takut.

“Minho-ya, minggir! Aku mau duduk di sana,” ujar Jaeshim dengan sedikit kasar. Ia baru saja datang dan kini ia tengah berdiri sedikit jauh dariku. Dengan kepala yang tertunduk tentu aku tidak bisa melihatnya.

Aku segera mengangkat wajahku. Melihatnya dengan bahagia seperti baru saja memenangkan sebuah undian, tetapi itu hanya sesaat hingga aku teringat apa yang telah menimpanya.

Jaeshim mendesah dan menghampiriku. “Yah, Choi Minho! Kenapa berwajah sedih begitu? Seperti ingin di tinggal mati pacar saja,” olok Jaeshim ketika berada di hadapanku dengan santainya.

Aku berdiri dengan tiba-tiba. “Mudah sekali kau mengucapkan kata mengerikan itu. Aku mengkhawatirkanmu!” teriakku padanya dengan mata melotot karena kesal.

Ia menatapiku kemudian tersenyum lebar. “Kau tidak lihat aku? Aku baik-baik saja. Kau itu berlebihan,” ujarnya, dan aku diam sambil melihat senyumnya yang masih saja ia tunjukkan padaku. “Minggir! Aku capek,” perintahnya sambil menarikku kemudian duduk di atas ayunan itu menggantikanku.

“Kau kenapa Jaehim-ya?” tanyaku heran.

“Kau yang kenapa? Jangan menganggap seakan-akan aku akan mati besok! Aku tidak suka itu,” jawabnya dengan raut kesal kemudian mendesah, seketika raut wajahnya yang sejak tadi riang berubah sedih. Ia menatapku. “Apa kau memang menganggap aku akan segera mati Minho-ya?”

Mendengar pertanyaannya aku segera merunduk. Menyesali apa yang aku lakukan selama beberapa hari ini, dan itu membuatku marah terhadap diri sendiri. Aku benar-benar malu pada Jaeshim, karena itu aku tidak berani menjawab.

Jaeshim tersenyum manis padaku. “Minho-ya, aku baik-baik saja. Percayalah padaku! Melihat kalian yang bersedih karena aku, aku menjadi teringat kembali tentang penyakitku, dan semua itu membuatku sedih. Aku ingin melupakannya Choi Minho. Aku takut jika mengingatnya, aku sangat takut Choi Minho,” ujar Jaeshim sedih.

“Mianhae!” ujarku lemas.

“Banyak hal yang belum dan ingin kulakukan, banyak sekali. Aku ingin melakukan semua itu bersama orang-orang yang aku sayangi. Mencapai semua cita-citaku, dan melihat pembuktian kata-kata sesumbarmu untuk menjadi atlet sepak bola nasional. Aku bahkan ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, pacaran dan menikah. Karena aku bahkan tidak pernah yakin pada perasaanku sendiri kalau aku pernah mencintai seseorang selain Eomma dan Appa.”

Aku segera berjongkok. “Kalau begitu jadilah pacarku Kim Jaeshim!” pintaku tiba-tiba dengan wajah serius.

“Kau kira jika aku ingin pacaran aku akan menerima semua pria? Aku bukan gadis bodoh Choi Minho. Jangan lakukan hal ini karena kau kasihan padaku!” protes Jaeshim kesal.

“Apa kau itu selalu berpikir buruk terhadap laki-laki? Atau hanya terhadapku? Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku menyukaimu. Tidak, aku sangat mencintaimu. Apa kau tidak merasakannya? Aku sungguh mencintaimu Kim Jaeshim,” ujarku mantap.

Wajah Jaeshim memerah, sedangkan jantungku bergejolak hebat, hampir terasa seperti terjadi tsunami di dadaku ini. Aku mengunggu jawabannya, tetapi kenapa ia tidak segera bicara? Meski begitu pada akhirnya ia mengangguk pelan dan membuatku begitu bahagia. Mungkin, saat ini aku adalah orang paling bahagia di dunia ini.

Kau tahu? Gadis di hadapanku ini begitu tangguh. Saat beberapa hari tidak terlihat yang ia lakukan adalah menginstropeksi diri dan berpikir. Ia memikirkan semua hal, tentang kebahagiaannya dan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan di sisa hidupnya, karena itu ia sangat bersemangat dan lebih riang dari sebelumnya. Berbeda denganku yang selama itu hanya berputus asa, ketakutan, serta berpikiran buruk.

______

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

20 thoughts on “The Days In Memories [1.2]”

    1. aku langsung kirim part 2 nya bareng sama part 1 nya. jadi tunggu aja tanggal publishnya ya! aku juga udah nggak sabar…. kita tunggu bareng-barena ja ya!

      gomaweo!

  1. Cieee, akhirnya publish juga Ffnya Hana-ssi.

    TBC ya?
    Alzheimer?tp kog msh bs inget Minho?
    Cendela=>Jendela
    tuhan=>Tuhan
    di selingi=>diselingi (karena bukan nama tempat)

    1. oh tuhan…. masih banyak yang salah ya? mianhaeyo! aku udah edit sampe kepalaku putek.

      iya. itu karena penyakitnya masih belum parah.

      gomaweo!

  2. aww…Minho kece di sini..
    ceritanya sweet… aah, sayang si Jaeshim terkena alzheimer (bukan alzaimer ya 😀 ), padahal usianya masih muda.. T.T

    aah, lanjut lanjuuut!!! mga2 happy ending 😀

  3. minho oppa tuh emang tampak sbg pria lembut berhati hangat bagaimanapun keadaannya.. aiihhh aku jd malu (naonsih?)
    oke, author keren ff nya. daebak. top. lope :* (digampar author)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s