Shining Star [2.2]

hhuj

Tittle         :   SHINING STAR

Author      :      cha minki a.k.a kicha

Main Cast :  Choi minho, Min Hyorin, Shin Minra

Length       : twoshoot

Genre        : Friendship, Romance, School Life, Sad

Rating        : PG-13

Hyorin termenung menatapi langit yang sudah mulai kemerah-merahan akibat pantulan cahaya matahari yang mulai bergerak kearah barat. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Percakapan minho dan minra tadi pagi masih menyergap pikirannya. Sebenarnya bukan gayanya memikirkan urusan orang lain yang tidak ada hubungan dengannya. Namun entah kenapa kali ini berbeda. Bayangan itu terus menghantui pikirannya.

“Arggh…..” Hyorin mengacak rambutnya kesal. Ia sangat benci dirinya seperti ini. Diri yang ternyata mencintai sahabatnya sendiri. Terkadang ia berpikir salahkah ia jika ia mencintai sahabatnya sendiri yang notabene tidak memiliki tali darah dengannya. Jika tidak mengapa ia tidak boleh mencintai minho? Apa karena perjanjian itu? jika memang karena itu ia berharap ia bisa kembali kemasa lalu dan menghapus semua perjanjian itu dari daftar hidupnya agar ia bisa mencintai minho tanpa beban meski ia tahu minho tak akan menyukainya.

Hyorin mengeluarkan handphone dari saku celananya. Ia memutuskan untuk menelpon minho dan mengajak minho kesini agar ia bisa mengeluarkan semua keluh kesahnya dan supaya minho tak bisa bertemu minra eonni. Ia sadar tindakannya sangat childish, namun ia hanya tak ingin minho menjauh darinya.

Tiiit…tiiit…. Maaf nomor yang anda tuju…..

Hyorin menutup handphonenya. Kenapa minho mematikan handphonenya? Apa yang sedang mereka bicarakan? Apakah masalah serius? Atau mereka sudah resmi berpacaran sehingga minho melupakannya secepat ini? Berbagai pikiran buruk menguasai pikirannya. Akhirnya Hyorin tak tahan lagi. Ia pun berjalan menuju suatu tempat. Taman kampus . Tempat minho dan minra akan bertemu.

“ Hmmm…. minho, aku tidak tau ingin mulai darimana hmm… sejujurnya aku menyukaimu, bagaimana dengan mu? Bagaimana perasaanmu kepadaku minho ?” Kata minra to the point.

Deggh….

Jantung hyorin serasa berhenti berdetak. Ia sudah yakin dari awal bahwa Minra eonni menyukai minho. Tapi bagaimana dengan minho? Apakah ia juga menyukai minra eonni? Hyorin  terus menatap dua sejoli itu tanpa berkedip, tanpa ia sadari matanya mulai memerah.

Minho menarik nafasnya sejenak, kemudian ia tersenyum manis kearah minra “ Aku juga menyukaimu noona.” Ujarnya mantap.

Hyorin menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tahu akhirnya akan seperti ini, cintanya bertepuk sebelah tangannya. Tak terasa air mata mulai menggenangi matanya yang jernih itu  dan tanpa dikomandoi kini ia berlari jauh sebelum air matanya tumpah.

Ia terus berlari dan berlari menuju atap kampus. Sesampainya diatap kampus, ia menurunkan tangannya yang semenjak tadi menutup mulutnya . Kini ia biarkan air matanya mengalir sederas yang ia mampu. Ia biarkan hatinya mengeluarkan semua apa yang ia mau. Ia tidak pernah sesedih ini sebelumnya, hatinya tak pernah sesakit ini sebelumnya, air matanya tak pernah mengalir sebanyak ini sebelumnya.

“ Aku tahu kau tak akan pernah menyukaiku minho, aku tahu kita hanya teman. Terima kasih atas jawabanmu minho. Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang.” Ucap Hyorin disela tangisnya. Kini matanya yang merah itu menatap selembar kertas yang kini berada ditangannya. Kertas penentu nasibnya.

*****

“ Aku juga menyukaimu noona.” Ujar minho mantap. Senyum minra menjadi merekah, ia tidak menyangka minho memiliki perasaan yang sama dengannya.

“ Tapi noona.” Minho menggantung kata-katanya, membuat senyuman minra hilang seketika. “ Tapi apa minho-ssi?”

Minho menghembuskan nafasnya berat mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengatakannya. “ Tapi aku tak bisa mencintaimu noona. Hatiku telah terpaut dengan seorang yeoja. Seorang yeoja yang mengunci hatiku, bahkan semenjak aku pertama kali bertemu dengannya.”

Sontak ekspressi Minra berubah terkejut, senyumnya yang tadi terukir manis dibibirnya kini lenyap tanpa bekas. “ Nugu minho? Siapa yeoja itu? “ Tak terasa air matanya mulai mengalir dikedua sudut matanya.

“ Dia adalah Min hyorin, yeoja yang paling kucintai, jongmal mianhae noona.” Minho menatap minra begitu dalam, dia pun menghapus air mata yang mengalir di pipi minra. Seperdetik kemudian minra pun memeluk minho begitu erat, menumpahkan tangisannya di dada minho yang begitu hangat, tak terasa air mata minho ikut mengalir, ia merasa sangat bersalah kepada minra.

“ Jongmal mianhae noona.”

“ Gwenchana minho.” Minra pun melepaskan pelukannya. “ Aku sudah sangat bahagia bisa mengungkapkan perasaanku padamu.” Minra tersenyum di sela tangisnya.

“ Aku sudah tau dari awal bahwa kau sangat mencintai yeoja itu. Terkadang lidah bisa berbohong namun tidak dengan mata, mata tak akan pernah berbohong dan aku sudah melihat kebenaran dari matamu itu. kebenaran yang mengatakan bahwa kau sangat mencintai yeoja itu.” jelas minra panjang lebar.

“  mianhae minra noona.”

Minra tersenyum simpul. “ Tak apa, aku tau perasaan tak bisa untuk dipaksakan. Minho, ini saatnya kau mengungkapkan perasaanmu pada hyorin, aku akan sangat bahagia jika kau bersamanya minho.” tambahnya.

Raut wajah minho berubah seketika , wajahnya kini nampak muram dan tertunduk. “ Aku…. Aku tidak bisa melakukan itu noona.” Ujarnya.

“ Waeyo?”

“ Karena kami telah berjanji untuk tidak saling mencintai” Minho mencoba menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. “ Tapi itu tidak masalah. Bagiku selalu bersamanya sudah menjadi suatu kebahagian  yang amat besar.“

*****

“ Anyeonghaseo…. Apakah ada orang didalam?” Minho mengetuk sebuah pintu rumah yang begitu sederhana. Tak lama kemudian pintu itu terbuka dan muncul seorang ahjumma dari balik pintu.

“  Anyeonghaseo ahjumma, aku teman hyorin, bisakah aku bertemu hyorin?” Tanya minho pada ahjumma itu.

“ Apakah kau yang bernama choi minho?” ahjumma itu balik bertanya

“ Nae ahjumma.”

“ Kebetulan sekali minho.” Ahjumma itu mengeluarkan secarik amplop dari sakunya. “ Hyorin menitipkan sesuatu untukmu.” ahjumma itu menyerahkan amplop itu ketangan minho. Wajah minho berubah penasaran, dibukanya amplop itu, di dalamnya terdapat banyak foto-foto minho juga fotonya bersama hyorin , juga sepucuk surat berwarna hijau, warna kesukaan hyorin . Minho pun membuka surat itu dan mulai membacanya.

To: my lovely friend yang masih aku cintai hingga sekarang

CHOI MINHO

Dapatkah aku memetik bintang itu
Bintang yang paling bersinar dihatiku
Bintang yang paling indah yang pernah kulihat
Bintang yang sulit untuk kucapai
Karena bintang itu adalah dirimu…

Bintang, bolehkah aku mencintaimu walau hanya sesaat?
Bintang, bolehkah aku mencintaimu walau hanya dihatiku?
Bintang, bolehkah aku merindukanmu saat aku jauh darimu?
Bintang bolehkah aku mengatakan cinta yang tertahan lama dihatiku
hanya untukmu, bintangku…..

Wajah minho terlihat heran. Ia masih tak mengerti dengan isi surat itu, ia pun membaca lembaran berikutnya.

 

Minho, hari ini aku akan berangkat ke jepang. Aku ingin mengejar cita-citaku sebagai seorang pianist, berjanjilah padaku untuk menjadi pemain basket terbaik didunia minho. Kelak pasti kita akan mewujudkannya. Maafkan aku tak pamit padamu sebelumnya.

Minho, maaf karena aku sudah mengungkapakan perasaanku padamu tanpa izin. Aku tak akan berharap apa-apa padamu, aku hanya ingin mengatakan itu saja.

Minho, berjanjilah padaku untuk selalu bahagia kapan pun, dimana pun kau berada  , aku juga akan bahagia disini. Untukmu minho….

SARANGHAEYO……

Mata minho nampak memerah, butiran-butiran bening nampak mengalir dari kedua sisi pipinya, hatinya sungguh hancur berkeping-keping, Yeoja yang dicintainya telah pergi meninggalkannya dengan seberkas luka yang dalam. “ Ahjumma, jam berapa hyorin berangkat ke jepang?” Tanya minho di sela tangisnya.

“ Pesawatnya akan berangkat sekitar lima belas menit lagi “ jawab ahjumma itu mantap.

“ Gomawo ahjumma.” Minho menundukkan badannya sejenak kearah ahjumma itu dan berlari kencang menuju suatu tempat, tempat yang menjadi kesempatan terakhirnya untuk mengungkapkan perasaannya. Bandara.

*****

Kepada penumpang Japanese airline agar segera menaiki pesawat karena sebentar lagi pesawat akan melakukan penerbangan.

            Hyorin menatap kesekeliling bandara berharap bisa melihat seseorang yang ia cintai untuk terakhir kalinya. Namun orang yang dicarinya itu tak menampakkan batang hidungnya. Hyorin mendesah pelan, ia tau namja itu tak akan menemuinya untuk terakhir kalinya.

“ Kuharap kau bahagia dengan cintamu disana minho.” Lirih hyorin berjalan memasuki bandara dengan menggenggam luka dihatinya.

Minho anyeong, terima kasih sudah mengizinkan aku mengatakan cintaku padamu. Tak terasa butiran Kristal itu kembali mengalir deras di pipinya.

Terima kasih sudah mengajariku arti cinta itu apa.

 

*****

“ Hyorin-ah….hyorin-ah…” teriak seorang namja sambil menatap kesekeliling bandara. Tak salah lagi, namja itu adalah choi minho. “ Jawab aku Hyorin.” Teriaknya sekali lagi.

Ia pun berlari kesekeliling bandara mencari yeoja tercintanya, berharap ia akan bertemu yeoja itu, namun hasilnya nihil. Yeoja itu telah pergi, yeoja yang dicintainya telah pergi, min hyorin telah pergi.

Minho mendudukkan badannya ditengah bandara itu. ia tak peduli dengan banyak pasang mata yang menatap aneh kearahnya. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya mewakili perasaannya saat ini.

“ Mianhae hyorin, jongmal mianhae.” Air mata minho mengalir deras dipipnya. “ Bahkan kau tak sempat tahu betapa aku juga sangat mencintaimu hyorin.” Lirih minho, hatinya begitu hancur menghadapi kenyataan ini, kenyataan yang mengatakan bahwa ia harus berpisah dengan seseorang yang ia cintai, hyorin yang ia cintai.

*****

4 tahun kemudian….

Alunan lembut dentingan piano mengalir indah menyusup diantara penonton-penonton yang ikut menikmati alunan lembut dentingan piano itu.

Ting…

Hyorin mengakhiri permainan pianonya dengan sempurna. Tepukan tangan terdengar riuh memenuhi ruangan yang cukup megah itu. Hyorin berdiri membungkukkan badannya kesegala penjuru arah dengan terus memamerkan senyuman termanisnya.

Hari ini adalah hari yang sangat berharga baginya, setelah dua tahun menimba ilmu di Jepang akhrinya hari ini secara resmi ia memulai debutnya sebagai pianist dikorea setelah lebih dahulu memulai debut di Jepang.

” Gamsahamnida… gamsahamnida…” Ucap Hyorin sambil menerima karangan bunga yang diberikan oleh penonton yang ikut menonton pertunjukan debutnya mulai dari pengusaha hingga pelajar. Seorang pianist memang memiliki tempat yang cukup tinggi dipandangan orang-orang korea. Menurut mereka seorang pianist memiliki kesan mewah dan tidak awut-awutan sehingga tak heran jika pertunjukkan Hyorin mendapat sambutan yang begitu hangat dari penonton.

” Chukkae Hyorin-ah.” Sebuah suara mengagetkan Hyorin. Hyorin pun memutar badannya mengahadap sumber suara. Dan senyum Hyorin merekah setelah mengetahui kenyataan yang berada didepannya sekarang.

“ Minra eonni? “ Hyorin menatap yeoja yang kini berdiri didepannya tak percaya. “ Eonni bagaimana bisa kau bisa berada disini?” Teriak Hyorin riang.

“ Chukkae.” Ucap Minra sambil menyerahkan sebuket bunga kepada Hyorin. Hyorin pun menerima dengan senang hati. “ Gomawo eonni.”

Minra mengangguk tersenyum.” Kau terlihat tambah cantik dan tambah ‘feminim’ sekarang.” Goda Minra dengan menekankan pada kata feminim membuat pipi Hyorin bersemu merah seketika. “ Kau bisa saja eonni.”

******

“ Bagaimana keadaanmu sekarang? “ Tanya Minra saat mereka berbincang bersama ditaman belakang gedung.

“ Ya, seperti yang eonni lihat sekarang. Belajar dan terus berlatih untuk persiapan debutku sebagai pianist di korea seperti sekarang.” Hyorin tersenyum hambar.

Minra mengangguk mengerti.“ Lalu, bagaimana hubunganmu dengan minho sekarang? Apa kalian masih berteman?” Tanya Minra tepat kepada Hyorin. Membuat jantung Hyorin berdetak begitu kencang. Sekelebat kenangan empat tahun lalu kembali merasuki pikirannya. Tentang minho, seseorang yang bahkan sampai sekarang masih belum bisa dilupakannya. Setelah Hyorin pindah ke Jepang, Hyorin memang tak pernah lagi bertemu dengan minho, bahkan berkirim e-mail pun tak pernah. Dan semua itu Hyorin lakukan agar ia bisa melupakan namja itu.

“ Kami tak pernah berhubungan lagi, semenjak aku pindah ke Jepang.” Hyorin menghembuskan nafas pasrah. “ Bagaimana hubungan kalian sekarang? Kenapa eonni tidak kesini bersama minho? “ Hyorin mencoba mengalihkan perhatian.

Minra tertawa kecil. “ Hubungan kami? Hubungan kami baik-baik saja.”

“ Oh Arraseo..”

Tiba-tiba Minra menyentuh pundak Hyorin yang membuat Hyorin sedikit terkejut. “ Mwoya eonni?”

“ Hubunganku dengan minho tak seperti yang kau pikirkan saat ini.” Minra menatap Hyorin dalam. Hyorin mendelik tak mengerti. “ Maksud eonni? “

Minra menerawang kelangit malam yang penuh bintang sambil mencoba mengingat kembali memori masa lalu. “ Kami tidak pernah berpacaran. Minho tidak pernah menyukaiku.” Ucap minra lirih. Hyorin menatap sunbaenya itu tak percaya. Kenyataan apa lagi yang didapatnya hari ini?

“ Hyorin-ah.” Minra menatap Hyorin sungguh-sungguh. “ Aku ingin membawamu kesuatu tempat.” Minra menarik tangan Hyorin lalu membawanya menuju mobil Minra yang berada didepan gedung konser itu.

“ Eonni kau mau membawaku kemana?” Tanya Hyorin ketika mobil yang dinaikinya sudah mulai berjalan menuju suatu tempat yang tantu saja tidak diketahui Hyorin.

” Kau akan tau setelah melihatnya nanti.” Kata Minra sambil terus menjalankan mobilnya. Sedang hyorin hanya bisa pasrah sambil terus melirik jam tangan miliknya.

Sekitar seperempat jam kemudian kecepatan mobil minra mulai berkurang hingga akhirnya berhenti disebuah gedung yang cukup megah dan besar.” Kita sudah sampai.” Kata minra. ” Kau masih mengingat tempat ini kan?”

Hyorin menatap gedung itu nanar. Sekelebat kenangan kembali terngiang dipikirannya. “ Konkuk university.” Gumamnya tanpa sadar.

“ Aku pergi dulu ya, anyeong! ” Minra pun kembali menjalankan mobilnya meninggalkan Hyorin, namun Hyorin tidak menolak. Entah kenapa ia ingin mengenang masa lalunya disini.

Hyorin berjalan berkeliling melihat keadaan kampus yang sempat membesarkan namanya. Tidak ada yang berubah dengan konkuk university. Bangunannya masih megah seperti dulu, taman-taman tempat nongkrong mahasiswa tidak mengalami banyak perubahan. Bahkan ruangan music tempat ia bermain piano dahulu pun tidak mengalami perubahan sedikitpun. Warna cat dindingnya masih berwarna hijau muda, warna yang mampu membuat hati Hyorin menjadi tenang.

Setelah puas berkeliling dilantai satu, Hyorin pun mulai berjalan menuju tempat favoritnya dulu. Tempat ia mengeluarkan keluh kesahnya. Tempat ia menatap bintang dilangit dan berharap bisa menggapai bintang itu.

 

“ Minho,apakah bintang dapat diraih?”

“ Ne?”

“Aku ingin memetik bintang yang paling terang itu, Tapi itu sangat sulit untuk diraih,mungkin karna dia memiliki banyak penggemar”

Huft…. Hyorin menghembuskan nafasnya pelan. Bayangan minho kembali terngiang dalam khayalannya. Bayangan minho yang selalu peduli padanya pada saat musim dingin tiba. Bayangan minho yang terkadang selalu membuatnya jengkel karena membuatnya menunggu terlalu lama. Bayangan punggung tegap minho yang setiap hari mengantarnya kekampus dengan sepeda motor miliknya. Bayangan minho yang selalu menghantui dirinya.

Tes…tes…tes…

Air mata itu kembali mengalir melewati kedua sudut matanya dan berubah manjadi aliran sungai kecil dipipinya. Dengan cepat dihapusnya air mata yang terlanjur berjatuhan itu. Meski hati ini terasa begitu sakit mengingat kenangan lalu itu. Dan baginya menghapus kenangan itu tidak semudah menghapus air mata yang mengalir dipipinya.

Hyorin mengangkat tangannya mencoba menggapai bintang dilangit. ” Bolehkah aku menggapaimu wahai bintang ? bahkan untuk sekali saja. Aku ingin menggapai bintang yang paling bersinar diantara banyak bintang. Kau tau bintang itu siapa ? dia adalah sahabatku, choi minho. Sahabat yang sangat aku cintai. Tahukah kau wahai bintang, waktu empat tahun yang bagiku sudah cukup lama tidak mampu menghapus bayangannya sedikitpun dari benakku. Aku tak tahu kenapa, mungkinkah karena aku terlalu mencintainya ?” hyorin menghentikan kata-katanya sejenak.

” Benar, aku memang mencintainya, sangat mencintainya hingga aku tak sadar bahwa cintaku  bertepuk sebelah tangan. Sangat bodoh bukan ?” hyorin menrtawai dirinya sendiri.

Hyorin menutup matanya sejenak mencoba meresapi suasana yang sudah sangat lama tak dirasakannya. Tuhan,kumohon kabulkan permohonanku. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengan choi minho. Hadirkanlah ia didepanku sekarang tuhan. Meski hanya dalam mimpi dan khayal, itu tak masalah bagiku.

” Min Hyorin..”

Hyorin membuka matanya pelan. Degh…. Ia kenal suara itu. suara seseorang yang begitu ia rindukan. Suara seseorang yang selalu hadir dalam rangkaian doanya.

Hyorin membalikkan badannya menghadap namja itu. “ Choi minho.” Lirihnya pelan. Ia menatap minho dalam. “ Minho kau…” Belum sempat Hyorin berkata apa-apa tubuh tegap minho kini memeluk erat tubuh mungilnya.

Jantung Hyorin kembali berdetak kencang. Semenjak ia pergi ke Jepang baru kali ini ia kembali merasakan detakan jantung seperti ini.

Detakan jantung yang hanya bisa dirasakan ketika ia berada didekat minho.

“ Bogoshipoeo Hyorin-ah.” Ucap minho lirih sambil mengusap-usap rambut panjang Hyorin yang kini tergerai bebas.

“ Nado Choi minho.”

Beberapa saat mereka terhanyut dalam suasana yang begitu mengharukan. Hingga kemudian minho melonggarkan pelukannya dan menatap Hyorin tepat dimatanya. “ Nappeun yeoja, kenapa kau pergi begitu saja dari hadapanku waktu itu? kenapa kau tidak minta izin kepadaku dulu?” Minho memasang tampang garangnya kepada Hyorin membuat Hyorin tertunduk begitu dalam.

“ Mianhae minho.” Ujarnya lirih.

“ Mwo? Mianhae ? apakah kata maaf bisa mengubah segalanya? ” Minho masih menatap Hyorin marah.

Hyorin menggeleng pelan. “ Mianhae minho aku tidak ber….”

“ Kenapa kau begitu mementingkan keegoisanmu? Kenapa pergi begitu saja tanpa memberitahuku? Tidakkah kau merasa… “

” Hentikan minho.” Potong Hyorin cepat. ” Kau tak tahu alasanku meninggalkanmu, Jadi kumohon jangan menghakimiku seperti ini.” Mata Hyorin mulai memerah.

” Kau tak pernah mengerti aku minho. Saat kau bersama minra noona tahukah kau betapa sakitnya aku ? betapa cemasnya aku takut kehilangan dirimu ? Bahkan empat tahun waktuku di Jepang tidak mampu menghapus bayanganmu dari pikiranku.” Kini air mata Hyorin mengalir deras dikedua pipinya.

Kakinya tak tahan lagi untuk menopang badannya, ia pun terduduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. ” Maafkan aku minho. Janji itu tak bisa kutepati, aku benar-benar mencintaimu .”

”  Aku tak bisa melupakanmu choi minho.”

Tanpa Hyorin sadari sebuah tangan kini memeluk tubuhnya erat seperti tak ingin Hyorin pergi dari sisinya. ” Mianhae Hyorin, maafkan aku yang tak bisa memahami perasaanmu sedikit pun. Kumohon kau lupakan semua kata-kata cinta yang pernah kau ucapkan kepadaku.”

Hyorin melepaskan pelukannya dari minho, ditatapnya minho dalam.

“ Saranghae Hyorin.” Minho menatap Hyorin lembut. “ Biarkan aku yang mengatakan cinta kepadamu untuk pertama kali dan untuk selamanya.”

“ Minho kau? Ba…bagaimana dengan janji itu?” Ujar Hyorin terbata. Entah kenapa perasaannya bergemuruh sekarang. Pernyataan minho sukses membuat jantungnya serasa akan meledak.

Minho mengelus pipi Hyorin lembut. “ Maafkan aku Hyorin, aku tak bisa menepati janji itu. Aku benar-benar mencintaimu.”

Deegh…. Kini Hyorin tak bisa lagi berkata apa-apa. Pernyataan minho sungguh membuatnya kaku tak bisa bergerak. Apakah ini hanya mimpi?

“ Saranghae Min Hyorin.” Minho mengulangi kata-katanya dan kini dengan nada yang lebih lembut. “ Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

Hyorin menatap minho dengan perasaan campur aduk. Namun beberapa kemudian sebuah senyuman terukir dibibir mungilnya itu. “ Nado saranghae Choi minho.”

Minho memeluk Hyorin erat, tak terasa air mata minho ikut mengalir dikedua sudut matanya. Air mata kebahagiaan. Tak ia sangka penantian dan cinta yang sudah terpendam lama dihatinya kini tersampaikan sudah. Dan tak ia sangka hatinya akan berlabuh pada Hyorin, cinta pertamanya.

Minho melepaskan pelukannya terhadap Hyorin, kemudian ditatapnya yeojachingunya ini dalam.  Tanpa sadar semburat merah merona dikedua pipi Hyorin.

Minho mendekatkan wajahnya kearah Hyorin, hyorin yang mengerti keadaan pun mulai menutup matanya. Wajah mereka begitu dekat. Bahkan dengan menutup mata pun Hyorin bisa merasakan deru nafas minho…

Drrrt…drrt…..

Hello Hello Nareumdaero yonggil naessoyo,Hello Hello Jamshi yaegi hallaeyo,Hello Hello Naega jom sodooljin mollado,Who knows eojjeom urin Jal dwaeljido molla……

“ Mi….mianhae minho.” Hyorin buru-buru menjauhkan badannya dari minho kemudian mengangkat handphonenya yang berbunyi, sekilas semburat merah masih terpancar dari pipinya, sedang minho hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, baru sadar dengan apa yang akan ia lakukan tadi.

“ Yeboseyo…… Ah nae manager, mwo? Lima belas menit lagi? Nae arraseo aku akan secepatnya kembali. Nae, arraseo. Nee anyeong.”

“ Ada apa Hyorin?” Tanya minho sambil berjalan mendekati Hyorin. Wajah Hyorin menyiratkan kecemasan yang amat sangat.

“ Ottokhae minho? Lima belas menit lagi acara jumpa persku akan dimulai.” Kata Hyorin cemas.

Mata minho membulat. “ Jongmalyo? Baiklah, kalau begitu kau aku antar sekarang.” Minho menarik tangan Hyorin.

“ Kita pergi dengan apa?”

“ Dengan motorku.”

“ Mwo?????”

******

“ Gomawo minho ya, aku masuk dulu ya.” Ujar Hyorin sambil menyerahkan helm yang dipakainya kepada minho. Kemudian ia pun beranjak memasuki gedung itu, namun ditahan minho.

“ Chakkaman, Hyorin-ah.” Minho menggenggam erat tangan Hyorin dan menatapnya tajam.

“ Mwoya minho-ya?” Hyorin menatap minho tak mengerti.

“ Chag… maksudku Hyorin -ah, Bi…bisakah kau memanggilku dengan panggilan chagi? Ya kita kan sudah berpacaran.” Minho membentuk tanda kutip dengan tangannya pada kata chagi.

Hyorin tertawa keras. “ Hahahahaha….. chagi? Apa aku tak salah dengar? Sejak kapan aku memanggilmu chagi? “

Minho mengerucutkan bibirnya sebal. “ Ya sudah, terserah kau saja ! Aku juga tidak memaksamu memanggilku cha….” Kata-kata minho terputus, tiba-tiba Hyorin mengecup pipi minho lembut, kemudian menatapnya hangat. ” Gomawo chagi-ya, aku masuk dulu ya ” Ujar Hyorin sambil berlari kecil memasuki pintu masuk Gedung itu.

Tubuh minho menghangat, diusapnya pipinya yang kini terlihat memerah. Sebuah senyuman manis terukir dibibirnya.

” Omo…. Hyorin-ssi ! apa yang terjadi padamu ? kenapa dandananmu berantakan seperti ini ? lihat rambutmu tak berbentuk lagi.” Cerocos Manager Hyorin tepat saat Hyorin memasuki ruang make-up yeng berada dibelakang panggung. Hyorin membungkukkan badannya lama. “ Mianhae eonni, tadi aku kesini dengan menggunakan motor, jadi dandananku sedikit berantakan.” Ujarnya menyesal.

Manager Hyorin menggeleng-geleng pasrah. “ Ya sudahlah, cepat ganti bajumu dan perbaiki dandananmu. Sebentar lagi jumpa pers akan dimulai.”

” Nee, gamsahamnida eonni.”

*****


EPILOG.

Baiklah… marilah kita sambut pianist berbakat asal Korea yang satu ini, Min Hyorin !!!!

Hyorin berjalan anggun menuju panggung yang cukup megah itu dan diiringi dengan tepukan tangan penonton yang terdengar riuh memenuhi segala penjuru ruangan. Kini Hyorin terlihat sangat cantik dan anggun. Gaun putih panjangnya membalut indah tubuhnya. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang dibiarkannya tergerai melewati bahunya, Sungguh cantik.

Hyorin tersenyum kepada setiap penonton yang hadir disana.

“ Anyeonghaseo, Min Hyorin imnida.” Ujar Hyorin sambil membungkukkan badannya sejenak. Kemudian ia pun duduk diatas sofa yang memang sudah disediakan untuknya.

“ Bagaimana kabar anda nona Hyorin?” Ucap sang mc sambil tersenyum hangat.

“ Kabarku sangat baik hari ini.” Ujar Hyorin sambil menatap seorang namja yang duduk diantara kursi penonton itu. Namja itu balas tersenyum.

“ Ah, baguslah kalau begitu.” Ujar sang mc ramah. “ Seperti yang kita semua ketahui, nona Hyorin adalah salah satu pianist Korea yang berbakat. Tentunya banyak suka duka yang nona Hyorin alami, bisakah anda ceritakan kisah hidup anda hingga anda bisa menjadi pianist berbakat seperti sekarang? ” Mc pun mulai masuk ke topic pembicaraan.

Hyorin menghirup nafas dalam, kemudian tersenyum menatap penonton. “ Jika aku memutar kembali memori masa laluku, akan sangat banyak suka duka yang aku temui. Aku min Hyorin adalah seorang gadis sederhana yang berasal dari negeri kecil bernama Gyeonggi-do.” Hyorin membetulkan duduknya.

“ Sejak kecil aku memang sangat suka bermain piano. Jiwa seniku merupakan warisan dari appa  yang merupakan seorang penyanyi trot.”

“ Penyanyi trot? Aku sangat suka mendengar lagu trot.” Ujar sang mc sambil tertawa pelan sehingga para penonton juga ikut tertawa. ” Lalu bagaimana lagi ? ” Lanjutnya.

” Setelah tamat SMA, aku pun memutuskan untuk pergi Seoul dan menimba ilmu disana, di konkuk university.” Hyorin menghembuskan nafasnya pelan. ” Dan disana aku bertemu dengan seorang namja yang sangat baik, seorang namja yang mau mengajariku bermain basket, permainan basketnya sangat bagus. Kau tahu aku sangat buruk dalam bermain basket.”

Sejenak ruangan itu penuh dengan suara derai tawa setelah mendengar perkataan Hyorin barusan. “ Ternyata aku memiliki teman, aku juga sangat buruk dalam bermain basket.” Canda sang mc sehingga membuat penonton kembali tertawa. “ Jadi namja itu yang mengajarimu bermain basket? Kalian sangat romantis. Apakah hal itu tak membuatmu menyukainya? ”

Hyorin menunduk dalam, semburat merah kembali muncul dipipinya yang mulus itu. Membuat mc sudah mengerti dengan sendirinya jawaban dari pertanyaannya tadi. “ Aku sudah tau jawabannya. Jadi, apakah ia juga menyukaimu? Mengapa kalian tidak berpacaran saja?”

“ Ini terlalu pribadi.”  Hyorin tertunduk malu.

” Ayolah nona Hyorin. Kami ingin mendengar langsung darimu. Agar tidak muncul gossip-gosip baru tentangmu.” Bujuk Sang mc sambil tersenyum nakal.

Hyorin menghembuskan nafasnya pelan, kemudian ia tersenyum manis kepada Mc. “ Kau mc yang cerdik nona. Baiklah aku akan menceritakannya kepada kalian. Awalnya aku merasa bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan karena kami berjanji tidak akan pernah menyukai satu sama lain ditambah lagi ia sangat dekat dengan kakak kelas kami.” Hyorin menatap namja yang ia maksud sambil tersenyum.

“ Itulah yang membuat keinginanku untuk melanjutkan study di Jepang semakin besar. Aku ingin melupakannya. Melupakan semua tentang dirinya. Dan berharap aku bisa menemukan lelaki lain yang mampu menghapus semua memoriku tentangnya.”

Mc menatap Hyorin serius.” Dan kau berhasil? ”

Hyorin menggeleng pelan. “ Aku tak berhasil, bahkan setelah aku memulai debutku di Jepang, aku belum bisa melupakannya sedikitpun. “ Ujarnya sambil menatap minho yang duduk diantara kerumunan penonton dengan nanar.

“ Kurasa cintamu kepadanya sangat tulus. ” Ujar mc sambil mengusap matanya yang mulai memerah. ” lalu bagaimana akhirnya ? apakah  berakhir sedih atau bahagia? apakah kau bertemu lagi dengannya?”

Hyorin mengangkat kepalanya dan menatap kerumunan penonton yang juga menatapnya serius. Hingga tatapannya tertuju pada minho.“ Hanya aku dan namja itu yang tahu.”

“ Kurasa aku tak harus mengatakan bagian ini.” Lanjutnya, kali ini sambil tersenyum manis.

Nona mc menurunkan bahunya yang entah kenapa semenjak tadi terasa menegang.“ Aigoo….. ceritamu sangat menggantung nona Hyorin. “ Protes Sang mc yang hanya dibalas dengan senyuman manis Hyorin.

“Baiklah penonton daripada kita terhanyut dalam suasana yang begitu melankolis, marilah kita dengarkan permainan piano Hyorin, dengan judul piano sonata karya pianist legendaris Wolfgang Amadeus Mozart,” Ujar Sang mc yang diikuti dengan tepukan meriah dari penonton.

Hyorin pun berjalan anggun menuju piano yang sudah tersedia di sudut depan panggung. “ Lagu ini aku persembahkan untuk penonton dimanapun berada.” Hyorin menghentikan kata-katanya sejenak. “ Dan untuk seseorang yang aku cintai disana. Orang yang selalu melindungi dan menjagaku. Lagu ini untukmu, choi minho.”

Hyorin pun mulai menekan tuts-tuts piano itu dengan lincah, menimbulkan nada-nada indah karya sang pianist legendaris. Semua penonton ikut terhanyut dalam permainan pianonya, tak terkecuali minho. Matanya tak henti-hentinya menatap yeoja yang sejak lama ia cintai.

 

Dapatkah aku memetik bintang itu
Bintang yang paling bersinar dihatiku
Bintang yang paling indah yang pernah kulihat
Bintang yang sulit untuk kucapai
Karena bintang itu adalah dirimu…

Bintang, bolehkah aku mencintaimu walau hanya sesaat?
Bintang, bolehkah aku mencintaimu walau hanya dihatiku?
Bintang, bolehkah aku merindukanmu saat aku jauh darimu?
Bintang bolehkah aku mengatakan cinta yang tertahan lama dihatiku
hanya untukmu, bintangku…..

-THE END-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

8 thoughts on “Shining Star [2.2]”

  1. Ne,,, ceritanya kereeennn..
    Minho jd good guy di sini..
    Habisnya kmrn2 FFnya pada menistakan Minho sih,
    agak gak rela sebenernya.

    Keep on writing, Kicha-ssi!
    Ditunggu karya yg lain ya!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s